Minggu, 05 Januari 2014

Gorila or Orang



Kalau penulis buku The Descent of Man (Turunnya Manusia) itu orang Indonesia, teantunya mengerti betul apa yang disebut “orang”. Kita akan berpendapat bahwa kata “orang” pada buku itu  kemungkinan besar kesalahan penulis tidak menterjemahkan ke dalam bahasa buku yang ditulisnya. Tetapi Charles Darwin bukan orang Indonesia, sehingga mustahil dia lupa menterjemahkan kata tersebut, mengingat bahasa sehari-hari yang dia pakai adalah bahasa Inggris, dan “orang “ adalah kata asing baginya. Dengan demkian jelaslah,  memang Darwin sengaja memasukan istilah tersebut ke dalam bukunya, untuk menekankan kebenaran teori evolusinya.
Tetapi kita juga tidak dapat menyalahkan sepenuhnya kepada darwin. Sebab para orangtua kita juga yang menggunakan istilah “orang utan” untuk simpanse. Dan nampaknya Darwin sangat terkesan atas “keluguan” bangsa Indonesia, yang secara sadar “mengaku” dirinya sebagai keturunan bangsa kera. Barangkali Darwin berpikir, mustahil manusia (orang kota) mau mengaku nersanak dengan bangsa kera (orang utan), kalau tidak ada sejarah evolusinya di masa silam yang jauh. Dari kesimpulan ini, dan dukungan hasil penelitiannya terhadap spesies-spesies yang memiliki kemiripan, Darwin telah memperoleh bukti kuat yang mendukung teorinya. Karena itulah dia sengaja menggunakan kata “orang” untuk memperkuat kebenaran teori evolusinya.
Agar lebih jelas, kita kutip kembali kata-kata Charles Darwin dalam buku The Descent of Man itu yang ditulis  tahun  1871 : “No one, I presume, doubts that the large proportion which the size of man’s brain bears to his body, compared to the same proportion in The Gorilla or orang, is closely connected with his mental powers”,
Penulis sengaja  menebalkan kata gorilla or orang, karena memang itulah yang kita komentari tadi, de3ngan terjemahan sebagai berikut :
“Saya kira tidak seorangpun yang meragukan bahwa ukuran otak manusia yang menunjang tubuhnya, dibandingkan dengan bagian yang sama pada gorilla atau orang, berhubungan erat dengan kekuatan mentalnya”.
Pada terjemahannya, kata “gorilla atau oramg” dapat berarti “baik gorilla atau orang” seperti hanya sebuah persamaan jenis pemilikan ukuran besar otak dan tubuh yang kebetulan. Persamaan tanf kebetulan itu akan diartikan sama jika menggunakan “gorilla or man”. Tetapi penunjukkan itu akan langsung berupa sebutan “gorilla atau man, yang bagi bagi orang berbahasa Inggris akan mengandung arti “gorilla adalah orang”.
Dengan kata lain, darwin telah memberi penilaian bahwa apa yang disebut orang adalah gorila. Dan karena istilah “orang” hanya dipergunakan oleh bangsa Indonesia (dan mungkin oleh bangsa malaysia), berarti bangsa Indonesia (dan mungkin bangsa Malaysia) adalah gorila. Diluar kedua bangsa itu tentu saja bukan gorila, karena mereka tidak menyebut dirinya  “orang”. Boleh coba pembaca renungkan kembali lebih seksama.
Darwin mengatakan bahwa perbedaan antara manusia dengan orang atau gorila adalah berkenaan dengan mentalnya. Dari sini pun jelas bahwa Darwin menilai bangsa Indonesia sebagai bangsa primitif yang mentalnya  sama dengan gorila atau bangsa kera, yaitu licik, serakah, dengki, dan tidak beradab.
Ini dapat dipahami, karena pada abad 19 bangsa kita adalah bangsa terjajah yang bodoh dan terbelakang, yang mungkin menurut pandangan dia tidak lebih dari hewan, sehingga memperkuat teori evolusinya.
 Tetapi kita dapat membuktikan kesalahan teori Darwin, sebab bukan teori evolusi yang salah, karena teori  evolusi adalah teori penciptaan yang harus hadir di alam ini. Tetapi kesalahan Darwin adalah penafsirannya terhadap evolusi itu?  (Etos/Forum Diskusi cs67)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar