Al-Baqoroh 67-71
Tafsir 3d. Komponen Pengetahuan dari Dimensi Ilmu
Bismillaahir Rohmaanir Rohiim = Dengan nama Alloh yang Pengasih-Penyayang
Ayat 67. Di dalam mengungkapkan hukum anutan bangsa Israil, Musa menggunakan istilah sapi betina untuk hukum rasa. Itu dikemukakan ketika Musa berkata kepada kaumnya (bangsa Israil): ‘Sesungguhnya Alloh menyuruh kalian menyembelih sapi betina (membunuh hukum rasa) yang dianut kalian selama ini’. Mereka berkata (bertanya): ‘Apa yang kamu maksud dengan sapi betina itu? Bukankah kamu sendiri tahu bahwa yang kami anut adalah hukum politik, bukan sapi betina? Apa kamu hendak menjadikan kami buah ejekan bangsa lain karena mengubah hukum politik jadi hukum sapi betina?’. Musa menjawab: ‘Aku berlindung kepada Alloh dari maksud mengejek, agar tidak termasuk golongan orang-orang jahil (biadab) seperti kalian. Sebab hukum politik itu hukum kebenaran tawar-menawar seperti dagang sapi, untuk kepuasan jasad. Karena itu untuk hukum politik anutan kalian, aku menggunakan istilah sapi betina sebagai kata celupan. Sapi untuk hukum dan betina (perempuan) untuk rasa yang memuaskan jasad. Soalnya hukum tawar-menawar adalah hukum ambisi yang tidak bermoral dalam mengejar tahta-harta-kekuasaan, karena kebenaran politik didasarkan pada kepentingan diri dan kelompok. Satu buktinya, ketika aku menyuruh kalian menganut Tuhan Alloh yang satu kebenaran, kalian menawar minta hukum fisik-materi (sayur-mayur yang ditumbuhkan bumi), yaitu hukum yang mengenyangkan lapar-dahaga (mentimun), memahitkan rasa orang lain (bawang putih), keras menyakitkan (kacang adas), dan mencucurkan air mata (bawang merah)(Al-Baqoroh 61)’.
Ayat 68. Setelah mengetahui istilah sapi betina yang digunakan Musa sebagai celupan dari hukum rasa politik, mereka berkata (bertanya) lagi kepada Musa: ‘Mohonkan kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami, sapi (hukum) apa yang dibenarkan Alloh, mengingat sapi (hukum) yang dipelihara (dianut) manusia itu banyak macamnya?’. Musa menjawab: ‘Sesungguhnya Alloh itu Akal, sehingga Dia berkata (menyatakan) bahwa sapi (hukum) yang ditetapkannya tidak tua (bukan hukum jasad) agama penyembah berhala karena pamrih harta-jodoh-syurga yang memuaskan perasaan, dan tidak muda (bukan hukum tawar-menawar) kesepakatan ego politik kaum liberal yang egois memuaskan jasad, tetapi pertengahan diantaranya (yang tengah-tengah, yaitu kebenaran akal yang netral dari pemihakan). Maka kerjakan apa yang diperintahkan kepadamu’.
Ayat 69. Mereka berkata (masih bertanya juga): ‘Mohonkan kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami apa warna sapi (bagaimana corak hukum) yang harus disembelih (dibunuh) itu?’. Musa menjawab: ‘Sesungguhnya Alloh berkata (Akal menyatakan) bahwa sapi (hukum) yang harus dibunuh itu warnanya kuning tua (kebenaran fisik-materi) berupa harta-tahta-kekuasaan yang sangat menyenangkan orang yang memandangnya (memuaskan rasa/nafsu syahwat-angkara-pamrih-ambisi jasad penganutnya)’.
Ayat 70. Mereka berkata (masih bertanya lagi): ‘Mohonkan kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami bagaimana sebenarnya aturan yang pertengahan (hukum akal) itu, karena sesungguhnya sapi (hukum) itu serupa bagi kami. Dan sesungguhnya jika kamu menjelaskan secara awam, insya Alloh kami akan mendapat petunjuk’.
Ayat 7l. Musa berkata (menjawab): ‘Alloh itu Akal bermoral pengasih-penyayang. Di awal penciptaan Dia membangun Hukum Akal sebagai hukum sebab-akibat yang tidak bisa menerima kepercayaan-kebenaran agama-politik yang tidak masuk akal dan tidak adil. Karena itu sesungguhnya Akal (Alloh) berkata (menetapkan) bahwa yang pertengahan itu adalah sapi (hukum) yang oleh kalian belum pernah dipakai membajak tanah (mengelola negara) dan belum pernah dipakai mengairi tanaman (menghidupi-menyelamatkan-memakmurkan-mencerdaskan hidup rakyat) karena kalian menganut kebenaran otak dan menolak kebenaran akal, sehingga yang kalian terapkan dalam masyarakat adalah hukum agama yang memuaskan perasaan dan hukum politik yang memuaskan jasad sendiri. Sedangkan Hukum Akal netral dari pemihakan bahkan terhadap jasad penganutnya sendiri. Buktinya ketika otak kamu merencanakan berbuat dusta-salah-buruk-jahat-takadil, akal kamu dari ruang hati selalu memperingatkan agar mengurungkan rencana tidak benar itu. Dengan demikian, Hukum Akal tidak memiliki cacat samasekali, tidak ada belangnya (tidak pernah memihak bahkan kepada jasad yang diisinya)’.
Mereka berkata: ‘Sekarang baru kamu menerangkan sapi (hukum) itu dengan penjelasan yang sebenarnya’. Kemudian mereka berusaha menyembelih sapi (membunuh hukum) yang dianutnya. Tetapi karena mereka tidak bisa membedakan akal yang tanpa wujud dengan otak yang berwujud, maka dalam pengelolaan negara itu hampir tidak ada perubahan pola pikir dalam melaksanakan tugas kepemimpinannya. Mereka tetap menganut hukum agama dan hukum politik menurut kepuasan rasa-jasad yang tidak ditetapkan Alloh.
Tanggapan
Anta: “Pertama. Pada tafsir kelompok ayat di atas jelas sekali, Anda menafsirkan unsur-unsur ayatnya saling berbalikan. Apakah cara berbalikan itu merupakan pola qisos disiplin ilmu?.
Kedua. Pada tafsir 3b Anda menyatakan bahwa agama Islam itu bukan bawaan Rosul Muhammad, karena di Iran saja agama Islam telah hadir 17 abad yang silam atau sekitar dua abad sebelum Rosul Muhammad lahir. Itu berarti, agama yang dianut orang Mekah jahiliyah adalah agama Islam hasil pengubahan dari milah Ibrohim (peradaban Ibrohim), dan rosul Muhammad hanya berupaya mereformasi agama Islam Mekah yang telah jahil (biadab) untuk mengembalikan kepada peradaban Ibrohim. Apa pendapat saya tidak salah?”.
Jawaban
Sandie: “Pertama. Pertanyaan Anda menunjukkan pengamatan yang cermat. Sesungguhnya sunnatulloh yang diambil Rosul Muhammad jadi sunnahnya dalam menyusun ayat-ayat Qur’an adalah pola qisos (pola pasangan saling mengekalkan). Karena itu dalam menafsirkan ayat-ayat Qur’an, kita harus berpegang pada pola tersebut. Itu dapat diketahui dari dasar rumusannya, yaitu Alalaq (darah = zathidup jasad = akal) yang tanpa wujud, berbalikan dengan Alqolam (pena = benda teknologi = alam peragaan yang penuh kejanggalan = gejala-tampak sebagai petunjuk). Alqolam berbalikan dengan Almuzzamil (alam unsur dunia ilmu, kebalikan dari alam peragaan = dibalik tabir), berbalikan dengan Almuddatsir (yang berselimut = pemimpin akal terselubung, yang belum dikenal = simpulan dalam dua kemungkinan), Alfatihah (rumusan dasar hukumnya). Lebih jelasnya dapat dilihat dari pasangan tingkat delta atau cermin peralihan yaitu negatif (lelaki), nol (waria = positif-negatif), positif (perempuan), serta dua positif (hukum moral akal) yang pengasih (positif) dan penyayang (positif).
Kedua. Pendapat Anda benar. Sebab semua rosul mengemban misi sama, yaitu peradaban Islam, bukan agama Islam, seperti dikatakan Al-Isroo 77: ‘(Itulah) aturan tetap dari rosul-rosul Kami (Hukum) yang Kami utus sebelum kamu dan kamu tidak akan mendapati perubahan apapun dari aturan Kami itu’. Maksudnya dari Al-Isroo ayat 1 hingga ayat 76 adalah aturan-aturan Hukum Akal (Tuhan Alloh = Rumah Alloh) hasil rumusan para rosul dari amanat-amanat Alloh. Maka pada ayat 78-nya Rosul Muhammad menganjurkan: ‘Maka dirikan sholat (tegakkan aturan-aturan hukum itu) dari tergelincir matahari (keluar dari ufuknya di pagi hari, awal hari = awal penciptaan) hingga gelap malam (akhir kiamat) dan bacaan subuh (ingat ucapan janji fitrohmu). Sesungguhnya bacaan subuh (ucapan janji fitroh) itu dipersaksikan (kepada Hukum)’. Soalnya Al-Isroo 78 berkaitan langsung dengan Al-Fatihah ayat 4-5 atau janji fitroh akal-rasa di langit ke-78 (Al-Mu’minuun 8).
Tetapi para ulama agama Islam mengubah Al-Isroo 77 sebagai berikut: ‘Kami menetapkan yang demikian sebagai suatu ketetapan terhadap rosul-rosul Kami yang Kami utus sebelum kamu, dan tidak akan kamu dapati perubahan bagi ketetapan Kami itu’. (Qur’an terjemahan Depag RI). Lalu pada Al-Isroo 78-nya mereka menafsirkan: ‘Dirikan sholat (ritual menyembah Ka’bah) dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikan pula sholat) subuh. Sesungguhnya sholat subuh itu disaksikan (oleh malaikat)’.
Kemudian pada catatan kakinya dijelaskan: ‘Ayat ini menerangkan waktu-waktu sholat yang lima. Tergelincir matahari untuk sholat zhuhur dan ashar, gelap malam untuk maghrib dan isya’. Penjelasan dikemukakan karena menurut hadits, perintah sholat diberikan waktu Nabi Muhammad isro, dan catatan kaki itu dibuat agar cocok dengan perintah, karena perintah mendirikan sholat dalam Al-Isroo muncul pada ayat 78. Anehnya tidak ada agama lain yang ritual menyembahnya (sholatnya) sama dengan agama Islam, padahal menurut ayat, ketetapan yang diturunkan kepada semua rosul sebelumnya adalah sama, tidak ada perubahan samasekali.
Pemimpin semua agama menganggap agamanya yang paling benar dan mengkultuskan rosul masing-masing, sehingga sepanjang zaman terjadi permusuhan, saling mengkafirkan, saling jegal-fitnah-bunuh. Karena itu pada Al-Baqoroh 136-137 Rosul Muhammad menyatakan, sejak Ibrohim aturan semua rosul adalah sama, dan yang berpaling dari ajaran rosul akan bermusuh-musuhan. Karena faktanya semua agama saling bermusuhan, dan di dalam setiap agama terjadi perpecahan ke dalam aliran-aliran yang saling bermusuhan, berarti tidak ada agama yang menganut ajaran rosul. Yang kuat (kaum mayoritas) selalu menindas yang lemah (kaum minoritas). Contoh di Indonesia, agama Islam Arab menindas aliran Ahmadiyah dan aliran agama minoritas lainnya. Kaum lelaki menindas kaum perempuan, buktinya di Iran saja baru sekarang perempuan boleh masuk sekolah tinggi.
Timbulnya diskriminatif terhadap aliran-aliran minoritas datang dari keyakinan bahwa Rosul Muhammad nabi terakhir (ditafsirkan dari penutup nabi-nabi). Mereka menolak keterangan Ali Imron 146 yang menyatakan, di peperangan Uhud saja telah banyak pengikut Rosul Muhammad yang jadi nabi dan ikut berperang. Alasannya jelas, agama Islam Arab menganggap agamanya paling benar dan nabinya hanya Muhammad, sehingga agama yang nabinya bangsa lain dinyatakan sesat, karena ego Arabnya takut pengikutnya berkurang.
Kepercayaan terhadap hadits pegangannya itu amat fanatik, sehingga mereka menolak kebenaran Qur’an. Alasannya semua agamawan Islam Arab meyakini hadits sebagai sunnah Muhammad, yang diartikan sebagai hasil penjabaran Muhammad dari Qur’an atas petunjuk Alloh langsung. Mereka tidak percaya pada Al-Haaqqoh 40-42 yang menyatakan, Qur’an itu perkataan rosul yang mulia, bukan perkataan penyair dan bukan perkataan tukang sihir, karena tafsir ayatnya (Haaqqoh 40) dirobah ulama penafsir dengan menyatakan: ‘Sesungguhnya Qur’ ini wahyu dari Alloh yang diturunkan kepada rosul yang mulia’. Anehnya, para agamawan-ulama Arab itu menolak peringatan Rosul Muhammad yang melarang mengumpulkan-menganut hadits seperti disebutkan pada pengantar Qur’an Depag RI halaman 114 berikut:
Pada mulanya hadits tidak dikumpulkan seperti Al-Qur’anul Karim, karena banyak ucapan-ucapan Rasulullah yang maksudnya melarang membukukan hadits. Larangan itu antara lain tersebut dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Abu said Al Kudri, yang berkata: ”Bersabda Rosululloh s.a.w.: ‘Janganlah kamu tuliskan ucapan-ucapanku! Siapa yang menuliskan ucapanku selain Al-Qur’an, hendaklah dihapuskan, dan kamu boleh meriwayatkan perkataan-perkataan ini. Siapa yang dengan sengaja berdusta terhadapku, maka tempatnya adalah neraka”.
Dengan merujuk pada Al-Haaqqoh 40 dan As-Syuuro 51 amat jelas bahwa, karena Alloh tidak pernah berkata-kata dengan manusia (rosul juga manusia), maka Qur’an bukan sabda suci Alloh, tetapi perkataan (buku petunjuk karya) Rosul Muhammad sendiri. Itu alasan Rosul Muhammad menyuruh menghapus hadits. Artinya semua muslim yang menganut hadits berarti menolak Qur’an petunjuk rosul dan mendustai ajaran Rosul Muhammad, sehingga mereka semua dipastikan akan jadi penghuni neraka.
Kalau Anda cermat mempelajari ayat-ayat Qur’an, sesungguhnya tidak ada rosul yang berhasil dalam misinya, termasuk Rosul Muhammad. Sebab setiap rosulnya wafat, ajarannya selalu dirubah para pemimpin agama-politik di tempat munculnya rosul itu menjadi agama kembali. Demikian pula yang terjadi di Mekah. Setelah Ibrohim-Ismail wafat, peradaban Islam yang didirikan Ibrohim dirubah jadi agama Islam penyembah Ka’bah. Ketika Rosul Muhammad muncul, agama Islam itu telah jadi agama jahil (biadab) pembunuh bayi-bayi perempuan yang baru lahir, para pemimpinnya tukang kawin hingga punya puluhan isteri.
Dongeng hadits menyatakan. Sejak kecil Rosul Muhammad itu anak yatim-piatu. Dipungut pamannya Abu Tholib dan dipekerjakan sebagai penggembala domba. Dia butahuruf, ummi (diartikan bodoh bahkan setelah jadi rosul), tidak punya kemampuan apa-apa kecuali kejujurannya sehingga dikenal sebagai al-amiin (yang terpercaya). Anehnya, dia dimusuhi seluruh jajaran pemimpin Mekah termasuk paman-pamannya sendiri. Malah akhirnya dikejar-kejar untuk dibunuh. Setelah hijrah ke Madinah, dia terus diperangi. Bukti bahwa orang Mekah amat mendengki dan membencinya. Yang jadi pertanyaan, apa alasannya orang kecil-bodoh-butahuruf-jujur tidak ternama sangat dimusuhi-dibenci seluruh pemimpin Mekah?.
Karena pada akhirnya Muhammad jadi rosul, maka dibuatlah dongeng hadits. Pada usia lima tahun dada Muhammad dioperasi para malaikat untuk diisi sifat kenabian (bibit ilmu). Dongeng ini pasti dibuat karena tidak mau kalah dari Almasih Isa yang dinyatakan Qur’an sudah jadi nabi sejak lahir (Maryam 30). Mereka tidak tahu bahwa kemampuan yang diisikan bukan ilmu tetapi sihir, dan tanpa disadari diakui mereka sendiri dengan menyatakan kemampuan nabi ialah mukjizat (keajaiban tak terjangkau akal), sehingga mendukung tuduhan Al-Baqoroh 102 bahwa para nabi itu tukang sihir. Pertanyaannya, apa mungkin orang kecil-bodoh-butahuruf tidak ternama yang mengaku rosul akan dipercaya jajaran pemimpin pintar-pintar hingga dimusuhi dan demikian dibencinya?.
Jawaban logisnya. Rosul Muhammad dimusuhi jajaran pemimpin Mekah penganut agama Islam jahiliyah, sebab menyebut mereka orang-orang hina penyembah berhala Ka’bah, pembunuh bayi-bayi perempuan baru lahir yang biadab, pemuas nafsu seksual serakah dengan punya puluhan isteri, dan penganut hukum egois agama-politik yang kafir-munafik. Itu diketahui dari teori tentang kebenaran (Al-Baqoroh 1-15), definisi keimanan (Al-Baqoroh 62), dan definisi kekafiran (Al-Baqoroh 173) yang dirumuskan Rosul Muhammad dalam Qur’an. Tetapi dalam dongeng hadits, tuduhan Rosul Muhammad terhadap jajaran pemimpin Mekah itu dibalikkan jadi perilaku Rosul Muhammad sendiri. Karena Qur’an karyanya (Haaqqoh 40), dibalikkan para ulama agama Islam jadi kitab suci sabda Alloh, maka Rosul Muhammad jadi pelengkap penderitanya (kelinci percobaan teguran Alloh, karena perilakunya yang buruk) yang diimani selaku benar oleh mayoritas penganut agama Islam.
Ditafsirkan oleh S. Anwar Effendie CS67
Tidak ada komentar:
Posting Komentar