Delapan
He, Jadi Kau Punya Kekasih?
“Kenapa kau tidak mau membuangnya? Apa pipa besi itu punya arti yang sangat penting bagimu?”, tanya Pak Darwi dengan nada keheranan.
Mpok Tiwi tidak segera menjawab. Dia masih memperhatikan pipa besi yang tidak ada keistimewaannya samasekali itu, kecuali keadaannya yang mengkilap dan ada beberapa cacat bekas beradu dengan senjata tajam. Mpok Tiwi menyerahkan pipa besi itu kepada Pak Darwi, sementara mulutnya memberikan penjelasan.
“Bapak lihat beberapa goresan pada pipa besi itu bukan?”.
“Ya, seperti bekas beradu berkali-kali dengan senjata tajam”, sahut Pak Darwi.
“Sesungguhnyalah goresan-goresan itu bekas beradu dengan pisau belati. Andaikata tidak ada pipa besi itu, mungkin sekali goresan-goresan itu akan menyilangi tubuhku. Akibatnya tentu bukan hanya goresan dangkal, tetapi berupa luka-luka parah yang menganga”.
“He, jadi kau berkelahi dengan orang yang berpisau seperti tempo hari di sini?”, tanya Pak Darwi.
“Benar Pak, dan bukan hanya seorang, tetapi lima orang”, sahut Mpok Tiwi.
“Lima orang bersenjata pisau dan kau melawan seorang diri dengan pipa besi ini?”. Pak darwi membelalakkan matanya. “bukan main”, sambungnya.
“Tidak Bapak. Kalau aku melawan sendirian mungkin akan pulang nama. Aku ditolong oleh seseorang yang justru memberikan pipa besi itu. Kami berdua melawan mereka. Alhamdulillah Tuhan telah menyelamatkan nyawa kami”, sahut Mpok Tiwi.
Percakapan itu terjadi di depan gubuk Mpok Tiwi pada sore hari. Seperti biasa, Pak Darwi duduk bersandar di sisi pintu gubuk itu berseberangan dengan Mpok Tiwi. Pak Darwi menyerahkan kembali pipa besinya kepada Mpok Tiwi.
“Ah itu hal yang biasa. Meskipun aku juga dapat membayangkan serunya pertarungan itu dan kau berusaha mati-matian, tetapi tidak ada sesuatu yang istimewa yang menyebabkan kau begitu sayang untuk membuang pipa besi itu”, kata Pak Darwi mengomentariu.
“Justru disitulah keunikannya Pak. Dia memberikan pipa besi ini dengan syarat aku harus mau jadi pacarnya. Aku terpojokkan oleh keadaan. Kalau aku tidak menerima syaratnya, nyawaku terancam. Karena itu selama bertarung kami terus berdebat. Kemengkalan hati selama perdebatan kutumpahkan kepada lawan-lawanku. Anehnya, aku tidak merasa sedang bertarung mempertahankan nyawa, melainkan seperti sedang berdebat dengan pacar. Sementara lawan-lawan itu seperti benda mati yang tidak berbahaya samasekali. Aku jadi heran setelah lawan-lawan kami tidak ada yang bangkit lagi”.
“Kok bisa begitu?”.
“Itulah yang kukatakan unik tadi”, ujar Mpok Tiwi meneruskan, sementara pandangan matanya menatap ke kekosongan. “Aku jadi teringat kepada kekasihku dulu. Kami selalu memperdebatkan masalah. Dan pada setiap akhir perdebatan, dia selalu mengalah. Begitu pula orang itu. Ketika aku sedang menghajar lawan terakhir, dia tidak memaksakan lagi untuk menerima persyaratan yang diajukannya. Dia bilang, kalau aku tidak mau berpacaran dengannya, pipa besi itu lebih baik kubuang, dan dia berlalu meninggalkan aku sendirian, tetapi semua lawanku telah pingsan”.
“Karena kau masih memegangnya hingga sekarang, berarti kau tidak menolak dia untuk menjadi pacarmu. Bukankah begitu?”, tanya Pak Darwi.
Mpok Tiwi menghela nafas. “Aku benar-benar bingung Pak. Andaikata saja aku belum terikat janji dengan lelaki lain, pasti aku mau menjadi pacarnya”, sahut Mpok Tiwi.
“He, jadi kau sudah punya kekasih?”.
“Bukan kekasih tetapi tunangan. Kekasihku sudah lama hilang, sejak peristiwa G30S dulu. Bertahun-tahun aku menunggu dan mencarinya, tetapi tidak pernah muncul. Sebenarnya aku masih ingin menunggunya, karena aku yakin dia masih hidup dan masih mencariku. Tetapi suatu keadaan telah memaksaku menyetujui bertunangan dengan orang yang tidak kucintai samasekali. Dan itu terjadi belum lama, masih bulan ini juga. Andaikata orang yang ingin memacariku itu muncul sebelum aku bertunangan, tentu aku lebih senang memilih dia”.
“Bagaimana kalau tiba-tiba kekasihmu yang dulu itu muncul menemuimu?”, tanya Pak Darwi.
“Meskipun hatiku pasti akan menderita, aku terpaksa akan minta maaf karena tidak dapat menemani hidupnya lagi. Walaupun begitu aku masih tetap akan mencarinya, aku harus bertemu dulu dengannya”.
“Buat apa?”.
“Tentu saja untuk minta maaf atas ketidaksetiaanku pada janjiku sendiri, sekalian untuk mengetahui keadaannya. Terserah kepada dia, apa dia akan memaafkanku atau justru memakiku, aku akan menerimanya dengan pasrah”, sahut Mpok Tiwi.
“Sebenarnya apa yang membuatmu mau bertunangan dengan orang ayang tidak kau cintai samasekali itu?”, tanya Pak Darwi.
“Hutang budi”.
“Kepada tunanganmu itu?”.
“Bukan. Tetapi terhadap orang lain yang sangat baik kepadaku”.
“Bagaimana bisa dikatakan dia sangat baik kalau masih memaksakan kehendaknya agar kau mau bertunangan dengan orang yang tidak kau cintai?”, tanya Pak Darwi.
“Dia juga terpaksa, justru untuk menyelamatkan diriku dari lelaki yang juga menginginkanku tetapi akan membuat masa depanku lebih menderita”, sahut Mpok Tiwi.
“Hmm...ternyata kau orang beruntung Nak. Bila nanti sudah kawin, tentu kau tidak akan tinggal di gubuk ini lagi. Kapan rencanamu akan kawin?”.
Mpok Tiwi menghela nafas, baru jawabnya: “Entahlah. Mungkin selamanya tidak”.
“He, bagaimana bisa begitu? Bukankah kau telah bertunangan, yang berarti sudah dekat pada perkawinan?”. Pak Darwi bertanya heran.
“Aku telah meminta syarat bahwa saat perkawinan itu aku yang menentukan. Dan aku tidak punya niat untuk kawin dngan orang yang tidak kucintai”.
“Kasihan tunanganmu”, gumam Pak Darwi.
“Bapak bisa mengatakan kasihan karena tidak tahu, justru dialah yang memaksaku menerima lamarannya tanpa pilihan, sehingga mendorongku jadi orang yang tidak setia pada janji terhadap orang yang kucintai”.
“Hmm kalau begitu justru Bapak jadi berbalik heran, kenapa orang itu demikian memaksa ingin mengambilmu jadi isterinya seperti tidak ada wanita lain lagi. Padahal maaf bukan Bapak bermaksud menghinamu, begitu banyak wanita lain yang tidak lebih jelek darimu”, ujar Pak Darwi.
“Tidak apa Bapak. Memang aku juga tidak mengerti kenapa dia memaksa menghendakiku?”.
“Ini patut kau selidiki Nak. Bapak kira ini penting sekali. Bapak ingat pada sebuah pepatah yang mengatakan, kalau tidak ada mengada masa tempua bersarang rendah. Dalam hal ini mungkin sekali ada udang dibalik batu”, kata Pak Darwi.
“Mungkin juga Pak”, sahut Mpok Tiwi, “Baiklah aku akan mencoba menyelidikinya”, sambungnya.
Di mulut dia berkata begitu, sementara di hatinya terbersit dugaan langsung bahwa yang jadi incaran ayah dan anak itu sangat mungkin harta ayahnya. Jika benar demikian, meski Suwarno memang mencintai dirinya, namun bukan cinta yang utuh. Dirinya hanya merupakan batu loncatan untuk tujuan lain. Kalau orangtuanya bukan orang kaya raya, mungkin tidak akan ada pemaksaaan agar lamarannya harus diterima. Bahkan tidak mustahil mereka samasekali tidak akan melamarnya. Soalnya lamaran itu bukan didasarkan pada usaha Suwarno, tetapi atas kehendak orangtuanya.
“Syukurlah kalau kau bisa menerima saran Bapak. Lalu tentang orang yang menolongmu dengan syarat berpacaran, apa dia juga mungkin mempunyai maksud terselubung?”, tanya Pak Darwi.
Mpok Tiwi menggelengkan kepala, lalu sahutnya: “Kukira tidak Pak. Aku dan dia belum saling kenal. Kami baru bertemu saat itu. Karena itu aku yakin, dia benar-benar mengingini diriku secara utuh. Aku yakin, dia bukan orang yang suka memaksakan kehendak. Karena pada saat terakhir, ketika aku menolak jadi pacarnya, dia mencabut kembali persyaratan itu. Hanya yang aku tidak tahu, apa yang membuat dia tertarik padaku?”.
“Karena sebenarnya kau punya daya tarik luarbiasa”.
Mpok Tiwi menggeleng. “Aku tidak yakin”, katanya.
“Kalau begitu mungkin dia menyukai gadis tegar”.
“Hmmm...sudahlah Bapak. Apapun penilaiannya terhadapku, bahkan sekalipun aku tertarik padanya, sekarang tidak mungkin lagi aku menerimanya, karena aku telah punya tunangan. Lagi pula mungkin kami tidak akan pernah bertemu lagi. Karena itu yang lebih penting sekarang adalah hasil penyelidikan Bapak atas barang yang telah kuberikan kepada para pemesan itu”, kata Mpok Tiwi mengalihkan persoalan.
“Dua orang pengambil lolos dari pengawasanku. Untung hanya yang kecil-kecil, karena Bapak mengutamakan menyelusuri pengambil yang besar”, sahut Pak Darwi sambil mengeluarkan bloknotnya dan menyerahkan kepada Mpok Tiwi, “kau bisa melihatnya sendiri”, sambungnya.
Mpok Tiwi membuka bloknot itu, dan matanya jadi terbelalak melihat nama dan alamat yang tercatat di dalamnya lebih banyak dari jumlah pengambil barangnya sendiri, sehingga dia memandang Pak Darwi dengan penuh tanda tanya.
“Kenapa kau memandangku seperti melihat orang aneh?”, tanya Pak Darwi.
“Apakah semua nama dan alamat ini merupakan orang-orang yang akan kita jaring dalam hubungannya dengan narkotika?”. Mpok Tiwi balik bertanya.
“Ya, lalu kenapa?”.
“Kok jumlahnya demikian banyak?”.
“Begitulah kalau orangtua yang bekerja Nak”, sahut Pak Darwi sambil tersenyum. Lalu sambungnya: “Bukankah tempo hari Bapak mengatakan bahwa kita akan berusaha menjaring sebanyak-banyaknya para pengedar itu?”.
“Tetapi aku hampir tidak mengerti. Bagaimana mungkin Bapak memperoleh alamat hampir di seluruh pelosok kota dalam waktu hanya beberapa hari saja?”.
“Kenapa tidak mengerti? Dengan uang 20.000 yang kau berikan, aku bisa memperoleh alamat itu hampir sambil ongkang-ongkang kaki”, kata Pak Darwi.
“Siapa yang Bapak suruh?”, tanya Mpok Tiwi.
“Diantaranya adalah orang semacam Bapak, gelandangan”, sahut Pak Darwi sambil tersenyum. “Kau harus ingat bahwa Bapak hidup sebagai gelandangan sudah bertahun-tahun, sehingga Bapak kenal betul cara kerja mereka. Mereka bisa berkeliaran di mana saja tanpa terlalu banyak dicurigai”.
Mpok Tiwi mengangguk. “Kalau begitu aku bisa mengerti”, katanya, “hanya sayang, barangnya yang berjumlah sekian banyak tidak ikut terselamatkan. Tentu sekarang telah menambah banyak korban narkotika”.
“Itu risiko suatu perjuangan. Kita terpaksa mengorbankan satu-dua orang demi menyelamatkan sekian banyak. Tetapi sebenarnya barang itu tidak seluruhnya lenyap. Mari kau lihat di gubuk Bapak”, ujar Pak Darwi sambil bangkit. Dengan harap-harap cemas Mpok Tiwi mengikuti langkah-langkah Pak Darwi ke gubuknya.
Mpok Tiwi turut berjongkok di depan pintu gubuk Pak Darwi, sementara Pak Darwi masuk ke dalam dan mengambil sebuah bungkusan dari atas peti kayu yang dijadikan sebagai meja. Ketika orangtua itu mengeluarkan bungkusan tersebut, kembali Mpok Tiwi membelalakan matanya. Ternyata barang itu jumlahnya lebih dari setengah jumlah awalnya, seolah Pak Darwi telah memindahkan dari gubuk Mpok Tiwi ke gubuknya sendiri tanpa pernah jatuh ke tangan orang lain.
Pak Darwi membungkus kembali barang itu dan menyerahkannya kepada Mpok Tiwi. Lalu mereka kembali ke gubuk Mpok Tiwi.
“Kalau tadi aku mengatakan bahwa dua orang lepas dari pengawasanku, maksudku adalah barang yang dibawa dua orang itu yang tidak dapat kuselamatkan”, ujar Pak Darwi sementara mereka menjatuhkan dirinya duduk kembali di depan gubuk Mpok Tiwi.
Mpok Tiwi termenung beberapa lamanya. Dia merasa telah menyepelekan kemampuan kerja orangtua itu sebelumnya. Padahal ternyata sangat mengagumkan dengan hasil jauh di luar jangkauan nalarnya kalau dilihat dari ujud lahiriahnya. Apalagi tanpa memiliki kendaraan yang dapat bergerak cepat.
“Bapak. Aku benar-benar mohon maaf kepadamu. Karena terus terang saja aku telah meremehkan Bapak”, kata Mpok Tiwi dalam nada bersalah.
Pak Darwi tersenyum. Lalu katanya: “Jangan menyalahkan dirimu. Penilaianmu terhadap Bapak adalah wajar sekali. Siapapun akan menilai seperti penilaianmu melihat tongkrongan Bapak. Bapak samasekali tidak tersinggung”.
“Bapak, sesungguhnya aku telah berhubungan dengan pihak kepolisian sehubungan dengan rencana Bapak itu”.
“He?”. Pak Darwi terlonjak kaget.
“Maafkan aku Bapak. Tetapi aku tidak bermaksud jelek. Aku hanya khawatir kalau rencana itu gagal, karena melihat ujud lahiriah Bapak. Ternyata mereka menyetujui gagasan Bapak. Mereka bahkan berjanji akan mengawasi Bapak demi keselamatan Bapak”.
“Lalu sampai di mana hasil yang mereka capai?”, tanya Pak Darwi.
“Aku belum menghubungi lagi. Aku tidak tahu apa yang mereka capai dalam usaha menyelidiki tempat-tempat pengedar narkotika itu dan dalam menyelamatkan barangnya. Tetapi melihat barang itu sebagian besarnya berada di tangan Bapak, aku jadi sangsi, apa mereka melakukan tugasnya dengan baik?”.
“Aku yakin, mereka melakukan tugas dengan sungguh-sungguh. Tentu sekarang mereka telah dapat menyelusuri tempat-tempatnya, paling tidak sebagian. Tetapi mereka akan mendapat kesulitan untuk menyelamatkan barangnya, karena kedatangan mereka pasti segera diketahui. Sementara anak gelandangan dapat keluar-masuk dengan bebas”, kata Pak Darwi.
“Mungkin sekali Bapak”, sahut Mpok Tiwi.
“Baiklah. Kalau begitu kau bisa menyalin semua alamat yang Bapak kumpulkan untuk diserahkan dan diakurkan dengan hasil pendapatan mereka. Begitu pula barang yang telah Bapak peroleh, dapat kau serahkan untuk diamankan”, kata Pak Darwi.
Mpok Tiwi mengangguk. “Nanti malam akan kusalin, dan besok pagi barang itu akan kuserahkan kepada polisi”, sahutnya, lalu: “Tetapi apakah pengambilan barang itu dari tangan mereka tidak akan mereka bercuriga terhadap kita?”.
“Jangan cemas. Paling-paling mereka akan saling menuduh atau mencurigai di antara sesama mereka, karena barang itu lenyap di tempat mereka sendiri”.
“Ternyata Bapak telah memberikan pelajaran yang banyak kepadaku. Aku harus mengakui, kerja Bapak sangat rapi. Aku baru mengerti apa yang Bapak maksud dengan pepatah airnya bening ikannya dapat itu”, ujar Mpok Tiwi.
“Sudahlah. Yang penting, nama-nama dan alamat yang dilingkari adalah kakap-kakapnya, termasuk Boss yang datang kemari dan memberi tugas kepadamu sebagai penunggu gudang barang. Sementara Tuan Lim adalah yang mengirim barang kepada Bossmu. Bapak belum berhasil menjejaki sumber tempat Tuan Lim mendapatkan barang itu, karena nampaknya belum ada barang yang datang lagi”, kata Pak Darwi.
Mpok Tiwi mengangguk. Sejenak tidak ada yang bicara. Tetapi tiba-tiba Mpok Tiwi teringat sesuatu.
“Bapak”, katanya, “untuk lebih memperlancar tugas Bapak, aku akan mengusahakan uang tambahan ongkos. Apa Bapak tidak berkeberatan?”.
Pak Darwi menatap Mpok Tiwi sejenak, baru dia bertanya: “Dari mana kau akan usahakan uang itu?”.
“Tentu saja dari kepolisian. Dengan melihat hasil kerja Bapak, aku yakin, mereka tidak akan berkeberatan mengeluarkan biaya yang jauh lebih besar dari upah yang diberikan Bossku”, sahut Mpok Tiwi.
“Ngng...terserah kau Nak. Memang terus terang saja Bapak memerlukan uang lebih banyak untuk kerja ini. Tetapi Bapak tidak mau membebankan kepada pribadi-pribadi. Kalau pemerintah yang memberikan, memang sudah kewajibannya. Hanya satu yang Bapak minta. Jangan kau katakan bagaimana cara Bapak memperoleh nama, alamat, dan barang itu. Cukup kau saja yang mengetahuinya, janji?”.
“Baik. Aku berjanji. Tetapi aku juga minta janji Bapak untuk menyesuaikan kerja Bapak dengan rencana penjaringan para pengedar narkotika itu dari pihak kepolisian”.
“Maksudmu?”, tanya Pak Darwi.
“Dalam menyergap tempat dan orang-orang yang melakukan pengedaran barang itu diperlukan bukti-bukti yang tidak bisa mereka bantah lagi, yaitu barangnya. Dengan demikian, saat itu Bapak jangan lagi mengambil barangnya, tetapi cukup memberitahukan tempat barang itu berada. Tetapi harus secepatnya, sehingga pihak kepolisian dapat menyergap mereka sebelum barang itu berpindah tempat”, sahut Mpok Tiwi.
“Kapan rencana itu dilaksanakan?”.
“Pada pengiriman mendatang kalau barangnya banyak”.
Pak Darwi tersenyum, lalu katanya: “Sudah kuduga. Ternyata kau orang kepolisian. Kau terlalu terampil dan cerdas untuk seorang Mpok Tiwi penghuni biasa dari perkampungan kumuh ini”.
Mpok Tiwi menggeleng. “Dugaanmu tidak betul semua Pak. Memang aku bekerja untuk kepolisian, tetapi sekedar sebagai pembantu atas kemauan sendiri, bukan karena aku anggota polisi, dan aku tidak menerima gaji untuk pekerjaan itu. Kapan saja aku mau berhenti, aku bisa berhenti tanpa harus memberitahukan kepada atasan”, sahut Mpok Tiwi.
“Lalu bagaimana kau bisa mendapat uang dari kepolisian kalau tidak pernah menerima gaji”, tanya Pak Darwi.
“Itu soal lain. Untuk biaya operasi, aku bisa meminta kapan saja dan berapa saja sesuai dengan kebutuhan”.
“Dengan demikian sama saja. Kau adalah seorang intel”, kata Pak Darwi.
“Bisa juga dikatakan begitu, tetapi intel lepas”, sahut Mpok Tiwi. Kemudian katanya: “Kukira kita sama Pak. Aku juga menduga kau bukan penghunbi perkampungan kumuh biasa”.
“Tetapi aku memang seorang gelandangan. Di kota ini aku tidak punya rumah. Hanya di masa lalu aku pernah turut berjuang membela negara. Begitu pula pada peristiwa G30S aku turut menyumbangkan sedikit tenaga”, ujar Pak Darwi.. “Tetapi sudahlah, soal kita tidak usah dibicarakan lagi. Yang penting sekarang, kalau aku harus bergerak cepat sesuai dengan rencana kalian, aku benar-benar membutuhkan uang agak banyak dan tiga buah walky-talky. Karena itu kau harus segera mengusahakannya. Bapak perlu mengatur orang sebelum kiriman barang itu datang”.
-----ooooooooo-----
“Berapa yang kau minta untuk pekerjaan ini?”, tanya orang berjambanga bauk lebat dari belakang mejanya sementara jari-jarinya mengetuk-ngetuk tas echolak di depannya.
“Untuk menjejakinya saja aku butuh 100.000, karena mungkin tidak bisa didapat dalam satu atau dua kali membuntuti. Aku harus tahu tempat tinggalnya yang asli. Cewek semacam dia yang selalu keliling dari satu naight club ke night club lainnya, tentu sering berpindah-pindah menginap untuk menghemat waktu. Aku tidak seperti anak buahmu yang kerjanya tanggung-tanggung. Aku adalah orang bayaran yang harus mempertahankan reputasi karierku”, sahut lawan bicaranya, seorang laki-laki berwajah dingin.
“Lalu berapa untuk menyelesaikannya?”.
“Satu juta”, sahut orang itu pendek.
“Ngng...kau terlalu memeras”.
“Lima orang anak buahmu tidak mampu berbuat apa-apa”.
“Soalnya kebetulan ada yang membantu. Kalau tidak...”.
“Yang membantu itu juga sudah termasuk dalam perhitunganku. Karena itu aku tidak bisa bekerja sendiri. Sebenarnya satu juta itu masih terlalu kecil. Tetapi kau kenalan lamaku. Kalau kepada orang lain, aku akan menghargakannya dua juta”, tukas orang berwajah dingin sebelum orang berjambang bauk menyelesaikan kata-katanya.
“Kalau begitu, sekarang aku akan memberimu setengahnya. Sebagian lagi setelah pekerjaanmu selesai. Sedangkan untuk menjejaki, aku bisa memenuhinya sekaligus”, ujar orang berjambang bauk.
“Tidak. Aku akan menerima pekerjaan ini dengan pembayaran penuh sekaligus sekarang juga. Kalau tidak, aku tidak akan menanganinya samasekali”, kata orang berwajah dingin.
“Jangan percaya Boss. Bagaimana kalau dia...”, kata pengawal orang berjambang bauk yang berwajah keras berkacamata hitam yang berdiri di samping Bossnya.
Tetapi sebelum kata-katanya selesai, orang berwajah dingin itu telah berdiri dan meremas baju di bagian dadanya, sementara wajahnya tidak berubah samasekali, tetap dingin. Namun sorot matanya mengerikan, sehingga orang berwajah keras itu bergidik dan tidak menyelesaikan kata-katanya.
“Sudahlah. Dia belum tahu siapa kau”, kata orang berjambang bauk melerai.
Sejenak orang berwajah dingin itu masih menatap mata si orang berwajah keras tanpa sepatah pun bicara. Tetapi kemudian dia melepaskan pegangannya dan duduk kembali di kursinya. Si orang berjambang bauk langsung membuka tas echolacnya, Dia mengeluarkan segepok uang puluhan ribu, kemudian menghitung 10 lembar nilai uang yang sama dari gepokan lainnya, dan diletakkan di depan oarang itu.
“Aku akan membawa kepala perempuan itu kehadapanmu kelak”, desis orang berwajah dingin sambil memasukkan gepokan uang yang diserahkan orang berjambang bauk ke dalam sakunya. Dia berlalu tanpa berpaling lagi.
“Siapa dia Boss? Aku benar-benar ngeri melihat sorot matanya”, kata si orang berwajah keras dengan keringat dingin membasahi lehernya.
“Lain kali jangan usil tanpa kuminta. Untung dia masih menghargaiku sebagai kenalannya. Kalau tidak, saat ini kau sudah terkapar tanpa nyawa”.
Sementara itu si orang berwajah dingin melangkah menghampiri motornya yang diparkir di depan gedung itu. Seorang anak berusia 11 tahun dengan pakaian kumal sedang bekerja mengelapi motor tersebut. Orang itu langsung menaiki motornya tanpa mengacuhkan anak yang melap kendaraannya.
“Upahnya Tuan”, ujar si anak sambil berdiri dua langkah di samping motor.
Orang berwajah dingin itu berpaling menatap si anak tanpa bicara, dan wajah anak itu berubah pucat lalu mundur sambil menundukkan kepala. Sejenak kemudian motor berlalu meninggalkan si anak yang berdiri mematung tanpa menerima upah kerjanya.
Tetapi kemudian anak itu melangkah ke luar halaman gedung, menghampiri bak sampah di mana tampak seorang lelaki tua tengah mengais-ngais sampah dengan tongkat kayunya mencari barang-barang buangan yang dianggap berharga. Ketika mendengar langkah-langkah si anak, orang itu berpaling, Pak Darwi.
“Kau dengar apa yang mereka bicarakan?”, tanya Pak Darwi tanpa menghentikan pekerjaannya.
”Hanya sedikit. Orang itu dibayar untuk membuntuti cewek nait klab dan menyelesaikannya”, sahut si anak.
“Berapa bayarannya?”, tanya Pak Darwi.
“Dia minta satu juta”.
“Bukan main”, gumam Pak Darwi. Tetapi kemudian tanyanya: “Berapa kau diberi upah melap motor orang itu?”.
“Tidak sepeserpun. Aku tidak berani memaksanya, matanya itu....hiiiy mengerikan”.
Pak Darwi menepuk pundak si anak beberapa kali. Lalu dia merogoh sakunya dan memberikan uang 1000 perak ke tangan anak itu.
“Biar aku yang mengganti upahmu”, katanya, “kau terus bekerja di sini dengan kawanmu, nanti aku beri lagi”.
“Baik”, sahut si anak, lalu mencium lembaran uang ribuan itu dengan gembira.
Pak Darwi berlalu menuju perhentian bus kota yang letaknya tidak jauh dari belokan jalan raya di ujung jalan itu. Beberapa lamanya dia menunggu. Dua bus dengan nomor jalur berlainan berhenti berturut-turut. Tetapi Pak Darwi tidak naik. Baru pada bus ketiga dia naik.
Di Pasar Senen dia turun, lalu berjalan berbaur dengan orang-orang yang lalu-lalang di sepanjang trotoar menuju ke daerah Kramat. Tiba di depan sebuah bengkel yang tidak terlalu besar, dia membelok masuk. Matanya menyapu ke sekelilingnya, dan kemudian melangkah menghampiri orang yang tengah bekerja di kolong mobil. Dia berjongkok di samping sepasang kaki orang itu yang menjulur keluar.
Rupanya orang yang berada di kolong mobil pun melihat kehadirannya, dan dia menggelusur ke luar. Dia seorang pemuda berusia 25-an. Pemuda pencinta alam yang pernah bertemu dengan rombongan Pertiwi di Kandang Badak ketika naik ke gunung Gede-Pangrango.
“Apa yang kau temui hari ini?”, tanya si pemuda sambil mengelap tangannya yang berlepotan olie dengan kain lap yang sudah hitam.
“Seorang pembunuh bayaran”, sahut Pak Darwi.
“He, siapa yang diincarnya? Ah, marilah kita duduk di kantor saja supaya leluasa”, kata si pemuda lagi sambil melangkah ke kantor bengkelnya.
“Nona Dokter yang kau temui di Kandang Badak tempo hari”, sahut Pak Darwi sambil mengikuti langkah si pemuda.
“Itulah resikonya kalau jadi bunglon”, kata si pemuda sementara mereka telah sampai di kantor bengkel, dan pemuda itu duduk di belakang meja kerjanya. Lalu sambungnya: “Dalam kedudukan apa dia diincar? Ah tentunya sebagai penyanyi rock”.
Pak Darwi duduk di kursi tamu seenaknya dengan kedua kakinya melunjur dengan sepatu butut di atas meja.
“Benar. Tetapi mungkin sekali samaran lainnya akan segera diketahui pula”, sahut Pak darwi.
Si pemuda bangkit dan melangkah menuju lemari es yang ada di sudut ruangan. Dia membuka lemari es itu, mengambil botol air dingin dan dua buah gelas yang terdapat di rak kecil di atas lemari es itu, lalu menghampiri Pak Darwi.
“Jadi kau akan menyuruhku mengawasinya?”, tanyanya sambil menuangkan air dari botol ke dalam gelas, lalu disodorkan kepada Pak Darwi. Sebelum menjawab Pak Darwi menghirup air dingin itu dulu.
“Ah segarnya”, ujarnya. Lalu: “Tidak. Biar aku yang menanganinya. Kau tetap pada tugasmu, karena kau lebih menguasai informan-informan kecilmu”.
“Aku khawatir tidak bisa membantumu terlalu lama lagi, karena harus mempandui ekspedisi ayah nona dokter itu”.
“Kapan kalian berangkat?”, tanya Pak Darwi.
“Minggu depan”, sahut si pemuda.
“Ngng...mudah-mudahan saja pekerjaan di sini sudah selesai”, kata Pak Darwi. Kemudian dia mengalihkan pembicaraan: “Ngomong-ngomong, bagaimana hasil kerja informan-informan kecilmu?”.
“Tadi malam barang itu sudah sampai di rumah Tuan Lim dari salah sebuah perahu di pasar ikan. Jumlahnya tiga kali lipat dari yang dapat dikumpulkan oleh informan kecilku tempo hari”, sahut si pemuda.
“Bagus. Kalau begitu pekerjaan kita akan segera beres. Tugas kita hanya memberikan informasi, sementara penjaringannya akan dilakukan oleh polisi. Kukira malam nanti juga akan dilakukan penggrebegan ke tempat Tuan Lim. Karena informasi ini akan aku laporkan hari ini juga”, kata Pak Darwi.
“Tetapi kita juga harus turut menyaksikan penggrebegan itu, agar kalau ada yang tercecer bisa kita bantu mengumpulkannya”, ujar si pemuda.
“Tentu. Aku tidak mau kalau capai-lelah kerja kita berantakan. Karena kalau ada yang tercecer, yang tercecer itu akan bisa menggagalkan penggrebegan di tempat-tempat lainnya. Tetapi aku tidak akan bersamamu. Aku akan berada di belakang nona dokter”, sahut Pak Darwi.
“Aku tahu. Tentu kau lebih mencemaskan keselamatan dia. Karena sejak melihatnya pertama kali di Cibodas tempo hari, kau begitu tergila-gila”, ujar si pemuda.
“Apa kau tidak tertarik padanya?”, tanya Pak Darwi.
“Kalau saja aku belum punya pacar, aku akan berusaha memacarinya”, sahut si pemuda.
“Nah wajar kan?”.
“Tetapi dengan caramu menyamar begini, sampai kapan pun kau tidak akan memperolehnya. Dia gadis cantik, kaya raya, dan seorang dokter pula. Sementara kau hanya seorang gelandangan tua. Bagaimana dia akan tertarik padamu? Paling juga dia akan memanggilmu dengan sebutan Bapak”, sahut si pemuda.
“Memng dia menyebutku bapak. Tetapi dalam keadaanku ini, dia sudah semakin dekat kepadaku, berkat bantuan kerja informan-informan kecilmu. Dan aku sudah mulai berhasil mengorek sebagian rahasia hatinya. Susahnya gadis itu sudah punya tunangan, dan hatinya terlalu kukuh terhadap janji yang telah keluar dari mulutnya. Namun justru itulah yang membuatku sangat mengaguminya. Wajahnya cantik, hatinya lembut, jiwa sosialnya besar, dan rasa pengabdiannya terhadap sesama sangat tinggi. Ah, rasanya aku tidak ingin kawin kalau tidak dengan dia”.
“Jangan terbuai oleh mimpi. Sementara kau dilenakan oleh angan-angan, dia sendiri akan memalingkan mukanya begitu melihat wajah aslimu yang kotor tak terurus itu”, tukas si pemuda. “Tetapi justru aku senang kau tergila-gila padanya. Dengan demikian, kau akan tinggal di sini cukup lama, sehingga aku bisa pergi ke pedalaman tanpa perlu menutup bengkel ini”, sambungnya.
Pak Darwi bangkit dari duduknya sambil berkata: “Untunglah aku seorang penulis, sehingga tidak harus menutup usahaku karena pekerjaan itu bisa kulakukan di mana saja”.
“Kau benar-benar kukuh Dar. Mungkin sama kukuhnya dengan nona dokter itu. Tetapi aku akan berdoa untukmu, mudah-mudahan kau berhasil terangkap jodoh dengannya”, kata si pemuda.
“Terimnakasih. Nah sampai jumpa lagi”, sahut Pak Darwi sambil melangkah ke luar diikuti oleh si pemuda yang hendak melanjutkan kerjanya.
Pak Darwi tiba kembali di gubuknya lewat tengah hari. Dia melihat gubuk Mpok Tiwi terbuka. Maka sambil lewat dia memanggil.
“Kau sedang apa Nak Tiwi?”, tanyanya.
“Sedang merebus air Pak. Kok siang-siang begini sudah pulang”, sahut Mpok Tiwi.
“Rejekiku cukup banyak hari ini. Barang pesanannya sudah datang. Jadi aku tidak harus menunggu lagi”, kata Pak Darwi, “nantilah kita bicara. Bapak belum lohor dan sekarang sudah sangat terlambat”.
Mpok Tiwi tidak bertanya lagi, tetapi dia tahu apa yang disebut barang oleh Pak Darwi itu, dan jumlahnya banyak. Itu berarti bahwa dia tinggal menunggu perintah untuk mengambil barang itu di tempat pembuangan sampah dari si Bossnya. Apa yang dia tunggu-tunggu ternyata muncul tidak lama kemudian dengan munculnya orang berwajah keras berkacamata hitam, ketika Mpok Tiwi sedang duduk di sisi pintu depan gubuknya menunggu Pak Darwi yang sedang sembahyang.
“Besok pagi kau ambil lagi barang di tempat dulu Pok”, kata orang berwajah keras tanpa duduk ketika tiba di depan Mpok Tiwi.
Mpok Tiwi mengangguk. “Baik”, sahutnya.
“Tetapi mulai sekarang upahmu kupotong 10.000, karena kerjamu tidak berat. Kau hanya mengambil barang, lalu menyerahkan kepada orang-orang yang datang ke gubukmu ini, dan kau sudah mendapat 10.000 dengan mudah”, kata orang itu lagi sambil mengangsurkan lembaran sepuluh ribu.
“Tetapi bukankah....?”.
“Jangan banyak tingkah dan jangan banyak omong lagi kalau kau mau selamat. Dan ingat! Laksanakan pekerjaanmu sebaik-baiknya sebagaimana yang sudah-sudah”.
Mpok Tiwi menerima uang itu dengan tangan gemetar, dan orang itu pun berlalu tanpa ngomong apa-apa lagi. Mpok Tiwi masih merenungi uang yang dipegangnya ketika Pak Darwi datang menghampirinya, lalu duduk di sisi pintu berseberangan dengan mpok Tiwi.
“Kenapa kau termenung Nak?”, tanya Pak Darwi.
“Baru saja perintah mengabil barang itu datang”, sahut Mpok Tiwi sambil mengangsurkan uang yang diterimanya tadi kepada Pak Darwi, “tetapi upahnya dipotong suruhan si Boss10.000”.
Pak Darwi tersenyum. Sambil memasukkan uang itu ke dalam sakunya dia berkata: “Cara-cara begitu sudah mulai membudaya di negeri ini. Tidak hanya di kalangan para pelanggar hukum saja. Tetapi hampir di semua tempat, di kantor-kantor, di proyek. Hampir setiap anggaran yang turun, jumlah yang tiba di pelaksanaan hanya tinggal kurang dari setengahnya. Akibatnya, mutu setiap proyek jauh di bawah nilai minimum. Yang paling menderita adalah rakyat kecil. Setiap mengurus sesuatu ke kantor-kantor, harus memakai uang pelicin. Jika tidak, jangan harap akan diselesaikan. Kalau ingin selesai lebih cepat, pelicinnya harus lebih besar. Amanat penderitaan rakyat yang baru terucapkan dan bibir pengucapnya pun belum kering, telah berubah menjadi alamat penderitaan rakyat”.
Mpok Tiwi tersenyum mendengar penggantian istilah ampera jadi alpera itu. Maka tanyanya: “Apa yang Bapak maksud dengan alamat?”.
“Alamat itu artinya bakal atau gejala-gejala ke arah semakin menderitanya rakyat kecil seperti kita”, sahut Pak Darwi. Tetapi kemudian katanya: “Ah, sudahlah. Kalau kita bicara terus soal itu, kita akan sampai kepada pertanyaan siapa yang salah. Kita tidak akan bisa menunjuk kepada salah satu pihak atau golongan. Dan Bapak tidak mau dituduh sebagai perongrong keamanan negara”.
“Jadi bagaimana saran Bapak untuk pekerjaan nanti malam?”, tanya Mpok Tiwi.
“Persiapan harus benar-benar matang. Jangan sampai ada seorang pun yang lolos dari kepungan. Sebab kalau hal itu terjadi, penjaringan kita selanjutnya akan gagal. Sementara orang-orangnya diamankan, barangnya harus dibawa ke gubuk ini, sehingga penyerahan kepada para pengedar tetap berjalan tanpa mereka ketahui bahwa puncaknya telah diringkus”.
“Tetapi bagaimana kalau si Bossku sedang berada di sana? Bukankah dengan demikian penjaringan itu tidak akan bisa kita lakukan, karena si Bossnya belum membuat surat-surat pengambilan barang ke sini?”.
“Aku hampir yakin, dia tidak akan berada di sana. Pembayaran barang yang lalu-lalu juga diserahkan kepada Tuan Lim setelah Bossmu menerima uang dari agen-agen pengedarnya. Artinya, barang itu diutang oleh Bossmu sampai barangnya laku habis”, sahut Pak Darwi.
“Dengan demikian Bossku adalah yang terakhir digrebek”, kata Mpok Tiwi.
“Ya, setelah dia mengirimkan pengambil barangnya yang terakhir. Untuk dia kita tidak perlu bukti barang, melainkan bukti surat pengambilan barang itu. Bukankah setiap surat itu ditandatangani oleh dia?”, tanya Pak Darwi.
“Tentu. Tanpa tandatangannya, aku tidak mungkin menyerahkan barang itu kepada si pengambil”, sahut Mpok Tiwi.
“Kalau begitu Bapak kira persiapan kita sudah tuntas. Tinggal menunggu pelaksanaannya. Apa kau akan turut operasi nanti malam?”, tanya Pak Darwi.
“Tentu saja Pak. Bukankah aku harus membawa barang itu ke sini?”.
“Kapan kau akan berangkat?”.
“Sebentar lagi Pak. Aku harus segera memberitahukan ke Komdak agar mereka dapat bersiap lebih awal”, sahut Mpok Tiwi.
“Jadi kau akan berangkat bersama pihak kepolisian?”.
-----ooooo000ooooo-----
Tidak ada komentar:
Posting Komentar