Tujuh
Mari Kita Melantai Dulu
“Cocok Pok. Aku sependapat denganmu. Suasana tempat di sini sangat baik dan tenang, jauh berbeda dengan di tempat lain. Karena itu aku memilih tempat ini untuk gudang penyimpanan barang”, kata orang berjambang bauk mengomentari kata-kata Mpok Tiwi.
“Jangaaan. Kalau aku mengatakan begitu, aku tidak ingin tempat yang tenang ini jadi tidak tenang lagi. Aku sudah menyetujui untuk jadi pengirim ke alamat-alamat yang kalian tentukan nanti”, kata Mpok Tiwi.
“Aku merubah rencana itu Pok. Kau orang yang paling tepat untuk jadi pengambil barang dari tempat pembuangan sampah. Kemudian di simpan di gubukmu, dan kau jadi penjaga gudangnya. Kau tidak perlu ke mana-mana lagi. Kau hanya harus memberikan barang itu kepada orang yang membawa surat dengan tandatanganku, sebanyak seperti yang tertulis dalam surat itu”.
‘Tidak, jangaan. Aku takut”, kata Mpok Tiwi tetap menolak.
“Mana yang lebih kau takuti, ditangkap polisi atau digorok lehermu olehku”, kata orang berwajah garang dan berkacamata hitam yang duduk di samping orang berjambang bauk itu, sementara matanya tetap memperhatikan orang berlalu lalang di jalan pinggir kali di hadapan deretan gubuk itu.
Mpok Tiwi berpaling kepada orang itu dengan sinar mata ketakutan. Dalam pada itu si orang berjambang bauk merogoh saku bajunya. Ketika keluar lagi tampak segepok uang puluhan ribu di tangannya.
“Kau pilih sendiri. Dapat uang dan nyawamu selamat atau kau menolak dan besok lusa nyawamu hanyut di kali”, bisik orang berjambang bauk sambil memasukkan kembali uang gepokannya.
Ketika melihat uang gepokan itu mata Mpok Tiwi membelalak dan menelan air liurnya. Orang berjambang bauk tersenyum.
“Bagaimana?”, tanyanya.
“Tapi kalau aku tidak pernah bepergian dari sini, tetanggaku akan cepat curiga. Aku biasa pergi dua tiga hari dalam seminggu, dan malam minggu aku selalu pergi ke asrama mahasiswa untuk mencuci dan menyeterika pakaian mereka. Semua tetangga sudah pada tahu kebiasaanku itu. Kalau aku melepaskan kebiasaan itu, mereka akan menjadi curiga”, sahut Mpok Tiwi.
“Kebiasaan itu tidak perlu kau tinggalkan. Karena kerja dariku hanya setengah bulan sekali., dan setiap kali mengambil barang, kau dapat duit 20.000”.
Mpok Tiwi kembali menelan air liurnya sambil menatap orang berjambang bauk itu. Namun dia masih juga tampak ragu-ragu.
“Tapi kalau terlalu sering tetangga melihat orang luar mendatangiku, mereka akan curiga”.
“Hmm...ternyata kau sangat hati-hati Pok”, kata orang berjambang bauk.
“Aku takut celaka. Sebab yang mana pun pilihanku, risikonya sama saja. Karena itu aku akan memilih yang lebih menguntungkan. Untuk itu aku minta pengertian Boss”, sahut Mpok Tiwi dan mulai menggunakan panggilan ‘boss’ kepada orang berjambang bauk itu.
Si Boss tersenyum. “Jadi bagaimana pengaturan waktunya yang paling baik menurutmu untuk orang-orang yang mengambil barang darimu nanti?”, tanyanya.
“Setelah gelap dalam tiga hari ketika aku berada di sini”.
“Bagus. Sedangkan untuk kode hari pengambilan barang, akan aku kirim orang yang akan memberitahukannya tanpa memberitahukan tempatnya, karena tempat penyimpanan itu sudah pasti. Kau tinggal pergi ke pembuangan sampah sesuai dengan pemberitahuan waktunya, yaitu di bawah rumpun semak pinggir jalan dekat pohon pertama dari tempat pembuangan sampah”.
“Di bawah rumpun semak dekat pohon pertama dari pembuangan sampah”. Mpok Tiwi mengulangi.
“Ya, jangan lebih dari jam 8 pagi, sebelum tukang cari barang buangan lain mendahuluimu datang ke sana”.
Mpok Tiwi mengangguk. Orang berjambang bauk kembali mengeluarkan gepokan uang dari sakunya dan mengambil dua lembar, lalu dilemparkan ke dalam gubuk Mpok Tiwi.
“Besok pagi barang itu Mpok ambil di sana”, ujarnya.
“Baik Boss’, sahut Mpok Tiwi.
Orang berjambang bauk itu bangkit dan berlalu tanpa bicara lagi, diikuti oleh orang berwajah garang berkacamata hitam. Mpok Tiwi memperhatikan langkah kedua orang itu tanpa beranjak dari duduknya.
Ketika kedua orang itu lenyap di balik tembok lorong, Pak Darwi yang dari tadi duduk di pinggir kali sambil memegang pancing, menggulung tali pancingnya dan melangkah menghampiri Mpok Tiwi sambil menjinjing tiga ekor ikan sebesar-besar lengan yang diikat oleh rumput carulang.
“Wah Bapak dapat lagi”, kata Mpok Tiwi.
“Lumayan buat makan malam. Nanti kau Bapak kasih panggangnya seekor”, sahut Pak Darwi sambil menjatuhkan tubuhnya di sisi pintu bekas tempat orang berjambang bauk tadi duduk berseberangan dengan Mpok Tiwi. “Siapa kedua orang tadi Nak?”, tanyanya.
“Tamu Pak”.
“Sudah sering datang kemari?”.
“Yang seorang baru, tetapi kawannya yang berkacamata hitam pernah ke sini”, sahut Mpok Tiwi.
“Hati-hati berhubungan dengan mereka Nak. Orang itu pelanggar hukum. Bisa-bisa kau ikut terseret masuk penjara”.
Mpok Tiwi berpaling cepat. Tetapi Pak Darwi seperti tidak sedang memberitahukan hal yang penting. Dia tengah memperhatikan tali pancingnya. Mpok Tiwi tidak segera menjawab. Ada sesuatu yang dipikirkannya.
“Bapak hampir yakin. Mereka tentu bermaksud menggunakanmu untuk kegiatan mereka”. Pak Darwi berkata lagi.
“Aku tidak punya pilihan Pak. Mereka mengancamku”. Akhirnya Mpok Tiwi berterus-terang. Lalu sambungnya: “Apa Bapak mau membantuku?”.
“Asal bukan untuk membantu mereka. Kalau kau akan menangkap mereka, Bapak bersedia membantu”, sahut Pak Darwi.
Mpok Tiwi menatap orangtua itu dengan lekat. Tetapi yang ditatap tenang-tenang saja sementara tangannya mempermainkan tali pancing.
“Sungguh? Bapak tidak takut?”, tanya Mpok Tiwi.
“Takut?”. Pak Darwi menyahut dengan pertanyaan pula sambil berpaling. Lalu sambungnya: “Dengar Nak. Ketika masih muda saja Bapak berani menghadapi berondongan peluru Belanda. Apalagi sekarang sudah tua dan tidak punya beban apa-apa lagi. Bapak justru mengharapkan mati dalam perjuangan membela rakyat, daripada mati di pembaringan dalam gubuk reyot sebagai sampah masyarakat”.
“Ah, ternyata Bapak seorang patriot. Aku tidak mengira. Maafkan kalau kata-kataku menyinggung perasaan Bapak”, kata Mpok Tiwi.
“Sudahlah. Sekarang apa yang bisa Bapak bantu?”.
Mpok Tiwi menceritakan tugas yang diberikan oleh orang berjambang bauk tadi.
“Nah, bagaimana pendapat Bapak?”, tanya Mpok Tiwi setelah ceritanya selesai.
Pak Darwi mengerutkan keningnya. Beberapa lamanya dia berpikir. Namun tiba-tiba matanya bersinar.
“Kita jalankan siasat menurut pepatah orang tua-tua, caina herang laukna beunang (airnya bening ikannya dapat). Kita jangan mengeruhkan airnya”, sahut Pak Darwi.
“Maksud Bapak?”, tanya Mpok Tiwi tidak sabar.
“Kau tetap bekerja sebagaimana yang ditugaskan orang itu. Selebihnya Bapak yang menangani”.
“Aku tidak mengerti”, kata Mpok Tiwi.
“Begini”, ujar Pak Darwi mulai mengatur rencana, “besok subuh Bapak akan mengintai orang yang menyimpan barang itu di tempat pembuangan sampah. Kalau bisa Bapak akan mengikutinya untuk mengetahui alamatnya, dan kalau mungkin akan menyelusuri jejak dari mana datangnya barang itu. Mungkin untuk memperoleh sumbernya, kita memerlukan beberapa kali pengiriman barang”.
“Tetapi dengan demikian, barang yang sudah ada tidak dapat diselamatkan”, kata Mpok Tiwi.
“Itu pekerjaanku yang lain”, sahut Pak Darwi. Lalu sambungnaya: “Bapak akan mengikuti orang yang telah kau beri barang itu. Kemudian Bapak akan merampasnya kembali setelah mengetahui alamatnya dan orang-orang yang jadi pengedarnya, sehingga pada saatnya, polisi akan dapat menjaring komplotan itu. Mungkin untuk pengedaran yang pertama, kita akan banyak kehilangan barang itu. Karena Bapak harus memperhitungkan kemampuan jika harus melawan banyak orang”.
“Bagaimana jika kita meminta bantuan polisi untuk mengikuti orang-orang itu?”, tanya Mpok Tiwi.
“Jangan dulu. Kalau pada langkah pertama polisi bertindak, kau akan dapat diketahui si Boss, sementara kita belum mengetahui berapa luas jaringan mereka”.
“Tetapi dengan demikian tugas Bapak akan jadi sangat berat”, kata Mpok Tiwi.
“Bapak sudah lama hidup di dunia ini. Karena itu Bapak telah merelakan nyawa tua ini untuk berjuang membela negara. Ingat! Kita menjalankan siasat airnya bening ikannya dapat. Biar kehilangan sedikit, tetapi semua ikan dalam kolam dapat kita jaring”.
Mpok Tiwi memandang Pak Darwi dengan kagum. Rupanya pengalaman orangtua ini cukup luas dan otaknya juga mampu memperhitungkan langkah-langkah jauh seperti pemain catur saja.
“Sudahlah. Jalankan saja pekerjaanmu sebaik-baiknya. Sekarang Bapak akan memanggang ikan dulu”, kata Pak Darwi sambil bangkit berdiri hendak pergi ke gubuknya.
“Tunggu sebentar Pak”, kata Mpok Tiwi, dan dengan tergesa-gesa dia melongokkan kepalanya ke dalam gubuk. Tangannya menjangkau uang yang tadi dilemparkan tamunya. Kemudian uang itu disodorkan kepada Pak Darwi yang tertegun sebelum melangkah karena ditahan oleh kata-kata Mpok Tiwi.
“Apa ini?”, tanya Pak Darwi dengan pandangan terkejut melihat uang sebanyak itu.
“Bapak akan banyak bepergian dan pasti memerlukan ongkos yang tidak sedikit”, sahut Mpok Tiwi.
Pak Darwi menatap Mpok Tiwi tanpa mengacuhkan uang itu. “Dari mana kau dapat uang sebanyak itu?”, tanyanya lagi.
“Dari orang tadi”.
“Kenapa kau berikan kepadaku?”.
“Karena Bapak harus menyusuri jejak mereka. Kalau mereka naik kendaraan dan Bapak berjalan kaki, bagaimana mungkin bisa mengikuti?”, kata Mpok Tiwi.
“Tapi itu adalah upah kerjamu”.
“Memang. Tetapi pekerjaanku tidak pergi ke mana-mana. Kerjaku hanya tunggu gudang mereka, sehingga tanpa uang pun bisa jalan”.
“Kau aneh Nak. Semua orang berusaha mencari uang, bahkan tidak sedikit yang berani mengkhianati teman untuk mendapatkannya. Sementara kau, dengan begitu saja kau berikan uang yang kau peroleh kepadaku yang jumlahnya begitu banyak. Apa kau tidak butuh uang? Apa kau ini orang kaya?”, tanya Pak Darwi.
Mpok Tiwi terkejut mendengar perkataan Pak Darwi yang terakhir. Tetapi dia cepat menyadari kewajaran pertanyaan tersebut. Maka sahutnya: “Bukan begitu soalnya Pak. Siapa orangnya yang tidak butuh uang, dan kalau aku orang kaya, bagaimana mungkin tinggal di gubuk begini? Aku hanya tidak mau memakan barang yang tidak jelas halal-haramnya. Karena aku hampir yakin, uang itu hasil usaha yang tidak benar, dan diberikan kepadaku untuk tujuan merusak bangsaku sendiri. Aku tidak ingin memakainya meskipun hanya sebagian”.
“Tetapi dengan memberikan kepadaku, bukankah berarti kau mendorongku untuk memakan barang yang tidak mau kau makan karena haram?”, tanya Pak Darwi.
“Istilah haram itu hanya anggapanku sendiri, yang bagi orang lain mungkin tidak”, sahut Mpok Tiwi.
“Tetapi pendapatku juga sama. Kalau tidak, mungkin kini hidupku akan lain, tidak harus tinggal di tempat begini”.
“Kalau Bapak punya anggapan yang sama denganku, Bapak tidak perlu memakainya untuk kepentingan Bapak. Maksudku, setiap uang yang kuperoleh dari mereka, kita gunakan untuk menumpas mereka sendiri. Bukankah cara itu sangat bagus?”, kata Mpok Tiwi.
“He, benar juga. Gagasan yang bagus. Bapak akan menggunakan sebaik-baiknya sebagai senjata makan tuan”. Sahut Pak Darwi sambil memasukkan uang itu ke dalam sakunya.
Mpok Tiwi memperhatikan langkah-langkah Pak Darwi dengan tatapan yang dalam. Sementara di hatinya terbersit rasa kagum atas sikap hidup orangtua itu. Sungguh tak disangkanya di tempat kumuh begitu akan menemukan orang yang tidak tergiur pada barang yang paling berharga dalam hidup di dunia ini. Tetapi dengan demikian Mpok Tiwi jadi sangat gembira, karena dia menemukan sahabat sejati dalam diri orangtua itu. Dia percaya penuh bahwa orangtua itu akan melaksanakan tugasnya dengan sungguh-sungguh.
Hari pun berjalan terus. Siang berganti malam, dan malam berganti pagi. Mpok Tiwi mengunci pintu pondoknya untuk pergi ke tempat pembuangan sampah dengan menjinjing tas besar.Dia melihat pintu gubuk Pak Darwi telah terkunci, ruapanya dia telah pergi sejak hari masih gelap.
Mpok Tiwi tiba di tempat pembuangan sampah sebelumpukul 8 pagi. Belum tampak seorang pun pencari barang buangan, dan mobil sampah pun belum ada yang datang. Walaupun begitu dia melangkah di antara tumpukan sampah sambil mengorek-ngorek dengan tongkat kayu seperti orang yang mencari barang buangan. Namun kemudian langkahnya menuju ke rumpun semak yang dimaksudnya. Dia berjongkok di sisi rumpun semak itu seperti melepaskan lelah. Setelah yakin tidak ada orang yang memperhatikan, matanya mengawasi ke dalam rumpun semak tersebut.
Tidak tampak benda yang dicarinya. Tetapi dia melihat serpihan tanah yang baru disapukan. Segera tangannya menyibakkan tanah itu. Sejenak kemudian dia menemukan selembar papan. Ketika ditarik, tampaklah kantong plastik besar berisi bungkusan dari kantung kain.Tanpa diperiksa lagi, bungkusan itu langsung dimasukkan ke dalam kantong plastik yang dibawanya. Setelah itu dia memasang kembali papan penutup lubang itu di tempatnya, dan ditimbuni lagi dengan tanah.
Selesai itu Mpok Tiwi kembali ke tempat pembuangan sampah, memungut sehelai kertas kecil dan sebuah kaleng bekas susu, dimasukkan ke dalam tasnya. Kemudian dia melangkah menyusuri jalan pulang untuk kembali ke gubuknya. Mpok Tiwi tidak menyadari samasekali kalau langkah-langkahnya diikuti oleh orang berjambang bauk lebat yang pernah mengikutinya ketika dia meninggalkan rumah yatim-piatu ke perkampungan kumuh.
Ketika Mpok Tiwi memasuki lorong ke perkampungan kumuh, orang berjambang bauk yang mengikutinya memasuki tempat mangkal Marjan dan kawan-kawannya. Dia duduk di depan roda Bu Minah.
“Gado-gadonya Mpok Tiwi, jangan terlalu pedas”, katanya kepada Bu Minah.
“Baik Tuan. Tetapi jangan panggil saya Mpok Tiwi. Namaku Minah, Tuan”, sahut Bu Minah.
“He, bukankah ini warung Mpok sebagaimana tertulis pada kain itu?”, tanya orang berjambang bauk dengan heran.
“Benar Tuan, ini jualanku sendiri. Tetapi Mpok Tiwi adalah pemberi modalnya, juga untuk tiga kawanku itu”, sahut Bu Minah sementara tangannya bekerja melayani pesanan.
“O, jadi Mpok Tiwi itu cukong ya?”.
“Tidak juga Tuan. Dia adalah tetanggaku, tetapi orangnya sangat baik. Dia mencarikan modal buat kami jualan. Dia adalah penolong kami. Dan kemarin dia juga telah menolong kami dari para pemeras. Kami benar-benar berutang budi padanya. Pendeknya, Mpok Tiwi kami adalah gini”, sahut Bu Minah sambil mengacungkan jempol tangannya.
“Tapi bagaimana cara Mpok Tiwi melawan para pemeras itu?”.
“Kami juga baru tahu. Ternyata dia pandai silat Tuan. Kata tetangga yang melihat, sekali tendang saja, pemeras yang memegang pisau itu jatuh ngusruk”.
“Wah kalau begitu dia benar-benar hebat”, kata orang berjambang bauk dengan suara kagum.
“Memang dia orang hebat dan orang baik Tuan. Makanya aku dan kawan-kawan memakai namanya untuk warung ini”, sahut Bu Minah.
Sementara itu orang yang mereka bicarakan sedang membuka bungkusan yang diambilnya dari tempat pembuangan sampah. Sebagaimana yang diduganya, bungkusan itu berisi bubuk putih dalam bungkus-bungkus plastik kecil yang jumlahnya jauh lebih banyak dari yang pernah dititipkan kepadanya. Hati Mpok Tiwi tergoda untuk segera menyerahkan barang itu kepada polisi. Tetapi dia teringat kembali kepada rencana Pak Darwi yang bermaksud menggulung komplotan pengedar narkotika itu secara keseluruhan, atau setidak-tidaknya yang menjadi kakap-kakapnya.
Beberapa lamanya Mpok Tiwi menatap bungkusan bubuk putih itu, sementara pikirannya menimbang-nimbanglangkah yang dianggapnya lebih baik. Tetapi akhirnya dia membungkus kembali barang tersebut dan di simpan di dalam lemari kecil yang terbuat dari papan-papan bekas. Setelah itu Mpok Tiwi keluar dari gubuknya.Dia menengok ke arah gubuk Pak Darwi yang ternyata masih terkunci. Karena itu dia masuk kembali ke gubuknya dan menyalakan kompor untuk menanak air.
Pak Darwi muncul setelah lewat tengah hari. Dia langsung menghampiri gubuk Mpok Tiwi dan menjatuhkan dirinya di sisi pintu.
“Baru datang Pak. Bagaimana hasilnya?”, tanya Mpok Tiwi dari dalam gubuknya.
“Tidak terkejar. Mereka datang subuh naik mobil”, sahut Pak Darwi.
Mpok Tiwi muncul dari dalam gubuknya sambil membawa dua buah cangkir kaleng dan termos serta sepiring singkong rebus.
“Itulah susahnya. Dengan demikian kita tidak akan dapat melacak mereka, karena kita tidak punaya kendaraan”, kata Mpok Tiwi sambil menaruh alat-alat yang dibawanya di depan Pak Darwi.
Pak Darwi mengeluarkan tembakau dan kertas rokok dari dalam sakunya, lalu membuat rokok gulung.
“Kalau kau punya gula-kopi, Bapak ingin minum kopi Nak”, kata Pak Darwi.
“Ada Pak. Tunggu sebentar”, sahut Mpok Tiwi, dan dia menjangkaukan tangannya ke dalam gubuk.
Sementara Mpok Tiwi membuatkan kopi, Pak Darwi berkata pula: “Tetapi Bapak tidak gagal samasekali. Bapak berhasil mencatat nomor mobilnya, dan Bapak bermaksud mencari alamat pemiliknya ke kantor polisi”, ujar Pak Darwi sambil mengepulkan asap rokoknya.
“Ah kalau begitu masih ada harapan untuk mengetahui alamat pemiliknya. Nomor berapa mobilnya Pak?”, tanya Mpok Tiwi.
Pak Darwi mengeluarkan sebuah bloknot kecil yang masih baru, dan menyerahkan kepada Mpok Tiwi.
“Begitu ada toko buku buka, Bapak langsung membeli buku kecil itu dan mencatat nomor mobilnya”, sahut Pak Darwi.
Setelah melihat satu-satunya catatan pada halaman pertama bloknot itu, Mpok Tiwi menyerahkan kembali kepada Pak Darwi.
“Kita berharap saja bukan mobil pinjaman”, kata Mpok Tiwi.
-----ooooooooo-----
“Sekalipun mobil pinjaman, kita bisa menelusurinya”, sahut Inspektur Hendro sambil tangan kirinya memegang gagang telpon yang dipasang di telinga kirinya, sementara jari-jari tangan kanannya memegang bolpen di atas bloknot di meja kerjanya. Dihadapannya, pada kursi tamu tampak Widar duduk dengan sikap santai dalam pakaian penyanyi rock.
“Ya? Tunggu sebentar”, kata Inspektur Hendro pada teleponnya. Tangannya menuliskan sebuah nama berikut alamatnya. “Terimakasih”, katanya setelah selesai, dan menaruh kembali telepon itu ke haknya.
“Ternyata bukan mobil pinjaman. Pemiliknya adalah orang yang kita curigai, tetapi selama ini tidak ada bukti-bukti kongkrit yang menguatkannya, seorang pengusaha ekspor-impor”, kata Inspektur Hendro memberitahukan kepada gadis dihadapannya.
“Kalau begitu sudah saatnya Inspektur mengawasi dia sungguh-sungguh”, sahut Widar.
“Serahkan soal itu kepadaku. Yang perlu kuketahui sekarang adalah ciri-ciri orang yang menjadi pembantu kita itu, agar kita bisa membagi tugas pengawasan, sehingga rencana penjaringan itu akan bisa kita selesaikan lebih cepat. Kalau mungkin dalam pengiriman yang kedua nanti kita sudah berhasil menciduk semuanya”.
“Baiklah. Dia seorang tua berjambang bauk lebat yang sudah putih semuanya...”, kata Widar menjelaskan sampai rinci.
“Sekarang kau mau ke mana?”, tanya Inspektur Hendro setelah Widar selesai menjelaskan ciri-ciri Pak Darwi.
“Biasa, Night Club”, sahut Widar sambil bangkit berdiri, “selamat malam”, sambungnya sambil berlalu.
Widar masuk ke dalam Volk Wagonnya, dan sejenak kemudian mobil itu keluar dari halaman kantor polisi, berbaur dengan kendaraan laindalam keramaian kota. Dia tidak menyadari samasekali bahwa sebuah motor mengikutinya dari belakang. Ketika Widar turun dari Volk Wagennya di depan sebuah Night Club, penunggang motor itu pun masuk ke halaman Night Club itu dan memparkir motornya berseberangan dengan mobil si gadis.
Seperti kebiasaannya. Widar langsung naik panggung, karena dia selalu datang tepat pada waktunya. Sejenak kemudian, dengungan musik yang mulanya mengalun tenang, tiba-tiba melonjak dalam nada keras. Para pedansa pun berjingkjrak-jingkrak mengikuti nyanyian disko yang kadang-kadang serak dalam irama bergejolak.
Pengendara motor berjambang bauk yang mengikutinya tadi pun sudah berdiri di depan bar. Setelah menerima cocca colla yang dipesannya, dia melangkah mencari kursi yang kosong. Matanya disapukan ke tempat orang berdansa yang disinari kilasan-kilasan lampu disko. Saat itu dua orang lain duduk di dekatnya, seorang berjambang bauk seperti dirinya, masing-masing membawa sebotol bir dan gelas. Begitu duduk, mereka langsung mengisi gelas dengan bir dari botolnya dan menaruh botol bir masing-masing di atas meja dihadapannya.
“Kau masih senang jingkrak-jingkrakan juga”, kata si orang berjambang bauk membuka percakapan.
“Hanya untuk memanaskan badan Boss”, sahut temannya yang berwajah keras.
“Bukan sekedar memanaskan badan, karena kau telah terpukau oleh lonjakan-lonjakan gadis di depanmu, sehingga lupa pada keadaan di sekelilingmu”.
“Apa maksud Boss?, tanyanya sambil mengawasi keadaan sekelilingnya, memperhatikan wajah-wajah yang tampak membeku karena kesuraman tempat itu.
“Bukan di bawah sini, tetapi di atas panggung sana”, kata si Boss memberi petunjuk. “Kau ingat penyanyi itu tidak?”, sambungnya.
Sejenak si orang berwajah keras memperhatikan Widar yang tengah bernyanyi sambil berjingkrak-jingkrak.
“He, bukankah dia yang datang ke tempat kita tempo hari Boss?”, katanya dengan nada seperti tak percaya.
“Kalau sudah tahu, kenapa kau tidak cepat memanggil kawan?”.
“Baik Boss”, sahut si orang berwajah keras sambil menaruh gelas birnya di atas meja dan bangkit berdiri.
“Kukira lima orang sudah cukup”, kata si Boss lagi.
“Baik Boss”. Orang itu pun pergi ke tempat telepon di meja bar.
Orang yang dipanggil Boss itu berpaling ke arah orang berjambang bauk yang duduk tidak jauh dari tempatnya. Tetapi orang yang diperhatikannya tengah terlena oleh jingkrakan para pedansa. Rupanya dengungan musik yang menlonjak-lonjak dan menghentak-hentak itu telah menulikan pendengarannya. Tak lama kemudian orang berwajah keras itu pun telah kembali di samping Bossnya.
“Mereka langsung ke sini dengan jeep”, kata si orang berwajah keras melaporkan. Lalu sambungnya: “Kalau boleh, aku juga ingin turut menanganinya”.
“Tidak usah. Kau mengawalku menyerahkan duit kepada Tuan Lim”, kata si Boss.
Mereka tidak bicara lagi, melainkan menikmati minumannya sambil memperhatikan orang-orang yang tengah melantai. Widar menyanyi secara maraton sampai lima lagu. Tetapi lagu yang kelima tidak terlalu panas sebagai pertanda bahwa dia akan menyelesaikan penampilannya.
Seperti biasa, setelah selesai menyanyi, Widar mengambil minuman di bar, lalu mencari tempat duduk yang kosong. Wajah gadis itu berubah ketika pandangannya terpaut pada sepasang anak muda yang duduk di pojok ruangan tempat biasa dia duduk beristirahat sehabis nyanyi, karena dia mengenal pasangan prianya, Suherman.
Tetapi perubahan wajahnya hanya sekejap. Dengan sikap acuh tak acuh sambil memperhatikan orang yang tengah melantai, Widar duduk di meja kosong yang kebetulan berdekatan dengan pasangan muda-mudi itu. Sekilas Suherman memandang pada gadis yang baru duduk itu, tetapi perhatiannya kembali kepada gadis yang berada dalam pelukannya.
“Benarkah kau berjanji akan bertanggung jawab bila sesuatu terjadi denganku Herman?”, tanya si gadis dengan suara lirih.
“Tentu Mira sayang. Bukan hanya berjanji, tetapi aku berani bersumpah”, sahut Suherman.
“Ngng...”, si gadis menggumam.
“Marilah kita melantai dulu”, ajak Suherman sambil menarik tubuh gadis itu berdiri. Kemudian sambil melingkarkan tangannya pada pinggang si gadis, Suherman memapah gadis itu ke tempat orang-orang berdansa.
Widar mengikuti langkah-langkah pasangan itu dengan matanya. Dia menghela nafas, karena merasa yakin, malam itu seorang gadis akan menangisi dirinya karena terbuai oleh rayuan wajah tampan Suherman. Dengan hati iba, Widar memandang gadis cantik dalam pelukan pemuda tampan itu, sementara kaki mereka bergeser-geser mengikuti alunan musik irama lembut.
Saat itu seorang lelaki muncul menghampiri orang yang dipanggil Boss tadi.
“Yang mana Boss?”, tanyanya begitu dia sampai.
“Lihat gadis bertahi lalat besar pada hidungnya yang duduk di pojok ruangan itu. Dialah yang harus kalian selesaikan malam ini. Dia seorang intel, karena itu kalian harus menyelesaikannya di tempat sepi”, kata si Boss.
“He Boss bilang intel? Setahuku dia adalah penyanyi rock di Night Club ini”, kata orang yang baru datang setelah memperhatikan gadis yang ditunjukkan si Boss.
“Memang dia penyanyi, tetapi juga intel. Dialah yang mengobrak-abrik sarangku tempo hari”, ujar si Boss.
Dalam pada itu orang berjambang bauk pengendara motor meninggalkan tempat duduknya dan pergi keluar tidak kembali lagi. Widar masih tetap di tempatnya memperhatikan Suherman dan gadis pasangannya yang tengah dibuai gelora cinta dalam alunan irama musik syahdu.
Tiba-tiba Widar bangkit ketika Suherman memapah gadisnya keluar dari gelanggang menuju keluar gedung. Gadis iu tidak menyadari bahwa ketika melangkah mengikuti Suherman, di belakangnya ada orang yang mengikutinya pula. Tak berapa lama kemudian tiga buah mobil berturut-turut keluar dari halaman gedung Night Club itu, diikuti oleh motor di paling belakang.
Suherman mengendarai mobilnya tidak terlalu cepat, dan sebelah tangannya memeluk gadisnya yang menyandarkan kepalanya di dada si pemuda. Ternyata pemuda itu membawa gadisnya ke sebuah hotel internasional. Widar tidak mengikuti terus. Dia melewati hotel itu untuk pulang ke rumahnya.
Di sebuah jalan sunyi tiba-tiba Widar terkejut ketika sebuah mobil jeep mendesak mobilnya ke pinggir. Dia terpaksa menekan rem ketika jeep itu menghalangi jalan di depannya. Dia menyadari maksud orang-orang dalam jeep tersebut, maka dia pun segera meloncat keluar begitu mobilnya berhenti. Lalu berlari ke belakang menjauhi mobilnya, dan memasang kuda-kuda dalam kesiagaan penuh.
Lima orang laki-laki berloncatan keluar dari jeep itu dan mengepung Widar. Gadis itu bergeser-geser mundur ketika lawan-lawannya maju selangkah-selangkah. Kelima lawannya terus menggiring Widar ke tanah kosong berupa lapangan rumput yang dipenuhi semak dan ilalang. Widar pun menyadari bahwa mereka bermaksud melakukan pertarungan tanpa ingin dicampuri pihak luar. Meski begitu Widar tidak gentar, malah dia memang sengaja terus mundur semakin ke tengah lapangan, karena di tempat yang luas dia mempunyai keleluasaan bergerak, di samping dalam keadaan terpepet, ada harapan untuk meloloskan diri.
Ketika sudah cukup jauh masuk ke lapangan, tiba-tiba saja Widar meloncat menerjang salah seorang di antara lawan-lawannya dengan kaki terjulur lurus. Serangan tiba-tiba itu tidak dapat dihindari lawannya, karena gerakan Widar sangat cepat. Tendangan kakinya menghantam dada lawan dengan telak, sehingga tubuh lawannya terdorong surut beberapa langkah dengan mulut mengaduh.
Tetapi serangan Widar itu merupakan aba-aba bagi keempat lawan lainnya untuk segera menyerang pula. Maka sejenak kemudian pertarungan sengit pun berlangsung. Di tempat luas itu Widar merasa leluasa mengembangkan tata geraknya. Berkali-kali dia memutar tubuh dan tiba-tiba menerjang ke arah yang tidak diduga lawa-lawannya, sehingga orang yang diserangnya hampir selalu tidak sempat mengelak.
Ternyata kemampuan berkelahi Widar sangat tinggi. Sekalipun lawannya berjumlah lima orang, namun dengan perhitungan matang dan otak dingin, gadis urakan itu mampu mempertahankan dirinya dengan sebaik-baiknya. Setiap serangannya, baik pukulan beruntun tangannya maupun tendangan beruntun kakinya sangat membahayakan lawan-lawannya. Secara bergantian lawan-lawannya terbanting jatuh bangun. Melihat kenyataan gadis itu benar-benar mampu mengatasi keroyokan, orang yang menjadi pemimpin penyerangan itu tiba-tiba berteriak memberi aba-aba kepada kawan-kawannya.
“Jangan sungkan-sungkan lagi, gunakan senjata kalian! Kita bunuh sundal ini”, teriaknya.
Begitu mendengar aba-aba tersebut, kelima orang itu berloncatan mundur. Mereka mencabut pisau belati dari pinggangnya masing-masing. Widar pun mundur dengan bersiaga penuh. Matanya menyapun lima lawannya, sementara hatinya berdebar-debar. Walau bagaimana pun hatinya merasa cemas juga menghadapi lima lawan yang semuanya memegang senjata, sementara dirinya bertangan kosong. Dalam suasana yang sangat menegangkan itu, tiba-tiba terdengar satu suara dari balik gerumbul semak pendek tidak jauh dari arena pertarungan.
“Tidak pantas, tidak betul, lima lelaki mengeroyok seorang perempuan, pakai senjata lagi. Itu tidak adil samasekali”, ujar suara itu, dan bersamaan dengan selesainya kata-katanya, sesosok tubuh muncul melangkah menghampiri arena. Di tangannya memegang dua batang pipa besi potongan stang motor yang sedikit lebih panjang dari pisau belati.
Serentak semua orang dalam arena berpaling ke arah orang yang baru muncul itu.
“Bangsat! Pergi dari sini. Jangan turut campur kalau tidak ingin pulang nama”, terak si pemimpin kelima pengepung itu.
“Kalau mati bersisian dengan lawan kalian, aku tidak keberatan. Bahkan aku akan gembira sekali”, sahut sosok tubuh itu yang ketika semakin mendekati arena, tampaklah wajahnya berjambang bauk kotor.
Wajah Widar terasa panas mendengar kata-kata oranga yang baru datang itu, meski dia tahu kata-kata itu dikeluarkan sebagai isyarat bahwa orang itu berpihak pada dirinya.
“Setan! Kau benar-benar ingin mampus ha?!”, bentak si pemimpin pengepung lagi dengan murka.
“Belum lagi sobat. Aku masih ingin merasakan nikmatnya berpacaran. Bukan begitu Nona?”, sahutnya dan kata-kata terakhir ditujukan kepada Widar, sehinga sekali lagi gadis itu merasakan wajahnya panas. Sementara pendatang baru itu meneruskan kata-katanya: “Karena kalian mengganggu pacarku, aku akan menghajar kalian sampai babak belur”.
“Babi! Mampus kau!”, teriak si pemimpin sambil menerjang pendatang baru itu dengan pisau terjulur.
Orang yang diserangnya meloncat menghindar justru menghampiri Widar yang berada di tengah kepungan. Suatu loncatan anjang yang begitu cepat, sehingga untuk sesaat penyerangnya kehilangan sasaran. Ketika berpaling, lawannya tampak tengah menyesapkan salah satu pipa besi yang dibawanya ke genggaman tangan Widar.
“Sayang! Untuk membuat babak belur pengganggu ketenangan pacaran kita, kau memerlukan pemukul ini”, katanya pula kepada si gadis.
Mendengara kata-kata itu Widar merasa tersinggung, dan dia hendak menolak pipa besi yang diberikan kepadanya.Tetapi gerakan orang itu begitu cepat. Baru saja keinginan menolaknya terbersit di hati Widar, potongan pipa besi itu sudah tergenggam di tangannya, dan orang yang memberikannya sudah berdiri berpunggungan dengan dirinya, sementara telinganya masih mendengar orang itu berbisik.
“Apa kau lebih senang menolak cintaku daripada keselamatan nyawamu Sayang?”, bisiknya hampir tak terdengar.
Ketika orang itu bicara keras, Widar menyimpulkannya sebagai lelucon untuk membuat panas hati lawan-lawannya. Tetapi pernyataan terakhir yang diucapkan dengan berbisik dan hanya didengar oleh dirinya sendiri, jelas bukan lelucon lagi. Karena itu Widar menjadi serba salah. Kalau dia membuang pipa besi tersebut, sesungguhnyalah dirinya terancam bahaya. Sedangkan kalau dia tetap memegangnya berarti dia menerima cinta orang itu.
Tetapi dia tidak dapat mempertimbangkan hal itu lebih lama, karena saat itu kelima lawannya telah mulai bergerak menyerang. Karena itu sambil memapaki serangan lawan, mulutnya memaki orang itu.
“Kunyuk! Aku masih ingin hidup, tahu?”.
Dan detik berikutnya terdengar dentingan beradunya pisau dengan pipa besi si gadis, diikuti dengan suara mengaduh lawannya karena sambil menangkis juluran pisau lawan, Widar mengayunkan kakinya menghantam rusuk penyerangnya.
“Ha, kalau begitu kau memilih menerima cintaku bukan?”, sahut orang itu sementara kaki dan tangannya bekrja menendang sekaligus menangkis serangan lawan, diikuti dengan suara mengaduh dan ambruknya tubuh lawan.
Hati Widar menjadi marah, dan kemarahan itu dilampiaskan kepada lawan-lawannya sementara mulutnya menyahuti.
“Sialan. Kau memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan kunyuk”, teriaknya sambil memukul pisau di tangan lawan lain yang menyerangnya, sehingga pisau itu terlempar. Lalu sambil memutar tubuhnya, Widar menjulkurkan kakinya menghantam perut lawan. Lawannya terdorong keras dan terbanting di tanah.
“Tanpa memanfaatkan kesempatan seperti ini, kau pasti akan menolak cintaku”, ujar orang itu sementara tubuhnya meloncat ke arah lawan lainnya dan pipa besinya memukul pisau lawan, sehingga mulut lawannya berdesis oleh rasa pedih tak tertahankan pada telapak tangannya, dan pisau yang dipegangnya terlempar jauh. Desisan mulutnya berlanjut dengan pekikan kesakitan ketika pipa besi orang itu menghantam lehernya. Kemudian satu tendangan menghantam lambungnya, sehingga tubuh orang itu terjajar ke belakang lalu terbanting di tanah.
“Kau kunyuk. Kau telah menekanku tanpa pilihan. Aku jadi ingin memukul mulutmu yang ceriwis”, pekik Widar sambil meloncat ke arah lawan lainnya. Kembali pipa besinya memukul juluran pisau lawan dengan keras sampai pisaunya terlempar jauh. Kemudian sambil memutar tubuh, kaki Widar menjulur menghantam mulut lawannya begitu telak, sehingga orang itu terlempar ke belakang dan terbanting keras pada tanah yang renjul.
“Kau berani memukulku, kutampar pipimu dua kali”, sahut orang itu. Apa yang dikatakannya benar-benar dilakukannya. Orang itu memindahkan pipa besinya ke tangan kiri, dan dua tamparan keras menghantam kedua belah pipi lawan yang dihadapinya. Lawannya mengaduh-aduh oleh perasaan amat pedih pada kedua belah pipinya. Kemudian sebuah suara menyenak terdengar dari kerongkongannya ketika orang itu menghantam gondok laki lawannya dengan telak, sehingga tanpa bersuara lagi lawannya jatuh ngusruk di tanah.
“Jangan dikira aku mandah menerima tamparanmu. Aku tidak sudi punya pacar yang suka menyiksa”, kata Widar sambil menerjang yang tengah berusaha bangkit lagi. Kaki gadis itu terayun keras menghantam wajah lawan, sehingga lawannya terbanting kembali ambruk di tanah sebelum sempat berdiri tegak.
“Kalau tak sudi punya pacar aku, buang saja pipa besi itu. Aku juga jadi muak punya pacar yang suka melawan”, sahut orang itu sambil menghajar mulut lawannya yang terakhir dengan tinjunya, disusul oleh tendangan ke perut lawan. Tanpa melihat lagi hasil serangannya, dia berlalu dari arena pertarungan menuju ke jalan raya.
Widar berdiri mematung memperhatikan langkah-langkah orang yang telah menolongnya dengan hati tak menentu. Sejenak matanya menyapu taubuh kelima lawannya yang terkapar bergelimpangan di sekelilingnya. Kemudian dia memperhatikan pipa besi di tangannya.
Sebenarnya pertarungan barusan adalah pertarungan maut. Tetapi dengan caranya yang unik, orang tak dikenal itu membuatnya seperti permainan saja, namun telah mendorongkan semangat juang yang gigih tanpa disadarinya. Pada permulaan pertarungan menghadapi lima lawan bersenjata, Widar menilai penolongnya adalah orang ceriwis. Tetapi selanjutnya, melalui perdebatan mulut itu, dia merasakan suatu kemanisan dari persahabatan yang akrab. Suatu kemanisan yang belum pernah dia rasakan semenjak perpisahan dengan kekasihnya delapan tahun yang lalu.
Sekali lagi dia menatap potongan pipa besi itu. Tiba-tiba saja gadis itu mengangkat pipa besi tersebut ke mulutnya dan menciumnya dengan mesra.
“Aku tidak akan membuangmu Sayang”, bisiknya.
-----ooooo000ooooo-----
Tidak ada komentar:
Posting Komentar