Enam
Kau Cantik
“Siapa yang tidak akan terkejut Wiwi. Tak setitik pun pernah terpikirkan dalam benakku bahwa kau tinggal dalam istana sebesar ini. Sementara itu kau masih mau meninggali gubuk di perkampungan kumuh. Sungguh, siapa pun tidak akan percaya kalau tidak menyaksikan kenyataannya”, kata Susi sambil menggeleng-gelengkan kepala sementara matanya tak lepas-lepasnya menyapu bangunan gedung mewah bertingkat itu. Lebih-lebih Maya. Demikian terpukaunya gadis remaja itu sehingga tanpa disadarinya mulutnya melongo dengan mata membelalak. Sementara mobil yang dikemudikan Pertiwi meluncur di halaman gedung itu menuju ke pintu induk.
“Tetapi jika orang tahu bahwa aku sekedar anak pungut, rasa terkejut itu akan sirna kembali”, sahut Pertiwi, “dan sampai sekarang aku merasa tidak punya hak untuk berbangga diri. Karena memang bukan punyaku, meski kedua orangtuaku telah memberi hak penuh sebagai satu-satunya pewaris mereka”, sambungnya sementara mobil telah berhenti di depan pintu induk.
“Apakah kedua orangtuamu tidak punya saudara?”, tanya Susi pula ketika mereka turun dari mobil.
“Ayahku punya beberapa orang saudara. Tetapi beliau sendiri telah diusir oleh keluarganya, persis seperti aku diusir oleh ayah kandungku, karena beliau mengawini gadis yatim-piatu anak rakyat kecil korban orang bangsawan. Aku tidak tahu dari mana Ayah berasal. Beliau samasekali menutup riwayat keluarganya. Aku hanya menduga, dalam peristiwa itu Ayahkyu menerima penghinaan yang demikian pahit dan menyakitkan hatinya. Mungkin juga menyangkut diri Ibu”.
Sementara Pertiwi bicara, mereka telah masuk ke ruang tamu yang begitu luas dan berperabotan sangat lengkap, sehingga seperti Pertiwi pertama kali memasuki ruangan itu dulu, kedua gadis kaka-beradik itu pun mematung pada langkahnya yang pertama di depan pintu. Pertiwi menggamit Susi dan Maya.
“Kita ngobrol di kamarku saja sambil menunggu magrib. Para tamu baru akan datang lepas isya”, kata Pertiwi sambil melangkah menuju tangga. Susi dan Maya pun mengikutinya.
Tiba di atas, sementara Pertiwi membuka pintu kamarnya, Susi dan Maya berdiri di balkon memperhatikan taman di halaman muka gedung itu dan lalu lintas kendaraan di jalan raya. Yang cepat menangkap situasi adalah Maya. Dia mengerutkan keningnya seperti mengingat-ingat. Lalu dia bertanya kepada kakaknya.
“Kak. Aku sudah mengenal jalan di depan gedung ini. Kak Wiwi tadi membawa kita bekeliling. Tetapi sebenarnya gedung ini letaknya berpunggungan dengan rumah yatim-piatu. Bukankah dari jalan di depan rumah yatim-piatu itu kita dapat melihat gedung besar ini?”.
“Yang benar Maya”, kata Susi dengan nada tak yakin.
“Adikmu punya pengamatan tajam Sus. Apa yang dia katakan memang benar”, kata Pertiwi dari belakang mereka, dan tangan gadis itu menepuk bahu Maya, lalu katanya: “Kau cerdas dan cermat Maya”.
Kedua kakak-beradik itu berpaling. Mereka melihat Pertiwi tersenyum. “Aku memang membawa kalian sedikit berputar-putar, tetapi adikmu tidak dapat kukelabui. Padahal kalian belum sebulan tinggal di sini, dan baru beberapa kali bepergian bersama Ibuku”.
“Hanya kebetulan Kak Wiwi. Soalnya Ibu Kak Wiwi pernah lewat di depan gedung ini beberapa kali dan langsung ke rumah yatim-piatu di jalan sebelah belakang. Waktu itu juga Maya tertarik pada gedung besar ini. Karena itu segera dapat mengingatnya kembali”, ujar Maya.
“Sudahlah. Marilah kita masuk ke kamarku. Kalian harus ganti pakaian, karena akan menjadi pendampingku”, kata Pertiwi sambil menarik tangan Maya.
Pertiwi langsung membuka lemari pakaiannya dan mengambil dua buah pakaian yang memang telah dibuatkan khusus untuk Susi dan Maya.
“Kalau kalian ingin minum, ambil sendiri di kulkas sana”, ujar Pertiwi sambil menunjuk ke kulkas di pojok kamar.
“Kau benar-benar aneh Wiwi. Katanya kau tidak setuju dengan pertunangan ini. Tetapi sekarang kau menyediakan pendamping khusus segala”, kata Susi sementara matanya memperhatikan baju yang diberikan Pertiwi yang begitu bagus.
“Aku melakukannya hanya untuk menjaga kehormatan orangtua, meskipun sebenarnya mereka sendiri tidak pernah mengacuhkannya”, sahut Petiwi. Tetapi kemudian dia mengalihkan percakapan ditujukan kepada Maya: “Bagaimana di sekolahmu yang baru Maya?”.
“Mereka menyangka Maya anak yatim-piatu, karena alamatku di rumah yatim-piatu”, sahut Maya.
“Kau tersinggung?”, tanya Pertiwi.
“Tidak. Karena memang Maya anak yatim meski tidak piatu. Selain itu Maya memang betah dengan suasana rumah yatim-piatu itu, karena anak-anaknya tekun dan penuh disiplin tanpa kehilangan kegembiraan mereka. Dan itu telah mendorongku untuk memperlihatkan kepada kawan-kawan sekolah bahwa, anak yatim-piatu bukan sekedar beban hidup orang lain”, sahut Maya.
“Aku senang mendengarnya. Sebab dengan sikapmu itu, kau tidak akan mudah tergoda oleh wajah tampan dan kesenangan duniawi yang mulai melanda pola hidup kota metropolitan ini. Karena kalau sampai terjadi itu, sekolahmu bisa putus”, kata Pertiwi.
“Tidak Kak Wiwi. Maya akan selalu ingat pada pengorbanan Kak Susi. Dan Maya minta maaf kepadamu, karena sesungguhnya Maya mengagumimu Kak Wiwi”.
“Hmm...apa yang kau kagumi dariku? Aku tidak punya kelebihan apa-apa. Aku sama dengan kalian. Kelebihanku justru, aku bukan hanya anak yatim, tetapi anak yatim-piatu. Hanya kebetulan saja Tuhan mempertemukan aku dengan orangtuaku yang sekarang. Kalau tidak, mungkin nasibku akan lebih parah dari kalian”.
“Maya bukan anak kecil lagi Kak Wiwi. Maya tahu, apa yang dikatakan orang pribadi anggun, Kak Wiwilah yang paling tepat menyandangnya. Sekalipun Kak Wiwi menyangkal, tetapi kenyataannya Kak Wiwi adalah orang yang sangat kaya, seorang sarjana, seorang gadis yang sangat cantik. Namun tanpa rasa segan dan jijik, Kak Wiwi mau tinggal di gubuk kumuh. Itu saja sudah tidak mungkin dilakukan orang lain, apapun alasannya. Belum lagi yang lain-lainnya”.
“Sudahlah. Kau membuatku malu pada diriku sendiri. Kalau aku menasihatimu tadi, bukan karena aku punya kelebihan, tetapi sebentar lagi kalian akan bertemu dengan anak-anak muda terpandang dan modern. Dan kau punya bakat menjadi incaran meeka”, kata Pertiwi, “tetapi aku tidak mau jadi penyebab rusaknya masa depanmu”.
“Terimakasih Kak Wiwi. Maya akan hati-hati. Karena Maya juga tidak akan pernah melupakan apa yang dialami Kak Susi. Setidak-tidaknya Maya ingin memperoleh satu di antara yang dicapai Kak Wiwi, sarjana”, sahut Maya.
“Syukurlah. Dengan demikian hatiku bisa tenteram. Sedangkan kepadamu Sus, kurasa tidak perlu memberi penjelasan lagi”, kata Pertiwi.
“Aku tahu. Sekarang aku tidak perlu tergesa-gesa lagi karena paksaan keadaan. Aku ingin menambah pelajaran dulu. Soal jodoh biarlah Tuhan yang menentukan”, sahut Susi.
“Satu lagi yang ingin kupesankan”, kata Pertiwi, “segala apa yang kau ketahui tentang diriku, jangan diberitahukan lagi kepada yang lain. Biarlah kawan-kawan lama kita dan juga ibu kalian mengenalku sebagai pegawai rumah yatim-piatu”.
“Sebenarnya aku sudah berniat mengirim surat kepada Ibuku, khusus untuk menyanjungmu. Karena kau telah membantu keluargaku begitu banyak”, kata Susi.
“Jangaaan!”, kata Pertiwi cepat-cepat, “kalau mau mengirim surat, kabarkan saja tentang kau dan Maya. Itu yang lebih penting bagi ibumu”.
Susi dan Maya mengangguk tanpa menyahut. Tetapi di hati keduanya terbersit suatu kekaguman pada gadis dihadapannya. Sementara itu waktu pun terus merayap, sampai akhirnya saat pertunangan akan dimulai.
Pertiwi bersama Susi dan Maya turun dari kamarnya. Ketika tiba di bawah, mereka melihat para guru dan karyawan pengurus rumah yatim-piatu sudah duduk berjajar di kursi tamu dengan sikap begitu segan, sehingga tampak kaku. Sesungguhnyalah mereka tidak menyangka samasekali akan menjumpai keadaan yang jauh di luar dugaannya.
Karena itu ketika Pertiwi muncul, mereka serempak berdiri seperti mendapat aba-aba, dan semuanya membungkukkan badan. Pertiwi langsung menghampiri mereka, menyalaminya satu-satu dengan sikap biasa, diikuti oleh Susi dan Maya.
“Aku minta kalian jangan bersikap segan-segan. Biasa saja, agar tamu-tamuku nanti tidak memandang rendah. Kalian adalah sama dengan mereka. Bahkan kalian semua memiliki sastu kelebihan dari mereka. Karena kalian adalah pembangun manusia pembangun. Sementara mereka kebanyakannya hidup dan bekerja untuk kepentingan pribadi. Dan aku lebih menghormati kalian daripada mereka”, kata Pertiwi.
“Tetapi sungguh kami tidak menyangka sedikit pun kenyataan Bu Wiwi yang kami saksikan sekarang”, kata guru keterampilan Rumah Yatim-Piatu.
“Jangan silau oleh baju luar, karena bisa-bisa kalian akan tertipu”, kata Pertiwi.
“Sekarang pun kami telah tertipu oleh penampilan Mpok Tiwi”, kata guru agama dengan pandangan kagum yang tidak bisa disembunyikan.
Pertiwi menunduk, sementara mulutnya berdesis: “Maafkan. Bukan itu yang kumaksud”.
“Kok Bu Wiwi minta maaf. Saya tahu apa yang Bu Wiwi maksudkan”, ujar guru agama itu. Lalu sambungnya: “Tetapi kenyataan yang kami lihat sekarang, benar-benar kami harus memuji Bu Wiwi. Bu Wiwi bukan seorang agamawan yang hafal ayat-ayat Qur’an. Tetapi apa yang Bu Wiwi lakukan di lingkungan masyarakat mencerminkan sikap seorang muslim sejati yang benar-benar menerapkan ajaran agama sebagaimana yang dicontohkan Nabi dan Khulafahur Rosyidin”.
“Belum sekuku jari mereka Pak Salam. Ah sudahlah. Itu calon tunanganku dan tamu-tamunya sudah pada datang”, ujar Pertiwi.
Memang saat itu terdengar beberapa mobil memasuki halaman. Lalu katanya kepada Susi dan Maya: “Mari Susi, Maya, kita turut menyambut mereka bersama orangtuaku”.
Pertiwi pun melangkah ke pintu depan yang terbuka. Di sana Pak dan Bu Abdurrakhman tampak berdiri di luar pintu. Bersamaan dengan munculnya Pertiwi, Susi, dan Maya di samping kedua orangtua itu, mobil pertama pun berhenti di depan mereka. Insinyur Suwarno bersama kedua orangtuanya turun dan menyalami tuan rumah.
Sementara Pak Abdurakhman, isterinya, dan Pertiwi membawa keluarga Profesor Sumardi, Susi dan Maya tetap tinggal di luar pintu untuk menyambut tamu-tamu lainnya. Di antara para tamu yang datang itu, ada seorang pemuda yang tingkahnya agak lain. Pemuda itu bertubuh atletis, wajahnya sangat tampan, memakai stelan jas model terakhir. Dia turun dari sedan Impala bersama sepasang suami-isteri hampir sebaya dengan Pak Abdurrakhman, sedikit lebih muda.
Ketika tiba di depan Maya, mata pemuda itu tampak bersinar. Sambil lewat, tangan pemuda itu mengusap dagu Maya, sementara dari mulutnya terdengar bisikan perlahan.
“Kau cantik”, katanya.
Maya tertunduk, dan Susi berbisik di telinga adiknya hampir tak terdengar: “Itu yang diperingatkan oleh Kak Wiwi tadi Maya”.
“Ya Kak. Orangnya ganteng tetapi tidak sopan”, sahut Maya.
Mereka tidak bicara lagi karena harus mempersilahkan tamu-tamu yang lain. Dalam pada itu mata si pemuda ganteng menyapu seluruh orang yang ada dalam ruangan, dan tiba-tiba pandangannya terpaku pada Pertiwi yang tengah duduk menunduk di antara Pak dan Bu Abdurrakhman. Sementara dihadapannya adalah Suwarno dan kedua orangtuanya. Dengan tergesa-gesa dia mengejar langkah kedua orangtuanya dan merendengi ayahnya.
“Ayah, itukah puteri sahabat ayah itu?”, tanyanya.
Yang dibisiki memandang ke arah gadis yang ditunjuk pemuda itu dan mengangguk: “Ya Herman”, sahutnya.
“Ah, kenapa Ayah tidak pernah memperkenalkan aku kepadanya?”, kata si pemuda dengan nada menyesalkan.
Orangtuanya tidak sempat menjawab karena mereka telah sampai di dekat tuan rumah. Maka mereka pun bersalaman. Ketika Suherman bersalaman dengan Pertiwi, orangtua itu berkata kepada Pak Abdurrakhman.
“Ini anakku Suherman. Baru setahun dia di sini karena kuliah di negeri Belanda”, ujarnya.
“O kalau begitu tentu sudah selesai”, kata Pak Abdurrakhman.
“Ya, Meester in de Rechten, cum laude”, sahut Profesor Shindu.
“Wah hebat sekali. Tentu tidak susah cari kerja”.
“Langsung diterima di pengadilan, dan membuka sendiri kantor pengacara”.
Sementara kedua orangtuanya bicara, Pertiwi menyalami pemuda ganteng itu sambil tersenyum dan mengangguk. Sejenak mata mereka bertatapan. Tetapi ketika Pertiwi hendak menarik tangannya, Suherman menahannya sementara matanya tidak lepas memandang wajah gadis cantik itu, sehingga Pertiwi tertunduk. Wajah Suwarno tampak menyemburat melihat sikap pemuda itu terhadap calon tunangannya.
Suherman melepaskan genggaman tangannya ketika pembicaraan ayahnya selesai. Dia berpaling kepada Suwarno sambil tersenyum lalu menyalami tangannya.
“Selamat Warno. Kau sungguh beruntung”, ujarnya.
“Terimakasih Herman”, sahut Suwarno dengan senyum dipaksakan.
Ketika Suherman dan kedua orangtuanya berlalu untuk mengambil tempat duduk, tamu-tamu yang lain pun bergiliran menyalami keluarga Pak Abdurrakhman dan Profesor Sumardi. Dalam pada itu Suherman mengulangi pertanyaannya kepada ayahnya yang belum sempat dijawab tadi.
“Kenapa ayah tidak pernah memperkenalkan kepadaku?”.
“Tadinya aku pun tidak tahu. Beberapa kali aku bertamu kemari, tetapi tidak pernah melihat gadis itu. Baru setengah bulan yang lalu ketika kami merundingkan rencana ekspedisi penelitian rawa, aku melihat dia. Waktu itu juga aku langsung melamarkan buatmu. Karena aku tahu, kau pasti akan menyenanginya. Tetapi ternyata pamanmu Sumardi sudah mendahuluiku”, sahut Profesor Shindu.
“Sayang”, kata Suherman, “aku sungguh tak mengira Paman Abdurrakhman punya anak gadis demikian cantiknya”.
Profesor Shindu menatap anaknya yang tidak pernah lepas memandangi Pertiwi.
“Seharusnya aku yang memperoleh dia”, gumam pemuda itu.
“Bukan salah Ayah, Herman. Ayah sendiri tidak tahu kalau pamanmu punya anak gadis. Dia tidak pernah mengatakannya samasekali”, kata Pofesor Shindu.
“Selain sangat cantik, tentu dia juga satu-satunya pewaris harta ayahnya”, kata Suherman lagi.
“Ya, ketika tempo hari aku mengajukan lamaran buatmu, pamanmu mengatakan, gadis itu satu-satunya anaknya, karena anaknya yang lelaki telah hilang tidak diketahui rimbanya sejak peristiwa G30S”, sahut Profesor Shindu.
Sementara itu upacara pertunanganpun dimulai. Pertiwi dan Suwarno dipersandingkan di kursi yang bersisian seperti sepasang pengantin, tetapi dalam pakaian biasa. Mula-mula pihak orangtua perempuan menjelaskan persyaratan yang diminta pihak gadis. Kemudian orangtua pihak laki-laki menyatakan menyetujui persyaratan itu.
Maka sampailah pada acara tukar cincin. Suwarno memasangkan cincinnya pada jari manis Pertiwi. Kemudian Pertiwi pun memasangkan cincinnya pada jari manis Suwarno. Begitu selesai semua orang menyambutnya dengan tepukan tangan. Profesor Sumardi berdiri untuk kedua kalinya, untuk memberi sambutan atas resminya ikatan pertunangan itu.
“Para undangan sekalian yang kuhormati”, katanya memulai sambutannya, “dengan selesainya pertukaran cincin di antara anak-anak kami disaksikan oleh orangtua kedua fihak dan oleh para undangan sekalian, berarti anak-anak kami telah resmi bertunangan. Dengan demikian kami tidak dicemaskan lagi oleh kemungkinan apa yang oleh adat Timur kita dianggap perbuatan dosa. Karena ikatan pertunangan adalah tahap akhir menuju kehidupan berumah tangga. Artinya, pertunangan adalah perkawinan tidak resmi, sedangkan perkawinan resmi adalah hidup berkeluarga dengan tercatat di KUA dan dengan tanggung jawab penuh. Dengan demikian, setelah kami memberikan restu ini, terserah kepada anak-anak kami sendiri, apa mereka akan bergaul lama sebagai suami-isteri tidak resmi dalam masa pertunangan, atau pihak wanita ingin segera menuntut tanggung jawab tunangannya melalui perkawinan. Kami dari pihak lelaki hanya tinggal menunggu. Nah, sebagai tanda resminya ikatan itu, kita akan menyaksikan tanda persetujuan dengan ciuman kasih-sayang”.
Suwarno berpaling menghadap Pertiwi sambil memegang kedua bahu gadis itu. Tetapi dengan wajah menggelap, Pertiwi mendorong tangan Suwarno sambil bertanya kepada Profesor Sumardi.
“Tunggu dulu Paman”, katanya, “kalau aku tidak salah dengar, Paman mengatakan bahwa ikatan pertunangan ini merupakan sahnya hubungan kami bergaul sebagai sumai-isteri, hanya belum tercatat resmi di KUA. Begitukan yang Paman maksud?”.
Semua undangan yang mendengar pertanyaan Pertiwi pada terkejut, namun dalam dua tanggapan yang berlawanan. Para tamu dari pihak laki-laki terkejut, karena sikap si gadis yang nampaknya tidak setuju dengan ikatan pertunangan itu, padahal sebelumnya tidak memperlihatkan tanda tersebut. Sementara para tamu dari pihak si gadis terkejut karena tidak menduga samasekali bahwa ikatan pertunangan itu adalah perkawinan yang sah hanya belum tercatat dalam catatan sipil. Dalam pada itu terdengar jawaban dari Profesor Sumardi.
“Ya, memang begitu yang kumaksud. Sebab pertunangan adalah semi perkawinan. Artinya, bergaul sebagai pasangan suami-isteri untuk mencari kecocokan. Kalau kalian sudah merasa cocok, dapat diteruskan dalam upacara pernikahan, dan pihak laki-laki mulai bertanggung jawab penuh terhadap segala keperluan hidup keluarganya. Jika tidak cocok, kalian bisa memutuskan lagi pertunangan itu, dan masing-masing dapat mencari pasangan lain”.
“Bagaimana Warno. Apa kau juga sependapat dengan ayahmu?”, tanya Pertiwi kepada tunangannya.
“Tentu saja Wiwi. Apa kau punya pendapat lain?”, Suwarno menyahut dengan pertanyaan lagi.
Pertiwi tidak segera menjawab. Dia menarik tangan Suwarno yang jarinya dipasangi cincian oleh Pertiwi tadi. Lalu dengan sekali renggut dia mencopot cincin itu. Dia melepaskan cincin di jarinya yang dipasangkan Suwarno, dan ditaruh pada genggaman tangan Suwarno. Baru kemudian menjawab dengan suara lantang.
“Karena aku merasa tidak cocok, sekarang juga aku membatalkan pertunangan tadi”, ujarnya. Lalu dengan ringan dia melangkah ke arah tangga yang menuju ke kamarnya.
Suwarno berlari mengejar Pertiwi dengan wajah bingung dan memegang tangan gadis itu dengan erat. Tetapi Pertiwi mengibaskannya tanpa berpaling. Profesor Sumardi juga tampak terkejut. Tetapi kemudian dia mengejar gadis itu dengan langkah-langkah panjang dan menghadang di depan Pertiwi dengan tatapan mata tajam. Sementara para undangan semuanya duduk membeku di tempat masing-masing. Hanya Pak Abdurrakhman dan isterinya yang kelihatan tenang-tenang saja tanpa rasa kejut di wajahnya. Sebab sejak mendengar jawaban Profesor Sumardi tadi, mereka sudah bisa menduga yang akan dilakukan anaknya.
“Apa kau sadar bahwa dengan tindakanmu ini sama artinya dengan mempermalukan aku Wiwi?”, tanya Profesor Sumardi dengan nada tajam.
“Sangat kusadari Paman. Memang itulah yang kumaksudkan”, sahut Pertiwi dengan tenang.
“Maksudmu mempermalukanku? Apa alasannya?”.
“Sebab Paman dan anak Paman dengan sengaja telah menjebakku. Tetapi Paman salah menduga kalau aku akan menerima jebakan itu dengan mandah seperti umumnya gadis modern yang kurang menghargai ajaran moral”, jawab Pertiwi.
“Siapa yang menjebakmu? Aku hanya meletakkan arti pertunangan pada kedudukannya, bukan meniru kebudayaan orang tanpa mengerti maknanya”, sanggah Profesor Sumardi.
“Paman salah kalau mengatakan mereka tidak mengerti. Sebaliknya, justru mereka sangat mengerti. Hanya saja karena tidak ingin disebut ketinggalan zaman, mereka mengubahnya di sana-sini disesuaikan dengan adat atau ajaran agama yang dianutnya. Mereka tidak mau menelan bulat-bulat seperti yang Paman lakukan. Karena mereka masih memiliki pribudi. Sementara Paman yang sehari-harinya berkecimpung dengan dunia rasio, dalam hal ini justru tidak mau menggunakan rasio samasekali, sehingga jadi tidak adil bagi pihak perempuan”.
“Justru karena menggunakan rasio, aku tidak mau merubahnya”, kata Profesor Sumardi dengan wajah semburat merah karena disentuh segi yang paling dibanggakannya. Lalu sambungnya: “Sebab kalau sebuah rumus telah kita rubah, maka kita tidak bisa lagi menyebutnya sebagai rumus itu, melainkan harus disebut rumus lain”.
“Paman telah menerapkan rumus persamaan yang nisbi atau mulur ke dalam rumus persamaan yang kaku. Paman sengaja melupakan 2 x 2 = 4 masih bisa disebut dengan persamaan lain yang sangat banyak jumlahnya. Misalnya dengan 4 x 1 atau 3 + 1 atau 10 - 6 atau 8 : 2 atau 12 : 3 dan seterusnya, yang hasilnya adalah sama, yaitu 4. Jadi kalau bilangan 4 itu kita misalkan pertunangan, kita masih bisa merubah 2 x 2 dengan angka-angka lain. Itulah sebabnya aku katakan Paman telah menerapkan rumus yang kaku”, sahut Pertiwi.
Mendengar jawaban itu Profesor Sumardi terbungkam. Sebab sesungguhnya sejak awal dia bermaksud memojokkan si gadis dengan dalih rumus yang memang menjadi bidangnya. Hanya saja dia tidak mengira kalau Pertiwi ternyata mampu mendebatnya dengan perumpamaan rumus persamaan yang tepat.
“Tetapi aku benar-benar tidak bermaksud menjebakmu”, ujar Profesor Sumardi menyanggah lagi.
“Kalau begitu Paman benar-benar seorang Barat minded. Nampaknya Paman tidak pernah mempelajari ajaran buku petunjuk Rosul yang Paman anut, tetapi terpengaruh oleh ajaran agama lain yang menilai kehidupan lahiriah tidak bisa dibaurkan dengan kebenaran ilmu. Itu berarti Paman tidak konsekuen pada status diri sebagai ilmuwan yang selalu mendasarkan ucap-tindaknya secara rasional-ilmiah, karena Paman telah menganut kitab petunjuk Rosul tanpa dipelajari dulu”.
“Kau jangan menuduh seenaknya. Aku sudah mempelajari buku petunjuk Rosul itu, dan aku melihat ajarannya rasional. Karena itu aku menganutnya”, sahut Profesor Sumardi dengan nada tinggi dan wajah menggelap.
“Tetapi nyatanya Paman telah menginjak-injak satu segi petunjuk Rosul yang menyatakan ‘aku diutus hanya untuk membina ahlak’. Paman telah merestui anak Paman melakukan perbuatan dosa besar, yaitu berzinah denganku, dan anak Paman pun menyetujuinya”, tukas Pertiwi dengan nada tegas pula.
“Di mana letak perzinahannya?”, tanya Profesor Sumardi dengan nada semakin tinggi, “bukankah agama kita mengatakan, perkawinan telah sah apabila terjadi akad atau janji yang dihadiri setidak-tidaknya oleh dua orang saksi. Bukankah akad itu telah dilakukan dengan disaksikan tidak hanya oleh dua orang saksi, tetapi oleh berpuluh orang? Bukankah kalian berdua juga sudah sama-sama setuju untuk jadi pasangan dan sudah mendapat restu dari kedua pihak orangtua?”.
Demikian gencarnya seranan pertanyaan Profesor Sumardi dalam suara lantang, sehingga para tamu dari pihak tuan rumah jadi berdebar-debar bercampur cemas. Sementara para tamu undangan Suwarno sama-sama berharap gadis itu akan terdesak. Apalagi Suherman yang memang tidak pernah mempelajari samasekali buku petunjuk rosulnya selain merupakan kepercayaan turunan. Tetapi Pertiwi yang sudah biasa berdiskusi di sekolahnya, tidak terpengaruh oleh kegarangan lawan bicaranya. Bahkan ketika menjawab, suaranya masih tetap tenang.
“Sekali lagi Paman sengaja melupakan bahwa akad yang kuucapkan tadi bukan akad perkawinan tetapi akad pertunangan”, sahutnya.
“Sebagai seorang terpelajar seharusnya kau tidak mengartikan ajaran menurut apa adanya dan apa yang tampak di permukaannya saja, tetapi harus melihat apa yang tersirat dibaliknya. Kukira apa pun istilahnya tidak penting. Yang jelas persyaratan akad yang ditentukan agama telah dipenuhi, kecuali belum tercatat di KUA, sehingga pertunangan itu sama dengan nikah siri. Persyaratan dari KUA bisa dilakukan kapan saja bila kalian merasa sudah cocok satu sama lain”.
“Kini Paman tidak konsekuen dengan dalih rumus yang dikemukakan tadi. Rupanya sejak mulai upacara tadi, Paman telah salah mengartikan antara hasil rumus dengan rumusnya sendiri. Karena itu Paman telah menyamakan hasil dari dua rumus yang jauh berbeda”, sahut Pertiwi dengan nada mantap karena dia merasa akan memenangkan perdebatan itu. Lalu sambungnya: “Sebagai ilmuwan seharusnya Paman tahu betul, mana yang rumus dan mana yang hasil rumus. Menurut pengertianku, pertunangan atau perkawinan adalah hasil rumus. Sedangkan rumusnya adalah proses akadnya. Kalau rumus itu rumus pertunangan, maka angka 4 tadi adalah pertunangan, bukan perkawinan. Kalau rumusnya rumus perkawinan, maka angka 4 tadi adalah perkawinan. Adalah sangat tidak masuk akal kalau pertunangan disebut perkawinan”.
Untuk kedua kalinya Profesor Sumardi terbungkam karena terjerat oleh dalih rumusnya sendiri. Dan semua orang yang mendengarkan perdebatan itu dapat menilai bahwa Pertiwi telah memenangkannya. Sampai beberapa lamanya Profesor Sumardi tidak tahu bagaimana cara mendebat pendapat itu. Karena itu kini justru Pertiwi yang membuka pendapat.
“Paman”, ujarnya, “dalam hal umum memang kita harus menilai dulu apa yang terkandung di balik ajaran itu sebelum diterapkan dalam praktek. Tetapi dalam hal akad atau janji yang merupakan rumusan, kita harus menerapkan menurut kewajarannya, agar hasilnya tidak menyalahi dari yang seharusnya. Dalam hal rumus, yang harus kita pelajari justru dampak hasilnya. Karena itu sekarang aku mau bertanya kepada Paman. Apa Paman sudah merenungkan dampak dari pertunangan ala Barat?”.
Profesor Sumardi tidak segera menyahut. Sebab kini dia mulai menilai kemampuan gadis itu yang tidak bisa dianggap sepele. Setelah sekian lama Profesor Sumardi tidak memberi jawaban juga, maka Pertiwi memberi jawaban atas pertanyaannya sendiri. Para hadirin semakin memusatkan pendengarannya pada setiap kata yang diucapkan si gadis.
“Paman”, ujarnya lagi, “ikatan pertunangan ala Barat mempunyai bahaya sangat besar bagi generasi manusia yang akan datang. Kelemahannya terletak pada ketiadaan tanggung jawab. Pasangan tunangan yang tidak merasa cocok, dapat memutuskan ikatan itu dengan begitu saja. Sebab orang Barat tidak memandang haram perzinahan dan tidak memandang tinggi status kegadisan seorang wanita, sehingga otomatis tidak perlu ada batasan terhadap pergaulannya. Akibatnya ikatan itu sangat longgar. Kelonggarannya menimbulkan anggapan bahwa sesungguhnya upacara akad pertunangan itu tidak perlu. Ikatan bisa langsung terjadi atas dasar suka sama suka antara pria dan wanita. Kenyataan itu dapat kita dari berlangsungnya samen leven atau kumpul kebo, hidup bersama tanpa nikah, yang lamanya tergantung pada kelanggengan rasa suka sama suka. Bila pasangan itu sudah pada bosan, mereka langsung berpisah begitu saja. Kumpul kebo ini tidak hanya berlangsung antara perawan dan jejaka, tetapi juga pada mereka yang sudah berumah tangga. Bukankah dengan demikian akan terjadi perzinahan di mana-mana? Apa Paman tidak menyadari bahwa dengan pertunangan ala Barat itu berarti Paman telah mendorongkan rusaknya moral manusia? Apa Paman tidak melihat bahwa akibat pandangan kelompok orang seperti Paman, kini budaya kumpul kebo itu sudah menjalar di kalangan masyarakat kita?”.
Profesor Sumardi semakin membeku di tempatnya, dan tanpa dimauinya, kepalanya semakin menunduk. Sebagian tamu undangan Suwarno pada mencibirkan bibirnya, dan ada pula yang saling berbisik mencemoohkan Pertiwi yang mereka anggap masih kuno, ketinggalan zaman. Sementara semua tamu undangan tuan rumah merasa tergetar oleh rasa bangga karena punya teman yang bisa menyalurkan kata hati mereka. Dalam keadaan demikian, Pertiwi melanjutkan kata-katanya lagi.
“Maaf Paman. Aku lebih takut terhadap Tuhan dari kepada siapapun. Aku lebih tertarik kepada hidup kekal di akhirat daripada kesenangan dunia yang hanya sesaat”.
Habis berkata Pertiwi melanjutkan langkahnya melewati tubuh Profesor Sumardi menuju ke tangga.
“Tunggu dulu Wiwi!”, teriak Profesor Sumardi.
Pertiwi yang sudah hampir mencapai tangga tertegun dan membalikkan tubuhnya.
“Ada apa lagi Paman? Kukira persoalan kita sudah jelas. Karena pandanganku dengan pandangan Suwarno dan Paman tentang pertunangan ini bertolak belakang, berarti kita tidak cocok. Karena itu aku telah membatalkan lagi sebelum kasip. Bukankah begitu menurut perjanjian kita?”, tanya Pertiwi.
“Jangan tergesa-gesa Wiwi. Bukankah tentang arti pertunangan itu sendiri belum pernah kita perbincangkan, sehingga belum termasuk ke dalam perjanjian?”, tanya Profesor Sumardi dengan nada berubah melunak.
“Memang tidak termasuk Paman. Tetapi itu merupakan salah satu di antara pemupukan saling pengertian dan kecocokan, dan ternyata kita tidak cocok”, sahut Pertiwi.
“Baiklah. Tetapi aku ingin penjelasanmu dulu. Sebenarnya bagaimana pandanganmu tentang ikatan pertunangan ini?”.
Pertiwi menghela nafas yang menyesaki dadanya, baru kemudian menjawab.
“Sebenaranya pertunangan itu bagi agama kita hampir tidak ada artinya. Tetapi untuk menyesuaikan dengan perkembangan zaman karena mulai membudaya di masyarakat, sifatnya telah dirubah jadi masa pacaran yang terikat karena telah mendapat persetujuan dari orangtua kedua fihak. Dengan adanya ikatan itu, berarti masing-masing diri pasangan telah menutup diri dari mencari pacar lain. Tetapi di sini ada dua pilihan. Yang pertama, pacaran yang sudah matang. Artinya pasangan itu sudah positif untuk kawin, sehingga hanya menunggu saatnya yang tepat. Yang kedua, menutup diri selama memupuk saling pengertian dan belum positif sampai kepada perkawinan. Karena bila tidak tercapai kecocokan, pertunangan bisa dibatalkan lagi, sehingga mereka boleh mencari pacar lain”.
“Lalu yang mana yang kau pilih?”.
“Dari persyaratan yang kuajukan, sudah jelas adalah yang kedua. Untuk itu aku telah bersedia mengorbankan kebebasanku untuk tidak mencari pacar lain dan tidak melayani permintaan berpacaran dari lelaki lain”, sahut Pertiwi.
Profesor Sumardi berpaling kepada anaknya, lalu katanya: “Bagaimana Warno? Apa kau mau menerima persyaratan itu?”.
“Tidak apa Ayah. Aku bisa menerimanya”, sahut Suwarno.
Pertiwi melangkah menghampiri Suwarno dan memberikan kembali cincinnya. Lalu dia mengambil cincin dalam genggaman tangan Suwarno.
Para undangan dari pihak tuan rumh menghela nafas lega. Mereka benar-benar kagum atas keberanian gadis itu mempertahankan prinsipnya. Mereka juga dapat melihat bahwa sebenarnya gadis itu tidak punya rasa cinta terhadap lelaki yang menjadi tunangannya. Sementara para tamu dari pihak lelaki kebanyakannya baru mengerti perbedaan antara pertunangan ala Barat dengan ala Timur.
Tetapi ada seorang yang mengumpati akhir dari perdebatan itu. Dia adalah Suherman. Ketika gadis itu menyatakan membatalkan kembali ikatan pertunangannya, hatinya sudah gembira sekali. Tetapi ketika Suwarno menerima persyaratan yang diajukan gadis itu, kegembiraan hatinya sirna kembali.
“Gila. Dengan demikian kesempatanku untuk bersaing telah tertutup samasekali”, umpatnya. Tetapi tiba-tiba matanya bersinar. Dia berpaling kepada ayahnya dan bertanya: “Ayah, apakah ekspedisi penelitian rawa yang Ayah rencanakan dengan Paman Abdurrakhman dan Paman Sumardi itu hanya sekali?”.
“Apa maksudmu Herman?”, tanya Profesor Shiondu.
“Maksudku, apa penelitian rawa itu selesai dalam sekali ekspedisi?”.
“Tentu tidak Herman. Kami harus mengumpulkan data penelitian dari beberapa rawa di beberapa pulau negeri ini. Karena itu aku dan kedua pamanmu telah menyusun serangkaian rencana ekspedisi ke beberapa pulau, dan itu memerlukan waktu paling tidak sekitar tiga tahun. Karena ekspedisi di luar pulau Jawa hanya akan dilakukan pada waktu libur besar. Apa kau tertarik untuk mengikutinya Herman?”.
“Mungkin suatu kali nanti Ayah, tetapi bukan karena tertarik pada rawanya. Aku seorang Meester in de Rechten, karena itu aku akan memanfaatkan keahlianku dalam ekspedisi penelitian itu. Tapi soal itu nanti saja kita bicarakan di rumah, karena bukan soal tergesa-gesa”, sahut Suherman.
Profesor Shindu tidak bertanya lagi, karena saat itu orang-orang sudah mulai mencicipi makanan yang dihidangkan. Pertiwi dan Suwarno masih duduk di kursi mereka yang bersisian. Tiba-tiba Suherman berdiri dan berkata dengan suara agak dikeraskan kepada Pak Abdurrakhman yang juga masih duduk di kursinya bersama isterinya di samping Suwarno. Sedangkan Profesor Sumardi dan isterinya duduk di samping Pertiwi.
“Paman. Rasanya acara ini akan hambar sekali kalau tidak ada acara bebasnya. Aku ingin mengusulkan agar setelah acara makan, kita adakan acara melantai sebagai tanda turut bergembira atas terangkapnya puteri Paman. Bukankah begitu saudara-saudara?”.
“Setuju!!!”, seru anak-anak muda yang jadi tamu undangan pihak laki-laki.
Pak Abdurrakhman dan isterinya saling pandang sejenak. Kemudian dia berpaling kepada Pertiwi dan bertanya: “Bagaimana Wiwi?”.
“Bukankah kita tidak bermaksud menyelenggarakan acara itu Ayah?”. Pertiwi balik bertanya.
“Ah, ijinkanlah kami Wiwi. Kami bermaksud memeriahkan suasana yang kaku ini. Tidak usah semalam suntuk, paling lama juga sampai tengah malam. Bukankah besok hari minggu, sehingga kita tidak dituntut bangun tergesa-gesa untuk pergi bekerja?”, kata Suherman.
Pertiwi tampak ragu sejenak. Tetapi untuk tidak menyinggung perasaan para tamunya, akhirnya dia mengangguk. “Terserah kepadamu Herman. Kau pimpin sendiri acara itu”, katanya.
“Terimakasih Wiwi”, kata Suherman. Lalu dia menuju ke tempat alat rekaman yang saat itu sedang menyanyikan lagu-lagu pengantar makan. Suherman memilih kaset lagu gembira dan langsung mengganti kaset lagu pengantar makan tadi dengan suara lebih dikeraskan. Dia kembali ke tengah ruangan.
“Untuk pembukaan ini, aku minta pasangan raja dan ratu kita membukanya”, ujar Suherman sambil menghadap ke arah Suwarno dan Pertiwi dengan membungkukkan tubuh dan tangannya diayunkan di depan dada dengan telapak tangan terbuka sebagai tanda mempersilahkan.
Suwarno sudah bergerak bangkit berdiri, tetapi terpaku ketika Pertiwi menyahut: “Sudah kukatakan. Kau pimpin sendiri acara itu, karena itu kau sendiri juga yang membukanya”.
Suherman tersenyum, lalu katanya: “Baiklah kalau begitu”.
Lalu matanya menyapu gadis-gadis yang ada dalam ruangan itu. Ketika terpandang Maya yang duduk bersama Susi, Aisyah, dan Dini, Suherman menghampirinya. Sambil membungkukkan tubuh dan tangan diayunkan di depan dada, dia berkata kepada Maya.
“Sebagai penghormatan pengganti ratu kita, aku undang Nona untuk membuka acara ini”.
“Maaf Tuan. Biarlah yang lain saja yang mendapat penghormatan itu”, sahut Maya.
“Nona barangkali?”, tanyanya kepada Susi.
“Terimakasih. Saya mohon maaf tidak dapat memenuhi undangan Saudara”, jawab Susi.
Suherman memandang kepada Aisyah dan Dini. Aisyah bicara tanpa ditanya lagi: “Kami gadis kampung Tuan. Maafkan tidak dapat memenuhi permintaan Tuan”.
Dengan wajah memerah akhirnya Suherman meninggalkan keempat gadis itu. Dia menghampiri kelompok gadis tamu dari pihak lelaki. Tanpa kesulitan, begitu dia membungkukkan badannya, gadis yang dimintanya langsung mengulurkan tangannya sambil bangkit berdiri. Suherman menuntun gadis itu ke tengah ruangan, diikuti oleh pasangan-pasangan anak muda lainnya. Sejenak kemudian mulailah mereka berbaris antri mengolongi tangan Suherman yang berpasangan dengan gadis yang dimintanya tadi membentuk pintu pelaluan dengan kedua tangan diacungkan sambil berpegangan.
Selesai pembukaan, lagu diganti dengan irama calypso, dan mereka pun mulai berdansa dengan pasangan masing-masing. Belum lama berdansa, Suherman menuntun gadis yang dibawanya tadi menghampiri kursi Suwarno dan Pertiwi.
“Warno, aku pinjam tunanganmu sebentar”, katanya sambil menyerahkan gadis yang dibawanya kepada Suwarno.
Suwarno mengangguk dengan semburat merah wajahnya dan menerima juluran tangan gadis itu, lalu dia menuntunnya ke tengah ruangan. Sekali dia berpaling kepada Pertiwi, tetapi kemudian melanjutkan langkahnya. Sementara itu Suherman menjulurkan tangannya kepada Pertiwi sambil membungkukkan badan.
“Maaf Herman. Aku tidak bisa dansa”, kata Pertiwi.
“Ah hanya sekali ini saja Wiwi, untuk penghormatan”.
“Sungguh Herman. Aku tidak pernah belajat dansa”, kata Pertiwi.
“Yang benar Wiwi. Masa seorang dokter yang sekian lama jadi mahasiswi, tidak pernah sekalipun ikut acara seperti ini di Fakultasmu?”, tanya Suherman tak percaya.
“Sungguh Herman”.
Suherman menggeleng-gelengkan kepala karena benar-benar tidak percaya. “Kenapa kau tidak pernah belajar dansa Wiwi?”, tanyanya ingin tahu alasan itu.
“Agama yang kuanut melarangnya”, sahut Pertiwi.
“Dan kau sebagai seorang dokter, seorang gadis modern, masih patuh kepada larangan yang tidak rasional itu Wiwi?”.
“Setelah kuhayati dan menyaksikan kenyataan akibat dari dansa-dansi itu, justru ajaran itu sangat rasional. Pokok ajaran agama kita adalah pembinaaan moral luhur. Sedangkan dansa-dansi justru mengakibatkan sebaliknya”.
“Ah itu kuno Wiwi. Aku heran gadis modern sepertimu, seorang dokter pula, masih berpikiran kuno”, kata Suherman.
“Kuno menurut pandanganmu, karena kau tidak pernah mempelajari buku petunjuknya, sekalipun kau mengaku sebagai penganutnya, apalagi menghayatinya. Ini saja sudah membuktikan bahwa, kau sendiri yang berpikir tidak rasional. Kau menganutnya, tetapi tidak tahu apa yang kau anut itu, padahal kau seorang sarjana. Seharusnya kau jangan menganutnya, karena hanya akan merusak anutanmu sendiri. Kecuali kalau kau memang sengaja bermaksud merusaknya”, ujar Pertiwi.
Wajah Suherman semburat merah. Dia membalikkan tubuh tanpa bicara lagi, dan meninggalkan gadis itu tanpa permisi. Suwarno sendiri yang memang selalu memperhatikan tingkah Suherman dan tunangannya, menjadi heran ketika pemuda itu tidak berhasil mengajak Pertiwi. Pemuda itu langsung pergi ke tempat duduknya di samping ayahnya dengan mengumpat. Tidak ada lagi seleranya.
“Kenapa Herman?”, tanya Profesor Shindu.
“Si Wiwi menolak dansa denganku, bahkan dia mengkhotbahiku. Gila! Dia tidak menaruh perhatian samasekali kepadaku”.
Karena Suherman sebagai pemimpin acaranya sendiri sudah tidak punya selera untuk meneruskan acara itu, maka kawan-kawannya pun akhirnya merasakan suasana yang tidak menggembirakan. Akhirnya acara itu berhenti begitu saja, tidak lama setelah dimulainya. Karena sudah tidak ada acara apa-apa lagi di samping kegembiraan mereka lenyap, akhirnya setelah acara makan selesai, para tamu dari pihak laki-laki pada permisi untuk pulang.
Keluarga Profesor Sumardi dan Profesor Shindu pun permisi pula tidak lama setelah tamu-tamu mereka berlalu. Profesor Sumardi yang baru mengenal sikap Pertiwi yang keras dan tanpa tedeng aling-aling itu, merasakan bahwa acara pertunangan itu hampir tidak ada artinya sebagaimana yang dikatakan Petiwi. Karena apa yang telah direncanakannya untuk menjebak gadis itu tidak berhasil samasekali.
Yang masih tampak utuh sampai semua orang dari pihak lelaki berlalu, adalah para tamu dari pihak perempuan, karena memang mereka akan diantar oleh Pak Abdurrakhman kembali ke rumah yatim-piatu. Begitu Profesor Sumardi tadi belalu, guru agama rumah yatim-piatu bergegas menghampiri Pertiwi dan menyalami tangan gadis itu dengan terharu.
“Bu Wiwi, saya tidak dapat melukiskan dengan kata-kata, betapa bangganya hati ini berkesempatan menjadi kawan seorang gadis seperti Bu Wiwi”, katanya.
“Terimakasih Pak Salam. Aku merasa bersyukur karena ternyata langkah yang kutempuh tadi nampaknya sejalan dengan penghayatan Bapak sebagai otrang yang lebih tahu soal agama”, sahut Pertiwi.
“Tidak Bu Wiwi. Justru sayalah yang harus belajar menghayati ajaran agama kita kepada Bu Wiwi, karena ternyata penghayatan yang dilakukan Bu Wiwi lebih masuk akal”.
“Ah, aku benar-benar tidak banyak tahu soal agama. Aku hanya menafsirkan berdasarkan logika belaka”.
“Penghayatan yang logis itulah yang diperlukan oleh setiap pengajar agama kita. Karena tanpa itu kita tidak akan pernah bangkit lagi dalam arti yang sebenarnya bangkit. Sebab agama kita adalah agama rasional ilmiah, agama akal. Bukankah kitab suci agama kita juga menyatakan bahwa tidak ada agama bagi yang tidak berakal?”, kata Pak Salam.
“Ya Pak Salam. Itu pula yang mendorongku berusaha menghayati ayat-ayatnya secara logis”, sahut Pertiwi.
Demikian pula dengan para pengurus rumah yatim-piatu yang lainnya. Mereka menyalami gadis itu dengan hangat dan kagum pada ketegasan Pertiwi. Tentu saja yang paling merasa bangga adalah ayah-ibunya sendiri. Bu Abdurrakhman memeluk Pertiwi dengan mata berkaca-kaca, demikian pula Pertiwi. Ketika Pak Abdurrakhman menyatakan akan mengantar pulang apara tamunya, Pertiwi mengangguk.
“Susi dan Maya malam ini biar saja menginap di sini. Ada soal yang ingin Wiwi bicarakan dengan mereka”, kata Pertiwi.
Begitulah, ketika Pak Abdurrakhman berlalu bersama para pengelola rumah yatim-piatu, dan Bu Abdurrakhman mengawasi para pembantu rumah untuk membereskan bekas pesta itu, Pertiwi bersama kakak beradik itu masih duduk bercakap-cakap di ruang tamu.
“Tuan yang bernama Suherman itu orangnya ganteng sekali, tetapi sikapnya kurang sopan Kak Wiwi”, kata Maya.
“Mengapa?”, tanya Pertiwi.
“Dia colak-colek pada wajah Maya dengan seenaknya”.
“Bagi adat kita orang Timur, sikap seperti itu memang tidak sopan. Tetapi bagi dia yang sekian lama hidup di lingkungan pergaulan Barat, perbuatan itu dianggap hal biasa, wajar-wajar saja”, kata Pertiwi, “dan dewasa ini sebagian orang kita pun sudah mulai ketularan menilainya sebagai hal biasa. Apa kau tertarik padanya?”.
“Melihat kegantengannya wajar saja kalau Maya tertarik. Tetapi melihat kelakuannya, Maya justru jadi ketakutan”, sahut Maya.
“Bagus kalau begitu. Aku punya sedikit cerita tentang dia. Sebenarnya dia adalah anak sahabat Ayahku, tetapi baru tadi kami berkenalan. Sebelumnya aku hanya mengenal namanya saja. Tetapi begitu melihat orangnya, ternyata aku sudah beberapa kali berjumpa dengannya”, kata Pertiwi.
“Di mana?”, tanya Susi.
“Di Night Club. Beberapa kali aku melihat dia membawa gadis berganti-ganti”.
“Jadi sebelum tadi Kak Wiwi dengan dia sudah berkenalan?”, tanya Maya.
“Belum Maya. Mana mau dia berkenalan dengan gadis sejelekku”, sahut Pertiwi.
“Kalau dia menilai Kak Wiwi jelek, maka semua gadis yang hadir di sini tadi lebih-lebih tidak bisa dinilai”, kata Maya.
“Tetapi di Night Club itu dandanan Kak Wiwimu tidak lebih baik dari dandanan Mpok Tiwi, Maya”, kata Susi menjelaskan, “sehingga hampir tidak ada lelaki yang mau mendekatinya”.
“He? Dari mana Kak Susi tahu?”.
Susi tersenyum. “Aku hanya menebak-nebak saja. Karena sejak bertemu tempo hari, ternyata Kak Wiwimu telah berubah jadi bunglon sebagaimana kau lihat sekarang. Hanya sekarang adalah warna kulit aslinya”, sahut Susi.
Pertiwi pun tersenyum mendengar jawaban Susi yang sangat tepat itu tanpa menjelaskan pengetahuannya tentang bentuk penyamarannya yang sebenarnya.
“Hmm...Maya pun jadi yakin. Pasti Kak Wiwi memakai penyamaran yang sangat jelek”, kata Maya dengan kepala terangguk-angguk.
“Itulah keuntungannya menjadi bunglon.Aku bisa mengetahui kehidupan lain dari orang-orang yang mungkin dalam kehidupan sehari-harinya di pergaulan baik-baik sengaja ditutup-tutupi”.
“Hanya yang tidak aku ketahui, dari mana kau memperoleh gagasan jadi bunglon itu”, kata Susi.
“Dari Wawan, Sus. Aku hanya meniru apa yang dia lakukan selama kita mengenalnya. Tak seorang pun di antara kalian yang tahu bahwa, di rumahnya Wawan adalah seorang kacung penunggu sawah dan penyabit rumput, lalu jadi kusir delman. Ah, aku baru ingat, aku menahan kalian tidur di sini, selain untuk memberi peringatan tentang Suherman itu kepada Maya, masih ada satu lagi yang ingin kuperlihatkan kepada kalian. Mari ikuti aku”, ujar Pertiwi sambil bangkit.
Pertiwi melangkah menuju pintu kamar di samping kamar kerja Pak Abdurrakhman, diikuti oleh Susi dan Maya. Dia mengambil kunci yang tergantung di sisi pintu dan membukanya. Setelah menekan sakelar, kamar itu pun menjadi terang benderang.
“Apa kau kenal dengan orang dalam potret di atas tempat tidur itu Sus?”, tanya Pertiwi.
Susi melangkah mendekati pembaringan dan memperhatikan potret yang ditunjuk Pertiwi.
“He, bukankah ini potret Wawan?”, tanyanya dengan nada heran.
“Ya. Ini adalah kamar yang disediakan Ayah untuknya. Tetapi orangnya sendiri belum pernah menginjakkan kakinya di kamar ini. Bahkan belum tahu samasekali kalau dia punya kamar di sini”. Sementara menyahut, Pertiwi menghampiri meja yang di atasnya terdapat tiga benda pipih yang tingginya sekitar satu meteran, ditutupi tirai hijau.
Pertiwi membuka tirai yang paling kiri, sehingga sesaat kemudian tampaklah potret Darmawan yang dibesarkan. Ketika tirai kedua dibuka, tampak sebuah delman dengan kusirnya.
“Inilah bunglon itu Sus. Sayang, Ayah tidak sempat berjumpa ketika dia sedang menyabit rumput dengan pakaian compang-camping dan kumal. Kalau tahu, pasti Ayah akan memotretnya juga. Bunglon inilah sesungguhnya yang jadi anak kesayangan Ayah. Tetapi sekarang justru aku yang menggantikan tempatnya. Karena itulah tempo hari aku mengatakan bahwa keberuntunganku di sini adalah pemberian Wawan. Bagaimana aku akan bisa melupakan dia, yang beberapa kali menyelamatkan hidupku”, ujar Petiwi sambil menghela nafas.
“Lalu potret siapa yang satu lagi?”, tanya Susi.
“Calon menantu Ayah, calon isteri Wawan”, sahut Pertiwi.
“Iya siapa?”, tanya Susi mendesak.
“Aku tidak tahu. Buka saja sendiri, barangkali kau mengenalnya”, sahut Pertiwi.
Dengan tergesa-gesa Susi dan Maya menghampiri meja dan hampir bersamaan kedua kakak beradik itu membuka tirainya.
“He, ini kan potretmu sendiri Wiwi?”, kata Susi.
Pertiwi tersenyum, lalu katanya: “Seharusnya sejak tadi kau sudah bisa menebaknya”.
“Tetapi dari mana Pak Abdurrakhman tahu kalau kau pacarnya Wawan?”.
“Tentu saja dari Wawan sendiri. Apa kau kira aku akan mengaku-ngaku untuk mencari keuntungan buatku sendiri? Ketiga potret ini sudah ada di sini sejak lama sebelum aku bermimpi bakal menginjakkan kaki di rumah ini”, sahut Pertiwi.
“Dengan demikian, ikatan pertunangan tadi benar-benar merupakan pengorbananmu yang paling besar Wiwi. Karena harapanmu untuk bisa berkumpul dengan Wawan telah tertutup, sekalipun jika tiba-tiba saja Wawan muncul menemuimu”, kata Susi dengan nada iba.
“Sesungguhnya kalau aku tidak memperhitungkan kemungkinan Suherman akan menggantikan Suwarno, dan tidak melihat lagi maksud baik Ayah, tidak seorang pun akan bisa menghalangiku jika tadi aku benar-benar membatalkan pertunangan itu”, sahut Pertiwi, “sehingga aku bisa terbebas dari kungkungan itu”.
-----ooooooooo-----
“Ya, aku pun tahu Wiwi. Aku sangat berterimakasih, karena kau masih mau memaafkan kesalahanku dan kesalahan Ayahku, sehingga pertunangan itu tidak sampai kau batalkan”, sahut Suwarno sementara tangannya memegang kemudi mobil di keramaian lalu lintas kota.
“Dan itu merupakan pengorbananku yang paling besar Warno. Karena sebenarnya aku sudah punya pacar tanpa sepengetahuan orangtuaku. Tetapi sekarang aku harus memutuskan hubungan dengan pacarku itu karena telah bertunangan denganmu”, kata Pertiowi.
“Siapa pacarmu itu? Apa pelatih karatemu?”.
“Bukan Warno. Pelatih karateku sama seperti kau, sarjana. Sedangkan pacarku orang biasa, tetapi aku sangat mencintainya. Kasihan dia. Sebenarnya dia bermaksud datang melamarku setelah aku lulus. Aku tidak tahu, apakah dia akan mencapku sebagai gadis tidak setia atau sombong karena telah jadi sarjana, sehingga jadi membenciku karena sakit hati atau justru jadi patah hati”.
“Apa yang menyebabkanmu begitu mencintainya? Apa karena orangnya tampan?”.
“Dikatakan tampan sekali tidak, dan dikatakan jelek juga tidak”, sahut Pertiwi.
“Kalau begitu tentu dia orang kaya”.
“Samasekali tidak. Bahkan hidupnya sangat sederhana”.
“Lalu apanya yang kau nilai?”, tanya Suwarno.
“Hatinya Warno, dan kedewasaannya berpikir”.
Percakapan itu terus berlangsung sepanjang perjalanan. Mereka tidak menyadari kalau sejak tadi seorang pengendara motor terus mengikutinya tidak terlalu jauh di belakang mobil mereka.
Tiba di depan gedung besar mewah tempat tinggal Pertiwi, Suwarno menghentikan mobilnya. Pertiwi turun.
“Kau tidak singgah dulu Warno?”, tanya Pertiwi.
“Tidak. Bukankah kau akan terus melatih karate? Kalau aku singgah pasti kau terlambat”, sahut Suwarno dan sejenak kemudian mobilnya bergerak meninggalkan si gadis.
Pertiwi pun melangkah masuk halaman melewati pintu teralis kecil di samping pintu besar tempat lewat mobil. Dia tidak memperhatikan samasekali penunggang motor yang berhenti beberapa meter di belakang mobil Suwarno tadi, sehingga orang itu mendengar percakapan terakhir mereka. Orang itu membuka topi helmnya, dan tampak seraut wajah berjambang bauk lebat yang tidak terpelihara, sehingga klihatan kotor.
Orang itu berjongkok di samping motornya dan membuka businya, lalu memperhatikan busi tersebut. Setelah lebih dari setengah jam dan tak seorang pun tampak keluar dari gedung itu, dia menghampiri pintu gerbang dan menekan bel di pilar pintu. Tak lama kemudian seorang lelaki berkopiah hitam berusia sekitar 50-an muncul
“Selamat sore Pak. Maaf saya ingin bertanya, apa Bu Dokter Pertiwi ada di rumah?”, tanyanya.
“O, baru saja berangkat lagi, mungkin ke rumah yatim-piatu. Aden telat sedikit”, sahut orangtua itu.
“Kalau begitu biarlah saya akan mencoba mengejarnya ke sana”, kata orang berjambang bauk itu. Dia pun kembali ke motornya. Sejenak kemudian motor itu telah meluncur meneruskan perjalanannya tanpa tergesa-gesa.
Selama motornya bergerak menyusuri pagar gedung besar itu, matanya mempergatikan kalau-kalau ada jalan lain selain pintu gerbang tadi. Wajahnya menampilkan keheranan, karenan dia tidak menemukan pintu lain.
“Apa lewat jalan belakang?”, tanya hatinya. Dengan timbulnya pikiran itu, dia menjalankan motornya menyusuri jalan tersebut, dan membelok di persimpangan pertama yang ditemuinya. Matanya terus juga mengawasi kalau-kalau ada gang yang bisa dimasukinya.
Sejenak dia menghentikan motornya di dekat selokan kecil yang menjadi batas belakang deretan gedung. Jalan parit itu terantuk pada tembok berbentuk persegi yang dibangun di atas parit. Tidak ada jalan yang bisa dilalui kendaraan, kecuali jalan setapak di kedua sisi parit yang sempit dan jarang diinjak orang.
Dia menjalankan lagi motornya menyusuri jalan itu. Tiba di belokan pertama yang ditemuinya, motornya pun membelok lagi, sehingga dia menyusuri jalan itu melingkar ke jalan lain di belakang deretan gedung tadi. Tiba-tiba matanya terpaku pada nama di depan bangunan besar dan panjang yang berbunyi RUMAH YATIM-PIATU DARMA PERTIWI.
“Inilah rupanya rumah yatim-piatu yang dimaksudkan tadi”, gumamnya, “pantas saja aku tidak melihat dia keluar. Pasti rumah yatim-piatu ini berada di belakang gedung besar itu”.
Tetapi orang berjambang bauk itu tiodak menghentikan motornya. Baru ketika telah melewati rumah yatim-piatu yang besar itu, dia memutar kembali motornya, dan berhenti tidak terlalu jauh di seberang pintu halaman rumah yatim-piatu. Kembali dia berjongkok di samping motornya yang distandar seperti melihat-lihat mesin motor itu, tetapi matanya tidak pernah lepas memperhatikan rumah yatim-piatu itu.
Suatu saat pintu depan rumah yatim-piatu itu terbuka. Di ambangnya muncul seorang perempuan berpakaian kebaya dan kain batik lusuh, serta berkerudung kepala kain batik lusuh pula. Sebelah wajahnya tampak memar biru, dan di tangannya menjinjing tas plastik besar yang menggembung. Dialah Mpok Tiwi. Pengendara motor yang memperhatikan diam-diam itu memandang lekat ke wajahnya.
Seorang wanita muda lain muncul pula di ambang pintuketika Mpok Tiwi turun ke halaman.
“Wiwi, kau masih juga melakukan pekerjaan ini setelah bertunangan?”, tanya wanita itu yang tidak lain dari Susi.
“Ya Sus”, sahut Mpok Tiwi.
“Sampai kapan?”.
“Entahlah Sus. Aku sudah lama melakukannya, sehingga sudah terbiasa. Tolong bantu Ibu menggantikan aku selama aku pergi”.
“Jangan khawatir. Kalau aku lagi tugas ke luar, tentu Maya kupesankan juga”, kata Susi.
Mpok Tiwi mengangguk. Sejenak kemudian dia telah berjalan menyusuri jalan besar dengan diperhatikan oleh Susi sampai hilag di tikungan. Ketika Susi berbalik, orang berjambang bauk itupun menghidupkan motornya mengikuti ke arah menghilangnya Mpok Tiwi tadi. Nampaknya pengendatra motor itu cukup sabar mengikuti langkah-langkah Mpok Tiwi.
Ketika tiba di tempat mangkal Marjan dan kawan-kawannya, Mpok Tiwi masuk dan duduk pada bangku di depan tempat jualan Bu Minah.
“Apa kabar Kak Minah?”, tanya Mpok Tiwi.
“Alhamdulillah Dik Tiwi”, sahut Bu Minah.
Marjan yang sedang melayani pembeli berpaling. “He, Mpok kiranya. Kemana saja beberapa hari ini Pok?”, tanyanya.
“Biasa cari rejeki”, sahut Mpok Tiwi.
“Mpok mau pesan apa, es campur atau gado-gado atau bakso?”, tanya Marjan lagi.
“Es saja. Aku mau makan gado-gado”.
Sementara itu sambil membuat gado-gado, Bu Minah berkata hampir berbisik: “Dik Tiwi, kemarin tempat tinggal kita mulai didatangi tukang pungut pajak liar. Mereka menetapkan pajak 100 perak tiap dua hari untuk setiap gubuk. Katanya mereka akan jadi penjaga keamanan kampung”.
“Apa kalian beri?”.
“Kita tidak dapat menolak. Mereka orang-orang kasar dan membawa-bawa pisau”, sahut Bu Minah.
“Berapa orang mereka?”.
“Tiga orang. Dik Tiwi juga mungkin besok akan melihat mereka. Mereka benar-benar tidak punya rasa kasihan samasekali. Sampai Pak Sukra yang hanya punya uang 100 perak pun diambil semuanya”.
Dulah yang berjualan es campur menghampiri Mpok Tiwi sambil membawa semangkuk es dan ditaruh di meja depan Mpok Tiwi, sementara bibirnya berdesis: “Pok, tempat tinggal kita mulai gawat”.
“Aku sudah mendengar dari Kak Minah”, sahut Mpok Tiwi.
“Tolong Mpok pikirkan jalan keluarnya. Kasihan tetangga-tetangga kita”, kata Dulah lagi, tetapi kemudian dia kembali ke tempat dagangannya.
“Sulitnya, mereka mengancam kalau kita berani melaporkan kepada yang berwajib”, kata Bu Minah menambahkan.
“Kalau begitu aku juga tidak tahu cara mengatasinya. Tetapi baiklah aku akan memikirkan jalan keluarnya”, sahut Mpok Tiwi.
Dalam pada itu Bu Minah telah selesai membuat gado-gadonya. Ketika dia menaruh piring gado-gado di depan Mpok Tiwi, sepasang muda-mudi masuk dan duduk di samping Mpok Tiwi.
“Gado-gadonya dua Pok, yang pedes”, kata yang lelaki.
“Baik Den”, sahut Mpok Minah.
Mpok Tiwi pun mulai makan tanpa bicara, sementara pembeli lainnya di tempat Marjan, Udin, dan Dulah pun bergiliran keluar-masuk. Selesai makan gado-gado Mpok Tiwi mengambil mangkuk es campur. Selesai minum es, Mpok Tiwi bangkit dari duduknya, sementara pembeli gado-gado sudah bertambah lagi. Mpok Tiwi menyelipkan uang 500 perak di bawah mangkuk es campur.
“Aku pulang dulu Kak Minah”, kata Mpok Tiwi.
Bu Minah mengangguk. Mpok Tiwi berlalu sambil menjinjing tas plastiknya. Dia berjalan memasuki lorong menuju ke pondoknya.
Hari terus juga merayap makin sore dan semakin sore. Para penghuni gubuk menyalakan lampu-lampu ketika senja mulai turun.Tidak ada kejadian yang menarik sampai malam larut.
Matahari belum lama naik ketika di ujung lorong ke arah perkampungan kumuh itu muncul seorang lelaki tua yang seluruh rambutnya sudah putih, mendorong roda sampah butut penuh dengan potongan papan dan kayu bekas dengan langkah-langkah berat. Semua rambut yang tumbuh di wajahnya juga, mulai dari alis, kumis, jenggot dan jambangnya yang lebat hampir putih semuanya.
Tak lama kemudian dia sudah sampai di deretan gubuk-gubuk itu. Matanya memperhatikan tempat yang masih kosong. Kebetulan tempat itu ditemukan di antara gubuk Pak Sukra dan pondok Mpok Tiwi. Karena itu dia menghentikan rodanya di depan gubuk Pak Sukra. Tetapi gubuk itu terkunci, karena Pak Sukra sudah berangkat pagi-pagi sekali. Melihat pondok Mpok Tiwi terbuka, lelaki tua itu menghampirinya.
“Assalaamu’alaikum!”, serunya sambil berdiri di depan pondok Mpok Tiwi.
“Alaikum salam”, sahut Mpok Tiwi dari dalam, dan sesaat kemudian orangnya muncul.
“Ada yang bisa aku bantu Pak?”. Mpok Tiwi bertanya.
“Bapak bermaksud tinggal di sini. Kepada siapa Bapak harus meminta izin?”, sahutnya.
“Bapak dari mana?”.
“Dari gerbong di Senen. Sekarang Bapak sudah tua, tidak kuat lagi terlalu banyak kerja. Di sini cocok, ada kali. Bapak bisa mancing”.
Mpok Tiwi berpaling ke gubuk Pak Sukra yang tampak terkunci.
“Itulah tempat tinggal tetua kami di sini, namanya Pak Sukra. Sayang dia rupanya sudah berangkat. Tetapi tidak apa. Bapak bisa melapor nanti ketika dia pulang. Sekarang mumpung masih pagi, Bapak bisa mulai membuat tempat berteduh. Silahkan Bapak memilih tempatnya”, kata Mpok Tiwi.
“Terimakasih Nak. Bapak bermaksud membuatnya di samping pondokmu, apa boleh?”.
“Silahkan Bapak”, sahut Mpok Tiwi, “nama Bapak siapa?”.
“Terimakasih. Nama Bapak Darwi”, katanya.
Orangtua itupun kembali ke gerobak dorongnya dan mulai membongkari barang-barang yang dibawanya. Mpok Tiwi membantunya karena kasihan melihat keadaannya yang sudah tua. Pekerjaan membuat gubuk itu tidak terlalu sulit, karena asal tempel dan tidak terlalu besar pula. Untuk atapnya adalah lembaran-lembaran seng yang sudah tua dan bolong di sana-sini. Lewat tengah hari gubuk yang amat sederhana itu sudah selesai. Sementara Pak Darwi membereskan bagian dalam gubuknya, Mpok Tiwi kembali ke pondoknya. Tetapi tak lama kemudian dia sudah balik sambil membawa termos air dan sepiring ubi rebus yang masih panas.
“Ini ada ubi rebus Pak, lumayan. Kulihat Bapak dari tadi belum makan”, kata Mpok Tiwi sambil menaruh bawaannya di depan gubuk Pak Darwi.
“Terimakasih Nak. Bapak juga bawa singkong. Tapi Bapak ingin cepat selesai dulu, sehingga tidak sempat memakannya”, sahut Pak Darwi, “sekarang hati Bapak sudah tenang. Ternyata pekerjaan cepat selesai berkat bantuanmu”, sambungnya, dan orangnya keluar sambil membawa cangkir kaleng serta singkong yang dibungkus dengan daun pisang.
“Wah ubinya masih hangat”, ujarnya pula ketika melihat ubi pada piring seng itu masih mengepul.
“Baru saja kuangkat dari rebusan”, sahut Mpok Tiwi.
Mereka duduk bersandar pada dinding gubuk di sebelah menyebelah pintu. Tanpa segan-segan Pak Darwi mengambil sepotong ubi dan memakannya. Mpok Tiwi pun mengambil sepotong. Mereka menikmati ubi hangat itu sambil bercakap-cakap.
“Siapa namamu Nak?”, tanya Pak Darwi.
“Tiwi, Bapak”.
“Sudah berapa lama tinggal di sini?”.
“Wah aku tidak pernah menghitungnya. Mungkin dua tahun lebih”, sahut Mpok Tiwi.
“Kelihatannya di sini keadaannya tenang dan aman”.
“Benar Pak. Aku juga kerasan di sini karena suasananya tenang. Tetapi kemarin kudengar tempat ini mulai didatangi preman pemungut pajak liar. Mungkin...”.
“Apa? Pemungut pajak liar?!”, potong Pak Darwi dengan mata membelalak. Lalu sambungnya: “Wah gawat. Bapak pindah dari Senen justru karena sudah tidak tahan oleh pungutan pajak liar. Wah kalau begini akhirnya akan sama saja. Bapak lupa menanyakan soal itu sebelum membuat gubuk tadi. Sekarang sudah kepalang. Ah, bagaimana ya?”.
Mpok Tiwi tidak menyahut. Kepalanya menunduk seperti sedang mencari pemecahan. Pak Darwi menatapnya dalam-dalam.
“Mengapa kau diam Nak? Apa kau punya cara untuk mengatasi soal itu? Sebab jika dibiarkan lama-lama, mereka akan semakin berani seperti di tempat lama Bapak. Mulanya mereka minta selawe sehari. Sekarang sudah 150 perak perhari, dan orang-orang semakin ketakutan, karena mereka mengancam semakin kasar. Ketika ada orang yang tidak memberi karena memang tidak punya uang, orang itu dihajarnya”, kata Pak Darwi.
“Aku pikir apa yang Bapak katakan adalah benar. Sebelum mereka lebih berani, kita harus sudah bisa menghentikannya. Di sini aku melihat kemungkinan itu. Tempo hari ketika ada orang yang bermaksud menggangguku, semua penghuni di sini membelaku, sehingga si pengganggu itu tidak berani datang lagi”.
“Ah benarkah?”, tanya Pak Darwi dengan mata bersinar. Lalu sambungnya: “Kalau begitu masih ada harapan. Di tempat Bapak para penghuninya tidak mau bersatu. Waktu pertama mereka memungut pajak itu, Bapak mencoba melawan. Tetapi Bapak dibiarakan sendiri, sehingga mengalami luka parah. Sudah itu masih disalahkan, larena mereka melipatkan pungutannya”.
“Apa Bapak mau membantu kalau aku melawan mereka?, tanya Mpok Tiwi.
Pak Darwi terkejut dan memandang Mpok Tiwi seperti tidak percaya pada pendengarannya.
“Kau berani melawan mereka Nak?”.
“Dulu aku pernah belajar silat sedikit. Kukira aku masih belum lupa”, sahut Mpok Tiwi.
“Bagus. Bapak juga bisa silat sedikit. Karena itu dulu Bapak berani melawan mereka. Sayangnya mereka lebih banyak dan bersenjata pula”.
Kini sepasang mata Mpok Tiwi mulai bersinar. “Terimakasih Bapak. Rupanya Bapak telah memberi jalan kepada kita melalui kehadiran Bapak di sini. Kalau begitu, nanti aku akan menghubungi semua tetangga untuk memberitahukan rencana kita. Sekarang aku akan sholat lohor dulu Bapak”, ujar Mpok Tiwi sambil bangkit.
“Silahkan Nak Tiwi. Bapak menyusul nanti setelah membereskan di dalam”, sahut Pak Darwi.
Begitulah. Siang itu Mpok Tiwi mendatangi setiap gubuk yang ada orangnya dan memberitahu rencana melawan para pemungut pajak liar itu. Mulanya mereka ragu-ragu. Tetapi setelah dijelaskan bahwa dia bisa silat sedikit dan akan dibantu oleh tetangga baru mereka, akhirnya semuanya setuju.
“Pak Didi dan yang lain-lain tunggu saja dulu sampai aku dan Pak Darwi memulai”, ujar Mpok Tiwi kepada orang yang dulu membantunya ketika dua orang pemuda bermaksud mengganggunya.
“Baik Pok. Memang kita harus sekarang menghentikannya sebelum mereka semakin berani. Tetapi kau harus hati-hati Pok, karena mereka membawa senjata”, kata Pak Didi.
“Kita berdoa kepada Tuhan. Mudah-mudahan kita dapat mengatasi mereka dan kita sendiri mendapat perlindungan daripadanya”.
Semua orang yang mendengar kata-kata Mpok Tiwi menganguk-anggukkan kepala, meski hati mereka menjadi berdebar-debar.
Haripun merayap terus. Ternyata ketika matahari sudah sangat rendah di ufuk barat, ketiga orang pemungut pajak liar itu muncul. Dua di antara mereka menimang-nimang pisau di tangannya, sementara yang seorang mengerjakan pungutan itu. Para penghuni yang gubuknya di sebelah ujung deretan gubuk-gubuk tidak banyak bertingkah. Mereka memberikan apa yang dimintanya. Satu dua orang masih meminta keringanan. Tetapi ketika dua orang yang memegang pisau memelototi mereka, dengan wajah ketakutan mereka terpaksa memberikannya.
Akhirnya ketiga orang itu sampai di pondok Mpok Tiwi, yang sat itu orangnya sedang duduk di depan gubuk sambil menjahit baju yang sobek. Mpok Tiwi mengangkat wajahnya ketika ketiga orang itu menghampiri. Begitu pula Pak Darwi yang tengah menutupi celah-celah gubuknya yang masih bolong.
“Pajaknye Pok”, kata orang yang tugasnya memunguti.
“Pajak apa?”, tanya Mpok Tiwi sebelum mengetahui.
“O gue lupe. Dua ari nyang lalu Mpok kagak ada di rume. Jadi Mpok harus bayar lipat, 200 perak”, sahutnya.
“Iya pajak apa? Aku tidak pernah telat bayar pajak sama Pemerintah”.
“Pajak keamanan Pok. Karang kami nyang jage keamanan di sini”.
“Keamanan?”, tanya Mpok Tiwi sambil menaruh baju yang sedang dijahitnya, “sejak kapan kalian jadi penjaga keamanan kami? Siapa yang mengangkat kalian? Kok aku tidak tahu”.
“Jangan banyak bacot. Pokoknye mau bayar kagak?”, kata salah seorang yang menimang-nimang pisau dengan mata melotot.
Mpok Tiwi bangkit, sementara mulutnya masih menyahut: “Lho kalian ini penjaga keamanan atau pemeras?”.
“Ape lu bilang Sundal? Pemeras? Ape lu pengen ini?”, kata yang memegang pisau dengan mata semakin melotot, sementara pisau yang dipegangnya digerak-gerakan di depannya.
“Lalu kalau bukan pemeras, kenapa kalian main ancam segala?”, tanya Mpok Tiwi lagi dengan berani.
“Bangsat! Lu berani ngelawan ya?!”, teriak si pemegang paisau sambil meloncat ke depan. Tetapi bersamaan dengan itu Mpok Tiwi pun meloncat ke tempat lapang sambil membuka kain yang dipakainya dan dilemparkan begitu saja.
Ketiga orang itu serempak membalikkan tubuhnya menghadap Mpok Tiwi yang berdiri mengangkang kaki, mengenakan celana panjang longgar dari bahan karung terigu. Sejenak ketiga orang itu agak terkejut melihat sikap Mpok Tiwi.
“Ada apa Nak Tiwi?”. Pak Darwi bertanya sambil melangkah mendekati Mpok Tiwi.
“Mereka mau memerasku Pak”, sahut Mpok Tiwi tanpa melepaskan tatapannya dari ketiga orang itu.
“Ah benarkah? Kalau begitu kita tangkap saja. Kita serahkan kepada polisi”, ujar Pak Darwi, dan dia pun mulai bersiap.
Ketiga orang itu saling pandang sejenak. Kemudian si pemungut uang menarik belati dari pinggangnya, dan mulutnya berdesis: “koitin keduanya, sekarang”.
Begitu selesai kata-katanya. Ketiga orang itu menghambur menerjang lawan. Seorang menyerang Mpok Tiwi, dan yang dua orang lagi menyerang Pak Darwi. Mpok Tiwi bergeser ke samping, sementara tangannya menetak pergelangan tangan penyerangnya yang memegang pisau. Orang itu memekik dan tanpa dikehendakinya, pisau yang dipegangnya terlepas. Sementara Mpok Tiwi memutar tubuh dan kakinya menjulur menghantam pinggang lawan dengan telak, sehingga tubuh orang itu terjengkang dan terpelanting jatuh di tanah.
Di sebelah lain, Pak Darwi menghadapi serangan kedua lawannya dengan merendahkan tubuhnya. Bersamaan dengan itu, kedua kepalan tangannya dihentakkan memukul pergelangan tangan dua lawannya yang memegang pisau. Dua suara memekik terdengar serempak, karena mereka merasakan pergelangan tangannya bagai retak, dan pisau yang dipegangnya terlempar.
Pak Darwi langsung menjatuhkan dirinya dan kedua kakinya menendang lutut kedua penyerangnya, sehingga mereka tersentak dengan mulut menyeringai, dan tubuh mereka terlontar ke atas oleh dorongan telapak kaki Pak Darwi pada perut mereka, melewati tubuh Pak Darwi dan ambruk di tanah.
Ketika Mpok Tiwi memasang kuda-kuda lagi dan Pak Darwi meloncat bangkit untuk bersiaga kembali menghadapi lawan-lawan mereka, keduanya terpaku dengan mata terbelalak. Karena tiba-tiba saja mereka melihat beberapa orang lelaki telah berada di hadapan ketiga pemeras itu yang baru akan bangkit dari jatuhnya. Parahnya lagi, di tangan mereka terpegang kayu dan besi pemukul yang langsung menghajar ketiganya. Sementara orang-orang lainnya masih banyak yang berlarian menghampiri dengan alat pemukul masing-masing.
Tanpa berunding lebih dulu, Mpok Tiwi dan Pak Darwi meloncat kepada kerumunan orang yang sedang menghajar ketiga pemeras itu.
“Hentikan! Hentikan!”, teriak keduanya hampir serempak. Tangan mereka menyibakkan orang-orang yang terus juga bertambah. Dengan susah-payah keduanya menyadarkan orang yang berkerumun.
“Sudah! Sudah! Mereka bisa mati dan kita akan dipenjara!”, teriak Mpok Tiwi sebagaimana yang pernah dilakukannya pada peristiwa sebelumnya.
Sesungguhnyalah teriakan itu berhasil menyadarkan orang-orang yang marah oleh perbuatan ketiga pemeras itu. Ketika orang-orang sudah mulai menyibak, tampaklah tubuh ketiga pemeras itu terbaring diam dengan wajah mereka penuh darah. Ternyata keadaan mereka jauh lebih parah dari yang terjadi dengan dua orang pengganggu terdahulu.
“Mudah-mudahan mereka tidak mati”, kata Mpok Tiwi sambil berjongkok untuk memeriksa. Begitu pula Pak Darwi. Sementara orang-orang yang mendengar kata-kata Mpok Tiwi pada berubah wajahnya.
“Apa mereka mati?”, tanya salah seorang dari kerumunan.
“Hampir, sudah setengah mati”, sahut Pak Darwi.
“Pingsan”, kata Mpok Tiwi membetulkan. Kemudian dia bangkit dan melangkah ke pondoknya, sementara Pak Darwi berusaha menyadarkan mereka dengan menggerak-gerakan kedua tangannya ke atas dan ke bawah. Perbuatan itu dituruti oleh orang lainnya terhadap dua kawannya.
Tak lama kemudian Mpok Tiwi datang lagi dengan membawa rantang berisi air hangat dan lap serta obat luka, di samping sebotol minyak wangi eau de cologne. Dia mengoleskan minyak itu pada hidung ketiga orang yang pingsan itu. Tak lama kemudian ketiganya mulai sadar. Tetapi setelah sadar, mereka merasakan kesakitan di seluruh tubuhnya, sehingga mulutnya terus merintih-rintih.
Mpok Tiwi mulai membersihkan luka-luka di wajah mereka. Ternyata luka itu cukup parah. Begiru pula tangan mereka penuh goresan yang mengeluarkan darah. Dengan telaten Mpok Tiwi mengobati ketiga pemeras itu, disaksikan oleh sebagian penghuni. Sementara sebagian yang lainnya pada kembali ke pekerjaan masing-masing.
“Pak Sukra, apa mereka kita bawa ke polisi?”, tanya Pak Darwi sementara Mpok Tiwi membereskan alat-alatnya.
“Jangan Pak. Ampuuun, jangan dibawa ke polisi”. Tiba-tiba orang yang tuagasnya memunguti uang itu berteriak. Ketiga mereka berusaha bangkit dengan susah payah.
“Ya, serahkan saja ke polisi. Biar mendapat siksaan di dalam tahanan”, teriak salah seorang di dalam kerumunan.
“Ampuuun Pak ampuuun. Jangan dibawa ke polisi. Aye sumpe, kagak bakal melakukan lagi. Ampuuun”.
“Baiklah kita bawa ke kantor polisi”, kata Pak Sukra memutuskan.
Ketiga orang itu tiba-tiba bersujud di depan Pak Darwi sambil menangis merintih-rintih. Benar-benar menangis, sehingga semua orang yang mengerumuninya jadi keheranan.
“Ampuuun Pak ampuuun. Tolong jangan dibawa ke polisi. Aye sumpe, kami sumpe ude kapok. Ampuuun Pak ooo”.
Sejenak Pak darwi dan Pak Sukra saling pandang. Tetapi kemudian Pak Darwi berkata: “Pak Sukra, biarlah kali ini kita ampuni mereka. Kalau mereka berani datang lagi ke sini, aku yang pertama akan menghajar mereka hingga mampus”.
“Ampuuun Pak, aye kapok Aye kagak berani lagi”, ujara si kepala pemeras.
“Benar Pak Sukra. Biarlah kali ini kita ampuni”. Mpok Tiwi menambahkan, “aku juga berjanji akan menghajar mereka sampai mampus kalau berani datang lagi ke sini”
“Nah, kalian dengar hee?! Lain kali datang ke sini lagi, kalian bakal mampus, tahu?!”, kata Pak Sukra.
“Aye Pak. Aye kagak berani lagi, kapok”, sahut si kepala pemeras.
“Kalau begitu, cepat angkat kaki dari sini sebelum aku merubah keputusan”, bentak Pak Sukra, “cepat!!!”.
Bagai orang-orang ayang kena strum listrik, ketiga pemeras itu bangkit tergesa-gesa dengan mulut menyeringai. Karena sesungguhnya mereka merasakan kesakitan yang menghentak di sekujur tubuhnya. Mereka bertiga saling memapah berlalu meninggalkan tempat itu. Pak Darwi memunguti tiga pisau pemeras tadi dan diserahkan kepada Pak Sukra untuk disimpan. Setelah ketiga pemeras itu hilang di balik tembok lorong, Pak Sukra berkata ditujukan kepada Mpok Tiwi.
“Nak Tiwi. Ternyata kau benar-benar penolong kami dalam segala hal. Kau adalah dokter kami, guru anak-anak kami, penasihat kami, dan sekarang kau penjaga keamanan kami. Aku atas nama seluruh penghuni, untuk kesekian kalinya harus mengucapkan terimakasih”.
“Sudah kewajiban kita semua untuk bertolong-tolongan Pak Sukra. Aku hanya sekedar berusaha. Tuhanlah yang telah menyelamatkan kita semua”, sahut Mpok Tiwi.
“Dan kau Pak Darwi. Di hari pertama kau tinggal di sini, telah membuat jasa besar kepada penghuni. Karena itu dengan gembira, kami menyambut kehadiran Pak Darwi di lingkungan kami”, kata Pak Sukra.
“Aku juga mengucapkan terimakasih, karena Bapak dan para saudara di sini telah memberi izin kepadaku untuk tinggal bersama kalian”, sahut Pak Darwi.
“Tidak perlu berterimakasih kepada kami. Siapa pun dapat tinggal di sini, asal mau menyesuaikan diri dengan lingkungan kita yang menghendaki ketenteraman”, kata Pak Sukra.
“Mudah-mudahan aku dapat memenuhinya Pak Sukra”, sahut Pak Darwi.
Dalam pada itu orang-orang yang berkerumun pun bubaran pula. Pak Darwi kembali ke depan gubuknya, begitu pula Mpok Tiwi kembali duduk di depan pondoknya meneruskan pekerjaannya yang terganggu, menjahit pakaian yang robek.
“Rasanya aku bakal kjerasan tinggal di sini Nak Tiwi. Suasana di sini jauh berbeda dengan di tempat lama Bapak”, kata Pak Darwi dari tempat duduknya di muka pintu gubuknya.
“Aku juga kerasan Pak. Aku pernah tinggal di beberapa tempat, tetapi suasananya tidak sebaik suasana di sini”, sahut Mpok Tiwi.
---ooooo000ooooo---
Tidak ada komentar:
Posting Komentar