Selasa, 31 Mei 2011

Novel 4 Dimensi - Dimensi 2 WAJAH-WAJAH 5


Lima
Aku Langganan Baru Bossmu
        “Aku bukan bermaksud melarikan diri”, sahut Mpok Tiwi kepada dua orang lelaki berwajah keras dan berkacamata hitam yang berdiri di depan pondoknya dengan sikap mengancam., sementara tangannya mengeluarkan tas kecil yang berisi bungkusan tepung putih dari tas plastik besarnya, dan menyodorkan kepada kedua orang itu.
        “Lalu kenapa kau menghilang selama lima hari?”, tanyanya, sementara kawannya yang menerima barang itu membuka tas yang disodorkan Mpok Tiwi, dan mengambil sedikit bubuk putih itu lalu dijilatnya.
        “Sudah kubilang. Aku punya pekerjaan di tempat orang kenduri. Karena kalian menitipkan dengan mengancam, aku takut tas itu hilang kalau di simpan di sini, maka aku bawa. Aku tidak diberi kesempatan untuk menolak titipan kalian, karena kalian langsung pergi”, sahut Mpok Tiwi.
        Sebelum bicara lagi, orang itu berpaling kepada kawannya. Yang dipandang menganggukkan kepalanya, sementara mulutnya berkata: “Asli dan tidak kurang sedikit pun”.
        “Kalau lain kali kami menitipkan lagi kepadamu, kau tidak boleh menolak Pok”, kata orang itu lagi.
        “Jangaaan. Aku tidak mau menerima titipan lagi. Selama tas itu ada di tanganku, aku tidak bisa tidur nyenyak karena takut hilang. Kalian mempersulit aku. Lebih baik kalian titipkan kepada orang lain saja”.
        “Justru karena itu, kau punya rasa tanggung jawab kepada barang titipan. Karena itu kami tetap akan menitipkan kepadamu”.
       “Tidak. Aku tidak mau lagi. Kalau kalian terus-terusan menitipkan kepadaku, hidupku tidak akan bisa tenang selamanya”, kata Mpok Tiwi.
       “Kau tidak bisa menolaknya Pok. Kalau kau menolak, kau tidak akan hidup lama lagi. Sama dengan kalau kau menghilangkan barang titipan itu, nyawamu juga yang jadi gantinya. Kau tidak punya pilihan lain lagi, karena salahmu sendiri kenapa berhubungan dengan kami”. Orang itu mengancam.
       “Bukan mauku. Kalian sendiri yang memaksakan menitipkan barang itu kepadaku. Bagaimana kalian bisa menyalahkan aku? Bukankah sekarang pun aku menolaknya?”.
       “Sudahlah. Pokoknya kau sudah berhubungan dengan kami, dan kau tidak bisa menolaknya lagi. Juga jangan coba-coba kau menceritakan kepada siapapun, apalagi kepada polisi. Sebab kalau kau lakukan itu, kau akan lebih cepat mati, mengerti?”.
       Tanpa bicara lagi orang itu berlalu diikuti oleh kawannya. Mpok Tiwi menunduk, tetapi matanya memperhatikan kedua orang itu dengan tajam. Sampai di pojok tembok lorong, kedua orang itu berpaling lagi kepada Mpok Tiwi yang masih tetap menunduk, sehingga mereka tersenyum karena mengira perempuan itu tengah menyesali keberadaannya dirinya.
       “Tanpa disangka-sangka kita mendapatkan pos yang sangat baik. Pasti si Boss akan gembira sekali. Aku yakin si Mpok itu tidak akan berani berbuat apa-apa lagi kecuali menerima titipan kita dengan penuh tanggung jawab”, kata orang yang bicara dengan Mpok Tiwi kepada kawannya sambil meneruskan langkahnya.
       “Ya, bahkan aku yakin si Boss akan menyediakan upah baginya setiap kali menitipkan untuk memperkuat rasa tanggung jawab si Mpok. Dan kita bisa memotong upah itu sebagian untuk tambahan penghasilan kita”.
       “Aku setuju. Dengan diberi upah, si Mpok tidak akan merasa dipaksa lagi. Bahkan dia akan menjaga barang dan rahasia kita dengan sebaik-baiknya”.
       Dalam pada itu ketika kedua orang yang diperhatikannya menghilang di balik tembok, Mpok Tiwi bergegas membereskan barang-barangnya dan memasukkan ke dalam tas plastiknya. Setelah mengunci pondoknya, dia pun berlalu pula.
       “He mau ke mana lagi Pok? Bukankah baru tadi pagi kau datang?”, tanya Pak Sukra ketika Mpok Tiwi melewati gubuknya.
       “Aku disuruh datang ke rumah dua orang yang barusan ngobrol denganku, untuk menyeterika dan mencuci pakaian kotornya yang sudah menumpuk”, sahut Mpok Tiwi.
       “O tentu kau mendapat upah yang lumayan”, kata Pak Sukra lagi.
       “Benar Pak. Mereka orang royal”, sahut Mpok Tiwi pula. “Aku pergi dulu Pak Sukra”.
       “Silahkan”.
       Mpok Tiwi pun melanjutkan langkahnya dengan cepat. Setibanya di jalan raya, dia membelok ke sebuah rumah makan Padang yang cukup besar. Banyak juga orang yang sedang makan. Mpok Tiwi langsung ke bagian belakang, berpapasan dengan pelayan yang apada kedua lengannya berjajar enam buah piring berisi makanan.
       “Mau ke mana Pok?”, tanya pelayan itu sambil lalu.
       “Ke kamar kecil. Aku sudah tidak tahan lagi”, sahut Mpok Tiwi.
       Di belakang rumah makan itu terdapat beberapa buah WC berjajar, untuk wanita di sebelah kiri dan untuk pria di sebelah kanan. Kebetulan ketika Mpok Tiwi tiba, salah sebuah kamar kecil itu terbuka dan seorang gadis keluar. Mpok Tiwi langsung menggantikannya dan menutup pintunya. Sekitar lima menit kemudian, yang keluar dari kamar kecil itu adalah gadis urakan berambut kribo pirang berkaus oblong dengan jaket dan slack blujin. Pada puncak hidungnya terdapat tahi lalat hitam besar dengan make up yang mencolok, dan mengenakan sepatu lars tinggi.
       Sambil menjinjing tas plastik besar yang dibawa Mpok Tiwi tadi, dia menghampiri telepon umum di rumah makan itu, yang kebetulan pula sedang kosong. Tidak banyak yang menaruh perhatian atas kehadiran gadis urakan itu, karena banyaknya orang yang keluar-masuk dengan jenis dandanan yang beraneka ragam. Kalaupun ada yang memperhatikan adalah karena kebetulan melihat tubuhnya yang padat berisi dan agak lain. Tetapi ketika melihat wajahnya bertahi lalat besar dengan make up yang mencolok, orang yang memperhatikannya juga kemudian memalingkan pandangannya ke arah lain.
       Setelah memasukan uang logam ke kotak telepon, jari telunjuk gadis itu memutar beberapa nomor. Sejenak dia menunggu sambil matanya menyapu ke sekitar. Ketika sudah nyambung, dia bicara perlahan.
       “Widar di sini. Minta bicara dengan Pak Hendro”, katanya.
       “O kau Widar. Aku sendiri yang bicara. Apa mereka sudah datang?, sahut suara dari seberang.
       “Sekitar 10 menit yang lalu. Kukira malam ini mereka akan berkumpul untuk menyebarkannya. Kita dapat menjebak mereka sebelum barangnya tersebar”, kata Widar.
       “Oke. Sejam lagi hari gelap. Kami akan mulai mengepungnya”, sahut suara Inspektur Hendro.
       Widar meletakkan kembali telepon itu ke haknya, dan berlalu keluar dari rumah makan itu. Dia masuk ke sebuah garasi umum yang berada tidak jauh dari rumah makan itu, di mana dia menyewa garasi untuk mobilnya. Setelah duduk di belakang kemudi VW-nya, sejenak kemudian mobil itu pun meluncur di keramaian kota, menuju gedung yang pernah diincarnya lima hari sebelumnya.
       Malam mulai turun. Empat buah motor memasuki gedung yang ditandai Widar dalam selang waktu beberapa menit antara motor yang satu dengan yang lainnya. Ketika motor kelima membelok memasuki halaman gedung, Widar yang memparkir mobilnya di seberang jalan agak jauh dari gedung itu, turun dari VW-nya. Dia bergegas menyeberang jalan dan melangkah menuju gedung itu.
       Tepat ketika dia memasuki halaman, sebuah mobil patroli dan sebuah jeep polisi berhenti pula tidak jauh dari pintu halaman gedung tanpa menyalakan lampu. Sepuluh orang anggota polisi yang duduk berpunggungan di belakang mobil patroli itu berloncatan turun dari tempat duduknya sambil mempersiapkan pistol masing-masing. Sementara Inspektur Hendro turun dari Jeepnya. Melalui gerakan tangan dia membagi tugas anak buahnya agar menyebar ke sebelah-menyebelah pintu halaman.
       Widar terus melangkah menuju garasi di samping kanan gedung yang dimasuki kelima pengendara motor tadi. Begitu Widar memasuki garasi, Inspektur Hendro memberi isyarat kepada anak buahnya untuk berpencar di halaman gedung, empat ke kiri, empat ke kanan, dan dua tetap di depan  gedung.
       Sewaktu Widar memasuki garasi, tiba-tiba dari pintu dalam garasi yang berhubungan dengan gedung induk, muncul seorang lelaki bertubuh tinggi besar dan menghadangnya.
       “Mau ke mana Nona?”, tanyanya dengan nada berat semenyata matanya menatap dengan pandangan mengancam.
       “Aku langganan baru Bossmu. Tadi dia menelponku”, sahut Widar tanpa menghentikan langkahnya.
       “Bohong! Kalau benar Boss memanggilmu, pasti dia memberi ta...ugh!”.
       Orang itu tidak sempat meneruskan perkataannya, karena tiba-tiba saja Widar memutar tubuh dan sebelah kakinya menjulur menghantam dagu orang itu dengan keras. Tubuh orang itu terjajar ke belakang menumbuk dinding garasi dengan mengeluarkan dengusan kesakitan. Sebelum orang itu sempat memperbaiki dirinya, Widar telah memutar tubuhnya lagi, dan sekali lagi kakinya menimpa dada penghadangnya dengan telak. Selanjutnya gadis itu meloncat mendekat, dan sisi telapak tangan kiri-kanannya menghantam leher si penghadang dari dua arah dengan serempak. Dengan mengeluarkan suara menyenak di tenggorokannya yang terjepit kedua hantaman tadi, tubuh orang itu melorot jatuh sepanjang dinding, dan terduduk lemas dengan kepala terkulai di depan dadanya.
       Tanpa menengok lagi, Widar menyelinap masuk ke balik pintu, bersamaan dengan munculnya empat orang anggota polisi di garasi itu. Mereka pun langsung menyelinap ke balik pintu, dan hanya menengok sejenak kepada tubuh terkulai di dinding itu, yang kemudian jatuh meringkuk di lantai.
       Di balik pintu garasi terdapat sebuah gang menuju ke belakang dan sebuah pintu masuk ke gedung induk. Widar menyelinap ke pintu yang masuk ke gedung induk, diikuti oleh dua anggota polisi, sementara yang dua lagi menyusuri gang yang ke belakang. Dalam pada itu Inspektur Hendro yang mengikuti langkah Widar, sampai pula di garasi. Dia menghampiri orang yang meringkuk di lantai dan memasangkan borgol pada kedua tangannya, baru dia masuk menyelinap ke dalam.
       Pintu yang memasuki rumah induk itu pun langsung merupakan gang yang ujungnya bercabang ke depan dan ke belakang gedung. Widar membelok ke gang yang menuju ke belakang. Sementara dua anggota polisi yang mengikutinya masih mepet di dinding ujung gang.
       Inspektur Hendro yang muncul belakangan memberi isyarat kepada kedua anggota polisi itu agar memeriksa gang yang menuju ke depan. Dia sendiri menggantikan tempat mereka. Dia mengintai ke arah belakang. Tampak Widar sedang mepet di balik pintu mengintai ke dalam kamar. Tetapi sejenak kemudian tubuh gadis itu sudah menyelinap masuk.
       Inspektur Hendro pun melangkah cepat menggantikan tempat Widar tadi. Begitu dia melongok ke dalam, tampak Widar mundur dari sisi pintu sebelah dalam dan berdiri mepet di balik tirai pintu. Inspektur Hendro mendengar langkah-langkah kaki keluar dari kamar yang diintai Widar. Karena itu dia menanti dengan pistol siap di tangan.
       “Awas ada orang!”. Mendadak saja terdengar teriakan dari dua orang yang muncul di kamar itu, karena mereka melihat sepasang kaki Widar yang tidak tertutup tirai.
       Terdengar suara ribut. Widar yang menyadari dirinya telah diketahui, langsung meloncat menerjang orang yang berteriak tadi dengan tendangan kakinya. Sementara di dalam ruangan yang diintai Widar tadi terdengar teriakan lain yang memerintahkan lari dengan kode kata-kata “caw”, dan suara kaki pun berserabutan. Inspektur Hendro meloncat masuk dengan menodongkan pistol.
       Setelah menendang lawan dan melihat Inspektur hendro meloncat masuk, Widar meloncat ke ruangan yang banyak orang lari berserabutan. Langsung menjatuhkan diri dan menggelundung hampir bersamaan dengan bunyi tembakan pistol dari dalam dan menghantam dinding di sisi pintu. Memang ketika meloncat masuk, Widar melihat seorang berjambang bauk yang menjinjing tas echolac mengarahkan pistol kepada dirinya. Karena itu dia langsung menjatuhkan diri, justru menggelinding ke arah orang yang menembaknya, yang saat itu hampir mencapai pintu belakang untuk kabur. Dia juga masih sempat melihat beberapa orang lainnya lenyap di balik pintu. Tetapi ketika orang berjambang bauk meloncat ke pintu dan Widar hendak mengejarnya, dua orang lain menghadang.
       Karena itu terpaksa dia mengalihkan serangannya kepada dua penghadangnya. Terjadilah perkelahian seru. Tetapi tidak terlalu lama, karena Inspektur Hendro telah muncul pula. Dia dapat menangkap dua orang itu tanpa kesulitan samasekali, karena dengan todongan pistolnya, kedua orang itu langsung menyerah, dan diserahkan kepada dua orang polisi yang muncul di situ dan memborgolnya.
       Widar meninggalkan kedua lawannya setelah Inspektur Hendro masuk. Dia meloncat mengejar orang yang membawa tas echolac tadi. Dia sampai di sebuah kamar agak besar yang di dalamnya terdapat beberapa orang wanita dan lelaki muda yang tengah ‘fly’ tanpa mempedulikan keributan dan orang-orang yang berlarian melalui kamar itu.
       Widar masih sempat melihat orang yang membawa tas echolac tadi lenyap di balik pintu belakang. Sebelum mencapai pintu itu, telinganya mendengar teriakan perintah menyerah dari anggota polisi yang mengepung gedung. Ketika Widar sampai di luar, tampak beberapa orang mengacungkan tangan mereka dalam todongan pistol anggota polisi.
       Tetapi dalam kegelapan itu dia melihat tiga orang berlari menuju tembok halaman belakang, dikejar oleh seorang anggota polisi. Sebuah tembakan peringatan dari anggota polisi itu tidak diacuhkan. Maka anggota polisi itu mengarahkan tembakannya yang kedua ke salah seorang di antara mereka. Ketika letusan terdengar, orang yang berlari paling belakang mengaduh sambil memegangi pahanya, tetapi masih tetap berlari.
       Karena kakinya tertembak, lari orang itu kurang cepat, sehingga sebentar saja telah terkejar oleh anggota polisi yang menembaknya. Dengan sekali terjang orang itu tersungkur jatuh di bawah todongan pistol.
       Widar berlari cepat mengejar kedua orang yang terus kabur melewati pintu halaman belakang. Dia terpaksa bertiarap ketika begitu keluar dari pintu, dua buah tembakan pistol berturut-turut meletus dan pelurunya berdesing di atas kepalanya menghantam tembok. Ketika bangkit mengejar lagi, kedua orang itu telah berlari jauh di sepanjang pinggiran selokan buangan. Tetapi Widar terus mengejarnya sambil tangannya merogoh ke dalam saku jaketnya. Sejenak kemudian tangannya telah menggenggam pistol kecil kaliber 33. Karena kedua orang yang dikejarnya hampir mencapai ujung, maka Widar menembakkan pistolnya. Tetapi tembakannya luput, dan kedua orang itu telah mencapai ujung tembok. Sekali lagi Widar menembak, juga luput, karena buruannya telah membelok di jalan besar. Namun Widar masih terus mengejarnya.
       Ketika dia sampai di ujung tembok, kedua orang yang dikejarnya hampir mencapai persimpangan. Akhirnya dengan lunglai Widar membalikkan tubuhnya kembali ke jalan semula. Dari jauh tampak seseorang berdiri memandanginya. Dia adalah Inspektur Hendro.
       “Kakapnya lari, kita hanya menangkap teri”, kata Widar setelah sampai di depan Inspektur Hendro.
       “Apaboleh buat”, sahut Inspektur Hendro. Sambil berjalan balik ke gedung dia berkata: “Terinya juga lumayan, dan kita harus menghubungi orangtua mereka yang telah menjadi korban obat bius itu”.
       “Apa barangnya dapat disita?”, tanya Widar.
       ”Ya, lima kantong dari lima orang pengedar. Rupanya kita datang tepat ketika transaksi mereka selesai”, sahut Inspektur Hendro.
       “Syukurlah. Aku hanya berharap pada kesempatan yang akan datang, kita dapat menangkap kakapnya”.
       Inspektur Hendro menghela nafas. Lalu ujarnya: “Entahlah Widar. Aku pesimis, karena hingga saat ini kita tidak punya insformasi yang pasti. Bukankah penggerebegan saat ini juga kau dapatkan secara kebetulan?”.
       Sebenarnya Widar hendak memberitahukan pembicaraan tadi sore dengan pengambil barang terlarang itu. Tetapi tidak jadi, karena masih belum ada kepastian. Sementara itu mereka telah sampai di gedung. Para tawanan sudah dikumpulkan di depan gedung. Begitu pula anak-anak remaja yang sudah terjerumus jadi pecandu obat bius itu. Mereka sedang menanti kendaraan pengangkut.
       “Kapan kau bisa mulai melatih karate lagi?”, tanya Inspektur Hendro.
       “Mungkin baru bualan depan. Karena bulan ini masih punya beberapa urusan yang harus diselesaikan”, sahut Widar.
       “Apa demikian sibuknya, sampai kau tidak bisa meluangkan waktu meski hanya seminggu dua kali?”.



-----ooooooooo-----.



       “Sebenarnya bukan karena terlalu sibuk yang jadi penyebabnya. Tetapi waktu luang kita yang berbeda. Untuk sementara ini waktu luangku kebanyakannya pada pagi hari, sementara waktu luangmu sore hari sehabis pulang kerja”, sahut Pertiwi, “mungkin kau juga sudah tahu, sejak lama aku melatih karate sore hari di tiga tempat, masing-masing dua kali seminggu, di Fakultas, di Gedung Taruna, dan di kepolisian”, sambungnya.
       “Tetapi selama mempersiapkan pertunangan kita, dua kali aku menunggumu sampai malam, kau belum pulang juga”, kata Suwarno.
       “Aku minta maaf Warno. Saat ini aku sedang mempersiapkan diri untuk kenaikan tingkat. Aku harus berlatih keras, supaya ujian tidak diulang lagi”.
       Percakapan itu terjadi di ruang tamu antara Pertiwi dan Suwarno, calon tunangannya, sekitar pukul sembilan malam.
       “Aku tidak percaya. Alasanmu tidak kuat. Kau bilang tadi waktu luangmu kebanyakan pagi hari. Kenapa bukan pagi hari itu kau gunakan untuk latihan?”, tukas Suwarno sementara matanya menatap tajam kepada Pertiwi.
       Pertiwi balik menatap dengan tajam pula, tetapi ketika bicara dia menundukkan kepalanya.
      “Pagi hari juga aku berlatih Warno. Tetapi pelatihku hanya bisa mengawasi latihanku di malam hari. Karena siang ahari dia punya banyak kesibukan lain”, sahut Pertiwi.
       “O jadi latihan malam hari itu dilakukan hanya bersama pelatihmu. Apa tidak ada orang lain lagi yang melatihmu?”.
       “Maksudmu?”, tanya Pertiwi.
       “Kau latihan hanya bersama pelatihmu?”.
       “Ya, lalu kenapa?”.
       Wajah Suwarno menyemburat merah. Lalu katanya: “Aku minta, mulai besok malam kau hentikan latihan itu”.
       “Tentu. Besok malam aku tidak akan latihan, karena kita akan mengadakan upacara pertunangan di sini”, sahut Pertiwi pura-pura tidak mengerti maksud kata-kata Suwarno.
       “Maksudku bukan hanya malam besok. Aku bilang sejak malam besok. Aku adalah tunanganmu. Karena itu aku berhak melarangmu berbuat sesuatu yang tidak kusetujui”.
       “Alasannya?”, tanya Pertiwi masih dalam nada biasa.
       “Kau hanya berdua dengan pelatihmmu, di malam hari lagi. Siapa pun bisa bercuriga, apa kalian benar-benara melakukan latihan atau justru tidak samasekali”, sahut Suwarno.
       “Kalau bukan melakukan latihan, lalu apa yang kulakukan bersama pelatihku itu?”.
       Wajah Suwarno semakin menyemburat. “Justru aku mau tanya. Apa yang selalu kau lakukan bersama pelatihmu itu?”, tanyanya.
       “Bukankah aku tadi sudah memberi jawaban? Bukankah tadi aku bilang, aku melakukan latihan karate untuk kenaikan tingkat?”.
       “Aku tidak percaya!”, kata Suwarno dengan suara keras. Lalu, “karena itu aku melarangmu”.
       “Tetapi kau belum menanyakan kepadaku, apa pelatih itu laki-laki atau perempuan?”.
       Wajah Suwarno berubah. “Jadi...maksudmu, pelatihmu itu perempuan?”, tanyanya dengan gagap.
       “Kalau perempuan bagaimana?”.
       “Tentu saja aku tidak berkeberatan”, sahut Suwarno.
       “Tetapi pelatihku adalah laki-laki”.
       Wajah Suwarno semburat lagi. “Nah, benar dugaanku kan?”.
       “Dugaan yang mana Warno?”, tanya Pertiwi.
       Suwarno terdiam, tetapi wajahnya menggelap. Pertiwi tahu apa yang tersirat di hati pemuda itu. Dia menghela nafas. Rasanya terlalu sulit memberi pengertian terhadap pemuda berdarah panas itu. Maka dia menjelaskan seperti kepada anak kecil.
       “Warno”, katanya dengan nada datar, “aku telah mencoba berterus terang kepadamu dengan dengan mengatakan kalau pelatihku adalah laki-laki. Apa susahnya kalau aku mengatakan pelatihku itu perempuan, agar persoalan tidak berlarut-larut? Dan kau tidak akan menaruh curiga lagi kepadaku. Tetapi dengan demikian aku telah berbohong kepadamu, dan aku bisa melakukan apa yang kau curigai itu dengan tenang. Tetapi itu berarti, rasa saling mempercayai dan saling mengerti di antara kita hanya terjadi di mulut saja, sementara kenyataannya tidak”.
       Sejenak Pertiwi menghentikan kata-katanya untuk menghela nafas yang terasa sesak. Baru kemudian lanjutnya: “Dengan mengatakan pelatihku laki-laki, aku telah berterus terang. Dengan keterusterangan itu aku berharap kau mau mempercayaiku, bukannya mencurigaiku. Sebab di masa Orde Baru yang mulai berkiblat kepada kepuasan jasad sekarang ini, sebenarnya tidak ada bedanya antara pergaulan perempuan dengan perempuan, atau perempuan dengan lelaki, bahkan lelaki dengan lelaki. Kau juga tentu sering membaca di koran atau di majalah tentang lesbian, homosek, dan kaum nudis yang dampak moralnya sama. Sebab jika aku seorang lesbian, kalaupun kita sampai berumah tangga, rumah tangga itu akan tidak harmonis. Begitu pula jika kau seorang homoseks...”.
       “Aku bukan lelaki haomoseks”, tukas Suwarno cepat-cepat.
      Pertiwi menundukkan kepalanya. Tetapi kemudian katanya: “Baiklah. Sekarang aku ingin ketegasanmu. Apa kau akan tetap melarangku melakukan latihan karate dengan lelaki pelatihku itu?”.
       “Ya. Kecuali jika setiap latihan itu aku ikut mengawasimu”.
       “Itu tidak mungkin Warno. Kalau sekali-sekali aku tidak berkeberatan”.
       “Karena itu aku minta kau menghentikan latihan itu demi keutuhan pertunangan kita”, kata Suwarno.
       “Kalau begitu, sebaiknya pertunangan itu kita undurkan dulu sampai selesai ujian dan berhasil naik tingkat”, sahut Pertiwi.
       “Kau ini bagaimana Wiwi? Persiapan sudah selesai dan undangan telah tersebar. Bagaimana mungkin diundurkan lagi?”.
       “Bukan hal yang sulit. Aku sanggup berkeliling untuk mengabarkan pengunduran pertunangan itu kepada semua yang telah kau undang. Soal persiapan lainnya, orangtuaku tidak akan berkeberatan kalau harus mengganti kerugian akibat pembatalan itu”.
       “Tapi muka kita akan dikemanakan?”, tanya Suwarno.
       “Jadi kau merasa malu kalau pertunangan itu ditunda?”. Pertiwi balik bertanya.
       Suwarno tidak menjawab, tetapi wajahnya menyemburat lagi. Pertiwi pun tidak memerlukan jawaban itu, sebab memang sudah dijawab Suwarno tidak langsung sebelumnya. Kalau dia bertanya juga, sekedar ingin menegaskan. Dan kediaman Suwarno itu merupakan jawaban yang tegas. Karena itu Pertiwi memberi keputusan.
       “Kalau pertunangan itu tidak mau kuundurkan, kau jangan melarangku melakukan latihan itu. Karena dengan caramu yang ngotot, berarti kau tidak punya kepercayaan terhadap diriku. Lalu buat apa kita bertunangan kalau rasa kepercayaan kepada tunanganmu tidak pernah kau miliki? Bukankah dalam pertunangan itu kita akan membina saling pengertian? Bagaimana pengertian akan terjadi kalau kepercayaan itu tidak ada?”.
       Wajah Suwarno berubah lagi. Kini memutih. Dia baru menyadari kalau dirinya telah memaksakan kehendak kepada gadis itu tanpa alasan yang jelas, kecuali karena rasa curiga akibat cemburu. Dalam pada itu Pertiwi meneruskan lagi kata-katanya, karena Suwarno belum menjawab.
       “Dengar Warno. Aku akan berusaha menyediakan waktu untuk membina saling pengertian antara kau dan aku seminggu sekali, setiap malam minggu. Tetapi kalau malam minggu ada alangan, aku akan menggantikannya dengan hari lain. Kalau kau menyetujui permintaanku ini, dan juga tidak melarangku berlatih, pertunangan besok dapat dilanjutkan. Aku tidak mau kau datang seenaknya kapan kau mau, karena aku punya banyak urusan. Apalagi setelah aku bertugas sebagai dokter nanti”.
       Suwarno menunduk. Pertiwi masih melanjutkan: “Kita sudah sama-sama dewasa. Kita bukan anak kecil lagi yang langsung melaksanakan apa yang terbersit dalam hati yang kurang mapan, demi keutuhan rumah tangga di masa depan. Itu hanya bisa dicapai kalau di antara kita telah terjalin saling pengertian dan saling mempercayai. Nah, bagaimana?”.
       Suwarno bangkit. Lalu katanya: “Baiklah Wiwi, sekarang aku pulang dulu”.
       Suwarno melangkah gontai diiringi Pertiwi sampai di muka pintu.
       “Sampai besok malam Warno”, kata Pertiwi.
       Suwarno hanya mengangguk tanpa menjawab. Dia berlalu dengan diperhatikan oleh Pertiwi sampai pemuda itu keluar pintu halaman. Ketika Pertiwi masuk kembali, dia melihat ayah dan ibunya telah duduk di ruangan itu. Pertiwi pun mengambil tempat duduk di antara keduanya.
       “Apa kau benar-benar tidak akan mengundang kawan-kawan kuliahmu seorang pun?”, tanya Bu Abdurrakhman.
       “Tidak Ibu. Wiwi malu pada kawan-kawan. Wiwi pernah mengadakan diskusi tentang pertunangan, dan Wiwi telah mempertahankan bahwa dalam agama kita pertunangan itu tidak dibenarkan. Yang ada adalah istilah kawin gantung. Tetapi sekarang, justru Wiwi sendiri yang melangsungkan pertunangan”, sahut Pertiwi.
       “Tetapi kau kan bisa menjelaskan kepada mereka bahwa itu bukan kehendakmu”.
       “Mereka tidak akan percaya, karena kawan-kawan Wiwi sudah pada tahu bagaimana sikap hidup Wiwi, dan bagaimana kerasnya Wiwi mempertahankan prinsip hidup. Adalah tidak rasional kalau di zaman modern ini masih ada perkawinan yang didasarkan atas kehendak orangtua, bukan suka sama suka”, jawab Pertiwi.
       “Ayah juga yang salah. Seharusnya ayah menolak lamaran mereka”, kata Pak Abdurrakhman.
       “Tidak ayah. Sahabat Ayahlah yang tidak mau mengerti hati orang lain. Wiwi hampir yakin, Paman Sumardi melakukannya karena desakan anaknya yang sangat disayanginya. Tentang Paman Shindu, Wiwi tidak tahu alasannya, karena sampai saat ini Wiwi belum mengenal samasekali anaknya yang bernama Suherman itu”.
       “Ayah juga tidak tahu pasti. Tetapi menurut pengamatan Ayah, Shindu itu justru jauh lebih menyayangi anaknya dibandingkan Sumardi. Demikian sayangnya, sampai tidak berani menegur perbuatan anaknya yang salah. Kesayangan yang berlebihan itu akan membuat anaknya jadi sangat manja, dalam arti, segala kemauan dan perbuatannya tidak boleh ada yang melarang. Itu sebabnya Ayah terpaksa mengambil keputusan tanpa persetujuanmu dulu. Sebab jika dia memaksakan kehendaknya seperti pamanmu Sumardi, Ayah kawatir masa depanmu akan lebih buruk”, kata Pak Abdurrakhman menambahkan.
       “Wiwi mengerti Ayah. Karena itu Wiwi tidak menyalahkan Ayah”, sahut Pertiwi.
       “Lalu apa yang membuatmu tidak menyetujui pertunangan?”, tanya Bu Abdurrakhman.
       “Pertunangan bukan kebudayaan kita. Tetapi kebudayaan Barat yang mempunyai sikap hidup dan adat berbeda dengan kita orang Timur. Menurut kebudayaan Barat, pertunangan dan perkawinan merupakan dua alam yang berbeda dalam tanggung jawab, tetapi sama dalam tingkah laku, karena mereka tidak menilai tinggi keperawanan. Pertunangan adalah ikatan menjelang perkawinan. Ikatan pertunangan diadakan untuk mencari kecocokan atau saling pengertian. Bila kedua pasangan merasa tidak ada kesesuaian, ikatan pertunangan pun putus. Dengan demikian, kekuatan ikatan itu sebenarnya tidak ada, karena sama dengan ikatan orang berpacaran. Tetapi di fihak lain, ikatannya memberi wewenang pergaulan bebas ke dalam. Mereka dapat bergaul sebagai sepasang suami-isteri karena telah direstui oleh kedua fihak orangtua. Yang tidak terdapat dalam pertunangan adalah rasa tanggung jawab. Tanggung jawab baru berlaku bila telah diresmikan dalam ikatan perkawinan. Dari kenyataan itu jelas bahwa, ikatan pertunangan tidak dibenarkan dalam ajaran agama kita. Karena ajaran agama kita, bergaul bebas sebagai suami-isteri hanya dibenarkan bila telah terjadi perkawinan”.
       “Pak dan Bu Abdurrakhman mengangguk-anggukkan kepala. Sebab mereka juga pernah mendengar tentang tidak dibenarkannya pertunangan dalam agama Islam. Tetapi sejauh ini alasan yang dikemukakan para tokoh agama tidak jelas, kecuali karena datangnya dari Barat. Kejelasan itu ternyata diperoleh justru dari anak mereka sendiri. Karena itu Bu Abdurrakhman ingin mendengar pendapat anaknya lebih jauh.
       “Lalu bagaimana pendapatmu tentang kawin gantung?”, tanyanya.
       “Kawin gantung adalah ikatan pertunangan menurut ajaran Islam. Kawin gantung sebenarnya ikatan resmi, tetapi bukan didasarkan pada kebutuhan seksual, melainkan berlandaskan moral, misalnya untuk membantu biaya hidup pihak orangtua yang anaknya dilamar. Dalam kawin gantung, pasangan itu justru dilarang bergaul sebagai suami-isteri karena beberapa alasan. Diantaranya, salah satu dari pasangan belum bersedia berumah tangga, baik karena usianya belum balig atau karena masih ingin meneruskan sekolah, atau alasan lainnya lagi. Kawin gantung adalah perkawinan resmi tetapi belum dicatat dalam administrasi negara (catatan sipil). Dilakukan untuk mengikat yang dilamar agar tidak mengambil pasangan lain, atau untuk membantu memberi biaya calon pasangannya dalam mencapai cita-citanya, atau untuk menolong orangtua calonnya dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka. Kalau suatu saat mereka tergoda bisikan setan, ikatan itu jadi penangkal perzinahan”.
       “Lalu bagaimana dengan ikatan pertunangan antara kau dan Suwarno?”.
       “Biarlah masyarakat, khususnya yang menghadiri pertunangan itu menganggapnya sebagaimana adanya. Tetapi Wiwi sendiri menganggapnya sebagai masa pacaran yang sebenarnya tidak memerlukan acara. Yang jelas, Wiwi sudah menyetujui untuk tidak mencari lelaki lain sebagai pacar, selain pergaulan sebagai kawan biasa. Karena itu tentang perkawinan tergantung kemauan Wiwi. Kalau Wiwi belum berniat, dia tidak bisa memaksa. Kalau memaksakan juga, Wiwi akan putuskan ikatan pertunangan itu”.
       Kembali kedua orangtuanya mengangguk-anggukan kepala. Kini mereka baru mengerti sikap hidup anaknya. Mereka hanya merasa kasihan, karena dengan menyetujui pertunangan itu, anaknya sudah menutup diri untuk mendapatkan lelaki lain yang mencocoki hatinya, meski pertunangan itu dianggapnya hanya sekedar pacaran. Itu suatu pengorbanan paling besar bagi masa depan gadis itu. Karena setelah pertunangan itu terjadi, sekalipun dia bertemu dengan Darmawan, dia hanya akan memendam kerinduan dalam hatinya.
       “Ayah akan berdoa sungguh-sungguh. Mudah-mudahan Tuhan memberikan jalan yang baik atas ketawakalanmu ini, agar pada saatnya memperoleh kebahagiaan hidup”, ujar Pak Abdurrakhman.
       “Ya Ibu pun akan turut berdoa sungguh-sungguh”, kata Bu Abdurrakhman menambahkan.
       “Terimakasih Ayah, Ibu. Wiwi percaya penuh akan mahapemurah dan mahapenyayangnya Alloh. Baginya tidak ada yang mustahil, sehingga tidak mustahil pula sifat Suwarno akan berubah sebagaimana sifat pemuda yang Wiwi impikan”.
       “Baiklah. Sekarang kita kembali kepada soal undangan”, kata Bu Abdurrakhman. “Kalau kau tidak akan mengundang kawan-kawan kuliahmu, lalu siapa yang akan kita undang sebagai saksi dari pihak kita? Rasanya kurang baik juga kalau sampai tidak ada undangan samasekali dari pihak kita”.
       “Kalau begitu, tolong besok pagi Ibu mengundang para guru dan karyawan rumah yatim-piatu kita. Tidak usah pakai surat undangan. Wiwi tidak mau kalau sampai mereka harus bersusah-susah mencari kado”, ujar Pertiwi.
       “Bagus. Ibu setuju. Biar Bapak saja yang menjemput mereka dengan mobil perusahaan. Bukan begitu Pak?”.
       “Ya. Sebenarnya Ayah pun bermaksud mengusulkan mereka. Karena mereka adalah orang-orang yang paling akrab dengan kita”, sahut Pak Abdurrakhman.
       “Tetapi Susi dan Maya biar Wiwi sendiri yang menjemput, untuk teman ngobrol sebelum tamu-tamu datang”, kata Pertiwi.
       “Mudah-mudahan saja kau tidak mengejutkan mereka karena melihat kenyataanmu yang lain”, kata Bu Abdurrakhman lagi.



---ooooo000ooooo---
           
    
         
         
            
           
          
      
       
        
             
       
              
      
      
  
          
      
        
        
      
       
        
        
         
        
        
        
      
          
        
          

          
             
          
       
       








   
   



  


        
        
      
      
     
      
      

          
      
      
      

      
          
         
         
       
      
  
      
      
      
      
  
      
      
  
        
         
     
      
      
      
     

      
      
           
     













        
    

           

        
      
      
     

        
     
        
      




 
       
        
      
     

          

      

      
      

      
      
      
      


      




      
      
      
         
      
         
       
    
        
             
      

  
          
      
     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar