Empat
Apa Yang Kau Cari?
SEMENTARA mulutnya menyuap gado-gado, mata gadis muda berambut kribo pirang yang pada puncak hidungnya terdapat tahi lalat hitam besar, memperhatikan lalu-lalang orang yang keluar-masuk lorong di samping dinding tembok gedung menuju ke perkampungan kumuh. Pakaian gadis itu kaos sport oblong dengan celana blujin, dan mengenakan sepatu lars berhak tinggi sebagaimana yang biasa dipakai wanita-wanita di night club. Tubuhnya padat berisi, dan dalam baju kaos oblong yang pas itu, sepasang payu daranya terpeta menonjol, sehingga beberapa orang lelaki yang juga sedang makan dan minum pada bangku panjang, berkali-kali memperhatikannya, baik terang-terangan ataupun dengan mencuri-curi pandang.
Hampir dapat dipastikan, dalam hati setiap lelaki itu menyatakan ‘sayang’. Karena sesungguhnya wajah wanita muda itu akan tampak cantik andaikata tidak terdapat tahi lalat hitam besar di puncak hidungnya dan andaikata wajahnya tidak dipolesi make up yang terlalu tebal. Tetapi nampaknya gadis itu sendiri tidak mengacuhkan setiap orang yang memandangnya.
Tempat makan-minum itu terdiri dari empat buah roda dorong yang mangkal di pinggir jalan. Keempat roda dorongnya diatur membentuk hurup U, yang dua berjajar di depan, dan yang dua lagi di kedua sampingnya berseberangan.Meja dan bangku panjang tempat makannya juga disusun menurut aturan kedudukan keempat roda dorong itu. Di atas keempat roda dorong itu ditutup atap deklit. Bagian depan dan sampingnya ditutup tirai blacu putih untuk menghalangi pandangan dari luar. Tetapi dinding tirai itu terbelah tiga di bagian sudut-sudutnya, untuk tempat keluar-masuk orang. Melalui celah-celah itulah gadis berambut kribo pirang itu memperhatikan lorong ke perkampungan kumuh yang jaraknya hanya beberapa meter. Pada ketiga belahan tirai tertulis kata-kata:
WARUNG MPOK TIWI
SEDIA: - BAKSO SAPI
- NASI RAMES
- ES CAMPUR
- GADO-GADO
Penjualnya juga terdiri dari 4-orang, tiga anak muda dan seorang wanita. Masing-masing roda menjual jenis makanan yang berbeda sesuai dengan yang tertulis pada tirai. Gadis urakan itu duduk di depan roda penjual gado-gado yang dilayani pedagang wanita. Tetapi di atas meja di hadapannya tampak juga mangkuk cekung berisi es campur. Ketika gado-gado yang dimakannya telah habis, piring gado-gado itu digeser ke samping, dan jari-jari tangannya yang lentik dengan kuku-kukunya di cat merah, menarik mangkuk es campur.
Sementara menikmati es campur, nampaknya perhatian gadis urakan itu tertarik pada tulisan di tirai yang dari bagian dalam tulisannya tampak terbalik.
“Pok, apa namamu Mpok Tiwi?”, tanyanya kepada perempuan penjual gado-gado.
“Bukan Nona, nama saya Minah”, sahut yang ditanya.
“Tapi mengapa pada tirai itu namanya Mpok Tiwi?”, tanyanya lagi sambil tangannya menunjuk ke arah tulisan di tirai.
“O, itu sih nama orang yang memberi modal pada kami berempat”, sahut Mpok Minah.
“Kalau begitu, Mpok Tiwi itu cukong ya?”.
“Bukan juga Nona”.
“Tukang renten?”.
“Tidak, bukan, bukan tukang renten. Dia orang baik, penolong kami mencarikan modal dagang. Dia meminjamkannya kepada kami tanpa bunga sepeser pun”, sahut Mpok Minah cepat-cepat.
“Wah hebat. Masih ada juga di zaman gini orang yang begitu baik”, kata si gadis memberi komentar.
“Ya Nona. Karena itu kami berempat memasang namanya sebagai tanda terimakasih”.
Gadis kribo itu mengangguk-anggukkan kepala. Lalu tanyanya pula: “Apa dagangan Mpok laris?”.
“Lumayan Nona, bisa menyisihkan untuk bayar utang”.
“Yang lainnya? Maksudku ketiga orang kawan Mpok?”.
“Sama Nona. Tak habis-habisnya kami bersyukur kepada Tuhan”, sahut Mpok Minah.
Gadis itu tidak bertanya lagi. Dia meneruskan minum es campurnya. Tetapi kini Mpok Minah yang bertanya.
“Kalau tidak salah, kemarin juga Nona singgah di sini kan? Apa Nona tinggal di dekat-dekat sini?”.
“Benar Pok. Tetapi aku bukan orang sini.Aku sedang bertamu ke rumah saudara, sudah dua hari. Dan aku paling doyan gado-gado. Ternyata gado-gado buatan Mpok enak”.
Tiba-tiba pandangan gadis itu terpaku pada dua orang laki-laki bertampang keras memakai kacamata hitam, berjalan memasuki lorong ke arah perkampungan kumuh. Dengan tergesa-gesa dia menyelesaikan minumnya, dan menyerahkan uang seribu rupiah kepada Mpok Minah.
“Tolong sebagian untuk bayar es campur”, katanya sambil berlalu.
“Ini kembalinya Nona”, seru Mpok Minah.
“Buat Mpok saja”, sahutnya sementara orangnya sudah berada di dekat lorong.
Mata gadis itu memandang keujung lorong sebelah sana. Tetapi kedua orang yang menarik perhatiannya sudah tidak kelihatan. Sejenak dia tampak merenung, kemudian melangkah ke depan gedung yang dindingnya menjadi batas lorong itu. Dia membuka pintu mobil Volk Wagen yang diparkir di depan gedung tersebut dan duduk di belakang kemudi.
Dengan menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi pengemudi, gadis itu memperhatikan ujung lorong melalui kaca spion. Lama juga dua menanti, sampai akhirnya tampak kedua orang tadi muncul di ujung lorong. Kedua lelaki itu berjalan ke arah depan gedung melewati mobil si gadis. Pada jarak 10 meter dari Volk Wagen itu mereka berdiri di pinggir jalan.
Ketika sebuah taksi datang mendekat, salah seorang diantaranya mengangkat tangan. Gadis kribo yang memperhatikannya juga menstarter mobilnya. Ketika taksi yang ditumpangi kedua orang tadi bergerak, Volk Wagen itu pun mengikutinya.
Taksi itu terus meluncur di tengah keramaian kota. Suatu saat membelok ke jalan tempat pemukiman orang-orang elit, lalu berhenti di depan sebuah gedung yang cukup besar. Kedua lelaki penumpang taksi itu baru membuka pintu pagar halaman gedung ketika si gadis kribo dengan Volk Wagennya lewat dan menengok sejenak memperhatikan nomor gedung itu.
Si gadis kribo menjalankan mobilnya ke keramaian kota kembali. Sekitar sejam kemudian mobilnya sampai di depan rumah yatim-piatu DARMA PERTIWI, membelok masuk ke halaman, menyusuri jalan samping bangunan, terus ke belakang, langsung masuk garasi di samping kamar Pertiwi.
Ketika mobil memasuki garasi, Susi yang kebetulan sedang duduk di depan kamarnya yang bersisian dengan kamar Bu Abdurrakhman melihatnya, dan gadis itu bangkit menghampirinya. Tanpa prasangka apa-apa, Susi melongok dari jendela mobil.
“Wiwi, aku menunggumu dari....”. Kata-kata Susi terputus di tengah jalan ketika dia melihat yang duduk di belakang kemudi itu bukan orang yang dikenalnya.
“Uh kau mengejutkan aku Sus”, sahut gadis berambut kribo pirang sambil berpaling kepada Susi.
Sekali lagi Susi terkejut ketika melihat wajah gadis itu. Dalam pandangan sekilas, wajah itu tampak asing. Tetapi karena suara gadis itu dikenalnya, sejenak kemudian terkejutnya hilang. Meskipun pada puncak hidungnya terdapat tahi lalat hitam besar yang ditumbuhi bulu halus dan make up wajahnya terlalu tebal dengan shadow yang mencolok, namun samar-samar wajah itu adalah wajah Pertiwi. Karena itu Susi langsung membuka pintu mobil dan duduk di samping Pertiwi.
“Baru kemarin siang kau mengatakan tidak akan ada kejutan lain lagi. Nyatanya kini kau melakukan hal yang lebih mengejutkan pula”, kata Susi.
Pertiwi tidak menyahut. Tetapi dia menarik kulit elastis wajah samarannya dari bawah dagunya. Dia membuka tas yang terletak di samping tempat duduknya. Wajah palsu yang bersatu dengan rambut kribonya itu dia masukkan ke dalam tas. Kemudian dia mengeluarkan handuk kecil dari dalam tas itu, dan dipakai membersihkan keringat di wajahnya sambil melihat ke kaca spion.
“Kehidupan apa pula yang kau hayati dengan rambut dan pakaian aneh ini Wiwi?”, tanya Susi sambil memperhatikan sekujur tubuh Pertiwi yang mengenakan baju urakan.
“Bagi kehidupan kota besar, pakaian ini tidak aneh lagi Sus. Kau baru beberapa hari tinggal di sini, sehingga belum banyak mengenal bentuk-bentuk kehidupan yang beraneka ragam, termasuk kehidupan gadis atau wanita korban budaya barat yang pakaiannya seperti yang kukenakan sekarang”, sahut Pertiwi.
“Lalu ke mana saja kau pergi dengan pakaian begini?”.
“Keliling kota, ke bar-bar, atau ke night club”.
“Untuk apa?”.
“Tentu saja untuk melihat-lihat kota, atau melihat orang-orang berdansa-dansi dan mabuk-mabukan, atau melihat para pemuda pecandu ganja, narkotika, serta aneka ragam kehidupan brutal lainnya, yang sebagiannya merupakan ekses-ekses dari pembaharuan angkatan ‘66”.
“Apa yang kau cari?”, tanya Susi.
“Wawan”, sahut Pertiwi. Lalu: “Kupikir, kalau dia ada di kota ini, pasti akan mencariku ke segala bentuk tempat orang bergaul dan berkumpul, siang ataupun malam. Tetapi ternyata dengan pakaian ini aku menemukan yang lain. Aku menemukan adikku”.
“Maksudmu Purwanti? Di mana dia sekarang?”.
“Kami bertemu hanya beberapa saat di rumah sakit, kemudian berpisah lagi untuk selamanya”, bisik Pertiwi sambil tunduk.
“Inna lillahi wa inna ilaihi rooji’uun”, gumam Susi.
Pertiwi menghela nafas, baru meneruskan kata-katanya: “Sebenarnya aku sudah menduga bahwa adikku akan terjerumus ke kehidupan dunia kelam semacam itu. Tetapi aku tidak mengira dia akan sampai ke kota ini. Kusangka paling jauh juga sampai di Bandung”.
“Bagaimana kau bisa menduga begitu?”.
“Itulah awal cerita sampai terpisahnya aku dan Wawan. Si Wanti berzinah dengan si Angga sepupuku. Wawan memergoki pebuatan mereka. Tapi mereka justru berbalik memfitnah Wawan yang memperkosa adikku, sehingga dia harus menjalani hukuman pengadilan rakyat dari Ayah. Si Wanti juga melaporkan bahwa aku bercintaan dengan kusir delman, sehingga aku diusir Ayah. Karena aku juga telah memergoki perbuatan mereka dua kali. Si Anggalah yang membuat moral adikku rusak. Aku sudah berusaha memperingatkan dan menasihati si Wanti, tetapi jiwanya sudah terjerumus jauh, sehingga nasihatku tidak digubrisnya, malahan berbalik membenciku”, sahut Pertiwi sementara matanya menatap ke kekosongan.
“Dari si Wanti pula aku mengetahui peristiwa kematian Ayah dan Ibuku”. Pertiwi melanjutkan ceritanya: “Itu aku ketahui dari buku catatan hariannya. Ayah dan Ibu dibunuh oleh Pemuda Rakyat ketika malam belum lama turun setelah siangnya menghukum Wawan dan mengusir aku. Aku hampir yakin, peringatan Wawan menjelang menjalani hukumanlah yang mendorong mereka melakukan pembunuhan terhadap orangtuaku mendahului saat yang direncanakan. Si Wanti menyaksikan dengan mata kepala sendiri pembunuhan itu, dan salah seorang pelakunya adalah si Angga. Saat itulah si Wanti baru menyadari kesalahan dirinya, dan dia langsung kabur dari rumah. Tetapi dia masih terlalu muda untuk bisa menghadapi kepahitan hidup dengan tabah. Selain itu jiwanya telah rusak, sehingga untuk memperpanjang hidupnya, satu-satunya jalan yang paling gampang adalah terjun ke dunia kelam, berpindah dari satu pelukan lelaki ke pelukan lelaki lain. Terakhir dia terjerumus ke dalam lingkungan kelompok pengedar narkotika. Sebenarnya dia sudah insyaf. Kecelakaan itu justru terjadi ketika dia sedang melaporkan para pengedar narkotika ke polisi. Tetapi dipergoki oleh mereka, dan dia disiksa sampai demikian parah. Aku menemukannya dalam keadaan sangat mengerikan. Seluruh tubuhnya matang-biru bercampur luka-luka berdarah. Begitu pula dari mulut, hidung, dan telinganya keluar darah. Polisi berusaha menolongnya dengan melarikan ke rumah sakit. Tetapi keadaannya yang terlalu parah itu tidak tertolong lagi. Namun demikian, dia masih sempat mengenali diriku. Sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir, dia sempat meminta maaf kepadaku dan kepada Wawan”.
“Gadis yang malang. Lebih malang dari yang menimpa diriku”. Susi bergumam perlahan hampir tidak terdengar.
“Ya. Aku benar-benar menyesal karena tidak dapat menolongnya. Dia satu-satunya saudaraku, adik kandungku. Aku bermaksud mengajaknya hidup bersamaku. Tetapi rupanya Tuhan telah memberikan jalan yang dianggapnya paling baik bagi adikku, dengan membebaskan samasekali dari kehidupan dunia yang penuh cobaan ini”.
“Benar Wiwi. Tuhan Mahatahu. Mungkin kalau dia dipanjangkan umurnya, justru akan berubah lagi ke jalan yang tidak diridoinya. Karena itu memang akan lebih baik dia menghadap Tuhan pada saat melakukan kebaikan”, ujar Susi.
Pertiwi mngangguk. Lalu katanya: “Aku hanya berdoa, semoga Tuhan mengampuni segala dosanya”.
“Amiiin”. Susi memperkuatnya.
Beberapa lamanya mereka terdiam dalam dialog ahati masing-masing. Tetapi rupanya tiba-tiba Susi teringat pada perkataan Pertiwi tadi, maka dia pun berkata lagi.
“Tadi kau bilang, kau bertualang dengan pakaian ini karena mencari Wawan. Apa mungkin dia mencarimu sampai ke kota ini? Siapa tahu bahkan tidak pernah terpilir olehnya bahwa kau berada di kota ini, yang jaraknya dari kampung demikian jauh. Mungkin justru dia mencarimu di kota lain, Bandung misalnya”.
“Tidak Sus. Justru ke kota inilah dia paling mungkin mencariku. Bahkan aku hampir yakin”, sahut Pertiwi.
“Tentu kau punya alasan kuat seperti kau meyakini Wawan masih hidup”, kata Susi memancing.
Pertiwi mengangguk. “Tak salah”, jawabnya, “aku kenal dengan orangtua angkatku sampai diangkat anak adalah karena Wawan”.
Susi menatap Pertiwi dengan heran. “Maksudmu?”, tanyanya.
“Sebenarnya Wawanlah yang akan diangkat anak oleh ayah pungutku. Ayah pungutku sangat mengaguminya ketika mengetahui bahwa, Wawan berjuang secara diam-diam menyelidiki gerakan terselubung PKI dengan rencana G30S-nya. Tiga hari sebelum peristiwa itu, aku ditugaskan Wawan ke sini untuk meminta bantuan. Sementara dia, sebagaimana telah kau ketahui, menyebarkan surat peringatan kepada para tokoh agama di seluruh wilayah kecamatan. Tentu kau pun ingat, tiga hari sebelum peristiwa itu aku tidak masuk sekolah. Itu karena aku pergi ke sini”.
Susi mematung mendengar keterangan itu. Dia tidak menyangka samasekali kedua kawannya itu adalah pejuang tak dikenal yang telah menyelamatkan sekian banyak nyawa tokoh agama di kampungnya..
“Satu kejutan lagi bagiku Wiwi. Ternyata kalian adalah pejuang-pejuang tak dikenal dan tanpa pamrih”, kata Susi dengan nada penuh kekaguman. Lalu sambungnya: “Tetapi kalau Wawan sudah kenal dengan ayah angkatmu, mengapa tidak langsung datang ke sini kalau memang dia masih hidup?”.
“Itulah satu-satunya kesalahan aku dan Wawan yang paling kusesalkan. Setiap surat yang diterima Wawan dari ayah angkatku, dia serahkan langsung kepadaku tanpa pernah melihat alamatnya. Dan ketika aku pergi ke sini, semua surat itu aku bawa”, sahut Pertiwi dan dia menghela nafas panjang.
Beberapa lamanya Pertiwi dan Susi tidak bicara, karena mereka terlena oleh dialog hati masing-masing. Tetapi kemudian Susi bertanya lagi.
“Beberapa hari yang lalu kau menyatakan. Harapanmu untuk bisa hidup bersama Wawan sudah hilang, karena sekitar sebulan lagi kau sudah akan bertunangan. Tetapi kenapa kau masih juga mencarinya?”.
“Entahlah Sus. Meskipun harapan untuk bisa hidup bersama sudah pudar, tetapi aku masih ingin bertemu dengannya, untuk meminta maaf atas kesalahanku yang tidak bisa lagi memenuhi janjiku, juga ingin mengetahui bagaimana keadaan hidupnya. Syukur-syukur kalau hidupnya senang. Tetapi kalau tidak, aku akan berusaha membantunya”, sahut Pertiwi.
“Apa kau pernah mencari di kota lain?”.
“Bukan pernah lagi, tetapi sering. Setiap libur sekolah, aku tak pernah melewatkannya, apa itu sambil piknik dengan kawan-kawan ataupun sendirian. Bahkan beberapa kali aku melakukan pendakian gunungatau pergi berburu ke hutan sejak menjamurnya organisasi pendaki gunung dan pencinta alam. Besok pun, dalam acara perpisahan khusus dengan kawan-kawan kuliahku, aku akan mendaki gunung Gede-Pangrango”.
“Kau benar-benar gadis yang keras hati Wiwi. Aku hanya dapat membantu dengan doa, mudah-mudahan pencarianmu itu segera dikabulkan Tuhan”, ujar Susi.
“Terimakasih Sus. Sekarang hampir magrib, dan aku harus mempersiapkan perlengkapan untuk pendakian besok”, kata Pertiwi mengakhiri percakapan mereka.
-----ooooooooooo-----
Hari masih pagi ketika VW Combi itu meluncur di jalan pendakian ke Puncak Pas menuju ke timur. Penumpangnya adalah 8 dokter muda yang baru di wisuda. Mereka membawa perlengkapan untuk mendaki gunung, ditumpukkan di atas atap mobil. Pengemudinya adalah Pertiwi.
Ketika hampir mencapai Puncak Pas, kabut putih memenuhi daerah itu, sehingga Pertiwi harus menyalakan lampu tembus kabutnya. Mobil itu baru keluar dari saputan kabut ketika telah berada jauh di jalan penurunan. Ketika sampai di Cipanas, Pertiwi membelokkan mobilnya ke kiri, ke jalan yang menuju Perkebunan Cibodas.
Hari sudah agak siang ketika mereka tiba di Cibodas. Pertiwi langsung memparkir mobilnya di tempat parkir yang masih kosong. Baru ada beberapa mobil yang tampak di tempat parkir itu. Kawan-kawan Pertiwi pun pada turun dari mobil. Mereka langsung menggendong ransel masing-masing. Tak lama kemudian perjalanan mendaki pun dimulai.
Belum terlalu lama mereka berjalan, mulai terdengar ada yang mengeluh dan minta istirahat. Kawan-kawannya tidak bisa memaksakan terus berjalan, sehingga mau tidak mau mereka terpaksa berhenti beberapa lamanya.
“Jangan terlalu banyak minum. Kalian akan semakin cepat haus dan lelah”, kata Pertiwi memperingatkan.
Ternyata perjalanan mereka sangat lambat, karena belum ada yang pernah mendaki gunung kecuali Pertiwi. Beberapa rombongan pendaki telah mengejar dan melewati mereka. Hari sudah menjelang sore ketika mereka tiba di pinggir sungai. Jalan yang harus dilalui mereka adalah menyeberangi sungai, tepat di bibir jeram. Tetapi air sungai itu tidak besar dan sangat dangkal, yang dalamnya hanya mencapai sebatas tinggi sepatu mereka.
Meskipun begitu, karena baru pertama kali, ada juga rasa takut jatuh ke bawah air terjun itu. Karena Pertiwi yang sudah mengenal jalan, maka dia berjalan paling depan sambil menuntun kawan-kawannya, sehingga mereka menyeberang sambil berpegangan tangan. Meski lambat, akhirnya mereka sampai juga di seberang dengan selamat.
“Kalau kalian ingin mandi air hangat, di depan situ ada kobakan. Kalian bisa mandi sepuas-puasnya”, kata Pertiwi.
“Apakah puncak yang kita tuju sudah dekat?”, tanya Gazali.
Pertiwi tersenyum. “Ini belum setengah perjalanan”, sahutnya.
“Yang benar Wiwi”.
“Kita lihat saja nanti”.
“Wah kalau begitu, pukul berapa kita akan bisa tiba di sana?”, Sudiono menimbrung.
“Kalau mengikuti langkah-langkah kalian, paling cepat juga tengah malam baru sampai”, sahut Pertiwi.
“Apa kita akan berjalan juga di malam hari?”, tanya Lubis.
“Kalau kita mau pulang besok, mau tidak mau harus terus berjalan”, sahut Pertiwi.
“Ah, apa tidak akan bertemu dengan binatang buas?”. Kini Yenni yang bertanya dengan nada kecut.
“Asal kalian jangan bicara tekebur saja, insya Alloh keadaan jalan akan aman. Nanti kalian akan menyaksikan sendiri, sekalipun malam hari, kita tidak berjalan sendiri. Sampai dini hari pun masih akan ada pendaki yang bermunculan. Mereka adalah para pencinta alam, yang memang lebih menyenangi berjalan malam hari daripada siang hari. Karena jalan malam hari itu tidak cepat lelah”.
Sementara bicara mereka sudah sampai di kobakan air panas yang dikatakan Pertiwi. Air itu memang panas dan membual besar keluar dari dalam tanah. Tetapi karena perjalanan masih jauh, mereka tidak berhenti dikobakan, tetapi sekedar menyeduk airnya untuk membuktikan kebenaran kata-kata Pertiwi. Semuanya mencuci muka untuk menyegarkan perasaan.
“Rasanya aku tidak akan kuat berjalan terlalu jauh lagi. Apakah ada tempat berkemah yang baik tidak terlalu jauh dari sini?”, tanya Sujarko.
“Memang ada, letaknya hampir di persimpangan jalan yang menuju ke Kawah Gede dan yang menuju ke puncak Pangrango. Nama tempat itu Kandang Badak”, sahut Pertiwi.
“Kalau begitu aku usul, kita tidak usah sampai ke atas. Kita berkemah saja di Kandang Badak. Aku pun hampir tak kuat lagi”, kata Gazali mendukung Sujarko, sementara nafasnya sudah ngos-ngosan.
“Ya aku juga mengusulkan begitu. Kukira bagi kita yang tidak biasa naik gunung, perjalanan sampai di sini sudah lebih dari mengesankan. Aku tidak akan pernah melupakan, bagaimana beratnya mendaki gunung”, kata Sudiono memperkuat usul dua kawannya.
“Aku pun setuju”, ujar kawan-kawan lainnya hampir serempak.
Pertiwi memperhatikan semua kawan-kawannya. Dia memang melihat wajah mereka sudah pada pucat karena capek. Sementara bibir mereka tampak mengering meskipun sering minum di tengah perjalanan. Baju dan wajah mereka sudah dibanjiri keringat. Kelelahan yang sangat telah membayang di semua wajah mereka.
“Baiklah. Kalau begitu kita putuskan saja, pendakian ini hanya sampai di Kandang Badak. Jarak ke tempat itu tidak terlalu jauh lagi. Magrib juga kita sudah sampai”, kata Pertiwi akhirnya.
Ternyata perubahan rencana itu telah membangkitkan semangat kawan-kawannya. Sementara itu udara lembab sudah mulai menyapu wajah mereka. Sebelum mereka mencapai tempat berkemah, turun hujan lebat. Tetapi dengan turunnya hujan, tenaga mereka muncul kembali. Tubuh terasa segar lagi meski seluruh pakaian mereka basah kuyup.
Apa yang dikatakan Pertiwi memang terbukti. Lepas magrib magrib mereka menemukan bangunan dinding tembok yang sudah tidak utuh lagi, bentuknya seperti jajaran WC, dan banyak dicoreti tulisan oleh para pendaki gunung. Pertiwi mengajak kawan-kawannya ke bangunan tembok itu.
Mereka menjatuhkan diri di lapangan rumput dekat jajaran dinding tembok itu, tanpa menghiraukan curahan hujan karena lelahnya. Ada pula yang langsung membaringkan diri berbantalkan ransel di punggungnya. Hanya Pertiwi yang tidak berbuat begitu. Dia menyandarkan ranselnya pada dinding tembok dan membukai peralatan kemah. Kemudian dia mulai bekerja memasang tendanya di salah satu sisi lapangan yang tidak terlalu besar. Yenni dan Bi Lan akhirnya membantu juga, karena tenda itu adalah untuk mereka bertiga.
Begitu pula kawan-kawan pria mereka, meskipun enggan, namun mereka terpaksa harus bekerja memasang tenda yang diatur melingkari lapangan. Dengan tenda yang dipasang Pertiwi, jumlahnya ada tiga buah. Di tengah lapangan tampak tiga dahan pohon kayu cukup besar dan panjang, yang sebagiannya sudah menghitam bekas dimakan api. Rupanya dahan-dahan itu sisa unggun para pendaki sebelumnya yang membuat kemah di sana seperti dilakukan mereka sekarang.
“Kita sudah punya kayu-kayu untuk membuat unggun. Sayang kayunya telah basah karena diguyur hujan”, kata Sudiono.
“Kita akan mencoba menyalakannya. Baiklah, aku akan mencari ranting-ranting kering atau yang tidak terlalu basah. Sementara kalian menyalakan lampu-lampu”, kata Pertiwi sambil beranjak pergi ke belukar dengan membawa senter dan golok.
Belum lama lampu-lampu menyala, di perkemahan muncul enam orang pelajar SMA. Salah seorang dari mereka yang memanggul gitar, menghampiri Sudiono dan mengucapkan salam.
“Selamat petang para Kakak”, sapanya.
“Selamat malam”, sahut Sudiono dan kawan-kawannya hampir serempak. Yenni dan Bi Lan yang sedang berada di dalam tenda pun keluar pula untuk melihat para pendatang itu.
“Bolehkah kami ikut memasang tenda di sini?”, tanyanya lagi.
“O silahkan, silahkan. Kami senang banyak kawan”, sahut Lubis.
“Terimakasih”, katanya. Lalu kepada kawan-kawannya: “Ayo kita pasang tendanya. Satu di sini dan satu di seberang sana”.
Sementara itu hujan mulai reda, tetapi udara semakin terasa dingin. Anak yang memanggul gitar itu yang rupanya pemimpin rombongan, menyandarkan gitarnya pada dinding tembok. Dia mengeluarkan golok dari ranselnya. Diatidak ikut memasang tenda, tetapi pergi ke tengah lingkaran perkemahan untuk membelahi kayu. Ternyata batang kayu itu cukup keras, sehingga untuk membelahinya saja menghabiskan waktu lama.
“Syukurlah kalian membawa golok. Golok kami sedang dibawa kawan mencari ranting-ranting kering”, kata Lubis sambil berjongkok di samping anak yang tengah berusaha membelah kayu itu. “Kita harus segera membuat unggun. Udara di sini dingin sekali”, sambungnya.
“Benar Bang. Abang rombongan dari mana?”.
“Fakultas kedokteran UI. Kami sedang mengadakan acara perpisahan setelah kemarin di wisuda”.
“Ah kalau begitu sudah jadi Bapak-bapak dan Ibu-ibu dokter”, kata anak itu dengan sikap lebih menghormat.
“Baru akan mulai”, sahut Lubis sambil tersenyum. Lalu: “Di tempat begini jangan panggil Bapak. Sudah saja panggil abang dan kakak agar lebih akrab”.
Anak itu tidak menyahut, tetapi menganggukkan kepala, sementara tangannya berusaha susah-payah membelah kayu. Tetapi karena sulit, akhirnya dia merubah cara, yaitu dengan menyisiti dahannya. Saat itu dari kegelapan muncul Pertiwi dengan memanggul setumpuk ranting.
“Wah rupanya kami mendapat kawan”, kata Pertiwi begitu muncul di pinggir perkemahan.
Semua pelajar SMA yang tengah bekerja memasang tenda termasuk yang sedang membelah kayu, berpaling serempak ke arah suara wanita yang terdengar empuk itu. Dalam terpaan sinar lampu yang samar-samar, mereka melihat seorang gadis tinggi semampai dengan wajah mempesona. Kekaguman tersorot di wajah mereka, bukan saja karena kecantikannya, tetapi juga keberaniannya pergi ke hutan sendirian di malam gelap. Pertiwi menurunkan bawaannya di dekat serpihan kayu hasil kerja pemimpin rombongan anak SMA itu.
“Tidak ada ranting kering, semuanya basah”, kata Pertiwi.
“Tidak apa Kak. Biar kami yang membuatkan unggunnya”, sahut anak yang memotong kayu itu.
Meskipun susah, akhirnya sebagian batang kayu yang panjang itu dapat dibelah kcil-kecil. Tiga anak pelajar SMA menyusun ranting-ranting yang dibawa Pertiwi, baru kemudian potongan kayu yang agak besar-besar, lalu diguyur dengan minyak tanah dari atas, dan disulut dengan korek api.
Sejenak kemudian perkemahan itu pun menjadi terang benderang oleh kobaran api unggun. Semua kawan Pertiwi pada keluar dari tendanya dan berkerumun melingkari unggun itu. Tetapi tidak terlalu lama, api unggun itu mengecil lagi. Rupanya udara lembab yang dingin dan kayu yang basah itu tidak termakan api.
Sampai tiga kali diguyur minyak tanah, tiga kali dinyalakan, dan tiga kali padam lagi. Hanya beberapa ranting kayu yang mulai membara..
“Wah minyak tanahnya habis”, kata anak yang tugasnya menuangkan minyak tanah pada tumpukan kayu bakar itu sambil menunggingkan kompannya.
“Tunggu. Aku membawa sedikit”, ujar Pertiwi sambil masuk ke tendanya.
Sebentar kemudian dia membawa sebotol minyak tanah yang memang dipersiapkan untuk menyalakan unggun, dan diberikan kepada anak itu.
Setelah kayu bakar diguyur, unggun pun dinyalakan kembali. Mereka semua menjadi berdebar-debar ketika kobaran unggun mengecil dan terus mengecil lagi. Dua orang anak berusaha membesarkan dengan meniup-niupnya. Tetapi api itu bukannya membesar, malahan menjadi padam dengan meninggalkan bara merah pada sebagian ranting yang di bawah.
“Sialan”, rutuk anak-anak pelajar itu mengumpat. “Rupanya malam ini kita terpaksa bergelap-gelap dan berdingin-dingin”, sambung pemimpin rombongannya, ‘kecuali kalau ada rombongan lain yang...”.
“Assalaamu’alaikum”. Sebuah suara lelaki terdengar dari kegelapan, memotong kalimata yang diucapkan pemimpin rombongan anak-anak SMA itu.
“Wa’alaikm salam”, sahut orang-orang dalam perkemahan, dan serentak mereka berpaling.
Sesosok tubuh bertopi hutan dan menggendong ransel muncul di perkemahan. Sejenak mata orang itu menyapu semua orang yang sedang mengerumuni unggun padam.
“Ada kesulitan?”, tanyanya.
“Api unggun kami tidak mau menyala, padahal minyak tanah sudah habis”, sahut Lubis mendahului yang lainnya.
Orang itu melepaskan ransel punggungnya dan mengambil sepotong lilin dari dalam ransel itu, lalu menghampiri unggun. Sambil berjongkok dia memilih beberapa batang ranting dari api unggun itu. Dengan pisau blati yang diambil dari pinggangnya, dia membelah-belah ranting itu menjadi batang-batang tipis-kecil dan agak panjang. Semua orang di lingkaran unggun memperhatikannya.
Setelah serutan ranting itu cukup banyak, dia menyelipkan lagi belatinya di pinggangnya. Kemudian tangannya membongkar bagian bawah tumpukan ranting dan kayu unggun, sehingga terdapat ruang kosong. Batang lilin yang dibawanya dan hanya sepotong itu ditancapkan di tengah ryang kosong tersebut. Lalu jari-jari tangannya mengatur letak ranting-ranting sampai hampir membentuk para-para di atas lilin. Selanjutnya dia menaburkan serpihan kayu yang dibuatnya tadi pada para-para itu. Ketika lilin dinyalakan, setengah nyala apinya membakar serpihan kayu itu. Akhirnya dia mengatur kembali ranting-ranting di atasnya, makin ke atas makin besar, dan kayu-kayu yang besar berada paling atas.
Karena serpihan kayu itu sangat kecil-kecil dan tipis, sebentar saja telah dimakan api. Perlahan-lahan tetapi pasti, api pun menyala makin besar dan meluas menjangkau ranting-ranting yang lebih besar. Setelah ranting-ranting besarnya menyala, dia mengambil kembali lilinnya yang tinggal setengah dari panjang semula. Lilin itu dipadamkan dan dimasukkan kembali ke dalam ranselnya.
“Di tempat begini kita harus membiasakan menghemat segala barang, karena lilin sepotong saja bisa menentukan”, katanya.
“Ternyata caranya sederhana sekali”, ujar Pertiwi memberi komentar.
“Ya, untuk mencapai sesuatu yang besar, seringkali kita harus memulai dari yang keil”, sahut orang itu sambil menatap api unggun yang trus juga membesar, karena kayu-kayu di atasnya telah menjadi kering oleh panas api di bawahnya.
“Melalui penyalaan unggun ini Anda telah memberikan falsafah hidup yang sangat berharga kepada kami”, kata Pertiwi lagi, dan perhatian gadis itu semakin besar terhadap orang yang ujud lahiriahnya begitu kumal.
“Terimakasih atas pertolongan Kakak”, kata pemimpin rombongan anak SMA.
“Lain kali jangan lupa membawa lilin.Tidak usah membawa minyak tanah. Di samping berabe, juga bila tumpah bisa mencemarkan makanan yang kalian bawa”.
“Ya Kak”.
Setelah api unggun mulai besar dan memberi kehangatan kepada sekitarnya, orang-orang pun memperluas lingkaran duduknya. Orang itu membalikkan tubuhnya dengan punggung menghadap unggun.
“Apa Kakak naik sendirian?”, tanya anak pimpinan rombongan SMA.
“Ya”, sahutnya pendek.
“Pukul berapa dari bawah?”.
“Lepas magrib”, sahutnya lagi. Tanpa disadari orang-orang yang membawa arloji tangan melihat arlojinya. Jam menunjukkan pukul 10 malam.
“Kok jam begini sudah tiba di sini?”.
“Itu salah satu keuntungannya berjalan malam hari. Kita dapat melakukan perjalanan cepat tanpa mudah lelah”.
“Apa tidak takut jalan sendirian?”.
“Kalau mengatakan tidak takut berarti Kakak berdusta kepada adik. Tetapi Kakak dan kawan-kawan seorganisasi selalu melatih diri bergaul dengan takut, bukan menghindarinya. Tentu kalian pernah mendengar pendaki gunung yang celaka ketika sedang melakukan pendakian. Dari hasil pengamatan, salah satu dari penyebab kecelakaan itu karena rasa takut yang tidak terkendali, sehingga kehilangan kontrol diri. Rasa takut telah menghantui diri, sehingga melarikan diri tanpa lagi tanah yang diinjaknya dan arah yang ditempuhnya, yang bisa mengakibatkan terjatuh ke dalam jurang atau tersesat dalam hutan”, sahutnya.
Sementara itu kedua rombongan yang bergabung sudah mulai menjerangkan air di atas unggun, dan membuka ransel mereka untuk mengeluarkan makanan. Pertiwi pun masuk ke tendanya. Ketika keluar lagi, dia menjinjing sekantung kue mari serta roti. Dia melangkah menghampiri orang yang menolong mereka menyalakan api unggun tadi, yang saat itu tengah menikmati rokok. Pertiwi duduk di depannya.
“Silahkan”, katanya sambil menaruh gepokan roti dan kue mari yang dibawanya di depan orang itu.
“Terimakasih”, sahutnya sambil mengambil segepok roti tanpa sungkan-sungkan dan memakannya..
“Anda tinggal di mana?”, tanya Pertiwi.
“Sekota dengan Anda, di Jakarta”, sahutnya.
Pertiwi memandang heran. “Dari mana Anda tahu aku tinggal di Jakarta?”.
“Dari jaket kuning universitas yang dipakai salah seorang teman Anda”.
“Masih kuliah?”, tanya Pertiwi lagi.
“Tidak lagi sejak back to campus. Aku salah seorang di antara yang drop out”, sahutnya.
“Sudah bekerja kalau begitu”, ujar Pertiwi.
“Wiraswasta. Membuka bengkel kecil-kecilan”, sahutnya, “dengan demikian bisa bebas menekuni hobi. Kalau mau naik gunung atau menjelajah hutan atau bepergian ke mana saja, bengkel bisa ditutup sementara atau dititipkan kepada kawan”.
“Apa Anda punya minat jadi pandu ekspedisi ke pedalaman?”.
Orang itu menatap Petiwi sejenak. Lalu tanyanya: “Anda mau mengadakan ekspedisi bersama kawan-kawan Anda?”.
“Tidak. Bukan aku, tetapi ayahku. Beliau dan sahabat-sahabatnya sudah merencanakan serangkaian ekspedisi penelitian rawa secara berkala, dan membutuhkan pandu untuk merintis jalan”.
“Nampaknya menyenangkan juga untuk menambah pengalaman”, jawabnya. “Tetapi mengapa Anda memilihku? Bukankah di universitas Anda banyak mahasiswa pendaki gunung dan pencinta alam?”, sambungnya.
“Maaf. Bukan bermaksud memuji. Tetapi kulihat Anda punya potensi besar dalam bidang yang justru sangat diperlukan oleh ayahku”, sahut Pertiwi.
Orang itu tidak menyahut. Pertiwi merogoh saku jaketnya, dan ketika keluar lagi, jari-jarinya telah memegang sebuah kartu nama ayahnya, dan disodorkan kepada orang itu.
“Sebaiknya Anda menghubungi Ayah di Universitas tempatnya memberi kuliah, karena beliau jarang di rumah”, kata Petiwi, dan sambungnya: “Ekspedisi itu akan dimulai bulan depan. Sebaiknya Anda segera menghubunginya sepulang dari sini”.
Orang itu mengangguk dan memasukkan kartu nama yang diberikan Pertiwi ke dalam saku bajunya. Dalam pada itu rombongan anak-anak SMA mulai mengadakan acara nyanyi-nyanyi sambil berjoget mengelilingi unggun. Kawan-kawan Pertiwi pun ikut bertepuk tangan, bahkan yang mengenal lagu-lagu yang dinyanyikan mereka, turut pula menyanyi. Pertiwi pun akhirnya turut bertepuk-tepuk bersama mereka. Tetapi orang yang mengaku pencinta alam itu tidak turut. Dia hanya memperhatikan saja tingkah anak-anak yang gembira itu, dan sekali-sekali tersenyum jika melihat tingkah yang lucu.
Malam terus merayap semakin larut. Tarian dan nyanyian anak-anak SMA itupun mulai menurun. Sampai akhirnya berhenti samasekali karena kecapaian. Kemudian sebagian di antara kawan-kawan mereka dan juga kawan-kawan Pertiwi pada masuk ke tenda masing-masing untuk tidur. Hari sudah lewat tengah malam. Yang tinggal di depan unggun hanya tinggal beberapa orang, termasuk Pertiwi. Dengan diam-diam mereka menikmati air kopi hangat, sambil mendengarkan petikan gitar si orang pencinta alam itu yang meminjamnya dari pemimpin rombongan anak SMA.
Petikan gitar itu ala grup musik Bimbo dengan lagu-lagu alam bebas seperti Greenfields, Green Leaves of Summer, Suara Cemara, dan beberapa lagu lainnya yang belum pernah terdengar dalam kaset. Rupanya lagu-lagu itu karangan sendiri atau orang dalam organisasinya, karena semuanya mengisahkan kehidupan atau perjalanan di alam bebas. Sebuah lagu yang dikenal Pertiwi, yaitu ‘A Time For Love’, tetapi kata-kata lagu itu telah diganti dengan karangan sendiri.
Kala malam tak berbintang
Di rimba raya membentang, alam pun kelam
Hujan turun kedinginan
Pengembara menjelajah hutan tak berkawan
Margasatwa bersahutan
Meramaikan kesunyian
Awan hilang bulan datang
Bintang-bintang bertaburan, alam pun terang
Api unggun dinyalakan
Pengembara duduk sambil menghangatkan badan
Isi lagu itu demikian cocok dengan apa yang telah dilakukan orang yang telah menyanyikannya. Berjalan sendiri dalam kelamnya malam dengan curahan hujan menemani langkah-langkahnya, dan sekarang dia duduk di depan unggun. Pertiwi menengadah, dan dia melihat taburan bintang menaburi langit.
Tetapi tiba-tiba orang itu menghentikan petikan gitarnya. Dari kejauhan terdengar sayup-sayup nyanyian lain, juga dalam iringan gitar. Suara penyanyi itu menyapu keheningan malam, seolah menyentuh pucuk-pucuk pepohonan. Dari saranya yang makin mendekat dan semakin keras, jelas sekali orang itu menyanyi sambil berjalan.
Pertiwi menajamkan pendengarannya. Isi kata-kata lagu itu benar-benar menyentuh hatinya, karena hampir sejalan dengan kisah perjalanan hidupnya.
Ketika ku masih muda
Pernah bermimpi kutumbuh sayap
Terbang tinggi sekali berkelana
Mengarungi angkasa menjelajah buana
Bagai rajawali yang perkasa
Kuingat di masa itu
Sayap mengepak gunung membiru
Angin lembut bertiup sepoi syahdu
Membawakan wangi bunga sekuntum
Segar dan menggugah hati rindu
Masa remaja penuh kenangan
Riang ceria penuh harapan
Menggoreskan kesan cerita bahagia
Harapan berbaur tetesan air mata
Setelah aku dewasa
Sayap tumbuh makin berkembang
Wangi bunga semakin mempesona
Namun harapan kini tinggal kenangan
Bersama impian yang terbuang
Pada saat kekerasan suara nyanyian itu memuncak sejalan dengan semakin dekatnya langkah-langkah orang yang menyanyikannya, lagu itupun habis, sehingga suasana hutan yang sunyi itu seolah menjadi lebih sunyi dari sebelumnya. Orang yang bertopi hutan itu meletakkan gitarnya dan bangkit berdiri. Menghampiri tempat ranselnya, lalu menggendongnya.
“Itu kawanku dari Bandung”, katanya sementara tangannya mengetatkan tali ransel punggungnya.
Orang-orang yang berada di depan unggun berpaling serempak, sementara Pertiwi bertanya.
“Anda mau ke mana?”.
“Ke atas”, sahutnya pendek, “selamat malam”, sambungnya sambil melangkah ke kegelapan.
Semua orang di depan unggun memperhatikan punggung orang itu dengan lekat. Sejenak kemudian ketika tubuh itu lenyap di balik tembok, terdengar suara orang menyapa.
“Sudah lama menunggu?”.
“Sejak pukul sepuluh tadi”, sahut suara orang yang barusan meninggalkan unggun. “Kukira kau tidak akan datang”.
“Tentu sudah hampir bosa kau menunggu”.
“Hampir hilang kesabaranku”.
“Salah satu pelajaran buatmu. Kau masih harus berlatih kesabaran itu”, kata suara orang yang baru datang.
“Ya, aku memang orang yang paling tidak sabaran. Mungkin karena pengaruh udara kota Jakarta yang panas”, sahutnya. Lalu lanjutnya: “Pukul berapa dari Bandung?”.
“Sehabis asar. Aku harus mengatur dulu pemberangkatan calon anggota yang sedang dalam pembayatan. Sementara tadi pagi aku donor darah dulu untuk menguji ketahanan fisik. Ternyata yang tidak tahan bukan kaki, tetapi udara yang dingin ini. Karena itu sepanjang jalan aku menyanyi. Sebelum naik tadi badanku gemetar kedinginan. Tetapi dengan berjalan cepat, rasa dingin itu hilang juga. Hanya sekarang, justru lututku yang terasa penat”.
“Jadi kau bermaksud beristirahat dulu di sini?”.
“Tidak. Kukira aku masih bisa bertahan kalau hanya sampai ke puncak, walaupun mungkin harus berhenti sebentar-sebentar di perjalanan. Ternyata kekurangan darah itu berat juga”.
“Kalau begitu oke, kita teruskan saja. Ke Pangrango atau ke Gede?”.
“Di Gede pasti banyak orang. Kukira kita ke Pangrango saja. Bukankah dalam interlokal tadi pagi kau bilang ingin menambah pelajaran jurusmu?”.
“Heeh, untuk menambah bekal. Kebetulan kalau jadi, bulan depan aku akan mempandui sebuah ekspedisi ke pedalaman”.
Sejenak tidak terdengar lagi percakapan itu. Ketika orang yang baru datang bicara lagi, suaranya sudah berpindah agak jauh di sebelah atas.
“Siapa yang berkemah di sana?”, tanyanya. Dan suara jawabannya pun sudah semakin sayup tetapi masih cukup jelas dalam keheningan malam itu.
“Rombongan dari Fakultas Kedokteran UI dan anak SMA”.
Selama terjadi percakapan tadi, orang-orang di depan unggun tidak ada yang bicara. Baru ketika suara kedua orang itu tidak terdengar lagi, Pertiwi memberi komentar.
“Kalian dengar apa yang mereka percakapkan barusan, bukan? Mereka adalah para pencinta alam yang benar-benar berusaha menghayati diri dengan alam sekitarnya. Pendakian gunung atau penjelajahan hutan yang mereka lakukan, bukan untuk kebanggaan diri, tetapi untuk melatih fisik dan mental, sementara penerapannya adalah di tengah masyarakat. Orang yang dari Bandung tadi sengaja mendonorkan darahnya dulu untuk mengetahui ketahanan fisiknya. Dalam keadaan fisik yang lemah. Dia masih yakin mampu mencapai puncak. Itu adalah latihan mental. Tidak seperti kita, baru lelah sedikit saja, mental kita sudah jatuh, merasa tidak akan mampu mencapai tujuan yang direncanakan semula”.
“Kita lain, mereka lain Wiwi”, sahut Sudiono yang masih belum masuk tenda. “Sejak langkah pertama, mereka memang berangkat untuk melatih diri. Sementara kita hanya untuk mendapatkan kesan yang tidak terlupakan”.
“Dan kesan itu jadi tidak mengesankan lagi, karena tujuan yang direncanakan tidak tercapai akibat mental kita telah jatuh sebelum fisik kita benar-benar tidak mampu mendukungnya lagi”.
Sudiono tidak menyahut lagi, karena apa yang dikemukakan Pertiwi adalah kenyataan yang tidak bisa dibantah. Mereka tidak mampu mengatasi rasa pesimis dalam hati untuk bisa mencapai kawah Gunung Gede.
“Satu lagi yang benar-benar membuat kami salut”, kata pemimpin rombongan anak SMA menimbrung. “Mereka berunding untuk naik gunung melalui telepon dari dua kota yang jauh, tanpa takut kawannya akan membatalkan janjinya. Mereka masing-masing langsung naik sendiri-sendiri dengan keyakinan penuh bakal bertemu di atas sini. Yang satu naik lepas magrib, sementara yang satunya lagi mungkin naik pukul sembilan atau sepuluhan malam. Padahal kami tadi hampir tidak jadi berangkat karena seorang kawan kami agak terlambat datang dari waktu yang telah dijanjikan”.
“Itulah perbedaan kita dengan mereka. Mereka sudah punya rasa percaya diri dan saling mempercayai yang kuat. Sehingga sekali janji diucapkan, mereka akan berusaha memenuhinya. Kalau sampai janji itu tidak terpenuhi, satu-satunya kemungkinan adalah karena terjadi sesuatu halangan yang tidak dapat dihindari atau diatasi. Dengan demikian, mereka tidak akan pernah menyalahkan kawannya yang tidak menepati janji. Sebaliknya justru mereka akan mencemaskan, apa yang menyebabkan sampai janji itu tidak ditetapi, mendapat celaka atau apa. Itu pencerminan persaudaraan yang sejati”, kata Pertiwi.
“Benar Kak. Tetapi untuk mencapai persaudaraan seperti itu, entah bagaimana cara melatihnya”.
“Tentu dengan latihan-latihan terarah dan disiplin tinggi. Misalnya, bila kita berjalan tiga orang dan hanya punya sebatang rokok atau sepotong roti, maka rokok yang sebatang dan roti yang sepotong itu kita bagi tiga meskipun kita semua dalam keadaan sangat lapar, dan roti yang sepotong itu tidak akan mengenyangkan meski dimakan sendiri”.
“Terimakasih Kak. Penjelasan Kakak sangat menarik. Kami ingin mencoba menerapkannya dalam grup kami”.
“Bagus. Dengan ada kemauan itu, asal kalian menerapkannya sungguh-sungguh dalam praktek, Kakak yakin, kau dan kawan-kawanmu kelak akan memiliki ikatan persaudaraan yang sangat baik”, kata Pertiwi.
“Lalu bagaimana cara melatih berjalan sendiri, yang tadi dikatakan oleh Kakak itu sebagai bergaul dengan takut?”.
“Kakak tidak tahu, bagaimana cara organisasi mereka melatihnya. Tetapi kalau Kakak punya organisasinya, Kakak akan melatihnya secara bertahap. Contohnya, saat ini kalian naik berenam. Di saat lain, jumlah itu dibagi dua, berangkat tiga-tiga dengan memakai jarak waktu. Kali lainnya lagi berangkat dua-dua, dan terakhir berangkat satu-satu. Jarak waktu pemberangkatannya juga dapat dilakukan bertahap. Misalnya, pertama setengah jam, kemudian satu-satu jam, lalu dua-dua jam. Dengan melakukan berulangkali, kalian akan menjadi biasa. Sehingga meskipun rasa takut itu tetap ada, namun kalian akan mampu menggaulinya”.
“Ah benar juga. Sekali lagi terimakasih Kak. Saya benar-benar tertarik untuk mencobanya”.
“Asal ada kemauan pasti ada jalan. Apa yang Kakak katakan hanya sekedar contoh. Kalian bisa mengembangkannya sendiri. Yang penting, dalam melatih jangan menggunakan kekerasan seperti main tempeleng atau tendang. Sebab kekerasan bukan untuk membina persaudaraan tetapi justru menghancurkan, membangun sentimen angkatan atau kelompok, dan seterusnya”, kata Pertiwi.
“Ya Kak”.
Dengan mengobrol demikian, tanpa terasa waktu pun berlalu terus. Sudiono rupanya sudah mengantuk, dan dia pergi masuk ke tendanya. Tetapi Pertiwi tidak melakukannya. Dia merasa harus ada yang bangun. Karena dia yang mengusulkan pendakian itu, dia merasa bertanggung jawab atas keselamatan teman-temannya. Begitu pula anak yang jadi pemimpin rombongan pelajar SMA itu, karena teman-temannya sudah pada tidur.
Sementara anak itu menghabiskan waktunya dengan memetik gitar, Pertiwi meluangkan waktunya dengan membaca buku yang memang selalu membawanya ke mana pun dia pergi, sambil sekali-kali mengangsurkan kayu bakar agar unggun tetap menyala terang.
Akhirnya tali putih pun muncul di ufuk timur. Tak lama kemudian fajar menyingsing. Pertiwi bangkit dari duduknya sambil menggeliatkan badannya.
“Sudah fajar”, katanya, “Kakak pergi mencari kayu tambahan dulu untuk memasak”.
“Sendirian?”.
“Ya. Jangan tinggalkan perkemahan. Mereka masih pada lelap”, ujar Pertiwi sambil berlalu ke dalam belukar dengan membawa senter.
Anak itu memperhatikan Pertiwi dengan tatapan kagum. Baru pertama kali itu dia bertemu dengan seorang wanita, dokter pula, yang mengemban tanggung jawab keselamatan rombongan justru kebanyakannya laki-laki. Bahkan dia menyangka Pertiwi adalah seorang pencinta alam seperti dua orang yang datang dan pergi tadi malam.
Pertiwi muncul lagi dari kegelapan ketika cahaya putih di ufuk timur sudah semakin meluas dan mulai menerangi perkemahan. Dia memanggul beberapa ranting besar dan menaruhnya di pinggir unggun. Dua batang ranting besar ditumpangkan pada unggun. Lalu dia memasang panci pada batang kayu itu, dan menuangkan air dari termos ke dalamnya.
Akhirnya ketika warna kuning menyemburat di ufuk timur, orang-orang pun mulai pada bangun, dan perkemahan menjadi hidup kembali. Kemudian Matahari muncul menyebarkan kehangatan. Pertiwi dan kawan-kawannya mulai membuka sarapan pagi, karena mereka bermaksud turun kembali tidak terlalu siang. Sementara kelompok anak SMA tidak tergesa-gesa, dan bermaksud meneruskan perjalanannya ke Gunung Gede.
Sekitar pukul 10 pagi Pertiwi dan kawan-kawannya meninggalkan perkemahan mereka untuk turun. Perjalanan turun ternyata lebih cepat. Mereka telah tiba di perkebunan Cibodas lewat tengah hari. Selama perjalanan turun, beberapa kali mereka berpapasan dengan kelompok-kelompok yang naik. Mereka tidak langsung naik mobil, tetapi beristirahat dulu di lapangan rumput untuk melepaskan lelah. Setelah berada di bawah, mereka merasa tidak perlu tergesa-gesa lagi.
Banyak orang yang datang, pulang, dan beristirahat berkelompok-kelompok, baik yang hanya piknik ke Cibodas maupun para pendaki gunung. Pertiwi mencoba mencari pencinta alam yang bertemu dan mengobrol di Kandang Badak tadi malam. Tetapi sampai dia dan kawan-kawannya bersiap naik mobil untuk pulang, orang itu tidak dilihatnya.
Karena perhatian Pertiwi kemudian terpusat pada kemudi mobilnya untuk keluar dari tempat parkir, dia tidak menyadari adanya sepasang mata lelaki menatap begitu lekat dari jarak yang tidak begitu jauh. Dia tengah duduk di bangku tukang kupat tahu, wajahnya berewokan. Sementara sebelah tangannya memegang piring kupat tahu dan tangan kanannya memegang sendok di depan mulutnya hendak menyuap, sendok itu tergantung sekian lama, bahkan kemudian di letakkan kembali ke piringnya.
“Wiwi, ada orang yang memperhatikanmu di tempat tukang kupat tahu”, bisik Yenni yang duduk di sampingnya, “pandangannya tajam sekali”, sambungnya.
Pertiwi berpaling sesaat. Dia memang melihat orang itu. Ketika melihat Pertiwi memandangnya, orang itu bangkit dari duduknya dan meletakkan piring kupat tahunya pada bangku bekas didudukinya. Dia melangkah menghampiri. Tetapi Pertiwi sudah memutar kemudinya di tempat lapang dan menekan gas. Sejenak kemudian mobil itu meluncur meninggalkan orang berewokan itu yang mematung dalam langkahnya yang pertama.
Melalui kaca spion Yenni melihat orang itu mengeluarkan bloknot kecil dari saku jaketnya yang kumal, dan mencatat sesuatu sambil memperhatikan mobil mereka.
“Dia mencatat nomor mobil kita Wiwi”, kata Ynni lagi.
“Siapa?”, tanya Pertiwi.
“Orang yang memperhatikanmu tadi”.
Pertiwi memandang dari kaca spionnya, dan dia melihat orang itu memang sedang berdiri memperhatikan mobilnya sambil memegang bloknot.
“Siapa dia Wiwi?”, tanya Yenni.
Pertiwi menggeleng. “Aku tidak tahu. Memang aku juga melihatnya tadi sekilas. Aku justru sedang mengingat-ingat apa aku pernah bertemu dengannya atau tidak. Tetapi dalam pandangan sekilas, aku tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas”, sahut Pertiwi.
“Kalau dilihat dari tampangnya yang seram, mungkin dia orang jahat”, kata Yenni, “kau harus hati-hati Wiwi. Mungkin dia akan mencarimu melalui nomor mobil ini”.
“Mungkin”, sahut Pertiwi, “tetapi ini mobil perusahaan. Aku hanya meminjamnya. Sementara sehari-harinya dipakai antar-jemput pegawai perusahaan”.
“Kalau begitu kau bisa berpesan kepada sopir yang biasa memegang mobil ini, agar jika ada orang yang menanyakan pemakainya hari minggu ini, dia harus menyatakan dipinjam orang luar oleh rekanan perusahaan ayahmu”, kata Yenni.
Pertiwi mengangguk. Meskipun hatinya tidak begitu yakin akan dugaan Yenni, tetapi dia memang harus selalu berhati-hati. Sebab di balik kehidupannya yang wajar, dia punya beberapa kehidupan lain yang tidak diketahui kebanyakan orang.
“Sebenarnya tadi kau tidak perlu melarikan diri. Kita kan banyak orang, sedang dia hanya sendirian. Lagi pula kau sendiri memiliki kemampuan karate. Seharusnya kau tidak usah takut menghadapi dia”, ujar Yenni.
---ooooo000ooooo---
Tidak ada komentar:
Posting Komentar