Tiga
Selamat Datang Ibu Dokter
“KENAPA kau anggap aku aneh?”, tanya Mpok Tiwi sambil memandang kepada Marjan yang memegangi uang lembaran 10.000 di tangannya. Juga Dulah dan Udin pada memegangi lembaran uang yang sama yang diberikan Mpok Tiwi.
“Bagaimana tidak aneh. Mpok bisa mendapatkan uang modal begini besar dengan mudah. Dan Mpok bilang, aku dan kedua kawanku serta Bu Minah telah dibuatkan roda dorong dengan harga per buahnya 15.000 perak. Jadi Mpok telah mengeluarkan uang tidak kurang dari 100.000 perak. Anehnya, Mpok masih tetap tinggal di tempat kumuh begini. Padahal Mpok bisa ngontrak kamar di tempat yang layak”, sahut Marjan.
Percakapan itu terjadi di depan gubuk Mpok Tiwi setelah lewat tengah hari.
“Dari mana aku punya uang buat ngontrak?”, tanya Mpok Tiwi.
“Tentu dari orang yang meminjamkan uang buat modal ini”, sahut Dulah mendahului kawan-kawannya.
“Maksudmu dengan meminjam?”.
“Iya dong. Memangnya kalau minta akan dikasih?”, kata Udin turut bicara.
“Lalu dari mana aku akan membayarnya?”. Mpok Tiwi bertanya lagi.
Marjan dan kawan-kawannya saling pandang. Mereka tidak bisa menjawab lagi. Sementara Mpok Tiwi meneruskan kata-katanya.
“Lain dengan kalian. Uang yang kalian pinjam itu untuk modal dagang, sehingga tidak akan habis. Bahkan akan kembali lagi berikut keuntungannya. Dengan demikian kalian akan bisa mengembalikan lagi meskipun dengan cara nyicil. Aku hanya minta janji kalian untuk mengembalikannya. Kalau tidak, berarti kalian menghancurkan kepercayaan orang kepadaku, dan aku harus pontang-panting mencari uang penggantinya”.
“Tentu Pok, tentu. Demi Alloh kami akan berusaha mengembalikannya. Kami bukan manusia yang tidak tahu budi. Buat apa kami suka sembahyang”, sahut Udin.
“Syukurlah. Aku juga berani mengambil risiko membantu kalian, karena aku tahu, kalian orang baik-baik dan taat. Kalau tidak, jangan harap aku mau membantu”, kata Mpok Tiwi.
“Terimakasih atas kepercayaanmu Pok. Kami akan berusaha sekuat tenaga agar tidak merusak kepercayaan itu. Nah, mumpung masih siang, kami akan segera membeli perlengkapan dulu, supaya nanti malam sudah bisa mulai dagang”, ujar Marjan mewakili kawan-kawannya.
“Baiklah. Kalian bisa langsung mengambil roda kalian di material itu dengan menyebut nama kalian masing-masing atas suruhan aku, karena tadi aku telah memberitahukan di sana”.
“Baik Pok. Sekali lagi kami ucapkan terimakasih”, kata Udin.
“Jangan lupa. Bantu Bu Minah untuk menempatkan rodanya di tempat mangkal”.
“Beres Pok. Jangan khawatir”, sahut ketiga anak muda itu hampir serempak. Mereka pun berlalu dengan wajah cerah penuh harapan.
Mpok Tiwi memperhatikan ketiga anak muda itu. Dia tidak menyadari bahwa semenjak bercakap-cakap tadi, dua orang pemuda telah memperhatikan dari jauh. Ketika Marjan dan kawan-kawannya berlalu, kedua pemuda itupun bergerak menghampiri pondok Mpok Tiwi.
“Mereka ude pada pegi. Sekarang giliran kite. Sementare gue bicare, elu perhatikan situasi. Kalau kagak ade nyang ngeliat, cewek botoh itu kite dorong ke gubuknye. Elu kasih abe-abe”, kata yang seorang sementara mereka berjalan menghampiri Mpok Tiwi. Kawannya mengangguk.
“Beres”, sahutnya.
“Pok!”, sapa anak muda itu ketika mereka sudah berada di belakang Mpok Tiwi, sehingga perempuan itu terkejut. Dia berpaling.
“Ada apa? Siapa kalian?”, tanya Mpok Tiwi karena dia tidak mengenal kedua pemuda itu.
“Nah, percaye kagak Dali. Mentang-mentang ude punye pacar baru, nyang lame dia lupain”, katanya kepada kawannya tanpa menyahuti pertanyaan Mpok Tiwi.
“Sale elu sendiri Dun. Kenape elu ngambil pacar nyang begini botoh dan cantik”, sahut Dali sementara matanya disapukan ke gubuk-gubuk sebelah-menyebelah.
Pada terik matahari itu hanya satu dua orang yang berada di depan gubuk. Dan yang satu dua orang itupun tidak ada yang menaruh perhatian khusus k tempat Mpok Tiwi. Sebab mereka sudah biasa melihat Mpok Tiwi ngobrol dengan orang-orang, terutama anak-anak muda. Dalam pada itu Adun menyahuti komentar kawannya.
“Kalo kagak cantik dan botoh, mana gue mau”, sahutnya. Lalu sambungnya: “Eh pok. Abang kagak bakalan mare elu pacaran ame pemude lain, asal elu mau ngelonin Abang barang atu jam aje. Mau kan? Abang ude ngebet nih”.
Mpok Tiwi belum sempat menjawab omongan kurang ajar pemuda itu. Matanya baru memelototinya, ketika tiba-tiba anak muda yang bernama Dali berkata pendek.
“Sekarang”, katanya memberi aba-aba.
Begitu selesai kata-kata itu diucapkan, Adun dan Dali melompat mendorong tubuh Mpok Tiwi yang berdiri tepat di ambang pintu pondoknya.
“Uh kurang aj...mmph”. Mpok Tiwi hanya sempat memaki sepotong, karena sambil mendorong, Adun membekap mulutnya sambil menangkap sebelah tangannya, sementara Dali menangkap tangan yang lainnya. Tubuh Mpok Tiwi jatuh terlentang di dalam pondoknya dengan ditindihi oleh kedua pendorongnya.
Hampir saja Mpok Tiwi menggunakan kakinya untuk menendang tubuh kedua pemuda itu. Tetapi telinganya menangkap suara teriakan orang agak jauh di luar gubuk. Karena itu Mpok Tiwi hanya meronta-ronta lemah sebagaimana umumnya perempuan. Kedua pendorongnya terlalu sibuk oleh pikirannya yang sudah terangsang rontaan Mpok Tiwi yang menggeliat-geliat. Nafas mereka memburu mendengus-dengus, sehingga tidak mendengar kaki-kaki berlarian berserabutan menghampiri pondok itu.
Dua orang lelaki meloncat masuk ke dalam pondok. Tangan mereka langsung menarik krah baju Adun dan Dali dengan sentakan keras. Lalu tubuh kedua pemuda itu diseret keluar. Malang sungguh nasib Adun dan Dali. Begitu tiba di luar, mereka dihajar habis-habisan. Ada yang memukul dengan tangan, menendang, memukul dengan kayu, bahkan dengan potongan pipa besi. Bukan hanya laki-laki saja, tetapi beberapa perempuan pun turut menghajarnya sambil berteriak-teriak.
Tubuh Adun dan Dali tersentak ke sana ke mari dan mulutnya memekik-mekik. Wajah mereka berlepotan darah. Sementara para penghuni yang menghajarnya berteriak-teriak penuh kemarahan. Untunglah kejadian itu tidak berlangsung terlalu lama. Karena di tengah keributan itu terdengar teriakan Mpok Tiwi.
“Sudahlah Bapak, Bibi, Abang. Hentikan!”.
Pada mulanya teriakan Mpok Tiwi tidak ada yang menghiraukan. Para penghuni gubuk itu terus juga menghajarnya. Orang-orang yang berkerumun semakin banyak. Mpok Tiwi menyibakkan orang-orang itu sambil terus berteriak-teriak.
“Sudah! Sudah! Hentikan! Nanti mereka bisa mati!”, serunya.
“Biar mereka mampus. Rasain lu manusia kurang ajar!”, kata seseorang di dalam kerumunan.
“Ya, mampuskan saja!”, teriak yang lainnya.
“Jangan! Jangan! Kalau mereka mampus, kita semua akan dipenjara! Hentikan!”, teriak Mpok Tiwi lagi.
Rupanya kata-kata ‘penjara’ itu sangat berpengaruh. Sebab sejenak kemudian pemukulan itu terhenti. Tetapi tubuh Adun dan Dali sudah terkapar bersimbah darah. Mereka merintih-rintih dengan suara perlahan-lahan. Mpok Tiwi berdiri di tengah kerumunan, sementara mulutnya masih terus bicara.
“Jangan main hakim sendiri. Kalau mereka mati, kita semua akan ditangkap yang berwajib dan dipenjara. Aku mengucapkan terimakasih kepada semuanya yang telah menolongku, sehingga aku selamat dari maksud jahat kedua orang ini. Cukuplah sudah hukuman yang kalian berikan kepada keduanya. Jangan dilanjutkan lagi”.
Mpok Tiwi berhenti sejenak untuk menghela nafas. Kemudian katanya lagi: “Tolong angkat mereka ke depan gubukku. Aku akan mengobatinya”.
“Mpok masih mau mengobati setelah mereka berbuat jahat kepadamu?”, tanya seorang lelaki separuh baya.
“Kita tidak tahu bagaimana parahnya luka kedua orang ini. Kalau tidak segera ditolong, dan kalau sampai mereka mati di sini, kita semua akan celaka. Kita akan ditangkap yang berwajib”, sahut Mpok Tiwi.
“Benar juga”, kata orang-orang yang berkerumun hampir serempak.
“Nah, demi keselamatan kita juga. Tolong keduanya angkat ke depan gubukku”, kata Mpok Tiwi lagi. Lalu dia melangkah ke gubuknya.
Meskipun dengan enggan, empat orang laki-laki terpaksa menggotong tubuh Adun dan Dali ke depan gubuk Mpok Tiwi. Sementara yang lainnya pada bubar kembali ke tempat masing-masing sambil mengumpati kedua orang itu.
Mpok Tiwi keluar dari gubuknya dengan membawa rantang air hangat dan lap, sementara yang alainnya memegangi obat betadine. Ketika lap itu mulai membersihkan darah di wajah dan kepala kedua pemuda itu, Adun dan Dali merintih-rintih dengan mulut menyeringai. Empat orang yang menggotongnya masih tetap berada di situ memperhatikan pengobatan yang dilakukan Mpok Tiwi hingga selesai.
Untunglah luka mereka hanya luka luar, tetapi memang cukup parah, terutama bekas pukulan kayu dan besi. Tetapi akhirnya semua luka mereka telah diolesi obat dan tidak mengeluarkan darah lagi. Dengan susah-payah Adun dan Dali menggeliat bangkit untuk duduk dengan mulut menyeringai.
“Untunglah luka-lukanya tidak terlalu parah”, kata Mpok Tiwi.
“Hanya sekedar peringatan”, sahut salah seorang dari yang menggotong tadi. “Lain kali, kalau masih berani melakukan lagi, kalian tidak akan diampuni lagi. Kalian akan kubikin mampus sekalipun aku akan masuk penjara”, geramnya.
“Ampun Pak”, mohon Adun dalam rintihannya.
“Kalian dengar”, kata laki-laki itu lagi, “tidak seorang pun yang boleh mengganggu seujung rambut Mpok Tiwi. Siapa yang berani mengganggunya, akan berhadapan dengan kami, semua penghuni di sini, tahu?! Perlu kalian ketahui, Mpok Tiwi adalah kesayangan kami semua, penolong kami, penasihat kami, dan guru anak-anak kami. Camkan itu! Barusan kalian sudah merasakannya. Kalau Mpok Tiwi tidak melarang kami, sejak tadi kalian sudah mampus. Dan perlu kalian ketahui, sekalipun kalian telah berbuat jahat kepadanya, dia masih berbaik hati mengobati kalian, ngerti?!”.
“Mengerti Pak. Kami minta ampun. Kami tidak akan berani kurang ajar lagi”, sahut Dali dengan suara yang masih tersendat-sendat menahan rasa sakit di seluruh tubuhnya.
“Baik. Kali ini kalian kuberi ampun. Ingat! Jangan mencoba lagi berani mengganggunya kalau kalian tidak ingin mampus. Nah pergilah!”.
Dengan susah-payah Adun dan Dali bangkit berdiri. Mereka memaksakan diri berlalu dengan tertatih-tatih dan terhuyung-huyung. Mereka tidak menyangka samasekali akan mengalami nasib begitu sial karena mengganggu perempuan rudin itu, yang mereka anggap sebagai sampah masyarakat.
“Aku mengucapkan terimakasih atas pertolongan Bapak-bapak dan yang lainnya”, ujar Mpok Tiwi, sementara matanya masih memperhatikan kedua orang pengganggunya yang melangkah terhuyung-huyung saling memegangi tubuh kawannya.
“Sudah kewajiban kami untuk menjagamu Pok. Kau tidak perlu berterimakasih kepada kami. Justru kamilah yang harus banyak berterimakasih kepadamu. Karena Mpok telah banyak sekali memberi pertolongan kepada kami semua”, sahut laki-laki itu, “Nah, kami pergi dulu”.
“Silahkan Bapak-bapak”.
Keempat lelaki itu pun kembali ke gubuknya masing-masing. Mpok Tiwi memperhatikan langkah-langkah mereka dengan hati terharu. Sungguh tak disangkanya samasekali bahwa apa-apa yang telah dilakukannya di tempat itu selama ini, di tengah masyarakat kumuh yang dianggap sampah masyarakat itu, ternyata terdapat kesetiakawanan dan pribudi yang luhur. Sementara di tengah kehidupan yang menurut pengakuan mereka sendiri sebagai orang-orang beradab menurut lahirnya, rasa penghargaan itu telah mulai bergeser ke arah mementingkan diri sendiri, peduli amat orang lain mampus.
Mpok Tiwi membuang air bekas mencuci luka kedua orang tadi, dan menaruh rantang serta lap dan obatnya di balik pintu. Hari sudah mulai sore. Para penghuni gubuk yang mencari rejeki sudah mulai berdatangan, kecuali mereka yang pekerjaannya berdagang. Sudah menjadi kebiasaan, para penghuni gubuk yang tidak pergi, duduk-duduk di depan gubuk sambil mengerjakan apa saja yang dapat mereka lakukan. Ada pula yang hanya duduk-duduk sambil ngobrol dengan keluarganya atau tetangganya.
Dalam keadaan demikian, tiba-tiba saja dari lorong yang menuju ke jalan raya, muncul tiga orang lelaki berpakaian perlente, masing-masing mengenakan kacamata hitam. Salah seorang di antara ketiga lelaki itu menjinjing tas kecil. Mereka tampak tergesa-gesa dengan langkah-langkah setengah berlari melewati deretan gubuk-gubuk. Dari sikapnya itu tampak jelas, mereka sedang diburu sesuatu.
Ketika tiba di depan gubuk Mpok Tiwi yang kebetulan sedang duduk santai memperhatikan orang-orang yang turun ke sungai, tiba-tiba saja pria yang menjinjing tas kecil itu melemparkan tasnya kepada Mpok Tiwi.
“Titip”, katanya tanpa menghentikan langkahnya, “awas kalau hilang, nyawamu gantinya”.
Mpok Tiwi terkejut. Tas kecil itu tepat jatuh di atas pangkuannya. Hatinya berdebar ketika melihat wajah-wajah garang dari teman pria yang melemparkan tas itu menatap dirinya. Meskipun mereka memakai kacamata hitam, namun Mpok Tiwi merasakan tatapan mata dibaliknya yang mengancam.
Belum lagi Mpok Tiwi menyadari sepenuhnya peristiwa itu, dari arah lorong muncul lagi tiga pria yang berlari-lari. Saat itu tiga pria pertama telah mencapai ujung deretan gubuk dan berbelok ke lorong sebelah sana. Melihat itu, satu di antara ketiga pria yang baru muncul berlari balik, sementara yang dua lagi terus mengejarnya.
Mpok Tiwi berpaling ke arah gubuk-gubuk tetangganya. Tetapi mereka semua sedang memperhatikan kejar-mengejar itu. Nampaknya tidak ada yang melihat laki-laki tadi melemparkan tasnya kepada Mpok Tiwi. Beberapa lamanya Mpok Tiwi duduk membeku. Dia memperhatikan tas kulit kecil seperti tempat uang yang biasa dibawa pedagang atau pengusaha itu yang kini berada di pangkuannya. Dengan ragu-ragu dia merabanya. Terasa isinya adalah benda kenyal.
Mpok Tiwi memandang ke sekitar. Setelah yakin tidak ada yang memperhatikan, dia membuka rosleting tas kecil itu. Tampak beberapa bungkus plastik berisi tepung putih. Hatinya langsung menduga, benda itu adalah benda terlarang, nampaknya narkoba.
Bergegas dia masuk ke gubuknya dan membereskan barang-barang yang biasa dibawanya, lalu keluar lagi. Setelah mengunci pintu pondoknya, dia mendatangi gubuk tetangganya yang terdekat sambil menjinjing tas plastik besar bawaannya.
“Mau ke mana lagi Pok? Baru tadi pagi kau datang, sekarang sudah akan pergi lagi?”, tanya tetangganya yang bernama Pak Sukra.
“Ada pekerjaan di tempat orang kenduri Pak”, sahut Mpok Tiwi. Lalu sambungnya: “Mungkin aku baru pulang empat atau lima hari lagi. Kalau ada yang menanyakan barang titipan, tolong katakan, aku bawa karena takut hilang”.
“Baik Pok”, sahut Pak Sukra.
“Terimakasih. Aku pergi dulu Pak Sukra”.
“Silahkan”, sahut Pak Sukra.
Mpok Tiwi pun berlalu meninggalkan gubuknya. Setibanya di jalan raya dia mencari mesjid, karena kebetulan saat itu sudah menjelang magrib. Di kamar mandi dia membuka samarannya, kemudian berwudu. Masjid itu cukup besar, dan beberapa perempuan sudah berada di dalam untuk turut sembahyang magrib. Tetapi tempat mereka jauh di belakang deretan tempat pria, dibatasi dengan tirai kain putih.
“Assalaamu’alaikum”, sapa Pertiwi sambil tersenyum.
“Wa’alaikum salam”, sahut para perempuan itu serempak.
Pertiwi mnyalami semua perempuan itu, kemudian mengambil tempat di paling sisi dan mengenakan mukena.
“Nona kelihatannya kemalaman di jalan”, kata perempuan di sampingnya.
“Betul Bu. Saya baru dari luar kota”.
Baru sampai di situ percakapan mereka terhenti karena terdengar orang adzan.
Tak lama kemudian sembahyang magrib dimulai. Begitu selesai sembahyang, Pertiwi langsung membuka mukenanya dan memasukkan kembali ke dalam tas plastiknya. Setelah menyalami lagi semua perempuan itu dan mengucapkan salam, Pertiwi berlalu keluar dari mesjid. Setibanya di jalan raya, dia mencegat taxi. Tak lama kemudian taksi yang ditumpanginya telah meluncur di tengah keramaian kota menuju pulang.
-----oooooooooo-----
Mobil Volk Wagen putih itu meluncur di jalan Matraman Raya. Lalu membelok ke Kampus Universitas Indonesia, langsung ke tempat parkir kendaraan. Pertiwi keluar dari mobilnya dengan menjinjing tas menuju ke ruang pertemuan Fakultas Kedokteran. Ketika dia memasuki ruangan, beberapa orang pria dan wanita tampak telah berada di dalam.
“Selamat pagi”, kata Pertiwi, “maaf aku agak terlambat”.
Semua kawan-kawannya yang berada di dalam ruangan itu menyahuti salam Pertiwi. Mereka adalah para dokter muda yang baru lulus ujian terakhir. Pertiwi mengambil tempat duduknya.
“Nah, kukira kita sudah lengkap. Kita mulai saja”, ujar ketua pertemuan, seorang pemuda beraksen Sumatera. Lalu sambungnya: “Besok pagi kita di wisuda. Setelah itu, mungkin sebagian dari kita akan berpisah, dan entah kapan dapat bertemu lagi. Karena itu, sebelum kita sibuk dengan tugas masing-masing, aku mengusulkan, kita mengadakan acara perpisahan khusus. Bagaimana?”.
“Setuju”, teriak hampir semua orang, kecuali Pertiwi.
“He, kenapa kau tidak bicara Wiwi?”, tanya pemimpin pertemuan yang bernama Lubis.
“Aku ingin tahu dulu acaranya dan kapan waktunya. Soalnya acaraku padat sekali. Aku hanya punya waktu luang hari Sabtu lusa sampai Minggu”, sahut Pertiwi.
“Bagaimana yang lain?”, tanya Lubis.
“Sembarang waktu, asal jangan terlalu jauh dari sekarang”, sahut Sudiono.
“Oke deh. Kalau begitu kita tetapkan saja sesuai dengan waktu luang si Wiwi”.
“Baiklah, Tetapi apa acara khususnya?”, tanya Bi Lan.
“Piknik ke Pelabuhan Ratu atau ke Pantai Carita”, kata Yenni.
“Ya, kita kemah semalam”. Gazali menambahkan.
“Bagaimana kalau kita mendaki gunung saja? Ke Pangrango atau Gunung Gede misalnya”, saran Pertiwi. “Kalian tahu. Sekarang pendaki gunung dan pencinta alam bertumbuhan di mana-mana bagai jamur di musim hujan. Karena itu kalau kita naik gunung, kukira kita akan bertemu banyak orang di sana”, sambungnya.
“Wah terlalu berat. Aku tidak biasa naik gunung”, kata Sujarko.
“Aku juga belum pernah”, sahut Tan Bi Lan, “justru karena itu pepisahan kita akan mengesankan sekali. Aku setuju dengan usul si Wiwi”.
“Benar. Sekali seumur hidup rasanya perlu juga kita merasainya”. Sudiono menambahkan.
“Oke, oke. Kukira aku juga setuju. Bagaimana yang lain?”, kata Lubis.
“Yah, karena yang lain banyak yang setuju, aku juga terpaksa oke saja”, kata Sujarko.
“Baiklah. Kita tetapkan saja rencana itu. Berangkat Sabtu pagi, menginap semalam di gunung, dan pulang Minggu. Jangan lupa, di sana kabarnya sangat dingin. Bawa selimut tebal”, kata Lubis memutuskan.
“Tetapi siapa penunjuk jalan kita?”, tanya Sudiono.
“Aku sudah beberapa kali ke sana”, sahut Pertiwi, “aku tahu jalannya”.
“Kau?”, tanya Sudiono, “sudah pernah naik gunung?”.
“Ya, kenapa?”. Pertiwi balik bertanya.
“Tetapi kau tidak pernah menceritakan samasekali”.
Pertiwi tersenyum. “Apa aku harus gembar-gembor?”, tanyanya pula.
“Jadi kau diam-diam masuk anggota Mapala?”, tanya Gazali.
“Sebenarnya ingin. Tetapi waktuku terlalu sempit. Soalnya kalian sendiri tahu, kegiatanku terlalu banyak, diantaranya karate”, sahut Pertiwi.
“Baiklah. Kukira pertemuan ini sudah dapat kita tutup”, kata Lubis memotong percakapan.
“Tunggu dulu Bis. Aku masih punya satu soal di luar dari rencana naik gunung”. Pertiwi menukas.
“Oke. Coba katakan”.
“Rasanya bibir kita belum kering ketika berdemonstrasi dalam Kesatuan Aksi. Berteriak-triak tentang ampera, tritura, dan hanura. Nah, setelah sekarang kita selesai sekolah, apa sumbangan kita untuk amanat penderitaan rakyat itu?”, tanya Pertiwi.
“Bukankah kita akan terjun ke masyarakat menolong mereka yang sakit? Bukankah kita akan bekerja di rumah sakit atau membuka praktek sendiri untuk tugas kemanusiaan itu?”, tanya Sudiono.
“Itulah yang selalu didengung-dengungkan kepada masyarakat bahwa rumah sakit, para dokter, dan para petugas kesehatan lainnya adalah para pengabdi kemanusiaan. Tetapi dalam prakteknya, kita tidak lebih dari pedagang. Kita bekerja mengobati para pasien di rumah sakit, karena kita mendapat imbalan gaji. Kita praktek di rumah sendiri dengan mendapat imbalan dari mereka yang berobat. Para pasien yang tidak bisa memberi imbalan, jangan harap mendapat pelayanan semestinya. Sama saja dengan pedagang makanan atau pedagang apapun. Kita hanya bisa memperoleh makanan atau barang yang kita perlukan bila kita memberi imbalan dengan uang seharga makanan atau barang itu. Nah, di mana letak kemanusiaannya?”, tanya Pertiwi.
“Kita menyembuhkan orang yang sedang menderita”, kata Gazali.
“Apa kalau kita tidak makan, tidak akan menderita? Tanpa makan kita akan mati”, tukas Pertiwi. Lalu sambungnya: “Bahkan tidak sedikit di antara orang seprofesi dengan kita menolak untuk datang ke rumah pasien. Padahal pasien itu bukan tidak mau datang, tetapi karena tidak bisa datang, keadaannya parah. Sementara tukang dagang makanan masih mau menjajakan dagangannya ke rumah-rumah. Apa kita masih berhak menyandang predikat sebagai pengabdi kemanusiaan?”.
“Tidak semua dokter berbuat demikian. Kau juga tentu sering mendengar dokter di daerah-daerah yang berkerja tanpa kenal waktu. Tengah malam ketika sedang tidur, rumahnya digedor orang, dan dalam keadaan cuaca buruk pun mereka melakukan tugasnya tanpa mengeluh”, Sujarko menimbrung.
“Aku tahu, dan aku salut kepada dokter yang demikian. Tetapi berapa gelintir? Dan pengabdian dokter yang beberapa gelintir itulah yang kita gembar-gemborkan. Sementara 99 persen lainnya ongkang-ongkang kaki di kota dengan sikap seperti yang kusebutkan tadi. Contohnya, sekarang aku mau tanya. Apa di antara kita di sini ada yang bermaksud mengabdikan diri kepada masyarakat seperti yang beberapa gelintir itu? Kau barangkali Dion?”.
Yang ditanya tidak menyahut. Maka Pertiwi pun berkata lagi. “Sekarang kita mulai menginjak zaman pembangunan sebagaimana dicanangkan pemerintah. Daerah-daerah terpencil sangat memerlukan kita. Kita yang turut berteriak-teriak tentang ampera, seharusnya mendaftarkan diri bersedia pergi ke daerah terpencil dan bertugas di sana, walaupun bukan sebagai tenaga sukarela melalui Butsi, setidak-tidaknya mengajukan diri sebagai dokter puskesmas. Apa kalian bersedia? Kalau bersedia, aku menyediakan tenaga untuk menghubungkan kalian ke instansi yang bertalian, dan besok atau lusa juga kalian sudah akan bisa diberangkatkan. Bagaimana?”.
“Kau terus-terusan menekan kami agar menjadi tenaga sukarela atau mau ditempatkan di daerah terpencil. Lalu kau sendiri bagaimana?”, tanya Sudiono.
“Aku bukan tidak mau, tetapi tidak bisa. Orangtuaku hanya punya anak satu, yang harus menangani tugas-tugas perusahaan. Tentu kalian pun tahu semua. Tetapi dalam profesiku sebagai dokter, aku telah berencana akan membuka praktek yang tidak komersil di samping sebagai dokter sebuah rumah yatim-piatu dan rumah jompo dengan rutin. Kukira cara itu dapat kulakukan dengan menyediakan obat-obatan cuma-cuma, dan tidak jauh bedanya dengan jika aku pergi ke daerah”, kata Pertiwi.
“Kau bisa melakukan itu karena keadaanmu berkecukupan. Tetapi kami?”. Lubis bertanya dengan kata-kata menggantung.
Pertiwi mengangguk. “Aku mengerti”, katanya, “tentu saja kalian tidak perlu berbuat seperti aku. Kalian dapat bertugas di rumah sakit, mungkin di beberapa rumah sakit, dan juga dapat membuka praktek komersil. Tetapi aku ingin mengajak kalian untuk menyisihkan sedikit waktu di sela-sela tugas itu, sebagai tanggung jawab moral terhadap apa yang pernah kita tuntut pada waktu demonstrasi dulu. Bagaimana?”.
“Oke. Katakan dulu gagasanmu”, kata Yenni.
“Yang satu sudah kusebutkan tadi. Yaitu, setiap kita menyumbangkan tenaga di salah satu rumah yatim-piatu atau rumah jompo tanpa meminta bayaran. Kalau bisa dengan memberi pengobatan cuma-cuma. Yang kedua, kita membuat kelompok karya bakti, memeriksa kesehatan dan memberi pengobatan kepada para penghuni perkampungan kumuh sebulan sekali. Mereka bukan sasaran komersil kalian, karena mereka tidak akan berani pergi berobat kepada dokter. Sebab mereka tidak pernah punya uang untuk membayarnya”.
“Gagasan yang bagus. Aku setuju. Sekalipun kita tidak berkumpul di satu kota. Misalnya ada yang bertugas di kota lain, pedoman langkah-langkah kerja kita, khususnya angkatan kita yang turut meneriakan ampera, menyisihkan sedikit waktu yang kita miliki untuk pengabdian sosial itu. Bagaimana?”, tanya Lubis.
Kawan-kawannya belum ada yang menjawab. Karena itu Lubis melanjutkan lagi.
“Kawan-kawan”, katanya, “sebagai angkatan ’66 seperti kata si Wiwi tadi, kita punya tanggung jawab moral terhadap apa yang kita tuntut sendiri. Kita tidak usah melihat angkatan-angkatan lain. Kita laksanakan misi kita tanpa perlu gembar-gembor. Kukira dengan turba ke perkampungan-perkampungan kumuh sebulan sekali, dan ke rumah yatim-piatu atau rumah jompo seminggu sekali, tidak akan terlalu banyak mengurangi penghasilan kalian”.
Kawan-kawannya masih juga belum ada yang menjawab. Karena itu Lubis bertanya lagi.
“Kenapa belum bicara juga?”.
“Sebab kalau sudah menyetujui, berarti kami harus melaksanakannya. Padahal kami harus memperhitungkan berbagai kemungkinan”, kata Yenni.
“Bagus, aku senang. Karena dari kata-katamu itu, aku melihat kejujuran hati. Artinya, kalau kalian sudah menyatakan setuju, berarti kalian akan melaksanakan janji itu, bukan sekedar janji mulut. Nah, aku menunggu pernyataan itu”, ujar Lubis.
“Oke deh. Aku akan berusaha melaksanakannya”, sahut Sudiono.
“Baiklah. Aku juga berjanji”, kata Bi Lan.
Ternyata kemudian semuanya menyatakan setuju. Lalu mereka berkerumun di depan Lubis dan menyatukan tangan saling berpegangan sebagai tanda janji.
“Aku benar-benar gembira atas kesediaan kalian semua. Aku akan mendaftar nama-nama rumah yatim-piatu dan rumah jompo, serta perkampungan kumuh yang ada di kota ini, sehingga kalian tidak akan sulit lagi memilih tempat menyumbangkan tenaga itu nanti. Dan aku akan berusaha membantu obat-obatan gratisnya”, kata Pertiwi. Lalu: “Aku sudah punya rencana akan membuat Puskesmas di salah satu tempat kumuh yang tidak terlalu jauh dari rumahku. Aku perlu 5 orang kawan untuk bertugas bergiliran seminggu sekali tiap hari Sabtu. Sedangkan aku sendiri akan bertugas tiap hari Rabu, sehingga kegiatan Puskesmas itu berlangsung seminggu dua kali”.
“Bagus. Dengan demikian kita berlima langsung jadi petugas di Puskesmasmu secara bergiliran Wiwi”, kata Lubis.
Demikianlah, akhirnya prtemuan para dokter muda yang baru lulus itu pun ditutup oleh Lubis dengan memukulkan tinjunya di atas meja tiga kali.
“Sebenarnya karya bakti yang akan kita laksanakan itu bukan hanya kewajiban angkatan kita”, ujar Pertiwi.
-----ooooooooooo-----
“Memang karya bakti seperti itu sebenarnya bukan hanya tugas angkatan kalian yang sekarang, tetapi tugas semua angkatan, baik yang sudah-sudah maupun yang akan datang. Tetapi para sarjana angkatan sekarang mempunyai kaitan erat dengan tuntutan kalian sendiri semasa mahasiswa, sehingga tanggung jawab moral kalian lebih besar terhadap amanat penderitaan rakyat. Sementara era pembangunan yang telah dicanangkan pemerintah harus didukung oleh karya nyata segala lapisan masyarakat, terutama kalian semua sebagai tenaga-tenaga yang berpotensi, sehingga Repelita itu dapat tercapai sesuai dengan yang ditargetkan. Kalian semua adalah angkatan pembangun dari manusia pembangun. Karena itu sikap-langkah kalian di masyarakat nanti, harus mencerminkan jiwa pembangun. Lebih menitik beratkan usaha menyejahterakan rakyat, tidak terlalu mementingkan diri sendiri, agar cita-cita adil-makmur dan sejahtera itu dapat kita capai segera. Nah, kami atas nama Dewan Universitas menyampaikan selamat atas prestasi yang telah kalian capai. Laksanakan amanat kami sebaik-baiknya, demi citra almamater dan demi kesejahteraan rakyat yang merata”.
Rektor Universitas Indonesia menutup amanat pelepasan para sarjana barunya dalam upacara wisuda itu. Acara dilanjutkan dengan penyerahan ijazah. Satu per satu para sarjana itu, termasuk Pertiwi menyalami pimpinan universitas.
Nyonya Abdurrakhman merangkul Pertiwi dengan mata berkaca-kaca. Demikian pula mata Pertiwi basah oleh air bening yang melelehi pipinya. Sementara Pak Abdurrakhman menepuk-nepuk bahunya.
“Akhirnya kau berhasil juga Wiwi”, bisik Nyonya Abdurrakhman.
“Berkat Ayah dan Ibu”, sahut Pertiwi, “tanpa kehadiran Ayah dan Ibu pada saat Wiwi dibuang orangtua dulu, entah bagaimana nasib Wiwi sekarang”, sambungnya dengan nada haru dan air matanya tidak dapat dibendung lagi, menitik satu-satu ke pundak Nyonya Abdurrakhman. Tanpa dikehendakinya, dia teringat kepada Darmawan, sehingga tangis gadis itu pun semakin kerap.
Baik Pak Abdurrakhman maupun isterinya dapat menduga apa yang terbersit di hati gadis itu. Mereka telah mengenal betul sifat dan sikap hidup anak pungutnya ini. Karena itu mereka tidak mengganggunya. Sebab kalau terucapkan nama Darmawan atau nama kawannya yang lain, kesedihan gadis itu bukannya akan mereda, bahkan sebaliknya akan berlarut-larut. Karena itu Pak Abdurrakhman hanya menepuk-nepuk pundaknya, sementara isterinya mengusap-usap rambutnya sampai tangis gadis itu mereda.
Akhirnya upacara wisuda itu usai.Pak dan Bu Abdurrakhman menggandeng Pertiwi yang masih memakai baju toganya sambil memegangi tabung ijazahnya. Mereka menuju ke tempat mobil di parkir. Tak lama kemudian, mobil itu sudah keluar dari Kampus. Pak Abdurrakhman memegang kemudi, sementara isterinya dan Pertiwi duduk di belakang.
“Dengan telah memegang ijazah, tugasmu di perusahaan jadi rangkap Wiwi”, kata Pak Abdurrakhman sementara mobil melaju.
“Ya Ayah. Tetapi Wiwi hanya sebagai pembantu saja bila dokter perusahaan kebetulan berhalangan. Karena selain menjadi dokter di poliklinik rumah yatim-piatu kita, Wiwi juga akan menyumbangkan tenaga di rumah jompo dan rumah yatim-piatu yang lain”, sahut Pertiwi.
“Dengan demikian tugasmu semakin padat”, kata Nyonya Abdurrakhman turut bicara.
“Tidak apa Ibu. Wiwi akan mengatur waktu sebaik-baiknya, sehingga tidak banyak mengganggu tugas yang sudah ada. Wiwi sadar. Sebagai salah seorang angkatan ’66, Wiwi harus melaksanakan sebagaimana yang dipesankan Bapak Rektor tadi. Karena Wiwi punya tanggung jawab moral atas apa yang pernah Wiwi tuntut dalam Kesatuan Aksi dulu. Bahkan kemarin Wiwi telah berembuk dengan beberapa kawan seangkatan, untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin ke perkampungan-perkampungan kumuh”.
“Apa kawan-kawanmu setuju?”, tanya Pak Abdurrakhman.
“Setelah memperhitungkan berbagai kesibukan yang mungkin dipunyai kami, akhirnya pemeriksaan rutin itu akan dilakukan seminggu sekali secara bergiliran”.
“Bagus. Ayah setuju sekali. Memang di masa pembangunan ini perjuangan harus beralih. Kalau perjuangan Bapak dan kawan-kawan angkatan ’45 untuk merebut kemerdekaan, maka perjuangan sekarang adalah menyejahterakan dan mencerdaskan rakyat. Ayah hampir yakin, kaulah yang mengemukakan gagasan karya bakti itu. Benar tidak?”, kata Pak Abdurrakhman diakhiri dengan pertanyaan.
“Bagaimana Ayah bisa menduganya?”, tanya Pertiwi heran.
“Kalau Ayah tidak bisa menduga itu, berarti Ayah tidak mengenal anak sendiri dan bukan ayah yang baik. Kebiasaanmu mencari arti hidup di perkampungan kumuh, membuatmu mengerti dan merasakan kebutuhan mereka. Dengan sendirinya kau akan mengajukan gagasan itu, karena para penghuni kampung kumuh tidak akan berani datang ke dokter untuk memeriksakan kesehatannya”.
“Apa Ayah tidak berkeberatan?”, tanya Pertiwi.
“Bukan saja tidak berkeberatan, bahkan ingin menganjurkan. Tetapi Ayah juga tahu, tanpa kuanjurkan, kau pasti akan melakukannya”.
“Teimakasih Ayah. Wiwi jadi semakin bangga punya orangtua seperti Ayah dan Ibu”.
“Itu sudah kewajiban kita semua. Kebetulan Ayah diberi kesempatan oleh Tuhan menjadi orang berkecukupan. Tetapi Ayah juga tahu, semua harta itu hanya titipan, dan sebagian diantaranya adalah kepunyaan mereka. Karena kalau Tuhan memanggil kita menghadapnya, semua yang kita miliki tidak akan bisa dibawa ke dalam kubur. Satu-satunya yang dapat kita bawa adalah amal kita selama hidup di dunia”, kata Pak Abdurrakhman.
“Ya Ayah”.
“Kehadiranmu menjadi anak kami merupakan pelita bagi kami”. Nyonya Abdurrakhman menambahkan. “Hatimu yang pengiba dan pengkajianmu terhadap ajaran Qur’an telah membuahkan rumah yatim-piatu, sehingga memberi kesempatan kepada Ibu untuk turut melakukan pekerjaan amal itu”.
“Amal itu dapat Ibu kembangkan lagi. Misalnya dengan membentuk koperasi yatim-piatu”.
“Wah gagasan bagus lagi. Kerajinan anak-anak asuh kita sudah mulai membuahkan hasil. Itu dapat dijadikan modal koperasi sebagai simpanan mereka sendiri, sehingga akan menjadi bekal mereka bila sudah bisa hidup sendiri. Bukan begitu Pak?”, ujar Bu Abdurrakhman.
“Benar Bu. Sementara bagianku adalah menyediakan dana biaya hidup dan pendidikannya sebelum mereka bisa mandiri”, sahut Pak Abdurrakhman.
“Dan bagian Wiwi adalah mencarikan anak-anak asuhnya serta menjaga kesehatannya”, kata Pertiwi menambahkan. Ketiga orang itu jadi tersenyum, karena merasa lucu oleh pembagian tugas yang tidak dipaksakan itu, melainkan atas kesadaran masing-masing.
Ketika mobil membelok ke jalan menuju rumah yatim-piatu, Pertiwi agak heran, sehingga dia bertanya.
“Mau ke mana kita Ayah, mengapa ke sini?”.
“Kau harus memperkenalkan diri kepada penghuni rumah yatim-piatu yang kesehatannya akan kau tangani”, kata Pak Abdurrakhman sambil tersenyum.
“Ah tidak usah Ayah. Nanti saja setelah Wiwi ganti pakaian. Rasanya dengan pakaian ini terlalu formal. Wiwi malu”.
“Kok malu segala. Dengan pakaian begini, mereka akan merasa yakin akan perubahan jabatanmu, dari pemasar barang kerajinan mereka jadi dokter mereka”, tukas Nyonya Abdurrakhman.
Pertiwi tidak mendebat lagi. Sementara itu mobil pun telah membelok ke halaman rumah yatim-piatu.Keadaan rumah yatim piatu itu tampak lebih sepi dari biasa. Tidak terdengar suara anak-anakyang biasanya ada saja yang berteriak-teriak sementara bermain sesama kawannya. Pintu aula pun tertutup rapat.
Mobil itu berhenti persis di depan pintu aula. Pertiwi turun dengan digandeng oleh Bu Abdurrakhman, dan Pak Abdurrakhman berjalan di sisi lainnya.
“Wiwi tidak mendengar suara anak-anak. Rasanya hari ini sepi benar”, kata Pertiwi sambil mendorong pintu aula.
“Mungkin mereka sedang belajar”, sahut Bu Abdurrakhman. Tetapi matanya mengedip kepada Pak Abdurrakhman, dan keduanya tersenyum.
“Kenapa Ayah dan Ibu terseny...?”. Pertiwi tidak dapat meneruskan kata-katanya. Dia mematung di depan pintu dengan mata terbelalak menyaksikan keadaan ruang aula tersebut.
“Selamat datang Ibu Dokter!!”.
Kata-kata itu diucapkan oleh puluhan mulut kecil secara serempak, sambil bangkit berdiri dari tempat duduknya masing-masing. Sejenak Pertiwi berdiri membeku tetapi matanya menyapu seluruh ruangan. Ruang aula itu telah diatur sedemikian rupa. Kursi-kursi berderet melingkari ruangan, diduduki oleh semua penghuni rumah yatim-piatu, mulai dari anak asuh sampai guru pendidik dan pegawai tata usahanya. Di tengah ruangan tampak meja panjang dengan beberapa nasi tumpeng di atas talam berikut kelengkapannya, makanan ringan, buah-buahan untuk cuci mulut, tumpukan piring, gelas, sendok-garpu, dan air minum. Pertiwi berpaling kepada ibunya dengan pandangan bingung.
“Mereka menyelenggarakan selamatan atas kegembiraan hatinya karena kau telah lulus jadi dokter”, kata Bu Abdurrakhman.
“Dari mana biayanya?”.
“Menyisihkan sedikit dari hasil penjualan kerajinan tangan mereka. Selama dua hari Nak Susi dan Ibu berkeliling ke tempat pelemparan. Ternyata barang-barang mereka laku banyak. Ibu tidak bisa mencegah ketika mereka menyatakan ingin mengadakan syukuran. Karena orang yang telah mengangkat mereka dari lingkungan bermasa depan suram, telah berhasil menyelesaikan pendidikannya dengan memperoleh gelar dokter”.
Mendengar penjelasan itu mata Pertiwi berkaca-kaca. Ternyata anak-anak itu, tentu yang usianya telah mencapai belasan tahun, sudah mengerti keadaan diri mereka. Sementara itu para guru dan pegawai tata usaha menghampiri Pertiwi dan menyalami gadis itu sambil mengucapkan selamat. Terakhir Susi yang tidak hanya menyalami, tetapi merangkulnya dengan mata berkaca-kaca pula.
“Aku turut bergembira Wiwi. Sejak pertemuan kembali kita, berkali-kali kau membuat kejutan, sehingga aku jadi kagum. Kini aku jadi semakin kagum, karena dengan kedudukanmu sebagai seorang dokter, kau tidak segan-segan menyamar sebagai orang kumuh yang menurut penilaian masyarakat mempunyai martabat paling rendah. Entah apa lagi yang akan kau perlihatkan untuk mengejutkan aku”, kata Susi setengah berbisik. Tetapi Pak dan Bu Abdurrakhman dapat mendengarnya karena mereka berdiri di samping Pertiwi.
“Tidak ada lagi Sus. Apa yang kulakukan samasekali bukan untuk mengejutkanmu, tetapi benar-benar dengan kesadaran diri untuk mencari arti hidup dan keberadaanku di dunia ini. Aku adalah satu di antara sekian banyak muslim pengagum Kholifah Umar bin Khotob, pemimpin umat yang rendah hati”, sahut Pertiwi.
“Ternyata kau pengagum yang baik. Karena apa yang kau kagumi, kau laksanakan dalam perbuatan”.
“Belum sekuku jarinya Sus”.
Susi tidak bicara lagi. Dia melepaskan rangkulannya, karena anak-anak asuh mereka sudah antri untuk menyampaikan ucapan selamat pula. Yang paling depan adalah dua anak paling kecil yang dipungut dari rumah sakit, Rahman dan Rahmi. Pertiwi mengangkat Rahmi yang baru berusia dua tahun dan menciuminya. Kemudian sambil menggendong anak itu, dia menyalami Rahman sambil mencium kedua pipinya.
“Rahmi mari sama nenek”, kata Bu Abdurrakhman sambil mengambilnya dari pangkuan Pertiwi.
“Dan Rahman sama kakek”, ujar Pak Abdurrakhman sambil menarik tangan anak itu lalu diangkatnya tinggi-tinggi, sehingga Rahman tertawa-tawa keriangan.
Sementara Pak dan Bu Abdurrakhman sibuk dengan kedua anak itu, Pertiwi pun sibuk menyalami anak-anak lainnya, dan memberi hadiah ciuman pada pipi mereka. Setelah menyalami anak terakhir yang paling besar, Pertiwi bicara memberi sambutan. Pak dan Bu Abdurrakhman mengambil tempat duduk masing-masing sambil memangku Rahman dan Rahmi.
“Anak-anakku sekalian”, kata Pertiwi memulai sambutannya. “Ibu sangat berterimakasih atas sambutan kalian yang samasekali tidak kusangka ini. Ibu sangat terharu, karena ternyata kalian telah mengerti siapa diri kalian, bahkan telah mampu menyelenggarakan hajat syukuran dengan biaya hasil jerih payah sendiri. Dengan telah mengerti siapa diri kalian, artinya kalian pun mengerti bahwa masa depan kalian tergantung dari ketekunan diri masing-masing dalam mempersiapkan bekal hidup selama di sini. Ibu hanya meminta agar kalian belajar dengan tekun dan keras untuk memperoleh bekal sebanyak-banyaknya, baik ilmu, keterampilan, maupun modal uang. Sebab tidak mungkin kalian akan tinggal selamanya di rumah yatim-piatu ini. Suatu saat nanti, kalian harus berani terjun ke lingkungan masyarakat yang lebih luas, dan menghadapi tantangan hidup sebagaimana kewajarannya”.
Sejenak Pertiwi menghentikan bicaranya, untuk memberi kesempatan kepada anak-anak asuh itu mencerna isi pidatonya. Baru kemudian melanjutkan lagi.
“Di samping pengetahuan dan ilmu yang sedang kalian pelajari dasar-dasarnya di sini, ternyata karya keterampilan tangan kalian tidak terbuang sia-sia. Ibu melihat karya kalian cukup baik. Karena itu Ibu telah mencoba melemparkannya ke pasaran. Hari ini Ibu mendengar dari Nenek bahwa karya kalian mulai memberikan hasil. Hasil itu adalah modal pertama kalian untuk digolangkan dan dikembangkan lagi. Agar perkembangan modal kalian tercatat jelas, kita akan mendirikan Koperasi Serba Usaha. Karya tangan kalian masing-masing yang laku di pasaran adalah tabungan masing-masing pula sebagai anggota koperasi. Tabungan itu bisa kalian ambil sebagai bekal apabila sudah tiba saatnya terjun ke masyarakat. Karena itu kalian harus bekerja keras, berlomba-lomba memperbanyak hasil dengan mengembangkan kreativitas diri untuk meningkatkan mutunya, agar memperoleh hasil lebih besar”.
“Dengan memiliki keterampilan membuat barang sendiri yang dapat dijual, berarti kalian sedang mempersiapkan diri untuk menciptakan lapangan kerja sendiri, tidak menggantungkan diri kepada orang lain. Inilah yang dituntut oleh masa pembangunan sekarang. Karena pertambahan penduduk bangsa kita meningkat sangat cepat, sementara lapangan kerja tidak akan bisa mengimbanginya. Di sini kalian mendapat tempaan untuk menjadi para wiraswastawan, pahlawan pembangun bangsa. Nah, Ibu kira cukup sekian dulu sambutan dari Ibu. Sekali lagi pesan dari Ibu. Kalian harus belajar dengan tekun dan keras, agar bisa menghadapi tantangan hidup di masa datang”.
Begitu Pertiwi selesai pidato, semua orang di aula itu menyambutnya dengan tepukan tangan meriah.
“Hebat Wiwi. Ayah yakin, apa yang kau ucapkan barusan bukan muncul tiba-tiba dalam pikiranmu, tetapi telah merupakan rencana sejak pendirian rumah yatim-piatu ini. Kalau kau menyampaikannya sekarang, itu tidak lain, karena kerajinan tangan mereka ternyata telah berhasil laku di pasaran”, kata Pak Abdurrakhman mengomentari.
“Tanpa dukungan segalanya dari Ayah dan Ibu, rencana ini mungkin akan tetap merupakan impian kosong”, sahut Pertiwi.
“Ibu Wiwi, Kakek, dan Nenek, silahkan mencicipi makanan lebih dulu!”. Tiba-tiba anak yang paling besar berteriak dari tempat duduknya.
“Terimakasih”, sahut Pertiwi. Lalu berpaling kepada Pak dan Bu Abdurrakhman: “Mari Ayah, Ibu”.
Susi dan Maya telah berdiri di dekat tumpukan piring untuk melayani mereka yang akan makan. Tak lama kemudian ruangan itu telah menjadi ramai oleh dentangan sendok dan piring.
--0--
Tidak ada komentar:
Posting Komentar