Selasa, 31 Mei 2011

Novel 4 Dimensi - Dimensi 2 WAJAH-WAJAH 2


Dua
Aku Belum Kawin
       “Apa di Jakarta sudah tidak ada delman Bu?”, tanya kusir delman sementara tangannya menggoyang-goyangkan tali kendali kuda, dan mulutnya membunyikan suara .ck...ck...ck’.
       “Ada juga Mang di pinggirannya. Karena di dalam kota tidak diperbolehkan lagi”, sahut penumpangnya seorang perempuan berpakaian kebaya dan kain batik yang sudah belel. Kepalanya berkerudung kain batik yang sudah belel pula. Dia adalah Pertiwi.
       “Yang Mamang dengar, yang tidak boleh lagi ada di kota itu adalah beca”, kata kusir delman.
       “Memang benar Mang”.
       “Kenapa tidak boleh Bu? Bukankah dengan begitu rakyat kecil seperti kita tidak boleh mencari rezeki di kota?”.
       “Aku tidak tahu Mang. Mungkin karena sudah terlalu aramai oleh mobil. Tetapi aku juga sering melihat tukang-tukang beca itu suka mengemudikan beca seenaknya tanpa memperhatikan keselamatan penumpangnya. Tetapi kalau Pemerintah membuat peraturan itu, tentu untuk kebaikan kita juga”, sahut Pertiwi.
       Mereka tidak bicara lagi, sehingga Pertiwi dapat mendengarkan bunyi berirama dari paduan suara kaki-kaki kuda dan gemerisiknya dandann yang dikenakan pada binatang itu. Delman itu bertoplak menyusuri salah satu cabang jalan kota kecamatan yang belum diaspal. Tetapi jalan itu tidak renjul lagi, karena sudah dipadatkan oleh pasir dan batu, yang oleh masyarakat setempat disebut jalan sirtu (pasir-batu). Sesekali terdengar bunyi kliningan ketika di depan delman ada orang yang berjalan kaki terlalu ke tengah.
       Tanah di sepanjang pinggiran jalan itu tampak masih banyak yang kosong. Deretan rumah di sepanjang pinggir jalan diselingi oleh kebun dan ladang. Sekali-sekali delman itu berpapasan dengan delman lain yang menuju ke arah berlawanan, atau dengan mobil yang masih terlalu jarang.
       “Berhenti Mang”, kata Pertiwi setelah delman itu melewati sebuah rumah yang tidak terlalu besar, tetapi tampak bersih dengan cat warna yang manis.
       Setelah Pertiwi turun, delman itu melanjutkan perjalanannya. Sementara Pertiwi yang memakai sandal jepit dan menjinjing tas plastik, melangkah berbalik ke depan rumah tadi. Sampai di depan rumah itu, sejenak dia berdiri mematung di depan pintu pagar halaman yang terbuat dari babmu. Matanya mengawasi sepasang suami-isteri muda yang tengah sibuk menanam bibit pohon cengkeh, sehingga mereka tidak menyadari bahwa ada orang yang memperhatikannya dengan lekat.
       “Hari ini kita menanam 5 pohon cengkeh. 8 atau 10 tahun lagi kita berharap dapat memetik hasilnya untuk membiayai sekolah anak-anak kita yang akan bermunculan nanti”, kata yang lelaki sambil menimbuni lubang yang ditanami bibit pohonnya.
       “Mudah-mudahan usaha kita kesampaian”, sahut yang perempuan.
       Pada saat itulah Pertiwi mengucapkan salam dalam bahasa Sunda.
       “Puuunteeen”, katanya agak keras.
       Sepasang lelaki-perempuan itu berpaling sambil menjawab: “Maaangga”.
       Kemudian yang lelaki berbisik kepada yang perempuan: “Tamu buatmu barangkali Mar”, katanya.
       Wanita yang dipanggil dengan nama Mar itu mengangguk dan melangkah menghampiri tamunya.
       “Bibi hendak bertemu dengan...kau...kau...”. Wanita itu tampak menjadi ragu-ragu sebelum menyelesaikan perkataanya. Sepasang matanya lekat menatap tamunya.
       “Apa kau sudah lupa padaku Marni?”, tanya Pertiwi dengan suara halus.
       “Kau...kau...Wiwi!!!?”, seru Marni dengan suara keras tanpa disadarinya oleh rasa kejut tiba-tiba. “Benarkan kau Pertiwi temanku?”, tanyanya pula.
       “Ternyata kau masih mengenalku Mar”, sahut Pertiwi.
       Mendengar teriakan Marni, suaminya yang baru bangkit dari jongkoknya berpaling dengan terkejut pula. Dengan tergesa-gesa dia menghampiri kedua perempuan itu yang sedang berangkulan. Lelaki itu tertegun di belakang isterinya seperti tidak percaya pada penglihatannya. Matanya membelalak menyaksikan dandanan Pertiwi.
       “Apa kabar Nas?”, sapa Pertiwi dari balik bahu Marni.
       “Kau...Wiwi?”. Mulut lelaki itu menyahut dengan pertanyaan pula.
       “Ya Nas, aku Pertiwi. Beginilah keadaanku sekarang”, sahutnya sambil mendorong tubuh Marni dengan lembut.
       Pertiwi hanya tersenyum ketika sepasang suami-isteri itu menggeleng-gelengkan kepalanya, sementara mata mereka menyelusuri seluruh tubuh Pertiwi dari ujung kaki sampai ke ujung rambut.
       “Aku kangen sekali pada kawan-kawan yang sudah 8 tahun kutinggalkan. Karena itu aku memaksakan diri berkunjung ke sini meskipun jauh”, kata Pertiwi.
       “O maaf. Kami sampai lupa mempersilahkan masuk, karena sangat terkejut menyaksikan keadaanmu. Marilah kita ngobrol di dalam saja”, ajak Marni sambil menarik tangan Pertiwi.
       “Kenapa kaua jadi begini Wiwi?”, tanya Marnil setelah mereka duduk di tepas rumah. Sementara Nasrul pergi ke belakang melewati samping rumah untuk mencuci kaki dan tangan yang kotor dengan tanah.
       “Kenapa dengan aku?”. Pertiwi balik bertanya sambil memperhatikana pakaiannya. “Hampir tiap hari aku mengenakan pakaian begini”, sambungnya.
       “Tetapi dulu...”.
       “Dulu lain. Dulu aku anak Camat. Tetapi sekarang aku anak yatim-piatu yang dipungut orang”, sahut Pertiwi sambil menghela nafas.
       “Di mana kau tinggal sekarang? Apa pekerjaanmu?”.
       Sebelum Pertiwi sempat menjawab, tiga orang muncul dari pintu dalam. Pertiwi bangkit menyambut kedua orangtua Marni sambil menyodorkan kedua tangannya menyalami mereka dengan tubuh membungkuk. Sementara Nasrul hanya memperhatikan dari belakang mertuanya.
       “Nak Wiwi?”, sapa Ibu Marni dengan nada tak yakin.
       “Ya Ibu, Bapak, saya Pertiwi”.
       “Bagaimana Nak Wiwi bisa jadi begini?”, tanya Ibu Marni, sementara suaminya menggeleng-gelengkan kepala oleh keheranannya.
       Pertiwi tersenyum, lalu sahutnya: “Saya tidak apa-apa Ibu. Tuhan telah menganugerahkan kebahagiaan hidup kepada saya dalam keluarga orangtua pungut”.
       Kedua orangtua Marni akhirnya mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.
       “Ya Nak Wiwi memang harus bersyukur kepada Tuhan, karena tidak turut tertimpa bencana G30S yang menimpa Pak Camat sekeluarga”, kata ayah Marni.
       “Ya Bapak”.
       “Baiklah. Sebenarnya Bapak dan Ibu ingin sekali mendengar kisah perjalananmu. Tetapi tentu kalian kurang bebas kalau bicara dengan orangtua seperti kami. Biarlah nanti Marni dan menantu Bapak yang menceritakannya. Kebetulan Bapak dan Ibu tidak bisa meninggalkan pekejaan di sawah”, Kata Bapak Marni.
       “Silahkan Bapak dan Ibu. Jangan terganggu oleh kedatangan saya”, sahut Pertiwi.
       Setelah kedua orangtua itu masuk kembali, Nasrul pun duduk di samping Marni, sementara Pertiwi duduk di hadapan mereka.
       “Bagaimana asalnya kalian bisa terangkap jodoh? Dulu-dulu kan tidak ada tanda-tandanya?”, tanya Pertiwi sedikit heran.
       “Kami juga tidak tahu. Mungkin karena sekolah kami tidak pernah berpisah sampai selesai, sehingga...”.
       “He, kalian sudah pada jadi sarjana?”. Pertiwi menukas sebelum Marni menyelesaikan kata-katanya.
       Nasrul dan Marni tersenyum sambil mengangguk. “Berkat gagasanmu dan Wawan membentuk kelompok belajar bersama dulu. Cara itu kami bawa terus sampai ke universitas, sehingga kami masing-masing dapat dua ijazah puncak, dari universitas dan dari KUA”, sahut Nasrul sambil tersenyum, dan Pertiwi pun turut tersenyum.
       “Kalau begitu aku turut bergembira”, kata Pertiwi sambil menyalami mereka, lalu sambungnya: “Sudah berapa lama kalian menikah?”.
       “Baru seminggu yang lalu”, sahut Marni.
       “He, jadi kalian ini pengantin baru ya? Ah sungguh sayang, aku datang terlambat. Kalau tahu sebelumnya, pasti aku akan menghadiri perkawinan kalian meskipun jauh”.
       “Kami juga menyesal karena tidak tahu tempat tinggalmu. Kawan-kawan yang lain semuanya pada datang”, sahut Marni, lalu: “Sebenarnya kau tinggal di mana Wiwi?”.
       “Di  Jakarta. Aku menjadi pembantu pengurus rumah yatim-piatu”, sahut Pertiwi.
       “Kok sepagi ini sudah ada di sini. Di mana kau menginap tadi malam?”, tanya Marni keheranan.
       ”Di dalam bus”, sahut Pertiwi sambil tersenyum, “tentu kalian pun tahu, sekarang kita bisa menempuh perjalanan dengan bus kapan saja, siang ataupun malam. Aku berangkat kemarin sore, dan tiba tadi pagi. Aku merencanakan akan pulang lagi nanti sore”.
       “Ah kenapa begitu tergesa-gesa? Menginap saja di sini. Seminggu atau sebulan pun kami tidak akan keberatan. Bukan begitu Mar?”, kata Nasrul diakhiri dengan pertanyaan kepada isterinya.
       “Benar Wiwi. Banyak sekali hal yang ingin kami ketahui tentang dirimu”, kata Marni menyetujui.
       “Terimakasih atas undangan kalian. Sayang aku tidak dapat meninggalkan tugasku terlalu lama. Aku hanya minta izin dua hari. Mungkin lain kali kalau aku diberi cuti”.
       “Ya, sayang sekali”, ujar Marni.
       Sejenak tidak ada yang bicara. Tetapi kemudian Marni bertanya: “Ngomong-ngomong, kenapa kau tidak bawa suamimu supaya kami mengenalnya?”.
       Pertiwi menunduk. “Aku belum kawin Mar. Aku belum bisa melupakan Wawan”, sahutnya hampir berbisik.
       ”Akulah yang salah. Untuk itu aku minta maaf kepadamu Wiwi”.
       “Mengapa kau merasa bersalah Mar?”, tanya Pertiwi heran.
       “Maafkan aku Wiwi. Sebenarnya aku dan semua kawan-kawan sudah tahu persoalanmu dengan Wawan sampai kau diusir ayahmu. Akulah yang mendorongmu untuk merayunya. Akibat doronganku itu ternyata nasibmu jadi begini”, sahut Marni.
       “Buang rasa bersalah itu Mar. Aku justru berterimakasih sekali kepadamu. Karena doronganmu itu, aku jadi mengetahui kehidupan Wawan yang sebenarnya, sehingga tiba-tiba saja aku memutuskan memilih dia untuk jadi calon teman hidupku”.
       “Mengapa?”. Marni dan Nasrul bertanya serempak. Mereka merasa di balik keputusan gadis itu tentu ada rahasia besar.
       “Apa yang dia perlihatkan dalam pergaulan sehari-harinya dengan kita yang nampak angkuh itu, sebenarnya karena rasa rendah dirinya yang parah. Kita semua menganggap dia sama dengan kita. Padahal di tempat tinggalnya, dia memiliki kehidupan lain. Dia itu seorang kacung Mar. Tinggal di dangau sendirian, dan pekerjaan sehari-harinya menunggu sawah, menyabit rumput, menggembala kerbau, atau mencangkul, memperbaiki pematang-pematang yang rusak”.
       “Wiwi!!!?”. Nasrul dan Marni terbelalak.
       “Itulah kenyataan hidup dia Nas. Dia seorang yatim-piatu. Tidak punya sanak-kadang seorang pun. Maka aku menawarkan pekerjaan sebagai kusir delman keluargaku. Aku mendorongkan diriku sendiri untuk jadi teman hidupnya. Aku kasihan kepadanya Mar. Aku bermaksud mengurangi penderitaan hidupnya. Tetapi rupanya nasib menentukan lain”, jelas Pertiwi sambil menghela nafas berat.
       “Wiwi! Kau...?!”.
       Nasrul dan Marni menatap Pertiwi bagai patung-patung. Mereka benar-benar tidak menyangka kisah kasih dua kawan mereka yang memiliki kemampuan menonjol itu demikian mengharukan, bagai cerita dongeng di zaman bahari.
       “Apa kau pernah bertemu dengannya setelah peristiwa G30S dulu?”, tanya Marni.
       Pertiwi menggeleng lemah. “Belum. Tetapi aku masih mengharapkannya bertemu lagi. Karena itu aku masih menunggu”.
       Nasrul dan Marni menggeleng-gelengkan kepalanya lagi, dan Marni tidak tahan untuk menanggapinya.
       “Wiwi, betapa mulia dan setianya kau. Aku tidak mengira kau memiliki pribudi yang mengagumkan”, ujarnya.
       “Tetapi kau telah menyia-nyiakan hidupmu Wiwi”. Nasrul berkomentar, “setelah sekian tahun Wawan tidak muncul, seharusnya kau mengambil langkah lain. Kau masih muda. Meskipun keadaanmu seperti ini, asal kau mau, pasti banyak laki-laki yang tidak keberatan untuk mengambilmu sebagai isteri”.
       “Termasuk kau”. Marni menukas.
       ”Husy, memangnya aku laki-laki macam apa?”, ujar Nasrul.
       Pertiwi tersenyum, lalu katanya: “Apa yang diucapkan suamimu tak salah Mar. Bahkan baru kemarin aku dilamar seorang insinyur muda, dan seminggu yang lalu oleh dokter muda”.
       “Ah syukurlah. Tentu kau menerima salah seorang di antara mereka kan?”, kata Marni.
       Pertiwi menggeleng. “Tidak Mar. Aku masih ingin menunggu Wawan’, sahutnya.
       Kini kedua suami-isteri itu terlongong-longong. Mereka percaya penuh pada kata-kata gadis itu. Tetapi mereka tidak mengerti akan isi hatinya yang terus bertahan menunggu orang yang nasibnya tidak diketahui. Sementara orang yang bermasa depan jelas dan baik, justru ditolaknya.
       “Sudahlah Mar, Nas. Soal diriku jangan kalian cemaskan. Sekarang aku justru ingin tahu tentang kalian dan kawan-kawan lainnya. Di mana kalian bekerja?”, tanya Pertiwi.
       “Kami jadi guru di bekas sekolah kita Wiwi”, sahut Nasrul.
       “Syukurlah. Dengan demikian kalian sudah memiliki penghidupan yang mantap bagi masa depan kalian. Lalu bagaimana dengan kawan-kawan lainnya?”.
       “Hampir semuanya sudah punya nasib memadai, dan banyak yang sudah tidak ada di sini. Mereka sudah dibawa oleh suami atau pindah bersama isteri masing-masing ke kota. Yang paling maju adalah Henni dan Maryanti. Keduanya telah selesai sekolah dan memiliki kedudukan lumayan. Hanya seorang yang menurut lahiriahnya bernasib malang, yaitu si Susi”, sahut Marni.
       “Kenapa dengan dia?”.
       “Ayahnya menjadi korban G30S. Si Susi tidak dapat melanjutkan sekolahnya lagi, bahkan untuk menamatkan SMA sekalipun. Sekarang dia jadi tulang punggung keluarga, mengurus adik-adiknya. Sekarang dia bekerja di kantor kecamatan sebagai Sekretaris. Tetapi gajinya terlalu kecil untuk mengurus sekian banyak mulut”.
       “Bagaimana suaminya?”.
       “Itulah kemalangan kedua”, sambung Marni. “Karena beratnya beban hidup, Susi tidak banyak berpikir lagi. Ketika ada orang cukup berada dari kecamatan lain yang melamarnya, dia langsung menerimanya. Tetapi baru dua bulan berumah tangga, suaminya ditangkap karena terlibat G30S dan sekarang di Pulau Buru”.
       “Kasihan. Aku jadi ingin menengoknya. Apa dia punya anak?”, tanya Pertiwi.
       “Untunglah belum. Kalau dia punya anak dari suaminya itu, pasti akan menjadi sangat repot. Kini beban dia agak berkurang, karena dua orang adiknya sudah menikah. Tetapi beban adiknya yang ketiga bertambah besar, karena telah di SMA. Kami hanya mampu membebaskan uang sekolahnya, dengan membayarkannya. Tetapi kebutuhan lainnya harus ditanggung oleh Susi. Masih tiga adiknya lagi yang harus ditanggung Susi, yang satu sudah di SMP”.
       Pertiwi mngangguk-anggukkan kepala. “Baiklah. Kalau begitu aku akan menengoknya sekarang saja. Kalau dia mau, aku akan mengajaknya ke Jakarta”.
       “Maksudmu”, tanya Marni.
       “Sebenarnya aku datang ke sini disuruh oleh induk semangku untuk mencari tenaga pengurus rumah yatim-piatu bersamaku. Karena kalian sudah mapan, aku akan mencoba mengajak dia”, sahut Pertiwi.
       Nasrul dan Marni menatap Pertiwi seperti tidak percaya pada pendengarannya, karena melihat keadaan lahiriah kawannya itu yang sangat tidak meyakinkan. Rupanya Pertiwi mengerti apa yang terkandung dalam hati kedua temannya itu.
       “Kalian jangan menilai seseorang dari keadaan lahiriahnya saja. Aku sengaja memakai pakaian begini karena mempunyai dua maksud. Pertama untuk menguji kalian, apa masih mau mengenalku atau justru mengusirku? Kedua, untuk menghindarkan kemungkinan yang membahayakan diriku, karena aku perempuan”.
       Nasrul dan Marni saling pandang sejenak, tetapi kemudian keduanya mengangguk-anggukkan kepala.
       “Nah, aku akan permisi saja, agar tidak terlalu sore pulang nanti”, kata Pertiwi berpamitan.
       “Jangan Wiwi. Kau belum minum apa-apa. Kami bermaksud mengajakmu makan siang”, ujar Nasrul.
       “Jangan repot-repot. Sebagai perempuan kampung, aku bisa makan di mana saja”, sahut Pertiwi sambil bangkit.
       Marni dan Nasrul mengantar Pertiwi sampai di pintu halaman. Mereka memperhatikana langkah-langkah Pertiwi yang menjinjing tas plastik, sampai gadis itu hilang di kelokan jalan.
       Rumah Susi berada agak jauh di luar kota kecamatan, tetapi dapat ditempuh dalam tempo seperempat jam. Sampai di depan rumah Susi, Pertiwi melihat sebuah kios kecil yang dulu tidak ada. Seorang perempuan tua yang tak lain dari ibunya Susi menunggui kios itu, ditemani oleh seorang gadis remaja berusia 16 tahun, adiknya Susi.
       “Punten Bu. Apa Susi ada?”, tanya Pertiwi.
       “O ada. Silahkan saja ke rumah”, sahut perempuan tua itu.
       “Nuhun Bu”, kata Pertiwi pula dan dia masuk ke halaman.
       Nampaknya kedatangan Pertiwi terlihat oleh orang yang berada di tepas rumah, melalui jendela kaca. Karena, baru saja gadis itu sampai di depan pintu, pintu telah dibuka dari dalam, dan seorang perempuan seusia Pertiwi muncul di ambang pintu. Wajahnya kelihatan tidak cerah. Dialah Susi, gadis yang dulu lincah dan senang berolok-olok itu, kini tampak pendiam dan murung.
       “Bibi ingin bertemu dengan siapa?”, tanyanya langsung sambil membuka pintu.
       “Sus, ternyata kau cepat melupakan teman”, kata Pertiwi tanpa menyahuti pertanyaan itu.
       Susi terkejut dan menatap lekat tamunya. Tiba-tiba saja gadis itu merangkul dan memeluk Pertiwi dengan erat sementara matanya berkaca-kaca.
       “Wiwi...oo sekalipun kau memakai baju gembel, aku tidak akan melupakanmu.Aku hanya tidak menyangka akan bertemu denganmu dalam keadaan begini”, sahut Susi dengan suara mengisak.
       Pertiwi merangkulnya pula, dan air matanya poun tidak bisa ditahannya melelehi pipinya.
       “Sus, rupanya kita senasib. Kudengar dari Marni, ayahmu jadi korban G30S”.
       “Itulah nasibku Wiwi. Aku ingin melanjutkan sekolah seperti teman-teman, tetapi nasib menentukan lain. Yang paling menyakitkan hati, aku kawin justru dengan orang dari kelompok pembunuh ayahku. Oo...kalau saja aku tidak dijejali ajaran agama sejak kecil, mungkin aku sudah bunuh diri”.
       Pertiwi menepuk-nepuk punggung Susi. Dia dapat merasakan penderitaan itu. Maka dia memapah Susi masuk ke tepas, karena Susi sendiri nampaknya masih terbawa arus emosi kepahitan hidupnya.
       “Kau lihat pakaianku Sus. Bukankah kau masih lebih baik dariku?”, kata Pertiwi meredakan.
      Susi menyusut air matanya dan memperhatikan pakaian Pertiwi lebih seksama.
       “Tapi aku tidak melihat penderitaan di wajahmu. Wajahmu tetap tampak segar seperti dulu. Sedangkan wajahku sudah mulai dijalari garis-garis ketuaan”, sahut Susi.
       Pertiwi tersenyum, lalu katanya: “Ada dua hal yang kulakukan. Pertama, aku membuang semua kepahitan masa lalu, dan kedua, aku hadapi hari esok tanpa dihantui oleh keinginan yang melonjak-lonjak. Bahkan sekalipun kelengkapan untuk itu kupunyai, tetapi justru aku mencari arti hidup di tempat yang tak seorang pun menghendakinya”.
       “Aku tidak mengerti maksud perkataanmu yang kedua”.
       Pertiwi mengangguk. “Jangan kau pikirkan yang kedua itu, karena memang sulit dibayangkan. Kalau ada orang yang mengerti maksudnya juga, mungkin akan menganggapku orang kurang waras. Aku hanya ingin menyarankan, sekalipun beban hidupmu demikian berat, hadapilah dengan tawakal. Jangan ditambah dengan rasa sakit hati yang memperberat bebanmu yang lahiriah”.
       “Sulit sakit hati itu kubuang”, sahut Susi.
       “Kalau mengikuti perasaan, sebenarnya aku pun punya rasa sakit hati. Aku dilahirkan, tetapi kemudian dibuang oleh orang yang membuatku lahir ke dunia, hanya karena mencintai orang yang dianggap hina. Dan kekasihku itupun direnggutnya dari sisiku. Tetapi semua itu aku terima dengan pasrah”, kata Pertiwi.
       “Aku tahu semua cerita tentang keluargamu. Bahkan aku tahu juga, berkat jasa Wawan kekasihmu itu, sebagian besar tokoh agama terhindar dari malapetaka. Di mana sekarang dia Wiwi?”.
       “Tunggu dulu Sus. Siapa yang mengatakan Wawan berjasa?”, tanya Pertiwi heran.
       “Ada tokoh agama yang melihat ketika Wawan dihukum ayahmu. Dia mendengar pesan terakhir Wawan sebelum menjalani hukuman, dan tokoh agama itu mengenalnya sebagai orang yang menyebarkan surat peringatan di wilayah kecamatan ini. Sayang dia tidak sempat menolongnya. Karena begitu hukuman selesasi, langsung ada yang membawanya naik truk. Setelah itu tidak ada beritanya lagi”.
       “Alhamdulillah. Wawan, ternyata kerjamu tidak sia-sia”, gumam Pertiwi hampir berbisik. Kemudian dia berpaling kepada Susi dan bertanya: “Tetapi ternyata ayahmu jadi korban juga Sus. Apa peringatan itu tidak sampai kepada beliau?”.
       “Sampai, bahkan lebih awal dari yang lain. Justru Bapak yang menyebarkan surat peringatan itu kepada kawan-kawannya. Aku sendiri tidak tahu kejadiannya, karena peristiwanya terjadi di luar rumah. Subuh itu kami menemukan tubuh Bapak di depan rumah dalam keadaan mengerikan. Kedua mata beliau sudah tidak ada”, sahut Susi.
       “Maafkan aku telah mengungkit kesedihanmu Sus”, kata Pertiwi,
       “Tidak apa Wiwi. Aku hanya merasa ngeri karena melihat langsung keadaan ayahku waktu aku hendak mengambil air sembahyang”.
       Sejenak mereka tidak bicara. Susi bangkit. “Aku sampai lupa membuat air minum”, katanya, “tunggulan sebentar”.
       Pertiwi menahannya dengan menarik tangan Susi supaya duduk lagi. “Jangan Sus. Aku belum haus kok. Duduklah. Lebih baik kita ngobrol saja”, sahut Pertiwi.
       Susi duduk lagi dan dia bertanya: “Mana Wawan? Kenapa dia tidak datang bersamamu?”.
       “Truk yang membawa Wawan setelah menjalani hukuman itu adalah penculik Sus. Aku dan penolongku berusaha mengejarnya. Tetapi kami terlambat, karena sebelum dapat menyusulnya, dia telah meloncat ke sungai, walaupun para penculiknya dapat ditangkap”, sahut Pertiwi.
       “Jadi bagaimana nasibnya?”.
       “Sampai sekarang aku belum bertemu lagi”, sahut Pertiwi sambil menghela nafas.
       “Kalau begitu, kau kawin dengan siapa?”.
       “Belum Sus. Aku masih menunggu dia. Kukira dia masih mencari-cari aku sebagaimana aku pun masih terus mencari-carinya”.
       “Tetapi sekarang sudah 8 tahun berlalu. Apa kau tidak membuang waktu sia-sia? Kau seorang wanita Wiwi. Apa tidak takut keburu tua?”.
       “Kenapa takut? Soal jodoh ada di tangan Tuhan. Meski aku sudah tua, kalau Tuhan akan memberi jodoh kepadaku, kita tidak akan bisa mengingkarinya. Tetapi sampai sekarang hatiku belum tergerak untuk menerima lelaki lain. Berarti Tuhan belum memberi jodoh kepadaku”, sahut Pertiwi.
       “Tetapi apakah selama ini ada lelaki yang mendekatimu?”.
       “Banyak. Mulai dari tukang ngamen hingga sarjana. Yang terakhir kemarin, seorang insinyur muda melamarku”.
       “Dan kau menolaknya juga?”, tanya Susi.
       Pertiwi mengangguk tanpa menyahut. Susi menggeleng-gelengkan kepala. Sama seperti Marni dan Nasrul, dia tidak mengerti cara berpikir gadis itu.
       “Baiklah kita lupakan dulu soal diriku”, kata Pertiwi mengalihkan pembicaraan. “Aku dengar dari Marni, kau sekarang bekerja di kantor Kecamatan. Berapa gajimu sebulan?”.
       “Lima belas ribu”, sahut yang ditanya, “padahal aku masih punya empat adik yang harus dibiayai”.
       “Ngng...bagaimana kalau kutawarkan kerja di Jakarta, di tempat kerjaku mengurus anak-anak yatim-piatu? Kau mau ikut? Kau akan memperoleh gaji bersih lima puluh ribu di luar makan dan pondokan. Kau juga dapat membawa salah seorang adikmu untuk disekolahkan di sana sambil membantu-bantu kerjamu. Dengan demikian, kau dapat mengirim sebagian penghasilanmu ke sini, dan memberi kesempatan adikmu untuk...”.
       “Wiwi benarkah?”, tanya Susi dengan mata bersinar sambil memegangi kedua tangan Pertiwi.
       “Apa aku pernah bicara main-main?”. Pertiwi balik bertanya.
       “Oo alangkah senangnya. Aku bisa menjauhi kenangan pahit di sini yang selalu menjadi beban pikiranku, dan aku bisa mengambil kursus-kursus”, gumam Susi, “tetapi...ah aku cemas kalau meninggalkan Ibu tanpa bekal sebelum aku dapat mengirim gajiku”.
       “Jangan risaukan soal itu. Asal kau siap, aku dapat meninggalkan bekal untuk Ibumu”.
       “Benar Wiwi?”, tanya Susi, dan tangannya memegang tangan Pertiwi lebih erat.
       Pertiwi mengangguk. Tiba-tiba saja Susi menghambur keluar menuju kios. Tak lama kemudian dia telah kembali sambil menuntun ibunya yang memperlihatkan wajah bertanya-tanya.
       “Ibu. Apa Ibu masih kenal pada dia ini?”, tanya Susi kepada ibunya sambil menunjuk kepada Pertiwi.
       Pertiwi bangkit mengulurkan kedua tangannya untuk menyalami perempuan tua itu. Sementara perempuan tua itu untuk beberapa lamanya menatap Pertiwi dengan mengerut kening.
       “Saya Pertiwi, Ibu. Teman sekolah Susi dulu”, ujar Periwi mengenalkan dirinya, “bagaimana kabar Ibu, baik-baik saja?”.
       “Oh...kau Nak Wiwi puteri Pak Camat itu?”, tanyanya seperti tidak percaya, karena melihat dandanan Pertiwi yang jauh dari yang dibayangkannya.
       “Ya Ibu”.
      Tiba-tiba saja perempuan tua itu memeluk Pertiwi, sementara mulutnya berbisik dengan mata berkaca-kaca: “Bagaimana mungkin kau bisa jadi begini?”.
       Ternyata terhadap perempuan tua itu Pertiwi tidak tega membiarkan sentuhan kesedihan terlalu lama. Karena itu setelah pelukannya terlepas, Pertiwi membuka baju kebaya dan kainnya yang belel, sehingga tampaklah baju rok gadis-gadis kota yang sangat serasi dengan tubuhnya yang padat berisi.
       “Maaf Ibu. Sebenarnya saya tidak bermaksud membuat hati Ibu menjadi sedih. Saya hanya ingin menjajagi hati teman-teman, bagaimana kalau saya jatuh jadi orang rudin. Tetapi ternyata mereka tetap merupakan sahabat-sahabat yang tidak luntur oleh keadaan lahiriah”.
       “Ah, sungguh pandai kau mempermainkan kami Wiwi”, kata Susi dengan pandangan penuh kekaguman melihat penampilan kawannya yang memang sangat cantik itu.
       “Aku sengaja memakai samaran untuk menghindarkan perhatian berlebihan dari orang-orang di perjalanan”, sahut Pertiwi, dan dia mengenakan lagi pakaian kebaya dan kaib batik belelnya.
       Sementara itu Susi bicara pada ibunya: “Ibu. Wiwi mengajak Susi bekerja di Jakarta. Apa Ibu mengizinkan tidak?”.
       “Ngng...kalau orang lain, Ibu tidak akan mengizinkannya. Tetapi kepada Nak Wiwi, Ibu percaya. Mudah-mudahan saja dengan berhijrah, kau bisa melupakan kemurunganmu Susi”.
       “Terimakasih Ibu”, sahut Susi sambil memeluk ibunya, dan lanjutnya: “Susi akan membawa Maya sekalian Ibu, supaya sekolahnya bisa terawasi”.
       “Jangan Susi. Nanti Nak Wiwi terbebani lagi. Seharusnya dengan mengajakmu saja, kau harus berterimakasih”, ujar Ibunya.
       “Justru Wiwi yang menganjurkan Ibu”, sahut Susi.
       “Benar Ibu. Sayalah yang menyarankannya”. Pertiwi menguatkan.
       “Apa tidak akan semakin memberatkan Nak Wiwi?”.
       “Tidak Ibu. Justru Maya akan dapat membantu saya dan Susi pada waktu-waktu luangnya”, sahut Pertiwi.
       “O kalau begitu Ibu hanya dapat mengucapkan terimakasih. Karena Ibu cemas tidak dapat mendorong cita-citanya mengingat keadaan kami. Kapan Nak Wiwi akan pulang?”.
       “Rencananya sore nanti Ibu”, sahut Pertiwi.
       “Ah kenapa begitu tergesa-gesa? Menginap sajalah di sini. Sekalian supaya Susi dan Maya dapat bersiap-siap dulu”, ujar Ibu Susi.
       “Karena Susi akan ikut, nampaknya saya memang harus menginap di sini”.
       “Ya, begitu lebih baik”, ujar Ibu Susi.
       “Tetapi saya mohon maaf tidak dapat memenuhi kebaikan Ibu menginap di rumah Ibu”, kata Pertiwi cepat-cepat.
       “Kenapa Wiwi? Aku benar-benara kangen. Bukankah nanti malam kau bisa menceritakan pengalamanmu selama ini?”, kata Susi menyelak.
       Pertiwi tersenyum, lalu sahutnya: “Soal itu dapat kita bicarakan di perjalanan nanti..Waktu luang ini akan aku gunakan untuk mengetahui familiku yang masih ada di luar kota. Karena aku tidak tahu, kapan aku bisa berkunjung ke sini lagi”.
       “Kalau itu alasan Nak Wiwi, Ibu tidak dapat menahanmu”, kata Ibu Susi sambil mengangguk-anggukkan kepala. Susi pun tidak memaksakan keinginannya. Sementara Ibu Susi masih melanjutkan kata-katanya: “Kalau begitu, baiklah Ibu akan memanggil Maya dulu”.
       Setelah orangtua itu berlallu, Pertiwi mengeluarkan loket dari kantung plastik yang dibawanya. Ketika loket dibuka, tampak segepok uang puluhan ribu, sampai mata Susi terbelalak melihatnya. Pertiwi mengambil lima lembar dan diserahkan kepada Susi.
       “Cukup?”, tanyanya.
       “Wiwi, dari mana kau punya uang sebanyak itu?”. Susi balik bertanya.
       “Hasil kerjaku yang kutabung. Habis kenapa?”.
       “Tetapi...”.
       Susi tidak meneruskan kata-katanya karena Ibunya telah muncul lagi diikuti oleh Maya.
       “Maya, ini Kak Wiwi, teman sekolahku dulu. Apa kau masih kenal?”, tanya Susi kepada adiknya.
       Sejenak Maya menatap Petiwi, tetapi kemudian dia menggelengkan kepala. Pertiwi tersenyum.
       “Tentu saja tidak akan kenal, karena waktu itu Maya baru berusia 8 tahun, dan Kak Wiwi jarang bertamu ke sini”.
       Maya mengangguk. Pertiwi menruskan kata-kataya: “Begini Maya. Kak Wiwi mau mengajak Kak Susi bekerja di Jakarta. Kalau Maya mau ikut, Maya bisa tinggal bersama Kak Susi dan pindah sekolah, mau?”.
       “Ah benarkah? Tentu saja saya mau. Saya ingin sekali melihat kota Jakarta. Bukankah kota itu ramai sekali Kak Wiwi?”, tanya Maya.
       “Memang. Tetapi kau kuajak bukan untuk piknik. Kau akan tinggal di sana dan sekolah”, kata Susi.
       “O tentu lebih senang lagi”, katanya dengan mata bersinar.
       “Kalau begitu, kau harus pergi ke rumah Bu Marni dan Pak Nasrul untuk meminta tolong, agar mereka membereskan kepindahan sekolahmu, karena besok subuh kita sudah berangkat”, kata Susi.
       “Baik Kak”, sahut Maya, dan dengan gembira dia berlalu. Sementara itu Susi memberikan uang dari Pertiwi kepada ibunya.
       “Ibu. Ini bekal untuk Ibu dari Wiwi sebelum Susi dapat mengirim ke sini”.
       Ibu Susi tidak segera menerima uang itu. Dia hanya melihatnya sekilas. Bahkan kemudian berpaling kepada Pertiwi dengan wajah berubah.
       “Sebentar Nak Wiwi”, kata perempuan tua itu, “sebenarnya pekerjaan apa yang Nak Wiwi tawarkan kepada anakku?”.
       Pertiwi mengerti ke mana arah pertanyaan itu. Maka sahutnya: “Mengurus anak-anak yatim-piatu Ibu. Saya juga bekerja di sana. Uang itu uang halal hasil tabungan saya. Harap Ibu jangan cemas”.
       Tiba-tiba saja perempuan tua itu mengangkat kedua belah tangannya, dan mulutnya bergumam mengucapkan syukur kepada Tuhan dengan mata berkaca-kaca.
       “Sebagian uang itu dapat Ibu gunakan untuk melengkapi isi kios, sebelum Susi dapat mengirim gajinya ke sini”, kata Pertiwi.
       “Begini banyak?”, katanya sambil menerima uang itu dari Susi.
       “Susi juga pasti akan dapat mengumpulkannya asal mau hidup hemat”, ujar Pertiwi.
       “Susi akan dapat gaji 50.000 sebulan Ibu. Lebih dari gaji tiga bulan di sini. Susi menambahkan.
       “Alhamdulillah ya Alloh. Rupanya Engkau akan membukakan jalan lebih baik kepada kami sekeluarga”.
       “Mudah-mudahan Ibu”, sahut Pertiwi mendukung doa orangtua itu.
       “Nak Wiwi. Ibu minta kau jangan berangkat dulu sebelum makan siang di sini. Bukankah kau sedang masak Susi?”, tanyanya kepada anaknya.
       “Ya Bu. Sebentar lagi juga masak”, sahut Susi.
       Pertiwi tidak dapat menolak ajakan itu. Karena itu terpaksa dia tinggal lebih lama. Namun setelah makan Pertiwi berpamitan.
       “Jangan lupa. Aku tunggu kalian di terminal besok pagi. Kalau bisa, kita akan berangkat dengan bus yang pertama agar tidak terlalu malam tiba di Jakarta”, pesan Pertiwi kepada Susi.
       “Baik Wiwi”.
       Maka Pertiwi pun berlalu meninggalkan rumah Susi diantar oleh Susi sampai pintu halaman. Karena tidak ada delam, Pertiwi berjalan kaki sambil menjinjing tas plastiknya. Susi memperhatikan sampai tamunya hilang di kelokan jalan. Gadis itu berkali-kali menggelengkan kepala melihat tampang semu kawannya yang seperti bibi-bibi itu. Dia yakin, tak seorang pun akan menyangka, perempuan berkebaya dan berkain batik belel dengan mengenakan sandal jepit itu adalah gadis cantik bekas kembangnya kecamatan.
       Dalam pada itu Pertiwi yang tengah melangkah di tengah panasnya matahari, mendengar bunyi kliningan delman dari arah belakangnya, tidak jauh dari belokan jalan. Dia berhenti menunggu. Kebetulan delman itu kosong. Sejenak kemudian dia telah berada di atas delman tersebut.
       “Ke pasar Bu?”, tanya kusir delman.
       “Bukan. Saya mau ke Pasirpanjang pulang-pergi. Apa Mang kusir mau?”.
       “Begitu jauh Bu. Perjalanan pulang-pergi saja menghabiskan waktu kira-kira tiga jam. Berapa lama Ibu tinggal di sana?”, tanya Mang Kusir.
       “Paling lama setengah jam. Dengan begitu kudamu dapat beristirahat dulu Mang”, sahut Pertiwi.
       Mang Kusir mengangguk dan mengedut les kudanya. Sejenak kemudian kuda penarik delman itu telah mencongklang menuju ke luar kota kecamatan. Selama dalam perjalanan yang panjang itu Pertiwi menikmati siliran angin pegunungan yang sejuk sambil memperhatikan hamparan padi menghijau berombak-ombak tertiup angin. Selama itu pula berbagai kenangan masa lalu membayang dalam pikirannya. Saat dibawa kabur kuda gila. Saat berpandangan dengan tukang rumput yang menyelamatkannya. Saat Darmawan duduk bersila di halaman dangau sewaktu akan diusir oleh Nyi Icih, Mang Sarju, dan kawan-kawannya. Hingga terjadi perkelahian dengan Bung Miin yang mengalahkannya. Semuanya terpeta begitu jelas, seolah terjadinya baru kemarin. Dengan demikian, perjalanan yang cukup jauh itu tidak terasa membosankan. Pertiwi tersadar ketika matanya melihat bangunan rumah di bawah anak bukit yang dulunya dangau. Kini dangau itu telah berubah bentuk menjadi sebuah rumah gedung berhalaman luas. Pada ujung halaman terdapat papan nama LUMBUNG DARMA SUKARTA.
       Di seberang jalan dari gedung itu telah berdiri sebuah mesjid, tidak terlalu besar, tetapi tampak bersih menyenangkan, dikelilingi beberapa jenis pohon seperti jambu, mangga, jeruk, dan beberapa jenis buah-buahan lainnya yang brdaun rindang-rindang. Beberapa di antara pepohonan itu tampak sudah berbuah. Di depan mesjid terlihat pula kolam dan pancuran tempat berwudu.
       “Di sini saja Mang”, kata Pertiwi setelah sampai di depan mesjid. “Mang Kusir dapat beristirahat di mesjid ini. Saya ingin menemui kenalan di rumah itu sebentar”, sambungnya pula.
       Pertiwi turun dari delman sambil menjinjing tas plastiknya. Dia berjalan ke arah gedung bekas dangau itu. Seorang lelaki setengah baya muncul di pintu rumah, memperhatikan tamu yang menghampirinya.
       “Assalamu’alaikum”, sapa Pertiwi.
       “Wa ‘alaikum salam”, sahut yang disapa.
       “Apa kabar Pak Muchtar?”.
       Mendengar pertanyaan itu si penghuni rumah yang bernama Pak Muchtar tampak terkejut. Matanya memandang lekat kepada tamunya. Kemudian dengan gugup dia membungkukkan badannya.
       “Nd...Nden Wiwi? Apa-apaan ini?”, tanyanya, sementara pandangan matanya jatuh pada sepasang kaki bersandal jepit berdebu di hadapannya. Tetapi dia cepat reda dari keterkejutannya. “Mari, silahkan masuk Nden”, ajaknya sambil bergeser dari tengah pintu.
       Pertiwi tersenyum, dan tanpa segan-segan dia berjalan masuk ke ruang tamu diikuti oleh yang punya rumah. Sementara Pertiwi mengambil tempat duduk, Pak Muchtar memanggil anaknya.
       “Iyam!”, teriaknya.
       “Ya Ayah”, sahut suara gadis dari dalam.
       “Tolong buatkan air untuk tamu”.
       “Baik Ayah”.
       Pak Muchtar duduk dihadapan tamunya dengan kepala menggeleng-geleng. Namun begitu mulutnya berkata.
       “Hampir enam tahun Nden tidak kemari. Kapan dari Jakarta? Dan bagaimana kabar Pak Abdurrakhman?”, tanyanya.
       “Alhamdulillah. Keluarga di Jakarta dalam keadaan sehat walafiat”, sahut Pertiwi, lalu: “Saya ke sini memburu pagi untuk menghemat waktu, karena ada urusan dengan kawan-kawan sekolah dulu”.
       Pak Muchtar menganguk-anggukkan kepala. Nampaknya dia dapat menduga maksud gadis itu memakai pakaian bibi-bibi. Dalam pada itu Mariyam, anak Pak Muchtar, muncul dari dalam dengan membawa penampan.
       “Iyam. Nanti suruh Mang Tamim memetik buah-buahan. Bilangkan untuk oleh-oleh ke Jakarta”, kata Pak Muchtar sementara Mariyam menyajikan minuman.
       “Baik Ayah”.
       “Tidak usah Pak. Saya tidak akan lama. Saya ke sini hanya ingin menanyakan kalau-kalau ada berita tentang orang yang saya pesankan dulu”.
       “Tentang dia, sampai sekarang belum datang ke sini Nden. Kalau sudah, tentu Bapak akan memberikan alamat Nden kepadanya. Bapak juga akan langsung mengirim beritanya”, sahut Pak Muchtar, sementara Mariyam telah masuk ke dalam kembali.
       Pertiwi menghela nafas panjang. Dia yakin, Darmawan pernah datang ke sini, tetapi sebelum Pak Abdurrakhman selesai menguruskan pengambilalihan kembali tanah milik Juragan Sukarta dari para perampasnya, sehingga tidak mengetahui bahwa tanah itu dapat diselamatkan dan telah disumbangkan kepada lembaga-lembaga sosial sesuai dengan amanat almarhum. Pertiwi sendiri yang menyarankan nama Lumbung Darma Sukarta itu dengan dua maksud. Pertama, mengisyaratkan dilaksanakannya amanat almarhum Juragan Sukarta oleh Darmawan. Kedua, isyarat kepada Darmawan yang pasti akan tertarik, karena hanya dirinya dan Pak Abdurrakhman yang mengetahui amanat almarhum itu. Namun nampaknya hingga saat itu Darmawan belum pernah datang lagi ke tempat ini.
       Sekitar setengah jam kemudian Pertiwi telah berpamitan kepada Pak Muchtar. Ketika Pertiwi naik ke atas delmannya kembali, ternyata di atas delman sudah ada dua keranjang buah-buahan.
       Tepat sebagaimana yang diperhitungkan, delman yang ditumpanginya memasuki kota kecamatan kembali sekitar pukul empat sore.
       “Terus ke Jembatan Ciseel Mang”, kata Pertiwi kepada Mang Kusir ketika lewat di depan kantor kecamatan.
       Keadaan kantor itu tampak tidak berubah. Demikian juga dengan rumah bekas tempat tinggalnya. Yang berubah hanya penghuninya.
       Setibanya di Jembatan Ciseel, Pertiwi menyuruh Mang Kusir berbelok ke jalan tanggul mengikuti aliran sungai itu. Setelah sampai ke tempat terakhir mobil pick up yang menculik Darmawan dulu ditangkap, Pertiwi turun dari delman, dan menyuruh Mang Kusir berbalik ke jembatan. Dia sendiri berjalan menyusuri pinggiran sungai itu ke arah jembatan.
       Suatu saat langkahnya menegun. Pada sebuah batu kali cukup besar yang menonjol keluar dari tanah di sisi kali, Pertiwi melihat pahatan huruf seukuran jari berbunyi WAN ’66.
       Pertiwi berjongkok, meraba pahatan huruf itu dengan jari-jarinya. Beberapa lamanya dia terpaku. Terbayang dalam ingatannya, tahun itu dia pernah menyusuri pinggiran kali seperti yang dilakukannya sekarang. Waktu itu dia juga melihat batu itu, tetapi seingatnya tidak ada pahatan huruf tersebut. Artinya, huruf itu dibuat lebih belakangan.
       Pertiwi membuka tas plastiknya, dan mengeluarkan sebuah kaleng cat kecil dengan koasnya yang memang dibawanya dari Jakarta. Dia membuka kaleng cat itu. Dia mengecat bekas takikan itu. Dan di bawah takikan itu dia mengecat huruf baru berbunyi WI ’74.
       Pertiwi bangkit sambil menghela nafas. Setelah mengetahui adanya pahatan itu, Petiwi tidak memperhatikan lagi pingiran kali. Dia langsung balik ke jembatan, dan naik ke atas delman yang telah cukup lama menunggunya.
       “Ke penginapan Betah Mang”, ujarnya kepada Mang Kusir.
       Tiba di depan penginapan, Pertiwi turun setelah membayar ongkos delman lima ribu rupiah.
       “Lebihnya buat Mang Kusir”, kata Pertiwi sambil berlalu dan masuk ke penginapan sambil menjinjing tas plastik dan dua keranjang buah-buahan pemberian Pak Muchtar.
       “Terimakasih Bu”, sahut Mang Kusir dengan wajah berseri. Sebelum dimasukkan ke dalam sakunya, uang itu ditekankan dulu kepada kepalanya, karena mendapat rejeki nomplok yang tidak disangka-sangkanya dari seorang perempuan berpakaian belel.
       Hari terus merayap, sore berangsur-angsur gelap. Malampun terus berlalu, sampai muncul tali putih di ufuk timur. Pertiwi keluar dari penginapan setelah subuh, langsung ke terminal yang letaknya tidak jauh dari penginapan. Sampai di terminal, ternyata Susi dan Maya sudah berada di sana. Maka ketiganya langsung naik bus yang akan berangkat pertama.
       “Apa tugasku nanti Wiwi?”, tanya Susi setelah bus bergerak keluar dari terminal.
       “Mengurus pelemparan barang-barang hasil karya anak yatim-piatu ke pasaran. Dengan pembawaanmu yang lincah dulu, aku percaya, dalam tempo singkat kau akan dapat menyesuaikan diri. Langkah pertama, kau harus banyak berkeliling kota untuk mengenal pasaran. Karena kau masih baru di sana, mungkin dalam waktu sebulan ini Ibuku akan menuntunmu. Sedangkan Maya, dalam waktu luangnya dapat ikut denganmu untuk mencari pengalaman”, sahut Pertiwi. Lalu katanya kepada Maya: “Bukankah kau juga ingin mengenal kota Jakarta Maya?”.
       “Ya Kak Wiwi”, sahut Maya dengan wajah berseri.
       “Tetapi kau juga harus belajar sungguh-sungguh. Sebab barang-barang yang akan dipamerkannya juga akan terus berkembang dan banyak ragamnya, mulai dari baju anak-anak hingga barang seni kerajinan tangan. Dengan demikian, selain sekolah, kau akan mendapat keuntungan pengalaman kerja yang berharga apabila sekolahmu sudah selesai”.
       “Aku mengerti Kak Wiwi. Aku akan berusaha mempelajarinya sungguh-sungguh”.
       “Sebenarnya berapa orang anak yatim-piatu yang kau urus itu Wiwi?”, tanya Susi.
       “Sekarang ini ada 25 orang. Tetapi jumlah itu akan bertambah terus”, sahut Pertiwi.
       Dengan mengobrol berbagai persoalan, tanpa terasa hari pun terus berjalan. Matahari terus merayap naik makin tinggi dan semakin siang. Lewat tengah hari, matahari mulai menggelincir turun ke barat.
       Perjalanan kali ini tidak selancar seperti ketika Pertiwi pertama kali ke Jakarta. Bus yang mereka tumpangi baru masuk terminal sekitar pukul7 malam. Dari terminal mereka naik bemo.
       Begitu turun dari bemo di depan rumah yatim-piatu, Susi dan Maya berdiri mematung melihat bangunan rumah yatim-piatu yang besar itu. Yang paling mengejutkan Susi adalah nama rumah yatim-piatunya yang terpampang pada papan nama di atas gerbang halaman yang cukup luas itu.
       “Wiwi, apakah rumah yatim-piatu ini milikmu?”, tanya Susi.
       Pertiwi menggeleng. “Bukan”, sahutnya.
       “Tetapi nama itu...?”.
       “Hanya kebetulan. Ibu angkatku sendiri yang memberikan nama itu. Mungkin karena rasa sayangnya kepadaku”.
       “Ah kalau begitu sama saja. Kalau ini rumah yatim-piatu Ibumu, bukankah tidak ada bedanya dengan milikmu juga?”.



-----ooooooo-----



       “Tidak, tidak sama, bahkan jauh bedanya Ayah”, sahut Pertiwi.
       Jawaban itu dikemukakan dalam percakapan antara Pak Abdurrakhman, isterinya, dan Pertiwi di ruang makan pada saat sarapan pagi.
       “Tetapi bukankah kau setuju menerima lamarannya?”, tanya Pak Abdurrakhman.
       “Terpaksa Ayah. Sebab tidak ada pilihan lain bagi Wiwi. Ayah mengatakan, terpaksa menerima lamaran dari Profesor Sumardi, karena Profesor Shindu juga mengajukan lamaran untuk anaknya. Itu hanya mengandung satu arti bahwa, Ayah terpaksa memilih yang lebih baik di antara dua pilihan yang jelek, yang tidak dapat ayah tolak karena keduanya sahabat dekat Ayah. Bukankah begitu?”.
       “Itulah kelemahan Ayah, Wiwi. Ayah minta maaf karena telah memberi keputusan tanpa meminta persetujuanmu dulu. Ayah sadar, kau pasti kecewa atas tindakanku itu. Karena apa yang Ayah lakukan sebenarnya tidak berbeda dengan yang dilakukan ayah kandungmu dulu. Padahal Ayah tahu betul kedua pelamar itu, meski keduanya sahabat Ayah, dalam masalah ini tidak ada yang baik. Kalau saja kau telah membuat ikatan dengan yang lain, Ayah tidak akan tersudutkan pada keputusan ini”.
       “Wiwi mengerti Ayah. Karena itulah Wiwi pun terpaksa menyetujuinya. Sebab keputusan Ayah itu terjadi karena kesalahan Wiwi juga. Kejelekan sahabat Ayah yang satu sudah Wiwi ketahui, yaitu suka memaksakan kehendak. Sementara sahabat Ayah yang satunya lagi, Wiwi samasekali belum mengenalnya. Jangankan sifat-sifatnya, orangnya sendiri belum pernah Wiwi lihat, sehingga tidak tahu di mana letak kejelekannya. Tetapi dari pilihan keputusan Ayah, Wiwi yakin, Ayah mempunyai penilaian lebih jelek”, sahut Pertiwi.
       “Syukurlah kalau kau dapat memahami kesulitan Ayah. Ayah mengucapkan terimakasih atas sikapmu mau mengalah pada tindakan Ayah yang salah”, kata Pak Abdurrakhman. “Tetapi Ayah ingin mendengar ketidaksamaan yang kau katakan tadi”, sambungnya.
       Pertiwi mengangguk. Lalu jawabnya: “Sebenarnya apa yang Wiwi katakan dengan sampai terjadi saling pengertian adalah kata lain dari penolakan. Sebab dengan sikap Suwarno yang suka memaksakan kehendak, saling pengertian itu tidak akan terjadi selamanya, dan itu berarti, perkawinan tidak akan terjadi. Sedangkan jika Wiwi menerima sikap mengalah mereka bahwa soal waktu perkawinan diserahkan kepada Wiwi, perkawinan itu harus terjadi juga meskipun sangat terlambat”.
       “Tetapi Ibu yakin, dia tidak akan tahan menanti terlalu lama, sehingga akhirnya dia kawin duluan dengan gadis lain. Kau bisa mengajukan syarat, kalau sampai terjadi demikian, pertunangan itu langsung putus”, kata Nyonya Abdurrakhman turut bicara.
       “Kalau dilihat dari sikap ngotot mereka, Wiwi merasa ragu Ibu”, sahut Pertiwi, “mereka dapat menempuh cara lain agar pertunangan itu tidak putus. Suwarno bisa menempuh jalan dengan jajan di luaran untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Dengan demikian dia akan memperoleh keuntungan ganda. Yang semakin rugi adalah Wiwi”.
       Pak Abdurrakhman dan isterinya mengangguk-anggukkan kepala.
       “Kau benar Wiwi. Justru karena soal yang kau katakan itulah yang terjadi pada putera sahabatku yang lain, sehingga Ayah terpaksa mengambil keputusan menerima lamaran Sumardi”, kata Pak Abdurrakhman.
       “Maksud Ayah, pemuda yang bernama Suherman itu biasa jajan?”, tanya Pertiwi.
       “Ayah kurang tahu pasti. Tetapi pergaulan anak itu terlalu bebas. Beberapa kali Ayah melihat dia membawa gadis yang berbeda. Mungkin juga dugaan Ayah tidak benar. Tetapi Ayah tidak berani mengambil resiko”, sahut Pak Abdurrakhman.
       “Wiwi mengucapkan terimakasih padamu Ayah.Ternyata Ayah benar-benar memperhatikan masa depan yang baik bagi Wiwi”.
       “Baiklah kalau begitu. Memang persyaratan yang akan kau kemukakan jauh lebih baik. Sekarang kita tinggal menunggu kedatangan mereka. Ayah merasa lega, karena dengan tanpa menentang keputusan yang Ayah berikan kepada mereka, kau telah menemukan jalan untuk menolak lamaran secara halus. Sekarang marilah kita pindah ke ruang depan”, kata Pak Abdurrakhman sambil bangkit dari duduknya, diikuti oleh isterinya dan Pertiwi.
       Sesuai dengan yang dijanjikan, Profesor Sumardi, isterinya, dan Suwarno muncul tepat pada waktunya. Pak Abdurrakhman dan isterinya menyambut mereka mempersilahkan masuk ke tempat perundingan yang telah disediakan khusus. Profesor Sumardi berbadan tinggi tegap dengan wajah keras, dan usianya sedikit lebih muda dari Pak Abdurrakhman. Isterinya cukup cantik dengan tinggi tubuh biasa, sehingga tampak kurang seimbang ketika berdiri di samping suaminya. Sementara Suwarno berdada bidang tetapi tidak terlalu tinggi dengan rambut keriting kecil-kecil.
       “Kami merasa gembira karena akhirnya lamaran kami diterima juga”, ujar Profesor Sumardi membuka percakapan. “Apa Kak Eakhman berdua sudah membicarakan juga penyelenggaraan perayaan pertunangannya dengan Nak Wiwi?”, tanyanya.
       “Belum Dik Mardi”, sahut Pak Abdurrakhman, “sebab anakku baru menyetujui menerima lamarannya, untuk penyelenggaraan perkawinannya meminta persyaratan lain”.
       “Apa syarat itu?”.
       “Katakan Wiwi”, kata Pak Abdurrakhman kepada anaknya.
       “Aku minta perkawinan itu baru dapat dilangsungkan apabila telah tercapai saling pengertian di antara kami, aku dan Suwarno”, sahut Pertiwi tanpa canggung-canggung sebagaimana umumnya gadis-gadis lain ketika menghadapi soal itu.
       “Ah apa bedanya? Bukankah kami telah menyerahkan keputusan waktu perkawinan itu kepadamu sendiri? Kalau Nak Wiwi merasa belum mencapai saling pengertian, perkawinan tidak usah dilangsungkan dulu”, kata Profesor Sumardi.
       “Tetapi bagaimana kalau aku merasa saling pengertian itu belum juga tercapai sampai usia tua?”, tanya Pertiwi.
       “Itu tidak mungkin. Masa untuk membina saling pengertian saja sampai demikian sulit?”.
       Pertiwi menghela nafas, baru kemudian menjawab: “Satu contohnya adalah ketika aku menyatakan belum ada niat untuk menikah. Ternyata Paman tidak mengerti maksudku. Paman tetap meminta keputusan yang positif. Artinya, aku tidak punya pilihan lain kecuali harus menerima lamaran Paman. Itu bukan saling pengertian, tetapi pemaksaan kehendak”.
       Sejenak Pertiwi berhenti untuk melonggarkan nafasnya yang terasa sesak karena harus menahan diri. Sementara wajah Profesor Sumardi dan Suwarno tampak memerah. Tetapi Pertiwi pura-pura tidak melihatnya, dan dia meneruskan kata-katanya lagi.
       “Sekarang aku sudah mengalah kepada Paman, justru dalam soal yang paling penting, soal yang sebenarnya tidak kusetujui. Tetapi untuk selanjutnya aku tidak mau mengalah lagi. Jadi, kelanjutan dari pertunangan itu tergantung dari sikap Suwarno nanti. Aku paling benci kepada pemaksaan kehendak. Karena itu, aku meminta janji bahwa, untuk selanjutnya dia tidak akan melakukan hal itu lagi kepadaku. Tanpa janji itu, aku menolak untuk melangsungkan ikatan pertunangan. Nah, aku minta jawaban itu dulu”.
       Profesor Sumardi, isterinya, dan Suwarno tidak segera menjawab. Mereka membungkam cukup lama, sehingga Pak Abdurrakhman harus memperingatkannya.
       “Nak Warno”, katanya, “anak Bapak minta kau memberikan janji untuk membina saling pengertian, bukan dengan memaksakan kehendak sepihak”.
       “Berikan Warno”, kata Profesor Sumardi.
       “Baiklah, aku berjanji”, sahut Suwarno dengan nada terpaksa.
       “Terimakasih”, sahut Pertiwi, lalu sambungnya: “Dengan demikian segala persoalan yang akan diputuskan harus didasarkan atas persetujuan kedua belah pihak, tentunya yang beralasan kuat. Dan itu berarti, aku sendiri harus mengalah kalau alasan dari tunanganku lebih kuat, lebih masuk akal”.
       Semua yang mendengarkan penjelasan Pertiwi terpaksa menganggukkan kepala, karena apa yang dikatakannya samasekali tidak menunjukkan ingin menang sendiri.
       “Kini syarat kedua”, kata Pertiwi melanjutkan, “aku meminta janji bahwa setelah terjadi ikatan pertunangan, Suwarno tidak boleh berbuat jajan, berjudi, dan mabuk-mabukan”.
       “Aku belum pernah berbuat itu”, kata Suwarno dengan nada tinggi.
       “Syukurlah”, sahut Pertiwi, “tetapi sifat seseorang bisa berubah, baik oleh pengaruh lingkungan ataupun karena bisikan hati. Karena itu aku minta janji bahwa yang belum pernah dilakukan itu tidak akan pernah dilakukan”.
       “Baik, aku berjanji”, sahut Suwarno tanpa pikir panjang lagi.
       “Syarat ketiga. Perkawinan menjadi batal jika kemudian ternyata pihak laki-laki sudah punya isteri wanita lain”.
       “Aku setuju”, sahut Suwarno pula.
       “Terimakasih”, kata Pertiwi, lalu: “Aku kira, sekalipun janji itu tidak diperkuat sumpah kepada Tuhan, tetapi ada saksi, sehingga bila janji dilanggar, aku punya hak memutuskan pertunangan. Nah Ayah dan Paman, karena persyaratanku telah diterima, maka yang lainnya aku serahkan kepada Ayah dan Paman”.
       “Terimakasih Wiwi. Sekarang Ayah lega karena persyaratan yang kau ajukan sangat wajar bagi keutuhan sebuah rumah tangga. Aku minta kepada Dik Mardi suami-isteri dan Nak Warno, kapan kira-kira ikatan pertunangan itu pantas dilangsungkan?”, kata Pak Abdurrakhman meminta pertimbangan calon besannya.
       “Untuk menghindarkan kemungkinan-kemungkinan yang tidak kita harapkan, sebaiknya dilaksanakan secepatnya. Mengingat pula ada rencana kita melakukan ekspedisi penelitian rawa akhir bulan depan. Maka aku pikir, kita langsungkan pertunangan itu bulan depan sebelum melakukan ekspedisi”, kata Profesor Sumardi.
       “Bagaimana Nak Warno?”, tanya Pak Abdurrakhman.
       “Terserah kepada ayah-ibuku”, sahut yang ditanya.
       “Dan kau, bagaimana Ibu”, tanya Pak Abdurrakhman kepada isteinya.
       “Aku terserah kepada Bapak saja. Aku hanya minta agar pestanya dilaksakan sederhana saja, mengingat anjuran pemerintah untuk melaksanakan pola hidup sederhana. Apalagi jika dilaksanakan pertengahan bulan depan, waktunya sangat sempit”, sahut Nyonya Abdurrakhman.
       “Dan bagaimana pendapat Dik Etty?”.
       “Saya ikut suami saja”, sahut Nyonya Sumardi.
       “Baiklah. Akupun setuju dengan pendapatmu Dik Mardi. Dengan catatan, penyelenggaraannya sederhana sebagaimana yang disarankan isteriku”, kata Pak Abdurrakhman.
       Demikianlah. Setelah terjadi rembukan tanggal pelaksanaannya, ketiga tamu itupun berpamitan. Pak Abdurrakhman sekeluarga mengantar mereka sampai di depan pintu.
       “Aku pergi dulu Wiwi. Nanti aku akan membantu persiapannya”, kata Suwarno sebelum mobilnya bergerak meninggalkan rumah itu.
       Pertiwi hanya mengangguk tanpa menyahut. Mereka memperhatikan sampai mobil tamunya keluar halaman. Kemudian ketiganya masuk lagi.
       “Bagaimana pendapatmu tentang Suwarno, Wiwi?”, tanya Ibunya.
       “Cukup baik Ibu. Hanya emosinya cepat naik”, sahut Pertiwi.
       “Ibu juga berpendapat begitu. Ibu kira temperamennya yang tinggi itu, akan membuat dia mengalami banyak kesulitan untuk membina saling pengertian denganmu”.
       “Menurutku sifat cemburunya sangat besar, dan itu bertolak belakang dengan sifat anakku yang hilang”. Pak Abdurrakhman menambahkan.
       “Apa maksud Ayah, Wawan?”, tanya Pertiwi.
       Pak Abdurrakhman mengangguk. “Sebenarnya Ayah mengharapkan kau memperoleh jodoh pemuda seperti Wawan. Tetapi pemuda semacam dia memang langka. Dan sekarang nampaknya sudah kasip”, katanya sambil menghela nafas.
       Pertiwi menunduk. Tiba-tiba saja kerongkongannya terasa menyenak. Ingin rasanya dia menangis, karena meskipun ikatan pertunangan itu belum berlangsung, tetapi sejak saat itu dirinya sudah tidak bisa mengharapkan Darmawan lagi. Hati gadis itu demikian pedih, sehingga tanpa disadarinya dia melangkah cepat meninggalkan kedua orangtuanya dengan mata berkaca-kaca. Pak Abdurrakhman dan isterinya tertegun.
       “Kau telah menyentuh perasaannya yang paling dalam Pak”, desis Nyonya Abdurrakhman sementara matanya memperhatikan Pertiwi yang keluar ke halaman belakang dengan kepala menunduk.
       “Aku lupa kalau dia telah merenggutkan harapan hatinya sendiri demi menyelamatkan mukaku di mata sahabat-sahabatku”, desah Pak Abdurrakhman.
       “Rupanya dia ingin menumpahkan kepepatan hatinya di depan bekas kawan sekolahnya dulu”, kata Nyonya Abdurrakhman.
       Sesungguhnya Pertiwi bermaksud menjumpai Susi di rumah yatim-piatu. Dia berjalan menyeberangi halaman belakang gedung mewah itu, halaman yang cukup luas berupa taman. Pada dinding batas halaman di belakang terdapat sebuah pintu kecil. Itu adalah pintu rahasia yang menghubungkan rumah Pak Abdurrakhman dengan rumah yatim-piatu Darma Pertiwi. Tetapi tak seorang pun penghuni rumah yatim-piatu itu yang mengetahui hubungan di antara keduanya, kecuali keluarga Pak Abdurrakhman.
       Di antara dinding halaman belakang rumah Pak Abdurrakhman dengan dinding belakang rumah yatim-piatu  tedapat selokan kecil. Tetapi di bagian yang ada pintu penghubungnya dibangun kamar di atas selokan. Kemudian pada dinding belakang rumah yatim-piatu dalam kamar penghubung itu terdapat dua pintu bersisian. Pintu yang satu berhubungan dengan kamar Pertiwi, sedangkan pintu yang satunya lagi berhubungan dengan kamar Nyonya Abdurrakhman sebagai pemilik rumah yatim-piatu.
       Setiba di kamarnya sebagai pengurus rumah yatim-piatu. Pertiwi menjatuhkan tubuhnya di pinggir pembaringan. Kedua telapak tangannya ditutupkan ke wajahnya, dan dari mulutnya terdengar isakan lirih.
       “Wawan”, keluhnya di antara isakannya, “maafkan aku. Rupanya Tuhan menentukan lain dari harapan kita”.
       Lama juga gadis itu terlena dalam kesedihannya. Dia tidak mendengar ketika pintu kamarnya ada yang mengetuk. Dia baru tersadar ketika bersama ketukan pintu itu terdengar suara memanggil-manggil namanya.
       “Wiwi!, Wiwi!”.
       Pertiwi menyusut air matanya sambil bangkit berdiri. Sejenak memandang wajahnya pada cermin, lalu melangkah ke ruang depan dan membuka selot pintunya. Susi berdiri di depan pintu dengan mata memandang lekat ke wajah Pertiwi.
       “Wiwi kenapa? Matamu merah. Kau mena...”.
       Susi tidak sempat menyelesaikan kata-katanya, karena tiba-tiba Pertiwi merangkulnya, dan isaknya terdengar lagi. Sejenak Susi mematung. Tetpi kemudian dia memapah gadis itu kembali lagi ke dalam sambil sebelah tangannya menutupkan kembali pintu itu. Kemudian dia mendudukkan Pertiwi di kursi tamu. Beberapa lamanya Susi membiarkan Pertiwi menumpahkan perasaannya dalam rangkulannya. Baru setelah isaknya tidak terdengar lagi, dia mendorong tubuh gadis itu perlahan-lahan. Matanya menatap wajah Pertiwi yang pucat. Pertiwi mematung dengan pandangan kosong.
       “Ada apa Wiwi? Barusan aku pulang dari sumur mendengar suara isakan lirih, maka aku mengetuk pintu. Bukankah tadi malam kau bilang, kau mau rapat dengan Bapak dan Ibu Abdurrakhman?”, tanya Susi.
       Pertiwi masih belum menyahut. Susi memegang pundak gadis itu, lalu bertanya: “Wiwi. Sejak aku mengenalmu di sekolah dulu, rasanya belum pernah melihat kau bersedih seperti ini. Apa kepada kawanmu sendiri tidak mau menceritakan?”.
       “Aku telah mematahkan satu harapan yang paling kudambakan, yang telah kupertahankan sekian lama”. Akhirnya Pertiwi menjawab juga dengan nada pilu.
       “Maksudmu?”.
       “Aku telah menyetujui untuk dipertunangkan dengan putera sahabat ayah angkatku. Dia seorang insinyur, namanya Suwarno”, sahut Pertiwi.
       “Ah, bukankah itu suatu keberuntungan? Bukankah setiap gadis...”
       “Bagiku bukan”, sahut Pertiwi sebelum Susi menyelesaikan kata-katanya.
       “Wiwi.....?!”.
       “Hatiku sudah kuserahkan kepada Wawan. Aku akan merasa beruntung kalau terangkap jodoh dengan Wawan. Tapi sekarang....oo Wawan, maafkan aku”. Pertiwi menutupkan kedua telapak tangannya ke wajahnya.
       Susi menggeleng-gelengkan kepala. Dia benar-benar tidak mengerti jalan pikiran gadis di hadapannya ini.
       “Wiwi, apa kau masih begitu yakin bahwa Wawan masih hidup setelah 8 tahun berlalu dan tak pernah muncul? Bukankah kau sendiri mengatakan dia terjun ke sungai, dan kau tidak berhasil menemukannya lagi? Apa tidak terpikir olehmu kemungkinan dia sudah tidak ada?”.
       “Tidak. Aku yakin dia masih hidup, dan sekarang masih tetap mencariku”, sahut Pertiwi setelah tangannya dilepaskan dari wajahnya.
       “Wiwi...Wiwi. Kau telah membenamkan diri pada dunia impian. Dunia khayal yang mustahil terwujud dalam kenyataan. Kau hanya melandaskan keyakinan itu hanya pada perasaan belaka, tanpa mau melihat kenyataan. Aku jadi cemas...”.
       “Susi! Jadi kau pun menganggap aku sudah tidak waras?”, tanya Pertiwi dengan pandangan berubah menusuk.
       “Maafkan aku Wiwi. Bukan maksudku menganggapmu demikian. Tetapi aku melihat gejala-gejala itu. Aku...”.
       “Baiklah Sus. Kau adalah sahabatku. Aku tahu, kau bermaksud baik. Juga ayah dan Ibu angkatku dan yang lainnya. Untuk itu aku mengucapkan terimakasih. Tetapi kau dan mereka semua tidak tahu bahwa keyakinanku mempunyai alasan yang sangat kuat, bukan sekedar khayalan perasaan. Aku samasekali tidak sedang terjerumus ke dalam dunia khayal. Aku merasa diriku tetap waras”.
       “Kalau aku boleh tahu, apa alasan yang kau katakan sangat kuat itu?”, tanya Susi.
       Petiwi mengusap air matanya, lalu katanya: “Selama kami, naksudku aku dan Wawan memupuk saling pengertian, Wawan menabung dengan rajin di kantor pos untuk persiapan masa depan kami. Aku teringat pada tabungan itu setahun setelah kami berpisah. Kupikir kalau dia masih hidup tentu akan teringat pula pada tabungannya. Coba kau terka, apa yang kutemui di kantor pos itu?”.
       “Maksudmu, tabungan itu telah diambil?”.
       “Benar, dan baru seminggu sebelum aku datang. Saat itu aku benar-benar menyesal, karena tanggal pengambilan itu hanya tiga hari setelah aku teringat pada tabungan tersebut. Kalau saja waktu teringat itu aku langsung pergi ke sana...”. Pertiwi menutup wajahnya lagi dengan kedua telapak tangannya.
       “Kalau begitu Wawan benar-benar masih hidup”, kata Susi seperti kepada dirinya sendiri, dan gadis itu jadi mematung.
       “Sejak itu aku terus mencarinya, bahkan sampai ke perkampungan-perkampungan kumuh. Sebab aku tahu, dia pasti mencariku ke kota ini. Perkampungan kumuh adalah salah satu tempat yang paling mungkin dipergunakan dia selama mencariku, karena aku kenal betul pribadinya”, kata Pertiwi sementara matanya menatap ke kekosongan. “Tetapi sekarang...ah, sudahlah”, desahnya.
       Tiba-tiba Pertiwi menghentikan keluhannya. “Sebentar Sus, aku akan berganti pakaian dulu”, sambungnya sebelum Susi berkomentar. Dia bangkit dan masuk ke kamarnya.
       Sekitar 10 menit kemudian Pertiwi muncul lagi di ruang tamu. Tetapi kini telah berganti pakaian dengan baju kebaya dan kain batik belel seperti yang dipakainya ketika menjemput Susi dari kampung. Tangannya menjinjing tas plastik besar yang menggembung, dan sepasang kakinya mengenakan sandal jepit.
       “Wiwi, apa-apaan kau ini?”, tanya Susi dengan terbelalak.
       Pertiwi tersenyum. Wajah gadis itu telah berubah cerah kembali. Tidak tampak bekas-bekas kesedihan.
       “Kenapa Sus?Apa kau kira aku mengenakan pakaian begini hanya untuk menguji kawan-kawan di kampung? Tidak Sus. Di kota ini pun aku sering memakainya. Semua penghuni rumah yatim-piatu ini sudah pada mengetahuinya”, sahut Pertiwi sambil duduk kembali. “Barusan aku teringat, hari ini aku punya janji di perkampungan kumuh”.
       Susi terlalu heran mendengar pernyataan itu, sehingga dia terpaku tak bersuara. Hanya matanya yang mengikuti gerak-gerik Pertiwi. Sementara itu Pertiwi mengeluarkan kain kerudung dan sebuah topeng wajah karet dari dalam tas plastiknya. Lalu topeng itu dipasangkan pada wajahnya, sehingga sejenak kemudian wajah gadis itu telah berubah jadi Mpok Tiwi yang sebelah pipinya biru memar dengan bintik-bintik merah di bagian sisinya hingga ke bawah dagunya.
       “Wiwi, kau!!”. Susi jadi bengong terlongong-longong.
       “Dengan pakaian begini pun aku masih laku Sus. Beberapa pemuda penghuni perkampungan kumuh telah melamarku”, tanpanya tanpa kehilangan senyum.
       “Aku percaya Wiwi. Meski wajahmu kelihatan seperti orang penyakitan, tetapi kecantikanmu masih menonjol”, ujar Susi tanpa mengedipkan matanya memandang wajah gadis itu.
       “Hampir semua anak yatim-piatu di sini kudapatkan melalui pakaian ini. Ada yang karena orangtuanya meninggal di tempat kumuh. Ada yang memang sudah yatim-piatu sejak kemunculannya di sana. Ada pula yang orangtuanya tidak pernah kembali ketika sedang mencari rejeki”.
       “Kau benar-benar gadis aneh”, kata Susi sambil menggeleng-gelengkan kepala.

--0---



         
         
            
           
          
      
       
        
             
       
              
      
      
  
          
      
        
        
      
       
        
        
         
        
        
        
      
          
        
          

          
             
          
       
       








   
   



  


        
        
      
      
     
      
      

          
      
      
      

      
          
         
         
      
      
  
      
      
      
      
  
      
      
  
        
         
     
      
      
      
     

      
      
           
     













        
    

           

        
      
      
     

        
     
        
      




 
       
        
      
     

          

      

      
      

      
      
      
      


      




      
      
      
         
      
         
       
    
        
             
      

  
          
      
     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar