PERTIWI
Oleh : S Anwar Effendie
PROLOG
SEKITAR pukul 10 malam, seorang wanita muda sangat cantik keluar dari halaman sebuah hotel bertaraf internasional, berdiri di pinggir jalan. Sebuah taksi muncul. Wanita itu mengacungkan jarinya, dan taksi pun berhenti di depannya. Sejenak kemudian, setelah wanita cantik itu naik, taksi tersebut bergerak lagi meluncur di keramaian kota.
Taksi berhenti di depan sebuah gedung di jalan yang tidak terlalu ramai. Si wanita cantik turun dan memasuki halaman gedung tersebut. Dia tidak menuju ke pintu depan gedung, melainkan melalui jalan samping.
Dia muncul di sebuah ruangan di mana tampak empat lelaki mengelilingi meja tengah bermain kartu. Asap rokok memenuhi ruangan, sehingga menyuramkan pandangan. Tiga wanita bermake-up tebal mencolok, duduk di pegangan kursi tiga di antara empat lelaki tersebut. Dua di antara wanita itu tengah merokok pula, sedang yang satu tengah meneguk minuman keras. Tangan ketiga lelaki yang pegangan kursinya diduduki, melingkari pinggang ketiga wanita itu.
Si wanita cantik yang baru muncul, langsung duduk di samping si lelaki keempat yang berjambang lebat dan berkumis tebal tapi rapi. Sementara matanya tetap memandang kartu yang dipegang tangan kirinya, tangan kanannya dengan telapak terbuka digoyang-goyangkan di depan wajah wanita yang baru duduk itu dengan siku tangan bertelekan pada meja.
Si wanita cantik merogohkan tangannya ke balik rok di pahanya. Ketika keluar lagi, jari-jarinya telah menggenggam tiga lembar uang puluhan ribu, dan ditaruh pada telapak tangan terbuka lelaki berjambang lebat tersebut. Tanpa memperhatikan lagi jumlahnya, si lelaki langsung memasukkan uang tersebut ke dalam saku bajunya. Kemudian tangan itu melingkar di pinggang si wanita.
Tidak lama setelah kemunculan wanita tersebut, di ambang pintu muncul pula dua orang lelaki. Seorang berpakaian perlente bermata sipit, sementara kawannya adalah lelaki bertubuh besar berwajah keras. Tangan si lelaki bermata sipit menjinjing echolac.
Melihat kemunculan dua lelaki itu, si lelaki berjambang tebal menyerahkan kartu permainannya kepada si wanita cantik. Begitu pula ketiga lelaki kawannya, menyerahkan kartu permainan masing-masing kepada tiga perempuan di sampingnya. Kemudian ke empat lelaki itu bersama kedua tamunya memasuki sebuah kamar lain, dan menutup pintunya.
Belum lama keempat wanita yang menggantikan keempat lelaki tadi bermain, si wanita cantik bangkit sambil menaruh kartunya di atas meja dalam keadaan tertutup.
“Aku mau ke WC dulu sebentar”, katanya kepada ketiga wanita kawan bermainnya, dan dia berlalu ke belakang.
Tetapi begitu berbelok di balik dinding ruangan, dia menghampiri pesawat telepon yang terdapat di atas meja kecil di pojok ruangan itu. Dengan tergesa-gesa dia mengangkat gagang teleponnya. Lalu jari telunjuknya memutar beberapa nomor. Sementara menunggu sambungan, matanya memperhatikan pintu tempat dia masuk tadi.
“Halo. Wanti di sini. Minta bicara dengan Pak Inspektur Hendro”, kata si wanita.
“...............”.
“Ya, baru saja datang. Mungkin...aduuh!”.
Wanita cantik tersebut tidak dapat meneruskan kata-katanya, karena tiba-tiba sebuah tangan besar berbulu menangkap pergelangan tangannya yang memegang telepon dan memutarnya dengan kasar. Gagang telepon terlepas jatuh menggantung di samping meja, dan tinju besar lelaki yang menangkapnya memukul mulut si wanita. Si wanita cantik memekik kesakitan. Dari celah bibirnya mengalir cairan merah.
“Sundal! Pengkhianat kau!”, bentak lelaki itu dengan murka, dan tangannya berayun-ayun menampari pipi kiri-kanan si wanita cantik yang memekik-mekik tanpa belas kasihan.
Mendengar ribut-ribut itu, keempat lelaki dan kedua tamunya, serta tiga wanita di meja permainan berdatangan menghampiri.
“He kau Else! Apa yang dia lakukan Barnas?”, tanya lelaki berjambang tebal dan berkumis lebat, sementara matanya memandang gagang telepon yang tergantung di sisi meja.
“Dia berkhianat Bos, hendak menelpon polisi”, sahut orang yang tengah memiting tangan si wanita cantik.
“Uh berbahaya. Kalau begitu kita harus segera berlalu dari sini”, kata si lelaki berjambang tebal.
“Tidak perlu Boss. Dia belum sempat membuka rahasia, baru minta hubungan. Aku kebetulan berada di balik tirai ini”.
“Bagus. Kalau begitu kita hanya tinggal menangani sundal ini saja. Bawa ke kamarnya dan ikat di kursi. Siksa dia, biar merasakan bagaimana nasib orang yang berani mengkhianatiku”, kata si Boss.
“Baik Boss”, kata lelaki yang bernama Barnas itu.
Sementara Barnas menyeret si wanita cantik, si Boos meneruskan kata-katanya: “Mari kita teruskan dulu urusan kita”, ajaknya kepada kedua tamunya. Maka ketiga orang itu pun kembali ke kamar tempatnya berunding dan menutupkan pintunya.
Tetapi orang yang bernama Barnas itu salah kalau mengatakan wanita cantik itu belum sempat membuka rahasia mereka. Karena ketika Inspektur Hendro mendengar kata ‘baru saja datang’ yang disusul dengan pekikan kesakitan si wanita, dia tahu apa yang telah terjadi. Justru saat itu Inspektur Hendro tengah menunggu berita tersebut bersama pembantu istimewanya, seorang wanita muda urakan bernama Widar.
Widar yang tengah duduk di kursi tamu adalah gadis urakan, berambut kribo pirang dengan make-up tebal mencolok. Pakaian yang dikenakannya adalah kaus oblong bergambar wajah pemain musik Beatle di dadanya, ditutupi jaket blujin tetapi tidak dikancingkan, sehingga kaos oblong bagian depannya terlihat. Celananya slack blujin sebatas lutut lebih sedikit yang ujungnya tidak dijahit. Sepatunya lars tinggi yang hampir mencapai ujung slack, sehingga dia tampak seperti gadis bar urakan.
Tetapi yang paling menarik perhatian dari penampilannya adalah rambut kribo dan tahi lalat besar berbulu halus tepat di puncak hidungnya, membuat orang segan memandangnya lama-lama, karena tahi lalat itu cacat paling tidak sedap dipandang mata. Sekali pandang saja, orang akan berpendapat bahwa gadis itu dari keluarga broken home.
“Widar! Pembantu baruku ketahuan”, kata Inspektur Hendro sambil meletakkan gagang teleponnya, dan bergegas ke pos piket.
“Panggil satu patroli lengkap! Ikuti aku!”, perintah Inspektur Hendro kepada petugas jaga. Kemudian dia berlari ke mobil jeepnya. Widar pun berlari ke mobilnya, sebuah Volk Wagen putih. Tak lama kemudian regu patroli berlarian menaiki mobil patroli. Dalam waktu beberapa detik saja, tiga mobil telah keluar dari halaman kantor polisi, meluncur di keramaian kota dengan kecepatan tinggi.
Begitu tiba di gedung yang dimasuki wanita cantik tadi, ketiga mobil itu berhenti. Para penumpangnya berloncatan turun dengan senjata di tangan. Inspektur Hendro mengatur pengepungan dengan membagi anak buahnya. Sementara Widar langsung berlari mengendap-endap ke bagian belakang gedung. Para anggota polisi pun bergerak cepat, berpencar ke kedua samping gedung. Tiga orang tetap berada di depan gedung.
“Jangan bergerak! Menyerah semua! Kalian sudah terkepung!”, teriak Inspektur Hendro ketika muncul di ruangan tempat tiga wanita bermain judi ditemani lelaki bernama Barnas.
Tanpa memberi perlawanan samasekali keempat orang itu langsung menyerah. Mereka diringkus oleh para anggota polisi.
Sementara itu di sebuah kamar, si orang berjambang tebal dan berkumis lebat dengan kawan-kawannya tengah mengadakan transaksi dengan kedua tamunya. Di atas meja tampak beberapa bungkus bubuk putih dalam tas echolac, dan pada tas echolac yang lain tampak gepokan uang. Mereka terkejut ketika mendengar teriakan Inspektur Hendro di luar kamar. Serentak si orang berjambang tebal dan tamunya menutup tas echolac masing-masing. Kemudian mereka berlari ke pintu belakang.
Tetapi baru saja keenam orang itu muncul di ruang belakang, sesosok tubuh meloncat ke dalam dan langsung menerjang dua orang yang berlari paling depan sambil menjinjing tas echolac. Sepasang kaki penerjang yang tidak lain dari Widar, menghantam telak ke dada si jambang tebal dan si mata sipit, sehingga keduanya terdorong mundur dan menubruk orang-orang yang berlari di belakangnya. Tas echolacnya yang mereka jinjing terlempar ke lantai.
Begitu berhasil terjangannya, tubuh Widar melenting memanfaatkan tubuh kedua lawannya sebagai tumpuan. Detik selanjutnya kedua tangan si gadis bergerak susul-menyusul menyerang lawan-lawan lainnya. Ternyata gadis urakan itu karateka berkemampuan tinggi dengan kelincahan bergerak yang mengagumkan. Tetapi pertarungan itu tidak berlangsung lama, karena Inspektur Hendro dan beberapa anak buahnya telah tiba pula. Memang Widar hanya sekedar menghambat kaburnya orang-orang tersebut.
“Berhenti! Menyerahlah!”, teriak Inspektur Hendro sambil mengacungkan pistolnya. Begitu pula anak buahnya mengacungkan senjata mereka.
Tak ada kesempatan lagi bagi para penghuni gedung itu untuk kabur. Mereka semua diborgol, sementara kedua tas echolac yang tergeletak di lantai segera diambil oleh Inspektur Hendro.
“Bawa mereka semua ke mobil”, perintah Inspektur Hendro kepada anak buahnya.
“Siap Pak!”, sahut para anak buahnya serempak. Mereka mendorong para tawanan dengan todongan bedil.
“Kita cari pembantuku”, ujar Inspektur Hendro kepada Widar sambil berlalu dari ruang itu. Widar mengikutinya.
Mereka menemukan wanita cantik itu di sebuah kamar tidur, terikat pada kursi dengan kepala terkulai lemah. Titikan darah tak henti-hentinya berjatuhan dari wajahnya ke pangkuannya. Ketika Inspektur Hendro mengangkat kepala wanita itu, wajahnya semburat merah oleh kemarahan terhadap penganiayanya.
“Setan! Mereka benar-benar iblis kejam”, geramnya.
Segera dia membukai ikatan wanita itu dan memapahnya ke luar. “Aku akan memanggil ambulance dulu”, kata Inspektur Hendro kepada Widar.
“Memang sebaiknya segera Inspektur. Mudah-mudahan dia masih bisa tertolong”, sahut Widar sementara tangannya menyingkapi tumpukan pakaian wanita itu di dalam bupet.
Di tengah lipatan pakaian itu dia menemukan sebuah buku harian. Sejenak dia membuka-buka lembaran buku itu, lalu dimasukkan ke dalam saku jacketnya. Dia masih melanjutkan pemeriksaannya. Tetapi tidak menemukan apa-apa lagi yang penting. Maka dia pun berlalu dari kamar itu menemui Inspektur Hendro yang tengah memeriksa semua kamar dalam gedung itu bersama beberapa anak buahnya.
“Aku pulang duluan Inspektur”, kata si gadis rambut kribo pirang.
“Silahkan, dan terimakasih atas bantuannya”, sahut Inspektur Hendro.
Ketika Volk Wagon Widar bergerak meninggalkan gedung itu, sebuah ambulance justru memasuki halaman gedung. Segera wanita cantik yang malang itu dinaikkan ke dalam ambulance. Tak lama kemudian ambulance pun berangkat membawanya ke rumah sakit polisi bagian gawat darurat.
Pagi harinya, wanita muda cantik yang malang itu tersadar dari pingsannya. Dalam keadaan yang sangat parah itu dia merasakan ada tangan yang memegangi pergelangannya, dan mengelus-elus rambutnta. Dia membuka matanya. Mula-mula pandangannya kabur, tetapi secara perlahan-lahan semakin terang, dan tiba-tiba dia bergerak hendak bangkit dengan mata membelalak melihat seorang gadis yang sangat cantik duduk di sisi pembaringannya menatap dengan pandangan cemas.
“Kak Wiwi”, panggil wanita cantik yang malang itu dengan suara lemah, “akhirnya kau datang juga”, sambungnya.
“Jangan banyak bergerak dan bicara dulu. Tenanglah, dokter tengah berusaha menyembuhkanmu. Berdoalah kepada Tuhan, Wanti”, sahut si gadis cantik yang tidak lain dari Pertiwi.
“Dari mana Kak Wiwi tahu Wanti ada di sini?”, tanya wanita malang itu dengan suara lemah tersendat-sendat.
“Seorang kawan mengenalimu sebagai adikku”, sahut Pertiwi dengan nada khawatir dan matanya berkaca-kaca.
“Aku sangat berdosa kepadamu Kak”, kata Purwanti. Sejenak dia menahan nyeri, lalu sambungnya, “maafkan Wanti, Kak Wiwi”.
“Lapangkan hatimu Wanti. Aku sudah memaafkanmu sejak dulu. Tenanglah, jangan terlalu banyak bicara”.
“Juga kepada Mang Darma. Mana Dia? Aku akan minta maaf kepadanya”.
“Dia juga sudah memaafkanmu Wanti. Sekarang diamlah. Kau harus banyak istirahat agar cepat sembuh”, sahut Pertiwi.
“Tidak apa. Sekarang aku sudah rela meninggalkan dunia yang kejam ini setelah bertmu denganmu dan setelah Mang Darma memaafkanku”, kata Purwanti dengan nafas yang semakin tersendat-sendat. Tetapi dia masih memaksakan diri: “Aku berdoa, semoga Kak Wiwi dan Mang Darma hidup bahagia”, sambungnya.
“Terimakasih Wanti. Istirahatlah. Jangan bicara lagi”, ujar Pertiwi dengan pandangan semakin cemas.
“Buku catatanku...”. Bisik Purwanti semakin lemah.
“Tenanglah. Buku itu sudah ada padaku. Aku sudah tahu semuanya. Nah, istirahatlah”.
“Aku sudah tak kuat lagi Kak Wiwi. Akku...sel...selamattt...tting...ggal Kk..kkak”. Nafas Purwanti tersendak-sendak. Kata-katanya yang keluar dari mulutnya hanya berupa bisikan satu-satu dan hampir tidak terdengar.
Pertiwi menatap wajah adik kandungnya, satu-satunya saudaranya yang masih ada dengan perasaan yang benar-benar cemas.
Dia memegangi pergelangan tangannya, merasakan denyut nadinya yang terus melemah juga. Sementara matanya memperhatikan layar monitor yang memantau keadaan gadis itu. Bersamaan dengan melurusnya garis putih di layar monitor, Pertiwi menundukkan kepala dengan air mata menitik satu-satu membasahi tangan adiknya yang sudah pergi dipanggil Tuhan.
“Inna lillahi wa inna ilaihi rooji’uun. Semoga Alloh mengampuni segala dosamu”, desah Pertiwi.
--0--
Satu
Apa Tidak Ada Niat Buat Kawin?
GUBUK-GUBUK yang terbuat dari barang buangan seperti kayu bekas bangunan, kayu perti, karton, seng, kain spanduk, dan lain sebagainya itu bersenderan pada dinding gedung-gedung besar, berderet sepanjang pinggiran sungai yang airnya berwarna kuning kecoklatan. Para penghuninya terdiri dari berbagai tingkat usia lelaki dan perempuan, mulai dari kanak-kanak hingga yang berusia lanjut.
Dunia jembel di belakang gemerlapnya kehidupan kota metropolitan itu tidak kalah sibuknya dengan dunia di bagian depannya. Bedanya, kalau di bagian depan yang berserabutan di sepanjang jalan aspal licin adalah kendaraan bermotor mulai yang beroda dua hingga beroda delapan, maka di bagian belakang dengan jalan tanah gundul bercampur batu dan tebaran sampah, disibukkan oleh langkah-langkah kaki yang kebanyakannya telanjang tanpa alas, menjinjing tas-tas plastik barang buangan atau bakul-bakul bahkan pikulan berisi barang rongsokan. Sementara di sisi sungainya sendiri banyak orang mandi atau mencuci kain.
Pada sore hari yang cerah itu, di antara para jembel yang berlalu lalang di muka deretan gubuk-gubuk tersebut, tamopak tiga lelaki muda pengamen. Seorang memanggul gitar tua, yang kedua mengepit bonggo, dan yang ketiga meninjing sepasang marakas di tangan kanannya. Dari pakaiannya yang basah dan wajah hingga lehernya dibanjiri keringat, jelas mereka baru pulang dari mencari rejeki dengan berjalan kaki yang jauh. Kaki mereka beralaskan sandal jepit yang sudah hitam karena debu yang melekat bercampur keringat.
Ketika langkah ketiga orang itu sudah berada di pertengahan deretan gubuk, Marjan yang memanggul gitar menunjuk ke arah sebuah gubuk cukup besar dan baik yang pintunya terbuka.
“Kelihatannya Mpok Tiwi ada di rumah. Kita singgah dulu yu”, katanya.
“Ayolah. Biasanya dia punya penangkal haus. Kerongkongan gue udeh kering bener nih”. Dulah yang mengepit bonggo menyahut menyetujui.
“Mudah-mudahan dia punya rokok juga”, kata orang ketiga yang menjinjing marakas dan bernama Udin.
Sambil menjatuhkan diri di sisi pintu gubuk itu, Marjan berteriak: “Pok, Mpok Tiwi. Kami haus bner nih. Apa punya air?”.
Sebuah kepala perempuan berkerudung kain batik belel melongok keluar dari pintu. Wajah perempuan yang tampak masih muda, yang kalau saja pada pipi sebelah kanan hingga lehernya tidak terolesi bintik-bintik biru, pasti akan tampak cantik. Dan ketika perempuan itu bicara, suaranya terdengar empuk.
“He kalian rupanya. Tunggulah sebentar, aku akan tuangkan dulu airnya”, sahutnya, dan kepala itu pun lenyap kembali di belakang pintu.
“Beberapa hari ini kami tidak melihatmu Pok, ke mana saja?”, tanya Marjan lagi sambil mengipasi tubuhnya dengan topi pandannya yang pinggirannya sudah seperti bekas digigit tikus.
“Biasa cari rejeki”, sahut Mpok Tiwi dari dalam, “dan bagaimana kabar kalian?”.
“Sial Pok”, sahut Marjan. Lalu sambungnya: “Tali gitarku putus tiga. Kebanyakan orang tidak mau ngasih duit hanya dengan lagu yang diiringi bonggo dan marakas”.
“Terang dong. Tanpa pakai gitar nyanyian kalian tentunya jadi tidak enak didengar. Mana orang mau ngasih duit?”. Mpok Tiwi mengomentari, dan dia muncul di pintu dengan membawa termos serta tiga buah cangkir kaleng, dan diletakkan di depan ketiga pemuda itu.
Ketiga pemuda itu serentak berpaling menatap Mpok Tiwi. Perempuan itu mengenakan baju kebaya dan kain batik yang sudah belel dan kumal. Tetapi siapapun dapat melihat bentuk tubuhnya yang padat berisi.
“Benar Pok. Sampai-sampai sejak tengah hari tadi kami tidak bisa merokok”, sahut Udin mendahului kawan-kawannya.
Mpok Tiwi tersenyum. Jari-jarinya merogoh ke balik kebaya di dadanya. Ketika keluar lagi, jari-jari itu sudah menjepit sebungkus rokok kretek Pak Tani yang isinya sudah tidak utuh lagi. Dia menyerahkan bungkusan rokok itu kepada Udin, yang tentu saja disambut dengan gembira. Mereka mengambil seorang satu dan langsung menyulutnya.
“Berbahagialah orang yang bisa merokok”, kata Dulah sementara dari mulutnya mengepul asap rokok isapannya yang pertama.
Mpok Tiwi tersenyum lucu mendengar ucapan itu. Tetapi kemudian dia bertanya kepada Marjan: “Berapa sih harga tali gitar itu satunya?”.
“200 perak Pok. Aku tidak tahu dari mana mencari 600 perak untuk membelinya. Duit kami hari ini sisa makan hanya tinggal 150 perak”.
“Dan sekarang kalian belum makan?”, tanya Mpok Tiwi.
“Biasa. Terpaksa harus puasa sampai mendapat rejeki lagi besok”, sahut Udin, “kami tidak berani mengganggu uang sisa makan itu, agar bisa membeli tali gitar”, sambungnya.
“Ya, kita memang harus bisa menahan diri untuk urusan yang lebih penting kalau mau tetap hidup”, ujar Mpok Tiwi menyetujui. Lalu sambungnya: “Tunggu sebentar. Kebetulan aku punya singkong rebus”.
Mpok Tiwi masuk ke dalam gubuknya. Sebentar kemudian telah keluar lagi sambil membawa sepiring kaleng singkong rebus yang masih hangat.
“Belum lama aku merebusnya. Kita makan sama-sama”, katanya sambil menaruh piring di depannya. Dia mengambil sepotong lalu dimakannya.
Marjan dan kawan-kawannya pun pada mengambil singkong itu tanpa segan-segan. Mereka makan sambil bercakap-cakap. Dalam pada itu Mpok Tiwi merogohkan tangannya ke balik kebayanya lagi. Ketika keluar, jari-jarinya telah menjepit uang 500 perak. Uang itu langsung disodorkan kepada Marhan.
“Nih, aku kasih 500 perak buat beli tali gitar. Kalian tinggal nambah 100 perak lagi”.
“Jangan Pok. Kau sudah terlalu sering membantu kami. Kalau duit itu Mpok berikan kepada kami, bagaimana buat Mpok nanti?”, kata Marjan menolak.
“Ambil saja, supaya pagi-pagi sekali kalian bisa ngamen. Aku masih punya sedikit buat hari ini. Sementara besok aku bisa mencari lagi”, kata Mpok Tiwi.
Akhirnya Marjan menerima juga. “Terimakasih Pok. Kau adalah satu-satunya tumpuan bantuan bagi kami di tempat ini. Mudah-mudahan Tuhan selalu memberi rejeki yang banyak kepada Mpok”, katanya.
“Terimakasih atas doamu. Aku yakin, asal kita mau bekerja keras, Tuhan pasti akan tetap memberi rejeki kepada kita. Tapi awas. Jangan dibelikan rokok dulu uang itu”.
“Kami tahu Pok. Kalau duit ini dibelikan rokok, kami bisa mati kelaparan”, sahut Mrjan.
“Syukurlah kalau kalian mengerti”.
“Ngomong-ngomong, aku tidak melihat si Ani, anak asuhanmu. Apa Mpok sudah berhasil memasukkan dia ke rumah yatim-piatu seperti yang sudah-sudah?”, tanya Udin.
“Alhamdulillah. Tapi anak itu tidak mau kutinggalkan. Jadinya, aku harus membujuk-bujuk dulu sampai dua hari, baru dia mau kutinggalkan”.
“Pok, apa Mpok tidak ada niat buat kawin lagi?”, tanya Marjan tiba-tiba mengalihkan percakapan. “Mpok masih begini muda. Aku yakin, kalau Mpok mau memberi hati, pasti banyak yang mau mengawinimu, termasuk aku”.
“Benar Pok. Aku juga tidak akan menolak”, kata Dulah menimpali.
“Nggak ah, kapok. Kukira semua laki-laki maunya menyiksa perempuan saja”, sahut Mpok Tiwi.
“Jangan disamaratakan. Tidak semua laki-laki suka menyiksa perempuan. Contohnya, nih si Marjan. Aku benar-benar cinta sama Mpok. Berani sumpah”.
Mpok Tiwi menggelengkan kepala. “Mungkin menyiksa secara langsung, tidak. Tetapi kau pasti akan menyiksaku secara tidak langsung. Kau akan menyuruhku mencuci pakaian tiap hari, mencari duit lagi untuk makan dan pembeli rokokmu. Benar kan? Belum lagi aku harus mengandung anakmu nanti”, sahutnya.
Marjan terdiam. Sementara Mpok Tiwi meneruskan lagi: “Kalaua kalian mau beristeri, sebaiknya cari perkerjaan yang lain dulu yang mantap. Jangan ngamen seperti sekarang, yang penghasilannya cuma dari belas kasihan orang”.
“Tapi kami sudah berusaha ke sana ke maridengan memperlihatkan ijazah SLA kami, dan sampai sekarang hasilnya nihil”, sahut Udin.
“Itulah kesalahan kalian. Kalian hanya mempercayakan masa depan kepada ijazah saja, jadi pegawai negeri atau pegawai perusahaan swasta. Padahal di zaman pembangunan ini, seharusnya kalian jangan terlalu mempercayakan pada ijazah. Sebab terlalu banyak orang yang memiliki ijazah setingkat dengan kalian untuk dapat ditampung kator dan perusahaan. Seharusnya kalian mencari jalan alain, misalnya membuat pekerjaan sendiri. Lupakan dulu ijazah itu. Tentu kalian juga sering mendengar dari radio atau membaca di surat kabar. Sekarang ini masih banyak sekali lulusan SLA bahkan sarjana yang masih nganggur. Mereka terus-terusan mengeluh karena jerih payah bertahun-tahun untuk mendapatkan ijazah itu ternyata tidak memudahkan untuk segera dikecap hasilnya. Akhir-akhirnya tidak sedikit yang menyalahkan Tuhan”, kata Mpok Tiwi seperti seorang dosen sedang memberi kuliah.
“Tapi itu wajar Pok. Semua orang berusaha memperoleh ijazah, agar mendapat pekerjaan yang layak, jadi orang terhormat, hidup senang. Kalau harus mencangkul di sawah juga, buat apa kita sekolah capek-capek dan mengeluarkan biaya tidak sedikit?”, kata Marjan menyangkal omongan Mpok Tiwi.
“Nah, lagi-lagi pendapat kalian salah. Meskipun aku bodoh, tetapi aku sering mendengar penjelasan di radio. Kalian sekolah untuk mendapat ilmu pengetahuan, bukan untuk mendapat ijazah. Dengan ilmu yang kalian dapat, kalian bisa melakukan pekerjaan lebih baik dari yang tidak memiliki ilmu. Dengan ilmu itu kalian bisa mengganti cangkul dengan mesin...mesin...ah aku lupa lagi namanya”.
“Traktor gitu”, kata Dulah.
“Ya, ya dengan mesin traktor, sehingga pekerjaan mencangkul itu dapat diselesaikan lebih cepat dan tidak capek. Kemudian dengan pengetahuan kalian tentang pupuk untuk menyuburkan tanah, hasil panen sawah kalian akan berlipat ganda...”.
“Bagaimana kau bisa berpikir sampai kesitu Pok?”, tanya Marjan menukas.
“Sudah kukatakan. Aku sering mendengarnya di radio dan membaca dari koran-koran bekas”.
“Aku tidak percaya. Bicaramu seperti orang terpelajar”.
“Memang aku orang terpelajar kok. Jelek-jelek, aku juga punya ijazah SMP”, sahut Mpok Tiwi dengan nada bangga. “Tetapi ijazah itu tidak pernah aku pakai. Karena aku tahu, terlalu banyak lulusan SMP yang lebih pintar dari aku. Yang lebih penting sekarang ini, harus punya koneksi di atas atau punya duit, baru ijazah itu berguna”.
“Tepat kata-katamu Pok. Kalau tidak punya koneksi, seperti kami inilah jadinya, jadi pengamen”, kaa Udin.
“Kenapa kalian tidak kembali ke kampung saja. Bekerja di sana untuk memajukan kampung sendiri. Pengetahuan kalian sebagai lulusan SLA sangat diperlukan untuk membangun kampung sendiri di zaman pembangunan ini. Begitu menurut koran-koran”.
“Di kampung, kami tidak punya apa-apa Pok. Jangankan sawah dan ladang, rumah sendiri yang kesempitan karena banyak saudara, sudah hampir ambruk. Karena itu kami bertiga sebagai kawan senasib, lari ke sini dalam usaha memperbaiki kehidupan keluarga. Orang tua kami sangat mengharapkan bantuan kiriman dari kami untuk mengatasi kesulitan hidup yang semakin menekan. Tetapi setelah hampir setahun di sini, kami benar-benar merasa sedih, karena tidak dapat memenuhi harapan itu. Satu-satunya harapan yang masih tersangkut di hati kami adalah ijazah yang telah kami sebar ke banyak kantor dan perusahaan. Itu selalu kami lakukan apabila mendapat rejeki lebih”, kata Marjan dengan kepala tunduk sambil menghela nafas berat.
“Dan sementara menunggu ijazah kalian nyangkut, kalian jadi tukang ngamen, bukan begitu?”.
“Apa boleh buat, daripada kami harus menjadi pencuri”, sahut Dulah.
“Kenapa kalian tidak jadi pedagang saja. Misalnya tukang sirop, tukang bakso, atau tukang apa saja yang bisa menghasilkan tanpa harus mengemis-ngemis. Itu akan lebih baik”, kata Mpok Tiwi.
“Pok...Mpok. Kalau kami punya modal, pekerjaan itu tentu sudah kami lakukan. Ketahuilah, kami datang ke kota ini dengan uang pas-pasan untuk ongkos saja. Hasil dari ngamen itu sebagiannya kami gunakan untuk fotokopi ijazah dan surat-surat lainnya untuk melamar pekerjaan”, timbrung Udin.
Mpok Tiwi mengangguk-anggukkan kepala. Lalu katanya: “Aku senang mendengar kalian masih tetap berjalan di jalan lurus meski harus hidup sengsara. Tidak seperti kebanyakan orang yang berpaling dari larangan agama, karena tidak tahan lagi atas penderitaannya. Dan aku lebih senang lagi mendengar kalian mau melupakan gantungan harapan pada ijazah kalau masih ada jalan lain yang bisa ditempuh. Itu membuat aku percaya kepada kalian”.
Sejenak Mpok Tiwi menghentikan kata-katanya, dan menyapukan pandangannya kepada ketiga anak muda itu. Baru kemudian berkata lagi.
“Bagaimana kalau aku memberikan modal buat kalian dagang, mau tidak?”.
Ketiga anak muda itu berpaling serempak menatap Mpok Tiwi. “Mpok bisa mencarikan modal untuk kami?”, tanya Marjan dengan nada tak percaya.
“Aku punya seorang kenalan yang baik. Dia pernah menawari aku untuk dagang. Tetapi aku tidak punya bakat. Asal kalian berjanji akan menggantinya kalau sudah maju nanti, aku akan mengusahakannya”, sahut Mpok Tiwi.
“Tapi bagaimana kalau dagang kami bangkrut?”, tanya Dulah.
“Asal kalian sungguh-sungguh berusaha, kukira tidak akan bangkrut. Kalaupun sampai bangkrut, asal kalian berusaha dengan jujur, kukira orang itu tidak akan minta ganti. Tetapi kalaupun sampai harus diganti, aku bisa mencicilnya. Hanya satu yang aku minta, kalian harus benar-benar jujur kepadaku”.
“Pok. Benarkan Mpok bisa mengusahakan modal itu?”, tanya Marjan dengan mata bersinar. “Percayalah, kami tidak akan berani menipu Mpok. Selama ini Mpok telah demikian baik kepada kami. Apalagi kalau kami sampai bisa maju. Aku ingin mengawinimu”.
“Lupakan soal mengawini aku. Yang penting, kalian punya kemauan untuk bekerja keras, dan melupakan dulu ijazah kalian. Bagaimana?”, tanya Mpok Tiwi.
“Baik Pok. Kami berjanji”, sahut ketiga pemuda itu serentak.
“Kalau begitu, tunggu beberapa hari lagi. Besok aku akan mencarikan modal itu. Sementara itu kalian cari saja rejeki seperti biasa”.
“Baik Pok. Kami benar-benar gembira mendengar kesediaan Mpok membantu kami”, sahut Marjan.
“Doakan saja, mudah-mudahan aku berhasil. Nah, aku minta maaf tidak bisa menemani kalian lebih lama, karena harus bersiap-siap untuk sembahyang magrib”, ujar Mpok Tiwi sambil bangkit.
“Silahkan Pok. Dan sekali lagi, terimakasih atas bantuanmu. Kami doakan kau berhasil mendapat modal itu”, sahut Dulah,
Sejenak kemudian ketiga anak muda itu pun berlalu dari pondok Mpok Tiwi. Mpok Tiwi berjalan menuju kali untuk berwudu. Ketika dia kembali ke gubuknya, seorang anak perempuan berusia 10 tahun dengan pakaian lusuh dan kotor, tampak berdiri di muka pondok.
“Ada apa Mamah?”, tanyanya kepada anak perempuan itu.
“Ibu panas-dingin. Apa Mpok masih punya obat meriang?”, tanya gadis kecil itu.
“Ngng...pergilah dulu. Nanti aku ke sana menengok ibumu. Sekarang aku mau sembahyang dulu”, sahut Mpok Tiwi.
“Baik Pok”, katanya, dan gadis itu pun berlalu. Mpok Tiwi memasuki gubuknya dan menutup pintu. Dalam pada itu kesibukan orang yang lalu lalang sudah mulai menurun. Hari mulai gelap dan orang-orang mulai memasang lampu.
Mpok Tiwi muncul di depan gubuk Ibu Minah, ibunya Mamah. Dia membuka tirai pintu yang terbuat dari karung goni, dan memasuki gubuk itu. Sebuah lampu cempor tampak di atas peti kayu di salah satu pojok ruangan. Di pojok seberangnya tampak sesosok tubuh meringkuk. Mpok Tiwi menghampirinya. Sejenak dia menatap wajah perempuan itu. Masih belum terlalu tua.
“Kenapa Kak Minah?”, tanya Mpok Tiwi ketika mata perempuan itu membuka.
“Meriang”, sahutnya, dan memang tubuh perempuan itu menggigil.
“Sejak kapan?’.
“Sejak di jalan tadi”, sahutnya pula dengan suara gemetar.
“Mamah, tolong dekatkan lampunya ke sini”, kata Mpok Tiwi kepada gadis kecil yang berdiri di dekatnya.
Mamah mengangguk dan dia pergi mengambil lampu, lalu dibawa ke dekat ibunya berbaring dengan dipegangi.
“Rupanya digigit nyamuk malaria”, ujar Mpok Tiwi dan dia mengeluarkan sebungkus pil. Lalu mengambilnya sebutir. Dia mengambil air dari gelas yang sudah ada di dekat perempuan itu.
Dengan mengangkat tengkuk Ibu Minah, Mpok Tiwi memasukkan pil itu ke mulutnya dan kemudian memberi minum.
“Terimakasih Dik Tiwi”, kata ibu muda itu.
“Berbaring saja Kak Minah. Mudah-mudahan Kakak cepat sembuh”, kata Mpok Tiwi. Lalu sambungnya: “kebetulan aku punya sebungkus lagi. Kak Minah dapat meminumnya lagi besok. Ikuti saja kebiasaan petunjuk dokter. Sehari tiga kali, pagi, siang, dan sore”.
“Baik. Aku akan mengikuti petunjukmu. Kehadiranmu di sini seperti dokter saja. Kau selalu menyediakan obat-obatan buat penghuni di sini. Ternyata obat yang kau berikan selalu manjur”.
Mpok Tiwi tersenyum. “Memang aku selalu menyediakan obat-obatan. Sebab aku berpendapat, hidup di tempat seperti ini lebih memerlukan dibandingkan dengan orang yang tinggal di gedung, karena kebersihan makanannya terjamin. Tetapi tentang kemanjuran dan kesembuhan si sakit, aku sendiri tidak tahu”, sahut Mpok Tiwi.
“Jangankan kau. Seorang dokter sungguhan sekalipun tidak akan bisa memastikan, apa orang sakit yang diobatinya akan sembuh atau tidak. Sebab soal mati hidup kita ada di tangan Tuhan. Karena itu basgi kami di sini, kau adalah dokter paling baik. Bahkan lebih baik dari dokter yang sebenarnya. Karena kau menolong dan memberi obat tanpa meminta balasan apa-apa”, kata Bu Minah.
“Aku hanya berharap, obat yang kuberikan justru tidak memperparah si sakit. Karena aku tidak tahu, apa obat yang kuberikan itu tepat atau tidak. Kalau aku sampai salah memberi obat, kalian jangan menyalahkan aku”.
“Tentu tidak. Aku dan penghuni lain pun tahu bahwa kau bermaksud baik. Kau sediakan obat-obatan yang entah berapa banyak uang yang kau keluarkan untuk itu”.
“Kebetulan aku tidak punya tanggungan, kecuali diriku sendiri yang sebatangkara. Jadi bisa menyisihkan uang sedikit-sedikit dari rejeki yang kuperoleh. Karena aku tidak punya tanggungan, maka tidak ada yang memberatkan diriku jika aku dipanggil Tuhan. Sebab kalau kita mati, kita tidak akan membawa apa-apa ke dalam kubur selain dari amal perbuatan”, kata Mpok Tiwi.
“Kudoakan agar usiamu lebih panjang dari semua penghuni di sini. Karena kalau kau mati duluan, kami akan kehilangan penolong. Bukan hanya dalam mengobati orang sakit saja. Bukankah sejak kau tinggal bersama kami di sini, telah beberapa anak yartim-piatu yang kau selamatkan masa depannya?”.
“Terimakasih atas doamu Kak Minah. Mudah-mudahan kaupun diberi umur panjang dan kemujuran oleh Tuhan”.
“Untuk aku sendiri, sebenarnya kalau tidak punya si Mamah, aku lebih senang dipanggil Tuhan”, sahut Ibu muda itu dengan nada tawar.
“Jangan berputus asa begitu. Usia Kak Minah masih muda. Mungkin hanya satu-dua tahun bedanya denganku, atau siapa tahu usia kita sama. Masa depan Kak Minah masih panjang. Masih banyak kemungkinan untuk dapat hidup lebih baik. Asal kita mau berusaha dan bertawakal kepada Tuhan, tentu Tuhan pun akan memberi jalan lebih baik”..
“Entahlah Dik Tiwi. Tetapi dalam keadaan sakuyt begini aku tidak tahu, apa aku masih bisa mencarikan makan buat anakku. Sebab aku tidak tahu, entah sampai berapa lama aku harus meringkuk begini”.
“Apa tidak ada niat untuk pulang kampung?”, tanya Mpok Tiwi.
“Aku tidak punya kampung lagi. Aku dibawa suamiku sejak si Mamah berumur 3 tahun. Mulanya hidup kami cukuplumayan, karena penghasilan suamiku dari dagang sirop dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kami bisa ngontrak kamar. Tetapi kemudian suamiku terbujuk oleh PKI, hingga setelah peristiwa G30S, suamiku hilang, tak pernah kembali lagi”.
“Kalau begitu Mamah tidak pernah mengecap sekolah”, kata Mpok Tiwi sambil berpaling kepada gadis kecil itu.
“Benar Mpok. Mamah ingin sekali sekolah seperti anak lain”, kata gadis kecil itu mendahului Ibunya.
Mpok Tiwi mengusap rambut gadis kecil itu dengan pandangan mata iba.
“Kak Minah, bagaimana kalau anakmu kubawa untuk dititipkan di rumah yatim-piatu. Apa kau tidak keberatan?”.
Dengan memaksakan diri Bu Minah bangkit duduk. Dengan tangan gemetar kedua bahu Mpok Tiwi dipegangnya, lalu katanya: “Dik Tiwi, apa kau bisa memasukkan anakku ke rumah yatim-piatu?”.
“Kalau Kak Minah tidak berkeberatan, aku akan mengusahakannya. Di rumah yatim-piatu itu semua anak-anak diberi pelajaran seperti di sekolah biasa, dtambah didikan keterampilan sampai mereka bisa hidup berdiri sendiri”, sahut Mpok Tiwi.
“Tentu saja tidak. Bahkan aku mengucapkan terimakasih. Sebenarnya aku sudah lama ingin menyampaikan maksudku itu. Tetapi aku ragu-ragu, karena si Mamah masih punya Ibu”.
“Ternyata kita sama-sama ragu-ragu. Aku juga tidak berani menawarkan, karena aku pernah melakukan hal itu kepada Bu Iyem, tetapi aku justru diumpatinya. Dia mengatakan aku telah menghina dirinya, karena menganggap dia tidak mampu membesarkan anak sendiri”.
“Syukurlah belum terlalu terlambat. Dengan demikian hatiku akan lebih tenteram. Tanpa memikirkan masa depan anakku, aku akan mampu menghadapi cobaan hidup yang pahit ini”, sahut Bu Minah.
“Ya kita sama-sama bersyukur Kak Minah. Baiklah kalau begitu. Besok aku akan mambawa Mamah”.
“Sekali lagi terimakasih Dik Tiwi. Dengan pertolonganmu ini kau telah membebaskan beban hati dan pikiranku. Kini aku benar-benar merasa lega”, ujar Bu Minah, dan perempuan itu tampak seolah langsung sembuh dari sakitnya.
“Jika Kak Minah merasa rindu pada Mamah, Kak Minah bisa menengoknya. Tapi jangan terlalu sering, supaya Mamah tidak terlalu manja. Biarkan dia berprihatin seperti anak-anak yang lain”, kata Mpok Tiwi.
“Tentu, nasihatmu akan aku perhatikan. Aku berjanji”, sahut Bu Minah.
“Sebenarnya Kak Minah bekerja apa selama ini?”, tanya Mpok Tiwi.
“Tidak tentu. Kadang-kadang mencucikan pakaian orang. Kalau tidak ada, ya mencari kertas-kertas bekas atau barang-barang buangan lainnya yang dapat dijual”.
“Apa Kak Minah ada minat untuk dagang? Misalnya gado-gado atau sirop es, atau apa saja”.
“Sejak suamiku tidak kembali lagi, cita-cita itu memang ada. Tetapi sampai sekarang aku tidak berhasil mengumpulkan modal”.
“Kalau aku membantu meminjamkan modal, apa Kak Minah berani mengembalikan modal itu jika sudah mampu nanti?”, tanya Mpok Tiwi.
“Berapa bunga per bulannya?”. Bu Minah balik bertanya.
“Tidak berbunga. Yang penting Kak Minah harus jujur. Kalau untung, katakan untung, jangan disembunyikan yang sebenarnya. Sebab kalau Kak Minah mendapat untung, lalu mengatakan rugi, artinya Kak Minah tidak bersyukur pada rejeki yang diberikan Tuhan. Akibatnya, mungkin Tuhan benar-benar akan menghentikan pemberian rejekinya. Kak Minah akan selalu rugi sesuai dengan ucapan sendiri. Sebab Tuhan sendiri telah berfirman, bersyukurlah kamu atas rizki yang kau terima, maka Aku akan menambah rizkimu”, ujar Mpok Tiwi setengah ceramah.
“Baiklah Dik Tiwi. Aku akan berusaha untuk berlaku jujur dan selalu bersyukur kepada Tuhan”.
“Kalau begitu, tunggulah beberapa hari. Aku akan mencoba mengusahakan pinjaman modal itu”.
“Aku akan berdoa agar kau berhasil Dik Tiwi”, kata Bu Minah dengan nada penuh harapan.
“Ya bantulah aku dengan doa Kak Minah, agar berhasil memperoleh modal itu. Nah, aku mohon diri dulu. Jangan lupa, pagi-pagi Mamah harus sudah ada di gubukku. Sebab aku akan pergi pagi-pagi”.
“Baik Mpok. Mamah akan datang pagi-pagi sekali”, sahut Mamah mendahului Ibunya.
Mpok Tiwi berlalu dari gubuk Bu Minah dengan diantar oleh Mamah sampai di luar pintu. Perempuan itu melangkah satu-satu di muka deretan gubuk-gubuk. Setiap penghuni gubuk yang kebetulan berada di luar selalu menyapanya, atau Mpok Tiwi sendiri yang lebih dulu menyapa mereka. Ketika malam telash mulai larut, para penghuni gubuk-gubuk itu pun mulai menutup pintunya untuk beristirahat, mengumpulkan tenaga bagi persiapan kerja esok pagi.
Malam terus merayap semakin kelam, sampai kemudian muncul tali putih di ufuk timur. Kumandang suara azan memecah kesunyian, membangunkan apara penghuni gubuk kampung kumuh itu. Sebagian di antara mereka langsung pergi ke kali untuk mandi dan bersuci. Sebagian lainnya langsung menyalakan api tungku atau kompor untuk masak. Mpok Tiwi termasuk di antara golongan yang pertama. Baru setelah selesai menunaikan kewajiban menghadap penciptanya, dia menyalakan kompor untuk merebus air.
Ketika matahari muncul di ufuk timur, jalan di depan gubuk-gubuk pun mulai sibuk kembali. Mamah dan Bu Minah telah berdiri di depan gubuk Mpok Tiwi sesuai dengan janjinya tadi malam. Ternyata bu Minah sudah tampak sehat kembali.
Mpok Tiwi muncul dari gubuknya dengan menjinjing tas plastik besar berisi termos dan pakaian salin.
“Kak Minah sudah sembuh?”, tanya Mpok Tiwi sewaktu melihat Bu Minah berdiri di samping anaknya.
“Berkat obatmu Dik Tiwi”, sahut Bu Minah.
“Syukurlah. Tetapi sebaiknya hari ini Kak Minah masih minum obat itu, agar sembuh betul”.
Bu Minah mengangguk. “Baik Dik Tiwi. Sekarang aku hanya ingin melepas anakku”.
Mpok Tiwi merogoh kantong plastik yang dibawanya, dan mengeluarkan kantong plastik kecil berisi beras, disodorkan kepada Bu Minah.
“Aku tidak sempat memasaknya. Ambillah untuk Kak Minah. Sebaiknya hari ini Kakak jangan pergi bekerja dulu”, kata Mpok Tiwi.
“Terimakasih”, sahut Bu Minah sambil menerima bungkusan beras itu. Lalu sambungnya kepada anaknya: “Kau harus nurut kepada segala nasihat Mpok Tiwi, Mamah. Belajarlah sungguh-sungguh agar cepat pandai. Sekali-sekali Emak akan menengokmu”.
“Ya Emak”, sahut Mamah, dan Bu Minah memeluk anaknya dengan berlinang air mata.
“Nah, marilah kita berangkat sekarang”, kata Mpok Tiwi sambil menarik tangan Mamah. Lalu: “Aku pergi dulu Kak Minah”.
“Selamat jalan”, kata Bu Minah sambil melambaikan tangannya kepada anaknya. Mamah pun membalasnya dengan lambaian pula.
Sampai di ujung deretan gubuk, Mpok Tiwi dan Mamah membelok ke lorong samping gedung. Tak lama kemudian mereka sudah berada di pinggir jalan besar yang ramai. Pada suatu saat Mpok Tiwi masuk ke sebuah perusahaan bahan bangunan. Pada kaca jendela kantor perusahaan itu terpampang tulisan yang berbunyi: BISA PESAN RODA DORONG.
Seorang lelaki berkopiah hitam, berbadan tinggi agak gemuk, berusia sekitar 40-an keluar dari kantor itu menyambut kedatangan Mpok Tiwi.
“Ade nyang bise aye bantu Pok?”, sapanya.
“Aye mau pesen roda dorong buat dagang bakso, berape hargenye Bang?”, tanya Mpok Tiwi.
“Ade due macem Pok. Nyang biase atawe nyang pake kaca?”.
“Kalo nyang pake kaca berape?”, tanya Mpok Tiwi.
“Kagak kurang lagi, due puluh. Noh nyang nongkrong kaya di sono”, sahutnya.
Mpok Tiwi berpaling ke arah yang ditunjuk oang itu. Dia melihat di pojok halaman ada dua buah roda dorong. Yang satu roda dorong biasa, sedang yang satunya lagi di bagian atasnya punya ruangan yang tertutup kaca.
Mpok Tiwi menghampiri roda itu untuk mengamatinya, diikuti si pemilik material.
“Dijamin kuat deh pok”, kata si pemilik material.
“Aye percaye Bang”, kata Mpok Tiwi setelah memeriksa roda itu, “tapi hargenye mahal amat. Kurangin deh, sepuluh aje ye”.
“Kalo segitu mah bahannye juga belon nyampe Pok. Gini aje. Kurangin seringgit deh. Kalo ama nyang lain kagak bakalan aye kasi”.
“Tapi aye perlunya bukan atu Bang. Aye perlu ampat. Nyang atu buat jualan bakso, nyang tige lagi buat jualan es campur, gado-gado, dan nasi rames”, kata Mpok Tiwi.
“Wah wah rupenye Mpok ni cukong ye?”.
Mpok Tiwi tersenyum. “Kecil-kecilan Bang”.
“Kalo gitu baik deh. Lima welas aje atunya. Gimana?”, tanya si pemilik material.
“Jadi deh. Karang aye bayar ampat puluh. Sisenya kalo udah jadi. Tapi cepetan dan kualitetnya tidak boleh turun. Kalo turun, sisenya kagak bakalan aye bayar”.
“Wah si Mpok ini pinter banget. Jadi deh. Ampat ari lagi semuanye ude pada nongkrong di sini, dan Mpok ude bisa ambil”, ujar si pemilik mateial sambil melangkah kembali ke kantornya.
Mpok Tiwi mengikutinya. Sementara si pemilik material menulis kuitansi, Mpok Tiwi pun mengeluarkan uang lembaran puluhan ribu empat lembar dari balik kutangnya.
Ketika Mpok Tiwi dan si Mamah sudah berada di jalan lagi, gadis kecil itu mengomentari apa yang dilihatnya tadi.
“Dari mana Mpok punya duit sebanyak itu?”, tanyanya.
“Dapat pinjam dari orang tadi malam. Bukankah Mamah juga dengar apa yang Mpok katakan sama Ibumu? Nah, salah satu roda yang Mpok pesen itu buat Ibumu”, sahut Mpok Tiwi.
“Yang tiga lagi buat siapa?”.
“Buat tukang ngamen. Mereka juga mau jualan”.
“O maksud Mpok, Bang Marjan itu?”, tanya si Mamah.
“Heeh, supaya mereka tidak ngamen lagi”.
Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam, Mpok Tiwi dan Mamah sampai di depan sebuah bangunan panjang seperti asrama dengan halaman luas. Di depan pintu halaman terpampang papan nama yang berbunyi RUMAH YATIM-PIATU DHARMA PERTIWI. Mpok Tiwi memasuki halaman rumah yatim-piatu itu sambil menuntun Mamah.
“Di rumah inilah kau akan tinggal Mamah. Kau akan bisa belajar membaca, menulis, berhitung, menjahit, dan banyak lagi pelajaran lainnya. Apa kau senang tidak?”, tanya Mpok Tiwi.
“Senang sekali Mpok”.
“Bagus. Tapi kau harus nurut sama ibu-ibu yang mengurus di sini ya”.
“Baik Pok”.
Ketika kedua orang itu hampir mencapai pintu bangunan, seorang wanita berusia 50-an tetapi masih tampak cantik dan berwajah lembut muncul di ambang pintu. Bibirnya tersenyum menyambut kedatangan Mpok Tiwi.
“Apa anak ini cucu baru buat Ibu, Wiwi?”, tanyanya sambil membelai pipi Mamah.
“Ya Ibu, cucu yang ke-25”, sahut Mpok Tiwi sambil tersenyum pula. Lalu katanya kepada Mamah: “Mamah, beliau ini akan jadi nenekmu. Karena itu kau harus memanggilnya Nenek”.
“O jadi namamu Mamah?”, tanya wanita itu.
“Iya Nek”, sahut Mamah mulai mengikuti pesan Mpok Tiwi.
“Ngng...namamu bagus, dan wajahmu manis. Apa kau sudah makan?”.
“Sudah Nek tadi pagi”, sahut Mamah lagi.
“Kalau begitu sekarang kau beristirahat dulu. Tentu kau lelah karena berjalan kaki jauh sekali. Marilah masuk”, ajak wanita itu sambil menuntun Mamah memasuki gedung.
Ternyata bagian depan gedung itu berupa ruangan luas yang merupakan lapangan badminton, terlihat dari garis-garis putih di tengah ruangan. Sepanjang pinggir bagian dalam aula merupakan deretan kamar berjendela kaca. Kamar paling sisi, bersisian dengan pintu besar yang menghubungkan aula dengan bagian dalam adalah ruang tamu. Bersisian dengan ruang tamu adalah ruang tata usaha, dengan dua pegawai wanita tampak di dalamnya, dan sebuah meja kosong tidak berorang.
Kamar ketiga dengan tulisan di atas pintunya ‘ruang guru’, merupakan kamar lebih besar dari dua yang dua tadi, tetapi saat itu keadaannya kosong. Kamar keempat yang sama besarnya dengan ruang guru merupakan kamar pajangan barang-barang kerajinan tangan buatan anak-anak penghuni rumah yatim-piatu. Di sebelahnya lagi yang besarnya sama, pada pintunya bertuliskan ‘mushola’. Masih ada dua kamar lainnya yang lebih kecil di sisi aula, bersisian dengan sebuah pintu masuk biasa ke bagian dapur.
Ketika mereka masuk ruangan, salah seorang di antara gadis yang ada di kamar tata usaha keluar menyambut mereka.
“Selamat datang Kak Wiwi”, ujar gadis itu sambil menyalami Mpok Tiwi dengan sikap menghormat.
“Terimakasih Aisyah”, sahut Mpok Tiwi, “apa ada kesulitan selama kutinggalkan?”, tanyanya.
“Tidak Kak Wiwi. Semuanya baik-baik saja”.
“Syukurlah”.
Dalam pada itu wanita yang menuntun Mamah berkata pula: “Aisyah, tolong rawat anak ini. Sehabis anak-anak lain bubaran belajar, perkenalkan kepada mereka. Namanya Mamah”, ujarnya, “Ibu mau bicara dulu dengan anak Ibu”.
“Baik Bu”, sahut Aisyah. “Mari Kak Isyah tunjukkan kamar buatmu”, ujarnya pula sambil menuntun anak itu.
Setelah Aisyah dan Mamah menghilang di balik pintu besar ke bagian dalam, wanita itu menggandeng pinggang Mpok Tiwi yang berbaju kumal tanpa segan-segan sedikit pun. Mereka masuk ke ruang tamu. Sementara berjalan, jari-jari tangan Mpok Tiwi memegangi bawah dagunya. Ketika jari-jari itu menarik ke atas, sehelai kulit karet warna putih kemerahan turut terbawa. Maka tampaklah seraut wajah lembut yang memiliki daya pesona besar, Pertiwi.
Kemudian gadis itu membuka pula baju kebaya dan kain batik belel yang dikenakannya. Sejenak kemudian Mpok Tiwi telah berubah menjadi seorang gadis cantik bertubuh padat berisi, mengenakan kaus olahraga tanpa leher, dan celana putih longgar yang biasa dipakai dalam olahraga karate. Setelah itu Pertiwi baru duduk di samping Ibunya, Nyonya Abdurrakhman.
“Wiwi”, kata Nyonya Abdurrakhman membuka percakapan, “kemarin sahabat ayahmu, Profesor Sumardi dan puteranya Suwarno telah datang lagi. Mereka sangat mengharapkan jawabanmu yang positif”.
Pertiwi menundukkan kepalanya sementara jari-jari kedua tangannya membelai-belai kulit wajah palsu yang dipegangnya.
“Itulah sulitnya Ibu. Sebenarnya jawaban itu telah Wiwi berikan. Wiwi belum punya niat menikah. Dengan jawaban itu seharusnya mereka mengerti bahwa Wiwi menolaknya. Tetapi mereka meminta jawaban lain, jawaban positif. Artinya Wiwi harus memberi jawaban setuju, tidak ada pilihan lain”, sahut Pertiwi.
“Ibu juga jadi heran. Di zaman yang sudah modern begini, masih ada juga orang intelek modern yang berusaha mengikat perjodohan berdasarkan hubunan orangtua, bukan pada hubungan suka sama suka kedua pihak yang bersangkutannya”.
“Yang paling Wiwi tidak senang adalah pemaksaan kehendaknya yang ngotot. Kebiasaan dari sikap demikian, sekali kita mengabulkan keinginan mereka, selamanya mereka akan memaksakan setiap kehendaknya. Kalau Wiwi sampai menyetujui kehendak mereka itu, setelah terikat tali perkawinan, Wiwi akan menjadi robot yang harus mengikuti segala kemauannya dengan mutlak. Apa Ibu tega mendorongkan Wiwi ke dalam masa depan yang begitu suram?”.
“Tidak anakku, tidak. Kau sendiri tahu sikap Ibu selama ini. Memang Ibu pernah mengatakan ingin menimang cucu. Tetapi dengan gagasanmu mendirikan rumah yatim-piatu ini, kau telah memenuhi keinginan Ibu itu. Dua bayi yang kau bawa dari rumah sakit itu, Ibu merasakannya benar-benar seperti cucu kandung sendiri. Sedangkan anak-anak lainnya yang kau bawa dari perkampungan kumuh dan pinggir jalan pun, adalah cucu-cucu yang kusayangi pula. Dengan hadirnya mereka di sekeliling Ibu, hati Ibu sudah sangat bahagia. Kebahagiaan itu tentu saja akan menjadi lengkap setelah kau menikah, tentunya dengan orang yang mencocoki hatimu sendiri. Karena kalau kau menikah dengan orang yang justru membuat hatimu menderita, hati Ibu pun akan turut bersedih pula”, sahut Nyonya Abdurrakhman.
“Terimakasih Ibu.Dengan pandangan Ibu seperti itu, hati Wiwi semakin tenang untuk tidak tergesa-gesa mencari pasangan hidup tanpa dilandasi oleh saling pengertian. Biarkan saja profesor Sumardi dan Suwarno menunggu sampai mereka bosan sendiri”.
Nyonya Abdurrakhman mengangguk. “Baiklah, soal itu kita kesampingkan dulu. Sekarang Ibu ingin menanyakan tentang tenaga...”.
“Nek, Nenek!”. Tiba-tiba terdengar suara anak kecil memanggil-manggil sebelum Nyonya Abdurrakhman menyelesaikan kata-katanya. Sejenak kemudian seorang anak laki-laki berusia tiga tahun berlari-lari, lalu memasuki ruangan itu. Nyonya Abdurrakhman bangkit sambil menjulurkan kedua tangannya menyambut anak itu yang langsung meloncat ke dalam rangkulannya.
“Mana adikmu Rakhman?”, tanya Nyonya Abdurrakhman.
“Masih tidul Nek”, sahut anak yang diberi nama Rakhman itu dengan kata-kata yang masih belum bisa menyebut ‘r’.
“Kalau begitu, kasih salam sama ibumu”, kata Bu Abdurrakhman.
Rakhman mengacungkan kedua tangannya. “Salam Mamah”, katanya dengan sikap lucu. Pertiwi menangkap tangan kecil itu dan menyorongkan punggung tangannya ke mulut Rakhman.
“Anak pinter”, kata Pertiwi ketika Rakhman mengecup punggung tangannya. Dengan gemas Pertiwi menciumi kedua pipi anak itu: “Ternyata anak Mamah benar-benar sudah pinter”, sambungnya. Rakhman tersenyum senang.
“Tentang tenaga yang Ibu tanyakan tadi, Wiwi justru telah merencanakan untuk pergi mencarinya sore ini”, kata Pertiwi menyambung pembicaraan mereka yang terpotong karena kehadiran Rakhman tadi, “kalau bisa Wiwi akan pulang besok sore. Tetapi kalau tidak bisa, mungkin baru pulang lusa. Sekarang Wiwi mau bersiap-siap dulu”.
“Memang lebih baik secepatnya sebelum kau lebih sibuk lagi setelah di wisuda nanti”, kata Bu Abdurrakhman.
“Ya Ibu. Sekarang Wiwi akan bersiap dulu”, ujar Pertiwi sambil mendorong Rakhman kepada Bu Abdurrakhman. Dia memasukkan pakaian samarannya ke dalam kantung plastiknya.
“Apa akan membawa kendaraan sendiri?”.
“Tidak Ibu”, sahut Pertiwi, “Wiwi sudah rindu ingin merasakan lagi naik delman dan mendengar suara ketoplak kaki-kaki kuda di jalan pedesaan”.
--0--
Tidak ada komentar:
Posting Komentar