Sabtu, 28 Mei 2011

Novel 4 Dimensi - Dimensi 1 - PRAQHARA NUSANTARA 10

Sepuluh
Senja Merah     
MOBIL IMPALA HIJAU LUMUT itu meluncur cepat di kegelapan malam pada lerotan menurun dari Puncak arah ke Cianjur. Penumpangnya dua orang, Pak Abdurrakhman memegang kemudi dan Pertiwi duduk di sampingnya. Malam belum lama turun, karena Pak Abdurrakhman berangkat sore dari Jakarta. Rupanya dia mengerti kegelisahan hati Pertiwi, meski Pertiwi tidak mengemukakannya.
       “Sekarang baru pukul delapan”, kata Pak Abdurrahman sambil melihat arlojinya, “kalau tidak ada rintangan, kita akan tiba di Bandung pukul setengah sepuluh. Bapak harus melapor dulu ke Kodam, sekalian mengecek persiapan operasi untuk daerahmu”.
       “Apa sudah dipasang pos-pos penjagaan?”, tanya Pertiwi.
       “Menurut informasi, sampai di Bandung untuk sementara baru dipasang dua pos. Tapi Bapak sudah mengirimkan rencana perjalanan ini tadi siang, termasuk dirimu, sehingga bagi kita pos-pos itu bukan rintangan”.
       Benar saja, ketika mereka sampai di suatu tempat daerah Ciranjang mobil mereka distop. Di sana sudah ada beberapa mobil umum dan pribadi yang diperiksa. Tetapi dengan memperlihatkan kartu identitas khusus kepada petugas, petugas itu memberi hormat.
       “Silahkan jalan terus Pak”, katanya.
       “Terimakasih”, sahut Pak Abdurrakhman.
       Pos penjagaan kedua berada di daerah Rajamandala. Di sini pemeriksaan dilakukan lebih teliti. Petugas mencocokkan dulu foto pada kartu identitas khusus itu dengan orangnya, serta melongok ke dalam sambil melihat penumpangnya. Baru dia memberi hormat dan mempersilahkan meneruskan perjalanan. Di pos penjagaan ini tampak lebih banyak kendaraan yang diparkir di pinggir jalan.
       Tepat seperti yang diperkirakan, mereka memasuki Bandung sekitar pukul sembilan. Pada pukul setengah sepuluh mobil Pak Abdurrakhman membelok ke gedung Kodam Siliwangi.
       “Tunggu saja di sini. Sementara menunggu Bapak, sebaiknya kau makan bekal dari Ibu”, kata Pak Abdurrakhman setelah mobilnya berhenti di tempat parkir.
       Pertiwi mengangguk tanpa menyahut. Sementara Pak Abdurrakhman masuk, dia membuka bekal roti bumbu. Saat itulah tiba-tiba perasaan tidak tenteram melanda hatinya, sehingga beberapa lamanya dia berhenti mengunyah makanannya. Matanya memandang ke kegelapan malam. Di sana-sini tampak sinar lampu. Dia menyapukan pandangannya sampai kemudian tertumpu pada gardu penjagaan. Di depan gardu tampak seorang prajurit tengah berjaga dengan kaki mengangkang dan tangan kanannya bertumpu pada ujung bedil yang ditegakkan di sisi kakinya. Pertiwi melihat ke gardu karena melihat gerakan orang memasuki gardu.

--0--

       Pada saat yang sama, Darmawan yang berdiri di balik pohon kelapa cengkir di kebun belakang rumah Raden Angga, memandang ke tepas pondok. Tampak Bung Yeye tengah duduk sendirian. Darmawan mengalihkan pandangannya kepada orang yang keluar dari pintu pondok.
       “Kenapa Bung Sarju masih belum datang juga?”, tanya Bung Adam yang baru keluar dari pondok, lalu duduk di samping Bung Yeye.
       “Pertemuan masih setengah jam lagi. Dia kan selalu datang tepat waktu”, sahut Bung Yeye sementara tangannya mengupas kulit ubi rebus.
       “Lalu Bung Angga ke mana dulu?”.
       “Sementara Bung berpacu dengan kudamu, mungkin Bung Angga tengah merayu kudanya pula”.
       “He, apa ada kuda lain?”.
       “Kuda peliharaannya yang belum sempat dicoba. Sekarang kesempatan paling baik, karena penjaganya sedang tidak ada. Nanti juga akan jadi tunggangan kita”, sahut Bung Yeye.
       Di tempat persembunyiannya Darmawan tersentak kaget. Dia tahu pasti siapa yang disebut kuda peliharaan dan penjaganya itu. Selama dua hari dua malam dia demikian sibuk dengan tugas kelilingnya sehingga lupa samasekali pada persoalan Purwanti. Malam ini dia sedang menunggu jatuhnya hari-H.
       Tiba-tiba hatinya bergetar mmbayangkan kemungkinan peristiwa yang dikatakan Bung Yeye atas Purwanti. Dia juga ingat pesan Pertiwi. Dengan hati rusuh dia mengendap menjauhi pondok. Setelah berada di luar pagar, dia berlari pulang ke Kecamatan seperti dikejar hantu. Tetapi ketika sampai di pagar halaman Kecamatan, dia menghentikan larinya.
       Setelah memperhatikan situasi sekitarnya, dia meloncat masuk, lalu menyusuri dinding kantor. Terus ke belakang menyusuri dinding rumah. Di tempat timbunan kayu bakar di belakang rumah, tanpa sadar tangannya mengambil sebatang suluh. Dari sana dia terus ke kebun menuju ranggon di pinggir kolam. Sejenak dia berhenti untuk meredakan debar jantungnya. Matanya memandang tajam menembus kegelapan malam, memperhatikan bangunan ranggon.
       Dalam kegelapan malam itu dia menangkap gerakan sosok di dalam ranggon. Dengan mengendap-endap dia mendekat. Tiba-tiba saja sesuatu menghentak jantungnya, ketika telinganya menangkap suara dengusan nafas dan rintihan lirih perempuan, sementara sosok di ranggon itu terus bergerak-gerak.
       Saat itu terbayang jelas di pikirannya peristiwa yang sangat dikhawatirkannya, berbaur dengan pandangan Pertiwi yang menyalahkan keteledorannya. Perasaan bersalah memenuhi dadanya, dibarengi kemarahan yang menggelegak. Dalam keadaan demikian, tanpa sadar dia meloncat ke dalam ranggon dan kayu yang berada di tangannya berulang-ulang menghantam sosok yang bergerak-gerak itu.
       Raden Angga mengaduh, dan melontarkan tubuhnya ke luar ranggon. Darmawan mengejarnya dengan ayunan pukulan kayu. Raden Angga berusaha menangkisnya dengan kedua tangannya. Tetapi ayunan kayu itu terus juga memukuli tubuhnya, bahunya, tangannya, bahkan kepalanya. Raden Angga terus mundur dengan berdesah dan mengerang, sampai kemudian tubuhnya terguling ke luar pagar halaman. Kesempatan itu dipergunakanmya untuk lari kabur, hilang dalam kegelapan. Darmawan berdiri mematung dengan pandangan kosong.
       Ketika tubuh Raden Angga meloncat keluar ranggon, Purwanti bangkit dengan wajah pucat. Dia melihat Mang Darma terus memukuli Raden Angga dengan kayu. Tiba-tiba saja pikiran untuk membalas dendam kepada kakaknya terkilas dalam benaknya. Dia memungut celana Raden Angga yang tertinggal di ranggon dan digulungnya, lalu dilemparkan ke semak-semak. Setelah itu dia berlari ke rumah sambil menangis.
       Purwanti mendorong pintu dapur dengan keras sehingga menimbulkan bunyi berderak. Juragan Danu dan isterinya yang sedang di kamar tidur tersentak kaget. Sejenak mereka memulihkan kesadarannya. Lalu terdengar lagi bunyi berderak pintu tengah disertai tangis Purwanti. Juragan Danu meloncat dari tempat tidurnya diikuti isterinya.
       Bertepatan dengan terbukanya pintu kamar, Purwanti datang berlari menghampiri ibunya dan merangkulnya dalam tangis yang memilukan. Pembantu rumah dan tukang kebun bermunculan di kamar tengah. Mereka pada berdiri terpaku menyaksikan pakaian Purwanti yang robek-robek. Juragan Danu berdiri mematung di tempatnya. Kejadian itu demikian tiba-tiba dan sangat mengejutkan. Isteri Juragan Danu membawa puterinya duduk di kursi. Gadis itu terus menangis, namun lama-lama mulai reda.
       “Dari mana kau? Apa yang terjadi denganmu Wanti?”, tanya Juragan Danu.
       “Mang Darma”, sahut Purwanti dengan tersendat.
       “Kenapa dengan si Darma? Kenapa?”.
       “Dia mem..memaksa Wanti”, sahutnya dan tangisnya meledak lagi.
       “Memaksa apa?”.
       Purwanti menjawab dalam tangisnya. “Did...dia memperkosa Wanti”.
       “Apa?!!!”.
       “Dia memukuli Kak Angga yang mau menolong Wanti”.
       “Setan! Kusir laknat!”, teriak Juragan Danu dengan mata mendelik dan tangan terkepal. Sambil menghentak kaki dia pergi ke luar menuju pondok Darmawan. Dua pembantu lelakinya, Mang Ikin dan Mang Juhro bergegas mengikuti tuannya.
       Ketika Juragan Danu muncul di ambang pintu pondok, dia melihat Darmawan duduk mematung di sisi tempat tidurnya dengan pandangan kosong. Di tangannya masih tergenggam kayu pemukul yang berdarah. Juragan Danu meloncat menghampiri Darmawan. Sementara tangan kirinya menangkap kayu pemukul, tangan kanannya menghajar wajah Darmawan sehingga tubuhnya terdorong menumbuk dinding. Juragan Danu masih melanjutkan dengan beberapa pukulan ke wajah dan tubuh Darmawan. Kemudian dia menarik tubuh yang tidak melawan itu dan melemparkan ke tengah pondok.
       “Ikat dia di kursi Ikin!”, perintah Juragan Danu.
       “Baik Gan”, sahut Mang Ikin dan Mang Juhro serempak. Mereka mengambil tambang yang memang ada di satu pojok kamar. Tubuh Darmawan yang lemah diangkat dan didudukan di atas kursi. Kemudian Mang Ikin mengikatnya pada sandaran kursi. Kepala Darmawan terkulai ke dadanya.
       “Juhro, panggil Mang Ulis sekarang juga. Suruh dia menemuiku di rumah”, kata Juragan Danu setelah kedua pembantunya selesai mengikat Darmawan. Lalu kepada Mang Ikin, “dan kau Ikin, kunci pondok ini supaya dia tidak kabur”.
       Mang Juhro bergegas pergi. Juragan Danu langsung pergi ke rumahnya. Sedangkan Mang Ikin menutup pintu pondok dan menguncinya, karena kebetulan kunci itu tergantung pada gemboknya.

--0--
       Pak Abdurrakhman membuka pintu mobilnya, dan duduk di belakang stir. Dia heran melihat Pertiwi duduk bersila sambil memejamkan mata, dengan kedua telapak tangannya dirangkapkan di depan dada. Tangan Pak Abdurrakhman yang hendak menstarter dilepaskan lagi.
       “Wiwi, Wiwi”, panggil Pak Abdurrakhman dengan suara tidak terlalu keras.
       Pertiwi membuka matanya. Pak Abdurrakhman menatap gadis itu beberapa lamanya.
       “Ada apa?”, tanyanya.
       “Entah Bapak”, sahut Pertiwi, “mula-mula ada sesuatu yang membuat hati Wiwi berdesir dan berdebar-debar. Wiwi memandang kegelapan malam, rasanya begitu gersang. Tiba-tiba saja nafas Wiwi sesak. Wiwi mencoba mengosongkan pikiran, tetapi sulit sekali. Bayangan Wawan terus mengganggu pikiran. Tak lama setelah debar hati mereda, Wiwi mendengar suara Bapak. Wiwi hanya berharap, mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa dengan Wawan”.
       Pak Abdurrakhman tidak langsung menanggapi dengan bujukan menenangkan. Gadis ini bukan anak penakut dan cengeng. Kepercayaan dirinya sangat kuat. Dia tidak langsung menyatakan Darmawan terus membayangi pikirannya. Sebaliknya dia berusaha menghilangkan bayangan itu. Justru karena itu, hatinya sendiri jadi mengkhawatirkan pemuda itu. Nampaknya hubungan batin kedua anak muda itu sangat kuat. Kata-kata gadis itu menunjukkan, dia bukan anak yang bisa dibujuk dengan basa-basi. Karena itu Pak Abdurrakhman hanya mengemukakan berdasar nalar.
       “Sayang Bapak tidak mengerti bahasa isyarat”, katanya, “karena itu memang kita hanya dapat berharap, mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa dengan dia”.
       Pertiwi mengangguk. Pak Abdurrakhman menstarter mobilnya. Sejenak kemudian mobil itu telah keluar dari halaman Kodam, meneruskan perjalanannya yang masih sangat jauh, menembus kegelapan malam larut. Pak Abdurrakhman mengalihkan persoalan dengan menceritakan hasil kunjungannya.
       “Satuan tugas ke daerahmu sudah disebar sejak pagi tadi”, ujarnya, “kelompok pertama tiba lewat tengah hari sebagai rakyat biasa. Laporan terakhir menyatakan, semua kampung telah terisi. Malah ada yang sudah menghubungi tokoh setempat. Tepat seperti laporanmu, tokoh itu telah mendapat informasi dari seorang anak muda tentang kemungkinan yang bakal terjadi”.
       “Apa Satgas itu melaporkan hal-hal lain yang terjadi di daerah pengawasannya?”, tanya Pertiwi.
       “Tentu saja, terutama kegiatan kerumunan seperti rapat, tempat judi, tempat pertunjukan. Karena di tempat-tempat begitulah biasanya mereka berkumpul. Tiap kejadian penting akan dilaporkan ke pos-pos penghubung, sehingga bila terjadi hal yang memerlukan bantuan, pos itu akan menyampaikan kepada satuan-satuan yang dekat dengan tempat kejadian. Kenapa kau tanyakan itu?”.
       “Bukankah itu berarti, kita dapat menanyakan perkembangan keadaan ke pos-pos tersebut?”.
       Pak Abdurrakhman tersenyum mendengar cara diplomatis gadis itu dalam mencari informasi. Maka katanya: “Tentu saja. Bahkan Bapak sendri telah diberi alat penghubung itu, sehingga pada jarak tertentu dapat menghubungi mereka. Lihat ini”.
       Pak Abdurrakhman merogohkan tangannya ke balik jaketnya. Ketika keluar lagi, tangannya telah menggenggam walky-talky. Lalu dia menambahkan: “Bila memasuki perbatasan Kecamatan nanti, Bapak akan menghubungi pos untuk menanyakan situasinya”.
       “Pukul berapa kita akan sampai di sana?”.
       “Kalau langsung, pukul lima pagi juga sudah sampai. Tetapi Bapak perlu mengetahui perkembangan di daerah-daerah lain dulu, sehingga mungkin baru masuk sekitar pukul 7 pagi. Apa kau tidak keberatan?”.
       Pertiwi menggeleng. “Memang lebih baik agak siang, sehingga Ayah sudah pergi ke kantor”.
       “Kalau begitu sebaiknya sekarang kau tidur dulu, supaya besok tidak mengantuk”.
       Pertiwi mengangguk, dan mereka tidak bicara lagi. Sementara mobil terus meluncur di kegelapan.
       Sekitar pukul setengah delapan mobil mereka telah memasuki batas kota. Pertiwi yang mengenal betul situasi kotanya, melihat sesuatu yang tidak biasa. Hal itu dikatakan kepada Pak Abdurrakhman.
       “Nampaknya ada sesuatu yang tidak biasa terjadi di kota Pak”, kata Pertiwi.
       “Kenapa?”, tanya Pak Abdurrakhman.
       “Orang-orang yang berjalan kaki ke kota terlalu banyak dari biasanya”.
       “Hmm, coba Bapak akan hubungi pos di kota”, ujarnya sambil menyalakan walky-talkynya. Lalu: “Halo Kijang di sini minta hubungan dengan Kumbang. Ganti”.
       Sejenak kemudian terdengar jawaban: “Kumbang menunggu. Ganti”.
       “Kijang minta informasi kejadian di kota yang tidak biasa. Ganti”.
       “Informasi belum lengkap. Orang-orang berkumpul di depan kantor Kecamatan untuk mnyaksikan pengadilan rakyat. Ganti”.
       “Informasi sudah cukup. Kijang akan melihat sendiri. Terimakasih, hubungan selesai”. Pak Abdurrakhman mematikan alatnya, dan bertanya kepada Pertiwi: “Apa yang disebut pengadilan rakyat itu Wiwi?”.
       Pertiwi menggeleng. “Baru kali ini Wiwi dengar”.
       “Hmm, artinya ada peristiwa luarbiasa”, gumam Pak Abdurrakhman.
       “Kalau begitu sebaiknya Wiwi jalan belakang. Bapak dapat memparkir mobil di pojok alun-alun”.
       “Ya begitu saja. Kalau ada sesuatu kau dapat menghubungi Bapak di sana. Bapak juga ingin tahu bagaimana tanggapan Juragan Camat atas kepergianmu yang tidak memberitahu itu. Bapak akan mengenakan pakaian petani hitam-hitam supaya tidak menarik perhatian”, kata Pak Abdurrakhman.
      Sesuai rencana, mobil berhenti di pojok alun-alun, dimasukkan ke lapangan kecil di sisi kandang kerbau yang kosong. Pertiwi turun, lalu menerobos kebun sambil menjinjing tasnya. Tiba di pagar samping Kecamatan, dia menyusuri pagar itu ke belakang. Dia masuk melalui pintu pagar ke kebun belakang rumah. Dia muncul di ruang tengah dari dapur. Tetapi kemudian berdiri mematung di ambang pintu, karena ternyata di ruang tengah itu berkumpul kedua orangtua dan adiknya. Begitu melihat kemunculan Pertiwi, mata Juragan Danu menatap tajam penuh kemarahan. Pertiwi menunduk.
       ”Selamat pagi Ayah, Ibu. Wiwi minta maaf karena pergi tanpa minta ijin dulu”, kata Pertiwi.
       “Itu kesalahan pertama”, desis Juragan Danu, “artinya kau menganggap kami bukan orangtuamu”.
       Pertiwi berlari dan berlutut di depan Ayahnya. “Wiwi mohon ma...augh!”.
       Gadis itu tidak dapat menyelesaikan kata-katanya karena tiba-tiba kepalanya terputar oleh tamparan keras Juragan Danu pada pipinya. Pertiwi sujud mencium kaki Ayahnya, dan minta maaf atas ksalahannya. Tetapi tubuh gadis itu terlonjak lalu terjajar ke belakang dihantam tendangan Juragan Danu. Dari hidung Pertiwi menetes darah segar, dan pipinya merah sembam.
       Pertiwi bangkit lagi, lalu menghampiri ibunya dan berlutut di kakinya: “Wiwi mohon ampun Ibu”.
       Nyonya Danu sudah menjulurkan tangannya untuk mengusapkpala anaknya. Tetapi sekali lagi kaki Juragan Danu menendangnya dari samping. Tidak terdengar keluhan dari mulut Pertiwi, selain desisan kesakitan. Dia berusaha bangkit  dengan susah payah. Lalu duduk di lantai dengan kepala tunduk.
       “Sekarang aku akan mengatakan kesalahanmu yang kedua”, kata Juragan danu, “tetapi aku mau tanya dulu. Bukankah kau diam-diam telah bercintaan dengan si Darma, kusir laknat itu?”.
       Pertiwi terkejut mendengar pertanyaan itu. Tetapi tiba-tiba dia teringat sikap Purwanti terakhir. Kini dia tahu pasti penyebab perubahan sikap adiknya.
       “Jawab!”, bentak Juragan Danu.
       “Ya Ayah”.
       “Jangan panggil ayah lagi kepadaku”, kata Juragan Danu dengan ketus, “perbutanmu itu kesalahan paling besar. Kau telah merendahkan darah keturunan. Perbuatanmu telah mencemarkan darah biruku. Soal lain masih bisa dimaafkan. Tetapi pencemaran darah biruku tidak bisa ditebus dengan permintaan maaf. Hanya satu jalan keluarnya. Kau putuskan cintamu dengan kusir laknat itu, atau kau bukan anakku lagi. Pilih sekarang!”.
       “Qur’an tidak membedakan darah keturunan Ayah”, sahut Pertiwi.
       “Jangan mengajari aku. Pilih salah satu, dan jawab!”.
       “Dia punya pekerti tinggi Ayah”.
       “Jawab kataku!”.
       “Wiwi sangat mencintainya”, ujar Pertiwi hampir tak terdengar.
       “Artinya kau lebih memilih dia daripada darah keturunan, begitu?”.
       “Ya Ayah”.
       “Jangan sebut ayah lagi kepadaku. Kau telah memutuskan hubungan darah keturunan dariku. Kau bukan anakku lagi mengerti?!”.
       “Tetapi Ayah...”.
       “Aku sudah bukan ayahmu lagi, tahu?!.
       Pertiwi tertunduk. Kini dia baru percaya kepada peringatan Darmawan dan Pak Abdurrakhman bahwa, darah keturunan itu bukan soal kecil yang dapat dibeli dengan harta. Tetapi gadis itu tidak menyesal atas pilihan hatinya. Sebab dia lebih meyakini ajaran kitab Rosulnya. Sementara Juragan Danu masih meneruskan kata-katanya.
       “Aku punya satu bukti bahwa darah keturunan di atas segalanya. Akibat dari merendahkan darah keturunan, kau telah membuat kusir laknat yang tak tentu keturunan itu jadi besar kepala, merasa dirinya sejajar dengan ningrat. Kau tahu apa yang dilakukannya tadi malam? Dia telah menginjak-injak martabatku. Dia telah mencoreng mukaku dengan darah kotornya. Dia telah memperkosa anak kesayanganku, tahu?!”.
       Tubuh Pertiwi bergetar. Hatinya terguncang hebat mendengar adiknya telah diperkosa. Artinya, apa yang dia khawatirkan selama ini telah terjadi. Tetapi tentu saja dia tidak percaya samasekali kalau pelakunya Darmawan. Kalau pemuda itu mau melakukan, harusnya sudah sejak lama terjadi, dan bukan pada Purwanti, tetapi kepada dirinya. Kemudian dia dapat membayangkan bagaimana terjadinya dari keterangan ayahnya sendiri.
       “Setelah memperkosa anak kesayanganku, kusir laknat itu masih memperbesar dosanya dengan melawan seorang ningrat”. Juragan Danu meneruskan keterangannya: “Tahukan apa yang memperbesar dosanya itu? Dia telah memukuli Angga dengan kayu bakar yang memergoki perbuatannya dan bermaksud menolong anak kesayanganku, sehingga dia luka parah. Karena dosanya yang bertumpuk itu, tidak ada hukuman yang lebih adil baginya selain pengadilan rakyat. Itulah yang akan terjadi sebentar lagi di depan kantor Kecamatan ini”.
       “Wiwi ingin tanya. Di mana terjadinya pemerkosaan itu?”.
       “Hmm, sudah terlambat jika kau menyesalinya juga. Kau telah mengambil pilihan sendiri, dan aku telah memutuskan”, gumam Juragan Danu dalam nada rendah. Lalu sambungnya: “Tetapi agar kau tahu betapa laknatnya kecintaanmu. Dia memperkosa anakku di ranggon kebun belakang tempat istirahatku. Bukankah itu juga penghinaan terhadapku?”.
       “Satu lagi pertanyaan Wiwi. Pukul berapa kejadiannya?”.
       Juragan Danu mendelik. Tetapi Pertiwi tidak melihatnya karena dia menunduk.
       “Hmm, jadi kau bermaksud membelanya? Boleh, boleh. Perkosaan itu dilakukan setelah aku tidur. Kalau aku masih bangun, mana mungkin si laknat itu berani”.
       “Seharusnya Ayah melihat kel....”.
       “Aku bukan ayahmu lagi, kau dengar? Berapa kali aku harus memberitahukannya?”, tukas Juragan Danu sebelum Pertiwi menyelesaikan kata-katanya.
       Pertiwi semakin menunduk mendapat kenyataan ayahnya benar-benar sudah memutuskan hubungan darah dengan dirinya. Karena itu dengan suara pilu Pertiwi merubah sebutan terhadap ayahnya.
       “Baiklah Juragan”, kata Pertiwi dalam nada tangis, “menurut pendapat saya yang hina, dalam kasus ini ada kelemahannya. Bagaimana mungkin Den Angga yang rumahnya jauh dari sini dapat berada di kebun belakang Juragan pada malam larut? Bagaimana mungkin Mang Darma yang tengah melakukan perkosaan dapat memegang kayu pemukul sementara Den Angga yang hendak menolongnya tidak memegang apa-apa? Saya berharap, Juragan melakukan penelitian lebih seksama, sehingga sebagai pimpinan daerah, Juragan dapat menghukumi rakyat yang dipimpinnya dengan hukum yang adil”.
       “Gadis ingusan! Berani benar kau mengajariku!”, bentak Juragan Danu. “He gadis! Dengar! Mustahil anak kesayanganku dan Angga yang berdarah biru akan berbohong. Karena itu pendapatmu tidak punya arti samasekali. Keputusan hukuman terhadap kekasihmu tidak akan dirobah lagi. Dan sekarang”, ujarnya pula dengan nada meninggi, “aku harap kau angkat kaki dari rumah ini. Aku haramkan kau menginjakkan kaki kaki lagi di rumah ini”.
       Tidak ada lagi harapan Pertiwi untuk mengubah pendirian ayahnya. Dengan merangkak dia menghampiri Juragan Danu, bersujud dengan mencium kakinya. Tetapi Juragan Danu mengibaskannya, sehingga Pertiwi terguling. Pertiwi bangkit lagi dan merangkak menghampiri ibunya. Kembali dia bersujud. Tetapi Juragan Danu mendorongnya sampai tubuh Pertiwi terguling lagi.
       Pertiwi bangun dengan susah-payah, dan berdiri dengan kaki genetar. Sejenak matanya memandang ibunya dengan tatapan redup. Kemudian berpaling kepada ayahnya.
       “Wiwi mohon pamit”, ujarnya tanpa berani menyebut panggilan orangtuanya. Dengan terhuyung-huyung gais itu membalikkan tubuhnya, berlalu dengan kepala tunduk, meninggalkan rumah yang telah membesarkan dirinya selama 18 tahun, tanpa membawa apapun selain baju yang melekat di tubuhnya..
       Pak Abdurrakhman yang berdiri disudut halaman kantor Kecamatan dan tengah memperhatikan deretan orang-orang di depan kantor dengan mengenakan pakaian petani, berpaling ketika matanya menangkap gerakan orang jauh di arah sampingnya. Dia terkejut ketika mengenali orang yang datang itu, yang tidak lain dari Pertiwi. Gadis itu melangkah dengan menundukkan kepala. Pakaiannya kusut masai dan di bagian bahu dan dadanya tampak bercak-bercak darah. Di wajahnya yang sembam juga berlepotan darah.
       Melihat keadaan gadis itu Pak Abdurrakhman terpaku mematung. Dia mencoba membayangkan apa yang terjadi di dalam rumah Juragan Danu. Dalam pada itu Pertiwi telah sampai di hadapan Pak Abdurrakhman. Tetapi gadis itu tidak berhenti. Dia terus melewatinya menuju jalan besar dengan kepala tunduk.
       “Wiwi!”, panggil Pak Abdurrakhman.
       Pertiwi terus juga melangkah seperti tidak mendengar panggilan itu. Dua kali Pak Abdurrakhman memanggil nama gadis itu, tetapi Pertiwi tidak berpaling samasekali. Pak Abdurrakhman mengejarnya dan menangkap tangan si gadis, lalu dibawa ke sudut halaman dekat kandang kerbau.
       “Wiwi!”, panggil Pak Abdurrakhman lagi sambil mengguncang bahu Pertiwi.
       Pertiwi tersentak dan menengadahkan kepalanya. Sepasang matanya berkaca-kaca. Tiba-tiba saja dia menutup wajahnya dengan sepasang tangannya dan menjatuhkan diri duduk di atas tanah. Dari tenggorokannya terdengar isakan pilu. Pak Abdurrakhman berjongkok di sampingnya, tetapi dia tidak mengganggu gadis itu melepaskan perasaan yang menyesaki dadanya. Baru setelah isaknya mereda, Pak Abdurrakhman memegang kedua bahunya.
       “Wiwi”, kata Pak Abdurrakhman dengan suara perlahan, “coba pandang Bapak”.
       Pertiwi memandang Pak Abdurrakhman yang mengenakan baju petani dan memakai cetok.
       “Kau kenal Bapak tidak?”, tanyanya.
       Pertiwi mengangguk. “Pak Abdurrakhman”, sahutnya.
       “Kau percaya kepada Bapak atau tidak?”.
       Pertiwi mengangguk lagi.
       “Kalau begitu ceritakan kepada Bapak, apa yang terjadi padamu?”.
       “Ayah”, sahutnya pilu, “Ayah mengusir saya”.
       “Ternyata dugaan Bapak benar”, kata Pak Abdurrakhman. Lalu, “kau tahu, kenapa Bapak menduga hal ini akan terjadi? Nak, apa yang terjadi padamu hari ini, telah terjadi pada Bapak beberapa puluh tahun yang lalu”.
       “Bapak juga...?”, tanya Pertiwi dalam nada heran.
       “Ya Nak. Nasibmu sama dengan nasib Bapak. Kau boleh tanyakan pada Ibu di Jakarta nanti. Karena itu tabahkan hatimu. Kau tidak sendiri”.
       “Tetapi Wawan Pak”.
       “Kenapa dengan Wawan?”, tanya Pak Abdurrakhman.
       “Wanti dan Angga memfitnahnya. Dialah yang akan menjalani pengadilan rakyat sebentar lagi”.
       “Apa? Wawan akan dihukum?”. Pak Abdurrakhman nampak terkejut lagi. Tetapi segera dia dapat mengatasi perasaannya. Untung Pertiwi tidak melihat perubahan wajahnya, karena gadis itu tengah menunduk. Kini dia tahu, apa yang disebut pengadilan rakyat itu. Namun meski hatinya bergetar hebat, untuk menenangkan perasaan gadis itu, dia berusaha sekuatnya menahan perasaannya.
       “Sekarang bersihkan dulu wajahmu. Bapak kira sebentar lagi pengadilan akan dimulai. Nanti kita akan memikirkan bagaimana cara menolongnya”.

--0--

       Sesungguhnyalah saat itu tubuh Darmawan yang terikat dengan wajah babak belur dan berlepotan darah, didorong dari dalam kantor ke luar pintu oleh salah seorang pegawai kecamatan. Dibelakangnya diikuti Juragan Danu, Purwanti, dan Raden Angga yang kepalanya penuh balutan. Darmawan berdiri dengan kepala tunduk di ujung dua deretan manusia yang berjajar dari depan pintu kantor hingga ke pinggir jalan raya. Deretan manusia itu berlapis-lapis memenuhi halaman pendopo.
       Di tengah kerumunan terdapat Mang Sarju dan kawan-kawannya para tokoh kader Pemuda Rakyat, berbaur dengan para penonton. Dari kejauhan, di pojok halaman, Pak Abdurrakhman memperhatikan Darmawan dengan hati bergetar. Di sampingnya Pertiwi mengenakan cetok agar tidak menarik perhatian. 
       “Para hadirin rakyat kecamatan tercinta. Tadi malam keluargaku terkena musibah”, tiba-tiba terdengar suara Juragan Camat lantang, sehingga suara ribut hadirin menyirap. “Putriku yang hadir di sini, dengan kekerasan telah dinodai kegadisannya oleh orang yang berada dihadapan hadirin ini”.
       Para penonton ribut, tetapi segera reda ketika Juragan Danu melanjutkan sesorahnya.
       “Pemerkosa ini adalah kusir delman keluargaku. Perbuatannya tertangkap basah oleh anak muda di sisiku ini, yang masih keluarga kami sendiri meski agak jauh. Dia berusaha menolong puteriku. Tetapi si pemerkosa telah menyerangnya sehingga terjadi perkelahian, yang mengakibatkan penolong puteriku ini menderita luka-luka parah sebagaimana para hadirin lihat keadaannya”.
       Kembali para hadirin ribut menanggapi keterangan itu, kebanyakannya menyumpahi si tertuduh. Juragan Camat menunggu sampai suara ribut menurun. Baru dia meneruskan lagi.
       “Masih ada satu lagi perbuatan yang menghina martabatku. Secara diam-diam dia telah merayu anak gadis sulungku, sehingga terbius oleh kusir laknat itu menjadi kekasihnya...”.
       “Hebaat!”.
       “Bukan main!”.
       Sebelum Juragan Camat selesai bicara, para hadirin ribut berteriak-teriak. Namun Mang Sarju memiliki tanggapan lain.
       “Setan! Dialah orang misterius berbahaya itu”, desisnya, “pantas susah dicari dan selalu mengetahui setiap berurusan dengan gadis itu”.
       “Benar. Tentu dia guru silat gadis itu”, sahut Bung Adam.
       “Dia tidak boleh dibiarkan hidup. Cepat hubungi Bung Manaf supaya menyiapkan mobil. Begitu dia tiba di jalan, langsung bawa kabur ke tempat sunyi dan bunuh”, bisik Mang Sarju kepada Bung Yeye.
       Tanpa disuruh dua kali, Bung Yeye menyelinap keluar dari kerumunan. Sementara kepada kawan-kawan lainnya Mang Sarju menyuruh menyebar.
       “Dukung keputusan hukuman Camat untuk mempengaruhi penonton”, katanya, “kalau penonton ragu-ragu melaksanakannya, kalian harus memulai dan mendorong mereka, mengerti?”.
       Semua kawannya mengangguk dan menyebar menyusup di antara kerumunan. Dalam pada itu Juragan Camat meneruskan lagi pembicaraannya.
       “Kejadian malam tadi adalah perkembangan dari perbuatan puteri sulungku yang merendahkan martabat dirinya dan memberi hati kepada kusir laknat itu, sehingga jadi besar kepala. Dia menganggap keluargaku bisa dipermainkan dengan semena-mena. Bukankah sudah semestinya puteri sulungku mendapat hukuman yang setimpal dengan kesalahannya?”.
       “Betul! Harus!”.
       “Apa hukumannya?!”, teriak lantang seseorang.
       “Aku telah mengusir dia! Dia bukan anakku lagi!”, sahut Juragan Camat.
       “Keputusan yang tepat!”.
       “Setuju! Betul sekali!”.
       Suara itu muncul di sana-sini, dan penonton lainnya banyak yang terpengaruh, turut berteriak.
       “Terimakasih. Para hadirin telah menyetujui tindakanku, sebagai tanda bahwa tindakanku adalah benar menurut penilaian umum”.
       “Camat bodoh”, desis Mang Sarju.
       “Sekarang hukuman untuk si pemerkosa. Dosanya bertumpuk. Dia telah menghina dan menginjak-injak martabatku dan keluargaku. Dia telah mencemarkan kehormatan anakku dan aku sebagai pemimpin di sini. Agama juga menyatakan, perbuatan itu dosa yang sangat besar. Karena itu, aku yang telah dirugikan olehnya dengan semena-mena, menuntut salah satu jenis hukuman dari tradisi agama, yaitu hukum picis, dilempari dengan batu. Bukankah tuntutan hukuman itu adil?!”.
       “Sangat Adil!”.
       “Ya, lempari dengan batu sampai mati!”.
       “Sampai mati!”.
       Pertiwi memegang tangan Pak Abdurrakhman dengan erat. “Bapak”, keluhnya dan air matanya menitiki pipinya. Pak Abdurrakhman menggenggam bahu Pertiwi dengan gemetar. Dalam pada itu Juragan Camat masih meneruskan bicaranya.
       “Terimakasih atas persetujuan para hadirin. Walaupun begitu aku masih punya kebijaksanaan. Aku akan memberi kesempatan kepada si pendosa. Dia diberi kesempatan untuk menempuh jarak dari sini ke pinggir jalan besar dengan berjalan kaki dalam hujan batu. Jika sampai di pinggir jalan masih mampu bertahan, maka dia telah terbebas dari hukuman, dan bebas pergi”.
       “Mudah-mudahan Wawan mampu bertahan sampai di jalan Wiwi. Kita berdoa untuk dia”, bisik Pak Abdurrakhman.
       “Ya Bapak”.
       Pak Abdurrakhman mengeluarkan walky-talkynya. Dia memperhitungkan jarak itu akan dapat ditempuh Darmawan dalam waktu lima hingga sepuluh menit. Maka dia membuka hubungan.
       “Halo Kumbang di sini Kijang. Kijang memanggil Kumbang. Ganti”.
       “Kumbang mendengar, Kumbang mendengar. Ganti”.
       “Minta mobil pengankut terhukum di depan Kecamatan. Dia informan kita. Harap diangkut ke pos pertolongan pertama. Ganti”.
       “Angkutan segera dikirim. Tiba dalam seperempat jam. Ganti”.
       “Terimakasih atas bantuannya. Selesai”.
       Dalam pada itu di halaman Kecamatan orang-orang mengumpulkan batu yang memang banyak menebar di sana. Juragan Camat bersesorah lagi.
       “Nah, kepada si terhukum. Aku memberi kesempatan untuk menyampaikan pesan terakhirnya sebelum hukuman dijatuhkan”.
       Darmawan yang sejak tadi tertunduk, tiba-tiba mengangkat kepala. Lalu berkata lantang.
       “Kepada Juragan Camat yang pintu rumahnya bertanda silang, dan kepada siapa saja yang pintu rumahnya bertanda silang. Sejak malam turun nanti harap bersiaga karena akan datang bahaya besar. Itulah pesan terakhir saya Juragan. Harap diperhatikan. Sekarang saya telah siap menjalani hukuman”.
       “Buka ikatannya”, kata Juragan Camat.
       Sejenak kemudian ikatan itu telah terbuka.
       “Hukuman dimulai!”, teriak Juragan Camat.
       Pada mulanya para penonton ragu-ragu. Tetapi kawan-kawan Mang Sarju terus mempengaruhi dengan teriakan sambil melempari Darmawan dengan batu. Akhirnya hujan batu pun menimpa seluruh tubuh Darmawan dari kiri-kanan-depannya. Darmawan terus melangkah melintasi barisan penghukum.
       “Setan orang itu. Dia telah membuka rahasia kita”, rutuk Mang Sarju kepada Bung Adam. Lalu, “penyelesaian Camat harus dimajukan dari waktu yang ditetapkan”.
       Di sudut halaman Pak Abdurrakhman memegang bahu Pertiwi dan berbisik: “Kau harus bangga kepada pacarmu. Dalam ancaman maut, hatinya masih bersih dari dendam terhadap Juragan Camat. Bahkan masih memikirkan keselamatan hakim penghukumnya dan orang-orang lainnya”.
       Pertiwi mengangguk. Sejenak dia memperhatikan langkah-langkah Darmawan yang mulai sendat. Cairan merah sudah membasahi kepala, wajah, tubuh, dan pakaiannya.
       “Wiwi akan mendekat Bapak”, kata Pertiwi.
       “Mari”, ajak Pak Abdurrakhman menyetujui, dan mereka berjalan memasuki halaman.
       Ketika mencapai setengah jarak ke jalan besar, tubuh Darmawan mulai limbung. Tetapi dia terus memaksakan diri. Ketika tubuhnya jatuh, Pertiwi menerobos kerumunan. Dia melihat Darmawan merangkak dengan susah payah. Pertiwi meloncat ke tengah hujan batu, menarik bangkit tubuh anak muda itu, melingkarkan sebelah tangannya ke bahunya dan dipapah menuju jalan. Untunglah Pertiwi mengenakan cetok, sehingga wajah dan kepalanya tidak banyak terhantam batu meski ada satu dua yang mengenainya. Tetapi tubuhnya menjadi sasaran yang tidak bisa dielakkan. Dalam waktu sebentar saja, hampir seluruh bajunya telah memerah.
       Ketika kakinya sudah tidak dapat menahan berat tubuhnya yang dibebani tubuh Darmawan, hujan batu pun mereda, dan kedua tubuh mereka jatuh terguling di pinggir jalan besar. Pak Abdurrakhman berjongkok melepaskan tangan Darmawan yang melingkari leher Pertiwi, sehingga gadis itu dapat duduk. Mereka menunggui tubuh Darmawan yang terbaring lemah berlumuran darah.
       Sebuah pick-up terbuka berhenti. Dua orang berpakaian tentara yang duduk di bak belakang melompat turun. Mereka mengangkat tubuh Darmawan dan dibaringkan di bak pick-up. Sejenak kemudian pick-up itupun berlalu. Pak Abdurrakhman membimbing Pertiwi agar berdiri. Mereka baru selangkah hendak menuju ke mobilnya yang diparkir di sudut alun-alun, ketika sebuah Jeep terbuka berhenti di samping mereka. Prajurit yang duduk di samping supir dan di belakang meloncat turun.
       “Mana yang harus kami bawa ke pos Pak?”, tanya salah seorang di antara mereka.
       “He, kalian dari Pos?”, tanya Pak Abdurrakhman dengan kaget, “cepat kejar pick-up itu, dia dibawa oleh penculik. Tangkap mereka”.
       “Siap Pak”, sahutnya sambil berloncatan ke Jeepnya lagi. dan supirnya langsung menekan gas.
       “Kita kecolongan Wiwi”, ujar Pak Abdurrakhman sambil menarik tangan Pertiwi. Mereka berlari ke mobilnya yang berada tidak jauh di sudut alun-alun.
       Tidak lebih dari dua menit, Pak Abdurrakhman dan Pertiwi telah meluncur dalam Impalanya mengejar kedua mobil yang sudah pergi lebih dulu. Mereka masih sempat melihat Jeep yang mengejar Pick-up itu membelok ke jalan di pinggir sungai. Jeep yang mengejar Pick-up itu sudah jauh dan hampir dapat mengejar buruannya.
       Sebuah ledakan senjata sayup-sayup membuat pick-up berhenti, dan dua orang di bak belakang mengangkat tangan. Prajurit yang duduk di samping supir Jeep meloncat turun sambil menodongkan pistol pada supir Pick-up itu. Pak Abdurrakhman menghentikan mobilnya di belakang Jeep.Dia melihat prajurit itu menampari para penculik beberapa kali.
       “Ampun Pak, ampuuun!”, teriak mereka.
       “Jahanam, di mana dia?”, tanya prajurit itu.
       “Sumpah Pak, tadi dia meloncat ke sungai”, sahut salah seorang yang duduk di belakang Pick-up.
       Prajurit itu menghantam kepalanya dengan gagang pistol, sehingga orang itu memekik.
       “Demi Tuhan, Pak. Dia tiba-tiba berdiri lalu melocat ke sungai”, kata kawannya.
       “Demi Tuhan apa? Bukankah kamu tidak percaya kepada Tuhan?”, bentak si prajurit.
       “Ampuuun Pak”.
       Pak Abdurrakhman dan Pertiwi turun dari mobil. Mereka menghampiri para penculik. Mata Pak Abdurrakhman menatap salah seorang dari mereka dengan pandangan mengancam, sehingga orang itu menunduk. Tetapi Pak Abdurrakhman menekan rahangnya ditengadahkan kembali.
       “Katakan, kau apakan dia?”, tanyanya dengan suara halus.
       Tiba-tiba saja orang itu menjatuhkan diri berlutut.
       “Sumpah Pak. Ampuuun. Dia tiba-tiba berdiri dan terjun ke sungai”, katanya sambil menangis.
       “Hmm, ikat mereka dan bawa ke Pos. Kami akan mencoba mencarinya dulu. Sekalian bawa mobil mereka”, kata Pak Abdurrakhman.
      “Siap Pak. Laksanakan”.
       Ketiga orang penculik itu diikat disatukan, lalu dimasukkan ke dalam Jeep, diawasi seorang prajurit. Prajurit yang seorang lagi mengemudikan Pick-up.
       “Bapak kira mereka tidak berbohong”, ujar Pak Abdurrakhman kepada Pertiwi. Lalu, “sebagai orang yang biasa berlatih, Wawan punya ketahanan tubuh yang lebih dari orang kebanyakan. Mari kita coba mencarinya”.
       Mereka naik lagi ke dalam mobil. Pak Abdurrakhman membalikkan mobilnya dan menjalankan dengan perlahan-lahan. Berkali-kali dia turun memeriksa pinggiran sungai yang terhalang semak-semak. Sampai tiga kali mereka bolak-balik. Namun hingga senja tiba, jejak Darmawan tidak ditemukan.
       Akhirnya dengan lesu mereka menghentikan usaha pencarian itu. Ketika mereka meninggalkan sungai, langit di ufuk barat tampak memerah, seolah memberi tanda, pada malam itu tanah akan bersimbah darah.

--0

Bersambung ke dimensi 2

WAJAH-WAJAH

Tidak ada komentar:

Posting Komentar