Sabtu, 28 Mei 2011

Novel 4 Dimensi - Dimensi 1 - PRAQHARA NUSANTARA 07

Tujuh
Nasakom Bersaing
    BELUM Nden. Nden Wanti belum memberikan rencananya. Tetapi seperti kemarin, hari ini pun saya diberi uang”, sahut Darmawan.
       “Hmm kalau begitu dugaanku semakin kuat. Rupanya dia sedang mengambil hatimu agar kau memihak kepadanya”, ujar Petiwi.
       “Benar Nden. Tetapi yang lebih penting harus kita sadari, dibalik kekanak-kanakannya ternyata dalam hal-hal khusus dia telah bertindak seperti orang dewasa”.
       Percakapan itu terjadi malam hari di pondok Darmawan. Pada saat-saat demikian mereka duduk bersisian dengan menyatukan dua kursi, sementara Pertiwi menyandarkan kepalanya ke bahu Darmawan, dan Darmawan mengelus-elus rambutnya yang panjang hitam dan tebal.
       “Itulah yang kukhawatirkan. Karena dengan demikian, tanpa segan-segan dia akan berani berbohong, bukan hanya kepadaku, tetapi juga kepada orangtua. Kulihat juga, sekarang dia sudah pandai bersolek”, kata Pertiwi, “rasanya aku sudah kehilangan harapan untuk memperbaiki dirinya. Mungkin akulah penyebabnya. Sebab terjadinya perubahan itu sejak peristiwa di kebun belakang tempo hari”.
       “Jangan menyalahkan diri sendiri. Kalau tempo hari Nden tidak menghalanginya, tentu sekarang keadaannya sudah lebih parah”.
       “Hmm”, gumam Pertiwi. Tetapi tiba-tiba dia tersenyum sendiri, dan Darmawan melihatnya.
       “Kenapa Nden tersenyum?”.
       “Aku mengata-ngatai adikku. Padahal aku sendiri sudah demikian lama berbohong kepada orangtua”.
       Darmawan pun jadi turut tersenyum. “Dalam soal kita, kedudukan sayalah yang salah. Andaikata martabat saya seperti Den Angga, tentu Nden tidak perlu sembunyi-sembunyi”. 
       “Itu menunjukkan bukan kau yang salah, tetapi feodalisme kaum menak. Karena itulah aku merasa tidak bersalah walaupun telah berbohong kepada orangtua. Aku yakin, dalam hal ini pandangan hidup orangtuaku yang salah. Bukti yang tidak terbantah adalah kelakuan si Angga yang ningrat jauh lebih rusak daripadamu”.
       “Kok Nden membandingkannya dengan saya”.
       “Karena aku tidak bisa membandingkan dengan orang yang disebut Bung Yeye, Bung Adam, Mang Sarju, yang menurut pandangan orangtuaku tentu sama derajatnya denganmu tetapi rusaknya sama dengan si Angga”.
       “Apa Nden sudah memperoleh kepastian pandangan Juragan tentang darah keturunan itu?”.
       “Secara tidak langsung”, sahut Pertiwi, “menjelang magrib tadi Ayah bicara tentang darah biru si Angga dan dugaan seringnya datang ke rmah. Ayah berpendapat si Angga pemuda yang baik, dan kini sudah diserahi tanggung jawab menangani usaha orangtuanya. Kepergiannya sebulan tempo hari yang dikatakan ke Bandung merupakan bukti kepercayaan orangtuanya. Ayah meminta pula agar aku jangan terlalu sibuk dalam kegiatan luar sekolah”.
       “Itu artinya Juragan mengharapkan Nden menerima kehadiran Den Angga”.
       “Ya, dan kulihat si Wanti memberengut. Tentu dia juga mengerti maksud Ayah. Karena itu aku menduga dia akan secepatnya melaksanakan rencananya agar tidak didahului olehku”.
       Darmawan tidak berkata apa-apa lagi. Untuk beberapa lamanya keadaan hening. Namun tiba-tiba Darmawan berbisik.
       “Nden, ada orang datang”.
       Pertiwi langsung bangkit dan mengangkat kursi yang didudukinya ke tempat semula. Sebenarnya dia belum mendengar langkah-langkah mendatang. Tapi dia percaya pada pendengaran Darmawan.
       “Mang Darma tidak usah menjemputku siang-siang. Aku akan langsung belajar bersama dan terus latihan volley”, kata Pertiwi mengalihkan percakapan dengan suara dikeraskan.
       “Jadi pukul berapa Emang harus menjemput Nden?”.
       “Pukul lima sore saja di lapangan volley”.
       “Baik Nden”.
       “Jangan lupa”, ujar Pertiwi sambil berjalan ke pintu.
       “Ya Nden”. 
       Pertiwi meninggalkan pondok Darmawan tanpa menengok lagi, langsung ke arah dapur. Tetapi sudut matanya dapat menangkap gerakan ke samping pondok, Purwanti. Gadis itu tetap diam di samping pondok sampai Pertiwi masuk dapur, baru dia menghampiri pintu pondok yang terbuka. Dia melihat Mang Darma sedang meneguk air dalam gelas. Mang Darma berpaling ketika melihat Purwanti masuk.
       “O Nden Wanti, silahkan duduk”, ujarnya dalam nada agak gugup.
       “Kulihat Kak Wiwi dari sini”, kata Purwanti sementara dia masuk.
       “Betul Nden”.
       “Mau apa dia kemari?”.
       “Biasa Nden, memberi pesan agar Emang menjemputnya sore karena katanya pulang sekolah akan langsung belajar bersama dan latihan volley”, sahut Mang Darma.
       “Hmm, lain kali Mang Darma harus melaporkan kepadaku kalau dia berpesan kepadamu”.
       “Tentu Nden. Emang juga tahu, Nden sangat baik kepada Emang. Tadi juga Emang mau melapor”.
       Purwanti tersenyum. “Memang aku juga mendengar pesannya tadi. Aku hanya ingin tahu, apa Mang Darma berkata jujur kepadaku atau tidak”.
       “Kalau begitu Nden tentu tahu, Emang berkata sebenarnya”.
       “Hmm”, Purwanti menggumam sambil menganggukkan kepala, sementara tangannya merogoh ke balik bajunya. Ketika keluar lagi di tangannya telah tergenggam sampul surat, dan ditaruh di atas meja bersama selembar uang lima ratusan.
       “Apa Mang Darma masih ingat rumah Kak Angga?”, tanya Purwanti.
       “Maksud Nden, Den Angga?”.
       “Heeh”.
       “Masih Nden”.
       “Bagus. Surat ini untuk dia. Mang Darma harus menyampaikan besok. Tetapi ingat, harus diterima oleh dia sendiri. Jangan dititipkan kepada orang lain, mengerti?”.
       “Mengerti Nden”.
       “Dan Mang Darma harus menunggu jawabannya”, kata Purwanti.
       “Baik Nden, Emang mengerti”.
       Purwanti bangkit lagi dari duduknya. Sambil berlalu dia masih memberi harapan: “Jika surat ini langsung diterima Kak Angga, mungkin Mang Darma akan dapat uang juga darinya”.
       Mang Darma berdiri di depan pintu memperhatikan kepergian gadis itu. Sebenarnya dia tidak tertarik samasekali pada uang pemberian itu. Tetapi dia tidak dapat menolaknya, karena justru akan membuat persoalan jadi runyam mengingat kedudukannya sebagai orang rendahan di mata ningrat. Dia hanya dapat menghela nafas berat. Menurut kewajarannya, dia merasa telah mengkhianati kepercayaan. Tetapi pengkhianatan itu dilakukan justru demi kebaikan si gadis sendiri, untuk menyelamatkan masa depannya dari cengkeraman tangan-tangan yang tidak punya moral.
       “Apa boleh buat. Aku hanya berniat baik”, desahnya sambil menutup pintu pondoknya. 
       Malam terus merayap sejalan dengan waktu yang melarut dan sunyi, tanpa menghiraukan segala persoalan yang bergejolak dalam dada dan pikiran makhluk yang menjalaninya. Gejolak itu tidak hanya terjadi pada tiga anak muda yang bertemu di pondok kusir Juragan Camat, namun juga diucapkan dalam pertemuan tersembunyi di rumah Mang Sarju yang dihadiri enam orang, termasuk Mang Sarju sendiri dan Bung Lili.
       Kamar tempat pertemuan yang tidak besar itu demikian suram oleh asap rokok yang memenuhi ruangan. Namun bagi keenam orang yang mengisinya bukan gangguan samasekali, karena pikiran mereka terpusat pada masalah penting yang dibicarakan. Bahkan kepulan asap rokok dari mulut dan hidung mereka merupakan pendukung tidak kecil dalam merencanakan gagasan pertemuan tersebut.
       “Kita sudah tidak mungkin lagi mengharapkan perbaikan nasib rakyat kecil kepada angkatan bersenjata. Kekuatan itu kini sudah dikuasai antek-antek nekolim. Karena itu mulai besok kita harus mempersiapkan gerakan besar-besaran mendukung usulan buruh tani dipersenjatai sebagai angkatan kelima. Dalam ultah Proklamasi Kemerdekaan nanti kita harus memperlihatkan kepada seluruh rakyat bahwa angkatan kelima benar-benar diingini kehadirannya oleh rakyat kecil”, kata Mang Sarju.
       “Kalau begitu kita harus mengerahkan semua kader yang telah dilatih tempo hari untuk menghubungi semua ranting orpol dan ormas kita di seluruh kecamatan ini”, ujar Bung Lili.
       “Memang itu maksudku. Kita harus bergerak secepatnya. Pada tahap pertama, setiap ranting mengadakan pawai rutin di daerah masing-masing. Beberapa hari menjelang ultah, kita lakukan pawai-pawai gabungan. Pada hari ultah, semuanya dikerahkan ke kota Kecamatan. Bila di sini sudah berjalan, kita sarankan ke kecamatan-kecamatan lain di Kabupaten ini agar melaksanakan hal yang sama”.
       “Bagus. Kita akan menjadi pelopor lagi di Kabupaten ini”, ujar orang bertampang intelek.
       “Tetapi ingat. Tak seorang pun dari kader memperlihatkan diri sebagai penggerak. Kita semua pemain di belakang layar. Biar massa dan musuh-musuh kita menilai kita sebagai keroco. Bahkan aku cenderung, jangan ada yang terjun langsung. Bung semua tahu, kita adalah kekuatan inti partai yang tidak tergiur penampilan luar, karena level kita tingkat naisonal”.
       Kelima kawan Mang Sarju mengangguk-anggukan kepala. Sebulan penuh mereka telah ditempa, bukan hanya latihan badani, namun dititikberatkan pada yang bersifat jiwani. Kehadiran beberapa tokoh puncak partai dari Ibukota yang datang bergiliran memberi pengarahan selama sebulan telah membentuk mereka jadi kader ideologi yang kesetiaannya dapat diandalkan, bukan hanya dikulit, tapi sudah merasuki aliran darahnya: komunis yang mendarah daging.
       “Apa masih ada yang belum jelas?”, tanya Mang Sarju.
       “Soal itu kukira kita semua sudah mengerti”. Sahut orang berwajah intelek. Lalu: “Tetapi apa tema yang akan kita kobarkan dalam kegiatan nanti? Apa masih tetap nasakom?”.
       “Nasakom adalah sandi pokok. Dengan nasakom kita telah membuat kamuflase. Golongan nasionalis dan agama mengira kepala batu itu oknum-oknum partai terlarang. Tetapi bagi kita adalah keseluruhan yang bertuhan. Aku sudah mendapat info bahwa pusat sudah membuat rencana besar terhadap mereka semua. Yang penting kita tangani sekarang, selain menarik massa sebanyak-banyaknya, juga menghapus racun ketuhanan di benak generasi kecil. Sehingga setelah generasi tuanya lenyap, tidak ada penerusnya lagi. Dengan cara itu kita benar-benar mematikan api dalam sekamnya samasekali, bukan sekedar kobarannya yang tampak saja”.
       “Dengan kata lain, tema kegiatan kita tetap nasakom. Bukan begitu?”, tanya Bung Lili.
       “Ada tambahannya. Hambatan terbesar usulan dibentuknya angkatan kelima datang dari angkatan bersebjata. Hambatan ini pun harus dihapuskan. Sandinya adalah genjer-genjer sebagai singkatan dari genjot jenderal”.
       “Bagus, cocok sekali”, kata kelima kawannya hampir serempak. Lalu orang berwajah intelek yang bernama Samiran menyambungnya: “Dengan mengetahui maksud sebenarnya dari genjer-genjer, aku yakin, lagu itu akan terus mendengung di mana-mana dengan gejolak semangat yang berbeda dari sebelum mengerti maksudnya”.
       “Lalu bagaimana cara menghapus racun ketuhanan pada generasi kecil tadi? Terus terang saja aku belum memahaminya”, kata orang berkumis lebat dan bertubuh kekar bernama Bambang.
       “Kukira tugas itu lebih dibebankan kepada kami para guru dan pendidik. Sebab gurulah yang menghadapi mereka sehari-hari”, sahut Bung Samiran.
       “Benar. Tetapi bukan berarti kita yang tidak berkecimpung di dunia pendidikan harus berlepas tangan. Sebab di luar sekolah pun pembinaan harus tetap berjalan”, kata Mang Sarju.
       “Justru pergaulan luar sekolah lebih banyak waktunya dari di sekolah”, kata Bung Lili.
       “Pendapat Bung Lili benar sekali”, kata orang berwajah tirus bernama Adang turut bicara. “karena itu kalau Bung Sam sudah punya cara pelaksanaannya, sebaiknya dijelaskan kepada kami”.
       “Sebenarnya cara itu amat mudah. Racun ketuhanan didasarkan pada ajaran tuhan yang pengasih-penyayang, mahakuasa memberi apapun kepada manusia. Itu kelamahan utamanya. Kalau benar tuhan itu ada, coba suruh mereka minta yang diinginkannya. Misalnya minta makanan atau buku atau apa saja. Karena mahakuasa dan pengasih, seharusnya permintaan itu langsung dikabulkan. Kenyataannya tidak pernah ada yang diberi langsung, misalnya tiba-tiba muncul dihadapan seperti sim salabim”.
       “Ah benar sekali. Ternyata pikiran Bung Sam sangat hebat”, ujar kawan-kawannya.
       “Hal itu sudah aku lakukan beberapa lama di sekolah. Aku suruh seorang anak minta potlot atau buku kepada tuhan. Kemudian aku beri apa yang dimintanya. Ternyata tuhan mahapengasih itu omong kosong. Sebaliknya, dia mendapat yang dimintanya dari aku bukan dari tuhan”.
       “Bagus! Bagus! Kita akan tanamkan ajaran itu di benak anak-anak”, kata semua kawannya gembira.
       “Baiklah, kukira rencana kita sudah terbahas semua”, kata Mang Sarju dengan nada puas. Lalu, “mulai besok pagi kita akan bergerak secepatnya. Aku percaya, Bung semua dapat mengendalikan kegiatan di wilayah kerja masing-masing dengan dibantu kawan-kawan yang tidak kuundang kesini”.
       Mang Sarju mengangkat gelas kopinya dan meneguk isinya diikuti kawan-kawannya. Mereka tidak menyadari samasekali hadirnya sesosok tubuh kehitaman dibalik onggokan bata merah dekat jendela kamar tempat perundingan. Setelah Mang Sarju mengakhiri rapat itu, sosok tersebut mengendap-endap meninggalkan tempat mengupingnya tanpa menimbulkan suara. Meloncati pagar halaman, dan lenyap dalam kegelapan.
       Tak lama kemudian pintu depan rumah Mang Sarju terbuka. Pertama keluar dua orang. Beberapa menit kemudian dua orang lagi. Terakhir Bung Lili ditemani Mang Sarju sampai ke pintu halaman.
       “Kita manfaatkan kehidupan yang semakin mencekik rakyat kecil sekarang. Dengan menekankan samarata-samarasa di setiap kegiatan, rakyat akan jadi pendukung partai kita, paling tidak simpatisan”.
       “Baik. Aku akan segera merundingkan dengan kawan-kawan di kota kecamatan ini. Aku cenderung mengambil pos baru di tengah kota tetapi tersembunyi sebagai pusat kendali kegiatan”, kata Bung Lili.
       “Apa maksud Bung pos untuk itu tempat Bung Angga?”, tanya Mang Sarju.
       “Benar”.
       “Bagus. Aku juga setuju sekali. Kita akan menjadikan tempat itu bukan sekedar pusat kendali kegiatan wilayah kota, tetapi untuk seluruh wilayah Kabupaten ini. Tolong sampaikan ke Bung Angga”.
       “Baik. Kukira Bung Angga juga akan gembira mendengarnya”, sahut Bung Lili dan berlalu.
       Mang Sarju memperhatikan kepergian kawannya sampai lenyap ditelan kegelapan malam, baru dia masuk kembali ke rumahnya. Malam merayap semakin larut. Tidak terlalu lama kemudian, bersamaan dengan munculnya fajar di ufuk timur, kokok ayam pun bersahut-sahutan menyambut tibanya hari baru. Ketenangan dan kesunyian berubah pula dilanda gejolak kehidupan manusia yang sibuk.

--0--

       Mang Darma menghentikan delmannya di depan sebuah rumah besar. Sambil menekan topi pandannya, dia masuk ke halaman rumah besar itu. Rumah itu tampak sunyi. Dia mengetuk pintu beberapa kali. Karena tidak ada yang membuka, Mang Darma mengulangi ketukannya. Namun keadaan tetap sunyi. Rupanya penghuninya sedang tidak ada.
       Mang Darma bermaksud kembali ke delmannya. Tetapi ketika sampai di arah samping rumah, telinganya mendengar suara perempuan sedang bercakap-cakap dari arah belakang. Rupanya karena asyik bercakap-cakap, mereka tidak mendengar ketukannya tadi. Karena itu Mang Darma berjalan sepanjang dinding samping rumah menghampiri suara percakapan.
       Tiba di ujung dinding belakang, tampak dua perempuan pembantu rumah. Yang seorang tengah menjemur pakaian, yang seorang lagi tengah menimba air di sumur. Mang Darma menghampiri mereka.
       “Maaf Bibi. Apa Den Angga ada di rumah?”, tegurnya kepada yang sedang menjemur.
       Dia menghentikan pekerjaannya. “Ada, tuh di sana di ranggon bersama kawan-kawannya”, sahutnya sambil menunjuk ke arah kebun belakang, di mana tampak sebuah pondok baru cukup besar. Di tepas pondok tampak beberapa orang pemuda sedang bercakap-cakap.Tetapi karena jaraknya jauh, percakapan mereka tidak terdengar.
       “Apa saya boleh menemuinya?”, tanya Mang Darma.
       “Jangan! Nanti Bibi dimarahi Aden”, sahutnya dengan cepat, “Ujang tunggu saja di depan. Biar Bibi yang menyampaikan pesan Ujang”.
       “Baiklah Bi. Tolong katakan, saya disuruh Nden Purwanti puteri Juragan Camat”.
       “Ya, tunggu saja di teras”, kata perempuan itu.
       Mang Darma mengangguk dan kembali ke depan rumah. Tidak terlalu lama menunggu, pintu depan rumah terbuka. Raden Angga muncul di pintu menghampiri Mang Darma yang duduk di teras.
       “Ada apa Mang?”, tanyanya.
       “Ini Den. Emang disuruh Nden Wanti menyampaikan ini”, sahutnya sambil menyodorkan amplop.
       “Ditunggu?”.
       “Iya Den”. Raden Angga membuka sampul surat yang diterimanya. Beberapa lama dia membaca isinya. Kemudian dia mengangguk-anggukkan kepala.
       “Tunggu sebentar ya Mang”, ujarnya sambil melangkah masuk ke tepas rumah kembali. Tidak lama kemudian, dia telah muncul kembali sambil menjilat sampul surat dan merekatnya.
       “Ini, berikan kepada Nden Wanti”, katanya sambil menyodorkan sampul surat itu, disertai selembar uang ribuan, “dan uang ini untuk Emang”, sambungnya.
       Mang Darma menerima surat dan uang itu sambil membungkukkan badan. “Terimakasih Den. Emang permisi dulu”, katanya.
       “Heeh”.
       Raden Angga memperhatikan Mang Darma sampai naik ke delmannya. Dia baru masuk ke rumah setelah delman mencongklang pergi. Sebagai seorang kusir delman yang hampir setiap hari mengelilingi kota, Mang Darma tahu betul situasi kota itu. Karena itu munculnya hal-hal yang tidak biasa, langsung menjadi perhatiannya.
       Yang tidak biasa itu ialah pemusatan-pemusatan kesibukan warga kota di beberapa tempat. Di satu tempat, anak-anak muda berlatih reog dikerumuni anak-anak. Di tempat lainnya, orang-orang sibuk membuat tanda-tanda gambar partai dari beberapa jenis bahan seperti bambu, kayu, seng, bilik, dan sebagainya. Ada pula yang membuat rumah-rumahan, bambu runcing, topeng, dan sebagainya. Sementara bekerja, mulut mereka rampak menyanyikan berbagai lagu perjuangan seperti Ganefo, Nasakom, Nekolim, dan lagu-lagu bersifat kepartaian.
       Sebelum sampai di sekolah, Darmawan membelokkan delmannya ke lapangan rumput kecil tidak jauh dari lapangan tempat latihan volley. Ketika tiba di lapangan, anak-anak lain telah berkumpul. Ada yang sedang berganti pakaian, latihan pemanasan, dan ada pula yang sedang saling mengirim bola.
       “Wan”, kata Dodi ketika Darmawan telah berada di tengah mereka. “Di tempat belajar bersama tadi kami telah merencanakan pertandingan persahabatan beruntun dengan tim-tim volley kuat di Kabupaten. Kami kira sudah saatnya bagi tim puteri menambah pengalaman bertanding sebagai persiapan porda”.
       “Rencana yang sangat bagus Dod”, sahut Darmawan sambil mengacungkan ibu jarinya.
       “Jadi, kau setuju?”, tanya Maryanti dengan wajah berseri.
       “Setuju sekali. Dan aku yakin, saat ini kemampuan kalian sudah dapat mengimbangi juara tim puteri Kabuaten...”.
       Semua kawan-kawannya bersorak gembira sebelum Darmawan menyelesaikan kata-katanya, shingga dia harus menunggu sampai suasana reda kembali.
       “Jangan terlalu gembira dulu”, kata Darmawan melanjutkan.
       “Kenapa Wan? Apa kau keberatan?”, tanya Herlina.
       “Sudah kukatakan, pada dasarnya aku setuju sekali. Hanya saja...”.
       “Hanya saja apa?”, tanya Sumarna, “apa karena porda itu masih lama, sehingga kita tidak perlu tergesa-gesa? Bukan begitu maksudmu?”.
       “Bukan, bukan itu. Tapi coba pasang telinga kalian. Apa yang kalian dengar? Apa ketika kalian berangkat ke sini tadi tidak melihat suasana yang agak berbeda di kota ini?”.
       Pertanyaan Darmawan langsung mengarahkan kepada situasi, sehingga kawan-kawannya tidak susah menebak apa yang dimaksudkannya. Karena sesungguhnyalah saat itu mereka mendengar reog dan bunyi gendang bertalu-talu dari beberapa arah. Dan sesungguhnya pula, mereka melihat kegiatan anak-anak muda yang meningkat. Tetapi kebanyakan mereka tidak terlalu memikirkannya. Hanya Pertiwi yang mempunyai penilaian lebih serius atas suasana itu. Dan peringatan Darmawan barusan membuat gadis itu mengerutkan keningnya, memikirkan yang tersirat dari ucapan pacarnya. Kegiatan terselubungnya bersama anak muda itu membuat Pertiwi langsung memahami tujuan pembicaraan Darmawan. Sementara itu Nasrul memperjelas pertanyaan Darmawan.
       “Maksudmu suara gendang dan kegiatan orang membuat tanda gambar dan usungan-usungan?”.
      “Ya itulah maksudku”, sahut Darmawan.
       “Itu kan persiapan menghadapi peringatan kemerdekaan. Tiap tahun juga keadaannya selalu begitu, dan kita dapat memperingati kemerdekaan dengan cara kita. Justru menurutku lebih baik jika rencana pertandingan persahabatan kita kaitkan dalam rangka memperingati Hari Proklamasi”, kata Dodi.
       “Benar Wan”, tambah Marni, “aku siap membantu jika tim pria menugaskan untuk minta piala kepada Pak Bupati. Kukira Pak Bupati juga akan sangat gembira jika kita mengemukakan rencana ini Prestasi sekolah kita yang diperlihatkan dalam Porda Provinsi akan memperlancar rencana kita”.
       “Benar”, sahut kawan-kawannya yang lain.
       “Itu semua saran dari Wiwi, Wan”, ujar Nasrul, “kita bukan hanya mengundang tim volley sekolah saja, tetapi juga tim volley luar sekolah. Kita dapat mengajukan rencana ini kepada Bapak Bupati sebagai seleksi tidak remsi, serta memberi tim-tim bibit baru. Bukan begitu Wiwi?”, tanyanya.
       “Wah, sebuah rencana besar yang bagus. Kalau situasinya tepat, kukira Bapak Bupati akan mendukung 100 persen rencana kalian ini. Tetapi kalau diajukan sekarang, aku sangat meragukan”.
       “Bagaimana Wiwi?”, tanya Marni, “kami tahu, dalam soal politik, kau punya pandangan lebih tajam dari kami”.
       “Begini kawan-kawan”, ujar Pertiwi mulai bicara. “Aku memberi saran karena semangat kalian demikian menggebu-gebu. Aku hanya menyarankan rencana yang lebih berguna bagi kepentingan yang lebih besar. Ketika berangkat sekolah tadi, aku tidak melihat perubahan situasi, dan baru kita lihat pada saat berangkat ke sini. Karena itu tadi aku minta kalian merembukkan dengan Wawan. Tetapi setelah mendengar pendapat Wawan barusan, aku ingin memberi saran tambahan. Bagaimana?”.
       “Katakan Wiwi”, seru kawan-kawannya hampir serempak.
       “Sebelumnya aku akan mengemukakan alasannya”, sambung Pertiwi. Lalu: “Melihat gelagatnya dengan mendengar dari berita-berita radio, kegiatan yang ditimbulkan salah satu partai hari ini, akan menimbulkan reaksi dari partai-partai lain. Entah besok atau lusa akan terjadi persaingan yang memanas. Aku tidak tahu, apa persaingan itu akan berlangsung hanya sampai Hari Proklamasi atau akan berlanjut terus, walau menurut perkiraanku justru akan semakin meningkat. Karena itu aku menyarankan, agar rencananya kita tunda mengikuti situasi”.
       “Wah bisa-bisa didahului orang”, kata Susi.
       “Kukira tidak Sus, asal jangan diceritakan kepada luar lingkungan kita”, sahut Pertiwi. “Alasan lainnya, beberapa bulan lagi kita menghadapi ujian. Berarti tim yang sekarang akan pecah, karena sebagian dari kita akan sudah lepas dari sekolah, sehingga kita akan jadi tim luar sekolah. Juga sangat mungkin jadi tidak utuh, karena sebagian kita pasti akan melanjutkan sekolah dikota lain. Dengan demikian, rencana itu akan jadi rencana mereka yang tinggal di sini”.
       “He, benar juga”, kata Maryanti, “soalnya kalau lulus, aku telah merencanakan pindah ke Bandung. Artinya, aku tidak akan bisa ikut”.
       “Ah benar. Kita lupa karena telah terlena oleh rencana besar”, gumam Faisal.
       “Salah, salah”, timbrung Susi cepat-cepat, sehingga semua kawannya berpaling.
       “Salah apa?”, tanya Betty.
       “Salah apa? Sudah jelas si Isal tidak pernah terlena oleh rencana besar, karena satu-satunya yang ada di benaknya adalah Lina manisku”, sahutnya dengan mulut nyengir.
       “Sialan, kukira apa”. Betty mengumpat.
       “Salahmu sendiri Betty. Sudah jelas dia suka memojokkan orang, kau masih melayaninya”, kata Herlina.
       “He, kau tidak percaya Lina? Tanya sendiri pada orangnya”, timpal Susi.
       “Eh apa benar kau ngebet sama Lina, Isal?”. Maryanti cepat-cepat menanggapi permintaan Susi.
       “Sialan kau Yanti”, umpat Herlina.
       Maryanti tertawa, tapi mulutnya masih menjawab: “Aku hanya ingin menolongmu Lina”, ujarnya.
       “Huh, memangnya aku tidak punya mulut sendiri. Kalau mau aku bisa nanya sendiri”.
       “Jadi kau benar-benar menolak cinta dia Lina?”, tanya Susi dengan nada serius.
       “Isal, kenapa kau biarkan ocehan mulut usil ini?”, kata Herlina.
       Faisal hanya tertawa. Sebaliknya, Susi mendesak Herlina.
       “He, aku tidak tanya dia, tetapi kau. Apa benar kau menolak cintanya?”.
       Herlina mendeliki Susi dengan wajah semburat merah. Tetapi mulutnya terbungkam, takut salah omong. Sementara kawan-kawan lainnya pada mengulum senyum. Bahkan mereka ingin tahu, bagaimana gurauan si Susi itu.
       “Kenapa kau tidak menjawab Lina? Bukankah kau bisa menjawab sendiri?”.
       Mata Herlina semakin mendelik, tetapi mulutnya masih tetap membungkam.
       “Baiklah, begini saja”, kata Susi memutuskan, “kalau kau menolak cintanya, kau harus ngomong tidak mau. Kalau tidak ngomong, artinya kau menerima cintanya. Bukankah begitu kata orangtua-tua. Nah, aku akan menghitung sampai tiga. Satu...’.
       Tampak Herlina serba salah, dan ketika Susi menyebut ‘tiga’, Herlina menundukkan kepalanya dengan wajah berubah memutih. Melihat itu Pertiwi merasa perlu menegur Susi.
       “Susi, kalau bergurau jangan keterlaluan”, ujarnya.
       Susi tidak menanggapi teguran Pertiwi. Dengan kalem dia menghampiri Faisal, dan menarik tangan anak muda itu menghampiri Herlina. Begitu tiba di depan si gadis, Susi menarik tangan Herlina, lalu disatukan dengan tangan Faisal. Yang mengherankan, baik Faisal maupun Herlina mandah saja diperlakukan oleh kawannya yang suka usil itu. Juga ketika Susi mengambil tangan lainnya, sehingga akhirnya kedua belah tangan muda-mudi itu sambil berpegangan dalam genggaman tangan Susi.
       “Nah Isal. Kau harus konsekwen dengan ucapanmu. Jangan plintat-plintut. Aku paling tidak suka punya kawan yang berpacaran secara sembunyi-sembunyi. Karena hal itu dapat mengundang perbuatan yang tidak bertanggung jawab. Yang paling merugi tentu saja pihak perempuan. Dan aku tidak mau hal itu terjadi pada kawan dekatku”, ujar Susi dengan wajah serius.
       Selama Susi bicara, Herlina menatapnya dengan pandangan yang sulit ditafsirkan. Nampaknya Pertiwi dapat menduga apa yang begejolak di hati Herlina. Karena itu, begitu Susi selesai bicara, dia menghampiri mereka dan mengguncang-guncang tangan mereka.
       “Aku setuju dengan pendapatmu Sus”, ujarnya sambil tersenyum penuh arti, “selamat untuk kalian berdua. Dan kau Isal, kau tidak boleh plintat-plintut seperti kata Susi, karena semua kawan di sini sudah mengetahui”.
       “Baiklah, mulai sekarang aku akan terbuka seperti kau dan Wawan”, sahut Faisal sambil menatap Herlina, “bukan begitu Lina?”,
       Herlina menunduk tersipu-sipu tanpa menjawab, tetapi bibirnya menyungging senyum.
       “Nah begitu dong”, kata kawan-kawannya hampir serempak, dan semuanya menyerbu untuk memberi salam bergantian.
       “Sejak kini kalian jangan sungkan-sungkan lagi pulang berduaan, karena sudah jadi tugasmu mengawal Lina, Isal”, kata Pertiwi memantapkan hubungan Faisal dan Herlina.
       “Aku tidak bermaksud menghindari tanggung jawab Wiwi”, sahut Faisal dengan tersenyum lebar, “aku hanya malu untuk berterus terang”.
       “Kenapa malu? Kalian sudah cukup besar, dan wajar kalau berpacaran terbuka. Justru dengan tertutup membuat orang bercuriga. Kau tidak akan bisa apa-apa kalau pacarmu membelot”.
       “Memangnya aku gadis macam gitu?”. Lina cepoat-cepat menyangkal.
       Pertiwi tersenyum. “Tetapi kenapa kalian sembunyi-sembunyi?”.
       Herlina terbungkam. Susi merasa menang angin, maka katanya: “Nah bukankah benar kataku?”.
       Darmawan merasa persoalan Faisal dan Herlina sudah selesai. Mka dia membelokkan lagi pada soal semula: “Baiklah kawan-kawan. Kita kembali pada persoalan semula. Masih ada satu hal yang ingin kusampaikan”, ujarnya.
       Dia menunggu sampai semua kawannya memperhatikan. Baru lanjutnya: “Kalau yang diduga Wiwi tadi terjadi besok atau lusa, kita terpaksa harus melonggarkan disiplin. Karena sebagai orang-orang yang sudah cukup besar, mungkin ada beberapa tanggapan yang berbeda di antara kita dalam hubungannya dengan sikap partai-partai yang bersaing. Kalian bebas mengambil pihak dan kegiatan. Aku tidak mau dituduh jadi penghambat kegiatan mereka. Sebab dalam situasi panas, orang mudah sekali bercuriga. Karena itu kalau di antara kalian ada yang ingin mengikuti kegiatan partai yang kalian penujui, aku persilahkan. Nah, bagaimana pendapat kalian?”.
       Beberapa lamanya Darmawan menunggu. Semua kawannya nampak turut berpikir.
       “Kukira pendapatmu benar Wan”. Akhirnya Nasrul menanggapi, “bagaimana pendapat yang lain?”.
       “Bagiku tidak ada masalah, karena aku tidak memihak partai manapun. Tapi masalah politik memang rawan”, ujar Dodi.
       “Baiklah, kalau begitu kita putuskan saja demikian. Beberapa hari ini kita akan melihat keadaan dulu. Kalau situasi memanas, kita akan hentikan dulu latihan ini. Tetapi satu hal yang harus tetap kalian ingat. Sekalipun kita mungkin punya pihak yang berbeda, kuharap kekompakan kelompok ini dipelihara. Artinya, persaingan partai jangan dibawa ke dalam tim meski hanya gurauan”, ujar Darmawan.
       “Aku setuju”.
       “Aku juga”.
       “Baiklah. Dan sekarang nampaknya latihan harus dibatalkan karena sudah terlalu sore”.
        Hampir serempak semuanya menengok ke arah matahari yang sudah sangat condong di barat. Rupanya pembicaraan mereka telah memakan waktu lama. Akhirnya mereka pun bubaran.
       “Jangan lupa mengantar Lina, Isal”, teriak Susi yang berlalu paling dulu dengan Maryanti.
       “Pasti. Terimakasih Sus”, jawab Faisal.
       “Selamat indehoy”, kata Maryanti.
       “Awas Sus, kalau ketahuan punya pacar, aku akan balas”, teriak Lina.
       “Boleh saja kalau bisa”, sahut Susi yang telah sampai di jalan.
       Seperti biasa, Pertiwi dan Darmawan pulang paling akhir. Mereka selalu ayal-ayalan. Kali ini mereka mempercakapkan Faisal dan Herlina yang meninggalkan lapangan tanpa tergesa-gesa.
       “Ternyata sifat usil si Susi banyak manfaatnya”, kata Pertiwi sementara mereka berjalan.
       “Benar, tanpa dia, kelompok ini kurang hidup”, sahut Darmawan.
       “Maksudku soal Faisal dan Lina”.
       “Ya, saya juga baru tahu kalau mereka telah berpacaran”.
       “Bukan telah, tetapi baru berpacaran”, kata Pertiwi.
       Darmawan berpaling. “Maksud Nden?”, tanyanya kurang mengerti.
       Pertiwi tersenyum. “Kawan-kawan boleh dikelabui, tetapi aku tidak”, ujarnya, “aku yakin, saat ini si Isal dan si Lina sedang merundingkan hadiah apa yang pantas diberikan kepada Susi, karena telah mempertautkan hati mereka. Rupanya si Isal yang pemalu telah minta bantuan Susi jadi comblangnaya. Sesuai dengan kebiasaannya yang usil, Susi menjebak Lina agar mengambil pilihan yang menentukan, apa akan menerima Isal atau tidak. Ketika Susi menyatukan tangan mereka, aku melihat poerubahan wajah si Lina. Mula-mula bimbang, tetapi kemudian berubah jadi tatapan penuh rasa terimakasih kepada si Susi. Karena itu aku langsung memantapkan perasaannya”.
       “Bukan main. Kiranya begitu kejadiannya”, gumam Darmawan, “hmm, kalau bukan Nden yang bicara, saya belum tentu percaya”.
       “Kenapa?”.
       “Dalam soal jebak-menjebak saya percaya, Nden memang lebih mahir. Karena saya pun telah Nden je..aduh”. Darmawan mengeluh sebelum kata-katanya selesai, karena lengannya dicubit Pertiwi. “Kalau kepada orang lain Nden harus hati-hati. Karena cubitan Nden sekarang bisa melukai”, sambungnya.
       “Kepada orang lain aku tidak pernah mencubit. Hanya kau sasaranku satu-satunya”, gerutu Pertiwi.
       “Wah berabe. Kalau Nden gemas pada orang lain, saya yang kena getahnya”.
       “Benar. Karena hanya kau satu-satunya yang mandah menerima kegemasanku, sehingga aku tidak perlu khawatir mendapat pembalasan”.
       “Jangan terlalu yakin. Sebab saya juga akan melihat dulu, kegemasan mana yang akan saya biarkan. Saya tahu, Nden akan marah kalau kegemasan yang satu itu tidak saya balas. Betul tidak?”.
       “Husy! Sejak kapan pikiranmu jadi ngeres begitu?”.
       “Sejak saya tahu kalau keinginan Nden tidak bisa dilarang”, sahut Darmawan.
       “Salah”, kata Pertiwi tegas, “aku tidak mau kau hanya nunut kepada segala yang kuinginkan tanpa penilaian, apa keinginan itu wajar atau tidak, masuk akal atau tidak, baik atau tidak. Kalau kau mengabulkan segala keinginanku tanpa penilaian, berarti kau belum mengerti diriku seutuhnya”.
       “Tentu Nden, tentu. Tapi saya tahu, kalau Nden minta sesuatu, tentu sudah disertai pertimbangan”.
       “Tetapi aku juga manusia yang suka hilaf”.
       “Saya mengerti Nden”.
       Percakapan berhenti sampai di situ. Tidak jauh dari lapangan rumput tempat Darmawan melepaskan kudanya ada sebuah warung. Darmawan ingat pada surat dari Den Angga.
       “Nden tolong belikan sampul surat sementara saya mengambil, delman”.
       Pertiwi mengangguk. Sebelum membelok ke warung dia bertanya: “Apa surat dari si Angga?”.
       “Ya Nden”, sahut Darmawan sambila terus melangkah, sementara Pertiwi membelok ke warung.
       Setelah membeli amplop lima buah sekaligus, Pertiwi pergi ke jalan menunggu delman. Agak lama juga dia menunggu. Akhirnya Darmawan muncul dengan delmannya. Dia telah berganti pakaian dengan baju kusir, dan menghentikan delmannya di dekat si gadis. Maka Pertiwi pun naik.
       “Mengapa lama?”, tanya si gadis.
       “Membuka surat dulu”, sahut Darmawan. Dia merogohkan tangannya ke saku. Ketika keluar lagi, tangannya telah menjepit surat dan diserahkan kepada Pertiwi.
       Pertiwi membaca surat itu. Isinya tidak panjang, hanya sebuah kalimat: “Dalam seminggu ini Dik Wanti jangan berkirim surat dulu, supaya kakakmu tidak curiga”. Dibawahnya tertulis ‘Kak Angga’.
       Pertiwi melipat lagi surat itu. Dia mengambil satu amplop dari tasnya, dan surat itu dimasukkan ke dalamnya. Dia membasahi perekat tutup amplopnya dengan ludah, sekaligus direkatkan.
       “Berarti dalam seminggu ini kita dapat melepaskan soal si Wanti”, katanya.
       “Ya Nden”, sahut Darmawan, lalu: “Nampaknya Den Angga sedang memusatkan perhatian pada masalah Nden. Tentunya dia sedang menanti laporan dari Bung Yeye dan kawan-kawannya.  
       “Artinya, nanti malam aku harus mengawasi lagi rumah si Angga. Begitu kan?”.
       “Itu memang tugas Nden, jika Nden tidak ingin kehilangan jejak langkah mereka”.
       “Sulitnya, aku tidak tahu di mana mereka berunding. Tempo hari juga aku telah berusaha mengintip di beberapa bagian rumah, tapi tidak mendengar apa-apa”.
       “Apa Nden tidak pergi ke pondok di kebun belakang rumah besar?”, tanya Darmawan.
       “Pondok? Di kebun belakang?”. Pertiwi balik bertanya dengan nada heran.
       “Maksud saya, rumah kecil”, sahut Darmawan.
       “Rumah kecil? Setahuku di kebun itu tidak ada pondok, kecuali ranggon seperti punya Ayah”.
       “Kapan terakhir Nden berkunjung ke rumah Den Angga?”.
       Pertiwi mengerutkan keningnya. Rupanya dia tengah mengingat-ingat. Baru sahutnya: “Kalau tidak salah sekitar enam bulan lalu, ketika disuruh Ayah menyerahkan sertifikat pembelian tanah”.
       “Meski kurang jelas karena terhalang pepohonan, nampaknya pondok itu masih sangat baru karena gentengnya masih merah benar”.
       “Hmm, bisa jadi rumah itu dibangun sepulangnya si Angga dari latihan di Pasirpanjang”.
       “Sangat mungkin Nden. Bukan mustahil pondok itu akan dijadikan pos kegiatan mereka”.
       “Kalau benar, itu menguntungkan kita. Aku akan dapat mendengarkan apa yang mereka rencanakan dengan mudah. Karena aku sudah hapal betul kebun itu. Waktu kecil aku sering main kucing-kucingan di sana. Aku tahu tempat-tempat sembunyi yang baik”, kata Pertiwi.
       “Kalau begitu pembagian tugas kita jadi jelas. Tugas saya mengawasi Pasirpanjang, dan tugas Nden mengawasi rumah Den Angga”, kata Daramawan. Lalu sambungnya: “Kalau kita hubungkan dengan permintaan Pak Abdurrakhman tempo hari, apa yang Nden ramalkan pada kawan-kawan tadi, hampir dapat dipastikan terjadi”.
       “Bukan ramalanku, tapi ramalanmu. Aku hanya menyimpulkan jalan pikiranmu”, timpal Pertiwi.
       “Tapi saya tidak pernah menyebutkan. Saya hanya mengingatkan bunyi gendang”.
       “Dan belum setengah hari kau sebutkan, bunyi gendang itu sudah semakin ramai di semua arah. Sekarang bahkan anak kecil pun sudah bisa meramalkan bagaimana keadaannya besok”.
        Darmawan tersenyum, lalu katanya: “Saya hanya bermaksud mengatakan...”.
       “Bahwa tugas kita yang sebenarnya baru dimulai sekarang dan akan berjangka panjang. Bahwa mungkin Pak Abdurrakhman akan menghubungi kita lagi untuk memberi tugas dalam situasi baru”.
       “He, bagaimana Nden tahu persis apa yang akan saya katakan?”, tanya Darmawan heran.
       “Jadi, benarkah tebakanku?”.
       “Tak salah Nden”.
       “Terimakasih Tuhan. Ternyata aku sudah mengerti jalan pikiran pacarku”, gumam Pertiwi.
       Darmawan memandang Pertiwi sejenak, lalu katanya: “Itu tandanya Nden berpikiran tajam. Tetapi ada bedanya dengan mengerti pribadi seperti yang Nden maksudkan tadi”.
       “Maksudmu, mengerti dirimu seutuhnya?”.
       “Ya”.
       “Tentu saja berbeda. Tetapi pengertian ini penting dalam hubungannya dengan tugas kita. Sehingga kalau perlu, tanpa berbicara panjang, aku dapat menduga apa yang akan kau lakukan. Sedangkan tentang pribadimu...hmm, justru aku akan terkecoh kalau kepribadianmu berubah dari yang sekarang. Bukankah pengenalanku kepadamu dulu berangkat dari kepribadian itu?”, tanya Pertiwi.
       Darmawan tidak menjawab, karena saat itu mereka telah sampai di ujung alun-alun kecamatan. Perhatian mereka tertuju ke lapangan. Tampak sekelompok muda-mudi tengah berlatih reog.
       “Besok tentu bukan hanya sekelompok. Mungkin menyebar di tiap sudut dan tengah lapangan”.
       Pertiwi mengangguk. “Sayangnya tidak ada ciri yang menunjukkan partai mereka”, timpalnya.
       “Tentu karena persiapan yang mendadak, sekedar mengimbangi persaingan. Tetapi mulai besok ciri-ciri itu akan mereka bawa. Kita tinggal mengasah ingatan pada mereka yang berhubungan dengan tugas kita. Situasi ini memperkuat dugaan akan datangnya berita dari Pak Abdurrakhman”.
       “Apa mungkin beliau justru sudah ada di sini sekarang?”, tanya Pertiwi.

--0--

       “Belum lagi”, sahut Mang Sarju, “dari pusat memang hari ini. Tetapi dia harus singgah dulu di Provinsi untuk menyesuaikan rencana, sekaligus menjemput kawan yang akan menyertainya”.
       Jawaban itu dikatakan Mang Sarju di tepas pondok baru Raden Angga kepada enam kawannya yang duduk bersila mengitari lampu. Sinar lampu itu menjadi suram oleh tebalnya asap rokok dan asap kopi panas yang keluar dari gelas-gelas. Mereka tidak menyadari kalau perundingan itu didengar oleh telinga luar yang berdiri di balik pohon kelapa cengkir tidak jauh di samping pondok. Pakaiannya yang merah tua menyatu dengan pohon kelapa dalam pekatnya malam.
       “Kalau begitu, paling cepat juga baru besok sore tiba di sini”, timpal Raden Angga..
       “Benar. Karena itu kuminta Bung Suho menjemputnya di pasar”.
       “Kenapa bukan Bung Angga langsung? Bukankah sebelum ke Pasirpanjang, mereka akan menginap di sini?, kata Bung Suho. Nampaknya dia agak kebaratan karena wajahnya yang luka belum sembuh benar. Demikian pula dengan wajah Bung Yeye dan Bung Adam.
       “Bung harus mengerti. Kalau penjemputnya orang kota ini bisa menimbulkan curiga. Lagi pula Bung Angga harus terhapus dari kegiatan kita di kota ini. Namanya harus netral dari memihak partai-partai, karena dia calon Camat dukungan kita, agar mendapat dukungan rakyat. Hubungannya yang dekat dengan Camat sekarang, memberi peluang besar untuk dipercaya rakyat”, kata Mang Sarju.
       Semua pendengarnya menganggukkan kepala. Tetapi Bung Yeye teringat pada persoalannya dengan Pertiwi. Maka katanya: “Lalu bagaimana dengan soal puteri sulung Camat?”.
       “Serahkan kepada Bung Angga yang mengaturnya. Gadis itu memang akan jadi penghalang, tetapi bukan dalam hubungan dengan partai. Pada akhirnya kuda liar itu akan jadi tunggangan kita semua. Itulah nasib akhir kembang tercantik di Kecamatan ini”, kata Mang Sarju.
       Kembali semua kawannya menganggukkan kepala. Sementara pengintainya menggertakan gigi oleh rasa marah yang terungkat di hatinya. Dalam pada itu perundingan terus berlanjut.
       “Apa dia termasuk calon kuda pacu yang akan dicoba tamu kita?”, tanya Bung Yeye.
       “Bagaimana pendapat Bung Angga?”, tanya Mang Sarju.
       “Aku keberatan”, sahut yang ditanya, “bukannya aku tidak setia kepada partai. Sesungguhnya ayah gadis itu telah mencalonkan untukku, tetapi orangnya sendiri menolak. Ini membuat aku penasaran. Aku punya dendam kepadanya, dan dendam itu hanya akan terpuaskan kalau dia telah berlutut di depanku. Setelah itu trserah”.
       “Aku juga punya dendam kepadanya”. Bung Yeye menimpali, “aku orang kedua yang berkeberatan sebelum dendamku terlampiaskan”.
       “Benar, aku dan Bung Adam juga setuju dengan Bung Angga. Kenapa kita harus selalu menyajikan yang terbaik kepada tamu kita? Padahal kita sendiri membutuhkannya”, timbrung Bung Suho.
       “Baiklah. Aku pun sebenarnya ingin sekali menukar kedudukan. Kalau dulu sebagai kusir delman yang diperintah olehnya, nanti aku ingin jadi yang memerintah dia sesuai yang kuinginkan”, kata Mang Sarju memutuskan nasib yang akan diterima gadis bekas majikannya.
       “Artinya, kita harus mencari kuda pengganti baru yang lain. Bukankah mereka memesan kuda yang belum ditunggangi?”, tanya Bung Manaf.
       “Tak salah”, sahut Mang Sarju, “bahkan aku sudah memikirkan jalan keluarnya. Besok sore kita akan mulai kegiatan pawai besar. Sejak pagi harus sudah ada pawai rayon untuk memancing partai lain melakukan kegiatan yang sama. Isyukan pawai besar itu di seluruh penjuru kota. Usahakan juga ada yang datang dari luar kota. Pawai harus berlangsung sampai gelap. Selain untuk memperlihatkan kepada tamu-tamu kita semangat perjuangan Pemuda Rakyat di daerah ini, juga memudahkan kita mengambil kuda baru. Simpang-siurnya pawai akan membuat orangtua tidak cepat mengetahui kehilangan anak gadisnya. Waktu sadar, kita sudah mengamankannya di tempat jauh”.
       Kembali semua kawannya menganggu, dan Mang sarju melanjutkan: “Pencarian kuda baru itu tugas Bung Manaf yang paling kenal situasi kota. Bung bisa minta pertolongan satu-dua kawan. Paling tidak malam besok harus sudah memperoleh dua, langsung dibawa ke Pasirpanjang”.
       “Jadi, berapa yang kita butuhkan semuanya?”, tanya Bung Manaf.
       “Empat orang sudah cukup”. Selebihnya srikandi-srikandi kita sendiri. Dua lainnya dapat dikirim belakangan, tetapi jangan lebih dari tiga hari”.
       “Kalau semua dibawa ke Pasirpanjang, siapa yang akan melayani tamu di rumah ini sebelum mereka pergi ke sana?”, tanya Raden Angga.
       “Untuk yang di sini Bung sendiri yang harus menyediakannya, karena mereka tamu Bung”.
       “Aku hanya dapat meminta bantuan Bung Yeye, karena belum punya kuda sendiri”, kata Raden Angga. Lalu: “Apa Bung Yeye bisa mengusahakan yang tempo hari berulang tahun jika kukirimkan uang sewanya?”.
       “Untuk saat ini memang kita masih harus mengambil hatinya walau sudah jadi milik kita. Mungkin setelah di sini, dia akan mau ikut ke Pasirpanjang atas kehendak sendiri”, sahut Bung Yeye.
       “Baiklah. Kalau begitu semuanya sudah terencana. Kita tinggal melaksanakan besok”, kata Mang Sarju menutup perundingan. Tetapi belum ada yang meninggalkan rumah itu, kecuali sosok tubuh yang berdiri di balik pohon kelapa cengkir. Setelah tahu perundingan selesai, tanpa menimbulkan suara, sosok itu menyelinap ke belakang rumah, dan lenyap dalam kegelapan.
       Ketika sosok itu tiba di kecamatan, dia menyusuri dinding kantor ke belakang. Dia menghampiri pondok kusir delman yang diterangi lampu gantung, dan di balai depan pondok tampak Darmawan tengah duduk santai.
       “Kau belum tidur?”, sapa sosok yang menghampirinya yang tidak lain dari Pertiwi.
       “Niis dulu Nden. Di dalam rasanya gerah”, sahut Darmawan.
       “Jadi kau juga baru datang?”.
       “Ya Nden. Tetapi hampir tidak ada informasi baru, kecuali tiga orang yang nampaknya tengah mempersiapkan tempat latihan di hutan tempo hari, ditemani seorang srikandi”.
       “Hmm, di mana pun mereka bergiat harus selalu ditemani srikandi untuk kuda pacunya”.
       “Itulah daya tarik mereka yang utama”, sahut Darmawan, “lalu bagaimana perolehan Nden”.
       “Lumayan. Tapi besok saja aku ceritakan, sekarang aku ngantuk”.

--0--

       “Ngantuk? Masa masih pagi begini sudah ngantuk lagi?”, tanya Susi mengomentari kata-kata Faisal di depan kelas waktu istirahat.
       “Habis hampir semalaman tidak bisa tidur”, sahut Faisal.
       “Nah, ayo ngaku. Kau apakan pacarmu hampir semalam suntuk?”, timbrung Betty.
       “Tentu saja dikelonin”, timpal Susi sambil lari menjauhi Faisal.
       “Iya dah, supaya...”.
       “He, apa kau bilang?”, damprat Herlina dengan mata melotot kepada Faial.
       “Akui saja Lina. Enak tidak? Soalnya kalau enak, aku mau ikut”. Maryanti membauri.
       “Masa aku harus mengaku yang tidak kulakukan”, sanggah Herlina dengan kesal, “memangnya aku ini perempuan apa?”.
       “Tentu saja perempuan yang lagi jatuh cinta. Betul tidak kawan-kawan?”, kata Farah.
       “Betuuul!”, kata kawan-kawannya serempak.
       “Gila! Kalian memang gila!”, kata Herlina hampir memekik.
       “Makanya, supaya cepat diam, kataku juga akui saja Lina”, ujar Faisal.
       Wajah Herlina semburat merah.
       “Benar enak Isal. Ikut dong”, timbrung Henni.
       “Gila! Kalian semua pada gila!”, bentak Herlina dengan mata merah.
       “Apa kau belum bisa menyesuaikan diri juga setelah bergaul sekian lama dengan kawan-kawan usilmu Lina?”. Pertiwi turut nimbrung untuk menghentikan kelakar kawan-kawannya, melihat Herlina hampir menangis. Lalu sambungnya: “Faisal bermaksud membantumu”.
       Kata-kata Pertiwi itu seperti guyuran air yang mendinginkan hatinya. Saat itu terbayang olehnya cara Pertiwi menghadapi setiap kelakar kawan-kawannya, sehingga tidak pernah berkepanjangan. Tiba-tiba saja Herlina menyadari kekeliruan sikapnya, dan dengan sendirinya rasa marah dihatinya pun sirna seketika. Dia sudah bersiap memberi jawaban yang mematikan. Tetapi ternyata kawan-kawnnya tidak meneruskan lagi kelakarnya. Yang nyeletuk justru Dodi.
       “Wajar kalau si Isal ngantuk karena ngelonin pacar. Sedang aku yang belum punya pacar juga sekarang ngantuk karena hampir semalam suntuk tidak tidur. Kenapa coba?”.
       “Ya kenapa? Kau sendiri yang harus menjawab”, kata Maman.
       “Aku tahu”, kata Faisal cepat-cepat untuk menjelaskan rasa kantuk yang sebenarnya. “Pasti bunyi genderang penyebabnya. Di dekat rumahku juga sampai larut malam orang berlatih reog. Pagi-pagi sekali sudah menabuh pula”, jelasnya.
       “Benar. Latihan itu tepat di sebelah rumahku. Rupanya ramalan Wiwi tepat sekali. Coba dengar, sekarang bunyi-bunyian itu sudah rampak di seluruh kota. Tadi pagi ketika aku berangkat, mereka sibuk mempersiapkan segala sesuatunya. Nampaknya hari ini akan ada pawai”, kata Dodi.
       Baru saja perkataan Dodi selesai, sayup-sayup terdengar suara nyanyian riuh diikuti sorakan-sorakan pendorong semangat: “Hiduuup!!! Hiduuup!!!”.
       “Nah mulai”, kata Nasrul.
       Sorakan dan nyanyian makin lama makin jelas, tanda sumbernya sedang mendekat. Sebagian murid menghambur berlarian ke pagar halaman sekolah. Yang berlari ke pintu halaman hampir saja tertubruk sepeda pengantar pos yang masuk ke halaman, sehingga Pak Pos harus membunyikan bel.
       Murid-murid yang tergabung dalam tim volley tidak turut berlarian. Karena sejak kemarin mereka sudah membicarakan kemungkinan itu. Karena itu mereka tetap di depan kelas masing-masing.
       “Hidup buruh tani!”
       “Hiduuup!!!”
       “Hidup PKI!”.
       “Hiduuup!!!”.
       “Hidup Gerwani!”.
       “Hiduuup!!!”.
       “Hidup Pemuda Rakyat!”.
       “Hiduuup!!!”.
       Teriakan-teriakan semakin dekat dan semakin keras, diikuti nyanyian yang kata-katanya lebih jelas dan semakin jelas. Tidak lama kemudian muncullah sumbernya di depan sekolah. Sebuah pawai alegoris yang didahului rombongan kesenian reog dan angklung dengan para penari lelaki dan perempuan. Lalu sebuah tanda gambar palu arit besar dan gambar D.N. Aidit diangkat naik, didukung beberapa orang.
       Di belakangnya rombongan anak-anak berpakaian pak tani, bu tani, tukang sayur menggendong bakul, memikul padi memakai topi cetok, dan aneka ragam pakaian rakyat kecil. Diikuti rombongan pemuda tidak berbaju dengan wajah dicorengi arang, berikat kepala merah dan merah putih, ditangannya memegang bambu runcing. Gadis-gadisnya juga mengenakan aneka pakaian. Kelompok merekalah yang memberi komando teriakan dibalas semua rombongan pawai dari belakang hingga ke depan. Lalu diikuti nyanyian perjuangan yang penuh semangat.

Nasakom bersatu
Singkirkan kepala batu
 Nasakom satu cita
Sosialisme pasti jaya.....!

       Orang-orang yang tengah berjalan pada berhenti di pinggir. Tiap kelompok pawai itu berteriak, orang-orang menyambut dengan teriakan ‘hiduuup!!!’ sambil mengacungkan tangan terkepal. Bahkan para pelajar yang berdiri berderet di balik pagar juga banyak yang turut berteriak sambil mengacungkan kepalan tangannya. Rombongan pawai itu cukup panjang dan kelengkapannya beraneka ragam hingga usung-usungan rumah-rumahan.
       “Kunjungi beramai-ramai rapat raksasa di alun-alun nanti sore”, teriak salah seorang yang bersuara keras ketika lewat di depan sekolah.
       “He, bukankah itu teman kita si Karna?”, kata salah seorang di antara yang nonton di balik pagar.
       “Benar”, sahut kawan di sebelahnya, lalu: “He! Karna!”.
       Pemuda yang wajahnya bercoreng-moreng itu berpaling sambil menjulurkan lidahnya.
       “Pantas dia tidak masuk”, ujar kawannya yang lain.
       “Kalau tidak mendengar suaranya, aku tidak akan tahu”, kata yang pertama. Kehadiran kawan mereka dalam rombongan pawai itu jadi bahan pembicaraan yang cukup hangat di antara mereka.
       Sementara itu ujung belakang rombongan telah melewati sekolah dengan teriakan yang sama dan diulang-ulang, diikuti nyanyian lain yang makin sayup sejalan dengan makin jauhnya rombongan.

Genjer-genjer
Nang kedokan pating keleler
Mama e tole teko-teko
Muputi genjer....

       Murid-murid yang berjajar di pagar halaman sekolah sudah pada bergerak hendak kembali ke kelas masing-masing. Tetapi tidak jadi, karena dari arah datangnya rombongan pertama tadi terdengar pula bunyi genderang yang mendekat.
       “He, ada lagi!”, teriak beberapa orang hampir serempak.
       Mereka kembali berderet di belakang pagar. Rombongan kedua ini berbeda dari yang pertama. Tetabuhannya teratur, genderang dan terompet seperti tetabuhan mengiringi tentara berbaris. Bedanya, diselingi dengan teriakan-teriakan seperti dilakukan rombongan pertama tadi.
       “Hidup Fatayat!”.
       “Hiduuup!!!”.
       “Hidup Ansor!”.
       “Hiduuup!!!”.
       “Hidup Nahdatul Ulama!”.
       “Hiduuup!!!”.
       Suatu pemandangan baru bagi penduduk Kecamatan itu. Sejak rombongan masih jauh, para pelajar telah bersorak menyambut, sehingga murid-murid yang tadinya tidak tertarik, akhirnya berlarian ke pagar halaman.
       “Hebat! Hebat!”, teriak mereka.
       Sesungguhnya rombongan yang baru datang ini sangat teratur dengan baju seragam satin hijau. Di depan sekali gadis tinggi lampai dalam pakaian seperti jenderal, membawa tongkat panjang yang terus diputar-putar. Sekali-sekali tongkatnya dilemparkan ke udara dan ditangkap lagi dengan manis. Semua yang menyaksikan demonstrasi itu menyambut dengan gempita. Gadis yang memimpin barisan kadang-kadang berjalan mundur, tapi langkahnya tetap sejalan dengan irama genderang.
       “Aneh, aku tidak pernah tahu di daerah kita ada rombongan pemain genderang hebat. Perempuan lagi”, kata Betty.
       “Namanya Drum Band. Perempuan pembawa tongkat itu namanya Mayoret”, kata Nasrul menjelaskan, “ketika di Provinsi tempo hari kami pernah melihat pawai seperti itu. Bukan begitu Dod?”.
       “Benar. Di sana, semua partai memiliki Drum Band. Pakaiannya beraneka ragam dan mewah”.
       “Tetapi di sini kita belum melihatnya”, kata Maryanti, “untuk sampai pada kemampuan itu pasti memerlukan latihan lama”.
       “Kurasa mereka bukan orang sini”, ujar Nasrul.
       “Maksudmu?”, tanya Marni.
       “Mereka dipanggil datang kemari”, sahut Susi cepat-cepat.
       “dari mana kau tahu?”, tanya Maryanti.
       “Aku hanya menduga. Karena tadi malam ayahku rapat dengan pengurus NU di rumah. Mungkin untuk mengimbangi propaganda partai lain”.
       “Ternyata partai-partai cepat tanggap”, ujar Nasrul.
       “Itu artinya persaingan akan terus menghangat”. Pertiwi menimbrung.
       Dalam pada itu rombongan drum band telah tiba di depan sekolah. Terdengar suara melengking perempuan dari tengah barisan memberi aba-aba teriakan “hidup fatayat”. Teriakan diikuti oleh seluruh anggota rombongan dan juga penonton di pinggir jalan: “hiduuup!!”, termasuk para pelajar.
       “He, kepada siapa sebenarnya kau memihak? Bukankah tadi juga kau menyambut dengan teriakan yang sama Nana?”, tanya Susi kepada salah seorang dari mereka.
       “Tidak kepada siapa-siapa”, sahutnya.
       “Huh dasar plin-plan”, timbrung Maryanti.
       Si Nana nyengir. Katanya: “Aku hanya cari selamat. Kau sendiri memihak ke mana?”.
       “Tidak kepada yang mana-mana. Aku masih sekolah, belum mau berpolitik. Karena itu aku tidak berbuat apa-apa, hanya nonton”, sahut Maryanti..
       Beberapa pelajar agak jauh dari kelompok Pertiwi ribut, di antaranya ada yang menunjuk ke dalam barisan gadis-gadis yang tidak membawa apa-apa selain mengenakan seragam hijau.
       “Ada apa?”, tanya Herlina sambil berlari ke dekat pagar. Tapi kemudian dia kembali.
       “Ada apa Lina?”, tanya Susi.
       “Sadiah dan Titin ikut dalam barisan”, sahut yang ditanya, “di rombongan lelaki kulihat si Ahmad. Mungkin masih ada yang lainnya. Aku hanya melihat sekilas”.
       “Mereka calon-calon pemain drum band. Rupanya barisan belakang itu pemuda-pemudi daerah kita yang mungkin bakal sering bolos”, ujar Pertiwi.
       Setelah rombongan drum band lewat, kembali dari jauh terdengar sorakan riuh. Tapi lonceng masuk telah berbunyi. Maka mereka semua masuk ke kelas masing-masing.
       Biasanya, tak lama setelah lonceng berbunyi guru kelas segera hadir. Tetapi hari ini guru-guru tidak segera datang. Karena itu para ketua murid mendatangi ruang guru. Melihat kedatangan para KM, salah seorang guru  yang duduk dekat pintu menghampiri mereka di luar.
       “Tolong, jangan ada yang ke luar kelas. Kami sedang rapat. Sebentar lagi juga selesai”, katanya.
       “Baik Pak”, sahut para KM serempak, dan mereka berbalik ke kelas masing-masing.
       “Nak Wawan”, panggilnya kepada Darmawan sebagai salah seorang KM.
       Darmawan yang sudah berbalik berhenti mendengar panggilan itu.
       “Ada apa Pak?”, tanyanya.
       “Di TU ada surat untukmu”, kata Pak Guru.
       “Terimakasih”, kata Darmawan, dan dia berbelok ke kator TU. Darmawan menghampiri kepala TU, lalu katanya, “maaf Pak. Kata Pak Guru ada surat buat saya”.
       “Ya baru tadi datang. Bapak belum sempat memasang di papan pengumuman”, ujar Kepala TU sambil mengambil beberapa buah surat yang tertumpuk di atas mejanya, memilihnya, dan menyerahkan sebuah kepada Darmawan. “Ini”, katanya.
       Darmawan menerima surat itu dan membaca pengirimnya, Pak Abdurrakhman. “Terimakasih Pak”.
       “Sebentar Nak Wawan. Masih ada satu lagi”, ujar kepala TU sementara tangannya membuka buku catatan penerimaan surat-surat berharga, “tanda tangani di sini”, sambungnya.
       Sekilas Darmawan membaca catatan surat yang diterimanya, sebuah weselpos Rp. 100.000. Pengirimnya Pak Abdurrakhman juga. Selesai menandatangani, Darmawan menerima poswesel itu.
       “Tinggal ambil di kantor pos. Tadi sudah ditandatangani Pak Direktur dan sudah di cap sekolah”.
       “Terimakasih. Permisi Pak”.
       Darmawan memasukkan surat dan wesel itu ke balik bajunya. Sebab dia tidak ingin mendapat banyak pertanyaan dari kawan-kawannya. Tiba di kelasnya ternyata Pak Guru sudah hadir.
       “Maaf Pak, saya ke kantor TU dulu”.
       Guru kelas mengangguk. “Duduklah. Bapak baru akan mulai”.
       Tetapi saat itu di jalan terdengar bunyi hingar gendang dan teriakan dari rombongan pawai yang lewat, sehingga guru kelas menunda dulu pembicaraannya.
       “Hidup PNI Ali!”.
       “Hiduuup!”.
       “Hidup Bung Karno!”.
       “Hiduuup!”.
Nasakom bersatu
Singkirkan kepala batu
Nasakom satu cita
Sosialisme pasti jaya

       “Nah anak-anak”, kata guru kelas setelah suara hiruk-pikuk menjauh, ditimpali suara hiruk-pikuk yang mengeras dari arah berlawanan. “Seperti kalian ketahui sendiri, beberapa murid kelas ini dan juga kelas-kelas lainnya tidak masuk. Kalian juga melihat sendiri di antara mereka tampak dalam rombongan pawai. Ini permulaan yang kurang baik. Karena itu sebelum kasip, Bapak Direktur telah memanggil kami para guru untuk menyampaikan kebijaksanaan sekolah. Bapak Direktur dan kami para guru tidak bermaksud melarang kalian turut kegiatan partai, sebab kalian sudah cukup dewasa untuk menentukan pilihan. Tetapi sebagai pelajar, kalian juga punya kewajiban mematuhi ketentuan sekolah. Artinya, kami minta, selama waktu sekolah, kalian penuhi kewajiban sebagai pelajar. Di luar itu, dalam situasi sekarang ini, kami tidak berani melarang. Namun kami hanya ingin memberi pesan. Pikirkan baik-baik dalam memilih pihak, karena masa depan kalian masih panjang”.
       Sejenak guru kelas menghentikan wejangannya, karena di jalan mulai terdengar lagi suara riuh berbaur dengan bunyi tetabuhan.
       “Hidup PNI Osa-Usep!”.
       “Hiduuup!!”.
       “Hidup pemimpin besar revolusi!”.
       “Hiduuup!!”.
       “Hidup Marhaen!”.
       “Hiduuup!!”.
       Setelah keriuhan melemah, guru kelas melanjutkan: “Menurut perkiraan kami, hari ini rombongan pawai akan keliling kota bergantian, disambung rombongan-rombongan dari penjuru kota dan luar kota untuk menghadiri rapat di alun-alun. Karena itu Pak Direktur telah mengambil kebijaksanaan. Kalian semua boleh pulang”.
       “Asyiiik”, sambut semua murid dengan gembira.
       “Nah bereskan dulu peralatan sekolah kalian, dan keluar dengan tertib”, kata guru kelas, “selamat siang”, sambungnya sambil berlalu.
       “Siaaang!”, sambut murid-murid serempak sambil membereskan alat tulis mereka dan berserabutan.
        Seperti biasa, Darmawan dan Pertiwi keluar kelas paling belakang. Darmawan mengeluarkan surat dan weselpos dari balik bajunya, langsung diserahkan kepada Pertiwi.
       “Dari siapa? Kok suratnya belum dibuka?”, tanya Pertiwi.
       “Dari Pak Abdurrakhman”, sahut Darmawan, “Nden saja yang membaca”.
       Pertiwi menyobek sisi sampul dan mengambil suratnya. Isinya pendek saja.

               Nak Wawan/Wiwi,
       Mungkin akan ada kegiatan khusus yang sangat penting di daerah kalian. Gunakan uang yang Bapak kirim untuk memperoleh informasi lengkap. Kalau kurang, jangan segan, minta lagi kepada Bapak. Informasi yang kalian peroleh, kalau dapat, dibawa sendiri ke Jakarta, jangan melalui pos.
                                                                                                                           Abdurrakhman

       “Kukira sangat erat hubungannya dengan orang yang akan datang nanti Wan”, kata Pertiwi.
       “Benar Nden. Untung kita sudah tahu rencana mereka dan tempat kegiatannya”.
       “Tetapi apa usaha penyelamatan gadis yang akan diculik mereka itu tidak akan membuat mereka curiga?”, tanya Pertiwi.

--0--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar