Sabtu, 28 Mei 2011

Novel 4 Dimensi - Dimensi 1 - PRAQHARA NUSANTARA 06

Enam
Ekses
LANGKAH-LANGKAH ITU SEMAKIN JELAS TERDENGAR. Pertiwi yang mengenakan baju dinas malamnya dengan topi kupluk menyelubungi kepala semakin merundukkan tubuhnya. Tetapi pandangannya tidak lepas ke arah pintu pagar halaman. Kemudian dalam kegelapan malam itu muncul tiga sosok tubuh menghintam di depan pintu pagar halaman. Mereka langsung masuk dan menghampiri pintu depan rumah beriringan, dan mengetuk pintunya.
       Tak lama kemudian pintu terbuka, dan berkas cahaya listrik menerpa wajah ketiga tamu itu. Tiga pemuda berusia 20-an. Yang membuka pintu adalah lelaki yang usianya hampir seusia ayah Pertiwi.
       “Maaf Juragan”, kata salah seorang tamu itu, “kami teman Den Angga dan diminta datang, katanya Aden sedang sakit”.
       “Ya, dia juga mengatakan kalian akan datang. Masuklah”, jawab si orangtua.
       Ketiga pemuda itu menganggukkan kepala. Setelah ketiganya masuk, pintu pun ditutup lagi. Pertiwi menanti beberapa saat. Baru kemudian mengendap-endap menyusuri dinding rumah, yang dituju adalah kamar Raden Angga. Sebagai yang punya hubungan keluarga, Pertiwi mengetahui letak kamar itu, karena pernah berkunjung beberapa kali. Dia memasang telinga mendengarkan pembicaraan dari dalam.
       Tetapi sampai sekian lama dia tidak mendengar suara apa-apa. Padahal jika Raden Angga dan kawan-kawannya berada di kamar itu, sekalipun mereka bicara perlahan, pasti akan terengar melalui celah-celah jendela. Karena itu dia bergerak lagi menyusuri dinding ke kamar berikutnya. Namun seperti yang sebelumnya, di situ juga dia tidak mendengar apa-apa. Sampai tiga kamar dalam rumah itu yang diintip, tidak ada hasil apa-apa. Akhirnya dia kembali ke tempat persembunyiannya semula untuk menanti pulangnya ketiga tamu tersebut. Ternyata ketiga tamu itu tidak terlalu lama di dalam.
       Setelah ketiga orang itu lenyap di balik pagar pintu halaman, Pertiwi keluar dari persembunyiannya. Dia mengikuti mereka dalam jarak yang tidak terlalu dekat, namun masih terlihat pada kelamnya malam. Sekitar setengah jam kemudian mereka telah melewati perbatasan kota. Namun ketiga orang itu masih melanjutkan perjalanannya di bulak panjang. Untunglah di sepanjang pinggir jalan ada pohon-pohon besar yang biasa digunakan para pejalan untuk berteduh dari teriknya matahari, sehingga Pertiwi tidak mengalami kesulitan mengikutinya.
       Sekitar setengah jam berikutnya mereka memasuki mulut desa. Karena itu Pertiwi memperpendek jarak dengan mereka. Sebab setelah berada di dalam desa, setiap saat orang yang diikutinya dapat menghilang di cabang jalan atau masuk ke salah satu rumah. Tetapi Pertiwi jadi kebingungan ketika di sebuah jalan cabang ketiga orang itu berpisah. Sejenak Pertiwi berpikir. Akhirnya dia memutuskan mengikuti yang seorang. Sebab ketika bertamu di rumah Raden Angga, orang itulah yang berbicara mewakili dua kawannya.
       Tidak terlalu jauh dari jalan cabang tadi, orang itu memasuki halaman sebuah rumah. Pertiwi melihat orang itu memasuki rumah dengan membuka pintu menggunakan kunci yang dibawanya sendiri, berarti itu rumahnya sendiri. Gadis itu mengambil bloknot dari balik bajunya dan mencatat nomor rumahanya. Tidak ada lagi yang dapat dilakukan, selain pulang.
       Perjalanan pulang dapat dilakukan lebih cepat, karena Pertiwi memanfaatkannya sebagai latihan. Sesungguhnyalah, setiap melakukan perjalanan malam, Pertiwi tidak pernah melewatkan kesempatan yang ada untuk meningkatkan ilmunya. Itulah sebabnya, dia cepat menguasai pelajaran yang diberikan Darmawan. Tetapi gadis itu tidak menyadari kalau sejak keluar dari desa, seseorang telah mengikutinya. Orang itu tampaknya memiliki kemampuan tinggi, karena apapun yang dilakukan gadis itu, dia tetap dapat menjaga jaraknya.
       Ketika Pertiwi memasuki halaman kecamatan, orang itu berdiri di sudut psagar halaman di bawah rimbunnya pohon mangga, memperhatikan bagaimana gadis itu membuka jendela kamarnya, dan masuk, sampai jendela tertutup kembali. Kemudian tubuhnya meloncat ke kebun di samping halaman kecamatan dan lenyap.Yang tertinggal adalah keheningan larut malam yang semakin sepi.

--0
         Sejak Pertiwi dan Purwanti naik delman pagi itu untuk pergi ke sekolah, tak seorang pun yang bicara, sehingga keadaan jadi hening. Terasa benar kekakuan di antara kedua gadis kakak-beradik itu. Darmawan tahu apa yang jadi penyebabnya. Dia menganggap situasi demikian tidak baik belangsung terlalu lama. Karena itu dia mencoba memperbaiki kembali hubungan mereka.
       “Sudah dua hari Emang seperti naik delman seorang diri”, katanya memulai tanpa ditujukan kepada salah seorang diantaranya. “Kemarin Emang tidak tahu. Tetapi hari ini Emang bisa menduga kalau Nden berdua sedang tidak akur. Benar tidak dugaan Emang?”.
       Yang menjawab Pertiwi: “Tidak benar”, ujarnya, “apa Emang pernah melihat kami bertengkar? Tidak kan?”.
       “Kalau begitu, mengapa Nden berdua tidak ngobrol seperti biasa?”.
       “Mang Darma tahu kan, dua hari Wanti tidak masuk sekolah karena sakit? Kukira dia masih belum punya selera ngobrol. Bukan begitu Wanti?”.
       Purwanti diam saja, tidak menyahut dan tidak megangguk.
       “Apa benar Nden?”, tanya Mang Darma kepada Purwant. Purwanti  tetap bungkam.
       “Ternyata dugaan Emang yang benar. Nden berdua pasti sedang bertengkar”, kata Mang Darma dalam nada bangga. Lalu: “Emang tidak tahu, sudah berapa lama Nden tidak berbaikan. Tetapi menurut ajaran agama yang Emang dengar, perselisihan di antara sesama muslim tidak boleh lebih dari tiga hari”.
       “Tetapi aku merasa tidak pernah bertengkar dengan adikku Mang”, kata Pertiwi.
       “Memang tidak bertengkar, tetapi mencampuri urusanku”, kata Purwanti dengan nada ketus.
       “Aku mencampuri urusanmu, karena urusanmu itu tidak benar Wanti”.
       “Huh tidak benar”. Purwanti mendengus.
       “O, jadi kau merasa perbuatan itu benar ya? Baiklah kita buktikan nanti. Kita katakan kepada Ayah persoalannya. Kalau Ayah mengatakan perbuatanmu benar, aku akan minta maaf kepadamu dengan mencium ujung kakimu. Setuju?”.
       Wajah Purwanti berubah, dan dia jadi membungkam.
       “Kalau Emang boleh tahu, siapa tahu Emang bisa membantu”.
       “Maaf Mang. Ini urusan pribadi yang menyangkut keluarga. Aku tidak bisa mengatakan kepada orang luar. Sebenarnya kalau aku ceritakan pada Ayah, persoalannya akan beres”, kata Pertiwi.
       “Lalu kenapa Nden tidak menceritakan kepada Juragan?”.
       “Karena aku bukan anak tumbak cucukan”.
       “Tapi dengan begitu keadaan Nden berdua jadi berkepanjangan”. Mang Darma gogodeg, “apa Nden berdua betah begini terus?”.
       “Tentu saja tidak Mang”, sahut Pertiwi, “tetapi apa boleh buat.Aku sendiri merasa tidak punya ganjalan hati apa-apa kepada adikku”.
       Beberapa saat tidak ada yang bicara. Mang Darma rupanya tengah berpikir keras untuk mengakhiri suasana kaku itu. Itu tercermin dari kata-katanya kemudian.
       “Kedua Nden”, katanya, “ini mah menurut pemikiran Emang yang bodoh. Meskipun Nden berdua tidak berkata apa-apa kepada Juragan, akhirnya pasti beliau akan mengetahui Nden berdua tidak akur. Emang yang bodoh saja bisa tahu, apalagi Juragan. Emang mah tidak dapat memaksa Nden berterus terang. Tetapi Juragan pasti akan memaksa. Jika sampai begitu, siapa yang benar dan siapa yang salah akan diketahui. Tapi akibatnya, hubungan di antara Nden berdua akan semakin tidak baik, karena yang dinyatakan bersalah pasti akan mendendam. Bukan begitu?”.
       “Pendapatku juga begitu Mang”.
       “Dan bagaimana pendapat Nden Wanti?”.
       Purwanti tetap tidak menyahut. Sampai tiba di depan sekolah Purwanti, persoalan itu tetap tidak ada penyelesaiannya. Gadis itu turun tanpa bicara sepatah pun.Setelah delman bergerak lagi menuju sekolah mereka, Pertiwi membicarakannya lagi.
       “Itulah adikku sekarang Wan”.
       “Dia masih kecil Nden”.
       “Justru masih kecil, maka keadaannya jadi gawat. Pikirannya telah dirasuki bujuk rayu si Angga yang sudah sangat berpengalaman sejak pesta harum sebulan itu. Aku khawatir sekali, kita tidak akan bisa menariknya lagi dari jalannya yang gelap”.
       “Saya akan mencoba lebih mendekatinya Nden. Kebetulan hari ini Nden tidak pulang dulu ke rumah karena ada kegiatan belajar bersama. Mudah-mudahan saya bisa mengajuk hatinya”.
       “Baiklah. Persoalan itu aku serahkan kepadamu. Sekarang kita biacara tugas kita”, kata Pertiwi mengalihkan persoalan. “Tadi malam aku mengawasi rumah si Angga. Ada tiga kawannya yang datang. Sayang aku tidak mengetahui apa yang mereka bicarakan. Tetapi aku mengenal ketiga tamu itu sebagai yang ikut latihan di Pasirpanjang. Aku mengikuti mereka. Tetapi yang berhasil kuketahui alamatnya hanya seorang. Yang dua lagi lolos”.
       “Cerita saya lain lagi”, kata Darmawan, “saya langsung ke desa di selatan. Tapi sampai malam hampir larut, saya tidak menemukan wajah-wajah yang kita cari. Ketika hendak pulang, di mulut desa saya melihat tiga orang yang dicari itu. Sayang di satu persimpangan mereka berpisah. Saya mengikuti yang dua orang, karena yang seorang telah dibuntuti orang lain. Saya pikir nanti juga...”.
       “Licik”, potong Pertiwi.
       Darmawan tersenyum. Pertiwi pun akhirnya tersenyum. “Kalau begitu, hari ini kita mendapat tambahan tiga orang”, kata si gadis.
       “Ya Nden. Soal nama-nama mereka, biar saya yang urus setelah mengantar pulang Nden Wanti nanti. Serahkan saja alamat yang Nden peroleh kepada saya”.
       Pertiwi membuka tas sekolahnya dan menyerahkan bloknot khusus yang diminta anak muda itu. Seperti biasanya, setiba di depan sekolah, Pertiwi turun, sementara Darmawan menjalankan lagi delmannya untuk dititipkan selama sekolah. Ketika Pertiwi memasuki kelas, beberapa kawannya anggota tim volley sedang berkerumun membicarakan sesuatu.
       “Aku malah senang tidak diundang”. Terdengar Maryanti bicara.
       “Ya, kalaupun diundang, aku tidak akan datang”, sambung Betty.
       “Makanya dia tidak mengundangmu. Karena sudah tahu, kau tidak akan datang”, kata Susi, “yang harus dipertanyakan, Kenapa aku, Marni, Lina dan yang lainnya tidak diundang?”.
       “He ada apa ribut-ribut?”, tanya Pertiwi sambil menghampiri.
       “Nah, ini dia orang pentingnya sudah datang”, kata beberapa gadis serempak.
       “He, kenapa dengan aku?”.
       “Kau mendapat undangan Wiwi”, kata Marni sambil menyodorkan sebuah surat undangan.
       “Undangan apa,dan dari siapa?”, tanyanya.
       “Baca saja sendiri”, kata Susi.
       Pertiwi membuka sampul surat itu dan mengambil isinya. Sebuah undangan ulang tahun.
       “Apa yang aneh? Bukankah kalian juga pernah mengundangku dalam ulang tahun kalian?”.
       “Yang aneh adalah kami semua tidak diundang”, kata Susi.
       “Kok begitu? Alasannya?”.
       “Alasannya?”, sahut Susi mengulang pertanyaan Pertiwi, “aku mau tanya dulu. Apa kau merasa jadi anak pejabat atau tidak?”.
       “Anak pejabat?”.
       “Ya, merasa jadi anak Camat atau tidak?”.
       “Lalu apa hubungannya?”.
       “Itulah alasannya”, sahut Susi.
       “Gila si Dora”, desis Pertiwi.
       “Memang itulah alasannya yang dikatakan si Dora kepadaku Wiwi”, kata Marni.
       “Ah kukira si Dora hanya berolok-olok”.
       “Tidak Wiwi. Dia bicara serius kok”.
       “Hmm kalau begitu aku tidak akan datang. Apa dia kira aku akan merasa bangga karena diundang dengan alasan itu. Tolol benar dia”, kata Pertiwi.
       “Aku minta Wiwi, sebaiknya kau datang”, kata Marni.
       Pertiwi memandang Marni dengan heran. Begitu pula kawan-kawan lainnya. Mereka semua tahu, Marni memiliki sifat hampir sama dengan Pertiwi. Itu sebabnya Marni adalah kawan terdekat Pertiwi. Kalau sekarang Marni meminta Pertiwi agar memenuhi undangan itu, tentu ada pertimbangan khusus.
       “Kau juga aneh Marni”, kata Pertiwi.
       “Aku hanya merasa kasihan pada si Dora”. Marni mulai menjelaskan. “Untuk mengundangmu, dia sengaja datang ke rumahku. Dia mengatakan, sebenarnya dia malu menyampaikan undangan itu. Tetapi terpaksa karena permintaan orangtuanya. Dia mengakui orangtuanya masih kampungan, sehingga sangat bangga ketika tahu anaknya punya teman anak Camat. Mereka ingin memperlihatkan kepada para tetangganya bahwa anak mereka berkawan dekat dengan anak pejabat tinggi. Dia tidak dapat menolak desakan orangtuanya agar mengadakan pesta ulang tahun yang belum pernah diadakan. Itulah yang diberitahukan kepadaku. Aku benar-benar jadi kasihan padanya”.
       Semua kawan Pertiwi saling pandang. Kini tak seorang pun berminat untuk berolok-olok. Sampai beberapa lamanya Pertiwi membungkam dengan kening berkerut.
       “Kau telah memberi pilihan yang sulit Mar”, kata Pertiwi akhirnya. “Kalau undangan kupenuhi, orang akan menilaiku gadis sombong yang gila hormat. Kalau aku tidak datang, juga akan dinilai sama oleh keluarga si Dora. Hmm, sebaiknya aku menemui si Dora”, katanya sambil beranjak.
       “Jangan Wiwi”. Marni menahan dengan memegang tangan Pertiwi.
       “Kenapa?”.
       “Dia mengatakan malu bertemu denganmu. Karena itu dia mengirimkan undangan melaluiku”.
       “Tetapi aku harus tahu, apa dalam undangan kepada para tetangganya disebutkan akan hadir anak camat?”, kata Pertiwi kesal.
       “Tidak Wiwi. Aku juga telah menanyakan kepadanya. Dia bersumpah tidak. Jadi, pengumuman kau sebagai anak Camat baru akan terjadi setelah kau hadir di sana. Dengan demikian, orang tidak akan menganggapmu sombong dan gila hormat. Tuduhan akan ditujukan kepada kelurarga si Dora”.
       “Hmm,biarlah aku pikirkan lagi nanti”.
       “Sekali lagi aku minta Wiwi”, kata Marni.
       Ulangan permintaan Marni itu jelas menunjukkan sikap si Dora yang istimewa, sehingga Marni demikian terpengaruh. Karena itu sampai bubaran sekolah Pertiwi masih tidak dapat melepaskan dalam pikirannya. Namun akhirnya dia mengambil keputusan yang memperlihatkan bahwa sesungguhnya dia tidak menyetujui cara undangan yang ditempuh si Dora.
       “Tentang undangan si Dora tadi”, kata Pertiwi kepada Marni ketika mereka pulang ke rumah Marni untuk belajar bersama. “Dia ternyata salah menilaiku. Sebenarnya kalau tidak menggunakan alasan macam-macam, tanpa harus berpikir dua kali, aku akan penuhi undangannya. Paling-paling aku akan menanyakan kenapa yang lain tidak diundang”.
       “Soal itu pun sudah kukatakan”, sahut Marni, “alasannya cukup masuk akal. Karena rumahnya jauh di luar kota, tentu tidak akan ada yang datang. Tapi jika ada yang akan datang, dia tidak berkeberatan”.
       “Kalau begitu tolong sampaikan kepada dia. Kalau dia mau mengurungkan pengumuman diriku anak Camat, mungkin aku akan datang”.
       “Kok masih mungkin. Aku minta ketegasanmu Wiwi. Jika pesanmu kusampaikan, apa kau akan memenuhi undangan itu?”.

--0--

       “Baiklah aku penuhi permintaanmu, tetapi dengan syarat”, sahut Purwanti kepada Mang Darma sementara delman bertoplak menuju pulang.
       Bibir Mang Darma berkerenyut menahan senyum karena geli oleh jawaban kekanak-kanakan majikan termudanya. Bagaimana tidak kekanak-kanakan, mengingat berbaiknya kembali kakak beradik itu sebenarnya akan menguntungkan dirinya. Dengan berbaiknya mereka, perbuatan gadis itu dengan Raden Angga akan tetap menjadi rahasia dan tidak akan diketahui orangtuanya. Namun demikian Mang Darma berusaha tidak memperlihatkan kegelian hatinya, agar gadis bongsor itu tidak tersinggung, yang bisa mengakibatkan gagalnya usaha merukunkan kembali kedua majikan mudanya itu. Karena itu apa yang ada dalam hatinya, berbeda dengan yang diucapkannya. 
       “Terimakasih Nden. Emang amat gembira karena Nden mau berbaik kembali dengan kakak Nden”.
       “Belum lagi Mang. Sudah kukatakan, aku mau berbaik dengan kakakku, tetapi dengan syarat. Jadi tergantung pada sanggup-tidaknya Emang memenuhi syarat itu, mengerti?”.
       “Ya, ya Nden. Emang mengerti”, kata Mang Darma sambil menganggu-anggukkan kepala.
       “Bagus. Sekarang aku mau tanya. Apa Kak Wiwi suka memberi uang padamu?”.
       “Pernah juga Nden, satu-dua kali”, sahut Mang Darma tanpa menjelaskan alasannya.
       “Kalau begitu aku juga akan memberimu uang, bahkan lebih sering, asal kau mau menurut kata-kataku. Bagaimana mau?”.
       “Terimakasih Nden. Tentu saja Emang mau”.
       “Tetapi Mang Darma harus memegang rahasiaku. Jangan diketahui Kak Wiwi dan orangtuaku”.
       “Rahasia Nden? Rahasia apa? Apa Emang boleh tahu?”.
       “Tentu nanti juga Mang Darma akan tahu sendiri. Yang penting aku minta janjimu. Segala yang Mang Darma ketahui tentang urusanku, harus Emang rahasiakan. Nah mau berjanji?”.
       Mang Darma tidak segera menjawab.
       “Ingat Mang. Kalau Emang tidak mau berjanji, aku tidak mau berbaikan dengan Kak Wiwi. Sebaliknya, kalau Emang mau berjanji, aku akan memenuhi keinginanmu. Ditambah lagi, Emang akan sering mendapat uang dariku”, kata Purwanti mendesak.
       “Ya, ya Nden. Baiklah Emang berjanji. Emang akan memegang rahasia Nden”, sahutnya.
       Purwanti tersenyum. Tetapi gadis itu tidak bicara apa-apa lagi. Sampai delman mereka sudah mendekati kantor kecamatan, ternyata Purwanti masih tidak memberitahukan rahasianya. Ini membuat Mang Darma tampak gelisah, sampai akhirnya dia tidak dapat menahan kegelisahannya.
       “Nden’, katanya, “apa Nden tidak percaya pada janji Emang?”.
       “Aku percaya Mang. Karena itu kalau nanti Kak Wiwi pulang, aku akan berbaikan dengannya. Apa kau tidak percaya?”, tanya Purwanti.
       “Percaya Nden, Emang percaya. Tetapi rupanya Ndenlah yang tidak mempercayai Emang”.
       “Sudah kukatakan, aku percaya”.
       “Tetapi mengapa Nden tidak mau memberitahukan rahasia itu?”
       “O itu”. Purwanti tersenyum lagi. “Soal itu aku tidak tergesa-gesa. Yang penting Emang sudah berjanji mau memenuhi syaratku”.
       “Tapi...”.
       “Hmm, apa kau takut aku melupakan janjiku untuk memberimu uang?”, tanya Purwanti.
       Mang Darma menunduk karena maksud hatinya dapat ditebak dengan tepat. Sementara Purwanti merogohkan tangannya ke dalam tas sekolahnya untuk mengambil uang, kemudian diberikan kepada Mang Darma.
       “Terimakasih Nden. Emang berjanji akan menuruti segala perintah Nden”, kata Mang Darma.
       “Benar Mang?”.
       “Pasti Nden, pasti”.
       “Kalau begitu, nanti sore Emang tidak usah menjemput Kak Wiwi. Biarkan dia berjalan kaki”.
       “Tapi bukankah Nden akan berbaikan dengan Nden Wiwi? Kalau Emang tidak menjemputnya, nanti Nden Wiwi bisa marah kepada Emang. Kalau Emang mengatakan dilarang Nden, tentu Nden Wiwi yang akan menolak berbaikan dengan Nden, karena ternyata Nden masih mendendamnya”.
       “Jangan takut. Soal kau tidak menjemputnya, aku yang akan minta maaf, karena kau kusuruh ke rumah kawanku untuk meminjam buku pelajaran. Aku hanya ingin meyakinkan, apa kau lebih menurut kepadaku atau kepada dia?”.
       “Kalau begitu baiklah Nden. Tentu Emang akan lebih menurut kepada Nden. Nanti Emang akan terus ke pasar untuk narik”.
       “Ya, begitu saja”, kata Purwanti menyetujui.
       Dengan adanya keputusan itu, ketika delman telah tiba di depan kantor kecamatan, Purwanti turun dan Mang Darma menjalankan lagi delmannya menuju pasar. Mang Darma benar-benar melakukan apa yang telah dirundingkan dengan Purwanti. Dia baru pulang dari pasar menjelang magrib.
       Pada dasarnya Purwanti gadis lincah, karena itu mudah baginya untuk merubah suasana. Ketika Pertiwi pulang dengan berjalan kaki, di wajah gadis itu tidak tampak lagi rasa permusuhan.
       “Kak Wiwi”, sapa Purwanti ketika Pertiwi muncul di tepas dan hendak terus masuk ke dalam.
       Pertiwi menghentikan langkahnya dan berpaling. “Ada apa?”, tanyanya, sementara hatinya yakin, Darmawan telah berhasil meluluhkan permusuhan gadis itu. Karena kalau belum berhasil, pasti Purwanti tidak akan menegurnya.
       “Aku minta maaf Kak Wiwi. Tadi aku menyuruh Mang Darma meminjam buku pelajaran kepada temanku, sehingga tidak dapat menjemputmu. Kak Wiwi tidak marah kan?”.
       Pertiwi tersenyum. “Tentu tidak Wanti. Memang tadinya aku akan menanyakan mengapa dia tidak menjemputku”.
       “Aku perlu catatan pelajaran ketika tidak masuk”, kata Purwanti menjelaskan.
       “Memang harus begitu, supaya kau tidak tertinggal dari kawan-kawanmu”, sahut Pertiwi. Lalu: “Aku cape sekali, sehabis latihan harus jalan kaki pula. Aku mau istirahat dulu”.
       Pertiwi berlalu diikuti pandangan Purwanti dengan bibir tersenyum. Gadis itu merasa puas, karena Mang Darma ternyata mematuhinya. Dia tidak tahu samasekali bahwa ketika latihan volley, Darmawan telah memberitahukan kepada Pertiwi tentang permintaan adiknya. Maka setelah latihan, Darmawan pergi ke pasar lagi, sehingga Pertiwi harus berjalan kaki.
       Sehabis isya, setelah kedua orangtuanya dan Purwanti masuk kamar masing-masing, dengan diam-diam Pertiwi pergi ke pondok Darmawan karena ada masalah yang hendak dibicarakannya. Rupanya Darmawan baru selesai sembahyang pula. Ketika Pertiwi muncul, Darmawan sedang melipat sajadah.
       “Apa kau tidak akan bepergian Wan?”, tanya Pertiwi setelah mengambil tempat duduk di salah satu kursi. Di atas meja tampak sepiring ubi rebus yang masih mengepulkan asap tanda belum lama diangkat dari jerangan.
       “Tidak Nden. Nampaknya Nden ingin tahu soal Nden Wanti”, sahut Darmawan sambil duduk di kursi di hadapan Pertiwi.
       “Memang”, katanya, “tetapi ada masalah lain yang mengherankan hatiku”.
       Darmawan mengabil sebuah ubi dan mengupasnya. Lalu katanya: “Kalau soal Nden Wanti, belum banyak yang dapat saya ceritakan. Kecuali satu hal, di balik pemikirannya yang masih kanak-kanak, rupanya pengaruh Den Angga telah tertanam di hatinya. Saya kira kita akan sulit sekali untuk mengubah kembali hatinya. Nampaknya nasihat Nden tempo hari tidak masuk sedikitpun”.
       Sementara Darmawan bicara, Pertiwi mengambil dua buah gelas yang tertelungkup di dekat piring ubi rebus. Dia menuangkan air ke dalamnya, untuk dirinya dan untuk Darmawan.
       “Karena itukah kau berusaha mendekati dia dan pura-pura menjauhiku?”, tanya Pertiwi sambil mengambil sebuah ubi rebus dan mengupasnya.
       “Ya Nden. Saya kira, satu-satunya jalan adalah mengawasinya langsung. Nampaknya saya akan dijadikan perantara hubungan Nden Wanti dengan Den Angga”.
       “Apa dia telah memintamu untuk merahasiakan hubungan mereka?”.
       “Saya belum tahu apa yang harus dirahasiakan, karena Nden Wanti belum memberitahukannya. Saya hanya menyimpulkan berdasarkan pengalaman sebelumnya”.
       “Kukira kesimpulanmu hampir pasti, karena akupun menyimpulkan begitu”, kata Pertiwi.
       “Apapun yang harus saya rahasiakan nanti, mudah-mudahan saya dapat mengetahui saat-saat yang akan membahayakan dirinya, sehingga Nden dapat bertindak menolongnya”.
       “Aku mengerti maksudmu. Kau tidak mau menolong langsung agar dirimu tetap mereka percayai. Baiklah aku akan mengimbangi permainanmu, meski kemungkinannya dia akan semakin membenciku bahkan mendendamku”.
       “Apa boleh buat Nden. Yang penting, maksud kita baik. Siapa tahu yang terjadi kemungkinan sebaliknya. Dengan berkali-kali perbuatan salahnya Nden halangi, mudah-mudahan Nden Wanti diberi kesadaran atas kekeliruannya”.
       “Ya, akupun akan berdoa, mudah-mudahan Tuhan memberi kesadaran kepadanya”.
       Beberapa lamanya tidak ada yang bicara. Mulut mereka sibuk mengunyah ubi.
       “Sekarang masalah apa yang mengherankan Nden?”, tanya Darmawan setelah ubinya habis.
       “Aku mendapat undangan ulang tahun dari si Dora. Anehnya yang mendapat undangan itu hanya aku. Ketika kutanyakan, karena aku anak Camat”, sahut Pertiwi. Lalu dia menceritakan selengkapnya tentang permintaan si Dora kepada Marni. “Inilah undangannya. Bagaimana pendapatmu?”, tanya Pertiwi selesai menjelaskan.
       Darmawan menerima surat undangan itu. “Pendapat Nden sendiri bagaimana?”. Darmawan balik bertanya sementara matanya membaca undangan tersebut.
       “Bukankah sudah kukatakan, aku akan memenuhi permintaannya?”.
       “Alasannya?”.
       “Karena aku akan disanjung sebagai anak pejabat tinggi daerah”, sahut Pertiwi sambil tersenyum. 
       “Kalau itu alasan Nden, jangankan saya, si Dora pun tidak akan mempercayainya. Karena itu dia tidak berani memberikan undangannya langsung kepada Nden”.
       “Jadi, apa aku harus mengatakan karena merasa tidak tega kepada orangtua si Dora?”.
       “Alasan itu hanya dapat diterima teman-teman dekat Nden, tidak untuk saya”.
       “Kenapa?”.
       “Sebab kalau hanya dua alasan itu, Nden tidak akan menunjukkan surat undangannya kepada saya”.
       “Hmm, rupanya kau telah terbius oleh cerita Sherlock Holmes”, gumam Pertiwi, namun matanya bersinar karena nampaknya pemuda itu punya simpulan lain seperti yang dipikirkannya. Maka sambungnya: “apa kau menemukan sesuatu yang menarik pada undangan itu?”.
       Darmawan tersenyum. “Yang saya ingat”, katanya, “nomor rumah dalam undangan ini hanya berjarak dua rumah dari salah satu alamat orang yang saya buntuti terakhir. Juga pestanya sore hari”.
       “Itu pula yang menarik hatiku. Bukankah orang itu satu di antara yang datang ke rumah si Angga? Mungkin si Angga ingin secepatnya membalas sakit hatinya kepadaku dengan lempar batu sembunyi tangan. Untung waktu itu kau langsung memberi peringatan kepadaku. Hanya saja aku tidak mengira samasekali kalau si Dora bisa ikut terlibat di dalamnya”.
       “Jangan berprasangka dulu. Mungkin si Dora hanya dijadikan alat. Tetapi baiklah Nden. Memang sebaiknya kita layani permainan mereka selagi kita diberi kesempatan mengetahui rencananya. Kalau tidak dilayani sekarang, mungkin kita akan dihadapkan pada rencana lain yang tidak kita ketahui, sehingga kita jadi lengah”, kata Darmawan.
       Pertiwi mengangguk. “Kalau nanti terbukti si Dora terlibat, aku akan menambahkan namanya pada daftar nama yang harus dikirim ke Pak Abdurrakhman”, ujarnya. Lalu: “Yang merepotkan, aku harus membawa pakaian salin dan berganti baju di tengah jalan”.
       “Saya kira tidak perlu Nden. Menurut penglihatan saya, pakaian dinas malam Nden sangat cocok untuk pergi ke pesta. Bukankah saya pernah mengatakan, pakaian itu mirip baju mode peragawati?”.
       “Ah, apa benar Wan? Kukira waktu itu kau hanya bergurau untuk menyenangkan hatiku saja”.


--0--

       “Sungguh Wiwi. Kau benar-benar mirip peragawati. Dalam pakaian ini kau tampak sangat anggun, begitu serasi. Di mana kau membuatnya Wiwi? Aku juga ingin punya model baju begini”, kata Dora sementara matanya menatap lekat pada pakaian merah kecoklatan yang dikenakan Pertiwi.
       “Ini buatanku sendiri Dora”, sahut Pertiwi, “tetapi kurasa semua penjahit juga bisa membuatnya asal diberi gambarnya, karena potongannya sangat sederhana, tidak sulit”.
       “Itulah yang aneh. Aku juga melihat potongannya sederhana, tapi tampak bagus sekali. Kurasa aku akan meniru membuatnya”, kata Dora.
       Saat itu dari dalam rumah muncul sepasang suami-isteri tua menyambut dengan tergopoh-gopoh. Tetapi begitu melihat Pertiwi, keduanya tertegun dengan tatapan kagum hampir terpesona. Entah karena model pakaian yang dikenakannya, entah karena kecantikannya yang menonjol, atau keduanya, yang jelas sikap suami-isteri itu tampak begitu hormat, sehingga Pertiwi tidak dapat membedakan, apa sikap mereka itu sewajarnya atau sekedar dibuat-buat. Nampaknya Dora cepat tanggap. 
       “Wiwi, ini orangtuaku”, kata Dora memperkenalkan. Lalu kepada orangtuanya: “Mak, Bapak, ini kawanku Pertiwi dari Kecamatan”.
       “O, jadi Nden inikah puteri Pak Camat itu?”, tanya yang perempuan sambil menyodorkan kedua tangannya agak gugup mengajak bersalaman. Pertiwi pun mengangguk hormat dengan ramah.
       “Mari masuk saja Nden. Kurang baik ngobrol di luar”, ujar ayah Dora.
       “Terimakasih”, sahut Pertiwi, dan dia mengikuti sepasang suami-isteri itu digandeng oleh Dora.
       Ternyata tamu-tamu yang lain sudah pada datang. Nampaknya mereka sudah cukup lama, terlihata dari minuman dan amakanan ringan yang sudah habis sebagian. Tetapi tamu itu tidak banyak. Bahkan menurut pendapat Pertiwi terlalu sedikit, jika tujuannya untuk membanggakan diri kepada penduduk kampungnya, karena tidak lebih dari 15 orang pemuda-pemudi.
       Sesungguhnyalah sejak dia memasuki halaman rumah itu tadi, Pertiwi merasa yakin, cerita si Dora kepada Marni adalah perangkap, karena tidak tampak tanda-tanda kelainan dari sehari-hari. Tidak menunjukkan dalam rumah itu sedang diadakan pesta kebanggaan diri. Untunglah Pertiwi bukan jenis gadis yang senang membanggakan diri, sehingga tidak harus merasa kecewa oleh kenyataan itu.
       Demikian pula dalam pelaksanaan acara ulang tahun itu tidak ada yang istimewa, selain meniup lilin ulang tahun dan nyanyi-nyanyi yang terlalu sederhana. Tidak ada acara perkenalan diri Pertiwi yang dibesar-besarkan sebagaimana cerita Dora, sehingga Pertiwi tidak harus tersipu-sipu atau malu diri oleh tanggapan orang di sekelilingnya. Alasan itu tidak jadi dilakukan, dikatakan pula oleh Dora.
       “Aku minta maaf, karena rencana pengumuman dirimu sebagai anak Juragan Camat tidak jadi dilakukan, karena menurut Marni, kalau acara itu diadakan, kau justru tidak akan datang”, bisiknya.
       “Kenapa minta maaf? Aku justru bersyukur. Kalau kau lakukan juga, berarti kau tidak menganggapku sebagai kawan dekat, sehingga aku pun tidak perlu datang. Syukurlah Marni menyampaikan pesanku. Kalau dilakukan juga, aku tidak mau berkawan lagi denganmu”.
       “Ya Wiwi. Itu yang kukatakan kepada orangtuaku, sehingga mereka terpaksa memendam keinginannya”, sahut Dora.
       “Hmm, kalau begitu aku harus menemui untuk minta maaf karena telah mengecewakan mereka. Mari antar aku Dora”, ujar Pertiwi sambil bangkit dari duduknya.
       “Duduklah Wiwi. Kalau kau menemui mereka, mungkin sekali mereka akan mewujudkan keinginannya meski hanya kepada jumlah orang yang sangat sedikit ini”.
      “Tapi aku jadi tidak enak hati”.
       “Mereka tidak menyalahkanmu. Akulah yang mereka marahi karena menghalangi rencananya”.
       Akhirnya Pertiwi duduk lagi dan meneruskan makannya. Sebenarnya, sejak kehadiran gadis itu, sekalipun tidak diumumkan secara terbuka, perhatian semua tamu lebih tertuju kepada dirinya, karena penampilannya yang menonjol. Sehingga dalam tempo sebentar saja semua tamu sudah mengetahui siapa adanya gadis itu. Pertiwi sendiri bukan tidak mengetahui hal itu, karena melalui sudut matanya dia seringkali menyaksikan para tamu saling berbisik dengan kawannya sementara mata mereka mencuri-curi pandang kepadanya.
       Kalau di dalam rumah, Pertiwi jadi pusat perhatian para tamu, ternyata tukang delmannya juga yang sedang duduk terkantuk-kantuk di atas delman, telah jadi pusat perhatian orang. Yang memperhatikan dia adalah tiga pemuda yang duduk di teras rumah berjarak dua rumah dari tempat berlangsungnya pesta ulang tahun si Dora. Ketiganya mengenakan pakaian pangsi hitam-hitam seperti yang biasa dipakaia jawara atau orang-orang persilatan, berikat kepala batik, dan di pinggang masing-masing tergantung golok. Darmawan sengaja menghentikan delmannya di pojok halaman rumah itu.
      “Apa Bung Suho yakin gadis itu datang?”, tanya salah seorang di antara tiga pemuda tersebut.
      “Pasti”, sahut yang ditanya, “sejak siang aku tidak beranjak dari tempat dudukku ini, sehingga aku melihat saat kedatangannya. Dia menumpang delman yang berhenti di depan itu”.
       “Tentu kusir delman itu pengganti Bung Sarju”, kata kawan yang satunya lagi.
       “Mungkin sekali”, sahut Bung Suho.
       “Berarti kita harus memperhitungkannya”, kata yang bertanya pertama.
       “Kukira dia hanya kusir delman biasa. Mungkin dengan gertakan saja sudah akan lari terbirit-birit. Bukankah Bung Yeye sendiri mendengar peringatan Bung Angga, gadis itulah yang harus dihadapi dengan hati-hati, karena punya kemampuan silat tinggi”.
       “Memang. Tetapi kita tidak boleh menyepelekan siapa pun yang ada bersamanya”, sahutnya sementara matanya menatap lekat pada tubuh kusir delman yang terus juga terangguk-angguk oleh kantuk karena terlalu lama menunggu majikannya tanpa berbuat sesuatu. Lalu, “tetapi baiklah akan kita lihat nanti. Kukira sekalipun dia punya kemampuan, dengan tiga orang, kita akan bisa mengatasinya”.
       “Kalau perlu, kita harus mengeroyok gadis itu. Baru kali ini aku melihat kuda yang begitu mulus. Pantas Bung Angga mengatakan, kita akan sangat beruntung bila berhasil menangkap gadis itu. Dia benar-benar kembangnya Kecamatan, bahkan mungkin di Kabupaten ini”, kata Bung Suho memberi keterangan tentang buruan mereka.
       “Rupanya kau sudah terbius oleh keterangan Bung Angga, sehingga lupa pada Nyi Icih. Kukira dialah satu-satunya yang pantas disebut kembang Kecamatan”, kata temannya yang bernama Bung Adam.
       “Bung Adam bisa mengatakan begitu, karena belum melihat orangnya. Dalam hal kebinalan, mungkin Nyi Icih menang. Tetapi dalam kecantikan, huh, tidak nempil”, kata Bung Suho sambil menjentikkan kelingkingnya.
       “Bung telah membuat penasaran, sehingga aku ingin melihatnya langsung”.
       “Silahkan. Toh sekarang dia hanya berjarak beberapa langkah saja dari sini”.
       “Baiklah, aku juga ingin tahu”, ujar Bung Yeye memutuskan. “Kita melihat sebentar, lalu kita terus pergi agar bisa mencari tempat yang baik untuk melaksanakan rencana kita”.
       Ketiga orang itu bangkit dari duduknya. Mereka keluar halaman melewati delman yang ditumpangi Darmawan, dan terus memasuki halaman rumah Dora. Tetapi mereka tidak masuk ke dalam, melainkan berdiri di samping jendela yang terbuka lebar. Kebetulan Pertiwi dan Dora duduk tidak jauh dari jendela itu, sehingga mereka tampak jelas dari luar.
       Beberapa saat lamanya Bung Yeye dan Bung Adam terpaku melihat wajah gadis incarannya itu. Dora yang kebetulan melihat kehadiran mereka memberi isyarat dengan mengedipkan matanya. Sebenarnya saat itu Pertiwi sedang menunduk menikmati makanannya. Tetapi karena duduknya hampir menghadap langsung ke jendela, dia juga melihat kehadiran tiga orang tersebut. Namun dia tidak mengangkat kepala, hanya sudut matanya dapat mengenali mereka. Karena sejak awalnya sudah punya dugaan, dengan cepat pandangan sudut matanya dialihkan kepada Dora, sehingga dia sempat melihat isyarat mata Dora. Itu sudah cukup baginya untuk menyimpulkan bahwa ada hubungan antara si Dora dengan ketiga orang tersebut.
       Bung Yeye dan kedua kawnnya hanya sebentar memperhatikan Pertiwi, dan ketiganya berlalu kembali ke jalan.
       “Bukan main. Kali ini kita benar-benar mendapat keuntungan lipat”, desis Bung Yeye dengan mata bersinar, “selain mendapat sebagian dari biaya ulang tahun si Dora, kita juga akan dapat memuaskan diri dengan kuda terindah”.
       “Apalagi jika sama binalnya dengan Nyi Icih”, bisik Bung Adam dengan menelan air liur.
       “Meski tidak sehebat Nyi Icih, mungkin kepuasan kita akan lebih besar, karena dia pasti akan melawan meronta-ronta”, kata Bung Suho.
       “Sttt, sudahlah. Meski terkantuk-kantuk, kusir itu punya telinga”. Bung Yeye memperingatkan dua kawannya karena mereka telah mendekati delman.
       Sesungguhnyalah terkantuk-kantuknya kusir delman itu hanya pura-pura. Sebab percakapan mereka di teras tadi dapat didengarnya meski sayup-sayup. Darmawan telah memanfaatkan pendengarannya yang tajam untuk memperoleh informasi rencana ketiga orang itu. Dari pendengarannya dia dapat memastikan, pesta ulang tahun si Dora memang rencana mereka, dan biayanya dapat diduga dari Raden Angga.
       “He Mang Kusir, apa kau mau narik kami?”, kata Bung Yeye tiba-tiba ketika lewat di samping delman, sementara tangannya menepuk tempat duduk di samping Darmawan.
       Darmawan pura-pura terkejut dari kantuknya, dan tangannya menggosok-gosok mata.
       “Ya, eh ad...ada apa Den?”, tanyanya gagap.
       “Kau mau narik tidak?”. Bung Yeye mengulangi pertanyaannya.
       “O itu...maaf Den. Ini mah bukan delman tambangan. Ini mah delman keluarga. Emang sedang nunggu majikan Emang”.
       “Di mana?”.
       “Itu tuh di tempat kondangan Den”.
       “Kalau hanya sebentar kan tidak apa-apa Mang. Tidak jauh kok, dan aku bisa bayar dua kali lipat dari harga biasa. Soalnya kami takut kemalaman di jalan. Apa Mang Kusir tidak butuh duit?”.
       Mang kusir nampak menelan ludah. “Butuh sih butuh Den. Apalagi sampai dua kali lipat harga. Tapi Emang tidak berani. Majikan Emang mah orangnya pemarah dan cerewet sekali”.
       “Cerewet? Jadi majikan Mang Kusir itu perempuan ya?”.
       “Iya Den. Malah perempuan cantik. Tapi amat galak. Salah sedikit saja suka main tampar”.
       “Ah Cuma tamparan perempuan, masa Mang Kusir takut”.
       “Meski perempuan, majikan Emang bukan perempuan biasa Den. Sekali tampar bisa biru pengap. Dia itu jagoan silat Den. Jangankan pantaran Emang, orang yang bawa golok macam Aden juga dia berani melawannya”.
       “Hmm, aku tak percaya. Kau saja yang penakut Mang”.
       “Kalau Aden tidak percaya, silahkan coba sendiri”.
       “Sayang aku tidak punya urusan dengannya. Sudahlah. Kalau Mang Kusir takut sama majikan, sekalipun aku bayar sampai 10 kali lipat, tentu Mang Kusir akan menolaknya juga”.
       “Benar Den, Emang mah tidak berani”.
       “Huh dasar pengecut. Percuma saja kau jadi lelaki Mang”.
       Bung Yeye dan kedua kawannya berlalu meninggalkan Darmawan yang memperhatikan dengan tersenyum. Barusan dia telah meyakinkan mereka tentang kepenakutan dirinya, sehingga akan dihapus dari perhitungan.
       Sebenarnyalah, setelah berada cukup jauh dari kusir delman itu, Bung Yeye mulai berkomentar: “Rupanya dalam urusan ini kita bernasib mujur. Kusir delman itu telah memantapkan perhitungan”.
       “Kenapa?”, tanya Bung Adam.
       “Gunakan otakmu Bung. Kita tidak perlu memperhitungkan kusir itu lagi. Dengan sedikit gertakan, dia akan lari terbirit-birit meninggalkan majikannya seorang diri. Kegalakan gadis itu telah menutup kemungkinan mendapat pembelaan dari kusir delmannya. Sebab meski kusir itu tidak becus apa-apa, kalau dia punya kesetiaan, tentu akan membela mati-matian, sehingga menghambat rencana kita. Kita tidak akan bisa menyelesaikan dalam waktu singkat, karena mungkin saja muncul orang lain yang tidak mustahil bisa menggagalkan rencana kita. Tetapi dengan hanya sendirian, sekalipun bisa silat, kita dapat mempercepat pekerjaan dengan mengeroyoknya. Hmm, malam ini kita akan pesta harum sepuas hati”.
       Bung Adam dan Bung Suho mengangguk-anggukkan kepala tanda setuju pada ucapan kawannya.
       “Rasa-rasanya pesta itu sudah terbayang di pelupuk mataku”, desis Bung Suho.
       Sementara berbicara langkah-langkah mereka telah tiba di sudut desa. Di hadapan mereka membentang bulak panjang membelah sawah luas. Matahari sore tampak semakin merah karena makin mendekati ufuk, pertanda hari sebentar lagi akan gelap.
       Marilah kita percepat langkah kita. Kita harus mencapai tempat paling lengang sebelum terkejar sasaran kita”, kata Bung Yeye pula sambil mempercepat langkahnya, diikuti kedua kawannya.
       Ternyata Pertiwi jadi tamu yang pulang paling akhir, karena ada-ada saja yang dilakukan si Dora untuk menahannya. Terakhir dia meminta Pertiwi menggambarkan pola baju yang dipakainya, sehingga dia turun dari rumah setelah gelap. Ketika tiba di tempat delman, Daramawan tidak nampak, tetapi lampu-lampu delman sudah menyala. Rupanya akan muda itu pergi ke mesjid dulu. Namun gadis itu tidak terlalu lama harus menunggu.
       “Ada-ada saja yang dilakukan si Dora untuk menahanku”, kata Pertiwi membuka percakapan setelah delman mencongklang. “Untung aku sedang tidak sembahyang”, sambungnya.
       “Sudah saya duga”, sahut Darmawan, “dan dugaan kita semakin pasti adanya kerjasama Den Angga dengan ulang tahun itu”.
       “Benar Wan. Tadi aku melihat tiga orang yang datang ke rumah si Angga tempo hari. Rupanya mereka ingin memastikan kehadiranku. Aku sempat melihat si Dora memberikan isyarat”.
       “Saya juga mendengar samar-samar rencana mereka mencegat Nden. Meski mereka bermaksud jahat, ada satu hal yang membuat hati saya senang, sehingga mampu menumpas rasa marah saya”.
       “Apa?”, tanya Pertiwi dalam nada heran. 
       “Ternyata bukan hanya pendapat saya. Mereka juga menyatakan Nden gadis tercantik yang pernah mereka lihat”, sahut Darmawan sambil tersenyum.
       “Ah kau”, desah Pertiwi, “masa dalam situasi bahaya begini masih dianggap gurauan”.
       “Samasekali tidak Nden. Sungguh saya sangat bangga karena punya pacar paling cantik, bukan ...”.
       “Sudah. Aku tidak mau dengar lagi”.
       “Kenapa?”.
       “Habis kau benar-benar tidak mau tahu. Hatiku gelisah setengah mati, kau anggap main-main”.
       “Itulah alasannya Nden. Nden terlalu gelisah, sehingga perkataan saya hanya dinilai kulitnya. Coba kegelisahan itu buang sejenak. Karena nilai kecantikan Nden sangat tinggi di mata mereka, maka Nden akan terpelihara dari kematian. Apa saya tidak boleh bersenang hati?”.
       “Tapi dengan tidak ada maksud membunuhku, aku menghadapi bahaya lain yang justru lebih mengerikan dari kematian”.
       “Itu tahap kedua. Yang jelas, pada tahap pertama saya dapat bertenang hati dalam menghadapi lawan, karena keselamatan Nden berada dalam jaminan mereka. Bagi Nden sendiri, nilai kecantikan itu kelemahan bagi mereka. Selama perlawanan Nden tidak terlalu membahayakan mereka, mereka akan berusaha menangkap Nden tanpa mencederai. Nden dapat memanfaatkannya untuk mengulur waktu. Tetapi jika Nden merasa punya kemampuan, kelemahan mereka dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya, sehingga ketika mereka menyadari, keadaan sudah kasip. Karena itu, menghadapi pencegatan mereka Nden tidak perlu gelisah. Dengan hati tenang, pikiran jadi bening, dan Nden tidak akan kehilangan pengamatan atas situasi yang berlangsung. Ketenangan hati sangat penting dalam menentukan akhir permasalahan yang kita hadapi”.
       Pertiwi terdiam. Alasan Darmawan itu sangat masuk akal, sehingga ketika pemuda itu mengakhiri kata-katanya, kegelisahan hati gadis itu hampir terkikis samasekali. Dia tidak tahu, apa penjelasan itu yang membuat hatinya jadi tenang atau justru gurauannya pertama yang mencerminkan ketenangan pemuda itu dalam menghadapi ancaman bahaya, atau justru keduanya. Yang jelas, pujian terhadap kecantikannyalah yang kemudian muncul dalam pikirannya, dan dia tidak bisa menahannya.
       “Wan”, katanya kemudian, “benarkah aku sangat cantik?”.
       Mendengar pertanyaan itu justru Darmawan jadi terkejut, sehingga beberapa lamanya dia tertegun. Namun di saat lainnya dia mengerti. Rupanya hati gadis itu masih kurang yakin atas keterangan yang dikemukakannya tadi.
       Maka sahutnya: “Sungguh Nden. Merekalah yang mengatakannya, bukan saya”.
       “Terimakasih”, ujar Pertiwi dengan bibir tersenyum, “kini aku percaya, kau tidak bergurau dan ketenanganmu tidak dibuat-buat”.
       “Artinya?”.
       “Kau tidak perlu mengkhawatirkan diriku lagi. Sebab aku sudah yakin, aku memang cantik. Aku benar-benar akan memanfaatkannya seperti yang kau nasihatkan tadi”.
       “Syukurlah. Kalau begitu sebaiknya Nden segera bersiap. Karena saya kira mereka sudah tidak terlalu jauh lagi di depan kita”.
       Sementara bicara Darmawan membuka laci panjang di bawah tempat duduknya, dan mengeluarkan dua batang pipa besi yang memang telah dipersiapkan sejak lama. Sebuah dia serahkan kepada si gadis, yang sebuah lagi langsung diselipkan pada pinggang di balik bajunya. Pertiwi pun melakukan hal yang sama.
       Ternyata dugaan Darmawan tidak salah. Tidak jauh dihadapan mereka, dalam kekelaman malam tampak tiga sosok tubuh berloncatan dari balik pohon di kedua sisi jalan. Ketiga sosok itu berdiri berjajar di tengah jalan dengan mengangkang kaki. Salah seorang yang berdiri di tengah mengacungkan tangannya.
       “Berhenti!”, teriaknya.
       Darmawan menarik kendali kuda dengan tiba-tiba, sehingga binatang itu berjingkrak. Delman pun berhenti pada jarak sekitar lima meter dihadapan ketiga pencegatnya.
       “Sekarang kalian turun!”.
       Pertiwi turun perlahan-lahan, lalu tegak di sisi delman. Tetapi Darmawan masih duduk membeku.
       “Kau urus kusir delman itu. Kalau melawan bunuh saja”, katanya kepada salah satu kawannya. 
       “Baik”, ujar yang disuruh, dan dia berjalan menghampiri kusir delman.
       Tetapi baru dua langkah orang itu bergerak, Daramawan telah meloncat turun seperti orang ketakutan dan tubuhnya terguling di sisi delman. Namun dengan cepat dia bangkit lagi, lalu berlari ke arah datangnya seperti dikejar setan. Beberapa saat saja tubuhnya telah lenyap ditelan kegelapan malam. Melihat tingkah kusir delman itu, ketiga penghadangnya tidak dapat menahan tawa mereka.
       “Hahaha dasar pengecut”, kata Bung Suho yang ditugaskan mengurusnya, dan dia berbalik lagi.
       “Nah Nona. Sebaiknya kau menyerah saja dengan baik-baik”, kata Bung Yeye.
       “Kalian mau apa? Aku tidak punya barang berharga”, ujar Pertiwi sambil melangkah perlahan menghampiri ketiga pencegatnya. Melihat itu tiga pencegatnya berpencar mengepung dari tiga arah.
       “Pada dirimu tidak ada yang lebih berharga selain tubuhmu sendiri Nona. Itulah yang kami inginkan darimu. Kalau kau mau menyerah, aku berjanji akan melepasmu lagi tanpa cedera”.
       “Kalau begitu, apa maksud kalian mencegatku?”, tanya Pertiwi seperti tidak mengerti.
       “Jangan pura-pura bodoh. Usiamu sudah lebih cukup untuk mengerti kebutuhan lelaki terhadap gadis secantikmu. Aku yakin, kau pun tentu membutuhkannya. Nah bukankah lebih baik kita saling mengisi kebutuhan dengan suka sama suka? Nona dapat pulang dengan utuh, dan hubungan kita akan terus berlanjut kapan saja Nona kehendaki”, ujar Bung Yeye.
       “Hmm, kau katakan aku boleh pulang dengan utuh, tetapi setelah aku memenuhi kebutuhan kalian. Bagaimana bisa dikatakan masih utuh?”.
       “Yang kumaksud, Nona tidak akan kami celakai”.
       “Terimakasih”, sahut Pertiwi, “aku setuju dengan pendapatmu tentang suka sama suka itu. Hanya sekarang aku sedang tidak punya hasrat. Mungkin lain kali aku akan memenuhi hasrat kalian. Bukankah kalian sudah tahu siapa diriku? Nah, kalian bisa datang kapan saja ke rumahku. Siapa tahu waktu itu aku sedang butuh. Karena itu, aku minta sekarang kalian melepasku. Setuju?”.
       “Gila! Kita hanya buang-buang waktu saja Bung. Dia bermaksud mengulur waktu”, desis Bung Adam kesal oleh pembicaraan yang tak berarti itu.
       “Jangan kasar”, kata Pertiwi, “bukankah aku sudah setuju dengan permintaan kalian? Hanya kuminta bukan sekarang, sebab aku sedang tidak punya has...”.
       “Diam! Kau kira kami ini manusia dungu? Kau benar-benar perempuan sombong yang tidak tahu tingginya gunung. Huh, kau pura-pura mengalah, padahal di hatimu menertawakan kami”.
       “He, bagaimana kau bisa menduga begitu? Bukankah aku justru minta kalian melepaskanku?”.
       “Keparat! Itulah keangkuhanmu. Kau meminta-minta, tetapi sikapmu tidak ketakutan samasekali”.
       “O, jadi aku harus munduk-munduk memohon ampun dengan ketakutan, begitu?”.
       “Memang  harus begitu”, kata Bung Adam, “karena kau berada dalam kekuasaan kami”. 
       “Enak bener! Bagaimana kalau aku munduk-munduk, lalu kalian tidak melepaskanku?”.
       “Itu sudah nasibmu”.
       “Itu sebabnya aku tidak mau munduk-munduk ketakutan, karena aku belum dikalahkan kalian”.
       “Hahaha, sekarang kau yang memberi kesempatan mengulur waktu Bung Adam”. Tiba-tiba Bung Yeye tertawa mengejek temannya, karena tadi hatinya tersinggung oleh sikap Bung Adam.
       “Setan! Perempuan ini benar-benar licik. Kita harus...”.
       “Awas!!”, teriak Bung Suho.
       Sebelum Bung Adam menyelesaikan perkataannya, Pertiwi bergerak cepat. Dengan dua loncatan dia menerjang Bung Adam. Bung Suho berteriak memperingatkan, tetapi agak kasip. Bung Adam yang terkejut oleh serangan tiba-tiba mencoba berkelit. Namun kurang cepat, sehingga tendangan kaki Pertiwi ke arah perutnya hanya bergeser sedikit, menghantam lambungnya cukup keras. Bung Adam memekik dengan tubuh terputar. Sementara Bung Yeye yang terlena oleh ejekannya, terpaku oleh tindakan Pertiwi yang mendadak itu. Namun pada saat lainnya dia sadar bahwa perkelahian sudah dimulai.
       “Kurung dia. Jangan diberi kesempatan kabur!”, teriaknya sambil meloncat ke tempat kosong.
       “Huh memalukan. Sungguh memalukan”. Tiba-tiba sebuah suara berat menimpali suara Bung Yeye dari arah belakangnya, sehingga Bung Yeye terlonjak dan berbalik cepat. Bung Suho dan Bung Adam pun terkejut, tetapi mereka tidak berani melepaskan pandangannya dari Pertiwi.
       Tampak seorang berpakaian hitam-hitam dan kepalanya diselubungi kupluk muncul dari balik pohon. Orang inilah yang berbicara barusan, dan dia masih meneruskan kata-katanya: “mengeroyok seorang perempuan bukan sikap lelaki jantan”.
       “Keparat! Siapa kau?!”, tanya Bung Yeye dengan nada tersinggung.
       “Aku orang yang paling tidak senang menyaksikan ketidakadilan berlangsung di depan mata”.
       “Jadi kau mau mencampuri urusan kami ya?”.
       “Tergantung sikap kalian. Kalau kalian main keroyok, tentu aku akan membantu Nona itu. Tetapi kalau kalian berani satu lawan satu, aku hanya akan jadi saksi”.
       “Setan! Kau berani mengatur kami he?!”, teriak Bung Yeye, lalu, “kawan-kawan cepat bunuh orang ini. Biar aku yang menangkap gadis itu”.
       Aba-aba Bung Yeye tidak usah diulang dua kali. Bung Suho dan Bung Adam segera bergeser menghadapi orang yang baru datang, sementara Bung Yeye berbalik menghadapi Ppertiwi.
       “Bagus”, desis orang yang baru datang, “memang imbanganku dua dari kalian. Jadi cukup adil”.
       “Setan! Kau menghina kami!”, teriak Bung Adam. Dia langsung menerjang lawannya diikuti oleh Bung Suho. Di sebelah lain Pertiwi pun tidak mengulur-ulur waktu lagi. Setelah lawannya tinggal seorang, dia langsung menerjang Bung Yeye.
       Maka sejenak kemudian terjadilah pertarungan dalam dua lingkaran. Tingkat kemampuan Bung Yeye memang di atas kedua kawannya.  Pada serangan pertama Pertiwi, Bung Yeye dapat menghindari karena dia telah bersiaga penuh. Bahkan dia dapat membalas serangan gadis itu. Namun dengan gesit Pertiwi mengelakkan terjangan lawannya. Tetapi pada serangan-serangan berikutnya tampak jelas, Pertiwi memiliki kelebihan dari lawannya meski hanya selapis tipis. Berkat kemauan yang keras dan latihan tekun, dia memiliki kecepatan bergerak mengagumkan, membuat Bung Yeye sering kewalahan. Ditambah dengan ketenangan hatinya, serangan-serangannya demikian mantap. Sebab setelah beberapa saat bertarung, Pertiwi dapat menilai tandang lawannya tidak terlalu berat. Setiap serangan lawannya dapat dia hindari. Sebaliknya serangan-serangannya sendiri berkali-kali menyentuh tubuh lawannya yang kurang cepat menghindar. Kadang-kadang hanya menyerempet, namun tidak jarang menghantam telak, sehingga Bung Yeye harus menyeringai dengan mulut mendengus oleh rasa sakit yang menyengat tubuhnya.
       Di sebelah lain, Darmawan yang menghadapi dua orang tampak tidak mengalami kesulitan samasekali. Sebaliknya, kedua lawannyalah yang kewalahan. Maski banyak kesempatan untuk menyelesaikan lawan, namun Darmawan tidak melakukannya. Dia lebih banyak bertahan, karena sebagian perhatiannya dicurahkan kepada pertarungan Pertiwi. Bibir anak muda itu tersenyum ketika melihat tandang Pertiwi yang garang namun penuh perhitungan. Ternyata gadis itu sengaja memanfaatkan pertarungan tersebut sebagai arena untuk memperdalam kemampuannya. Itu terlihat dari serangan-serangannya yang tidak dilakukan sepenuh tenaga, tetapi cukup menyakitkan lawannya.
       Sebagai pelatihnya, Darmawan dapat menilai kekuatan langsung gadis itu. Dalam berkali-kali serangannya yang telak, hanya membuat tubuh lawan terhuyung-huyung. Padahal bila dilakukan sepenuh tenaga, tubuh lawannya akan terlempar jatuh. Justru dengan cara demikian, tenaga lawannya cepat terkuras, karena dipaksa mengerahkan segenap tenaganya untuk menghindari serangan-serangan yang menyakitkan tubuhnya.
       Tetapi setelah cukup lama bertarung dan kecepatan gerakan lawannya semakin menurun, Pertiwi merasa tidak ada lagi yang dapat dipelajari dari gerakan lawannya. Karena itu pada suatu saat, dia melakukan serangan beruntun. Kedua kepalannya bertubi-tubi menghantam wajah, dada, dan perut Bung Yeye, sehingga tubuh orang itu berkali-kali terdongak, terdorong mundur, dan terbungkuk dengan dengusan-dengusan keskitan keluar dari mulutnya yang memerah karena darah, baik dari bibirnya yang pecah, maupun dari kedua lubang hidungnya. Wajah itu telah menjadi sembam dan memar matang biru. Kemudian tubuh Bung Yeye terdorong keras ke belakang, dan jatuh terguling karena tidak dapat menahan keseimbangan tubuhnya.
       Pertiwi tidak mengejarnya. Dia berdiri mengangkang kaki beberapa langkah di depan lawan. Bung Yeye mengumpat-umpat kasar. Dia bangkit lagi dengan pandangan penuh dendam. Kemudian tiba-tiba dia mencabut golok di pinggangnaya.
       “Perempuan iblis, kubunuh kau!”, geramnya.
       Hati Pertiwi berdebar melihat golok ditangan lawannya itu. Dia tahu, dengan telah mencabut golok, berarti lawannya sudah melepaskan rencananya semula untuk menangkapnya hidup-hidup. Inilah pertarungan yang sebenarnya. Namun satu hal yang membesarkan hati gadis itu. Tenaga lawannya sudah jauh berkurang. Maka Pertiwi pun mencabut pipa besi dari pinggangnya.
       Dalam pada itu Darmawan yang melihat Bung Yeye menggunakan goloknya, merasa perlu mengawasi Pertiwi lebih khusus beberapa saat. Karena itu, ketika dua lawannya menyerang serempak dari dua arah, dia menjatuhkan tubuhnya tepat pada saat pukulan lawan hampir menyentuh tubuhnya. Bersamaan dengan itu kedua tangannya bergerak menangkap tengkuk dua lawannya, dan dengan sekali hentak kedua kepala lawannya ditumbukkan. Terdengar bunyi berdebuk keras disertai pekikan. Lalu tubuh Bung Suho dan Bung Adam ambruk di tanah. Mereka berguling-guling sambil kedua tangannya memegangi kepala dengan mulut mengerang-erang. Kemudian terdiam, pingsan.
       Saat itu Bung Yeye dan Pertiwi sudah mulai bertarung lagi. Tetapi ketika mendengar pekikan kedua lawannya, perhatian Bung Yeye agak lengah, sehingga dia terlambat menangkis serangan pipa Pertiwi. Tak ampun lagi, pipa besi Pertiwi menghantam pundaknya dengan telak. Beradunya pipa besi dengan tulang pundak membuat mulut Bung Yeye menyeringai oleh rasa sakit yang hampir tak tertahankan. Dalam keadaan demikian, Pertiwi tidak melepaskan kesempatan yang baik itu. Dia meneruskan serangannya, mengayunkan pipa besinya pada lengan Bung Yeye yang memegang golok. Kembali terdengar bunyi detakan beradunya tulang dan pipa besi. Rasa sakit luar biasa itu membuat golok Bung Yeye  lepas dari pegangannya tanpa dia kehendaki.
       Pertiwi menyisipkkan kembali pipa besinya ke pinggangnya. Kini dia menerjang tanpa senjata. Untuk kesekian kalinya, kedua kepalannya menggocoh wajah lawan yang sudah berlumuran darah itu. Terakhir kakinya terjulur menghantam dagu Bung Yeye yang sudah tidak dapat melawan samasekali, sehingga tubuhnya terlempar beberapa meter ke belakangdan ambruk di tanah. Sejenak tubuh itu menggeliat, namun kemudian diam.
       Pertiwi berdiri mematung memperhatikan tubuh lawannya.  Kemudian dia memandangi kedua belah telapak tangannya. Sikap gadis itu tidak lepas dari perhatian Darmawan yang tengah bekerja menyeret kedua lawannya ke pinggir jalan. Dia juga melihat gadis itu membalikkan tubuhnya melangkah menghampiri delman dengan kepala tunduk. Darmawan menyelesaikan pekerjaannya menyeret tubuh Bung Yeye, disatukan dengan tubuh kedua kawannya. Baru kemudian dia pun naik ke atas delman.
       Darmawan melihat Pertiwi duduk mmatung memandangi kegelapan malam. Rupanya dalam hati gadis tersebut tengah bergejolak perasaan tidak tenteram. Darmawan melingkarkan tangannya ke pinggang Pertiwi dan menariknya. Pertiwi menyandarkan kepalanya pada bahu Darmawn, sementara delman mulai bergerak melanjutkan perjalanan pulang mereka yang terhenti beberapa lamanya karena dihambat para pencegat tadi.
       “Wan, apakah orang itu mati?”, tanya Pertiwi tiba-tiba.
       “Tidak Nden. Mereka hanya pingsan. Mungkin dalam satu jam mereka sudah akan sadar lagi”, sahut Darmawan di telinga Pertiwi, “habis kenapa Nden?”.
       “Syukurlah. Pada saat terakhir ketika dia mengancam hendak membunuhku, kemarahanku tidak terkendali lagi. Aku baru sadar ketika melihat tubuhnya terbaring diam dengan wajah penuh berlumuran darah. Aku jadi bingung dan khawatir. Kukira aku telah membunuhnya”.
       “Saya mengerti Nden. Saya juga melihatanya. Ketika lawan tidak bersenjata, Nden dapat mengendalikan diri dengan baik. Bahkan saya lihat, Nden sengaja menggunakan kesempatan itu untuk menilai kemampuan sendiri. Tetapi ketika orang itu memegang senjata, nampaknya dalam hati Nden tumbuh kegelisahan, sehingga mengambil keputusan untuk menghentikan perkelahian secepatnya selagi ada kesempatan”.
       “Benar Wan. Melihat golok itu aku jadi ketakutan. Soalnya kemampuanku hanya selapis tipis di atas kemampuannya”.
       “Hal yang wajar Nden. Tetapi sesungguhnya dia sudah tidak terlalu berbahaya, karena tenaganya sudah terkuras banyak. Ancaman yang diucapkannya sebenarnya pertanda dari keputusasaan. Dia sudah tidak punya harapan memenangkan perkelahian. Dalam keadaan demikian, sesungguhnya Nden dapat memanfaatkan untuk menilai kemampuan berkelahi dengan senjata. Mungkin tandang lawan Nden akan menjadi kasar dan membabi buta. Tetapi dengan pikiran yang jernih, saya yakin, Nden akan mampu mengatasinya dan menguras tenaganya sampai habis”.
       “Hmm”. Pertiwi hanya bergumam. Darmawan meneruskan kata-katanya.
       “Tetapi dengan penyelesaian yang cepat tadi, nilai kemampuan Nden di matanya memang lebih tinggi dan membuatnya jera. Dia tidak akan berani lagi menghadapi Nden satu lawan satu”.
       “Hmm...karena itu dia akan menghadangku dengan orang lebih banyak. Bukan begitu maksudmu?”.
       “Itu satu kemungkinannya”, sahut Darmawan, “kemungkinan lainnya, mereka akan menggunakan orang berkemampuan lebih tinggi untuk menangkap Nden”
       “Kalau begitu aku harus memacu diri lagi meningkatkan kemampuan lebih tinggi”.
       “Ya, di samping tetap mengawasi kegiatan Den Angga. Saya yakin, setiap saat mereka akan melaporkan kegagalan usahanya mencegat Nden”.
       Pertiwi mengangguk tanpa berkata apa-apa lagi. Pembicaraan mereka pun berhenti sampai di situ. Sementara kuda delman yang ditumpanginya mencongklang dalam keheningan malam gelap memperdengarkan suara ketoplak berirama.
       Di belakang mereka, Bung Yeye dan dua kawannya mulai sadar kembali dari pingsannya. Dengan susah-payah karena merasakan sakit di sekujur tubuhnya, mereka bangkit terhuyung-huyung dengan mulut mengerang kesakitan.
       “Perempuan laknat”, umpat Bung Yeye sementara mereka melangkah tertatih-tatih saling papah menuju pulang. “Aku tidak akan puas sebelum dendamku terbalaskan”, sambungnya. 
       Kedua kawannya tidak menimpali umpatan itu. Mereka masih segan bicara selain mengeluarkan desahan rasa sakit. Tetapi dinginnya udara malam membantu mempercepat kembalinya kesegaran tubuh dan otak mereka, sehingga langkah-langkah mereka lebih cepat.
       “Kita sudah kehilangan kesempatan paling baik, gara-gara turut campurnya setan tak diknal itu. Dan aku tidak akan bisa membalasnya samasekali”, kata Bung Adam yang dijatuhkan Darmawan.
       “Sekalipun mengenalnya, kau tidak akan pernah bisa membalasnya Bung”, kata Bung Yeye, “karena itu kita hanya bisa melampiaskan sakit hati ini kepada perempuan liar itu”.
       “Tetapi setelah kejadian tadi, pasti kita akan susah menjebaknya lagi. Apa Bung Yeye sudah punya rencana lain?”.

--0-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar