Delapan
Mengalih Perhatian
“TENTU SAJA AKAN CURIGA jika kamu yang memintanya”, sahut Manaf.
“Habis siapa?”, tanya Karna.
“Menurutmu, siapa kawan prianya yang tidak sekolah hari ini dan sepaham dengannya?”.
“Si Tarman”.
“Nah, tunggu apa lagi?”.
“Hmm, baiklah”.
Percakapan itu terjadi dalam rombongan Pemuda Rakyat yang tengah istirahat sehabis pawai. Maka Karna dan Manaf pun berlalu meninggalkan rombongan itu.
“Aku tunggu hasilnya di rumah”, kata Manaf.
“Aku akan berusaha”, jawab Karna, dan mereka berpisah.
Adalah kebetulan, saat itu muncul delman Darmawan dari belokan jalan. Baik Pertiwi maupun Darmawan mengenal dua orang yang saling mengangkat tangan untuk berpisah itu. Karena yang satu pelajar di sekolahnaya, sedang yang satu lagi sudah tercatat dalam daftar orang yang dilaporkan.
Sekilas Karna melihat kepada Pertiwi, tetapi cepat berpaling lag meneruskan langkahnya. Manaf bersikap biasa sebagai orang asing, karena memang bukan pelajar. Dia justru memandang Pertiwi dengan lekat dan penuh kekaguman. Pertiwi pura-pura tidak melihatnya. Dia justru berpaling kepada Darmawan: “Itu si Manaf”, bisiknya.
“Ya Nden. Saya kira dia menghubungi si Karna untuk melakukan tugas yang diberikan kepadanya”.
Pertiwi tidak menyahut, karena saat itu delman berpapasan dengan orang yang dibicarakannya. Setelah lewat jauh, Darmawan berpaling ke belakang. Dia tidak melihat si Manaf, tetapi dikejauhan masih tampak si Karna yang mengikuti jalan lurus. Darmawan menghentikan delmannya.
“Nden, saya kira jarak ke rumah Marni...”.
“Aku tahu”, kata Pertiwi sebelum kata-kata Darmawan selesai sambil turun dari delman, “kalau kau tidak sempat menjemput pukul lima, aku akan pulang sendiri”.
“Saya kira tidak akan lama. Saya hanya ingin tahu, siapa yang akan dihubungi si Karna”, kata Darmawan sambil mengedut kendali dan memutar delmannya balik kembali ke arah datangnya tadi. Pertiwi meneruskan perjalanannya ke rumah Marni dengan berjalan kaki.
“Dari jauh Darmawan melihat Karna tiba di simpang empat. Pemuda itu berbelok, maka Darmawan pun mempercepat lari kudanya. Ketika tiba di simpang empat, dia masih sempat melihat Karna berbelok ke sebuah pekarangan. Karena itu dia melambatkan lari kudanya. Dia lewat di depan pekarangan rumah itu tepat ketika pintu rumah dibuka dari dalam. Seorang pemuda muncul dari dalam, Tarman. Tentu saja Darmawan mengenalnya, karena dia murid di sekolahnya. Tarman mengajak Karna masuk. Darmawan menjalankan masih delmannya. Setelah tidak terlihat dari rumah itu, dia memutar delmannya balik lagi.
Kini Darmawan mengarahkan delmannya ke rumah Manaf. Tetapi sejarak 20 meter dari rumah itu, dia menghentikan delmannya di bawah pohon rindang. Dia menekan topi pandannya dalam-dalam, lalu bersandar di tiang atap delman. Waktu pun berlalu.
Lama juga dia menunggu. Kemudian telinganya mendengar langkah-langkah kaki mendekat dari arah belakangnya. Orangnya lewat di samping delman, Karna. Dari balik topi pandannya Darmawan memperhatikan tanpa diam-diam. Sampai di depan rumah Manaf, Karna membelok masuk pekarangan.
Sekitar seperempat jam kemudian dari pekerangan muncul pemuda yang belum dikenal Darmawan. Pemuda itu berjalan ke arahnya. Ketika telah dekat, Darmawan memejamkan matanya seperti sedang tidur. Pemuda itu berdiri di sisi delman, dan tangannya mengguncang tubuh kusir.
“He Mang, Mang Kusir”, panggilnya.
Tubuh Darmawan terlonjak seperti terkejut. “Ap..eh ada apa Den?”, sahutnya gagap dan dia membetulkan letak topinya, “maaf Den, Mamang ketiduran. Habis tadi malam hampir tidak dapat tidur karena orang latihan reog di dekat rumah”.
“Aku tidak tanya itu. Yang aku tanyakan, apa Mamang mau dapat untung gede?”.
“Untung apa Den? Tentu saja mau”, sahut Kusir.
“Membawa barang ke luar kota”.
“Baik Den. Di mana barangnya?”.
“Bukan sekarang, tapi nanti malam”.
“Nanti malam? Mamang kira sekarang. Kalau nanti malam mah Mamang tidak berani Den. Mamang takut. Apalagi ke luar kota”.
“Kenapa takut? Kan ada aku. Nanti kubayar dua kali lipat dari harga biasa”.
“Tiga kali lipat juga Mamang tidak berani. Sekarang mah jaman werit Den. Jangankan ke luar kota, di dalam kota juga pikir-pikir dulu”, ujar Mang Kusir.
“Huh, dasar pengecut”, gerutu orang itu sambil berlalu ke arah datangnya tadi.
“Maaf Den, Mamang mah masih sayang nyawa”, kata Mang Kusir sambil mengedut kekang kudanya, “terimakasih Aden sudah membangunkan Mamang. Kalau tidak, Mamang bisa kemalaman”.
“Dasar penakut”, gerutunya lagi ketika delman lewat di sampingnya.
“Soalnya Mamang punya isteri tercinta Den. Mamang permisi dulu”, sahut Mang Kusir.
Ketika lewat di depan pekarangan rumah Manaf, dia melihat Manaf dan Karna tengah duduk di tepas terbuka. Telinga Darmawan masih mendengar pertanyaan Manaf.
“Bagaimana Dang? Apa dia mau?”.
“Penakut”, sahut yang ditanya, “kita cari yang lain saja”.
Kata-kata terakhir hampir tidak terdengar karena jaraknya sudah jauh. Namun informasi itu bagi Darmawan sudah cukup. Dia mempercepat lari kudanya karena waktu yang dijanjikan hampir tiba.
Darmawan menghentikan delmannya di tempat biasa kalau menjemput Pertiwi, yaitu di sudut pekarangan rumah Marni. Pintu rumah terbuka, dan Pertiwi keluar diantar Marni sampai pintu depan. Kawan-akawan lainnya sudah tidak ada, sudah pulang semua. Memang Pertiwi selalu pulang paling belakang, untuk menjaga rahasia Darmawan.
“Bagaimana Wan?”, tanya Pertiwi setelah delman berjalan agak jauh dari rumah Marni.
“Yang dihubungi si Karna adalah Tarman. Tapi saya tidak tahu rencana mereka. Yang jelas, gadis yang diculik mereka akan diangkut dengan delman”.
“Hmm, banyak juga keterangan yang kau peroleh. Rupanya si Manaf menawar delmanmu ya?”.
Darmawan mengangguk.
“Aku bisa membayangkan. Kau terkantuk-kantuk di atas delman di dekat rumah si Manaf”.
Darmawan tersenyum. “Bagaimana Nden dapat menebak dengan tepat?”, tanyanya.
“Apa susahnya. Kau mengikuti si Karna. Si Karna harus melapor hasil usahanya kepada si Manaf. Maka kau tinggal menunggu kedatangan si Karna di dekat rumah si Manaf. Yang tidak kau duga, si Manaf menawar delmanmu, dan kau menolak karena takut terbuka kedokmu”.
“Sedikit koreksi”, kata Darmawan.
“Yang mana?”.
“Yang saya katakan bukan takut terbuka kedok, tapi takut tidak bisa bertemu lagi isteri tercinta”.
“Nah mulai lagi”. Pertiwi mendumel, namun kehangatan menjalari perasaannya.
“Memang begitu yang saya katakan”.
“He, kenapa jalan ke sini?”, tanya Pertiwi ketika delman tidak berbelok ke jalan yang biasa.
“Nden dengar sendiri, bunyi tetabuhan mulai ramai lagi. Saya menghindari keributan itu. Sekalian melihat kalau-kalau ada informasi tambahan di rumah Tarman”.
Pertiwi tidak menukas lagi. Delman pun mencongklang terus. Jalan yang biasanya sepi, sore itu agak ramai oleh orang yang berbondong-bondong menuju alun-alun. Ketika hampir sampai di simpang empat, Darmawan menarik les kudanya, dan delman pun berhenti. Pertiwi yang hendak bertanya, tidak jadi, karena Darmawan menunjuk ke simpang empat. Berlawanan dengan arah orang banyak, tampak sepasang muda-mudi berbelok menjauh dari arah ke alun-alun.
“Nden, yang diincar si Manaf itu rupanya...”.
“Farah”, tukas Pertiwi cepat-cepat.
“Hmm, saya sekarang mengerti alasan yang dijejalkan si Tarman kepada Farah”.
“Ya. Si Tarman dan si Karna tidak masuk sekolah. Mereka pura-pura hendak mencatat pelajaran hari ini. Dengan menyanjung si Farah yang lebih pandai dari kawan-kawan lain, mereka minta bantuan untuk menyalin sekalian menjelaskan soal-soal aljabar”, kata Pertiwi.
“Sanjungan itulah yang melenakannya”, tambah Darmawan, “saya kira informasi ini sudah cukup. Yang harus diperhitungkan, di mana si Farah akan dicegat si Karna dan kawan-kawannya”.
“Kukira tadi siang kau sudah memperhitungkan hal itu”, kata Pertiwi.
“Ya Nden. Saya menduga, mereka akan mencegat di pertengahan jalan ke rumah si Manaf. Sebab saya melihat tempat yang cukup bagus untuk melaksanakan itu. Mari saya tunjukkan”.
Darmawan mengedut les kudanya lagi. Farah dan Tarman sudah tidak terlihat berbelok ke rumah Tarman. Darmawan membelokkan delmannya ke arah berlawanan dari yang ditempuh pasangan muda-mudi itu. Tidak terlalu jauh dari simpang empat, di satu sisi jalan ada belukar kecil dan diseberangnya deretan kebun penduduk. Dalam jarak setengah kilometer tidak ada rumah, kecuali dangau-dangau kecil dalam kebun. Tetapi pada malam hari dangau-dangau itu kosong, dalam keadaan gelap, tidak akan terlihat dari jalan. Sedangkan hutan kecil itu pada malam hari akan tampak cukup seram.
“Kita tidak tahu, siapa calon korban yang kedua”, kata Pertiwi.
“Benar. Tetapi kita sudah tahu ke mana dua korban itu akan di bawa. Karena itu kita harus bekerja sendiri-sendiri”.
“Tidak apa. Bukankah belakangan ini aku sudah sering bekerja sendiri?”.
“Tetapi saya minta Nden tetap berhati-hati, sebab mungkin Nden tidak menghadapi satu lawan”.
Pertiwi mengangguk. “Percayalah kepada muridmu Wan. Meski lawanku berkemampuan lebih rendah, aku tidak akan melupakan nasihatmu”, kata Pertiwi meyakinkan.
“Syukurlah. Yang Nden katakan itu sudah setengah modal bagi kemenangan”.
Beberapa lamanya mereka tidak bicara. Ketika melewati rumah Manaf, keadaan sepi. Tetapi di jalan banyak orang menuju alun-alun. Makin dekat ke alun-alun, suara hingar tetabuhan makin keras.
“Nampaknya aku harus berbohong kepada Ayah karena harus berangkat sebelum magrib. Aku akan menghatakan bukuku ketinggalan di rumah Marni”, kata Pertiwi ktika sampai di sudut alun-alun yang sudah dipenuhi orang, serta bunyi tetabuhan hingar-bingar.
“Apa boleh buat Nden. Sebab bohong Nden untuk menyelamatkan nyawa orang. Kita sudah kenal orang-orang tak bermoral itu. Kalau terlalu malam berangkat, meski nyawanya dapat diselamatkan, saya khawatir miliknya yang paling berharga tidak terselamatkan”, kata Darmawan.
--0--
“Jangan khawatir. Nanti aku yang akan minta maaf kepada ayahmu Farah. Ini tanggung sekali sih, hanya sedikit lagi”, sahut Tarman menenangkan Farah, sementara tangannya tetap mencatat.
“Tapi aku tidak pernah telat sampai gelap begini”.
“Justru karena belum pernah telat, tentu ayahmu akan memafkan. Aku akan berterus terang bahwa aku yang salah”.
Farah tidak berkata lagi. Tetapi kegelisahan di wajahnya tidak hilang. Dia mulai menyesal, mengapa tadi tidak menolak ajakan Tarman. Dia hampir menyangka, Tarman sengaja mengulur-ulur waktu melalui ketidakmengertiannya soal aljabar, sehingga harus berulangkali dijelaskan. Tetapi karena tidak ada alasan kuat, sangkaan itu dia buang kembali.
Keadaan di luar sudah semakin gelap, dan kegelisahan Farah makin memuncak. Namun akhirnya Tarman selesai juga mencatatnya. Cepat-cepat Farah memasukkan bukunya ke dalam tas, sementara Tarman masuk ke dalam untuk memberitahu ibunya. Ibunya muncul bersama Tarman.
“Ibu mohon maaf, karena anak Ibu telah membuat Nak Farah pulang telat. Biarlah dia mengantar dan minta maaf kepada ayah Nak Farah”, kata ibu Tarman.
Farah memaksakan diri tersenyum. “Tidak apa Ibu, saya permisi dulu”, sahutnya.
Ibu Tarman mengantar sampai di pintu. Begitu tiba di jalan, Farah melangkah cepat.
“Tidak perlu tergesa-gesa Farah. Tenang saja”, kata Tarman.
“Tetapi ini sudah terlalu malam. Aku takut”, sahut Farah. Tapi dia terpaksa memperlambat jalannya, karena Tarman tidak mengikuti langkah-langkah cepat Farah.
“Kenapa takut? Kan ada aku. Apa kau tidak percaya kepadaku?”.
Farah tidak menyahut. Hatinya benar-benara kesal dan gelisah. Tetapi dia tidak dapat memaksakan kehendaknya, karena memang dia harus menggantungkan diri pada lelaki itu. Dari kejauhan terdengar tetabuhan diselingi sorak-sorai sayup-sayup. Sesungguhnya jarak ke alun-alun itu cukup jauh, sehingga kalau siang hari mungkin suara itu tidak akan terdengar.
Tiba di simpang empat, Farah hendak berbelok ke arah datangnya tadi.
“Jalan sini saja. Bukankah kau ingin cepat sampai? Jalan sini lebih dekat”, ajak Tarman.
“Tetapi di sana ada hutan dan jarang ada rumah”, sahut Farah ragu-ragu.
“Apa kau tidak percaya juga kepadaku?”.
Farah menghela nafas. Dia benar-benar tidak bisa memilih. Dari arah yang berseberangan, tampak seseorang berpakaian hitam dan bertopi cetok berjalan mendatangi. Sosok yang tampak misterius itu membuat hati Farah berdebar-debar. Karena itu dia terpaksa ikut ajakan Tarman.
Ketika mencapai ujung hutan, Farah menengok ke belakang. Sosok hitam itu tak terlihat lagi, sehingga hatinya tenang kembali. Dia tidak menyadari kalau sosok hitam itu telah menjajari dirinya, tetapi pada jarak beberapa meter di dalam hutan yang gelap.
Ketika hampir mencapai pertengahan hutan, tidak terlalu jauh di depannya tampak dua sosok berpakaian gelap mendatangi.
“Ada orang Tarman”, bisik Farah.
“Biar saja. Paling-paling juga yang pulang dari alun-alun”, sahut Tarman.
Mendengar jawaban itu hati Farah agak tenang. Apalagi ketika dalam keremangan dia melihat, dua orang yang mendekat itu seperti sedang bercakap-cakap. Farah mencoba menajamkan penglihatannya. Hatinya bercekat ketika melihat dua orang iu mengenakan kain penutup seluruh kepala hingga ke leher. Tetapi keadaan sudah kasip karena jaraknya sudah sangat dekat.
Belum lagi rasa terkejutnya hilang, dua orang itu telah meloncat bersamaan. Farah memekik hampir bersamaan dengan suara berdebuknya tinju menghantam tubuh, dan suara Tarman mengaduh keras. Saat selanjutnya mulut Farah disumpal kain oleh penyerangnya, dan tubuhnya diseret ke dalam hutan. Si Tarman dan lawannya bangkit berdiri sambil menepuk-nepuk debu yang melekati pakaian mereka setelah jatuh bergulingan barusan.
“Kita robah rencana sedikit. Rugi kalau kita tidak merasainya dulu”, kata penyerangnya yang tidak lain dari si Karna. “Nah pakai tutup kepala ini supaya dia tidak mengenali kamu”, sambungnya sambil menyerahkan kupluk kepada si Tarman.
“Tetapi bukankah dia harus diserahkan utuh?”, tanya Tarman ragu-ragu.
“Aku yang tanggung jawab. Kita katakan saja tidak tahu-menahu kalau dia sudah bukan gadis lagi”.
“Lalu kapan dia akan diambil Bung Manaf?”. Tarman bertanya lagi.
“Sekarang dia sedang mengambil yang satunya. Paling cepat juga sejam lagi baru sampai di sini. Aku yakin, Bung Manaf tidak akan berani mengganggu keutuhan tangkapannya. Sebab dia bertanggung jawab kepada pimpinan. Sedang kita tidak punya tanggung jawab selain menyerahkan si Farah”.
Tarman mengangguk setuju. Dia langsung mengenakan kupluk pemberian Karna. Lalu keduanya bergegas mengikuti arah diseretnya tubuh Farah.
Keadaan gelap membuat Karna dan Tarman tidak bisa melihat jauh ke depan. Mereka hanya mengikuti bunyi gemeresak ranting-ranting yang ditimbulkan tubuh yang diseret. Setelah sekitar 20 meter, bunyi seretan tubuh berhenti. Tarman dan Karna terus menghampiri tempat berhentinya suara seretan di balik gerumbul semak. Mereka tegak di tempat yang cukup lapang memandang sesosok tubuh hitam yang berdiri pada jarak 2 meter. Tetapi ada yang ganjil pada sosok itu....bercetok.
“Kalian pemuda bejat yang tidak patut dikasihani”, desis sosok bercetok dalam suara tak jelas.
Begitu selesai kata-katanya, sosok itu meloncat menerjang Tarman dan Karna yang berdiri bengong. Tidak ampun lagi tinju beruntun sosok itu menghantam wajah mereka beberapa kali. Rupanya sosok itu tidak mau membuang-buang waktu. Gerakannya yang cepat membuat kedua lawannya tidak punya kesempatan melawan, tetapi juga tidak segera membuat kedua tubuh lawannya ambruk. Tubuh Tarman dan Karna terbungkuk dan terdongak beberapa kali seperti benda mati. Satu-satunya tanda mereka hidup adalah keluhan-keluhannya.
Karna dan Tarman terundur-undur sampai ke gerumbul semak yang lain. Terakhir, setelah wajah keduanya babak belur berlepotan darah, sosok itu meloncat tinggi, dan kedua kakinya menghantam bahu kedua lawannya dengan telak menimbulkan bunyi berdebuk. Tubuh Tarman dan Karna terpelanting beberapa meter ke belakang, lalu ambruk di tanah tidak bergerak lagi, pingsan.
Sejenak sosok itu memperhatikan kedua lawannya dengan kaki mengangkang. Tetapi kemudian dia membalikkan tubuh kembali ke arah jalan. Dia berhenti di dekat sebuah batang kayu yang menunjuk ke tengah hutan, dan masuk menyusup ke dalam semak.
Sosok itu melepaskan cetoknya menggantung di punggungnya. Ternyata kepalanya juga memakai kupluk seperti Karna dan Tarman. Sambil berjalan, tangannya menyibak-nyibakkan rumpun semak yang menimbulkan bunyi keresekan. Sampai kemudian terdengar suara teguran di depannya.
“He kenapa kalian lama sekali?”, tanya si penegur dari kegelapan.
Sosok itu tidak menjawab, tapi terus menghampiri. Di tempat agak lapang tampak seseorang tengah berjongkok di depan tubuh terlentang meronta-ronta dengan tangan-kaki terikat.
“Kalian masing-masing harus memegang sebelah tangannya. Kita gantian, aku yang lebih dulu”, kata orang itu tanpa menengok.
Sosok hitam itu kembali mengenakan cetoknya sambil mendekat, tegak di depan orang berjongkok itu diantarai tubuh Farah yang tergolek. Rupanya orang berjongkok itu melihat sesuatu yang agak lain pada sepasang kaki yang tegak di depannya. Dia menengadahkan kepala untuk meyakinkan, tetapi sebelah kaki didepannya terayun menghantam wajahnya, sehingga tubuh orang itu terlempar beberapa meter ke belakang dengan mengaduh keras. Sosok hitam itu melangkahi tubuh Farah, menghampiri orang yang ditendangnya.
“Siapa kau?”, tanya orang yang ditendangnya sambil meloncat bangkit.
Sosok misterius itu tidak menjawab.
“Setan! Kau apakan kedua temanku?!”, bentaknya lagi.
“Kubunuh”, sahut sosok hitam dengan suara serak tak jelas.
Mendengar jawaban itu, lawannya langsung menerjang. Tetapi sosok hitam itu menangkisnya, dan salah satu kakinya menyapu kaki lawannya, sehingga tubuh orang itu terpelanting ambruk lagi di tanah. Namun ternyata dia gesit. Dia menggeliat berdiri lagi memasang kuda-kuda.
Sejenak mereka saling mengawasi. Si penculik meloncat menerjang lagi dengan juluran kaki yang deras ke arah leher lawan. Bersamaan dengan itu, lawannya memutar tubuh sambil menjulurkan kakinya pula ke arah tubuh si penculik yang sedang meluncur. Hentakan kaki sosok hitam itu tepat menghantam perut si penculik. Dengan suara ‘huk’ tubuhnya terpelanting ke samping dan terbanting di tanah.
Kini dia bangkit dengan susah-payah sambil memegangi perutnya. Sementara si sosok hitam telah berada di depannya lagi. Dia tidak menggunakan kakinya lagi, tetapi kepalan tangannya menggocoh wajah si penculik. Pukulan beruntun itu membuat kepala lawannya tersentak-sentak ke belakang, dan tubuhnya terundur-undur sambil terhuyung-huyung. Lalu gocohan tangannya diganti dengan tendngan-tendangan pada leher dan rahang lawan sambil memutar tubuh, dan tubuh si penculik terlontar ke belakang menabrak pohon, melorot turun sampai terduduk dengan kepala terkulai, dan terguling di atas akar yang menonjol keluar dari tanah, pingsan. Sosok bercetok berbalik menghampiri Farah. Mula-mula membuka ikatan kaki-tangannya, dan terakhir membuka sumpal mulutnya.
“Terimakasih Bapak”, ucap Farah dalam sedunya.
Si sosok hitam tidak menyahut. Dia bangkit berdiri diikuti Farah. Sosok hitam itu mendorong punggung Farah sebagai isyarat agar berjalan. Kebisuan dan kekakuan sikap sosok itu menimbulkan rasa seram di hati Farah. Apalagi ketika membayangkan tindakannya yang tegas keras terhadap lawannya yang lebih mirip telengas. Karena itu dengan hati kecut Farah mengikuti isyaratnya. Dia merasa telah lepas dari nasib yang sangat ditakutinya, tetapi juga ngeri pada nasib yang bakal menimpanya.
Dengan tersaruk-saruk karena pekatnya malam, akhirnya mereka keluar dari hutan dan tiba di jalan. Farah memungut tasnya yang tadi terlepas ketika ditangkap si penculik. Pikiran gadis itu benar-benar beku oleh sikap sosok misterius penolongnya. Dia hanya bisa menuruti ketika punggungnya didorong supaya berjalan lagi.
Baru belasan langkah berjalan, dari arah depan tampak seseorang berpakaian hitam pula berjalan ke arah mereka dengan langkah cepat. Hati Farah berdebar lagi. Ada keinginan hendak minta tolong, tetapi dia tidak tahu bagaimana caranya. Jauh di belakang orang yang mendekat itu terdengar bunyi ketoplak kuda mendatangi. Farah mencoba memeras otaknya. Tapi sebelum menemukan pemecahan, pendatang itu telah tiba didepannya dan berhenti dalam jarak 3 meter. Si sosok misterius memegang pundak Farah agar berhenti. Kembali Farah terkesiap. Orang yang baru datang itu juga ternyata memakai kupluk.
“Cegat delman itu, biar gadis ini aku yang menjaga”, ujar orang yang baru datang.
Mengalami peristiwa mengejutkan yang beruntun itu otak Farah benar-benar jadi pening. Tanpa dikehendaki kakinya terasa lemas, dan dia jatuh terduduk di tanah. Hanya matanya yang melihat gerak-gerik kedua orang misterius itu. Orang bercetok melangkah agak ke tengah jalan sambil melepaskan cetoknya tergantung di punggung, menanti datangnya delman. Sejenak kemudian delman pun muncul.
Setelah cukup dekat, si orang misterius mengangkat tangan memberi isyarat agar delman berhenti. Ternyata kusir delman itu menurut, berhenti dalam jarak sekitar lima meter.
“Beres pekerjaanmu Bung?”, tanya kusir delman sambil turun. Lalu kepada kawannya: “Bawa karungnya Danu”.
Orang yang duduk di belakang delman turun sambil menjinjing karung goni besar dan keduanya menghampiri Farah. Tetapi begitu berpapasan dengan si sosok misterius, langkah mereka tidak laju, karena tiba-tiba wajah mereka masing-masing dihantam satu pukulan tinju. Tentu saja kedua orang itu terkejut dengan mulut mengaduh. Sebelum menyadari betul apa yang sebenarnya terjadi, kembali leher mereka dihantam tendangan keras membuat keduanya terjengkang beberapa langkah ke belakang.
Sosok misterius itu tidak meneruskan serangannya. Dia menanti kedua orang itu bangun kembali. Sementara kawannya yang menyuruh mencegat delman, tidak bergerak berdiri di dekat Farah.
“Bangsat! Siapa kau?”, bentak si kusir delman sambil bangkit berdiri.
Orang misterius itu tidak menjawab. Sebaliknya tangan kirinya menggapai cetok dan dikenakan lagi di kepalanya. Lawannya yang telah berdiri bersiap sambil bergeser menjauhi kawannya yang baru bangkit, sampai akhirnya orang misterius itu berada di tengah di antara dua lawannya.
“Terjang!”, tiba-tiba si kusir memberi aba-aba sambil tubuhnya meloncat.
Mendapat serangan dari dua arah, si orang misterius menghindar ke samping sambil membalas serangan si kusir. Karena perhatiannya terpusat pada yang pertama, dia kurang cepat menghindari serangan lawan kedua. Mulutnya berdesah oleh tendangan yang menghantam lambungnya. Maka dia memutar tubuh dan menyapukan kakinya kepada lawan kedua. Serangan refleks itu cukup telak menghantam lawannya yang terdorong mundur.
Dia tahu, lawannya yang pertama tidak tinggal diam. Karena itu tubuhnya kembali berputar dan tangannya menangkis tinju lawan yang meluncur ke rahangnya. Kembali dia tidak dapat menghindar sepenuhnya serangan itu, sehingga mengenai bahunya, namun tinjunya juga menghantam pelipis lawan.
Pertarungan itu cukup seru. Serangan bergantian dari dua lawannya banyak yang tidak terhindari sosok misterius itu, sehingga berkali-kali mulutnya berdesis. Namun serangan-serangannya sendiri telah merepotkan kedua lawannya.
Bagi Farah yang tidak mengerti tata berkelahi, sosok misterius itu tampak keteter. Timbul rasa simpati dihatinya. Dia melirik kepada orang misterius di dekatnya. Tapi yang diliriknya diam mematung dengan dua tangannya bersilang dada, seolah tengah menonton permainan yang mengasyikkan. Hanya sepasang matanya yang bergerak-gerak mengikuti geseran pertarungan itu.
Farah benar-benar tidak mengerti sikap orang-orang misterius itu. Ada keinginan minta orang itu membantu kawannya. Tetapi hatinya bimbang oleh sikap kaku si orang misterius, sehingga mulutnya tetap terkunci. Kembali matanya mengikuti pertarungan. Kini dia melihat sedikit perubahan. Gerakan sosok misterius itu tampak lebih cepat. Berkali-kali serangan kedua lawannya dapat dihindari. Hanya satu-dua kali menyentuh tubuhnya. Sebaliknya serangan sosok misterius itu lebih banyak mengenai sasarannya dengan telak.
Perubahan gerakan sosok misterius mulai merepotkan dua lawannya. Mereka tidak bisa menyerang dari dua arah lagi, tetapi hanya dari arah depan. Saat itulah sosok misterius mulai menggunakan lagi pukulan beruntunnya ke wajah kedua lawannya. Lalu dia menyapu kaki satu lawannya sampai terjungkal. Kesempatan itu digunakan mendera lawan lainnya. Tinjunya menggocoh wajah lawan yang terus terundur-undur. Lalu dia memutar tubuh dan menghantamkan kakinya ke leher lawan dengan telak.
Tanpa melihat hasil tendangannya dia berbalik menghadapi yang pertama yang telah bangkit lagi. Kembali tangan dan kakinya beraksi bergantaian menghantam perut, dada, leher, dan wajah lawan. Seperti tadi, kali ini pun dia mengakhiri serangannya dengan tendangan telak pada perutnya. Suara menyenak keluar dari kerongkongan lawannya, dan tubuhnya terpelanting ambruk di tanah tak bergerak lagi. Rupanya tendangan itu telah menyumbat jalan nafasnya.
Dia meloncat pada lawannya yang lain yang tengah menggeliat bangkit dengan mengerang-erang. Hanya satu tendangan menghantam rusuknya, tubuh orang itupun terguling lagi, pingsan.
Setelah pertarungan berakhir, orang yang berdiri di dekat Farah menghampiri delman. Farah tidak tahu apa yang dilakukananya. Yang jelas ketika kembali, dia telah menjinjing karung kosong besar dan seutas tambang. Dia menghampiri salah satu tubuh yang tergeletak dan mengikat kedua tangan dan kakinya disatukan ke dada, sehingga tubuh itu meringkuk. Lalu dimasukkan ke dalam karung, dan karungnya diikat sisa tambang pengikat tubuhnya. Setelah selesai, karung itu diseret ke pinggir jalan.
Demikian pula yang dilakukan pada orang kedua. Karung yang tadinya akan dipakai membungkus Farah, telah berganti isi dengan orang yang akan membungkusnya. Selama pekerjaan itu berlangsung, sosok misterius yang telah melakukan pertarungan tadi hanya mengawasi di tempatnya. Akhirnya orang itu menghampiri Farah.
“Mari”, ajaknya sambil menarik lengan Farah agar berdiri, dan mendorongnya ke delman.
Untuk kesekian kalinya Farah terkejut ketika menaiki delman. Sebab di dalam delman meringkuk sesosok tubuh gadis dalam keadaan terikat, persis seperti meringkuknya kedua orang tadi. Mulut gadis itu disumpal kain, sehingga tidak bisa mengeluarkan suara. Hanya matanya yang bergerak-gerak.
“Buka ikatan dan sumpal mulutnya”, suruh orang itu kepada Farah sambil duduk di tempat kusir. Sementara sosok miserius bercetok telah duduk di samping kusir.
Ikatan itu cukup kuat, sehingga Farah memerlukan waktu cukup lama membukanya, sementara delman telah bergerak berputar balik ke arah datangnya tadi. Begitu ikatan dan sumpal mulutnya lepas, gadis itu merangkul Farah sambil menangis.
“Farah”, katanya dalam suara mengisak.
“Titin”, kata Farah pula, dan kedua gadis itu menangis sambil berangkulan.
Bunyi genderang di alun-alun terdengar memencar. Rupanya rapat telah bubaran, dan rombongan-rombongan mulai pulang ke arah datangnya masing-masing. Delman yang membawa Farah dan Titin pun jalannya dipercepat. Rupanya kusir delman telah mengetahui rumah kedua gadis itu. Karena tanpa bertanya samasekali, delman berhenti, pertama di depan rumah Titin. Dengan tergesa-gesa Titin turun. Tetapi sebelum berlari masuk halaman, dia sempat mengucapkan terimakasih yang tidak pernah disahuti kedua orang misterius itu.
Delman baru bergerak lagi ketika pintu rumah Titin dibuka dari dalam dan ayah Titin tampak di ambang pintu. Gadis itu langsung merangkul ayahnya sambil menangis. Begitu pula ketika tiba di depan rumah Farah, delman berhenti. Seperti Titin, Farah pun menghambur masuk pekarangan rumahnya. Tetapi tidak perlu menunggu dibukakan pintu, karena kedua orangtua Farah tengah menunggu di teras. Begitu melihat Farah datang, Ibunya berlari menyambut, dan mereka saling rangkul.
Setelah delman berjalan agak jauh, Pertiwi dan Darmawan membuka tutup kepalanya, tetapi Pertiwi mengenakan lagi cetoknya. Di sebuah persimpangan keduanya turun dari delman dan meninggalkannya begitu saja. Dari sana mereka berjalan kaki ke tempat penitipan delman Darmawan. Dalam perjalanan pulang di atas delmannya sendiri baru mereka bercakap-cakap.
“Nampaknya Nden lebih cepat menyelesaikan penculik Farah”, kata Darmawan.
“Aku menghadapi tiga orang. Karena itu tidak berani ayal-ayalan. Pertama kupancing si Tarman dan si Karna, dan aku tidak memberi kesempatan mereka melawanku, sebab mengkhawatirkan si Farah yang di bawa ke arah lain”.
“Tentu yang bernama Danu seperti disebutkan si Manaf tadi”, kata Darmawan.
“Ya. Begitu pula dengan si Danu, aku tidak memberi kesempatan. Aku bermaksud membawa si Farah langsung pulang. Tak kukira kau datang ke tempat itu pula”.
“Karena itu saya memberitahu kedatangan delman itu. Saya khawatir Nden tidak mengenali saya”.
“Memang kalau kau tidak bicara kukira aku akan menyangka orang lain. Tapi bagaimana kau tahu delman itu dipakai mengangkut si Titin?”, tanya Pertiwi.
“Hanya kebetulan”, sahut Darmawan, “tadinya saya bermaksud langsung ke Desa Pasawahan. Tapi tiba-tiba ingat kedua calon korban akan dibawa dengan delman. Karena itu saya berbelok ke rumah si Manaf untuk melihat kalau-kalau dia belum berangkat dari rumahnya. Ketika tiba di dekat rumah Titin saya melihat delman tanpa kusir. Saya curiga. Ternyata dugaan saya benar. Rupanya si Manaf dan si Undang menculik Titin sepulang latihan drum band. Jarak tempat latihan ke rumah Titin tidak terlalu jauh, dan hari belum begitu malam, sehingga Titin pulang sendiri. Saya menduga, mereka akan langsung menjemput calon korban incaran si Karna. Maka saya mendahului. Saya sengaja berlari tidak terlalu cepat, untuk memastikan arah yang mereka tempuh. Bunyi toplak kuda adalah petunjuknya”.
Mereka menghentikan percakapan karena dari arah depan datang rombongan yang pulang dari alun-alun dengan menyalakan obor-obor bambu. Keadaan ribut, karena mereka berjalan sambil meneriakkan yel-yel partai dan memukul tetabuhan. Untunglah Pertiwi mengenakan cetok, sehingga tidak ada yang menyangka dia seorang gadis. Setelah rombongan lewat, mereka meneruskan percakapannya.
“Tentang rencana mereka, ternyata dugaanmu benar Wan”, kata Pertiwi.
“Rencana yang mana?”.
“Kalau kita melakukan pencegatan di Desa Pasawahan, celakalah nasib si Farah. Mereka bermaksud merusaknya dulu di hutan itu sebelum diserahkan kepada si Manaf”.
--0--
“Orang yang menyeretku sendiri yang mengatakan rencana itu kepadaku sampai aku menggigil”, kata Farah yang dikerumuni kawan-kawan sekelasnya. Wajahnya masih pucat, sehingga Susi tidak punya selera untuk berolok-olok. “Disaat putus asa itulah muncul si orang misterius”, sambungnya.
“Kenapa kau sebut misterius?”, tanya Marni.
“Karena sikap dan pembawaannya menimbulkan rasa seram”, sahut Farah, “seingatku, selama beberapa jam hanya satu kata yang keluar dari mulutnya ketika penculikku menanyakan dua temannya”.
“Apa katanya?”, tanya Maryanti.
“Kubunuh”.
“Ih, serem betul”, desis Henni.
“Suaranya dingin tanpa perasaan. Di tempat gelap dan sunyi itu aku seperti menghadapi makhluk pencabut nyawa. Tanpa berkata lagi dia menggocoh penculikku. Aku tidak tahu, apa penculikku juga terpengaruh sikapnya atau tidak. Yang jelas, dia seperti benda mati tak punya daya. Aku baru benar-benar lega setelah berada di halaman rumah. Bahkan aku tidak percaya dia mau melepaskan diriku”.
“Apa dia pernah menyakitimu?”, tanya Pertiwi.
“Samasekali tidak. Dengan sentuhan tangannya di punggung saja, hatiku sudah sangat kecut”.
“Rupanya kau terpengaruh penampilan. Kau tidak curiga apalagi takut kepada si Tarman karena dia kawanmu dan penampilannya tidak menakutkan”.
“Tetapi si Tarman juga diserang. Aku mendengar dia dipukul dan memekik lalu tubuhnya ambruk. Aku tidak tahu bagaimana nasibnya. Aku kasihan kepadanya. Bagaimana aku bisa curiga?”.
“Kalau kau tidak terpengaruh penampilan, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan”, ujar Pertiwi. “Setelah menjelaskan aljabar, kau bersedia meminjamkan buku catatanmu. Tetapi dengan berbagai alasan, dia tidak menerima kebaikanmu, sebaliknya dia tetap menahanmu, bahkan ketika kau hendak pulang sendiri karena masih siang. Kau kesal karena dia mencatat ayal-ayalan. Coba kau bayangkan kembali”.
Pertiwi berhenti sejenak. Lalu lanjutnya: “Ketika kau mengajak ke jalan yang ramai, dia memaksa lewat hutan dengan alasan lebih dekat. Padahal jalan itu justru lebih jauh. Tanpa pikir lagi kau mengikuti ajakannya karena takut si orang misterius. Kalau dia orang jahat, justru lebih mudah melakukannya di jalan itu, bukan di jalan ramai. Artinya, kau lebih percaya penampilan si Tarman dibanding rasa takut kepada orang misterius itu. Benar tidak?”.
Farah terpaksa mengiyakan, karena yang dikatakan Pertiwi adalah sebenarnya. Pertiwi melanjutkan lagi: “Kau mengatakan penculikmu menanyakan dua kawannya kepada si orang misterius. Padahal katamu yang menyergap kalian hanya dua orang. Lalu siapa orang ketiga yang ditanyakannya? Apa tiga alasan itu belum cukup untuk bukti adanya kerjasama di antara mereka?”.
Farah terpaku beberapa lamanya, sementara Pertiwi menambahkan: “Sosok misterius itu orang baik. Jika si Tarman mendapat kesulitan, tentu akan ditolong olehnya. Bukankah penculikmu harus menunggu lama kedatangan dua kawannya? Tetapi kalau dia bekerja sama dengan si penculik, kau pasti akan melihat dia babak belur oleh tangan si orang misterius. Ini dapat kau buktikan sepulang sekolah nanti, atau siapa saja yang ingin membuktikan kebenaran dugaanku”.
“Biar aku yang akan membuktikannya. Kebetulan rumahku lebih jauh dan sejurusan dengan rumah si Tarman. Aku akan pura-pura menanyakan kenapa hari ini dia tidak sekolah”, kata Maman.
“Sekalian lihat keadaan si Karna”, kata Pertiwi, “kalau terbukti, aku harap kau jangan bergaul lagi dengannya Farah. Orang yang suka mengumpankan kawan ke mulut buaya begitu bukan kawan tapi lawan berbahaya. Dia akan menohok kawan seiring di saat lengah. Aku tidak ingin kawan-kawanku jadi santapan serigala berbulu domba. Kau hampir dimakannya. Jadikan sebagai pengalaman berharga”.
“Kau hebat Wiwi. Nampaknya kau begitu yakin, seolah orang misterius itu kau sendiri”, kata Dodi.
“Mana mungkin aku jadi orang misterius tanpa punya kemampuan berkelahi”, sahut Pertiwi, “tetapi jika nanti terbukti, sudah cukup untuk menjauhi mereka selamanya. Namun aku tidak mau memaksakan kehendak. Terserah padamu Farah. Aku sekedar mengingatkan”.
“Tidak Wiwi. Aku sependapat. Jika besok terbukti perkiraanmu, meski tidak berani berterus terang kepadanya, aku tidak dapat memaafkan perbuatannya itu”.
“Itulah kelemahanmu Farah”, timbrung Maryanti, “kau tahu jarak melalui pinggir hutan itu lebih jauh, tapi kau tidak berani mengatakan terus terang”.
“Suatu pengalaman pahit buatku”. Farah mengakui, “mudah-mudahan tidak kuulangi lagi”.
“Bila kita lihat dari persiapannya, terutama pengangkutan calon korban, aku menduga merupakan rencana kelompok besar”, kata Pertiwi, lalu: “Sebab pengangkutan dengan karung itu menunjukkan calon korban akan dibawa jauh, bukan hanya untuk kepentingan penculiknya yang lima orang. Artinya, para penculik itu hanya suruhan orang lain. Benar tidak?”.
“He benar sekali Wiwi”, seru Nasrul.
“Kalau begitu, apa pendapatmu Nas?”.
“Kita harus sebarluaskan agar gadis-gadis tidak ada yang keluar malam”. Dodi mendahului.
“Benar”, timbrung Darmawan, “kukira sebaiknya kita laporkan kepada Pak Direktur. Selain semua murid sekolah kita mendapat peringatan, juga beliau tentu akan memperingatkan sekolah lainnya”.
“Langkah yang sangat tepat anak-anak”, ujar seseorang dari belakang kerumunan.
Darmawan dan kawan-kawannya berpaling serempak. Mereka demikian asyik berdiskusi, sehingga tidak mengetahui kalau beberapa guru mereka hadir diam-diam ikut mendengarkan cerita Farah dan Titin yang diselamatkan orang misterius.
--0--
“Itulah yang kudengar. Lalu semua guru kelas mengumumkan”, kata Dora mengakhiri laporannya.
“Gila anak-anak itu. Mereka telah memotong rencana kita”, kata Bung Saman.
“Bukan hanya memotong rencana, tapi bisa merusak nama Partai. Karena itu kukira kita harus menghentikannya”, tukas Mang Sarju dengan kesal.
“Kenapa merusak nama Partai?”, tanya Bung Suho.
“Hmm besok atau lusa, orang akan tahu rencana penculikan itu dilakukan anggota Pemuda Rakyat”.
Percakapan itu terjadi malam hari di pondok kebun belakang Raden Angga. Jumlah yang hadir dalam pertemuan cukup banyak, sehingga tepas pondok yang cukup luas itu telah penuh, karena mereka menyambut dua orang tamu yang baru datang, Bung Miin dan Bung Ari.
“Tadinya kami bermaksud menyenangkan Bung berdua dengan sebaik-baiknya”, lanjut Mang Sarju, “tetapi kegagalan kemarin malam membuat rencana jadi berantakan. Sungguh memalukan, lima orang sampai kalah oleh satu orang”.
“Lima kalah oleh satu orang?”, tanya Bung Miin terkejut, “berapa tinggi sih kemampuannya?”.
“Sebenaranya tidak langsung lima lawan satu. Orang itu sangat licik. Walau kepandaiannya cukup tinggi, kalau dibandingkan dengan Bung kukira masih jauh di bawah”.
“Hmm, aku jadi ingin menjajal kemampuannya”, gumam Bung Miin.
“Bung jangan hanya menjajal, tapi harus membunuhnya. Sebab dari beberapa peristiwa yang terjadi, aku hampir menyimpulkan pasti, dia setan laknat yang telah lama membayangi gerakan terselubung kami. Dia tahu siapa kita, tetapi kita tidak tahu siapa dia. Aku benar-benar benci kepadanya. Kalau tidak segera ditemukan, dia bisa merusak rencana besar kita”, kata Mang Sarju dengan geram.
“Apa mungkin dia telah mengetahui pos-pos kegiatan Bung di daerah ini?”, tanya Bung Ari.
Mang Sarju menggeleng. “Aku tidak tahu. Tetapi kukira tidak. Yang hampir pasti, punya hubungan dengan puteri sulung Camat. Sebab kegagalan-kegagalan yang terjadi, langsung atau tidak langsung, hampir selalu berkaitan dengan gadis itu. Aku menduga dia guru silat gadis itu”.
“Guru?”, tanya Bung Miin.
“Maksudku pengajar. Sebab setahuku, di daerah ini tidak ada guru silat. Memang ada beberapa orang berkemampuan silat, tetapi bukan dari perguruan seperti Bung, melainkan silat keluarga”.
“Hmm kalau begitu, salah satu jalan paling mudah untuk memancing kehadirannya adalah melalui muridnya”, gumam Bung Miin lagi.
“Itu telah kami coba melalui srikandi kita ini”, kata Bung Yeye sambil menunjuk Dora, “tapi gagal, dan sekarang kukira kita akan sulit menipunya lagi”.
“Barangkali aku punya jalan”. Tiba-tiba Raden Angga menimbrung, “tetapi perluk waktu beberapa hari. Demi Partai, biarlah kukorbankan pacarku”.
“Siapa pacar Bung Angga itu?”, tanya Bung Miin.
“Puteri bungsu Camat. Aku akan membawa dia ke Pasirpanjang. Nantinya akan jadi kawan Dora”.
“Bagus. Pengorbanan Bung Angga akan dicatat dengan tinta mas oleh Partai”, seru Mang Sarju dengan gembira, “kali ini kita pasti berhasil, sehingga dalam rundingan langkah babak penentuan nanti, kita akan ditemani tiga kuda pacu yang benar-benar segar dan memuaskan”.
“Ya, kita tidak perlu melakukan penculikan lagi yang bisa merugikan nama Partai”, kata Bung Ari.
Semua yang hadir mengangguk-anggukkan kepala tanda setuju.
“Aku minta Bung Angga dapat mengusahakan tidak terlalu lama. Karena rapat kerja kita hanya akan berlangsung sepuluh hari. Aku harus segera pulang lagi, karena masih banyak tugas final yang harus dikerjakan di sana”, kata Bung Miin.
--0--
“Tidak akan lama, hanya dua hari”, sahut Juragan Danu kepada dua anaknya ketika sarapan pagi di meja makan, “paling telat lusa siang sudah kembali. Dan kau Wiwi, jaga adikmu agar tidak bepergian sehabis magrib. Ayah sudah menerima berita penculikan kawan sekolahmu”.
“Baik Ayah”, sahut Pertiwi.
“Nah, Ayah pergi dulu”, kata Juragan Danu sambil bangkit dari duduknya. Lalu: “O iya, apa kuda Ayah sudah disiapkan Mang Darma?”.
“Sudah sejak tadi Ayah”.
“Hmm, Ayah pergi dulu”, kata Juragan Danu.
“Ya Ayah”, kata Pertiwi dan Purwanti serempak.
Setelah Juragan Danu berlalu, Pertiwi pergi ke kamarnya untuk membereskan buku. Purwanti langsung ke belakang kr pondok Mang Darma, karena sejak sebelum makan tadi dia sudah membawa tasnya ke meja makan. Mang Darma tampak sedang mengusap-usap kuda delmannya.
“Mang Darma, nanti siang kau siapkan kudaku. Aku akan jalan-jalan ke rumah teman di luar kota. Sampaikan pesanku kepada Kak Angga, aku menunggu di simpang empat pukul tiga”.
“O, yang Emang antar kemarin itu surat minta diantar jalan-jalan?”.
“Heeh”.
“Kenapa sekarang tidak pakai surat?”.
“Kan sudah tahu. Dia hanya menunggu kepastiannya saja. Jangan lupa, aku menunggu jam tiga”.
“Baik Nden. Habis mengantar Nden berdua, akan Emang sampaikan langsung”, sahut Mang Darma.
Purwanti tidak bicara lagi, karena dari dapur muncul Pertiwi. Sejenak kemudian delman bergerak.
“Kak Wiwi, bukankah hari ini Kak Wiwi belajar bersama?”, tanya Purwanti di perjalanan.
”Ya, kenapa?”.
“Setelah mengantar Kak Wiwi nanti, aku minta Mang Darma mengantarku ke rumah teman”.
“Ya, tidak apa. Biar aku pulang jalan kaki saja”, ujar Pertiwi.
“Aku tidak akan lama. Aku hanya perlu sampai pukul 3 atau pukul 4. Bukankah Kak Wiwi biasa pulang pukul lima?”.
“Jangan terhalang olehku. Asal jangan sampai gelap. Bukankah Ayah telah memesan begitu?”.
“Ya. Tetapi memang keperluanku tidak akan lama”.
Pertiwi mengangguk tanpa menyahut lagi, dan delman pun terus melaju menuju sekolah Purwanti. Setelah Purwanti turun barulah Pertiwi bercakap-cakap lagi dengan Darmawan.
“Sekarang Nden Wanti benar-benar sudah pandai”, kata Darmawan seperti kepada dirinya sendiri.
“Ya, pandai berbohong”, sahut Pertiwi.
“Nden juga”, kata Darmawan sambil tersenyum.
“Benar. Kami sama-sama tukang bohong”, sahut Pertiwi tanpa tersenyum.
“Nden marah ya”.
Pertiwi menggeleng. “Tidak. Aku benar-benar mengaku salah. Dan aku tahu persis mulainya, yaitu sejak berkawan denganmu”.
“Artinya, sayalah yang membuat Nden jadi tukang bohong”.
“Sudahlah. Aku sedang tidak punya selera bergurau”, kata Pertiwi memutuskan. Lalu lanjutnya, “aku mulai merasa, beban kita makin berat. Ternyata si Angga dan antek-anteknya sudah mampu mengatur langkah-langkah Ayah. Bukankah kepergian Ayah hari ini tidak direncanakan Ayah, tetapi karena diatur oleh si Angga?”.
“Apa yang telah dilakukan Den Angga?”, tanya Darmawan.
“Menurut Ayah, ada jalan longsor cukup parah. Kuwu minta bantuan dari Kecamatan, dan Ayah diminta hadir menyaksikan perbaikannya, sehingga harus menginap semalam di sana”.
“Bukan main, demi mencapai tujuan, mereka tega merusak alam lingkungan”, desis Darmawan.
“Mending kalau tujuan yang akan dicapainya sesuatu yang besar. Sedangkan tujuan mereka hanya untuk menjebakmu dan menangkap aku”.
“Satu contoh kecil dari kotornya dunia politik Nden. Apalagi jika mereka tahu bahwa kita telah mengetahui banyak soal rencana mereka”.
“Lalu bagaimana rencana kita?”, tanya Pertiwi.
“Hari ini terpaksa Nden tidak ikut belajar bersama, karena Nden Wanti dan Den Angga akan berangkat ke Pasirpanjang pukul tiga nanti”, sahut Darmawan.
“Aku agak takut Wan. Dari pembicaraan mereka, yang bernama Bung Miin itu punya kepandaian silat tinggi. Dia murid sebuah perguruan silat terkenal”.
“Itu sudah Nden katakan kemarin. Saya juga sudah mengatakan, apa saya akan mampu menghadapi dia atau tidak? Karena saya belum melihat tandangnya. Jalan yang paling selamat adalah mencegah Nden Wanti sebelum sampai ke Pasirpanjang”.
“Tidak mungkin Wan. Perjalanan ke Pasirpanjang dengan kuda hanya menghabiskan waktu satu jam. Kalau kita mencegat di tengah perjalanan, hari masih sangat siang. Dia tidak akan bisa dilarang. Dia akan memutar balik keadaan, sehingga justru aku yang akan disalahkan Ayah”.
“Kalau begitu apa boleh buat Nden. Kita harus berani menghadapi resiko. Dalam keadaan demikian, sambil berusaha semampu daya, berserah dirilah kepada Tuhan, minta perlindungannya dari kekuatan jahat yang kita hadapi. Dengan cara itu, hati kita akan menjadi tenang, dan ketenangan sangat penting dalam mengatasi suatu bahaya”, ujar Darmawan.
“Sebenaranya hatiku akan mantap kalau kau hadir di sana”.
Darmawan menggeleng. “Sekaranglah saat penentu jatuh bangunnya diri Nden. Saya akan hadir di sana, tetapi tidak memperlihatkan diri. Artinya, saya tidak akan menolong Nden hingga pertarungan selesai. Saya akan berusaha menolong Nden seperti Nden menolong Farah dan Titin, setelah Nden tertangkap. Saya tidak tahu, apa akan berhasil atau tidak. Sebab kalau orang itu punya kemampuan sangat tinggi, jika membantu terang-terangan sama artinya dengan menutup kesempatan menyelamatkan diri Nden. Tetapi dengan sembunyi-sembunyi, kesempatan itu lebih besar, karena saya dapat bertindak di saat mereka lengah. Apa Nden mengerti?”.
“Kasarnya, sama artinya kau tidak ada di sana. Aku tidak akan mendapat bantuan samasekali. Bukan begitu maksudmu?”, tanya Pertiwi.
Darmawan mengangguk. “Saya hanya ingin mengatakan bahwa rasa ketergantungan terhadap diri saya itulah yang paling membahayakan Nden. Kalau tidak dapat melenyapkan rasa ketergantungan itu, saya hampir dapat memastikan, sekalipun kepandaian lawan lebih rendah, Nden akan kalah”.
“Tetapi perasaan ragu itu sulit sekali menghilangkannya”.
“Kenapa? Apa Nden sudah melihat sendiri tandang orang itu?”.
“Memang belum. Tetapi dia murid perguruan silat terkenal”.
“Lalu, apa karena murid perguruan silat, maka kemampuannya harus selalu lebih tinggi?”.
Pertiwi tidak menjawab. Mka Darmawan meneruskan kata-katanya: “Nden”, ujarnya, “ketinggian ilmu seseorang bukan ditentukan sumber pemberinya, tetapi lebih ditentukan oleh kemauan, bakat, dan keyakinan orangnya sendiri. Meski sumber pemberinya paling unggul, kalau yang menerimanya tidak punya tiga unsur itu, ilmunya tidak akan berbeda dengan orang kebanyakan. Saya melihat ketiga unsur itu ada pada diri Nden, sehingga dalam waktu singkat, kemampuan Nden sangat memuaskan. Tetapi ketika mendengar berita tentang orang itu, unsur ketiga telah hilang dari diri Nden. Bagaimana mungkin Nden bisa mengembangkan kemampuan kalau kepercayaan pada kemampuan diri itu tidak ada?”.
“Hmm”, gumam Pertiwi dengan tatapan mata kosong.
“Percuma Nden belajar kepada saya, kalau punya penilaian bahwa sumber ilmu saya rendah”.
Kembali Pertiwi hanya menggumam. Darmawan jadi terdiam, karena penjelasannya yang panjang tidak dapat mengungkat kepercayaan diri si gadis. Dia merasa kebimbangan Pertiwi terlalu besar dan sulit diatasi. Karena itu dengan terpaksa dia memutuskan untuk menanganinya sendiri.
“Baiklah Nden. Kalau Nden masih tetap bimbang, sebaiknya jangan pergi...”.
“He, apa kau bilang?”, tukas Pertiwi sebelum Darmawan menyelesaikan ucapannya.
“Nden jangan pergi ke sana, sebab...”.
“Bukan itu, yang tadi”, potong Pertiwi lagi.
Darmawan menoleh kepada Pertiwi dengan kening berkerut. “Yang tadi yang mana?”, tanyanya.
“Bukankah tadi kau mengatakan bahwa aku menilai rendah sumber ilmumu?”.
“Hanya kesimpulan saya Nden. Saya minta maaf, karena terdorong kepercayaan diri yang menilai terlalu tinggi sumber ilmu saya. Saya lupa bahwa setiap orang punya kepercayaan sendiri-sendiri yang tidak bisa dipaksakan kepada orang lain”.
“Kau salah. Justru aku menganggapmu terlalu tinggi, sehingga kehadiranmu merupakan jaminan keselamatanku. Tetapi keteranganmu tadi telah menyadarkan kekerdilan pikiranku. Aku baru sadar bahwa ketergantunganku bukan kepada ilmumu, melainkan kepada dirimu. Padahal tanpa ilmu itu kau tidak akan bisa menolongku sekalipun hadir di sana. Kenapa aku harus takut, sementara kau yang tahu pasti tingkat ilmuku tidak merasa sangsi melepasku sendirian?”.
Tangan Darmawan menggenggam tangan Pertiwi. “Sebuah lompatan besar Nden. Saya benar-benar gembira”, ujarnya, “Nden telah menemukan keyakinan diri, sehingga saya tidak khawatir lagi. Nden akan mampu menggunakan ilmu yang dimiliki sepenuhnya. Nden tinggal mengatur penggunaannya dengan pikiran tetap jernih. Nden telah punya pengalaman itu ketika menyelamatkan Titin. Saya lihat Nden sudah mulai dapat mengatur pengerahan tenaga sesuai keperluannya”.
“Itu karena kau hadir, membuat hatiku merasa mantap. Aku tidak dikejar-kejar oleh perasaan takut kalah”, sahut Pertiwi.
Tidak ada yang bicara lagi. Dengan telah menemukan rahasia kebimbangannya, hati Pertiwi jadi tenang, sehingga dia dapat menikmati ketoplak kaki-kaki kuda yang berirama teratur.
--0--
Langkah-langkah kaki dua ekor kuda yang berjalan berdampingan itu tidak berderap cepat, tetapi berirama teratur seperti langkah orang yang berjalan. Kedua penunggangnya, Purwanti dan Raden Angga membiarkan kuda berjalan seenaknya, sementara mereka mengobrol sambil memperhatikan pemandangan sawah yang membentang luas di kanan-kiri jalan. Matahari sore yang sudah condong rendah di langit barat tidak terasa panas lagi. Tidak jauh di depan mereka tampak anak bukit yang memanjang menumbuk pinggang gunung, Pasirpanjang.
Sebentar kemudian mereka telah tiba di samping dangau bekas tempat tinggal Darmawan dulu, yang letaknya di salah satu sisi jalan mendaki. Keadaan dangau tidak berubah. Sepi, seolah tidak berpenghuni. Tetapi di tengah tepasnya terhampar tikar besar dan beberapa buah bantal untuk berbaring-baring, menandakan dangau itu berpenghuni. Bahkan di atas tikar tampak talam besar berisi beberapa gelas, ada yang masih kosong, dan ada pula yang sudah berisi tinggal sedikit air.
“Siapa pemilik dangau itu Kak Angga?”, tanya Purwanti.
“Punya kawan Kak Angga”, sahut yang ditanya.
“Ah, benarkah?”, tanya Purwanti sambil menahan les kudanya.
“Masa Kak Angga bohong”.
“Kalau begitu, tentu kawan Kak Angga tidak akan keberatan jika kita duduk-duduk ngobrol di situ. Nampaknya menyenangkan sekali”.
“Tentu saja tidak. Tetapi jangan sekarang. Kita naik ke bukit itu dulu untuk melihat pemandangan, setuju?”, tanya Raden Angga.
“Bagaimana Kak Angga saja”, sahut Purwanti.
Raden Angga tersenyum, lalu dia berteriak: “Dam! Adam! Apa kau ada di dalam?”.
“Siapa di luar?”, sahut seseorang dari dalam dangau. Lalu pintu dangau terbuka, dan tampak Bung Adam muncul di tepas.
“He Angga. Ada apa sore-sore datang ke sini?”.
Raden Angga tertawa. “Mengajak pacar jalan-jalan”, sahutnya, “nanti aku akan singgah. Sekarang akan ke atas dulu”.
“Boleh, boleh. Kebetulan aku baru merebus ubi. Tapi nanti aku pergi ke hutan sebentar mengambil kayu bakar. Kalian bersenang-senang saja seperti di rumah sendiri sebelum aku balik”.
“Baik. Sediakan saja ubinya, pasti kami sikat habis”.
“Memang kau rakus. Makanya tidak akan kusuguhkan semua”.
Raden Angga tertawa keras. Begitu pula Bung Adam. Sedangkan Purwanti hanya tersenyum.
“Mari Dik Wanti”, ajak Raden Angga sambil mengedut les kudanya.
Purwanti mengangguk. “Senang sekali punya kawan akrab seperti dia”, kata Purwanti sementara kuda mereka mendaki anak bukit Pasirpanjang.
“Banyak kawan Kak Angga, dan semuanya akrab. Mereka semua suka naik kuda seperti Dik Wanti. Nanti juga Dik Wanti akrab dengan mereka”, kata Raden Angga.
Tentu saja apa yang diartikan dengan kuda oleh Raden Angga berbeda dengan bayangan Purwanti. Gadis itu tidak menyadari samasekali, betapa bahaya yang mengerikan demikian dekatnya. Jangankan dia yang terhitung masih kecil, mereka yang sudah besar pun tidak akan berpikir lain. Karena itu, begitu turun dari kuda di punggung bukit, Purwanti tidak menghindar ketika dipeluk Raden Angga. Matanya memandang bentangan sawah luas di bawahnya dengan tatapan sendu.
Saat itu dari sawah di seberang dangau meloncat sesosok tubuh berpakaian hitam-hitam. Dia adalah Darmawan. Sebagai orang yang pernah tinggal di dangau itu sekian tahun, dia tahu betul setiap sudut tempatnya. Dia menyelinap ke belakang dangau, muncul di dinding kamar. Sejenak mendengarkan, hening. Maka dia bergerak cepat mengikuti jalan setapak di belakang dangau menuju ke hutan, dan lenyap ditelan gerumbulan semak.
Di atas bukit, siliran angin gunung menerpa wajah dan tubuh sepasang muda-mudi yang tengah dilanda asmara. Matahari sudah hampir menyentuh puncak pegunungan, warnanya merah.
“Dingin”, bisik Purwanti.
Raden Angga mengetatkan pelukannya, dan jari-jari tangannya mulai menggerayangi tubuh gadis itu. Purwanti berdesah dan mengeluh.
“Hampir gelap Kak Angga. Kita turun ke dangau saja”, desis Purwanti dalam desah nafasnya.
“Mari”, sahut Raden Angga.
Mereka menuruni anak bukit sambil berdekapan tanpa menghiraukan kuda-kudanya. Ketika tiba di tepas dangau keadaan sudah remang-remang. Tetapi tepas itu sudah diterangi cempor gantung yang dibuat dari botol bekas. Sebuah talam diletakkan di tengah tepas, berisi satu piring ubi rebus dan beberapa gelas kosong yang menangkup, serta sebuah cerek air. Namun pasangan muda-mudi itu tidak menghiraukan samasekali hidangan tersebut. Mereka melanjutkan cumbuannya dalam gejolak memanas.
Saat itu dari sawah seberang jalan muncul lagi sesosok tubuh, Pertiwi. Gadis itu tidak mengenakan pakaian malam, tetapi pakaian biasa untuk berlatih silat. Pada pinggangnya terselip pipa besi. Dengan langkah pasti tanpa menyelinap-nyelinap, dia langsung menuju tepas dangau. Raden Angga dan Purwanti sudah lupa pada keadaan sekelilingnya. Purwanti terbaring di tepas. Kedua anak muda itu tengah membuka baju masing-masing.
Pertiwi meloncat ke tepas. Sebelah kakinya langsung terayun menghantam rahang Raden Angga, sehingga tubuh anak muda itu terjajar menabrak dinding tepas dengan suara berdebuk dan mulut mengaduh. Kemarahan Pertiwi telah membuatnya lupa pada pertimbangan bening. Dia menggocoh Raden Angga tanpa tanggung-tanggung lagi. Kali ini Raden Angga berusaha melakukan perlawanan. Tetapi Pertiwi tidak memberi peluang samasekali. Hanya satu-dua kali Raden Angga mampu menangkis tinju Pertiwi.
Dia mencoba mengambil jarak dengan meloncat ke halaman, namun Pertiwi terus mengejarnya. Justru di tempat lapang itu Pertiwi lebih leluasa mengembangkan kemampuannya. Raden Angga adi bulan-bulanan serangan Pertiwi tanpa mampu memberi perlawanan. Tubuh anak muda itu terdongak dan terbungkuk berkali-kali dengan mulut mengerang-erang.
“Bukan main”, gumam sebuah suara yang tiba-tiba muncul dari samping dangau.
Mendengar suara itu Pertiwi memutar tubuh sambil mengayunkan kakinya, menendang leher Raden Angga dengan telak. Kemudian dia berdiri tegak mengangkang kaki menghadap ke arah datangnya suara tadi. Telinganya masih sempat mendengar ambruknya tubuh Raden Angga, sementara matanya menangkap sesosok tubuh keluar dari samping dangau dan melangkah menghampirinya dengan mantap. Lalu berhenti pada jarak sekitar dua meter di depan Pertiwi.
Penerangan lampu di tepas sudah cukup bagi Pertiwi untuk mengenalinya sebagai orang yang bernama Miin. Sejenak mata Bung Miin menatap tajam wajah Pertiwi, lalu menelusuri tubuhnya.
“Tak salah kata kawan-kawan. Kau memang sangat cantik Nona”, ucapnya dalam nada kagum yang tidak disembunyikan, “sayang pakaianmu terlalu longgar sehingga kepadatan tubuhmu kurang tampak”.
“Kau bisa melihat tubuhku sepuasmu bila aku kalah”, sahut Pertiwi mengimbangi ucapan lawan.
“Bukan main. Kau langsung menantangku Nona”.
“Tidak usah berbasa-basi, bukankah kau kawan si Angga?”.
“Apa salahnya kalau kawan dia?”.
“Kawan cecurut yang tak becus tentu cecurut tak becus pula”, sahut Pertiwi dalam nada angkuh.
“Alangkah angkuhnya kau Nona. Tetapi dapat dimengerti juga, karena kau anak pimpinan daerah, sangat cantik, dan berkemampuan cukup. Aku juga bisa menebak jalan pikiranmu. Bukankah kau hanya mau tunduk kepada lelaki yang mampu mengalahkanmu?”.
“Syukur kalau kau tahu, sehingga kau harus berpikir dua kali jika ingin menyentuh tubuhku”.
“Bagus. Kalau begitu aku akan menundukkanmu, karena aku benar-benar ingin memilikimu. Nah, bersiaplah Nona”.
“Tidak perlu memberi peringatan. Sejak tadi aku sudah bersiap”, desis Pertiwi.
“Hmm, kau tidak tahu tingginya langit”.
“Jangan hanya sesorah. Apa kau sengaja mengulur waktu untuk menunggu kawan?”.
“Gila! Kau kira aku takut kepadamu?”, bentak Bung Miin mulai panas.
“Jangan hanya bicara kalau kau bukan pengecut”. Pertiwi terus memanasi.
Bung Miin benar-benar tersinggung. Maka bentaknya: “Awas serangan!”.
Pertiwi yang memang telah bersiap, bergeser menghindari serangan itu sambil mengayunkan tinju balasan. Tetapi ternyata lawannya sangat gesit. Dia menunduk sambil menyerang lagi, sehingga Pertiwi harus meloncat mundur. Bung Miin tidak memberi peluang bernafas kepada Pertiwi, karena dia ingin menaklukan gadis itu cepat-cepat. Dua kali Pertiwi harus meloncat mundur karena lawan terus memburunya. Tetapi setelah loncatan ketiga, ketika serangan datang, tiba-tiba dia menjatuhkan diri. Sepasang kakinya menyambut tubuh lawan yang datang, lalu dihentakan untuk menambah dorongan tenaga lawan.
Tubuh Bung Miin terlontar deras tanpa terkontrol lagi, dan terbanting di tanah beberapa meter di belakang Pertiwi. Tetapi dengan lincahnya Bung Miin melenting berdiri lagi, hampir bersamaan dengan saat melentingnya tubuh Pertiwi. Bung Miin menggeram marah, bukan karena rasa sakitnya, melainkan lebih condong oleh rasa malu karena kecolongan gerakan.
Dalam pada itu di halaman barak bekas latihan kader-kader Pemuda Rakyat di dalam hutan, telah menyala api unggun. Unggun itu dilingkari Mang Sarju, Mang Gomar, Bung Yeye, Bung Adam, Bung Ari, dan dua orang wanita, yaitu Dora dan isteri Mang Sarju. Dora menyandarkan kepalanya pada bahu Bung Ari sambil melonjorkan kaki ke arah unggun. Sementara isteri Mang Sarju didekap Bung Yeye.
“Apa kira-kira gadis kembangnya kecamatan itu sudah muncul?”, tanya Bung Adam sementara tangannya mengangsur-angsurkan kayu bakar.
“Mungkin sudah bertarung dengan Bung Miin”, sahut Bung Ari sambil lengannya mengelus-elus rambut Dora.
Mang Gomar berdiri dari duduknya. “Aku akan melihat”, katanya.
“Jangan!”, larang Mang Sarju, “tak seorang pun kuijinkan datang ke sana. Apalagi Bung, karena gadis itu telah mengenal kita, kecuali Bung Ari”.
“Apa salahnya? Bukankah kita yakin gadis itu akan kalah?”.
“Pasti. Tetapi jika gadis itu melihat kita, bisa berbalik keadaan. Pengalaman membuktikan, akibat rasa takut berlebihan, orang yang dalam keadaan wajarnya tidak berani meloncati selokan kecil, bisa meloncati selokan besar. Kalau Bung muncul di sana, kemungkinannya ada dua. Kalau tidak lari sebelum tertangkap, gadis itu bisa berubah lebih garang dari seekor macan. Biarkan Bung Miin menyelesaikan sendiri. Gadis itu belum mengenalnya, kecuali sebagai kawan Bung Angga”.
“Tetapi bagaimana kalau orang misterius itu muncul tanpa diketahui mereka yang mencegatnya?”.
“Bung tidak percaya pada pengaturanku?”. Mang Sarju balik bertanya dengan nada tersinggung.
“Bukan begitu. Aku hanya mengkhawatirkan gagalnya rencana kita”, sahut Bung Adam.
“Dengar. Aku sudah mengatur segalanya dengan memperhitungkan segala kemungkinannya. Tiga orang yang menghadang di jalan sudah cukup, karena mereka tidak akan mengeroyok berhadapan. Mereka akan menyerang tiba-tiba dari belakang, langsung mematikan. Di atas bukit sudah kutempatkan dua orang untuk mengawasi sekitar dangau. Kalau orang misterius itu lolos juga dari pengawasan mereka, Bung Miin sendiri akan memberi isyarat dengan suitan, sehingga akan didengar oleh yang menghadang, yang di atas bukit, dan oleh kita di sini. Saat itulah baru kita bergerak mengepungnya. . Coba katakan, apa ada kelemahannya?”, tanya Mang Sarju, lalu kepada Mang Gomar: “Sudahlah. Bung duduk saja sampai ada isyarat itu”, ujar Mang Sarju menjelaskan panjang lebar.
Mang Gomar terpaksa duduk lagi. Mereka tidak menyadari kalau pembicaraan itu ada yang menguping dari balik gerumbul semak. Dia adalah Darmawan. Tanpa menerbitkan suara sedikit pun Darmawn beringsut meninggalkan persembunyiannya. Setelah cukup jauh, dia bergerak cepat ke atas bukit. Sebagai orang yang pernah tinggal lama di tempat itu, dengan mudah dia dapat mencapai puncak bukit tanpa diketahui oleh dua pengawas yang dipasang Mang Sarju, muncul dari belakangnya.
Kedua pengawas itu tidak menduga samasekali kalau orang yang diawasinya muncul dari belakang mereka, karena mereka berangkat dari perkampungan di pinggang bukit, sehingga yang diawasi mereka adalah sawah dan jalan di bawahnya. Ketika jaraknya tinggal tiga meter dari kedua pengawas itu, Darmawan bergerak cepat dengan dua langkah lebar. Ketika Darmawan tiba, kedua orang itu berpaling serempak. Namun terlambat, karena kedua tangan Darmawan telah menangkap kepala mereka, lalu diadukan dengan keras. Tanpa sempat bersuara lagi, kedua orang itu jatuh di tanah, pingsan.
Sejenak Darmawan memandangi kedua tubuh yang terkapar itu. Lalu dia berjalan menghampiri dua ekor kuda yang tadi ditinggalkan Raden Angga dan Purwanti. Kuda Raden Angga mendengus. Tetapi dengan usapan di lehernya, kuda itu tenang kembali. Darmawan menuntun keduanya menuruni bukit. Sampai di pinggir jalan di samping gubuk, dia mengikatkan les kedua kuda tersebut pada sebatang pohon turi. Dari situ dia menyeberang jalan, lalu merayap menyusuri pematang ke arah jalan pulang sejauh belasan meter, baru berdiri di balik pohon.
Jarak itu tidak terlalu jauh dari halaman gubuk tempat Bung Miin dan Pertiwi bertarung. Lampu gantung di tepas dangau cukup terang, sehingga dia dapat menyaksikan pertarungan itu, juga Purwanti yang duduk di tepas dangau. Beberapa lamanya dia menilai pertarungan. Kemampuan Bung Miin memang lebih tinggi dari Pertiwi, tetapi hanya selapis tipis. Kalau Pertiwi cukup berhati-hati, dia akan dapat bertahan lama, dan perkelahian itu dapat dijadikan pengalaman sangat berharga.
Darmawan meninggalkan tempatnya untuk mencari tiga orang yang ditugaskan menghadang dirinya. Setelah menyelinap-nyelinap di balik lima batang pohon yang berjajar di sepanjang pinggir jalan, dalam jarak 15 meter di depannya, dia melihat tiga sosok tubuh tengah duduk di pinggir jalan di balik pohon, dua di seberang dan satu di sebelah sini. Sejenak dia memperhitungkan langkah yang akan diambilnya. Jalan paling aman untuk mendekati mereka adalah dengan menyusup ke sawah, dan itulah yang dilakukannya.
Dengan mengambil jalan melingkar, dia muncul dari balik batang-batang padi hanya dua meter di belakang orang itu. Ketiga orang tersebut hampir tidak pernah lepas mengawasi jalan yang diperkirakan akan munculnya sasaran mereka. Karena itu dengan sangat hati-hati Darmawan merayap di belakangnya hingga kurang dari satu meter. Lalu dia bangkit sambil menetakkan sisi telapak tangannya pada pelipis lawan, sekaligus menekan tubuhnya ke tanah. Kedua kawannya yang duduk di seberang jalan tidak menyadari kalau tubuh yang duduk di seberang mereka telah berganti.
Darmawan memeriksa pakaian orang itu. Dia menemukn sebungkus rokok kretek yang isinya tinggal beberapa batang berikut sebungkus korek api. Darmawan mengambil korek apinya dan menyalakan dengan ditutupi oleh tangannya seperti orang sedang menyulut rokok. Pancingannya mengena.
“Aku minta satu Bung”, kata salah seorang yang di seberang jalan dengan suara perlahan.
“Ambil saja ke sini”, sahut Darmawan.
Orang itu merangkak menghampiri Darmawan.
“Ambilkan buat aku satu”, kata kawannya dengan pandangan tetap ke arah jalan di depannya.
Tanpa curiga samasekali orang itu mendekati Darmawan yang membelakangi jalan, lalu duduk di sampingnya. Tangan kiri Darmawan membekap mulut orang itu melalui belakang kepalanya, dan tangan kanannya menghantam pelipisnya dengan keras, lalu disandarkan ke batang pohon. Selanjutnya dia merangkak menyeberang jalan. Tanpa harus berhati-hati lagi orang ketiga itu dapat diselesaikan dengan mudah.
Di depan dangau, pertarungan berlangsung makin seru. Berkat ketekunan berlatih dan keterampilan memanfaatkan situasi seperti di saat latihan volley, ada saja cara Pertiwi yang tidak terduga lawan ketika berada dalam keadaan terjepit. Ditambah dengan telah ditemukannya kepercayaan diri terhadap ilmunya, maka dalam pandangan lawannya kemampuan gadis itu seperti berimbang.
Serangan-serangan mereka sudah mulai saling menyentuh tubuh lawan. Namun umumnya hanya sentuhan-sentuhan ringan karena leterampilan mereka menghindari serangan. Purwanti yang pada mulanya terkejut oleh kehadiran kakaknya yang tiba-tiba dan dikejutkan pula oleh kejadian-kejadian selanjutnya, duduk terpaku menyaksikan perkelahian sengit itu. Dia baru tahu kalau kakaknya memiliki kemampuan silat yang menurut penilaiannya sangat tinggi. Mulanya dia mengira kesalahan Raden Angga tadi karena pemuda itu sengaja mengalah sebab takut dilaporkan kepada ayahnya. Tetapi kini pendapatnya berubah samasekali.
Pada dasarnya kemampuan Pertiwi lebih rendah dari Bung Miin, dan pengalamannya jauh lebih sedikit. Karena itu setelah pertarungan cukup lama, Pertiwi merasakan tekanan lawannya semakin berat. Serangan lawannya makin sering menyentuh tubuhnya. Sampai suatu saat dia tidak punya kesempatan untuk menghindari tendangan lawan yang mengarah lambungnya dengan telak.
Bung Miin sudah yakin, sesaat lagi gadis itu akan berada dalam kekuasaannya, bahkan dia sudah membayangkan kesenangan memeluk tubuh padat menggairahkan itu. Tetapi pada detik terakhir ketika tendangannya sudah menyentuh tubuh lawan, Bung Miin memekik karena rasa nyeri yang hampir tidak tertahankan pada betisnya. Ternyata dalam saat kritis itu Pertiwi telah mencabut pipa besi dari pinggangnya dan langsung diayunkan ke betis lawan, menimbulkan bunyi berdetak cukup keras. Tubuh Bung Miin terbanting jatuh. Tetapi tubuh Pertiwi pun terdorong beberapa langkah dan terbanting pula.
Dengan meringis menahan sakit di lambungnya, Pertiwi segera bangkit lagi dan bersiaga dengan pipa besinya. Tetapi ternyata lawannya bangkit lebih lambat sambil memegangi betisnya dengan mulut menyeringai. Dalam keadaan demikian, sebenarnya Pertiwi punya kesempatan untuk menekan lawan. Namun dia tidak melakukannya karena ada perhitungan lain.
“Kuntilanak! Kau telah menyakitiku”, umpat Bung Miin dengan marah.
“Kau juga telah menyakitiku”, sahut Pertiwi balik menyalahkan.
“Tapi kau licik menggunakan alat”.
“Apa ada perjanjian bahwa aku tidak boleh menggunakan alat? Apa kalau kau terdesak tidak akan menggunakan golok di pinggangmu itu?”.
“Hmm rupanya kau cukup jujur untuk mengakui keunggulan tangan kosongku, sehingga kau tidak memanfaatkan kesempatan ketika aku belum siap tadi”.
“Jangan sok pintar menyimpulkan, aku belum merasa kalah”, sahut Pertiwi.
“Tentu kau ingin menguji ilmu golokku dulu kan?”.
Pertiwi tidak menyahut. Memang dia sengaja mendorongkan lawan ke arah penilaian itu. Suatu taktik yang cukup berbahaya, namun jadi perisai dari ancaman bencana yang lebih mengerikan bagi dirinya bila dia kalah dalam pertarungan. Dia telah menumbuhkan kesan yang membuat orang itu akan merasa sayang menyerahkan kepada orang lain. Ternyata gadis itu telah mengembangkan ilmu bela dirinya ke arah yang agak berbeda dari siasat yang biasa ditempuh para pesilat dalam mempengaruhi ketahanan mental lawan. Bukan siasat untuk menjatuhkan lawan, tetapi penjagaan jika dia kalah dan dikuasai lawan.
Sejenak kemudian pertarungan berlangsung lagi. Suatu pertarungan berbahaya, karena setiap sentuhan dari gaolok lawan akan menimbulkan luka berdarah. Tetapi setelah menemukan rahasia kekerdilan dirinya, hati Pertiwi jadi mantap. Beradunya golok dan pipa besi di keheningan malam itu memperdengarkan dentingan nyaring yang terdengar hingga ke barak di dalam hutan, menandakan pertarungan sudah mencapai babak akhir. Ini mencegah orang-orang di dalam hutan bertanya-tanya yang bisa mendorong mereka merubah pendirian. Sesungguhnyalah suara dentingan senjata itu mendorong Mang Sarju berkomentar.
“Nah, sebentar lagi perkelahian akan selesai. Jika suara senjata itu sudah berhenti, Bung Angga pasti akan datang ke sini memberitahu kita”, ujarnya.
“Tetapi kenapa belum ada isyarat kehadiran orang misterius itu?”, yanya Bung Adam.
“Ada dua kemungkinan”. Sahut Mang Sarju, “kalau bukan sudah diselesaikan oleh pengawas di jalan, bisa jadi dia tidak datang”.
“Alasannya?”.
“Menurut Bung Angga, gadis itu belajar bersama hingga pukul lima. Ketika tiba di rumah, dia mendapat berita dari pembantunya bahwa adiknya pergi dengan Bung Angga. Dia harus bertanya-tanya kepada tetangganya ke arah mana adiknya pergi, sehingga tidak ada waktu lagi untuk menghubungi orang yang suka menolongnya karena hari sudah mulai gelap. Dia akan langsung mengejar ke sini”.
Semua kawannya mengangguk-anggukkan kepala tanda setuju. Sementara di halaman dangau, pertarungan memang sudah hampir berakhir. Pertiwi yang belum banyak pengalaman telah mengalami kesulitan dalam menghindari golok lawan. Suatu saat dia kurang cepat menangkis sambaran golok lawan, dan menyentuh bahu sebelum pipa besinya memukul golok itu. Pertiwi berdesis merasakan pedih pada bahunya. Dia meloncat mundur dua langkah untuk melihat lukanya. Luka itu tidak besar, hanya segores kecil, tetapi mengalirkan darah. Lawannya sengaja membiarkan gadis itu melihat lukanya.
“Menyerahlah Nona. Sayang kalau sampai banyak luka”, kata Bung Miin.
Pertiwi tidak menyahut. Sebaliknya dia langsung menerjang lawan. Tetapi Bung Miin cukup gesit. Maka pertarungan pun berlangsung lagi, sampai terjadi pula hal yang sama. Kali ini golok Bung Miin menyentuh lengannya, dan darah pun mengalir pula.
“Bagaimana Nona?”.
“Jangan gembira dulu”, ujar Pertiwi dengan ketus.
Kali ini Pertiwi menerjang seperti orang kalap. Bung Miin agak kelabakan juga mendapat serangan yang membadai itu. Dua kali pipa besi Pertiwi mengenai pinggang dan bahu lawan cukup telak, dan Bung Miin menyeringai menahan sakit. Dia jadi geram. Maka dia pun meningkatkan kecepatan permainannya. Goloknya silang-menyilang mengurung tubuh Pertiwi.
“Ih!”. Tiba-tiba Pertiwi menjerit kecil terkena sentuhan golok pada bahunya agak dalam. Darahpun mengalir deras. Pertiwi berdiri mematung sambil tangannya memegangi lukanya. Dia menatap tajam kepada lawannya dengan mulut terkatup.
“Masih penasaran?”, tanya Bung Miin.
“Huh”. Pertiwi mendengus dengan mata melotot. Tetapi detik berikutnya, matanya meredup. Kepalanya menunduk lemah, dan pipa besi di tangannya dilepaskan jatuh ke tanah.
Mata Bung Miin bersinar terang. Dia menyelipkan kembali goloknya pada sarungnya, dan melangkah menghampiri Pertiwi.
“Salahmu, kenapa tidak menyerah dari tadi”, kata Bung Miin.
Petiwi melepaskan tangan yang memegang bahunya. Dia menatap cairan merah pada jari-jarinya.
“Jangan cemas. Aku selalu membawa obat luka yang manjur”, kata Bung Miin lagi menenangkan hati Pertiwi sambil jari tangannya menyentuh luka gadis itu.
Saat itulah yang ditunggu Pertiwi. Tiba-tiba saja dia mengangkat dengkulnya menghantam selangkangan Bung Miin. Bung Miin mengaduh sambil kedua tangannya memegangi alat vitalnya. Dia tidak berdaya menghindari gocohan tinju Pertiwi yang beruntun menimpa wajah, rahang, dan lehernya. Apa yang tejadi pada Raden Angga tadi, kini terjadi pula pada Bung Miin. Dia tidak memberi peluang kepada lawannya. Tinjunya bertubi-tubi menghantam perut, dada, leher, hidung, dan pelipis lawan.
Tubuh Bung Miin terbungkuk dan terddongak. Langkahnya terhuyung-huyung mundur. Dua kali Pertiwi memutar tubuh sambil melayangkan tendangannya ke perut dan leher lawan. Tubuh Bung Miin terlontar ke belakang beberapa meter dan terbanting ambruk di tanah tanpa bergerak lagi, pingsan. Tetapi akibat pengerahan tenaga itu, darah mengalir deras dari luka di bahunya. Tetapi Pertiwi tidak menghiraukannya. Dia langsung menghampiri Purwanti untuk secepatnya berlalu dari tempat itu.
Purwanti benar-benar terkesima oleh tindakan kakaknya. Juga ada rasa ngeri melihat luka di bahu Pertiwi yang merembeskan darah membasahi baju di bagian bahunya. Karena itu ketika Pertiwi menarik lengannya, Purwanti hanya mengikuti. Dia bingung membayangkan kemarahan ayahnya kalau kakaknya melaporkan kejadiannya.
Pertiwi tidak mengetahui apa yang terjadi di luar gelanggang pertarungan. Dia juga tidak tahu kalau tadinya di samping dangau itu tidak ada kuda, karena hatinya yang rusuh memikirkan adiknya. Maka tanpa banyak pikir lagi, dia mengambil kuda Purwanti. Sejenak kemudian mereka telah mencongklang di punggung kuda menuju pulang dalam gelapnya malam.
Beberapa lamanya tidak ada yang bicara. Tetapi akhirnya Pertiwi memutuskan untuk memberitahukan sikapnya. Sebab dia tahu, kalau tidak dikemukakan saat itu, maka tidak akan ada kesempatan lagi. Jika telah tiba di rumah, pasti Purwanti akan langsung masuk ke kamarnya dan mengurung diri. Kalau ayahnya sampai mengetahui kejadian sebenarnya, akibatnya akan parah. Bukan hanya bagi Purwanti, tetapi juga menyangkut keluarga Raden Angga. Mungkin akan terjadi perpecahan antar keluarga.
“Wanti”, kata Pertiwi dengan sareh, “aku tahu, kau pasti makin membenciku, karena telah dua kali menghalangi kesenanganmu. Terserah maumu. Juga terserah kepadamu, mau percaya atau tidak. Aku melakukan itu karena menyayangimu, karena kau satu-satunya saudara kandungku”.
Sejenak Pertiwi berhenti agar omongannya dapat dicerna adiknya. Baru kemudian melanjutkan lagi.
“Tetapi satu hal yang harus kau pertimbangkan sungguh-sungguh. Kalau Ayah sampai tahu kejadian ini, aku tidak dapat membayangkan, apa yang akan dilakukan terhadapmu dan Angga. Kalau Ayah kehilangan pertimbangan, akan terjadi perpecahan keluarga kita dengan keluarga Angga yang bisa berlarut-larut. Karena itu aku tidak akan melaporkan kepada Ayah. Kalau Ayah sampai tahu, itu bukan dari aku tetapi karena sikap tidak wajarmu. Soal lukaku, aku bisa menyembunyikannya dengan berbagai alasan. Itu saja pesanku padamu. Selanjutnya terserah kau”.
Purwanti tidak menyahut, tetapi pikirannya terasa plong. Namun demikian dia tidak mau mengakui betapa baiknya hati kakaknya terhadap dirinya. Sebaliknya, yang bersarang di hatinya adalah kebencian, namun dia tidak punya cara untuk melampiaskannya.
Tepat seperti diperkirakan Pertiwi. Begitu tiba di rumah, Purwanti langsung masuk ke kamarnya dan tidak keluar lagi. Pertiwilah yang harus bersekongkol dengan Ibunya dan pembantu rumahnya agar tidak memberitahukan kepada Ayahnya”.
--0--
.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar