Sabtu, 28 Mei 2011

Novel 4 Dimensi - Dimensi 1 - PRAQHARA NUSANTARA 05

Lima
Darah Keturunan
       MENGAPA HARUS MEYAKINKAN DULU Nden? Saya sudah yakin benar kok. Alasan paling kuat ialah kenyataan diri saya. Apa untungnya dia menipu seorang kusir delman yang miskin seperti saya?”, sahut Darmawan sementara delmannya mencongklang di jalan menuju pasar kecamatan.
       “Mulanya memang tidak. Tetapi setelah melihat surat wasiat itu, bisa saja pikirannya berubah. Dia bisa berjanji didepan kita akan membantu melaksanakan amanat itu. Tetapi siapa tahu dia menguruskan untuk dimiliki dirinya sendiri”.
       “Tidak mungkin Nden. Bukankah surat itu dibuat didepan Notaris? Tentu di Notaris ada salinannya.
       “Ngng...benar juga. Sewaktu-waktu kita dapat mengeceknya ke Badan sosial yang berhak”, kata Pertiwi seperti merencanakan pengawasan pelaksanaan surat wasiat itu. Darmawan mengangguk.
       Tak lama kemudian delman mereka telah sampai di pasar. Darmawan memparkirnya di antara deretan delman-delman lain.
       “Nden”, kata Darmawan sambil turun dari delman membawa bungkusan baju, “silahkan tunggu di penginapan, saya akan berganti pakaian dulu”.
       Pertiwi mengangguk tanpa menyahut. Darmawan masuk ke pasar, sedangkan Pertiwi menuju jalan raya dan menyeberang. Penginapan Betah satu-satunaya penginapan di kota kecamatan itu. Letaknya tidak jauh dari terminal di sisi pasar. Pertiwi langsung masuk penginapan. Beberapa tamu penginapan tampak sedang duduk-duduk di ruang tamu, ada yang sedang ngobrol, sedang membaca buku, ada pula yang sedang main catur.
       Sejenak Pertiwi mematung di ruang tamu. Dia baru menyadari kalau dirinya tidak berkepentingan langsung dengan orang yang akan ditemuinya, sehingga jadi ragu untuk menanyakan kepada petugas informasi. Akhirnya dia duduk di kursi tamu yang kosong untuk menunggu Darmawan.
       Mulanya Pertiwi tidak menyadari kalau kehadirannya telah menarik perhatian semua orang yang ada di situ. Wajah mereka semua menyiratkan kekaguman pada kecantikan gadis itu. Tingkahnya yang nampak ragu-ragu menimbulkan berbagai dugaan yang tidak pada tempatnya. Yang punya kawan menanggapinya dengan saling berbisik. Dia baru sadar jadi perhatian semua orang, ketika matanya menyapu seluruh ruangan. Orang yang membaca buku dengan cepat menunduk pada bukunya ketika mereka bertemu pandang. Begitu pula yang lainnya. Tetapi ketika pandangan Pertiwi telah berpindah ke arah lain, mereka kembali memperhatikannya. Hal itu membuat wajah Pertiwi berona merah.
       Untunglah keadaan tertolong petugas penerima tamu penginapan yang datang menghampirinya. Pertiwi sendiri tidak kenal petugas itu, tetapi sebagai gadis kembangnaya kecamatan, ternyata petugas itu mengenalnya. Rupanya dia menangkap tingkah serba salah Pertiwi, dan bermaksud menolongnya. Setelah berada didekat Pertiwi, orang itu membungkukkan badannya sedikit sambil tersenyum ramah.
       “Selamat siang Nona”, sapanya dengan suara agak dikeraskan. “Maaf, bukankah Nona ini Nden Wiwi, puteri Pak Camat?”, tanyanya.
       Mendengar pertanyaan itu semua orang yang ada di ruangan tampak terkejut. Pertiwi mengangguk membalas senyum si petugas dengan hati bersyukur.
       “Ya. Saya menunggu kawan”, sahut Pertiwi, “dia ada keperluan dulu di pasar”.
       “O, kalau begitu silahkan Nden menunggu”.
       “Terimakasih”.
       Setelah jelas masalahnya, tanggapan yang tidak pada tempatnya dari semua orang itu sirna kembali. Namun demikian, kecantikan gadis itu tetap jadi perhatian. Apalagi setelah mengetahui siapa gadis itu.
       “Bukan main”, gumam seorang pemain catur, “ternyata berita yang kudengar tidak berlebihan”.
       “Berita apa?”, tanya kawannya.
       “Puteri Pak Camat adalah kembangnya kecamatan. Kalau saja aku belum beristeri...hmmm”.
       “Shak!”, kata kawan bermainnya sambil menggeser bidak Menteri, sehingga orang itu terkejut.
       “Licik”, desisnya, “kau memanfaatkan kelengahanku”.
       “Jangan berdalih. Pokoknya kau kalah”, sahut kawannya.
       “Tidak mungkin. Rasanya kedudukan pion ini tadi tidak di sini. Pasti kau telah menggeserkannya ketika aku lengah”.
       “Memang bukan di situ. Tetapi tadi kau sendiri yang menggeserkan ke situ setelah aku menggeser benteng dari sini ke sini”.
       Terjadi sedikit ribut, sehingga perhatian tamu-tamu lainnya termasuk Pertiwi beberapa lamanya terpusat kepada dua pemain catur itu. Saat itulah Darmawan muncul di pintu dan menghampiri Pertiwi.
       “Mari Nden”, ajaknya, “apa Nden sudah menanyakan letak kamar beliau?”.
       “Belum”, sahut Pertiwi sambil bangkit.
       “Ternyata percakapan mereka telah menghentikan pertengkaran kedua pemain catur itu. Mereka menengok kepada Darmawan dengan pandangan seperti ingin menilai kesepadanan muda-mudi itu.
       “Maaf Pak. Saya bermaksud menjumpai Pak Abdurrakhman di kamar 5. Di sebelah mana?”, tanya Darmawan setelah tiba di meja petugas penerima tamu.
       “Silahkan di gang sebelah kiri”, sahutnya sambil menunjuk ke arah yang dimaksudnya. “Memang tadi saya mendapat pesan bahwa beliau akan menerima tamu di kamarnya”, sambungnya sambil mengangguk kepada Pertiwi, “sejak tadi saya sudah menduga Nden Wiwi salah satu tamunya”.
       Petiwi membalas anggukan petugas itu sambil tersenyum. Mereka berlalu diikuti mata semua tamu sampai hilang dibalik pintu gang. Sesampainya di depan kamar yang dituju Darmawan mengetuk pintu. Sejenak mereka menunggu, dan pintu pun dibuka dari dalam. Pak Abdurrakhman menyambut muda-mudi itu. Seulas keheranan bercampur kagum tersirat di wajahnya ketika melihat Pertiwi. Namun siratan itu cepat menghilang lagi. Dengan senyum ramah Pak Abdurrakhman mempersilahkan kedua tamunya.
       “Maaf Nak. Sampai saat ini Bapak belum mengetahui namamu. Padahal kita sudah bertemu dua kali”, ujar Pak Abdurrakhman setelah mereka bertiga duduk.
       “Nama saya Darmawan. Kawan-kawan biasa memanggil saya Wawan. Dan ini Nd...”.
       “Saya Pertiwi atau Wiwi”, kata Pertiwi memotong cepat-cepat.
       Pak Abdurrakhman tersenyum. “Hmm...Wawan-Wiwi, pasangan nama yang serasi”, komentarnya, membuat kedua anak muda itu menunduk. Lalu, “kenapa Nak Wawan tidak membawa kawan yang tadi malam sekalian, supaya Bapak mengenalnya?”.
       Darmawan dan Pertiwi saling pandang. “Nden inilah kawan saya tadi malam itu”, sahut Darmawan.
       “Apa?!”. Mata Pak Abdurrakhman membelalak menatap Pertiwi dengan wajah terkejut.
       “Sesungguhnya Bapak. Nden ini...”.
       “Wan!”. Pertiwi memotong perkataan Darmawan, tetapi nampaknya Darmawan tidak sepaham.
       “Kenapa Nden? Apa salahnya saya berterus terang tentang siapa Nden sebenarnya”.
       “Memang tidak salah. Tetapi tidak perlu”, sahut Pertiwi. 
       “Nden”, kata Darmawan sareh, “kita datang ke sini untuk memohon bantuan. Taruhannya bukti diri dan kejujuran. Sebab bantuan yang kita perlukan juga bantuan yang jujur. Bagaimana orang akan membantu dengan jujur kalau kita tidak berterus terang?”.
       “Bapak sependapat. Sebaiknya kita bicara secara terbuka”, ujar Pak Abdurrakhman.
       Pertiwi terdiam. Darmawan meneruskan kata-katanya yang terputus tadi: “Nden Pertiwi adalah puteri Juragan Camat”, kata Darmawan.
       “Apa? Puteri Pak Camat?”. Untuk kedua kalinya Pak Abdurrakhman terkejut lagi, “bagaimana mungkin?”, sambungnya. Namun tiba-tiba saja dia menuntut keterusterangan sebagai persyaratan: “Bapak berjanji akan menyelesaikan persoalanmu dengan satu syarat, mau menceritakan riwayat hidupmu sejujurnya, dan Nak Wiwi mau menjelaskan asal-usul hubunganmu dengan Nak Wawan sejujurnya pula. Kalau tidak, Bapak tidak bersedia membantumu”.
       “Nah, salahmu sendiri Wan”, kata Pertiwi.
       “Demi keselamatan wasiat almarhum Juragan Sukarta, saya tidak berkeberatan samasekali”.
       “Tetapi aku berkeberatan, karena menyangkut rahasia diriku”, sahut Pertiwi.
       ‘Tidak apa, nanti juga keluar dari cerita saya”.
       “O, jangan Wan. Untuk yang satu ini aku mohon”, kata Pertiwi dengan memelas, sehingga Darmawan jadi terkejut.
       “Tentu Nden, tentu. Sayalah yang harus mohon maaf karena telah melukai perasaan Nden”, ujar Darmawan. Lalu katanya kepada Pak Abdurrakhman: “saya tidak dapat memenuhi syarat yang Bapak minta, sehingga persoalan yang saya bawa terpaksa dibatalkan. Dengan demikian hanya tinggal janji saya yang harus dipenuhi”.
       Sejenak Darmawan berpikir karena harus memisahkan informasi yang tidak menyinggung surat wasiat. Baru kemudian katanya: “Belum banyak informasi yang saya peroleh. Tetapi satu hal penting perlu Bapak ketahui. Untuk menjaga rahasia kegiatan yang baru mulai tadi malam, Mang Sarju telah mengamankan tempat itu dengan membunuh Juragan Sukarta, pemilik sawah dan dangau yang sekarang mereka pergunakan sebagai pos penjagaan”.
       “Ah begitu kiranya”, desah Pak Abdurrakhman. Kini dia tahu bahwa persoalan yang dibawa anak muda itu sangat penting. Karena itu katanya: “Terimakasih Nak Wawan. Informasi yang kau berikan penting sekali. Sekarang apa yang bisa Bapak berikan sebagai pengganti informasi itu?”.
       “Tidak ada Pak. Tanpa Bapak minta pun, saya akan laporkan. Saya akan terus membayangi kegiatan mereka, sehingga kapan saja Bapak memerlukan informasinya, Bapak dapat menghubungi saya di pasar. Dengan demikian capai lelah saya tidak akan sia-sia”.
       “Tetapi bukankah Nak Wawan punya masalah yang mungkin dapat Bapak bantu?”.
       “Betul Pak. Tetapi sudah batal karena saya tidak dapat memenuhi syaratnya”, sahut Darmawan.   
       “Bagaimana kalau syarat itu Bapak cabut lagi?”.
       “Jangan Pak. Syarat adalah hukum. Kalau syarat mudah dibuat dan dibuang, maka hukum tidak akan amburadul, sehingga kepercayaan saya kepada Bapak akan jadi goyah. Bagaimana mungkin saya akan mempercayakan amanat orang kalau Bapak gampang merubah hukum?”.
       Mendengar jawaban itu untuk ketiga kalinya Pak Abdurrakhman terkejut, juga Pertiwi. Mereka tidak mengira, anak muda itu demikian lugu tapi konsekuen. Bahkan Pertiwi yang telah mengetahui bagaimana anak muda itu menerapkan persyaratan dalam pelaksanaan terhadap dirinya dan kawan-kawannya, baru menyadari bahwa sanksi hukuman itu bukan dipaksakan tetapi sewajarnya. Karena itu dia merasa, penolakan terhadap permintaan anak muda itu adalah salah.
       Di sebelah lain, Pak Abdurrakhman juga merasa salah ucap, karena terdorong rasa ingin tahunya akan rahasia kedua anak muda itu. Keluguan Darmawan membuat Pak Abdurrakhman harus memperbaiki kesalahannya sendiri.
       “Nak Wawan”, ujarnya dalam nada lemah, “Bapak minta maaf. Sesungguhnya syarat itu tidak ada samasekali dalam rencana Bapak, tetapi muncul begitu saja karena tertarik pada hubungan kalian yang luarbiasa dan sangat langka. Soalnya, sungguh sulit dipercaya, seorang gadis begini cantik anak pimpinan daerah pula dan berdarah biru yang punya kesempatan besar dan mudah untuk disunting orang kaya berpangkat tinggi atau sesama ningrat, mau bergaul intim dengan seorang kusir delman. Sehingga Bapak yakin, dibalik hubungan itu pasti ada hal yang istimewa”.
       “Tidak salah Bapak. Karena gadis itu merasa berutang nyawa pada kusir delman tersebut. Karena itu wajar saja jika dia mengabdikan sisa hidupnya kepadanya”, kata Pertiwi tiba-tiba. Malah dia masih menyambungnya: “Karena tahu kusir delman itu mustahil berani mengemukakan hasrat hatinya, maka dengan melupakan sifat kewanitaannya dia....”.
       “Nden, jangan...”. Darmawan menukas cepat.  
       “Kenapa Wan? Apa salahnya aku berterus terang bahwa akulah yang mendorongkan terjadinya hubungan kita”.
       “Tetapi saya tidak bermaksud sampai ke situ”. 
       “Tanpa diberitahukan juga Pak Abdurrakhman akan berkesimpulan demikian. Sebab mustahil seorang kusir delman berani mengemukakan hasrat hatinya terhadap gadis ningrat anak majikannya. Kalaupun berani mengemukakan, mustahil gadis ningrat itu mau melayaninya. Sementara permintaan beberapa anak ningrat dan anak pejabat tinggi ditolaknya?”, kata Pertiwi.
       “Sudahlah Nden. Saya tidak ingin orang menilai Nden sebagai gadis yang tidak punya harga diri”.
       “Peduli amat dengan pandangan orang lain. Asal bukan kau yang berpendapat begitu, bagiku sudah cukup”.
       Darmawan menunduk, namun dia masih berucap: “Tetapi Nden mendorongkan cinta sebelum peristiwa itu, ketika saya masih seorang kacung penunggu dangau dan penyabit rumput yang compang-camping, bukan karena merasa berutang nyawa. Itu berarti Nden mempunyai hati...”.
       “Wan!”.
       “Tidak apa Nden. Kalau Nden saja tidak takut pada penilaian orang, kenapa saya harus kukuh menutupi kenyataan diri dengan pura-pura jadi pahlawan? Padahal Nden sudah begitu merendahkan diri sendiri karena dorongan kemuliaan hati, bukan diawali rasa cinta”.
       “Siapa bilang tidak diawali cinta”, sanggah Pertiwi, “kalau saja kau tidak angkuh, kukira semua gadis kawan sekolahmu akan mengerumunimu, termasuk aku”.
       “Persyaratan sudah terpenuhi”. Tiba-tiba Pak Abdurrakhman menghentikan perdebatan mereka dengan mata berseri-seri. Lalu sambungnaya: “Bapak sangat berterimakasih. Kalian telah mempercayai Bapak sebagai orang pertama yang mengetahui rahasia kalian yang mengagumkan. Jangan khawatir, Bapak akan memegang teguh rahasia kalian tetap tertutup. Dengan kepercayaan yang kalian limpahkan kepada Bapak, untuk pertama kalinya sepanjang hidup, Bapak merasa bahagia dalam arti kata bahagia yang sebenarnya. Karena itu dengan tulus, sekali lagi Bapak mengucapkan terimakasih”.
       Darmawan dan Pertiwi memandang Pak Abdurrakhman beberapa lamanya. Kemudian kedua anak muda itu saling pandang dengan menyiratkan tanda tanya. Sebab mereka melihat jelas, wajah orangtua itu demikian berseri-seri seolah mendapat kepuasan besar.
       “Pak, seharusnya bukan Bapak yang berterimakasih kepada kami. Sebaliknya kamilah yang harus berterimakasih kepada Bapak, karena Bapak telah berjanji akan memegang teguh rahasia kami berdua”, kata Daramawan.
       “Hidup memang seringkali aneh Nak. Contoh yang paling jelas telah kalian lakukan sendiri barusan. Melalui perdebatan, kalian telah menceritakan rahasia hubungan yang tidak biasa di hadapan orang yang belum kalian kenal samasekali. Sedangkan kepada orang-orang yang telah kalian kenal lama, bahkan kepada orangtua sendiri, sengaja disembunyikan. Apa itu bukan aneh? Mengapa sampai bisa begitu? Karena dibalik hubungan kalian terdapat hal-hal tidak wajar menurut pandangan umum. Demikian pula yang terjadi pada diri Bapak. Ada hal-hal yang tidak wajar menurut pandangan umum, yang sayangnya belum waktunya Bapak ceritakan kepada kalian. Satu hal yang jelas. Rupanya pertemuan kalian dengan Bapak yang aneh ini bukan pertemuan biasa, tetapi merupakan proses dari peristiwa yang punya arti khusus. Dan kita bertiga termasuk titah yang dipercayai Tuhan untuk memegang peran dalam peristiwa khusus tersebut”.
       Pertiwi dan Darmawan mengerutkan keningnya. Rasa-rasanya mereka dapat menangkap makna yang dikatakan Pak Abdurrakhman itu, namun ketika akan diurai, sulit sekali. Pak Abdurrakhman tersenyum.
       “Jangan dicari maknanya, sebab kita tak akan mampu memperhitungkannya. Mungkin kita bisa memperhitungkan sampai batas tertentu dari gejala-gejala yang tampak sekarang. Itupun tidak akan mencakup keseluruhan kaitannya. Karena itu biarlah proses alam tersebut berlangsung. Yang wajib kita lakukan sekarang, bagaimana cara kita bertindak agar proses itu tidak mengarah kepada bencana besar bagi umat manusia”, sambung Pak Abdurrakhman.
       “Saya mengerti Pak”, kata Darmawan, “itulah sebabnya mengapa saya menghadap Bapak dan mengharap bantuan Bapak”.
       “Yang belum Bapak mengerti, mengapa Nak Wawan meminta bantuan Bapak? Bukankah persoalan ini terlepas dari hubungan pribadi kalian? Dengan demikian kalian dapat minta bantuan kepada pejabat setempat, misalnya Pak Camat, ayah Nak Wiwi sendiri? Atau maaf, apakah ayah Nak Wiwi...ngng...”. Pak Abdurrakhman nampaknya ragu-ragu untuk menyelesaikan kata-katanya.
       “Saya mengerti maksud Bapak. Bukankah Bapak menduga ayah saya turut terlibat?”, kata Pertiwi terus terang. Lalu: “Tidak Pak. Bahkan beliau juga menaruh kecurigaan pada masalah ini”.
       “Ya, lalu kenapa?”.
       “Soalnya ada pejabat pemerintah bawahan Pak Camat yang terlibat langsung, yaitu kepala Desa Pesawahan. Sekalipun saya percaya kepada Pak Camat, namun saya meragukan orang-orang di atas dan di bawah beliau, sehingga jalur itu tidak berani saya tempuh”, sahut Darmawan.
       “Bagus”, kata Pak Abdurrakhman, “ternyata kalian punya wawasan jauh. Sesungguhnyalah, jalur resmi telah ternodai. Bukan berarti kita menuduh mereka semua tidak bisa dipercaya. Tetapi bila jalur itu ditempuh, bukan mustahil laporan kita akan jatuh ke tangan yang salah. Sehingga jerih payah kita bukannya menghasilkan situasi lebih baik, sebaliknya justru jadi bumerang”.
       “Ya Pak”.
       “Ngng...baiklah. Nampaknya Nak Wawan dan Nak Wiwi telah lama menyelusuri jejak ini. Nah, ceritakan apa yang ingin kalian sampaikan, dan pertolongan apa yang kalian harapkan dari Bapak. Kita mengobrol santai saja, sambil minum”.
       “Sesungguhnya dangau yang dijadikan pos pengawasan di dekat tempat latihan yang Bapak lihat tadi malam adalah milik Juragan Sukarta, bekas majikan saya”, kata Darmawan memulai ceritanya. Kemudian dia bercerita lengkap bagaimana tanah milik Juragan Sukarta telah diambil alih oleh Pemuda Rakyat yang bekerja sama dengan kepala desa. Tentang adanya dua surat wasiat. Tentang orang-orang yang terlibat dalam pengambilalihan itu, hingga tentang usahanya ‘mencuri kembali’ bagian-bagian surat wasiat dari tangan-tangan yang memegangnya.
       “Surat wasiat aslinya yang dibuat kepala desa, belum saya ambil, karena pembagian itu belum selesai. Mungkin Bapak juga mendengar pada pembukaan latihan tadi malam, tiga di antara peserta latihan terbaik akan memperoleh bagian tanah garapan. Di samping lain, saya belum tahu, kepada siapa persoalan ini dapat saya percayakan”, kata Darmawan mengakhiri ceritanya. Lalu dia mengeluarkan sebundel surat-surat termasuk surat wasiat yang diterimanya langsung dari Juragan Sukarta yang dibuat di depan Notaris, dan diserahkan kepada Pak Abdurrakhman.
       “Sungguh beruntung Bapak bertemu dengan kalian. Dalam satu jam saja Bapak telah memperoleh semua yang diperlukan, yang tidak mungkin didapat oleh detektif paling kawakan sekalipun”, kata Pak Abdurrakhman dengan gembira sambil menelaah semua surat yang diperolehnya dengan cermat. 
       Sementara menunggu Pak Abdurrakhman selesai menelaah surat-surat itu, Darmawan dan Pertiwi makan buah-buahan yang terhidang di atas meja.
       “Apa bersama surat wasiat yang diserahkan kepada Nak Wawan, Juragan Sukarta menyerahkan harta berbentuk uang kepadamu?”, tanya Pak Abdurrakhman tiba-tiba.
       “Tidak Pak”.
       “Lalu dari mana Nak Wawan memperoleh uang 450.000 rupiah yang disumbangkan kepada panti asuhan ini?”, tanyanya lagi sambil memperlihatkan kwitansi yang terselip di antara surat-surat itu.
       Saya curi dari rumah isteri Juragan Sukarta sehari setelah penjualan ternak. Sebenarnya harga ternak yang dijualnya 750.000 rupiah, tetapi sebagiannya telah dibelanjakan oleh isteri Juragan Sukarta, dan saya hanya menemukan sejumlah itu”.
       “Tentu dia marah besar mengetahui uangnya hilang”, kata Pak Abdurrakhman sambil tersenyum.
       “Benar Pak. Sampai semua tetangganya berkerumun di depan rumahnya. Mang Sarju, Mang Gomar, dan jawara yang bernama Baran jadi sasaran tuduhan, karena kebetulan malam itu mereka tidur di rumahnya. Tapi akhirnya Mang Sarju berhasil meredakan kemarahannya”, sahut Darmawan sambil tersenyum pula. Pertiwi pun turut tersenyum.
       “Lalu bagaimana maksud Nak Wawan dengan surat-surat ini?”.
       “Saya serahkan kepada Bapak”.
       “Hmm...baiklah. Bapak akan berusaha membantu menangani wasiat ini. Bila berhasil, Bapak akan menyerahkan pelaksanaan wasiatnya kepada Nak Wawan. Karena Nak Wawanlah yang diamanati almarhum. Sepulangnya dari sini Bapak akan membuat fotokopinya untuk pegangan Nak Wawan. Bukankah Nak Wawan sendiri memperoleh tanah garapan itu?”.
       “Ya Pak. Tetapi bagian saya sendiri akan saya sumbangkan pula, karena dangau itu telah ternoda. Mereka telah menggunakannya sebagai tempat perbuatan maksiat. Itu saya ketahui tadi malam”.
       “Bapak sungguh kagum kepadamu Nak. Kau benar-benar seorang pejuang tanpa pamrih. Terimalah salam persahabatan yang tulus dari Bapak”, ujar Pak Abdurrakhman sambil menjulurkan tangannya. Dengan agak malu Darmawan menerima uluran tangan orangtua itu.
       “Bapak minta, sejak saat ini Nak Wawan hentikan dulu ‘mencuri’ surat-surat pembagian tanah itu sampai ada pemberitahuan dari Bapak, agar tidak menimbulkan hal-hal yang tidak kita kehendaki sebelum semuanya siap”.
       “Baik Pak”.
       “Tetapi Bapak akan minta kalian meneruskan mengikuti perkembangan langkah-langkah mereka, dan melaporkan semuanya kepada Bapak. Bila ada hal yang sangat penting dan mendesak, sebaiknya salah seorang dari kalian langsung menghubungi Bapak di Jakarta”, kata Pak Abdurrakhman sementara tangannya merogoh saku bajunya dan mengeluarkan sebuah kartu nama. Sebelum kartu itu diserahkan, dia mengambil spidol dan membuat tanda lingkaran di belakangnya, didalam diberi tanda ‘x’.
       “Bila kartu nama bertanda ‘x’ ini kalian perlihatkan kepada orang di rumah, meski Bapak sedang tidak ada, mereka akan mengetahui siapa kalian, dan mereka pasti akan segera menghubungi Bapak”, sambungnya sambil menyerahkan kartu tersebut kepada Darmawan.
       “Baiklah Pak, dan terimakasih atas bantuan Bapak”, sahut Darmawan. Lalu dia menyerahkan kartu itu kepada Pertiwi: “Sebaiknya Nden yang menyimpan, karena kalau di pondok saya takut hilang”.
       Pak Abdurrakhman bangkit dari duduknya. Dia menghampiri tas echolac miliknya. Dari dalamnya dia mengambil sebuah tustel. “Bapak perlu foto kalian untuk laporan kepada atasan bahwa di daerah ini Bapak punya informan. Bila terjadi kekacauan, dalam situasi gawat, foto kalian akan jadi sangat penting untuk keselamatan kalian sendiri dari kesalahan penangkapan yang berwajib”, ujarnya, “nah, Nak Wawan dulu berdiri di sana”.
       Selesai memotret kedua anak muda itu, mereka duduk kembali di kursi masing-masing. Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu kamar. Pak Abdurrakhman bangkit dan membuka pintu. Yang datang adalah pelayan hotel yang mendorong meja berisi makanan. Sementara pelayan mempersiapkan makanan itu, Pak Abdurrakhman menyimpan kembali tustelnya ke dalam echolacnya.
       “Bapak sengaja memesan makanan ini untuk merayakan pertemuan kita”, ujar Pak Abdurrakhman setelah pelayan pergi. “mari kita makan dulu”,
       Darmawan dan Pertiwi hanya dapat mengiyakan. Mereka tidak menyangka samasekali kalau orang tua yang baru dikenalnya itu demikian menghargai mereka berdua, khususnya Darmawan yang dalam perkenalannya diketahui sebagai kusir delman. Dari ucap taindaknya yang terbuka dan ramah, apalagi setelah memberikan kartu namanya, mau tidak mau Pertiwi harus membuang segala kecurigaannya dan harus mengakui bahwa penilaian Darmawanlah yang benar.
       “Sekarang kita bicara masalah lain”, ujar Pak Abdurrakhman. “Nak Wiwi, perkenankan Bapak menyampaikan kekaguman kepadamu. Dari perdebatan kalian tadi, Bapak harus memuji Nak Wiwi sebagai gadis yang berhati mulia”.
       “Ah”. Pertiwi berdesah dan menundukkan kepalanya karena merasa malu oleh pujian yang terang-terangan itu.
       “Bapak bukan bermaksud menyanjungmu Nak, tetapi benar-benar keluar dari dasar hati Bapak”.
       “Alhamdulillah. Bapak membuat saya jadi malu hati”.
       “Sungguh Nak. Selama hidup, baru kali ini Bapak bertemu dengan gadis ningrat yang begini cantik lahir dan batinnya. Kalau saja di dunia ini ada yang sempurna, Nak Wiwi adalah salah satu diantaranya. Kau adalah teladannya gadis-gadis”.
       Sesuatu menyenak di kerongkongan Pertiwi. “Terimakasih Bapak”, sahutnya dalam nada serak dan matanya tampak memerah basah, “tetapi saya mohon Bapak tidak melanjutkan lagi. Saya khawatir pujian Bapak akan mendorong saya jadi manusia lepas kendali dan lupa diri. Tolonglah Bapak”.   
        Darmawan hampir saja bangkit. Kalau saja tidak ada orang lain, ingin rasanya dia mengelus rambut gadis itu untuk menenteramkan hatinya. Sebab jelas sekali hati gadis itu mengalami tekanan berat. Bukannya gembira mendapat pujian itu, sebaliknya lebih mengarah kepada ketakutan.
       Yang mengherankan sikap Pak Abdurrakhman. Mendengar kata-kata gadis itu dan menyaksikan ketakutan yang membayang di wajahnya, wajah Pak Abdurrakhman tidak menyiratkan rasa terkejut. Sebaliknya wajah orangtua itu membayangkan kepuasan, seolah memperoleh apa yang diingininya, dan seulas senyum membayang di bibirnya. Darmawanlah yang jadi berdebar-debar. Dia merasakan sikap orangtua itu sangat aneh membingungkan. Dalam keadaan demikian Pak Abdurrakhman berkata lagi.
       “Baiklah Nak. Bapak mengerti perasaanmu, dan Bapak bersyukur karena ternyata kau tidak terlena oleh sanjungan yang menyesatkan, yang bisa menjadikan orang lupa daratan. Dari sikapmu itu Bapak dapat menyimpulkan, kau tidak menilai darah keturunan dan kekayaan sebagai yang patut dibanggakan. Kau lebih condong berpegang pada ajaran Qur’an. Apa sikap hidupmu ini sejalan dengan sikap hidup orangtua Nak Wiwi?”.
       Mendengar pertanyaan itu Darmawan dan Pertiwi baru menyadari kalau sanjungan Pak Abdurrakhman itu merupakan jebakan halus untuk mengorek pribadi mereka. Mengingat itu, mau tidak mau mereka harus mengakui Pak Abdurrakhman seorang cerdik. Karena itu mereka dapat menduga arah pertanyaan orangtua tersebut.
       “Saya khawatir tidak sejalan Pak”, sahut Darmawan mendahului Pertiwi, “saya juga telah beberaa kali mengingatkan tentang hal itu”.
       “Kalau begitu kalian sudah menyadari betul kemungkinan akibat hubungan kalian”.
       “Ya Pak”, kata kedua anak muda itu hampir serempak.
       “Nak Wawan dan Nak Wiwi”, kata Pak Abdurrakhman dalam nada berat, “Bapak ingin memperingatkan. Bagi sebagian menak, darah keturunan punya nilai tertinggi. Mereka menilai kemurnian darah biru di atas segalanya, sehingga tidak jarang mengalahkan hubungan orangatua dan anak. Apa Nak Wiwi sudah memikirkan kemungkinannya hingga ke situ?”. 
       “Apaboleh buat Pak. Nurani saya lebih condong kepada ajaran Qur’an”, sahut Pertiwi.
       “Dari Perdebatan kalian tadi, Bapak juga menyimpulkan demikian. Bapak hanya ingin meyakinkan dan sekaligus mengingatkan kemungkinan paling pahit yang bisa terjadi pada Nak Wiwi. Mudah-mudahan sikap hidup Pak Camat tidak termasuk di antara menak yang Bapak sebutkan tadi. Tetapi bila akibat paling pahit itu sampai terjadi, Bapak akan mencoba membantu sebatas kemampuan Bapak. Karena itu, jagalah kartu nama yang Bapak berikan, jangan sampai hilang. Kapan saja Nak Wiwi atau Nak Wawan memerlukan bantuan, jangan segan-segan temui Bapak”, kata Pak Abdurrakhman.
       “Terimakasih Pak”, sahut kedua anak muda itu dengan nada haru.
       “Hmm...ya begitu saja”. Pak Abdurrakhman menggumam sambil mengangguk-anggukkan kepala.
       Darmawan dan Pertiwi saling pandang. Mereka melihat orangtua itu sepeti baru memperoleh pemecahan yang bagus terlepas dari masalah yang dibicarakan. Tentu saja mereka tidak berani bertanya, sekalipun mereka melihat keanehan pada wajah Pak Abdurrakhman yang seperti anak kecil memperoleh mainan menyenangkan hatinya. Namun dia cepat tersadar dari lepas kontrol dirinya, dan nampaknya dia berusaha menutupinya dengan alasan yang wajar.
       “Begini saja Nak Wawan”, ujarnya kemudian. “Sebenarnya untuk mengawasi kegiatan orang yang Bapak buntuti itu, Bapak telah merencanakan tinggal beberapa hari lagi di daerah ini, dan telah menunda beberapa urusan di Bandung. Tetapi berkat bantuan kalian berdua, Bapak tidak perlu tinggal di sini lebih lama. Sebab ternyata pekerjaan kalian jauh lebih baik dari yang Bapak lakukan sendiri. Karena itu, untuk selanjutnya Bapak akan mempercayakan tugas di sini kepada kalian berdua. Kalian harus mengirim laporan setiap perkembangan yang terjadi. Lebih baik jika laporan itu kalian bawa sendiri ke Jakarta, terutama jika ada hal mendesak dan perlu penanganan secepatnya. Bapak minta, kalian mengumpulkan semua nama orang yang latihan di hutan itu berikut alamat lengkapnya. Juga orang-orang lainnya yang berhubungan dengan mereka, meski tidak turut latihan. Bagaimana sanggup?”.
       “Akan kami usahakan Pak”.
       “Bagus. Bapak benar-benar gembira”, ujarnya sambil menjangkau tas echolacnya yang ditaruh di pembaringan. Tas itu ditaruh di atas meja dihadapannya dan dibuka. Dia mengambil segepok uang satu ribuan dari dalamnya, lalu diletakkan dihadapan Darmawan. “Itu sekedar pengganti informasi yang telah Bapak terima”, sambungnya.
       “O, jangan Pak. Saya sudah sangat gembira karena Bapak bersedia membantu menguruskan surat wasiat almarhum Juragan Sukarta”, sahutnya sambil menyorongkan kembali gepokan uang itu.
       “Jangan ditolak”, kata Pak Abdurrakhman sambil menutupkan tasnya. “Untuk mengumpulkan informasi begini lengkap, jika Bapak sendiri yang melakukannya, pasti menghabiskan waktu lama dan uang lebih banyak. Di samping lain, dengan dapat menguruskan pekerjaan di Bandung lebih cepat, Bapak akan mendapat keuntungan sekian kali lipat dari jumlah itu. Bahkan Bapak masih menjanjikan, kapan saja kalian memerlukan biaya dalam rangka tugas yang diberikan, Bapak akan mengirimkannya”.
       Darmawan tidak bisa menolak lagi. “Kalau begitu saya hanya dapat mengucapkan terimakasih”.
       Pak Abdurrakhman tersenyum. Beberapa lamanya lagi mereka masih berbincang-bincang, terutama riwayat hidup Darmawan yang ingin diketahui Pak Abdurrakhman. Darmawan terpaksa menceritakan, sehingga akhirnya Pak Abdurrakhman mengetahui pula bahwa kedua anak muda itu punya kemampuan silat. Akhirnya pertemuan mereka berakhir dan kedua anak muda itu berpamitan.
       “Seumur hidup, baru sekarang saya mendapat uang begini besar. 50.000 bagian Nden, dan 50.000 bagian saya. Bukan main”, kata Darmawan sementara mereka keluar dari penginapan.
       “Tidak Wan. Uang itu semua milikmu. Masukkan saja seluruhnya ke dalam tabunganmu agar cepat besar. Mudah-mudahan kekukuhan darah biru Ayah tidak separah yang diperkirakan Pak Abdurrakhman, dan dapat dicairkan oleh gepokan uang, agar aku tidak harus menentang beliau dalam urusan calon suami. Saat ini tabunganku sendiri sudah lumayan.  Bila perlu, kau dapat menggunakannya untuk menutupi kekurangannya”, kata Pertiwi.
       “Baiklah Nden. Demi memperoleh Nden, saya akan lebih giat menabung”.
       “Bukan keinginanku Wan. Bagikku, sekalipun berlangsung dalam upacara paling sederhana, bukan masalah. Kalau aku nanti mengajukan permintaan sejumlah uang, berarti karena desakan orangtua”.
       “Saya mengerti Nden. Karena itu saya tidak menolak tawaran Nden jika terpaksa harus menggunakan uang Nden untuk memenuhi jumlah yang diminta Juragan Camat”.
       “Kalau masih kurang juga, aku akan minta bantuan kepada Pak Abdurrakhman sebagaimana yang ditawarkannya tadi. Soal perhitungannya, urusan belakangan. Yang penting, aku ingin jadi milikmu”.

--0--

       “Ternyata demikian besarnya cinta dan kesetiaanmu padaku Dik Wanti. Tadinya Kak Angga khawatir kau telah melupakanku karena kutinggalkan lebih dari sebulan. Sebenarnya Kak Angga sendiri tidak mau meninggalkanmu sekalipun hanya sehari. Tapi ayah Kak Angga telah mempercayakan usaha keluarga kepadaku. Sebab nantinya Kak Anggalah yang akan menggantikan tugas ayah sepenuhnya. Karena itulah begitu tiba di rumah, Kak Angga langsung menemuimu. Sebab Kak Angga sudah benar-benar rindu. Dik Wanti semakin cantik”, kata Raden Angga kepada Purwanti sementara mereka duduk berhadapan di teras rumah. “Kalau saja di tepas tidak ada prangtua Dik Wanti memperhatikan kita, Kak Angga ingin sekali memelukmu”, sambungnya dengan suara lebih perlahan.
       “Wanti juga sama Kak Angga”, kata Purwanti dengan mata meredup.
       “Jadi kapan kita dapat melepaskan kerinduan kita?”.
       “Wanti tidak tahu kapan Ayah pergi ke luar kota. Kalau Kak Wiwi sudah punya waktu tetap. Seminggu tiga kali dia latihan volley. Coba saja Kak Angga lusa datang ke sini. Wanti akan bertanya kepada Ayah, kapan dia dinas luar”, kata Purwanti.
       “Tapi Dik Wanti harus hati-hati, jangan sampai ayah Dik Wanti curiga”.
       “Wanti sudah besar kok. Wanti juga tahu”.
       “Ya, ya, memang Dik Wanti sudah besar. Kang Angga percaya”, kata Raden Angga, “kalau begitu sekarang Kak Angga pulang dulu”. 
       Ketika Raden Angga masuk ke tepas untuk berpamitan kepada Juragan Danu dan isterinya, Darmawan dengan delmannya muncul dari belakang.
       “Tunggu Mang Darma”, kata Purwanti sambil menghampiri kusir delman itu.
       Darmawan menghentikan delmannya. “Ada apa Nden?”.
       “Mang Darma mau ke mana?”.
       “Menjemput Nden Wiwi di lapang volley”, sahutnya sambil menekan topi pandannya ketika melihat Raden Angga keluar dari tepas.
       “Bisa kan Mang Darma mengantar Kak Angga dulu?”.
       “Tentu Nden. Apalagi rumah Den Angga se arah dengan tujuan Emang”.
       Purwanti mengangguk. Lalu kepada Raden Angga: “Nah, Kak Angga bisa membonceng delman Mang Darma”.
       “Terimakasih Dik Wanti. Kak Angga pulang dulu ya”.
       Purwanti mengangguk. “Jangan lupa lusa”, katanya.
       “Pasti”, sahut Raden Angga sambil naik ke atas delman.
       Sejenak kemudian delman itu bergerak meninggalkan kecamatan. Beberapa lamanya tidak ada yang bicara. Tetapi kemudian Darmawan membuka percakapan.
       “Rasanya lama sekali Aden tidak berkunjung ke Juragan”.
       “Sibuk Mang. Tugas ke Bandung sebulan”.
       “Apa di Bandung itu ramai Den? Emang mah belum pernah ke sana seumur hidup”.
       “Ramai sekali Mang. Segala ada. Kalau Emang ke sana pasti bengong.Apalagi Jakarta”.
       “O, Aden pernah ke Jakarta juga?”.
       “Tentu saja. Namanya juga pedagang. Sering malah”.
       “Wah pengalaman Aden luas sekali. Mungkin Emang mah tidak akan pernah mengalaminya”.
       “Sayang kalau sampai tidak datang ke sana Mang. Di sana sekarang orang bisa nonton film di rumah sendiri. Tidak perlu ke bisokop”, kata Raden Angga dengan bangga.
       “Ah apa benar? Bagaimana caranya Den?”.
       “Ya beli pesawatnya, namanya televisi. Filmnya diputar di Jakarta, kita bisa nonton di Bandung”.
       “Film di Jakarta bisa ditonton di Bandung? Ah yang bener Den”, kata Mang Darma bengong.
       “Bener kok. Masa aku membohongi Emang”.
       “Tapi...tapi mana mungkin Den? Bagaimana caranya?”.
       Raden Angga tersenyum mendengar pertanyaan itu. Lalu sahutnya: “Sama seperti radio. Bedanya, kalau yang keluar dari radio adalah suara, sedang dari televisi adalah film”.
       “Kok aneh sekali. Ke mana lewatnya gambar-gambar itu?”.
       “Seperti suara radio, melalui kawat listrik”, sahut Raden Angga.
       “Hmm, gambar lewat kawat listrik”, gumam Mang Darma hampir tak terdengar. Lalu: “Maksud Aden, apa gambar-gambar itu antri berlarian sepanjang kawat listrik dari Jakarta ke Bandung?”.
       Raden Angga tertawa keras. Setelah reda baru menjawab. “Tentu saja tidak”, sahutnya.
       “Jadi bagaimana caranya?”.
       “Aku juga tidak tahu. Yang jelas, tiap orang yang punya pesawat televisi bisa nonton di rumah masing-masing tiap malam tanpa bayar”.
       “Wah enak sekali ya Den. Kalau saja ada di sini, Emang mah mau nonton terus tiap malam”.
       “Memang selama di Bandung aku juga nonton tiap malam. Karena itu aku kerasan di sana”.
       Mang Darma mengangguk-anggukkan kepala.
       “Eh ngomong-ngomong, apa hari Kamis Juragan Camat tugas luar?”, tanya Raden Angga.
       “Hari Kamis? Ah iya, memang Juragan telah minta Emang menyiapkan kuda pagi-pagi. Habis ada apa Den?”.
       “Aku sendiri belum tahu. Mungkin akan diajak Juraganmu mengawal Nden Wanti. Bukankah tadi Emang sendiri mendengar pesan Nden Wanti?”.
       “Tapi Nden Wanti kan Sekolah Den. Apa dia akan bolos sekolah?”, tanya Mang Darma.
       “Tentu tidak Mang. Kau juga pasti tahu, Juraganmu sangat keras kalau tentang urusan sekolah”.
       “Iya Den. Karena itu tadi Emang menanyakan”.
       “Kami akan berangkat sehabis Nden Wanti pulang sekolah”, kata Raden Angga, “sayang Nden Wiwi tidak ikut”.
       “Nden Wiwi mah banyak kegiatannya di sekolah Den. Hari Kamis latihan volley”.
       “Hmm...apa tidak pernah pulang dulu ke rumah?”, tanya Raden Angga.

--0--

       “Tidak. Kita langsung saja ke lapangan”, sahut Darmawan sehabis bubaran sekolah.
       “Kenapa Wan? Apa kau akan merubah jadwal waktu yang kau tentukan sendiri?”, tanya Marni.
       “Hanya hari ini. Aku harus cepat-cepat pulang. Aku punya urusan penting di rumah”.
       “He, ada apa ribut-ribut?”, tanya Pertiwi yang baru keluar dari kelas bersama Susi.
       “Pacarmu minta kita latihan langsung”, sahut Herlina mendahului.
       “Apa benar Wan?”, tanya Pertiwi.
       “Ya Wiwi, aku ada urusan penting di rumah”, sahutnya. Lalu, “nah, kutunggu kalian di lapangan. Kalau seperempat jam dari sekarang belum muncul, aku akan terus pulang”.
       “Kalau begitu kita batalkan saja latihan hari ini”, kata Herlina.
       “Kenapa?”, tanya Daramawan.
       “Aku lapar. Aku harus makan dulu. Kalau tidak, aku bisa semaput”.
       “Jangan kawatir. Soal makan sudah kupikirkan. Pokoknya datang saja ke lapangan, tanggung kalian kenyang. Aku sudah pesan nasi bungkus buat semua”, sahut Darmawan sambil berlalu.
       “He, apa benar Wiwi?”, tanya Marni.
       “Mana aku tahu?”, kata Pertiwi dalam tanda tanya. Karena sesungguhnya Darmawan tidak memberitahu samasekali ketika berangkat sekolah tadi pagi.
       Dalam pada itu tim putera muncul dari gudang dengan membawa peralatan volley.
       “He, kenapa kalian belum siap-siap?”, teriak Dodi yang melihat tim puteri masih berkerumun, “apa kalian tidak takut kehabisan?”.
       “Kejutan teman-teman”, kata Herlina tiba-tiba, dan dia berlari ke gudang.
       Serempak yang lainnya mengikuti, sementara mulut mereka ribut mengomentari tindakan pelatih volley mereka yang tidak biasa itu. Rupanya Darmawan hanya memberitahukan kepada tim putera, sengaja untuk membuat kejutan kepada tim puteri.
       Sebenarnyalah ketika Pertiwi dan kawan-kawannya tiba di lapangan, di bawah pohon beringin mereka melihat tim putera sedang mengerumuni tampah besar yang penuh dengan nasi bungkus. Maka mereka pun langsung menyerbu. Pertiwi dan Darmawan mengambil paling akhir.
       “Kejutan apa ini Wan? Apa kau dapat rejeki besar?”, tanya Maryanti ketika mulai makan.
       “Syukuran. Panenku tahun ini sangat baik”, sahut Darmawan.
       “Kudoakan panenmu terus meningkat, supaya sering-sering syukuran begini”, kata Sumarna.
       “Akuuur!”, teriak kawan-kawan lainnya serempak.
       “Juga supaya cepat-cepat ehm”, celetuk Susi sambil melirik Pertiwi yang duduk bersama Marni.
       “Akur juga!”, teriak serempak lagi.
       “Terimakasih atas doa kalian. Mudah-mudahan saja Tuhan mengabulkan”.
       “Amiiin!”.
       Dalam pada itu Marni berbisik kepada Pertiwi: “Nampaknya pacarmu sudah berubah banyak. Ternyata sifatmu telah kau tularkan kepadanya”.
       “Apa benar Mar? Rasanya aku tidak pernah mempengaruhinya”.
       “Kalau begitu, dia telah ketularan olehmu”, timbrung Susi, “dan yang beruntung kita semua”.
       “Jangan cepat menyimpulkan”, kata Herlina, “masa hanya dengan sogokan sebungkus nasi kau katakan untung?”.
       Susi berpaling, lalu katanya: “Apa kau tidak merasakan kemampuan volleymu meningkat? Lalu inisiatif siapa pula belajar bersama itu sehingga pengetahuan dan kepandaian kita lebih baik dibanding kawan-kawan lain?”.
       “Benar juga ya”, kata Herlina mengakui.
       “Makanya...”. Maryanti menimbrung dengan kata-kata menggantung.
       “Makanya apa?”, tanya Herlina.
       “Makanmu cepat habiskan, supaya tidak dihukum karena ketinggalan latihan”.
       “Sialan, kukira apa”, rutuknya. Tetapi dia mengikuti saran temannya itu, karena dia memang yang paling takut dihukum. Pertiwi dan yang lainnya tersenyum.
       Tak lama kemudian latihan pun dimulai, tetapi tidak selama seperti biasanya. Selesai latihan mereka langsung bubar. Seperti biasanya, Darmawan dan Pertiwi pulang paling akhir.
       “Tolong kembalikan tampah dan kompan air itu kepada Bi Unah, Nden. Saya akan mengambil delman dulu”, kata Darmawan.
       Pertiwi mengangguk. Dia membereskan bekas makan-makan itu, dan membuang sampahnya ke tempatnya. Baru dia membawa tampah dan tempat air minum berikut cangkirnya ke salah satu rumah yang tidak jauh dari lapangan volley. Darmawan dengan delmannya muncul tak lama setelah Pertiwi tiba di jalan.
       “Kenapa hari ini kau melakukan hal yang aneh Wan?”, tanya Pertiwi setelah delman berjalan.
       ”Apanya yang aneh Nden? Saya mengadakan syukuran, karena telah berhasil mengumpulkan nama dan alamat orang-orang yang berlatih di hutan itu lebih dari setengahnya hanya dalam waktu satu bulan, sekaligus karena kita mendapat rejeki tidak kecil dari Pak Abdurrakhman tempo hari. Apa nama-nama itu telah Nden kirimkan semua?”.
       “Sudah. Lima yang terakhir kukirim kemarin”.
       “Nampaknya dua desa lagi tidak dapat diselidiki dengan berpencar karena letaknya paling jauh”.
       “Hmm”. Pertiwi hanya menggumam.
       “Kenapa Nden?”.
       “Apa dengan mempercepat latihan tadi kau hendak mengajakku ke salah satu desa itu sekarang?”.
       “Belum sekarang Nden”.
       “Lalu?”.
       “Dua hari yang lalu saya melihat Den Angga datang ke rumah”.
       “Tentu menemani si Wanti setelah sebulan tidak bertemu”, kata Pertiwi.
       “Benar Nden. Malah pulangnya saya yang mengantarkan. Saya dengar hari ini dia diajak tugas keliling oleh Juragan”.
       “Ayah mengajak dia dalam tugas dinas? Kok aneh. Apa dia itu pegawai kecamatan?”.
       “Bukan kata Juragan, tapi kata Den Angga. Katanya diminta mengawal Nden Wanti yang ingin ikut dengan Juragan”.
       “O, jadi itukah alasan sakit si Wanti tidak masuk sekolah?”, kata Pertiwi sambil mengerut kening. Lalu: “Aneh pula. Sejak kapan Ayah mengajar anaknya berbohong karena hendak diajak tugas? Ah, itulah alasanmu mempercepat latihan tadi Wan? Bukankah Ayah berangkat tadi pagi, dan sekarang mereka bebas berduaan?”.
       “Ya Nden”.
       “Lalu kenapa tadi tidak kau batalkan saja latihannya? Bahaya Wan. Mungkin sekarang...o, Wan percepat kudanya. Aku khawatir sekarang telah terjadi sesuatu dengan si Wanti”, kata Pertiwi rusuh.
       “Sabar Nden. Saya tidak dapat membatalkana latihan tanpa alasan jelas. Karena itu saya telah berusaha mengulur waktu pertemuan mereka. Mudah-mudahan sekarang belum terjadi apa-apa”.
       “Apa yang telah kau lakukan?”, tanya Pertiwi agak tenteram lagi.
       “Saya katakan. Pagi-pagi Nden Wanti sekolah. Den Angga sendiri membenarakan disiplin Juragan sangat keras. Dia juga mengatakan Juragan akan berangkat sepulang sekolah Nden Wanti. Ketika menanyakan Nden, saya katakan latihan volley pukul tiga, dan Nden selalu pulang dulu untuk makan. Menurut perhitungan saya, dia akan datang pukul dua lebih, karena tidak ingin bertemu Nden”.
        Pertiwi melihat arlojinya: “Sekarang pukul setengah tiga”, katanya.
       “Mungkin saat ini dia baru datang”.
       “Wan”.
       Darmawan berpaling: “Ada apa Nden?”.
       “Terimakasih”, ujar Pertiwi.
       “Sudah kewajiban kita menjaganya Nden. Bukankah saya calon kakak iparnya?”.
       Pertiwi tersenyum cerah. Betapa manisnya kata-kata itu terasa di telinga Pertiwi. Begitu delman berhenti di depan rumah, Pertiwi meloncat turun dan bergegas masuk. Di tepas tidak ada siapa-siapa. Dia langsung masuk ke kamarnya untuk menyimpan tas sekolahnya. Tetapi segera keluar lagi. Dia menghampiri kamar Purwanti, langsung membuka pintunya, kosong. Dia menghampiri kamar ibunya dan mengetuk pintunya.
       “Siapa?”, tanya suara wanita dari dalam.
       “Wiwi Bu”.
       “Masuk saja, tidak dikunci. Kau baru pulang?”, tanya Ibunya setelah Pertiwi masuk dan duduk di sisi pembaringan di samping Ibunya yang sedang menjahit renda.
       “Ya Bu, latihan volleynya langsung setelah bubaran sekolah, karena pelatihnya ada keperluan lain”.
       “Makanlah dulu, nanti kau sakit. Aku dan adikmu sudah duluan, karena kau tidak datang juga”.
       “Apa sakit Wanti sudah sembuh?”, tanya Pertiwi.
       “Sudah agak baikan. Tapi katanya badannya masih lemah. Dia hanya keluar kamar untuk makan, lalu masuk lagi”.
       “Baiklah Bu. Wiwi akan istirahat dulu sebentar”, ujar Pertiwi dan dia keluar kamar ibunya.
       Ternyata Ibunya tidak tahu Purwanti tidak ada di kamarnya. Maka Pertiwi pergi ke dapur. Tampak Bi Acah sedang menanak nasi.
       “Bi, apa Bibi melihat Wanti?”.
       “Belum terlalu lama Nden Wanti keluar. Katanya mah mau ngajagjagkeun sampean di kebun”.
       “Baiklah aku akan mencarinya. Terimakasih Bi”.
       “Silahkan Nden”.
       Tiba di kebun belakang Pertiwi menyapukan pandangannya ke semua sudut. Tidak ada gerakan, hening. Akhirnya dia melangkah menghampiri ranggon di pinggir kolam, tempat ayahnya bersantai sambil mancing kalau ada waktu luang atau hari libur. Ranggon itu berdinding bilik hampir satu meter, di bagian atasnya terbuka. Yang tidak berdinding adalah yang menghadap kolam.
       Semakin dekat ke ranggon, Pertiwi berjalan semakin lambat tanpa menimbulkan suara. Ketika jaraknya sudah sangat dekat, dia mendengar bisikan-bisikan perlahan dan dengusan nafas dibarengi desahan lirih perempuan. Wajah Pertiwi menyemburat. Dengan beberapa loncatan dia telah berdiri tegak mengangkang kaki di atas palupuh ranggon. Tangan kanannya langsung menjambret kerah baju Raden Angga, dan menyeret dengan kasar tubuh pemuda itu turun dari ranggon. Telinganya masih mendengar pekikan terkejut Purwanti yang baju di bagian dadanya terbuka lebar.
       “Berdiri Angga!”, bentak Pertiwi dengan pandangan menyala.
       Dengan wajah memutih dan siratan ketakutan, Raden Angga bangun dan berdiri di depan Pertiwi. Begitu tegak, tangan Pertiwi menampari pipi anak muda itu dengan keras. Lalu kedua tinjunya menggocoh wajah pucat itu secara beruntun. Raden Angga mengerang-erang oleh rasa sakit yang hampir tak tertahankan. Dari hidung dan bibirnya keluar cairan merah. Kedua mata dan pipinya bengkak biru sembam.
       “Laknat kau Angga! Kau telah merusak masa depan adikku tahu?! Kau bujuk-bujuk adikku dengan rayuan buayamu. Ayo lawan aku!”, bentaknya lagi sambil memasang kuda-kuda.
       Selama Pertiwi bicara, tubuh Raden Angga terhuyung-huyung karena hentakan pukulan-pukulan tadi dan oleh rasa pening. Tapi akhirnya dia bisa berdiri tegak lagi dengan mulut menyeringai.
       “Ayo lawan aku! Bukankah kau laki-laki?”.
       Raden Angga tidak bergerak, bahkan kedua lengannya tergantung lemas.
       “Pengecut!”, desis Pertiwi.
       Kemudian secara beruntun Pertiwi kembali menggocoh anak muda itu, bukan hanya wajahnya, namun juga tubuhnya. Raden Angga terdongak dan terbungkuk berulang kali dengan mulut merintih-rintih. Bahkan kemudian kaki gadis itu pun turut bekerja, sampai akhirnya tubuh Raden Angga ambruk di tanah. Pertiwi berdiri bertolak pinggang sambil mengangkang kaki.
       “Bangun Angga!”.
       Tetapi Raden Angga hanya merintih-rintih karena seluruh tubuhnya dirasakan demikian sakit.
       “Dengar Angga”, kata Pertiwi, “sejak hari ini kau kularang menginjak rumahku lagi. Bila kau lakukan juga, akan kuberitahukan perbuatan laknatmu terhadap adikku pada Ayah. Aku juga akan menghajarmu jauh lebih parah dari saat ini, sehingga kau tidak akan mampu lagi merusak kehormatan perempuan yang paling lemah sekalipun. Camkan Angga! Sekarang angkat kaki dari sini!”.
       Raden Angga bangkit dengan susah payah. Nampaknya dia terlalu lemah untuk berdiri.
       “Cepat!!!”, bentak Pertiwi, “atau apa kau ingin kuhancurkan sekarang?!”.
       Melihat Pertiwi bersiap menyerang lagi, Raden Angga bangkit dengan menahan sakit luarbiasa dan mulutnya menyeringai. Namun karena sangat takut, ternyata dia dapat berjalan meskipun limbung. Dia tidak mengambil jalan ke depan, tetapi melewati pagar kebun. Pertiwi memperhatikan sampai anak muda itu lenyap di antara pohon-pohon ladang milik tetangga sebelah. Baru gadis itu berbalik menghampiri Purwanti yang masih duduk di ranggon.
       Ketika Pertiwi menghajar Raden Angga, Purwanti juga melihatnya. Gadis itu baru tahu kalau kakaknya punya kemampuan berkelahi yang mendebarkan. Karena itu ketika Pertiwi datang menghampirinya, ada rasa takut di hatinyadan terbayang jelas di wajahnya. Waktu mata mereka bertemu pandang, Purwanti menundukkan kepala dengan hati berdebar-debar. Tetapi ternyata Pertiwi tidak bersikap keras sebagaimana terhadap Raden Angga. Dia berjongkok di depan Purwanti beberapa lamanya tanpa bicara. Rupanya dia sedang menenangkan hatinya yang bergejolak karena kemarahan yang menghentak. Setelah menghela nafas panjang, akhirnya keluar juga kata-kata dari mulutnya.
       “Wanti, apa kau tidak menyadari kalau perbuatan kalian barusan hampir mencemarkan nama keluarga kita, nama Ayah dan Ibu kita? Badanmu memang sudah seperti gadis dewasa, dan kau sendiri tidak mau disebut anak kecil. Tetapi dari kenyataan yang terjadi barusan, dengan terbujuk oleh rayuan gombal si Angga, merupakan bukti yang tidak bisa dibantah bahwa kau sebenarnya masih gadis kecil yang belum mengerti arti hidup. Kau belum mengerti bahwa perjalanan hidupmu masih sangat panjang. Kau tidak mengerti bahwa jika sampai kegadisanmu hilang barusan, maka kau telah memperpendek jalan hidupmu sendiri”.
       Sejenak Pertiwi berhenti. Dia tahu kalau nasihatnaya itu tidak akan ada artinya. Sebab orang yang sedang dibutakan nafsu, akan menganggap setiap penghambatnya musuh. Pertiwi juga menyadari kalau dirinya telah memotong gejolak nafsu yang sedang menguasai pikiran dan  perasaan adiknya.
       “Aku yakin”, lanjut Pertiwi, “saat ini di hatimu terbersit rasa benci kepadaku, karena aku telah menghalangi perbuatanmu. Bagiku tidak jadi soal. Kau boleh membenciku, itu hakmu. Tetapi aku akan tetap memotong keinginanmu yang jelek dan berdosa itu sejauh aku dapat melakukannya. Karena aku tidak mau nama keluarga kita tercemar dan wajah orangtua kita tercoreng. Aku melakukan itu karena aku menyayangimu dan menyayangi perjalanan hidupmu yang masih sangat panjang. Karena kau adalah satu-satunya adikku, satu-satunya saudaraku. Kali ini aku tidak akan melaporkan kepada Ayah, karena aku masih berharap kau menyadari kekeliruan langkahmu. Sekarang sebaiknya kau segera masuk ke kamarmu, sebelum Ibu mengetahui kepura-puraan sakitmu dan sebelum Ayah pulang dari tugas kelilingnya. Kalau mereka sampai melihat bajumu bagian dada robek, kau akan mendapat marah besar, dan aku tidak akan dapat menutupi rahasia ini”.
       Mendengar kata-kata Pertiwi, Purwanti ketakutan. Dia segera bangkit dan berlalu meninggalkan Pertiwi dengan kepala tunduk tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Pertiwi mengikutinya dari belakang. Tetapi ketika sampai di dekat pondok Mang Darma, Pertiwi membelok ke pondok itu. Nampaknya Darmawan baru selesai sembahyang asar, karena tengah menggulung sajadah. Pertiwi menjatuhkan tubuhnya pada kursi tamu dan memejamkan matanya seolah ingin menghilangkan semua pandangan yang terjadi di ranggon itu.
       “Nden nampaknya begitu tertekan. Bukankah yang kita khawatirkan belum terjadi?”, kata Daramawan melihat gadis itu bersandar lemah dengan wajah kepucatan. Darmawan menuangkan air putih dari kendi ke dalam gelas dan disodorkan kepada Pertiwi. “Sebaiknya Nden minum dulu”, ujarnya.
       Pertiwi meneguk air dingin dengan aroma khas kendi sampai habis. Rasanya air itu menyiram kepalanya yang berdenyut, meresap dan menyejukkan pikirannya.
       “Aku tahu, kau tentu melihat kejadian tadi”, ujar Pertiwi, “memang keadaannya belum kuyup tetapi sudah basah. Mandinya yang kepalang karena terganggu olehku, akan membuatnya jadi penasaran. Itu akan mendorongnya jadi lebih pintar pura-pura. Akulah yang jadi pendorongnya”.
       “Jangan menyalahkan diri sendiri. Kebohongan dan sikap pura-pura itu sudah terjadi sebelum Nden menghalanginya. Kita telah berusaha menghentikan keterlanjurannya. Kita akan tetap melakukannya sejauh kemampuan kita. Ancaman Nden pada Den Angga adalah satu cara pencegahan keterlanjuran itu. Tetapi dengan demikian Nden harus mempersiapkan penjagaan diri, karena telah menanam bibit kebencian terhadap sumber pembuat kerusakannya”, kata Darmawan.
       “Aku juga menyadari. Bahkan aku telah merencanakan memotong setiap usaha balas dendam yang mungkin akan dilakukan olehnya”.
       “Artinya, hari-hari Nden selanjutnya akan semakin sibuk. Karena itu Nden harus segera mengatur jadwal waktu yang lebih baik, agar tidak banyak mempengaruhi pelajaran dan kesehatan sendiri”.
       “Aku tahu, dan aku sangat berterimakasih kepadamu. Karena kau telah memberi kesempatan yang semakin besar kepadaku untuk mengatasi sendiri persoalan-persoalan yang kuhadapi tanpa harus selalu mengharapkan bantuan orang lain”.
       “Jangan ber...”. Daramawan tidak melanjutkan kata-katanya. Perhatiannya beralih. Kepala anak muda itu sedikit dimiringkan untuk memusatkan pendengaran. Baru kemudian katanya, “Nden, saya mendengar langkah-langkah kuda menginjak kerikil. Nampaknya Juragan baru datang”.
       Pertiwi bangkit. Dia tahu, telinga anak muda itu sangat tajam. Karena itu segera dia keluar pondok. Pertiwi mencoba mempertajam pendengarannya sebagaimana yang dilakukan Darmawan. Ternyata sejenak kemudian telinganya mendengar bunyi langkah-langkah yang menginjak kerikil. Tetapi dia belum bisa membedakan apa itu langkah kuda atau kaki orang.

--0--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar