Sabtu, 28 Mei 2011

Novel 4 Dimensi - Dimensi 1 - PRAQHARA NUSANTARA 04


Empat
Kuda Mas dan Pesta Harum
       TERGESA-GESA?”, sahut lelaki bertubuh kurus dan berwajah kepucatan, sementara delman yang ditumpanginya mencongklang di jalan desa yang sudah disirtu tetapi belum diaspal, “aku justru merasa terlalu lamban”.
       Kawan bercakapnya pemuda hampir sebaya berusia 25 tahunanan, menatap dengan kening berkerut. “Bung Ari bilang terlalu lamban? Bukankah latihan itu baru akan dimulai minggu depan ? Apa waktu seminggu tidak cukup untuk beristirahat?”.
       Cukup, lebih dari cukup, kalau saja tidak harus mencoba tiga kuda pacu dulu. Tadi Bung Lili sendiri mengatakan, di antara kuda pacu di daerah ini, ada yang kemampuannya luarbiasa. Salah satu tugas utamaku meyakinkan keistimewaannya. Untuk itu diperlukan waktu seminggu paling sedikit. Belum lagi kuda Bung Sarju dan Bung Gomar yang paling sedikitnya memerlukan waktu masing-masing dua hari. Lalu kapan aku harus ist...uh setan!”.
       “Keparat!”.
       Bung Ari dan Bung Lili memaki dengan nada tinggi, sementara tangan mereka berpegang kuat-kuat pada sisi delman yang berguncang keras, karena kuda delman itu berjingkrak terkejut oleh bunyi klakson mobil yang tiba-tiba dan keras sekali, tepat di belakang delman.
      Dengan mulut berdecak-decak kusir delman membujuk kudanya. Rupanya kuda itu cukup terlatih dan tidak cepat liar. Karena dengan sedikit bujukan, binatang itu segera tenang kembali. Sementara Mang Kusir meminggirkan delmannya untuk memberi kesempatan kepada mobil itu lewat, kedua penumpangnya menatap sedan Impala yang lewat cepat dengan pandangan geram. Mereka mengepalkan tinjunya kepada orang dalam mobil itu.
       “Borjuis keparat!”, teriak Bung Lili..
       Karena kejadian itu, untuk beberapa lamanya percakapan mereka terhenti. Mereka seperti sedang menikmati bunyi ketoplak kaki-kaki kuda yang berlari dalam irama tetap. Dalam keadaan demikian, pandangan Bung Ari jatuh pada tubuh kuda delman yang ditumpanginya, kuda yang gemuk dan sehat. Itu menumbuhkan bahan percakapan baginya.
       “Nampaknya kuda Mang Kusir ini cukup terlatih. Apa kuda-kuda di daerah ini rata-rata seperti kudamu Mang?”, tanyanya kemudian.
       “”Tidak tahu Den. Emang mah tidak pernah memperhatikan kuda orang lain”, sahut Mang Kusir yang mengenakan baju kampret putih dengan sarung pelekat diselendangkan pada bahunya, dan sebuah topi pandan lebar menutupi kepalanya. “Apa Aden berdua ini joki dari kota?”, tanya kemudian.
       “Kok Mang Kusir tahu?”. Bung Ari balik bertanya.
       “Bukankah tadi Aden sendiri yang berkata akan melatih kuda pacu di sini?”.
       “Benar Mang. Apa Mang Kusir tahu di sini banyak kuda pacu?”.
       “Tidak Den. Setahu Emang mah di daerah ini tidak pernah ada pacuan kuda. Kalau di Bandung, Emang dengar memang sering ada pacuan kuda”.
       “Tak salah pendengaran Mang Kusir. Aku datang dari Bandung, ditugaskan ke sini untuk mencari kuda pacu yang bagus. Katanya di sini ada kuda istimewa”, kata Bung Ari.
       “Bisa jadi Den. Sebab di sini ada beberapa juragan yang memelihara kuda khusus tunggangan, bukan untuk penarik delman”.
       “Hmmm, ya pasti salah satu di antara kuda-kuda itu”, gumam Bung Ari. Kemudian dia beralih bertanya kepada kawannya: “Bung Lili, apa tempat latihan itu tidak akan terganggu orang banyak?”.
       “Jangan khawatir. Tempat itu jauh dari perkampungan, dan letaknya terpencil. Kampung terdekat berada di pinggang bukit, jaraknya lebih satu kilometer dari tempat latihan. Juga semua penduduknya sudah menyetujui kegiatan kita. Satu-satunya orang yang tidak setuju, sudah diselesaikan Bung Sarju. Bahkan tempat latihannya pun berada di lingkungan tanah miliknya yang telah disumbangkan kepada Desa dan dalam pengawasan Kades. Bung Sarjulah yang mengusahakan semua itu”, sahut Bung Lili.
       “Ya, aku juga sudah mendengar laporannya. Bung Sarju memang punya potensi besar dan dedikasi tinggi. Karena itu pimpinan pusat menentukan proyek latihan percobaan di daerah ini. Mereka menilai, Bung Sarju adalah kader yang paling baik dalam usahanya. Dia berhasil besar tanpa menumbuhkan akibat negatif samasekali dari masyarakat, sehingga dia telah disebut-sebut sebagai salah satu kader yang berhak menerima bintang jasa”.
       “Berita itu pun telah sampai ke mari. Dia telah memanfaatkan demikian baiknya, sehingga kawan-kawan lainnya berusaha meneladaninya”.
       “Bagus. Itu pertanda usaha kita akan berhasil”, kata Bung Ari.
       Mereka tidak bicara lagi, dan bunyi ketoplak kaki-kaki kuda diselingi keliningan delman telah menggantikan pembicaraan. Tak lama kemudian delman mencapai mulut desa yang dituju. Keliningan delman semakin sering berbunyi karena makin banyaknya orang berlalu lalang di jalanan. Sampai akhirnya delman berhenti di depan kantor desa. Kedua penumpangnya turun.
       Karena hari minggu, kantor desa tutup. Tetapi di depan kantor tampak dua orang piket berpakaian Hanra, dan kedua orang itu menghampiri mereka. Sementara delman yang ditumpanginya sudah balik ke arah datangnya. Nasib mujur bagi Mang Kusir yang tak lain dari Darmawan. Karena belum terlalu jauh berjalan, sudah ada penumpang lain mencegatnya, yang akan pergi ke kota kecamatan. Mereka adalah tiga pedagang kebutuhan sehari-hari, yang dalam obrolannya di sepanjang jalan bertemakan masalah ekonomi dan kebutuhan sehari-hari yang makin dirasakan sulit.
       Baru saja para penumpang itu turun di tempat parkir delman di pasar kecamatan, dan Darmawan sedang menghapus keringat di lehernya dengan handuk kecil, seorang laki-laki berusia 50-an berwajah bersih dan berpakaian bagus datang menghampirinya, lalu naik delman dan duduk di sampingnya.
       “Ke mana Gan?”, tanya Mang Kusir sambil menekan topi pandannya lebih dalam di kepalanya.
       “Tidak ke mana-mana. Bapak ingin melemaskan kaki yang pegal, boleh kan?”, sahutnya.
       “Oo silahkan. Kebetulan saya juga perlu mengistirahatkan kuda dulu”.
       “Bagus kalau begitu. Memang perjalanan jauh selalu melelahkan, bukan hanya kita manusia, kuda pun perlu diberi istirahat. Itulah sebabnya Bapak memilih beristirahat pada delman ini, karena Bapak melihat tadi Mang Kusir di batas kota”.
       Darmawan berpaling memandang orang itu. Sejenak mereka berpandangan. Sementara Darmawan bertanya: “Oo Agan juga dari luar kota?”.
       “Ya, berolah raga. Sebagai orang sudah tua, Bapak harus banyak berolahraga. O iya, sebaiknya Mang Kusir jangan memanggil Agan kepadaku, panggil saja Bapak. Bukankah sekarang kita sudah merdeka? Panggilan Agan sudah tidak cocok untuk zaman sekarang”.
       Darmawan tidak menjawab, tetapi kepalanya mengangguk kecil. Beberapa lamanya tidak ada yang bicara. Orang itu asyik mengurut-urut betisnya yang pegal. Sebenarnya Darmawan mulai berpikir-pikir tentang maksud orang di sampingnya ini. Sebab dari pertemuan pandangan tadi dia teringat, orang ini pengemudi sedan Impala yang mengejutkan kudanya di tengah perjalanan ke Desa Pasawahan tadi. Dia bisa mengenalnya, karena ketika mobil itu melewatinya, orang ini menengok ke arahnya sesaat seperti ingin mengenali wajahnya. Dalam keadaan demikian orang itu bertanya.
       “Apa Mang Kusir tinggal di Desa Pasawahan?”.
       “Tidak Agan...eh Bapak. Saya tinggal di sini. Hanya tadi kebetulan ada dua penumpang yang minta di antar ke Kantor Desa Pasawahan”, sahut Darmawan.
       “Ke Kantor Desa? Bukankah hari Munggu kantor Desa biasanya tutup? Apa mereka datang dari jauh?”, tanyanya dengan nada heran.
       “Ya Bapak. Menurut pengakuannya yang seorang joki dari Bandung untuk melatih kuda pacu”.
       “O, jadi di sini banyak kuda pacu ya Mang?”.
       “Sepengetahuan saya tidak ada. Entah kalau di antara tuan tanah ada yang memeliharanya. Yang saya herankan, justru mereka menyebut Mang Sarju dan Mang Gomar mempunyai kuda pacu”.
       “Kenapa Mang Kusir heran?”, tanyanya.
       “Sebab saya mengenal mereka sebagai bekas pekerja Juragan Camat tempat saya bekerja sekarang. Malah delman ini pun bekas pegangan Mang Sarju”.
       “O, jadi Mang Kusir bekerja pada Juragan Camat?”.
       “Ya Bapak”.
       “Bapak percaya. Tadinya Bapak justru merasa ragu, karena bicara Mang Kusir sangat terpelajar. Rupanya Juragan Camat seorang menak asli yang sangat memperhatikan anggah-ungguh”, ujarnya sambil mengangguk-anggukkan kepala.
       Darmawan agak terkejut mendengar komentar orang itu atas dirinya. Dia sendiri tidak menyadari kalau dirinya telah terpukau oleh pribadi orang itu, sehingga lupa bahwa dirinya sedang berperan sebagai tukang delman. Untunglah orang itu menafsirkannya sebagai pendidikan dari Juragan Camat. Tapi rasa terkejut itu ternyata tidak terlepas dari pengamatan orang tersebut, yang ketika bicara lagi telah merubah panggilannya terhadap Darmawan.
       “Nak”, katanya, “berapa usiamu sekarang?”.
       “19 tahun Bapak”, sahut Darmawan terus terang.
       “Sejak kapan kau jadi kusir delman?”.
       “Sekitar setengah tahun yang lalu”.
       “Masih sekolah?”.
       Darmawan mengangguk.
       “Tentu di SMA”, katanya pula. Lalu, “kelas berapa?”.
       ”Baru naik ke kelas tiga Bapak”.
       “Bapak yakin, tak seorang pun teman sekolahmu tahu kau bekerja jadi kusir delman. Benar kan?”
       Darmawan menatap orang itu, lalu tanyanya: “Bagaimana Bapak dapat mengetahui?”.
       Orang itu tersenyum, baru menyahut: “Kau selalu berusaha menyembunyikan wajahmu dengan menekankan topimu dalam-dalam. Apa karena malu?”.
       Darmawan menggeleng. Orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya, dan tidak menanyakan alasannya.
       “Bagus, asal bukan dilandasi rasa malu, Bapak setuju kau bersembunyi dari pengetahuan teman-temanmu. Bapak juga tahu, kau sengaja memberi informasi tentang kedua penumpang delmanmu itu kepada Bapak. Kau anak yang cerdas. Terimakasih atas informasinya. Sesungguhnyalah Bapak sedang mengawasi kedua orang itu”, ujarnya pula sambil bangkit dari duduknya.
       Ketika dia turun dari delman, dia menyelipkan uang ribuan dua lembar di tangan Darmawan. Darmawan terkejut dan menyodorkan kembali uang itu.
       “Jangan Pak”.
       “Ambil saja. Bapak sudah menghalangi orang lain yang akan menumpang delmanmu”, ujarnya tanpa menoleh lagi.
       Darmawan menatap langkah-langkah orang tersebut yang menyeberangi halaman parkir.
       “Siapa orang itu Wan?”, tanya suara seorang gadis yang muncul dari arah belakangnya, Pertiwi. Gadis itu langsung naik di sebelah Darmawan.
       “Ah Nden mengejutkan saya”.
       “Habis kau begitu asyik ngobrol, sementara kakiku sudah pegal karena lama sekali harus berdiri di depan warung”, kata Pertiwi.
       ”Mana saya tahu Nden berada di sini. Nden dari mana?”.
      “Sengaja dari rumah ke sini. Aku ingin mencoba baju latihan yang baru. Aku tidak sabar lagi menunggu dijemput, maka aku menyusul ke sini. Bukankah kita akan berlatih di tempat khusus?”.
       Darmawan tidak menyahut, tetapi dia menganggukkan kepalanya. Lalu tangannya mengedut les kuda, sementara mulutnya berdecak-decak agar kudanya berangkat. Beberapa lamanya  tidak ada yang bicara, dan delman itu keluar dari pasar menyusuri jalan besar menuju ke luar kota.
       “Kau belum menjawab pertanyaanku”, kata Pertiwi membuka percakapan.
       “Pertanyaan yang mana?”.
       “Orang laki-laki yang ngobrol denganmu tadi”.
       “O, saya sendiri tidak mengenalnya. Tetapi saya menduga dia itu seorang intel”.
       “Intel?”, tanya Pertiwi heran, “bagaimana kau bisa menduga begitu?”.
       “Mulanya dia tidak berterus terang. Tetapi setelah saya sengaja memberi informasi tanpa diminta, akhirnya dia mengaku. Kalau benar apa yang dia katakan, saya punya rencana untuk meminta bantuan tentang urusan warisan almarhum bapak pungut saya”.
       “Apa kau sudah tahu alamat dia?”.
       “Sekarang belum. Lagi pula saya harus meyakinkan dulu, apa pengakuannya benar atau tidak?”.
      “Bagaimana kau dapat mencari kepastiannya?”.
       “Kalau benar, saya yakin, dalam beberapa hari mendatang akan bertemu lagi dengannya”, sahut Darmawan.
       “Hamm, mudah-mudahan tidak benar”, ujar Pertiwi setengah menggumam.
       Darmawan berpaling memandang Pertiwi dengan heran. “Kok Nden mendoakan jelek”, katanya.
       “Sebab kalau kau bertemu lagi dengannya, maka janjimu mengizinkan aku membantu pekerjaanmu bila dalam ujian nanti kemampuanku sudah meningkat lagi, dengan sendirinya jadi batal”, sahut Pertiwi dengan nada kalem.
       “Tentu tidak Nden. Yang saya perlukan dari dia adalah penyelesaiannya nanti. Sedangkan pekerjaan mengumpulkan salinan surat-surat wasiat dari tangan para pemegangnya tetap jadi tugas kita”.
       “Kalau begitu, aku akan turut berdoa agar kau secepatnya bertemu lagi dengan dia”.
       Darmawan tersenyum. “Ternyata niat Nden membantu saya begitu besar. Saya sungguh berterimakasih. Tetapi seperti telah saya katakan, saya baru akan mengizinkan jika kemampuan Nden sudah meningkat dari latihan dua minggu yang lalu”.
       “Kau lihat saja nanti”, sahut Pertiwi dengan yakin, “dalam dua minggu ini aku telah berlatih lebih keras. Tadi malam aku mencoba berlari sepanjang pematang sawah ke bekas gubukmu di Pasirpanjang, sehingga dapat membuktikan mengapa dulu kau datang lebih dulu di tempat latihan volley dari aku yang naik kuda. Dan tadi pagi aku mencoba meloncat dari atas kuda yang sedang berlari cukup kencang”.
       “Ah Nden terlalu tergesa-gesa. Pebuatan itu sangat berbahaya”.
       “Jangan khawatir. Latihan itu sudah berkali-kali kulakukan secara bertahap. Kenyataannya aku berhasil tanpa cedera sedikit pun”, sahut Pertiwi.
       Darmawan tidak mengomentari lagi. Sebab dia tahu, gadis itu punya perhitungan yang panjang dan juga kemauan yang sangat keras. Percuma saja dia melarangnya.
       Dalam pada itu delman mereka telah bertoplak di bulak panjang di luar kota kecamatan. Tak berapa jauh dihadapan mereka tampak sebuah bukit batu yang diseputarnya ditumbuhi hutan kecil.
       Sekitar setengah jam kemudian delman mereka telah sampai di pinggir hutan kecil itu. Darmawan membelokkan delmannya memasuki hutan tersebut. Ternyata di dalam hutan itu terdapat sebuah sungai yang airnya dangkal dan penuh dengan batu-batu besar. Darmawan menjalankan delmannya menyusuri pinggiran sungai, sampai akhirnya tiba di sebuah palung air terjun yang airnya tidak terlalu besar. Darmawan menghentikan delmannya di pinggir rumpun semak.
       Sementara Pertiwi pergi ke balik semak untuk berganti pakaian, Darmawan mengumpulkan batu-batu sebesar telur atau lebih kecil lagi yang berserakan di sekitar tempat itu. Dalam waktu sebentar saja telah bertumpuk cukup banyak. Setelah itu dia mematahkan dua batang ranting pohon hampir sebesar pergelangan tangan sengan panjang satu meteran lebih. Pertiwi muncul dengan pakaian latihannya yang baru berwarna merah kecoklatan yang begitu serasi dengan kulitnya yang putih.
       “Bagaimana?”, tanyanya sambil mengembangkan kedua tangannya.
       Darmawan berpaling, dan sejenak matanya menatap gadis itu tanpa berkedip. Dia begitu terpesona, sehingga Pertiwi jadi tersenyum. Tetapi gadis itu tidak menggodanya. Dia langsung meloncat menuruni tebing sungai dengan tangan mengembang. Kain lengannya yang longgar berkibar-kibar tertiup angin, seperti sayap burung yang sedang terbang. Dalam tiga kali lompatan saja dia telah berdiri tegak di atas batu lebar pada palung sungai itu. Darmawan telah berjongkok di dekat tumpukan batu. Baru saja Pertiwi berbalik menghadap ke arah Darmawan, pemuda itu sudah mulai mengayunkan tangannya.
       “Awas!”, teriaknya. Bersamaan dengan itu, tiga butir batu berturut-turut meluncur ke arah tubuh Pertiwi.
       Dengan lincah Pertiwi menangkapi ketiga batu tersebut. Bahkan dia berhasil menangkap tiga batu lagi yang meluncur lebih cepat. Tiga batu berikutnya meluncur ke sebelah kiri tubuh Pertiwi, sehingga gadis itu harus meloncat menjangkaunya. Juga berhasil ditangkap semuanya. Tetapi ketika lontaran batu-batu semakin jauh dari tempatnya, ada yang tidak tertangkap, karena kurang cepat bergerak.
       Tahap kedua menangkapi batu-batu yang meluncur beruntun lebih cepat dan tidak teratur arah datangnya, sehingga Pertiwi harus bergerak lebih gesit ke kiri, ke kanan, atau melambung tinggi karena batu-batunya meluncur jauh di atas kepalanya. Pada tahap ini Pertiwi benar-benar harus menguras tenaga. Hampir tak ada waktu untuk mengatur nafas, sehingga ketika selesai, dia berdiri terengah-engah dengan keringat membanjir di seluruh tubuhnya. Ada beberapa batu yang lolos dari tangkapannya.
       Belum lagi nafasnya teratur baik, Darmawan meloncat turun dan langsung menyerang gadis itu dengan cepat. Maka sejenak kemudian terjadi pertarungan yang cukup seru. Berkali-kali Pertiwi harus berdesis ketika dia kurang cepat mengelak, sehingga serangan Darmawan mengenai tubuhnya, meski tidak terlalu keras. Tetapi ketika keadaan gadis itu semakin terdesak dan semakin banyak serangan yang tidak dapat dielakkannya, Darmawan meloncat balik ke tempatnya semula di atas bibir palung. Beberapa lamanya dia membiarkan gadis itu mengatur nafas.
       Setelah Pertiwi tampak tenang kembali, Darmawan meloncat turun lagi sambil membawa dua tongkat yang dipersiapkannya tadi.
       “Siap?”, tanyanya.
       Pertiwi mengangguk. Maka Darmawan pun menyodorkan satu tongkat yang dibawanya. Pertiwi memasang kuda-kuda. Darmawan memulai serangannya dengan gerakan lamban, sehingga setiap serangannya dapat ditangkis Pertiwi. Bahkan gadis itu dapat berbalik melakukan serangan. Ketika serangan dipercepat, Pertiwi mulai mengalami kesulitan, namun sekali-sekali dia masih mampu membalas menyerang. Tetapi ketika serangan semakin cepat, dia hanya mampu bertahan.
       “Awas pinggang!”, kata Darmawan memberi peringatan.
       “Pertiwi berusaha menutup tempat yang diperingatkan dengan rapat. Tetapi dengan gerak tipu, Darmawan berhasil menyentuhkan tongkatnya pada sasaran itu.
       “Awas pundak!”, kata Darmawan lagi. Namun dalam dua gerakan saja, sasaran itu pun dapat disentuh tongkat Darmawan.
       “Awas kaki....awas tangan....awas kepala....awas leher...lepas tongkat”.
       Semua yang disebutkan oleh Darmawan benar-benar dapat dikenainya, dan ketika dia mengatakan ‘lepas tongkat’, sebelum Pertiwi sempat mengeraskan genggamannya pada tongkat itu, tangannya telah kosong karena tongkatnya telah berpindah ke tangan Darmawan. Pertiwi jadi mematung, dan dalam gerakan berikutnya tubuh gadis itu telah berada dalam pelukan Darmawan dari belakang. Pertiwi menyandarkan kepalanya ke bahu si pemuda. Beberapa lamanya mereka berdiri diam tanpa bicara. Mata gadis itu mengawasi pucuk pepohonan dengan sayu, sampai akhirnya terdengar helaan nafasnya.
       “Ternyata nasihatmu benar Wan”, desahnya.
       “Nasihat yang mana?”, tanya Darmawan di sisi telinganya.
       “Aku terlalu memforsir tenaga, sehingga hasilnya bukan lebih baik, malah menurun”.
       “Mengapa Nden berpendapat begitu?”.
       “Dua minggu lalu aku masih mampu mempertahankan tongkatku. Tetapi sekarang....”. Pertiwi tidak meneruskan kata-katanya.
       Darmawan mengelus rambutnya dengan lembut. Lalu ujarnya: “Tidak Nden. Saya kira kemampuan Nden dalam dua minggu ini telah meningkat jauh di luar dugaan saya. Saya sendiri hampir tak percaya”.
       Pertiwi melepaskan pelukan Darmawan dan membalikkan tubuhnya sehingga berhadapan dengan pemuda itu, sementara matanya memandang heran.
       “Apa kau bilang? Kemampuanku telah meningkat?”, tanyanya dalam nada tak percaya.
       “Tak salah Nden. Apa Nden tidak dapat merasakan samasekali peningkatan itu?”.
       “Tidak”, sahutnya tegas, “baik dalam menangkap batu maupun bertarung dengan tangan kosong dan apalagi dengan tongkat, aku merasa tidak ada kemajuan. Batu yang lolos dari tangkapan lebih banyak dari dua minggu lalu. Dalam bertarung tangan kosong juga lebih banyak dikenai. Apalagi dalam bertarung dengan tongkat, sebagaimana kau lihat, aku tidak dapat mempertahankannya”.
       Darmawan tersenyum, lalu katanya: “Soalnya sederhana. Dalam latihan barusan, saya mengerahkan hampir seluruh kemampuan. Dalam melemparkan batu-batu tahap akhir, saya menggunakan tenaga cadangan jauh lebih besar dan gerakan jauh lebih cepat. Juga dalam pertarungan tangan kosong dan dengan tongkat. Kalau Nden tidak merasakan peningkatan, alasannya hanya satu, kemampuan Nden itu sudah mendaging oleh seringnya dilatih, sehingga Nden tidak menyadari peningkatannya karena biasa”.
       “Ah kau sengaja membesarkan hatiku”, kata Pertiwi sambil menggeleng-gelengkan kepala.
       “Tidak Nden. Sungguh, saya berkata sebenarnya”.
       “Tapi...”.
       “Percayalah”, ujar Darmawan. Lalu: “Karena itu saya tidak berkeberatan lagi jika Nden bermaksud membantu meringankan beban tugas khusus saya. Sekarang saya percaya untuk melepas Nden”.
       “O Wan, benarkah?”, tanya Pertiwi dengan mata bersinar.
       Darmawan mengangguk. Tiba-tiba saja Pertiwi merangkul pemuda itu dengan kegembiraan yang meluap, seperti gadis kecil mendapat mainan boneka yang sangat disenanginya. Darmawan mengelus-elus rambut gadis itu dengan lembut.
       “Tetapi Nden jangan berhenti berlatih. Sebab apa yang telah Nden capai sekarang baru tingkat dasar. Dalam rimba persilatan masih begitu banyaknya jenjang yang harus didaki. Apa yang saya lakukan tadi sekedar memperlihatkan bahwa, ketika kemampuan Nden sudah meningkat, kemampuan orang lain pun bahkan mungkin telah meningkat lebih jauh, sehingga peningkatan kemampuan Nden jadi lebih tidak berarti sebagaimana Nden rasakan sendiri, bukan?”, kata Darmawan menjelaskan.
       “Satu pelajaran yang sangat berharga bagiku Wan. Aku pasti akan selalu mengingatnya”.
       “Marilah kita pulang, agar tidak kemalaman di perjalanan”, ajak Darmawan.
       Pertiwi melepaskan rangkulannya. Lalu dengan bergandengan mereka berdua menaiki tebing palung itu. Setibanya di atas, ketika gadis itu hendak berganti pakaian, Darmawan melarangnya.
       “Tidak usah ganti pakaian lagi Nden”, katanya.
       “Masa aku harus memakai pakaian latihan. Apa kau tidak takut rahasia kita diketahui orang?”.
       “Bukan begitu Nden. Baju yang Nden pakai itu lebih mirip pakaian mode baru daripada baju silat, dan saya sangat senang melihatnya. Dengan baju itu Nden tampak semakin cantik seperti peragawati”, kata Darmawan terus terang, sehingga mata gadis itu bersinar. Karena itu dia tidak jadi berganti baju, tetapi langsung naik ke atas delman.
       Tak lama kemudian delman mereka telah keluar dari belukar, mencongklang di sepanjang bulak dalam sorotan sinar matahari sore yang hangat. Tidak tampak seorang pun di sawah atau di sepanjang jalan desa itu. Nampaknya pada waktu sore demikian, orang-orang kampung telah berada di rumah masing-masing. Bulak yang membentang panjang itu keadaannya sunyi dan lengang. Satu-satunya gerakan adalah delman yang ditumpangi Pertiwi dan Darmawan.
       Tetapi sekitar seperempat jam kemudian, jauh di hadapan mereka tampak dua lelaki berjalan dari arah berlawanan. Pada mulanya Darmawan tidak menaruh perhatian khusus, karena mengira mereka penduduk yang baru pulang dari kota. Namun ketika telah cukup dekat, anak muda itu melihat sikap yang kurang wajar. Langkah-langkah mereka sangat ayal-ayalan, tidak seperti orang yang pulang dari bepergian. Mereka seringkali menengok ke belakang seperti takut ada orang lain hadir di sekitar tempat itu. Pada pinggang mereka bergantung golok panjang. Darmawan menengok ke belakang, lengang.
       “Nden”, katanya perlahan kepada si gadis, “nampaknya hari ini Nden harus menghadapi pendadaran yang sesungguhnya, untuk menguji tingkat kemampuan yang telah dicapai Nden tadi”.
       “Pendadaran? Apa maksudmu? Apa kau akan mengujiku lagi di rumah nanti?”, tanya Pertiwi yang belum melihat gelagat jelek dari dua pendatang itu, karena jaraknya memang masih cukup jauh.
       Darmawan tidak segera menyahuti pertanyaan si gadis. Dia membungkuk, membuka laci panjang di bawah tempat duduknya. Lalu mengeluarkan dua potong pipa besi berukuran setengah meteran, dan diletakkan di samping tempat duduknya, baru dia menyahut.
       “Saya kira, dua orang di depan itu bermaksud mencegat perjalanan kita”.
       Mendengar kata-kata itu wajah Pertiwi agak berubah. Matanya langsung memperhatikan kedua orang yang berjarak semakin dekat. Pertiwi langsung dapat melihat gelagat jelek tersebut, karena salah seorang di antara mereka berkali-kali berpaling ke bentangan bulak di belakangnya. Sedangkan yang seorang lagi melayangkan pandangannya ke sekitar tempat mereka berada. Tangan mereka bertumpu pada gagang golok.
       “Bersiaplah Nden, jangan gugup. Bersikaplah sebagaimana Nden sedang menghadapi saya dalam latihan. Jangan lupa tongkatnya, karena mereka memegang golok”, bisik Darmawan.
       Pertiwi mengangguk tanpa menyahut. Sementara hatinya berdebar, karena baru pertama kali itu dia menghadapi pertarungan yang sebenarnya.
       “Berhenti!!!”, teriak salah seorang di antara mereka dari jarak sekitar 15 meter, sementara di tangan masing-masing teracung golok telanjang.
       Darmawan menarik tali kekang kudanya agak menyentak, sehingga kuda itu agak berjingkrak. Delman berhenti dalam jarak lima meter dari kedua penghadangnya.
       “Lemparkan dompet uangmu atau perhiasan apapun yang kau bawa Nona. Juga uangmu Mang Kusir, kalau kalian ingin selamat!”, teriak orang itu lagi.
       Sejenak Darmawan dan Pertiwi tidak bergerak dari duduknya. Melihat sikap itu, mereka mengira kedua mangsanya ketakutan setengah mati.
       “Cepaat!!”, teriaknya lagi dengan nada menakutkan.
       Hampir bersamaan, Pertiwi dan Darmawan turun dari delman sambil masiin-masing memegang tongkat besi yang telah dipersiapkan tadi. Mulanya kedua penghadang itu mengira karena ketakutan, kedua mangsanya lupa bahwa mereka hanya disuruh melemparkan uang dan perhiasan, bukan disuruh turun. Tetapi di saat lainnya, ketika di tangan kedua mangsanya memegang tongkat besi, mereka baru menyadari bahwa mangsanya bermaksud melawan. Kesadaran akan hal itu membuat keduanya jadi terkejut, sehingga untuk sejenak mereka terpaku.
       “Aku tidak punya uang atau perhiasan, kecuali tongkat ini”, desis Pertiwi sambil megacungkan tongkat yang dipegangnya, “kau mau?”, sambungnya pula.
       “Setan! Kalian berani melawan ya?!”, bentak penghadang yang menghadapi Pertiwi dengan wajah semburat merah karena marahnya. Mampuskan keduanya!”.
       Bersamaan dengan kata terakhir, dia menerjang Pertiwi dengan golok teracung. Sedang kawannya juga serempak menerjang Darmawan yang sudah berada di dekatnya. Terdengar dentangan besi beradu keras hampir serempak. Darmawan tidak balas menyerang. Dia hanya bergeser-geser mempertahankan diri, sementara perhatiannya lebih tertuju kepada pertarungan Pertiwi. Sebab dia ingin melihat, cara gadis itu menghadapi pertarungan yang sesungguhnya.
       Hasil dari latihan yang sungguh-sungguh dan keras selama beberapa bulan yang dilakukan Pertiwi, ternyata membuahkan kemampuan yang mengejutkan lawannya. Karena gadis itu samasekali belum mengalami pertarungan yang sesungguhnya, begitu pertarungan dimulai, dia telah mengerahkan segenap kemampuannya. Lawannya demikian terkejut karena merasakan tenaga gadis itu demikian besarnya, sehingga hampir saja golok yang dipegangnya terlepas.
       Karena rasa terkejutnya, orang itu jadi lengah sesaat. Kelengahan lawannya telah dimanfaatkan Pertiwi sebaik-baiknya. Dia mengayunkan tongkatnya mendatar menghantam lambung lawan dengan telak, diiringi pekikan kesakitan. Orang itu membungkuk oleh rasa sakit yang hampir tak tertahankan dengan mulut menyeringai, dan tangannya menekap lambungnya yang terhantam. Dalam keadaan membungkuk demikian, benar-benar merupakan sasaran empuk bagi Pertiwi yang bergerak gesit. Detik berikutnya, tongkat besi Pertiwi menghantam tengkuk lawan dengan keras, sehingga terdengar bunyi berdetak dari beradunya besi dengan tulang. Sekali lagi terdengar pekik kesakitan lebih keras, dan tubuh lawan Pertiwi ambruk di tanah.
       Pertiwi berdiri mengangkang kakidalam keadaan siaga penuh. Matanya mengawasi tubuh lawannya dengan tajam. Namun sampai sekian lama tubuh itu tetap membujur di tanah, dari mulutnya terdengar erangan kesakitan, menandakan orang itu masih hidup namun tidak mampu atau tidak ada kehendak untuk melawan lagi. Barulah Pertiwi berani mengalihkan perhatiannya pada pertarungan Darmawan.
       Dalam pada itu, ketika lawan Darmawan mendengar pekik kesakitan kawannya, hatinya benar-benar terkejut, sehingga dia tertegun sejenak. Darmawan yang telah mengetahui pertarungan Pertiwi berakhir, menggunakan kesempatan itu untuk merampas golok lawannya, sambil menyelipkan tongkat besinya di pinggangnya. Sebelum lawannya menyadari goloknya telah berpindah tangan, sisi telapak tangan Darmawan telah menghantam pelipisnya dengan telak. Sedetik kemudian dengan mengaduh pendek, tubuh orang itu pun ambruk di tanah tanpa bergerak lagi, pingsan.
       Tanpa membuang waktu lagi, Darmawan menyeret tubuh lawannya ke pinggir jalan. Selesai itu, dia menghampiri lawan Pertiwi yang masih mengerang-erang, dan menyeretnya pula, dibaringkan di sisi kawannya bersama dua golok mereka. Pertiwi masih mematung di tempatnya. Hanya matanya saja yang mengikuti segala gerak-gerik Darmawan sampai selesai. Gadis itu terlalu terkejut oleh hasil pertarungan pertamanya yang berlangsung demikian cepat tanpa kesukaran.
       “Mari Nden. Kita lanjutkan lagi perjalanan kita”, ajak Daramawan sambil melangkah ke delmannya.
       Tanpa berkata Pertiwi melangkah perlahan dan naik ke atas delman. Sampai delman itu bergerak meninggalkan tempat perkelahian, Pertiwi masih duduk mematung. Beberapa lamanya Darmawan masih membiarkan gadis itu sibuk berdialog dalam hatinya sendiri. Tetapi seperti mendengar apa yang sedang didialogkan hati si gadis, akhirnya Darmawan berkata.
       “Sesungguhnya Nden, mereka hampir tidak punya kemampuan silat atau kemampuannya masih amat rendah. Mereka hanya garang di luarnya, karena berbadan besar dan memegang golok, sehingga bila berhadapan dengan orang yang punya kemampuan silat, mereka pasti dapat dikalahkan. Apalagi menghadapi orang yang punya kemampuan setingkat Nden. Tetapi bagi orang kebanyakan, sikap garang mereka sudah cukup membuat mangsanya ketakutan setengah mati, sehingga mereka akan memperoleh apa yang dimintanya tanpa kesukaran”.
       “Ya, akupun tadi demikian takutnya. Kalau tidak ditemani olehmu, mungkin aku akan mengikuti kemauannya, memberikan apa yang dimintanya, tanpa berani mencoba melawannya”, sahut Pertiwi.
       “Karena itu, begitu bertarung Nden langsung menyerang dengan segenap kemampuan agar tidak didahului olehnya, bukan?”.
       Pertiwi mengangguk. Darmawan tersenyum.
       “Nden”, katanya dengan nada lembut, “andaikata Nden tidak dirusuhkan oleh ketakutan, sebenarnya perkelahian tadi dapat dijadikan latihan untuk mencari pengalaman. Meski saya sedang menghadapi lawan, saya akan berusaha agar Nden tidak mengalami cedera. Karena itu seharusnya Nden menjajagi dulu sampai di mana tingkat kmampuan lawan, tidak langsung menyerang dengan tenaga penuh. Sebab, jika lawan Nden kebetulan orang berkemampuan, serangan-serangan Nden akan dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk menguras tenaga Nden. Sehingga sekalipun kemampuan sebenarnya berada di bawah kemampuan Nden, ada kemungkinan dia akan berhasil mengalahkan Nden”.
       “Tadi aku benar-benar ketakutan melihat kegarangan dan goloknya, sehingga pikiranku beku samasekali”, sahut Pertiwi.
      “Saya mengerti. Tetapi kalau saja perhatian Nden tidak terpusat pada golok dan kegarangannya, tentu Nden akan melihat perubahan wajahnya ketika melihat kenyataan mangsanya berani melawan. Dari perubahan wajah itu kita bisa menilai bahwa sebenarnya hati mereka dijalari rasa takut. Ini mengandung arti, mereka sudah meragukan kemampuan dirinya. Keraguan itu menunjukkan bahwa sebenarnya kemampuan yang dimilikinya tidak meyakinkan atau rendah. Dengan demikian kita dapat memperhitungkan langkah yang dapat kita tempuh”.
       “Terimakasih atas nasihatmu Wan”.
       “Tetapi meskipun kita sudah menduga ketidakmantapan lawan, sekali-kali jangan timbul anggapan sepele. Kita harus tetap hati-hati dan bersungguh-sungguh. Sebab perkiraan kita tentang kemampuan lawan itu sifatnya nisbi. Bisa saja lawan kita merasa kemampuannya lebih rendah karena melihat sikap kita lebih mantap, padahal mungkin memiliki kemampuan lebih tinggi dari kita”.
       “Aku mengerti”.
       Darmawan tidak bicara lagi, sehingga untuk beberapa lamanya yang terdengar hanya bunyi toplak kaki-kaki kuda yang berirama. Matahari masih memancarkan sinarnya yang mulai mendingin ketika mereka memasuki batas kota, karena telah rendah di ufuk barat.
       “Kapan aku akan mulai dapat tugas Wan?”, tanya Pertiwi memulai percakapannya lagi setelah tidak terlalu jauh lagi dari kantor kecamatan.
       “Tunggulah beberapa hari lagi Nden. Sementara ini saya akan melepaskan dulu soal surat wasiat itu, karena ada masalah baru yang perlu dijejaki”.
       “Apa bukan soal tamu dari Bandung yang datang tadi pagi?”.
       “Benar Nden. Saya tertarik karena orang itu mempunyai hubungan dengan Mang Sarju dan Mang Gomar”, sahut Darmawan.
       “Kalau begitu, bukankah kau bisa memberi tugas kepadaku untuk mengawasi Mang Sarju dan Mang Gomar? Sementara kau dapat menyelusuri yang lainnya”.
       Darmawan tidak segera menjawab. Sebenarnya dia belum berani melepaskan gadis itu seorang diri, sebab belum punya pengalaman samasekali. Karena itu akhirnya dia memutuskan untuk mengajaknya bersama-sama.
       “Begini saja Nden”, kata Darmawan, “lepas isya tunggu saya di ujung jalan besar ke arah rumah Mang Sarju. Saya yakin, malam ini akan ada pertemuan sehubungan dengan kedatangan tamu itu. Tetapi saya belum tahu, di rumah siapa pertemuan diadakan. Jadi kita akan memulai dari rumah Mang Sarju”.
       “Baik”, sahutnya dengan gembira, “aku akan menunggumu di pematang dekat pohon muncang”.
       “Ya di situ saja. Jangan lupa, Nden harus memakai penutup wajah, dan hati-hati, jangan sampai ada orang rumah yang tahu”.
       Pertiwi mengangguk. “Jangan khawatir, aku akan memperhatikan semua nasihatmu. Soal penutup kepala, aku sudah beberapa hari menyimpan kupluk, karena aku pernah melihatmu memakai kupluk ketika keluar rumah diam-diam”.
       Mereka tidak bicara lagi, karena sudah sampai di depan kantor kecamatan. Seperti biasa, delman itu melalui samping kantor dan berhenti di depan pondok Darmawan. Setelah Pertiwi turun, Darmawan langsung melepas kuda delmannya, dan memasukkannya ke kandang. Dia langsung bekerja mengurus kuda dan makanannya. Sementara hari terus merambat semakin gelap. Pertiwi berdiri di depan jendela kamarnya memperhatikan Darmawan yang keluar kandang kuda dan berjalan ke arah pondoknya. Begitu Darmawan masuk ke pondoknya, dia pun menjangkau daun jendela kamarnya dan menutupnya perlahan-lahan.

--0--

       Dengan perlahan-lahan tanpa menimbulkan suara, tangan Pertiwi mendorong daun jendela kamar-nya. Keadaan diluar sangat gelap. Sejenak tubuh gadis itu mematung di depan jendela memperhatikan keadaan sekitar. Telinganya dipertajam untuk mendengarkan. Setelah yakin tidak ada gerakan yang mencurigakan, dengan lincah tubuhnya meloncat ke luar, dan menutupkan kembali daun jendela itu.
       Dia berjalan perlahan sepanjang bagian samping kantor kecamatan. Tetapi sebelum sampai ke ujung depan, dia meloncati pagar samping berupa tetumbuhan yang tingginya hampir satu meter. Jalan yang dilaluinya adalah yang selalu dilalui dia dan Darmawan sejak pertama kali dirinya diberi kesempatan turut bertualang malam seminggu yang lalu. Karena itu tanpa kesulitan samasekali, dia dapat bergerak cepat pergi ke tempat menunggunya tempo hari di ujung jalan kota, meski keadaan cukup gelap.
       Setibanya di pematang dekat pohon muncang, Pertiwi berhenti. Ternyata Darmawan belum ada. maka dia mencari tempat duduk di atas akar pohon yang menonjol keluar dari tanah untuk menunggu. Malam ini mereka akan pergi ke Pasirpanjang untuk menyaksikan pembukaan latihan yang telah direncanakan Mang Sarju dan kawan-kawannya, sebagaimana didengarnya pada rapat mereka seminggu yang lalu. Tanpa harus menanti terlalu lama, orang yang dinantinya pun telah muncul.
       “Mari Nden”, ajak Darmawan tanpa menghentikan langkahnya langsung menyusuri pematang sawah dengan gerakan cepat. Tanpa menyahut Pertiwi pun mengikutinya.
       Setelah berlatih keras sekian bulan, Pertiwi dapat mengikuti langkah-langkah Darmawan tanpa mengalami kesulitan. Setengah jam kemudian mereka telah mendekati gubuk dangau bekas tempat tinggal Darmawan. Sejak dari jauh mereka telah melihat cahaya senter yang sekali-sekali disorotkan dari arah dangau. Karena itu, ketika telah semakin dekat ke dangau, Darmawan dan Pertiwi menundukkan tubuhnya lebih rendah dari juluran tegaknya pohon padi yang sudah mulai menguning.
       Ketika sampai di ujung pematang di pinggir jalan. Tiba-tiba orang yang berada di tepas dangau menyorotkan senternya tepat ke arah Darmawan dan Pertiwi. Darmawan yang bergerak di depan langsung menjatuhkan tubuhnya menelungkup di pematang dengan hati berdebar, Pertiwi yang masih terhalang oleh rumpun pohon padi pun berhenti sambil berjongkok. Beberapa lamanya sorotan senter itu tetap mengarah ke tempat Darmawan menelungkup. Tetapi kemudian sorotannya bergeser menjauh. Darmawan menghela nafas. Terlambat sedetik saja menjatuhkan diri, pasti kehadirannya diketahui.
       “Hati-hati Nden. Mereka selalu mengawasi sekitar tempat ini”, bisik Darmawan. Lalu dia meloncat ke balik pohon di pinggir jalan. Tak lama kemudian Pertiwi pun telah berada di sampingnya.
       Beberapa lamanya mereka tidak bergerak sementara matanya memperhatikan tepas dangau. Di pertengahan tepas tampak tiga laki-laki melingkari sebuah lampu. Nampaknya mereka sedang ngobrol, terlihat dari gerakan tangannya yang kadang-kadang diangkat. Tapi karena jaraknya cukup jauh, mereka tidak dapat mendengar apa yang sedang dibicarakan.
       Darmawan merogohkan tangan ke balik bajunya, mengambil kupluk dan langsung dipakai, sehingga wajahnya tidak terlihat lagi, kecuali sepasang matanya. Melihat itu Pertiwi juga merogoh kupluknya dan mengenakannya pula.
       “Nden tunggu sebentar di sini. Saya ingin tahu apa yang mereka percakapkan. Siapa tahu ada hal yang penting”, katanya sambil bergeser di sepanjang kemiringan pinggir jalan.
       “Hati-hati Wan”, bisik Pertiwi.
       Setelah terhalang dinding dangau dari pandangan ketiga orang di tepas dangau, Darmawan merayap menyeberangi jalan. Dia mengendap-endap di antara rumpun semak dan tiba di pojok dinding belakang dapur. Darmawan terkejut ketika telinganya mendengar dengus nafas cukup keras dari dalam kamar bekas tempat tidurnya ketika dia meninggali dangau itu.
       “Nyai...Nyai...o Nyai...”, terdengar suara lelaki di antara dengus nafasnya.
       “Kang...aih...kang, kenapa cepat amat?”, balas suara lirih perempuan, “kok akang ini loyo banget. Katanya akang joki kawakan. Mana buktinya?”.
       Darmawan yang berjongkok di luar bilik hatinya berdesir dan sesuatu menyemburat di wajahnya. Sementara itu terdengar pula suara desah yang lelaki.
       “Loyo apa? Masa setengah jam dikatakan loyo? Sungguh baru sekarang aku menemui kuda binal seperti Nyai”.
       “Jadi bagaimana? Apa aku bisa dibawa ke Provinsi?”.
       “Pasti Nyai. Kau sudah pasti akan kubawa jika aku pulang nanti. Malah aku yakin, kau akan segera dikirim ke Pusat untuk memperoleh kuda emas”.
       “Ng...aku jadi tidak sabar. Kapan kita berangkat?”.
       “Empat hari lagi. Akang ingin melihat dulu ketahanan Nyai dalam pesta harum nanti”.
       “O...menyenangkan sekali. Akang lihat saja nanti. Akan kujatuhkan semua joki penunggangku”.
       “Baiklah. Kalau begitu panggilkan Bung Yeye kemari”, ujar si lelaki.
       “Terdengar suara deritan palupuh, lalu bunyi pintu dibuka, diikuti suara perempuan memanggil salah seorang lelaki yang berada di tepas.
       “Kang Yeye”, panggilnya, “Kang Ari memanggilmu”.
       Langkah-langkah berat menghampiri sampai di dekat tempat Darmawan berjongkok.
       “Ada apa Bung Ari”, tanya suara lelaki yang baru datang.
       “Bagaimana persiapan di tempat latihan sudah selesai?”.
       “Kukira belum. Kalau sudah selesai pasti Bung Sarju mengirim orang kemari”, sahut suara lelaki yang dipanggil Bung Yeye.
       “Ngng...kalau begitu suruh saja seorang kawan di sini agar Bung Sarju mempercepat persiapannya”.
       “Baiklah. Aku akan kirim Bung Adam ke sana”, sahutnya sambil berlalu.
       Darmawan tidak menunggu lagi, karena ternyata tidak ada pembicaraan yang penting, kecuali pembukaan latihan akan segera dilaksanakan. Karena itu dia menyelinap menjauhi dangau dengan cara seperti datangnya tadi. Dia menghampiri Pertiwi yang tetap menunggu di tempatnya di balik pohon.
       “Ada yang penting?”, tanya Pertiwi.
       “Ya. Nampaknya kita tengah berurusan dengan orang-orang yang hidupnya lebih mirip binatang”.
       “Apa maksudmu Wan?”.
       “Mari kita segera mengintai tempat latihan mereka. Saya kira di sana Nden akan mengerti sendiri”, sahutnya sambil terus merayap ke arah yang berlawanan dari datangnya barusan, dan makin menjauhi dangau. Dengan penuh pertanyaan Pertiwi pun mengikutinya.
       Keadaan malam itu tidak terlalu gelap, karena di langit menggantung Bulan yang hampir sebelah. Karena itu Darmawan tidak berani menyeberang terlalu dekat ke dangau. Untung padi di sawah sekitar dangau sedang menguning, menghalangi gerakan mereka dari pandangan orang di dangau.
       Setelah berada cukup jauh, Darmawan baru menyeberang jalan dengan merayap diikuti Pertiwi, lalu meloncat ke pematang. Untuk mencapai hutan kecil di belakang dangau mereka mengambil jalan melambung. Ketika telah berada sejajar dengan hutan, mereka melihat kobaran unggun api dari dalam hutan. Tetapi Darmawan tidak langsung menghampiri. Mereka masih terus menjajari hutan beberapa lamanya sampai kobaran unggun lenyap dari pandangan terhalang hutan, baru mereka mendekati hutan. Dengan cara demikian, mereka datang ke unggun dari arah yang berlawanan dengan letak dangau.
       Dari jarak 50 meter, mereka sudah dapat melihat tempat latihan. Sebuah lapangan luas yang sengaja dibuat dengan cara menebangi beberapa pohon. Di dua pinggir lapangan tampak bangunan barak panjang. Di tengah lapangan adalah unggun besar. Di dua pinggir lapangan yang tidak ada baraknya tampak beberapa gelondong pohon yang dijadikan tempat duduk tidak kurang dari 40 orang, semuanya anak-anak muda berusia rata-rata antara 20 hingga 30-an tahun. Di depan barak juga ada gelondong batang pohon yang diduduki tidak kurang dari 10 wanita muda. Sungguh sayang, Darmawan dan Pertiwi tidak dapat melihat wajah orang-orang yang duduk membelakangi tempat mereka mengintai. Sedangkan wajah orang-orang yang duduk menghadap ke arah mereka, tak seorang pun yang dikenalnya.
       “Kita mendekat sedikit lagi agar bisa mendengar jelas yang mereka percakapkan”, bisik Darmawan.
       Pertiwi mengangguk. Mereka merayap lagi di balik bayang-bayang pohon sampai jarak sekitar 15 meter dari lingkaran orang-orang itu. Mereka tidak dapat lebih dekat lagi, karena pada jarak 10 meter dari lingkaran itu sudah tidak ada pohon untuk dijadikan tempat berlindung.
       Tiba-tiba dari salah satu di antara dua gubuk di samping barak muncul empat lelaki. Yang dua orang sudah dikenal Darmawan, yaitu Mang Sarju dan Bung Ari, tamu dari Bandung. Tetapi yang dua orang lagi baru dilihatnya. Keempat orang itu maju ke tengah lapangan. Mang Sarju memperkenalkan ketiga kawannya.
       “Kawan-kawan”, katanya memulai, “sebelum membuka acara pokok, baiklah kuperkenalkan dulu tiga tamu penting kita yang akan menjadi pengarah latihan sebulan ini. Ketiga Bung ini adalah Bung Ari dari Bandung”, katanya sambil menunjuk orang yang dikenalkannya. Lalu sambungnaya: “Bung Ingi, juga dari Bandung, dan Bung Sukri dari Jakarta”.
       Sejenak Mang Sarju berhenti bicara. Tak seorang pun dari para hadirin yang membuka suara. Mang Sarju meneruskan kata-katanya.
       “Baiklah, untuk mempercepat waktu, kita akan langsung membuka acara ini yang akan dijelaskan Bung Ari dari Partai”.
       Bung Ari mengepalkan tinjunya dan diangkat tinggi-tinggi.
       “Hidup PKI!”, teriaknya.
       “Hiduuup!!!”, sambut para hadirin serempak sambil mengacungkan tinjunya.
       “Hidup Pemuda Rakyat!”.
       “Hiduuup!!!”.
       “Hidup Gerwani!”.
       “Hiduuup!!!”.
       “Terimakasih”, kata Bung Ari. “Kawan-kawan! Aku mengucapkan selamat pada kalian semua. Karena kalian diberi kepercayaan oleh pimpinan di pusat sebagai kader-kader terpercaya menjadi ujung tombak pelaksana rencana besar partai di Kabupaten ini. Pimpinan pusat telah menunjuk kalian sebagai pelopor. Keberhasilan latihan sebulan yang akan dilakukan, akan dijadikan contoh untuk latihan yang sama di tempat lain. Karena itu kalian harus sungguh-sungguh berlatih. Sanggup?!!!”.
       “Sangguuuup!!!”.
       “Bagus! Dalam beberapa hari ini kami telah menyusun rencana latihan yang mungkin akan dijadikan tradisi latihan di tempat-tempat lain, hingga saatnya rencana besar partai dilaksanakan. Kita harus mendukung kelanggengan Pembesar Revolusi kita Bung Karno. Hidup Pembesrar!”.
       “Hiduuup!!!”.
       “Pemuda Rakyat adalah pejuang-pejuang tak kenal takut dalam membela nasib rakyat kecil, kaum buruh-tani. Pemuda Rakyat berani berjuang sampai titik darah yang penghabisan”.
       “Hidup Pemuda Rakyat!!!”.
       “Tetapi jangan lupa pengorbanan para srikandi kita dalam mendukung perjuangan kalian. Coba perhatikan wajah-wajah cantik yang tegar itu”.
       Serentak semua hadirin berpaling ke arah para wanita yang duduk berderet dengan wajah tengadah. Sementara Bung Ari melanjutkan kata-katanya”.
       “Mereka hadir di sini, sejak malam ini hingga latihan berakhir, bukan untuk bermanja-manja, tetapi untuk turut berlatih. Di samping lain, mereka juga telah merelakan dirinya demi keberhasilan perjuangan ini dengan segala miliknya. Mereka telah merelakan dirinya untuk menghibur kalian kapan saja kalian membutuhkan. Mereka sudah bukan milik perorangan lagi, tetapi milik kita bersama, milik setiap orang yang hadir di sini. Mereka telah menghayati arti perjuangan samarata-samarasa yang sesungguhnya. Setiap saat sejak malam ini mereka siap melayani kebutuhan setiap diri kalian pada saat-saat istirahat latihan. Mereka adalah srikandi-srikandi kita”.
       “Hidup Gerwani!!!”.
       “Partai telah memberi kepercayaan penuh kepada Bung Sarju dan kawan-kawan yang melatih kalian dalam menilai pengabdian kalian terhadap Partai. Untuk tahap pertama, tiga orang terbaik dari kalian akan mendapat bagian tanah garapan. Sementara bagi para srikandi, tiga yang terbaik akan mendapat piala kuda emas, dan akan dibawa ke pusat untuk jadi kuda pacu terhormat. Bila rencana besar berhasil, kalian semua akan menduduki jabatan sesuai dengan tingkat pengabdiannya terhadap partai. Karena itu berlatihlah dengan sungguh-sungguh agar perjuangan kita behasil. Hidup PKI!!!”.
       “Hiduuup!!!”.
       “Hidup Pemuda Rakyat!!!”.
       “Hiduuup!!!”.
       “Hidup Gerwani!!!”.
       “Hiduuup!!!”.
       “Terimakasih”, kata Bung Ari. “Sebagai tanda resminya latihan ini dibuka, kita akan mengadakan upacara khusus tari harum, diteruskan dengan pesta harum semalam suntuk. Untuk itu pelaksanaannya kuserahkan kepada Bun Sarju”.
       Semua hadirin bersorak riuh. Darmawan menyentuh pundak Pertiwi untuk meninggalkan tempat itu. Dengan mengendap-endap mereka menjauhi melalui jalan yang dilewatinya ketika datang tadi.
       “Mengertikah Nden, apa yang disebut tari harum dan pesta harum tadi?”, tanya Darmawan sementara mereka berjalan di pematang.
       “Aku yakin, tari harum adalah tari bugil, sedangkan pesta harum...hmm perzinahan masal”.
       “Itu sebabnya saya katakan hidup mereka mirip binatang. Mereka sudah tidak menghargai moral samasekali yang menjadi ciri utama manusia. Ternyata dangau bekas tempat tinggal saya juga telah digunakan mereka sebagai tempat maksiat itu. Tadi saya memergoki orang yang bernama Bung Ari tengan melakukannya dengan Nyi Icih, bekas isteri Juragan Sukarta. Sungguh laknat perbuatan mereka. Nyi Icih adalah perempuan yang duduk paling sisi di dekat pintu barak tadi”.
       “Dia memang perempuan cantik”, sahut Pertiwi, “aku juga mengenali dua perempuan lainnya, isteri Mang Sarju dan isteri Mang Gomar. Aku tidak mengerti pandangan mereka tentang hidup berumah tangga”.
       “Saya kira kita baru akan mengerti kalau kita sendiri telah berubah jadi binatang”.
       “Ngng...”. Pertiwi hanya menggumam. Ruapanya dia hendak mengomentari perkataan Darmawan, tetapi tidak jadi.
       “Apa Nden tidak sependapat?”.
       “Pada akhirnya kukira pendapatmu benar”, sahut Pertiwi.
       “Kenapa pada akhirnya?”.
       “Sebab apa yang kita lihat hanya cara untuk mencapai tujuan sistem. Tujuan itu sangat bergantung pada hasil pemikiran para penggeraknya. Sebagaimana yang dikatakan Bung Ari bahwa mereka yang membuat rencana itu, yang akan dijadikan contoh tradisi di tempat-tempat lain. Pemikiran itu timbul karena dasar sistemnya yang menghalalkan cara dalam mencapai tujuan, yang tidak punya batasan moral sebagai satu-satunya ciri pembeda manusia dengan hewan. Dengan dibuangnya ciri itu dari sistem, akhirnya memang, kita tidak akan beda dengan binatang”.
       “Bukan main”, ujar Darmawan dengan kagum, “saya harus takluk pada Nden, karena pemikiran saya tidak sampai sejauh itu”.
       “Ah kau”, desah Pertiwi.
       “Sungguh Nden. Penjelasan Nden barusan menunjukkan bakat ahli debat atau politikus. Nden dapat menyimpulkan masalah dari pembicaraan orang yang dalam selintas seperti kurang bernilai”.
       “Sudahlah. Yang mengejutkanku justru hadirnya orang yang seperti telah kukenal”.
       “Siapa?”.
       “Aku tak begitu yakin. Soalnya dia duduk memunggungiku. Aku hanya melihat sekilas wajahnya ketika dia berpaling ke arah deretan perempuan. Dia mirip si Angga”.
       “Maksud Nden, Den Angga putera...”.
       “Ya”, sahut Pertiwi sebelum Darmawan menyelesaikan kata-katanya.
       Darmawan tidak berani mengomentari dugaan gadis itu, karena dia tahu, Raden Angga itu masih keluarga Pertiwi meski jauh. Pertiwi pun nampaknya tidak ingin membicarakan lebih jauh, sehingga percakapan mereka berhenti. Sementara itu langkah mereka sudah hampir sampai di jalan.
       “Nden, percepat jalannya. Rasanya saya seperti mendengar suara orang mengikuti kita”, tiba-tiba Darmawan berbisik sambil menyentuh punggung Pertiwi yang berjalan di depan.  
       Hati Pertiwi berdesir. Dia sendiri tidak mendengar suara itu. Tetapi dia percaya pada ketajaman pendengaran Darmawan. Karena itu dia mempercepat langkahnya.
       “Mungkinkah dia mendengar percakapan kita?”, tanya Pertiwi.
       “Mudah-mudahan tidak”, sahut Darmawan, “suara itu baru saja terdengar dan datang dari pematang lain. Begitu tiba di jalan, kita sembunyi di balik pohon terdekat”.
       Begitu tiba di pinggir jalan, Pertiwi dan Darmawan berlari ke arah pohon dan bersembunyi di baliknya. Mereka menanti sambil memperhatikan arah dari mana mereka datang. Dalam keremangan cahaya bulan, muncul sosok hitam di antara batang-batang padi, dan meloncat ke jalan. Orang itu melihat ke kanan-kiri seperti ada yang tengah dicarinya.
       “Saudara berdua”, tiba-tiba orang itu bicara sendiri tanpa melihat ke arah persembunyian mereka, “siapapun adanya kalian, aku yakin, kita di pihak yang sejalan, karena saudara hadir bersembunyi di sekitar api unggun. Karena itu silahkan Anda berdua keluar dari persembunyian”.
      Darmawan dan Pertiwi tidak bergerak samasekali. Sebenarnya Darmawan sudah percaya kepada orang itu. Sebab kalau dari pihak mereka, tentu akan mengerahkan orang-orangnya. Tetapi dia ingin meyakinkan dulu.
       “Aku yakin, saudara berdua masih ada di sini. Marilah saudara-saudara, kita berkenalan. Siapa tahu kita dapat memadukan informasi yang diperoleh masing-masing”, ujar orang itu lagi.
       “Nden. Dia adalah orang yang menemui saya di pasar minggu lalu. Saya kenal suaranya”, bisik Darmawan, “Baiklah kita menemuinya. Tapi Nden jangan mendekat”.
       Darmawan dan Pertiwi keluar dari balik pohon. Darmawan menghampiri sambil membuka kupluk, sehingga orang itu dapat mengenalinya. Tetapi Pertiwi hanya berdiri di dekat pohon.
       “Selamat malam Bapak”, sapa Darmawan.
       “Ah kiranya kamu Nak. Selamat malam”, sahutnya, “sungguh tak sangka kita akan bertemu lagi. Apa tadi kamu hadir sejak upacara dimulai?”.
       “Ya Bapak”.
       “Hmm, ternyata kau lebih gesit dari Bapak dalam menyusuri jejak mereka. Bapak baru saja datang ketika upacara hampir selesai. Maka Bapak mengejar kalian untuk mendapat informasi lebih lengkap. Bagaimana?”.
       “Baiklah Pak. Sesungguhnya memang saya mengharapkan bertemu lagi dengan Bapak, karena saya mempunyai masalah yang tidak tahu bagaimana menanganinya”, sahut Darmawan.
       “Jadi tempo hari itu kau sengaja memberi informasi, begitu?”.
       “Ya Pak”.
       “Bagaimana kau mengetahui Bapak sedang mengawasi penumpang delmanmu?”, tanyanya heran.
       “Sebab Bapak pengemudi sedan yang mengejutkan penumpang saya”, sahut Darmawan.
       “Bukan main”, gumamnya kagum, “ternyata kau anak yang sangat cerdas”.
       “Ah bukan begitu Pak. Soalnya...”.
       “Sudahlah, Bapak mengerti”, ujarnya sambil tersenyum, “nah, apa yang bisa Bapak bantu?”.
       “Maaf Pak. Sebaiknya tidak di sini karena masalahnya cukup banyak dan rumit”.
       “Maksudmu punya kaitan dengan yang kita lihat tadi?”.
       Darmawan mengangguk. “Benar Pak”.
       “Bagus”, kata orang itu dengan gembira, “kalau begitu kalian Bapak tunggu di penginapan Betah kamar 5, besok pukul 11. Nama Bapak Abdurrakhman. Setuju?”.
       “Baik Pak. Sekarang kami permisi dulu karena sudah terlalu larut”.
       “Silahkan”.
       Darmawan berbalik menghampiri Pertiwi. Mereka berlalu menyeberang jalan, meloncat ke pematang menerobos sawah, diawasi oleh orang itu yang hampir tak mempercayainya bahwa di zaman sesulit ini masih ada anak-anak muda yang tanpa ikatan apapun selain dorongan kebajikan moralnya, menerjunkan diri berjuang tanpa pamrih di antara cakar-cakar raksasa yang saling jegal. Tapi kemudian dia mengangguk-anggukkan kepala, seolah menemukan hal yang amat berharga.
       “Aku harus mendapat keyakinan dulu. Siapa tahu yang muncul itu hanya tipuan”, gumamnya.

--0--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar