Sabtu, 28 Mei 2011

Novel 4 Dimensi - Dimensi 1 - PRAQHARA NUSANTARA 09

Sembilan
Tanda Bagi Kepala Batu
       DEDEMIT! Bagaimana mungkin dia mengetahui semua pengawas di dua tempat yang letaknya berlawanan tanpa ada yang melihat kemunculannya?”. Mang Sarju menggeram penuh kemarahan yang tidak terlampiaskan, sementara matanya mengawasi Raden Angga dan Bung Miin yang berbaring di tepas dengan wajah babak belur, tengah dirawat Dora dan isteri Mang Sarju di pagi hari.
       “Satu-satunya penjelasan yang masuk akal ialah, dia datang bersama-sama gadis itu. Kemudian, sementara gadis itu berurusan dengan Bung Angga dan bertarung dengan Bung Miin, secara diam-siam orang itu memeriksa ke atas bukit. Setelah menyelesaikan pengawas di atas bukit, secara diam-diam pula menyelidiki jalan. Rupanya mereka datang melalui sawah sebelum pengawas di bukit datang. Karena tak seorang pun pengawas di jalan yang melihat kedatangan mereka”, kata Bung Ari.
       “Gila! Itu berarti, mereka mengetahui keberangkatan Bung Angga lebih siang dari pukul lima”.
       “Yang Bung perhitungkan adalah pulangnya gadis itu dari belajar bersama. Bung justru melupakan kemungkinan orang itu yang secara kebetulan melihatr keberangkatan Bung Angga dan pacarnya. Lalu memberitahukan kepada gadis itu, sehingga dia membatalkan belajar bersamanya”.
       Mang Sarju terpaku. “Setan! Kenapa aku sampai lupa pada kemungkinan itu?”, geramnya.
       “Salah satu pesan pokok dari pusat yang harus kusampaikan adalah memperhitungkan situasi dengan cermat”, kata Bung Miin dari tempat berbaringnya. Dia memaksakan diri untuk bangkit dengan mulut menyeringai. Lalu sambungnya: “Kita berdua telah jadi korban ketidakcermatan perhitungan. Aku gagal menangkap gadis itu karena tertipu oleh sikap angkuh yang jujur. Bung gagal menangkap orang misterius itu, karena terkecoh waktu belajar bersama. Aku lupa, gadis itu datang ke sini bukan untuk kepentingan dirinya, tetapi untuk menyelamatkan adiknya. Sehingga perhitungan sikapnya juga adalah menyelamatkan adiknya. Bung juga lupa, orang misterius itu datang ke sini bukan untuk kepentingan dirinya, tetapi untuk keamanan gadis itu. Sehingga perhitungan waktunya juga adalah waktu untuk keamanan gadis tersebut dalam menyelamatkan adiknya”.
       Semua yang hadir di tepas dangau terpaku. Keterangan Bung Miin baru menyadarkan mereka bahwa, peristiwa semalam lebih bersifat pertandingan perhitungan. Mereka teringat kepada keterangan Mang Sarju dengan perhitungan langkah-langkahnya. Dimulai dari langkah Bung Angga dalam menyingkirkan pengawas utama kedua gadis itu, yaitu Ayahnya, yang berhasil mulus. Kemudian rencana Mang Sarju dalam menjebak orang misterius itu yang salah memperhitungkan waktu. Kini mereka menyadari, perhitungan waktu itulah penyebab kegagalan totalnya. Sebab, sekalipun kedua gadis itu dapat lolos dari tangkapan Bung Miin, kalau para pengawas di jalan tidak diamankan oleh si orang misterius, masih ada kemungkinan tertangkap lagi.
       “Perhitungan waktulah penyebab utamanya”, desah Mang Sarju sambil menundukkan kepala.
       “Suatu pengalaman berharga bagi kita semua”, kat Bung Miin pula. “Untung bukan rencana final keseluruhan. Tapi dengan rencana lokal ini Bung Sarju akan semakin matang dalam memperhitungkan situasi. Dalam satu-dua hari ini aku tidak bisa memberi pengarahan. Kepulanganku juga nampaknya harus diundur. Karena itu aku ingin mendengar rencana Bung dengan menyesuaikan pada keadaanku”.
       Mang Sarju mengerutkan keningnya. Beberapa lamanya dia berpikir. Kawan-kawannya tidak mau mengganggu, karena selama ini perhitungan dialah yang jadi tumpuan setiap rencana mereka. Pemikiran lainnya hanya pengisi kelemahannya. Akhirnya Mang Sarju mengemukakan pendapatnya.
       “Demi kerahasiaan rencana final, nampaknya kita harus menghentikan usaha menjebak dedemit misterius itu. Artinya, kita harus menghentikan setiap urusan atau keinginan menangkap anak Camat itu untuk dijadikan kuda pacu kita”, kata Mang Sarju memulai perubahan rencananya.
       “Kenapa?”, tanya Bung Yeye.
       “Aku khawatir, dia akan mengetahui rahasia tempat-tempat khusus kita. Jebakan di tempat ini tadi malam, secara tidak langsung telah menuntun dia semakin dekat ke barak latihan. Jika dia tahu barak itu, dia akan menyelidikinya lebih jauh. Ini akan menuntun dia ke tempat-tempat pertemuan rahasia kita. Karena dia akan membayangi setiap orang yang ada di barak itu tanpa kita ketahui. Dan itu sama artinya dengan membukakan rencana final partai kita”.
       Semua yang hadir mengangguk-anggukan kepala. Sementara Mang Sarju melanjutkan: “Memang kita membencinya dan ingin melenyapkannya. Tetapi hingga kini kita belum mengetahui identitasnya. Setiap usaha menjebak dia melalui kedua gadis anak Camat itu lebih besar bahayanya dari kemungkinan berhasilnya. Sebab pengalaman telah mengajar dia menjadi lebih berhati-hati”.
       Kembali kawan-kawannya menganggukkan kepala tanda setuju. Mang Sarju meneruskan lagi.
       “Mulai sekarang kita akan memusatkan pada jalur rencana final. Beberapa hari lagi rakyat akan merayakan proklamasi kemerdekaan. Mulai besok pawai-pawai kita laksanakan untuk memanaskan persaingan partai, sehingga pada hari proklamasi rakyat akan terlena oleh perayaan itu. Dengan demikian pengarahan di barak dapat berlangsung aman. Setelah hari proklamasi, persaingan tidak akan mereda. Sebaliknya akan terus meningkat, sehingga akan jadi kamoflase yang baik untuk menutupi langkah-alangkah partai dalam mempersiapkan rencana final. Bagaimana ada pendapat lain?”.
       “Aku kira semuanya sepakat. Yang belum Bung jelaskan adalah rincian rencana kegiatan kita”, kata Bung Adam.
       “Itu akan dijelaskan Bung Miin dalam pengarahan nanti”, kata Mang Sarju.
       “Baiklah. Tetapi kapan hari-H dari rencana final itu?”, tanya Bung Yeye.

--0--

       “Mereka sendiri belum tahu. Menurut Bung Miin, hari-H itu baru akan diberitahukan bila semua persiapan telah rampung”, sahut Darmawan.
       “Lalu kegiatan apa yang sekarang mereka lakukan di barak itu?”, tanya Pertiwi.
       “Ada beberapa jenis. Diantaranya latihan mengintai dan menyergap musuh, menculik, berkelahi”.
       Percakapan itu terjadidi pondok Darmawan pada malam hari, sementara dia menyeduh kopi.
       “Nden mau minum? Biar saya buatkan sekalian?.
       “Tidak usah”, sahut Pertiwi.
       Darmawan duduk di pinggir divan. Pertiwi pun pindah, duduk di samping Darmawan.
       “Apa yang berlatih itu orang-orang dulu juga?”, tanya Pertiwi.
       “Ya, tetapi tidak keseluruhan, hanya sepuluh orang. Melihat persiapannya, nampaknya latihan kali ini seperti pemantapan. Barangkali mereka akan menyusun kelompok-kelompok tugas yang berlainan dengan jenis latihan yang berbeda”.
       “Hmm, dengan demikian aku belum dapat membuat laporan kepada Pak Abdurrakhman”, gumam Pertiwi.
       “Ya, kita harus menunggu giliran kelompok berikutnya untuk dapat menyimpulkan, apa sebenarnya yang tengah mereka rencanakan”.
       “Menurutmu, apa mereka telah mencurigai kita, sehingga pengarahnya belum memberitahukan?”.
       “Saya kira tidak Nden. Di sekitar dangau itu tidak dipasang pengawas samasekali, kecuali di tepas dangau. Kadang-kadang seorang, adakalanya dua orang duduk ngobrol sambil makan rebus ubi atau pisang. Sehingga, kalaupun ada kecurigaan dari si orang misterius terhadap tempat itu, dia tidak akan menaruh curiga lebih jauh. Karena itu, para pengarahnya sendiri memang belum diberitahu. Saya cenderung menduga, pengaturan latihan per kelompok itu, selain untuk menyusun satuan-satuan tugas khusus, juga merupakan cara menanti instruksi-instruksi yang datangnya bertahap”, sahut Darmawan.
       Sementara mengobrol, Pertiwi menyandarkan kepalanya ke bahu Darmawan, dan anak muda itu melingkarkan tangannya ke pinggang Pertiwi dengan tangan saling menggenggam. Kebiasaan itu sudah berlangsung sejak lama, tetapi sepasang mata yang mengintai dari luar pondok melalui lubang kecil di dinding yang terbuat dari bilik bambu, baru pertama kali itu menyaksikannya. Dia tidak mendengar apa yang dibicarakan sepasang muda-mudi itu, karena mereka bicara perlahan hampir berbisik.
        Siapapun yang melihat sikap muda-mudi itu tidak akan menduga bahwa dalam keadaan demikian, apa yang mereka bicarakan umumnya tidak berhubungan dengan sikapnya itu. Sesungguhnya dalam suasana demikian, yang mereka bicarakan kalau bukan soal pelajaran sekolah atau silat, tentu perkembangan situasi. Tetapi orang lain akan mengira, pembicaraan itu bisikan-bisikan cinta. Demikian pula yang terkesan oleh mata pengintai itu, yang tidak lain dari Purwanti.
       Sejak penemuan pertamanya yang secara kebetulan tentang rahasia kakaknya dan kusir gelman itu, Purwanti telah membuat lubang tempat mengintai yang lebih baik. Sejak itu secara diam-diam dia selalu memperhatikan gerak-gerik kakaknya. Rasa dendam yang bersemi di hatinya karena perbuatannya dengan Raden Angga selalu dihalangi, telah membuahkan rencana untuk menangkap basah perbuatan kakaknya. Dia menyamakan sikap kakaknya seperti yang dilakukan dirinya dengan Raden Angga. Dia menyangka, suatu saat, apa yang pernah dilakukan dirinya dengan Raden Angga, akan berlaku juga di antara kakaknya dan kusir delman itu. Karena itu dia tidak segera melaporkan kepada Ayahnya.
       Sungguh patut dikagumi kesabaran gadis yang belum dewasa itu dalam menunggu saat yang diingininya, juga dalam menutupi rencananya. Dia telah memanfaatkan pembawaannya yang lincah jadi tameng dalam menutupi kepura-puraannya. Sikapnya kepada kakaknya yang agak kaku setelah peristiwa di dangau itu, lenyap samasekali. Dia mengobrol dan bersikap wajar dengan Pertiwi dan Mang Darma seperti sebelum ada persoalan dengan Raden Angga. Di hadapan orangtuanya pun tidak memperlihatkan kemurungan lagi, sehingga kalau beberapa saat sebelumnya Juragan Danu merasakan perubahan sifat anak bungsunya, kini keadaannya telah pulih kembali.
       Dalam hal ini nampaknya Pertiwi lebih memahami sifat adiknya dibandingkan orangtuanya sendiri. Perubahan sikap adiknya yang tiba-tiba itu justru telah jadi bahan pemikirannya. Tetapi dia tidak dapat membicarakan dengan orangtuanya yang akan berangkat dari penilaian positif. Satu-satunya yang bisa diajak mempertimbangkan adalah yang berangkat dari penilaian netral, yaitu Daramawan. Soal itulah yang mereka bicarakan di malam yang lain ketika berduaan di pondok Darmawan.
       “Saya juga merasakan Nden. Bukan hanya kepada Nden saja, tetapi juga terhadap saya. Sebenarnya sejak kemarin saya ingin mengemukakan ini, khususnya perubahan sikapnya terhadap saya sendiri”.
       “Bagaimana perubahan sikap terhadapmu?”, tanya Pertiwi.
       “Sebagaimana Nden lihat sendiri. Sikap Nden Wanti demikian polosnya, seolah di antara saya dan dia tidak pernah ada perjanjian rahasia”.
       “Hmm, lalu?”.
       “Ini sekedar dugaan belum jelas. Mungkin Nden Wanti telah mempunyai sangkaan, sayalah yang membuka rahasia kepergiannya dengan Den Angga kepada Nden”.
       “Mungkin sekali Wan. Soalnya dari siapa lagi aku mengetahui kepergian mereka kalau bukan darimu. Semua orang di rumah, bahkan Ibu sendiri tidak diberitahu”, kata Pertiwi.
       “Sebenarnya saya dapat memberi alasan kepadanya. Saya terpaksa memberitahu Nden, karena Nden memaksa saya, dan kalau tidak, Nden akan memecat saya. Tetapi apapun alasannya, tetap saja Nden Wanti tidak akan mempercayai saya lagi”.
       “Itu berarti kita harus lebih ketat lagi mengawasi dia”.
       “Untung kita telah mengetahui pos-pos kegiatan mereka, sehingga tidak akan terlalu sulit mengawasi langkah-langkah Den Angga”.
       “Hmm, katamu si Angga sedang di tempat latihan. Lalu apa yang membuat tiba-tiba si Wanti berubah sikap?”, tanya Pertiwi.
       “Siapa tahu dia benar-benar telah kapok Nden”, sahut Darmawan meski dia ragu-ragu.
       “Tidak Wan. Aku tahu betul sifat dia. Semakin baik dia menutupi sifatnya, berarti dia punya rencana lebih nekad. Kita harus mengawasinya lebih ketat lagi”.
       “Baiklah, kita akan berusaha Nden”.
       Hari-hari terus berlalu. Persaingan partai semakin panas. Sampai suatu hari setelah menurunkan Purwanti di sekolahnya, Darmawan mengemukakan persoalan yang belum begitu jelas.
       “Nden”, katanya, “tadi malam saya terlambat sesaat datang ke barak. Saya tidak sempat mendengar rencana pokok mereka. Saya hanya mendengar, dalam waktu tiga malam berturut-turut Mang Sarju menyebarkan orang-orang tertentu untuk melakukan sesuatu di seluruh wilayah kecamatan. Tadi malam Bung Miin yang telah pulang sepuluh hari lalu, tiba-tiba sudah ada lagi di barak. Saya menduga kedatangannya kali ini berhubungan dengan hari-H. Sebab, sementara orang-orangnya berpesta harum, para pemimpinnya mengadakan rapat tertutup di dalam barak. Rupanya hari-H itu belum diberitahukan kepada anggota tetapi sudah diketahui oleh pimpinan. Saya menduga, hari-H itu baru aka diumumkan menjelang pelaksanaan. Karena setelah rapat selesai, Bung Miin tidak menginap di barak, tetapi pulang bersama Den Angga. Saya kira subuh tadi dia pulang ke Jakarta”.
       “Jadi, apa rencanamu?”, tanya Pertiwi.
       “Nanti sore saya akan membayangi orang yang mendapat tugas di kota, mungkin sampai malam. Saya tidak tahu, apa yang akan ditemukan nanti. Tetapi jika ada sesuatu yang sangat penting, saya akan mengetuk jendela kamar Nden. Kita akan membicarakan langkah apa yang harus kita lakukan. Saya harap Nden jangan tidur dulu”.
       “Baiklah”, sahut Pertiwi, lalu: “Apa mereka akan menyelubungi kegiatannya dengan pawai?”.
       “Justru tidak. Rupanya mereka menginginkan orang-orang tinggal di rumah dan cepat tidur, sehingga mereka dapat bergerak leluasa. Pawai-pawai dilakukan siang sampai sore hari”.
       Sesungguhnyalah persiapan pawai itu sudah terlihat sejak pagi. Kemudian menjelang sore pawapun berlangsung hingga menjelang magrib. Di sebuah rumah yang diawasi Darmawan, tampak beberapa pemuda berkumpul di tepas. Mereka tengah sibuk mengaduk beberapa kaleng cat. Kemudian orang yang ditunjuk memegang tugas di kota, membagikan beberapa lembar kertas.
       Ketika malam sudah mulai larut, semua mereka keluar rumah. Masing-masing membawa kaleng cat dan kuas, dan berpencar ke beberapa arah. Ternyata orang yang mendapat tugasnya sendiri tidak ikut. Dia tinggal di rumah. Karena itu Darmawan mengikuti salah satu dari pemuda yang berpencar tersebut. Pada pintu-pintu rumah tertentu yang tertutup, pemuda itu membuat tanda silang dengan cat.
       Pada mulanya Darmawn tidak mengerti apa tujuan dari pembuatan tanda cakra itu. Rupanya tanda itu dibuat sesuai dengan daftar pada lembaran kertas yang dibawanya. Sampai suatu saat dia melihat pemuda itu membuat tanda silang di pintu rumah Susi. Tiba-tiba saja hatinya bergetar. Dia menyadari apa yang bakal terjadi di hari-H itu.
       Tanpa mengikuti lagi ke mana pemuda itu pergi, Darmawan langsung pulang. Di sepanjang jalan pulang dia menemukan juga rumah-rumah yang pintunya diberi tanda silang serupa. Tetapi dia tidak tertarik lagi, karena pikirannya dipenuhi kebingungan mencari langkah yang cepat dan tepat untuk mengatasi bahaya besar yang serempak terjadi di seluruh wilayah kecamatan pada hari-H itu, bahkan bisa jadi juga di daerah-daerah lain.
       Pertiwi tengah membaca buku ketika telinganya mendengar ketukan tiga kali pada jendela. Maka dia menutup bukunya, lalu keluar kamar menuju dapur. Dia tidak menyadari kalau sesaat kemudian Purwanti juga keluar kamar dan mengikutinya. Rupanya gadis itu juga mendengar ketukan pada jendela kamar kakaknya.
       Ketika Pertiwi masuk ke dalam pondok Darmawan, dia melihat anak muda itu tengah duduk menunduk di pinggir pembaringan. Dia hanya sekilas menengok kepada Pertiwi ketika si gadis menutup kembali pintu pondok. Pertiwi melihat wajah Darmawan agak pucat.
       “Wan”, sapa Pertiwi ketika telah berdiri di sisi si pemuda untuk meyakinkan penglihatannya tadi.
       Darmawan tetap menunduk. “Duduklah Nden”, katanya perlahan.
       Pertiwi duduk di sampingnya, sehingga dapat melihat wajahnya yang memang pucat.
       “Apa yang terjadi?”, tanyanya.
       Darmawan menatap Pertiwi beberapa lamanya, baru menjawab: “bahaya besar Nden”, bisiknya.
       Pertiwi tidak bertanya lagi, karena dia tahu pemuda itu akan menjelaskan.
       “Hari ini saya baru tahu maksud yang sebenarnya dari baris kedua lagu nasakom itu”, ujarnya.
       “Maksudmu, singkirkan kepala batu?”.
       “Ya, saat ini mereka tengah menandai rumah-rumah orang yang  mereka sebut kepala batu itu”.
       “Siapa?”.
       “Para tokoh agama. Saya baru menyadari ketika rumah Susi ditandai. Nampaknya pada hari-H itu mereka akan melakukan penculikan dan pembantaian besar-besaran”.
       Mendengar itu wajah Pertiwi berubah memutih. Terkilas dalam pikirannya latihan-latihan yang berlangsung di dalam hutan di Pasirpanjang.
       “Saya benar-benar bingung Nden. Kalau soal ini diberitahukan kepada Pak Abdurrakhman melalui surat, besar kemungkinan tidak sampai, baik karena waktunya terlalu sempit maupun kemungkinan sabotase di tengah jalan. Jika yang kedua terjadi, mereka akan tahu siapa kita. Satu-satunya jalan paling aman dan cepat adalah berangkat sendiri ke Jakarta”.
       “Tetapi bagaimana kalau Pak Abdurrakhman kebetulan tidak ada di rumah? Padahal perjalanan dari sini ke sana menghabiskan waktu sehari penuh. Belum lagi mencari rumahnya. Paling cepat juga pergi pulang menghabiskan dua hari, tidak termasuk persiapan langkah yang harus dilakukan”, kata Pertiwi.
       “Itulah yang membingungkan saya. Saya cenderung akan berkeliling ke seluruh desa di kecamatan ini untuk memberi peringatan kepada mereka tentang bahaya yang bakal terjadi. Waktu dua hari saya kira lebih dari cukup, karena saya hanya akan mendatangi satu tokoh di setiap kampung. Saya akan menyiapkan selebaran malam ini juga dengan ditulis. Mudah-mudahan mereka percaya. Tetapi usaha ini tidak akan dapat menghentikan perang, selain hanya memberi kesempatan yang jadi sasarannya untuk melawan atau mengungsi menyelamatkan diri”.
       Pertiwi tidak menyelak perkataan Darmawan. Dia turut memikirkan langkah paling baik yang bisa ditempuh. Sementara Darmawan meneruskan pendapatnya.
       “Kalau saya berangkat ke Jakarta, tugas memberi peringatan terbengkalai, karena tidak mungkin dilakukan wanita. Sedangkan saya dapat menyamar sebagai kusir delman. Yang lebih parah, jika saya memilih pergi ke Jakarta, jika sampai terlambat, bencana besarlah yang akan terjadi. Tetapi jika tidak terlambat, selain para tokoh agama dapat dselamatkan, semua pelaku rencananya akan tertangkap, karena nama dan alamat mereka telah ada di tangan Pak Abdurrakhman”.
       “Kenapa kau tidak menugaskan aku yang pergi ke Jakarta?”, tanya Pertiwi.
       “Saya tidak berani Nden. Juragan tidak mungkin mengizinkan Nden pergi. Kalau Nden pergi tanpa sepengetahuan Juragan, saya tidak dapat membayangkan betapa marahnya beliau sepulang Nden nanti”.
       “Aku memilih yang kedua”, kata Pertiwi.
       Darmawan menggeleng. “Jangan Nden. Saya takut Juragan akan mata gelap, dan nasib Nden sendiri taruhannya”.
       “Apa artinya nasibku seorang dibandingkan nyawa sekian banyak manusia. Kalau sampai terjadi hal itu, sekalipun aku hidup selamat, hatiku akan tersiksa oleh rasa menyesal seumur hidup. Sedangkan seburuk-buruknya dimarahi Ayah, paling-paling aku dipukuli hingga babak belur. Dan aku punya alasan amat kuat bahwa, kepergianku mengemban tugas sangat penting bagi daerah ini khususnya dan bagi negara umumnya, sehingga sudah seharusnya dia berbangga hati pada anaknya”.
       “Itulah kata-kata yang ingin saya dengar dari Nden sendiri”, ujar Darmawan sambil tersenyun cerah.
       “Aku tahu”, sahut Pertiwi sambil menyandarkan kepalanya ke bahu Darmawan. Lalu, “tapi jangan berpikir bahwa sikapku itu terpaksa karena diminta kekasihnya. Untuk soal begini, tanpa ada yang meminta pun, aku siap melakukannya”.
       “Saya juga tahu Nden. Itulah sebabnya saya tidak meminta langsung”.
       Beberapa lamanya mereka tidak bicara. Darmawan mengusap-usap lengan Pertiwi dan kemudian mengangkat jari-jarinya ke mulutnya, lalu dikecupnya.
       “Nden harus membuat dua buah surat. Untuk ke sekolah biar saya yang menyampaikan, dan yang sebuah lagi untuk Ayah Nden”, kata Darmawan sambil mengusap-usap jari Pertiwi, “saya kira Nden harus segera mempersiapkan pakaian karena harus berangkat subuh. Jangan lupa membawa kartu nama Pak Abdurrakhman yang ada tanda khususnya”.
       Pertiwi hanya menggumam, tetapi tidak segera bangkit. Nampaknya dia berat untuk berpisah.
       “Wan”, bisik Pertiwi sementara matanya menerawang ke langit-langit kamar, “aku ingin minta sesuatu yang kurang pada tempatnya”.
       “Katakan saja, mudah-mudahan saya bisa memenuhinya”.
       “Maukah kau hmm...menciumku?”, gumamnya.
       Darmawan menatap wajah Pertiwi, tetapi gadis itu tidak melihatnya, karena matanya terpejam. Hanya rona merah yang membayang di wajah lembut itu.
       Sejenak Darmawan ragu-ragu. Tetapi ketika bibir ranum itu terbuka sedikit, hatinya tergoda. Dia mendekatkan bibirnya dan mengecup bibir gadis itu. Di saat lainnya bibir mereka saling melumat sambil berpelukan erat. Di luar pondok, mata Purwanti berbinar. Dia menanti saat yang sekian lama ditunggu-tunggunya, saat kedua orang itu lepas kendali tanpa ada yang berusaha mencegahnya.
       Tetapi saat yang ditunggu-tunggu itu tidak kunjung tiba. Karena apa yang dilakukan pasangan itu hanya sampai di situ. Kemudian mereka melepaskan pelukannya.
       “Terimakasih Wan. Aku sangat memerlukan bekal itu. Apapun yang terjadi kemudian, aku tidak akan pernah melupakanmu. Kaulah satu-sastunya orang yang ada di hatiku”, ujar Pertiwi dalam sendu.
       “Mengapa Nden berkata begitu?”.
       “Entahlah. Ada sesuatu yang membuat hatiku tidak tenteram. Entah apa yang menungguku di perjalanan, dan entah apa yang akan terjadi padamu sepeninggalku. Satu permintaanku, selama aku pergi, tolong jaga adikku”.
       “Tentu Nden, tentu”.
       Di luar Purwanti menggertakan gigi. Dia mengendap-endap meninggalkan tempat mengintipnya. Tak lama kemudian Petiwi pun meninggalkan pondok, diantar Darmawan hingga ke pintu.
       “Jaga dirimu Wan. Mudah-mudahan perasaan tidak tenteram itu hanya ungkapan khawatir belaka”.
       “Kita sama-sama berdoa Nden, demi keselamatan semuanya”. Kata Darmawan.

--0--

       “Ya anak muda. Kita sama-sama berdoa, semoga Tuhan melindungi kita semua. Bapak akan berusaha menghubungi kawan-kawan untuk merembukkan cara yang paling baik”, kata Pak Haji.
       “Baiklah Pak Haji. Saya tidak dapat tinggal lama. Saya hanya mohon tanya. Kalau Pak Haji tahu, siapa yang paling pantas saja hubungi di Kampung Kidul”, tanya Darmawan yang mengenakan baju kusir. Dia mengenakan kembali topi pandannya dan ditekan dalam-dalam.
       “Kau cari saja mesjid besar di pinggir jalan. Di sampingnya ada rumah besar. Itulah rumah Haji Badrudin. Katakan, kau telah menghubungiku Haji Rosyid”.
       “Terimakasih Pak Haji, saya permisi dulu”.
       “Kamilah yang harus berterimakasih anak muda. Kudoakan semoga Tuhan memberkahimu”.
       Pak Haji Rosyid membawa Darmawan jalan ke dapur, dan keluar di halaman belakang rumahnya. Lewat pintu kebun belakang, dia sampai di jalan kecil. Dari situ dia menuju ke jalan besar, muncul tidak jauh dari tempat delmannya diparkir. Beberapa sasat kemudian delman itu telah mencongklang lagi di jalan desa yang lengang. Dia memasuki kampung Kidul menjelang asar. Karena itu dia langsung menuju masjid besar dan memparkir delmannya di depan masjid.
       Di dalam masjid belum ada orang. Maka lewat tempat wudu, Darmawan menyelinap ke belakang rumah besar. Ternyata bagian belakang rumah itu merupakan pusat kegiatan organisasi pemuda. Tampak beberapa pemuda tengah mengangkuti peralatan drum band. Rupanya mereka belum lama selesai latihan. Beberapa gadis tengah mengobrol di pelataran luas yang lantainya di floor. Darmawan menghampiri kelompok gadis itu.
       “Maaf Nden. Saya diutus Pak Haji Rosyid di kampung sebelah untuk menghadap Pak Haji Badrudin, ada hal penting. Dapatkah Nden mengantar saya kepada beliau?”, tanya Darmawan sambil membuka topi pandannya dan membungkukkan badan.
       “Mamang ingin bertemu dengan Ayah? Ada apa?”, tanya salah seorang di antara gadis itu.
       “Penting sekali Nden dari Pak Haji Rosyid”, sahut Darmawan.
       “Hmm, mari ikut”, ajak si gadis.
       Darmawan dibawa gadis itu ke taman di samping rumah. Di tengah taman terdapat kolam yang diatasnya ada ranggon kecil tempat istirahat. Tampak seorang lelaki berusia sekitar 50 tahun, berkopiah hitam, tengah duduk di ranggon memandangi ikan-ikan. Ketika Darmawan dan gadis itu muncul di pinggir kolam, dia berpaling.
       “Ada apa Adah?”, tanyanya sementara matanya menatap Darmawan.
       “Tamu dari Haji Rosyid di kampung sebelah. Katanya ada soal penting”, sahut di gadis.
       “Hmm...kemarilah anak muda”, undangnya. Lalu kepada anaknya: “tinggalkan kami berdua”.
       “Gadis bernama Adah itu mengangguk dan kembali ke arah datangnya. Darmawan menyeberangi jembatan kecil pendek yang menghubungkan taman dengan ranggon.
       “Duduklah”, kata Haji Badrudin sambil menunjuk kursi di dekatnya, dan menanyakan urusannya.
       Darmawan mengeluarkan anplop kecil tertutup dari saku baju kampretnya, disodorkan kepada Haji Badrudin. Lelaki itu menyobek sisi sampul dan mengambil isinya. Isi surat itu pendek tanpa pengirim.

Penghuni yang pintu rumahnya bertanda silang X
terancam bahaya penculikan dan pembunuhan. Harap bersiaga.

       Begitu selesai membaca, Haji Badrudin memandang tamunya yang masih sangat muda itu dengan wajah berubah memutih.
       “Apa surat ini dari Haji Rosyid?”, tanyanya dengan suara bergetar.
       “Saya mohon maaf Pak Haji. Untuk mmudahkan menghadap Bapak, Pak Haji Rosyid menyuruh saya menggunakan nama beliau”, sahut Darmawan.
       “Kau sendiri siapa?”.
       “Diri saya tidak penting Pak Haji. Yang penting, bagaimana cara menyampaikan berita ini kepada semua tokoh agama di kampung ini agar mereka bersiaga. Saya harap Pak Haji mempercayai saya, sebab saya mendengar sendiri rencana mereka”.
       “Aku percaya penuh anak muda. Soalnya tadi pagi aku melihat pintu rumahku sendiri bertanda silang. Sebelum kau datang, justru aku sedang memikirkan tanda itu”.
       “Terimakasih atas kepercayaan Pak Haji”.
       “Bukan kau yang harus berterimakasih, tetapi Bapak dan kawan-kawanlah yang harus mengucapkan terimakasih tak terhingga kepadamu”, tukas Haji Badrudin, “kapan kira-kira pelaksanaan rencananya?”.
       “Pastinya saya tidak tahu. Tetapi menurut perhitungan, sekitar dua-tiga hari mendatang, dan akan berlangsung serempak di seluruh daerah kecamatan ini. Bahkan mungkin juga di daerah-daerah lain. Mereka menyebutnya hari-H”.
       “Astagfirulloh...jadi mereka merencanakan pembantaian besar-besaran?”. Haji Badrudin mengusap dada dengan suara bergetar.
       “Saya mohon bantuan Pak Haji untuk menyampaikan berita ini kepada para tokoh di kampung ini”.
       “Insya Alloh. Percayakan saja kepada Bapak. Bahkan Bapak dapat menyebarkan informasi ini lebih luas lagi melalui teman-teman anak Bapak”.
       “Kalau begitu, saya mohon diri, karena masih beberapa kampung lagi yang harus saya kunjungi”.
       “Tunggu dulu Nak”. Haji Badrudin mencegah, “kau tidak usah tergesa-gesa. Biar hilang waktu sedikit, tetapi membuahkan hasil lebih besar. Kau telah bersusah payah berkeliling dari kampung ke kampung untuk menyelamatkan orang lain dengan meninggalkan kepentinganmu sendiri, tanpa ada yang menyuruh dan tanpa minta balas jasa. Tentu kau tidak sempat mengisi perutmu sendiri. Lebih dari wajar kalau Bapak mengajakmu hanya sekedar menjamu makan”.
       “Tidak apa Pak Haji. Lagi pula saya biasa makan setelah magrib”, sahut Darmawan.
       “Hmm untuk kali ini Bapak minta kau majukan waktu makanmu menemani Bapak. Lagi pula Bapak punya rencana membantu mempercepat pekerjaanmu, bagaimana?”.
       Darmawan tidak dapat menolak. Apalagi Haji Badrudin menawarkan bantuannya yang sangat diperlukan. Karena itu Darmawan mengangguk.
       “Saya sangat berterimakasih Pak Haji”.
       “Sudah Bapak katakan. Bukan kau yang harus berterimakasih, tetapi kami. Nah, sekarang kita sholat asar dulu”.
       Haji Badrudin bangkit dari duduknya diikuti Darmawan. Mereka menuju masjid melewati pelataran tempat latihan drum band yang dilalui Darmawan tadi. Beberapa pemuda dan gadis tampak sedang duduk beristirahat di depan kantor organisasi sambil ngobrol.
       “Adah kemari sebentar”, panggil Haji Badrudin kepada anaknya.
       Saadah menghampiri Ayahnya. “Ada apa Ayah?”, tanyanya.
       “Beritahukan kepada kawan-kawan priamu agar mereka jangan pulang dulu. Suruh saja membeli nasi bungkus dan makan di sini. Ayah akan memberi briefing. Setelah itu kau siapkan makan. Ayah akan menjamu tamu. Sekarang Ayah akan sholat dulu”.
       “Baik Ayah”, sahut Saadah dan kembali kepada teman-temannya.
       “Ada apa?”, tanya salah seorang kawan Saadah.
       “Ayah minta kalian jangan pulang dulu. Ada briefing penting”.
       “Siapa pemuda yang bersama Ayahmu itu?”.
       “Dia kusir delman. Aku tadi melihatnya. Delmannya juga masih ada di depan mesjid”, sahut salah seorang yang belum lama datang.
       “Tapi nampaknya Pak Haji sangat akrab seperti kepada kawan dekat saja waktu ngobrol tadi”.
       “Aku juga tidak tahu”, kata Saadah, “yang jelas Ayah akan makan bersamanya. Aku disuruh menyiapkan makan buat mereka sekarang. Mari bantu aku Jamilah”, ajaknya kepada sahabat dekatnya.
       “He tunggu. Bagaimana makan kami? Kami juga sudah lapar”. Teriak salah seorang pemuda.
       “Pesan saja nasi bungkus di depan, nanti aku yang bayar”, sahut Saadah sambil berlalu.
       Haji Badrudin dan Darmawan muncul di meja makan ketika Saadah sedang menuangkan air pada gelas. Mereka duduk berhadapan. Sementara makan, Haji Badrudin mengemukakan rencananya.
       “Bapak punya kelompok pemuda terampil, karena mereka punya kemampuan silat. Bapak akan membentuk barisan serba guna. Mereka akan Bapak sebarkan ke seluruh daerah yang dapat dijangkau menghubungi para tokoh, dan berani menghadapi aksi para penculik. Mereka akan membawa pesan kepada semua tokoh daerah untuk membentuk kekuatan yang ada di tempat masing-masing. Insya Alloh, paling lambat besok sore, pesan itu akan sampai di semua tempat yang dituju. Langkah ini kita tempuh karena kita tidak dapat memastikan jalur resmi mana yang dapat kita hubungi. Musuh kita memiliki bulu dan kulit yang sama. Karena itu, jalan paling aman adalah membentuk barisan pertahanan sendiri. Bukankah begitu?”.
       “Saya sependapat Pak Haji”, sahut Darmawan.
       “Hmm, nampaknya kita terpaksa harus perang saudara”, gumam Haji Badrudin.
       “Itulah yang saya khawatirkan Pak Haji.  Mudah-mudahan saja usaha saya mencegahnya tidak terlambat”.
       “Apa yang telah kau lakukan untuk mencegah itu?”, tanya Haji Badrudin dengan terkejut.
       “Subuh tadi kawan saya berangkat ke Jakarta untuk menghubungi jalur yang dapat dipercaya...”.
       “Ah berbahaya Nak. Apa kau yakin betul jalur itu dapat dipercaya?”, tukas Haji Badrudin, “jangan-jangan sebaliknya yang akan terjadi”.
       “Saya yakin Pak Haji. Sebab kami sudah cukup lama bekerja sama membayangi mereka. Bahkan semua nama penting yang terlibat dalam gerakan mereka telah saya kirimkan. Jalur itu sedang menanti laporan hari-H dari kami. Namun hari-H itu masih mereka rahasiakan. Tetapi dari istruksi pimpinan mereka kemarin, kami menyimpulkan hari-H itu terjadi sekitar 2-3 hari lagi”.
       “Bukan main. Sudah berapa lama kau membayangi kegiatan rahasia mereka?”, tanyanya kagum.
       “Hampir dua tahun Pak Haji”.
       “Berapa orang kalian bekerja?”.
       “Dua orang”.
       “Hanya dua orang? Dan kawanmu juga seusia denganmu?”.
       Darmawan mengangguk. Haji Badrudin menggeleng-gelengkan kepala, membayangkan betapa dalam waktu sekian lama, dengan sabar dan ulet, membayangi dan mengumpulkan nama-nama sekian banyak orang secara sembunyi-sembunyi. Saat itu juga tampak sikap orangtua itu begitu menghormat.
       “Kau telah membuat orang setuaku menjadi iri”, katanya, “hmm, kalau saja aku tahu sejak lama...”, gumamnya tanpa menyelesaikan kata-katanya.
       “Kita hanya dapat berdoa, mudah-mudahan kawan saya tidak terlambat, sehingga mereka semua dapat diciduk sebelum banyak korban jatuh”, kata Darmawan.
       “Ya, Bapak akan turut membantu berdoa agar kawanmu tiba di tujuan dengan selamat dan tidak terlambat”.
       Meski makan telah selesai, mereka maih bercakap untuk merampungkan rencana Haji Badrudin.
       “Sudah berapa kampung yang didatangi Nak Wawan?”, tanya Haji Badrudin. Rupanya ketika di masjid dia telah menanyakan nama anak muda itu.
       “Empat kampung Pak. Saya mengambil kampung terjauh dulu”
       “Artinya, di daerah tempat tinggalmu sendiri belum mendapat peringatan, begitu?”.
       Darmawan mengangguk. “Saya dapat melakukannya pada malam hari”, sahutnya.
       “Kalau begitu kita atur begini saja. Semua daerah di luar tempat tinggalmu Bapaklah yang akan menanganinya, sehingga kau tidak banyak membuang waktu lagi. Bukankah itu lebih baik?”.
       Darmawan mengangguk lagi.
       “O iya. Dari tadi kita bicara tentang rencana, sampai Bapak lupa menanyakan hal yang sangat penting. Di kampung mana Nak Wawan tinggal?”

--0--

       “Tidak jauh Neng. No, di sono”, sahut pemilik kios sambil menunjukkan jarinya, “naik becak aje, tidak setengah jam juga udah nyampe”, sambungnya.
       “Terimakasih Bang”, kata Pertiwi.
       Ketika sebuah becak kosong mendatangi, Pertiwi mengacungkan jarinya, dan becak pun berhenti.
       “Ke mana Neng?”, tanya tukang becak setelah Pertiwi naik.
       “Ke sana Bang, jalan Anu”.
       Sekitar 20 menit kemudian becak yang ditumpangi Pertiwi telah sampai di jalan yang dituju.
       “Stop, stop Bang”. Kata Pertiwi ketika melihat nomor gedung yang ditujunya.
       Setelah membayar ongkos becak, Pertiwi tidak segera menghampiri pintu halaman gedung itu. Beberapa lamanya dia berdiri mematung. Dia ragu karena gedung dihadapannya bukan rumah biasa, melainkan sebuah gedung besar, terlalu besar malah, dan berlantai dua dengan halaman yang amat luas. Untuk ukuran di daerahnya, gedung itu tak ubah seperti istana. Sampai beberapa kali dia mencocokkan nomor gedung pada kartu nama yang dipegangnya dengan yang tertera pada pilar pintu pagar gedung. Tak salah. Tiba-tiba saja hati gadis itu merasa kecil. Namun akhirnya dia memaksakan diri menghampiri pintu gerbang. Kebetulan, tidak jauh dari pintu tampak seorang lelaki separuh baya tengah menyiram tanaman. Hari sudah sekitar pukul lima sore.
       “Pak, Pak, maaf saya mau tanya”, panggilnya kepada orang yang tengah menyiram tanaman itu.
       Orang itu menghentikan kerjanya dan menghampiri. “Ada apa Neng?”, tanyanya.
       “Apa Tuan pemilik gedung ini benar seperti dalam kartu nama ini?”. Pertiwi balik bertanya sambil menyodorkan kartu nama yang dipegangnya.
       Orang itu menerima kartu nama tersebut, membaca namanya, kemudian membalikkan kartu itu. Ketika melihat tanda silang yang dilingkari, tergesa-gesa dia membukakan pintu kecil di sisi gerbang.
       “Tidak salah Neng, silahkan masuk”, sahutnya sambil mengangguk hormat, “mari ikut Mamang”.
       Pertiwi mengangguk mengikuti orang itu. Mereka berjalan melewati taman bunga dengan kolam ikan yang besar, baru sampai di depan gedung. Orang itu membuka pintu dan mempersilahkan masuk.
       “Silahkan tunggu sebentar Neng. Mamang hendak memberitahu Nyonya dulu”, katanya dan berlalu.
       Pertiwi kembali mematung beberapa lamanya di ruangan tamu yang luas dengan kelengkapannya yang baru pertama kali itu dia melihatnya, lengkap dan modern, lantai marmar mengkilap. Dengan hati-hati dia melangkah ke kursi sofa panjang. Matanya merayapi seluruh ruangan dengan kagum.
       Dari pintu tengah muncul seorang wanita cantik berkebaya. Dari jauh sudah tampak senyumnya yang ramah dengan wajah cerah. Sebelum sampai di hadapan Petiwi, wanita itu telah menyapanya.
       “Nak Wiwi hanya sendiri? Kenapa tidak bersama Nak Wawan?”, tanyanya.
       Pertiwi terkejut mengetahui namanya disebut. Dia bangkit dan menyalami wanita itu.
       “Bagaimana Ibu tahu nama saya?”.
       Senyum wanita itu semakin lebar. Dengan akrab dia membimbing Pertiwi dan duduk bersisian. “Itu rahasia”, sahutnya, “pukul berapa dari kampung?”.
       “Subuh tadi Bu”.
       “Hmm, cepat juga perjalananmu. Kenapa baru datang sekarang? Apa sedang libur sekolah?”.
       “Tidak Bu”.
       “He, jadi anak Ibu ini bolos ya?”.
       Pertiwi tersipu. “Terpaksa Bu”, sahutnya.
       “Hmm Ibu tahu. Tentu kau membawa berita penting untuk Bapak. Betul kan?”.
       “Iya Bu. Kalau melalui surat pasti terlambat dan takut tidak sampai”.
       “Ah kalau begitu pasti amat penting, padahal Bapak sedang ada tidak di rumah. Ayo kita coba menghubunginya”, ujarnya sambil bangkit dan menarik tangan Pertiwi.
       Sikap dan ucapan wanit itu demikian terbuka dan akrab, seolah mereka telah berkenalan lama, sehingga rasa kikuk Pertiwi pun lenyap seketika. Dia menurut saja ke mana wanita itu membimbingnya.
       “Setelah perjalanan jauh dan udara Jakarta yang panas, tentu Nak Wiwi haus. Kebetulan Ibu punya minuman segar”, ujarnya sambil membuka lemari es. Lalu sambungnya: “Sementara Ibu menelpon, pilih saja apa yang kau suka. Jangan segan-segan. Mau dihabiskan juga boleh”.
       Mendengar kelakar akrab itu Petiwi tersenyum. Sementara si wanita pergi ke tempat telpon, Pertiwi memperhatikan isi lemari es yang penuh dengan beberapa jenis buah-buahan dan minuman yang tidak pernah tersedia di rumahnya. Pertiwi mengambil seuntai buah anggur dan sebotol coca cola. Di atas lemari es ada pembuka tutup botol. Dia buka tutup botol itu dan kembali ke tempat duduknya.
       Sementara menikmati minuman segar, matanya melihat wanita itu memutar nomor telpon beberapa kali dan bicara. Dia kembali setelah mengambil sepiring buah-buahan dari lemari es. Dan membawa ke tempat duduk Pertiwi, lalu duduk di samping gadis itu.
       “Di beberapa tempat mangkal Bapak tidak ada. Tetapi di tempat mangkal khusus memberitahukan bahwa Bapak akan pulang pukul sembilan nanti”, kata Nyonya Abdurrakhman.
       “Mengapa disebut tempat mangkal khusus Bu?”.
       “Karena di tempat itu Bapak punya tugas khusus yang membuatnya bertemu dengan kalian”, sahut Nyonya Abdurrakhman. “Karena yang ditunggu masih lama, sebaiknya kau istirahat dulu. Perjalanan jauh tadi tentu membuatmu lelah. Mari Ibu tunjukkan kamarmu”.
       Bu Abdurrakhman membawa piring buah-buahan diikuti Pertiwi yang menjinjing tas pakaiannya. Mereka menaiki tangga ke lantai dua. Kamar yang disediakan untuk Pertiwi letaknya di atas pintu depan gedung yang punya balkon. Kamar itu cukup luas berukuran 4 x 4 meter, lengkap dengan perabotannya termasuk lemari es, pesawat televisi 20 inci, dan kamar mandi sendiri. Sebuah rak panjang penuh dengan buku-buku juga tampak di sisi kamar.
       Dari laci meja tulis, Bu Abdurrakhman mengambil sebuah kunci dan diserahkan kepada Pertiwi.
       “Ini kunci lemari. Sebaiknya tas pakaian itu disimpan di lemari saja”, katanya.
       Pertiwi yang tengah mengeluarkan pakaian salin menerima kunci itu dan membuka lemari. Ketika pintu lemari terbuka, tampak berderet pakaian perempuan, mulai dari rok, terusan, kebaya, hingga celana panjang. Paling bawah perangkat sembahyang, selimut, dan setumpuk kain batik dan sarung. Pertiwi menutup kembali pintu lemari itu.
       “Kenapa kau tutup lagi?”, tanya Bu Abdurrakhman.
       “Ini kamar siapa Bu?”. Pertiwi balik bertanya.
       “Kamar anak perempuan Ibu”.
       “Ah, kalau begitu sebaiknya saya di kamar lain saja”.
       “Tidak. Kau yang di sini”, kata Bu Abdurrakhman sambil mengambil pakaian salin dan tas Pertiwi. Lalu lemari itu dibuka lagi lebar-lebar, dan pakaian Pertiwi ditaruh pada rak yang masing kosong.
       Pertiwi merasa bersalah, karena barusan dia telah menolak apa yang diatur pemilik rumah, padahal dia hanya tamu. Dia jadi malu sendiri. Untuk menghilangkan rusuhnya gadis itu mengambil sebuah apel dan menggigitnya sambil duduk di pinggir pembaringan. Bu Abdurrakhman membiarkan lemari tetap terbuka, dan duduk pula di samping Pertiwi.
       “Kalau kau mau nonton tv, nyalakan saja”, kata Bu Abdurrakhman.
       “Saya tidak tahu cara menyalakannya. Di tempat saya belum ada televisi”.
       “Putar knop paling bawah di sisi layar itu ke kanan. Itu untuk menyalakan dan membesarkan suara”.
       Pertiwi bangkit menghampiri televisi dan memutar tombol yang ditunjukkan. Ternyata tidak sulit. Sementara nonton, pikiran Bu Abdurrakhman nampaknya masih kepada pakaian di lemari, dan itu dikemukakannya.
       “Nak Wiwi, mumpung kau ada, kita bertaruh yu”, katanya.
       Pertiwi memandang wanita itu dengan heran. “Taruhan apa Bu? Maaf, saya tidak pernah bertaruh”.
       “Tidak apa. Nak Wiwi tidak usah mempertaruhkan apapun. Ibu hanya minta kau mencoba semua pakaian di lemari itu. Ibu bertaruh, semua pakaian itu pasti pas dibadanmu. Kalau benar dugaan Ibu, semua pakaian itu jadi milikmu, mau?”.
       “Ah Ibu ini ada-ada saja. Bukankah semua pakaian itu milik puteri Ibu?”.
       “Terus terang saja, anak Ibu sendiri belum mengetahuinya. Karena itu Ibu punya janji, siapa saja gadis yang datang ke sini dan mau mengaku Ibu sebagai ibunya, serta pakaian itu cocok dibadannya, dialah yang akan memilikinya”.
       “Bagaimana mungkin puteri Ibu sampai tidak mengetahui semua pakaian itu?”, tanyanya heran.
       Bu Abdurrakhman menghela nafas. “Sebab hingga sekarang Tuhan belum memberikan karunianya. Itulah satu-satunya kekurangan di rumah ini”, sahut Bu Abdurrakhman dengan wajah muram.
       “Maksud Ibu?”.
       Mata Bu Abdurrakhman berkaca-kaca, dan ketika bicara suaranya pilu” “Begitulah Nak. Sampai setua ini Tuhan belum memberi kepercayaan kepada kami untuk menimang anak”.
       “Lalu pakaian di lemari itu? Bukankah Ibu mengatakan punya puteri Ibu?”.
       Bu Abdurrakhman tersenyum pahit. Lalu katanya: “Jangan kau tertawakan Ibu. Ceritanya terjadi sekitar satu setengah tahun lalu, ketika Bapak pulang dari tugas. Waktu itu Bapak pulang dengan tingkah amat gembira dan wajah cerah. Datang-datang dia merangkul Ibu dan membawa Ibu menari-nari. Dia menceritakan pertemuannya dengan seorang gadis yang mirip dirinya. Dia mengatakan, kalau Ibu mencintai Bapak, Ibu harus mengambilnya sebagai anak. Begitu besarnya perhatian Bapak kepada gadis itu, sehingga dia dapat menggambarkan wajah dan ukuran tubuhnya demikian yakin, dan Ibu dapat memperkirakan, besarnya kira-kira sama dengan Nak Wiwi”.
       “Apa gadis itu menolak diambil anak oleh Ibu?”, tanya Pertiwi.
       “Tunggu dulu, cerita Ibu belum selesai”, kata Bu Abdurrakhman. Maka lanjutnya: “Besoknya Bapak membawa cerita lain. Dia menceritakan perjumpaannya dengan seorang anak muda yang sifat dan nasibnya mirip Ibu. Bapak memang pandai bercerita, sehingga Ibu demikian tertarik pada anak muda itu. Maka Ibu katakan kepada Bapak, kalau Bapak mencintai Ibu, dia harus mengambil anak muda itu sebagai anaknya. Sampai beberapa hari, yang kami bicarakan hanya kedua anak muda itu. Kemudian Bapak meminta kedua anak muda itu supaya datang kemari. Selama menanti kedatangannya, Ibu telah mempersiapkan apa yang diperlukannya bila datang. Kamar dan kelengkapan inilah yang Ibu sediakan buat gadis itu. Tetapi Ibu benar-benar sedih, karena Bapak tidak berani berterus terang kepada mereka, sehingga keadaan jadi terkatung-katung”.
       “Mungkin mereka tidak tahu maksud yang sebenarnya permintaan Bapak itu”, kata Pertiwi dengan nada iba.
       “Ya, mungkin sekali”, desah Bu Abdurrakhman.
       Beberapa lamanya mereka tidak bicara. Tetapi kemudian Bu Abdurrakhman bertanya: “Andaikata. Ini hanya andaikata”, ujarnya, “gadis yang diminta datang oleh Bapak itu Nak Wiwi. Apa kira-kira Nak Wiwi akan memenuhi permintaannya?”.
       “Saya akan melihat dulu, apa Bapak tidak bermaksud jahat? Kalau ternyata Bapak orang baik, tentu saya akan memenuhi permintaannya”.
       “Kemudian bila sampai di sini Ibu memintamu jadi anak Ibu, apa kau akan menolak?”.
       “Kalau saya sudah tidak punya Ibu, kenapa maksud baik orang harus ditolak? Bukankah dengan mengangkat saya sebagai anak, berarti Ibu menyayangi saya?”.
       “Misalkan. Sekalipun kau masih punya orangtua. Ibu tidak berkeberatan mengambilmu sebagai anak akuan. Artinya, Ibu hanya ingin turut menyayangimu karena sifatmu mirip Bapak yang Ibu cintai. Apa Nak Wiwi akan menolak?”.
       “Tentu tidak Bu. Siapapun yang bermaksud menyayangi saya, artinya keberuntungan bagi saya. Saya akan terima dengan rasa bahagia, dan saya akan menganggapnya sebagai ibu sendiri. Bukankah kasih-sayang itu tidak akan berkurang  sekalipun diberikan kepada seribu orang, sebaliknya justru akan menciptakan kebahagiaan yang semakin besar?”.
       Bu Abdurrakhman mengangguk-anggukkan kepala tanda setuju. “Baiklah. Sekarang Ibu ingin tahu penilaianmu terhadap Bapak. Tetapi Ibu minta kau bicara menurut nurani. Jangan karena ada Ibu, lalu yang jelek disebut bagus. Anggap saja, Ibu tidak punya hubungan dengan Bapak. Kau bebas mengemukakan pendapat. Dengan demikian, kalau ada sifatnya yang jelek, Ibu akan memberitahukan kepada Bapak, supaya Bapak memperbaikinya. Mengerti maksud Ibu?”.
       Pertiwi mengangguk. “Saya mengerti”, sahut Pertiwi. Lalu katanya: “Pada pertama kali bertemu, saya punya rasa curiga. Tetapi Wawan langsung mempercayainya, sehingga kami berdebat. Saya baru percaya Bapak orang baik setelah kami menerima beberapa surat agar kalau sempat, kami jangan hanya memberi laporan melalui surat, sebaiknya datang sendiri”.
       “Lalu kenapa Nak Wiwi baru datang sekarang? Bukankah surat-surat yang Nak Wiwi terima selalu diakhiri dengan permintaan agar laporan itu sebaiknya kau sampaikan sendiri ke sini?”.
       “Benar Bu. Tetapi karena laporan itu tidak perlu tergesa-gesa, dan kami sudah percaya kepada Bapak, kami pikir dengan pos juga sudah cukup. Kecuali dalam keadaan mendesak seperti sekarang”.
       “Apa Nak Wiwi tidak merasakan janggal bahwa dalam surat-surat yang terhitung sangat pendek itu selalu mementingkan kalimat agar melaporkan sendiri ke sini?”, tanya Bu Abdurrakhman.
       Pertiwi mengerutkan keningnya. Pertanyaan Bu Abdurrakhman itu baru menyadarkan dirinya atas kejanggalan surat-surat tersebut.
       “Hmm, ternyata kau tidak merasakan kerinduan orangtua”, gumam Bu Abdurrakhman. “Tahukah kau, siapa yang selalu memintamu datang ke sini?”, sambungnya dalam nada sedih. “aku Nak, aku. Apa kau tidak merasakan samasekali, betapa aku hampir putus asa menunggu kedatanganmu?”.
       Pertiwi tersentak. “Ap...apa maksud Ibu?”, tanyanya gagap, “say...sayakah gadis yang diceritakan Bapak itu?”, sambungnya dengan nada bimbang.
       “Sudahlah. Tidak perlu kau pikirkan lagi. Ibu jadi malu sendiri membicarakannya”, ujar Bu Abdurrakhman dengan menghela nafas panjang.
       Suatu perasaan iba seperti ketika melihat keadaan Darmawan yang mengenakan pakaian compang-camping telah melanda hati Pertiwi. Dia dapat merasakan, betapa wanita yang keadaan lahiriahnya serba cukup itu ternyata hatinya demikian gersang. Dia tidak mengerti, mengapa wanita itu tidak memungut anak yang mudah diperoleh dari panti-panti asuhan. Sebaliknya, untuk memperoleh setitik kebahagiaan, justru dia rela meski sekedar jadi ibu akuan. Apa itu bukan rahasia alam yang aneh?.
       Tanpa dikehendakinya, mata Pertiwi berkaca-kaca. Kemudian tanpa segan-segan lagi dia merangkul Bu Abdurrakhman. “Maafkan Wiwi Ibu. Ternyata Wiwi terlalu bebal menanggapi kerinduan Ibu. Apa Ibu tidak menyesal mengambil anak sebebal Wiwi?”, bisiknya ditelinga Bu Abdurrakhman.
       Bu Abdurrakhman membalas rangkulan gadis itu dengan mendekapnya erat-erat. Tetesan air mata bening jatuh dari sepasang matanya membasahi tengkuk Pertiwi, membuat hati gadis itu makin tersayat. dan diapun jadi menangis. Lama juga mereka berangkulan, sampai Bu Abdurrakhman mendorong bahu si gadis sehingga mereka dapat saling tatap.
       “Hmm, ternyata anakku yang bengal juga bisa menangis”, gumam Bu Abdurrakhman. Tetapi kini wajahnya tampak cerah meski matanya masih berkaca-kaca. Pertiwi juga tersenyum mendengar gumaman wanita itu yang terasa lucu.
       “Sebagai anak bengal, Wiwi jadi ingin tahu, apa Ibu benar-benar seorang Ibu yang baik?”.
       “Bagaimana kau akan menguji Ibu?”, tanya Bu Abdurrakhman.
       “Semua pakaian dalam lemari itu akan Wiwi coba. Kalau ada satu saja yang tidak pas, berarti Ibu kurang memperhatikan anaknya”, sahut Pertiwi.
       “Boleh coba”, tantang Bu Abdurrakhman, “kecuali jika dalam waktu setengah tahun ini tubuhmu telah berubah banyak”.
       Pertiwi bangkit menghampiri lemari, lalu mengambil salah satu baju tanpa dipilih lagi. Tanpa malu-malu dia melepas baju yang dipakainya, dan mengenakan yang diambilnya dari lemari. Menakjubkan! Pas benar, sehingga Pertiwi benar-benar jadi keheranan.
       “Bagaimana mungkin Ibu mengetahui pasti ukuran tubuh Wiwi? Padahal Wiwi hanya bertemu sekali dengan Bapak”.
       “Itulah kecermatan Bapak. Dia mengukur tubuhmu dari bekas dudukmu, bekas berdirimu, dan lain-lainnya dibandingkan dengan benda-benda disekitarnya seperti kursi, meja, ubin lantai, pintu, dinding. Itu dilakukan Bapak di hotel setelah kalian pulang”.
       “Bukan main”, gumam Pertiwi dengan menggeleng-gelengkan kepala. Dia baru memhami tingkah aneh Pak Abdurrakhman di hotel itu.
       Bu Abdurrakhman menghampiri meja tulis dan membuka lacinya. Dari dalamnya dia mengambil sebuah foto cukup besar yang telah diberi pigura.
       “Sekarang foto ini sudah bisa dipasang. Kau pasang sendiri karena ini adalah kamarmu”, ujarnya sambil menyerahkan foto tersebut kepada Pertiwi. “Sudah hampir magrib, Ibu mau sholat dulu. Nanti pukul tujuh kita makan”, sambungnya, dan dia berlalu meninggalkan Pertiwi yang berdiri bengong.
       Peristiwa itu sungguh tidak disangkanya samasekali. Seperti dalam mimpi saja, sampai-sampai dia mencubit lengannya sendiri untuk meyakinkan. Namun setelah tahu kenyataannya, dia hanya mengangkat bahu. Matanya menyapu dinding sekeliling kamar untuk mencari paku gantungan fotonya. Sebab dia yakin, paku itu pasti sudah terpasang. Dugaannya tidak salah. Paku itu ada di atas tempat tidurnya. Maka diapun naik ke tempat tidur dan menggantungkan foto tersebut.
       Peristiwa yang tidak disangka-sangka itu membuat dia lupa pada rasa lelahnya setelah perjalanan sehari penuh. Yang tidak bisa hilang adalah kekakuan di seluruh tubuhnya karena keringat dan debu. Maka diapun mengambil handuk, lalu masuk ke kamar mandi.
       Hari pun berlalu terus. Lewat magrib Pertiwi turun dari kamarnya ke ruang tamu, mengenakan baju kaos dan celana panjang yang tersedia di lemari. Bu Abdurrakhman keluar dari salah satu kamar di sisi ruang tamu yang di atas pintunya bertuliskan ‘mushola’. Dia menghampiri Pertiwi dan menggandeng gadis itu, membawanya ke ruang makan keluarga.
       “Ibu, nampaknya kunjungan Wiwi kali ini singkat sekali, karena besok pagi harus pulang lagi”. Pertiwi memberitahukan kepulangannya sementara mereka ngobrol sambil makan.
       “Ibu tahu. Dari beberapa laporan terakhir, Ibu dapat menyimpulkan situasi yang semakin memanas mendekati puncaknya. Karena itu dari kemunculanmu yang tiba-tiba, Ibu menduga berhubungan dengan situasi puncak itu”, sahut Bu Abdurrakhman.
       “Benar Bu. Menurut pen...”.
       Bu Abdurrakhman memotong perkataan Pertiwi: “Laporkan saja kepada Bapak, karena dia yang akan menentukan langkah-langkah selanjutnya. Tugas Ibu sekarang adalah, pertama memperkenalkan calon saudaramu. Kedua, memperkenalkan semua pembantu rumah dan lingkungan rumah ini. Ketiga minta janjimu agar sejak hari ini, setiap ada libur, kau harus berusaha menyempatkan diri datang ke sini untuk menemui Ibu”.
       “Yang ketiga, insya Alloh akan saya penuhi”, sahut Pertiwi.
       Selesai makan, Bu Abdurrakhman melaksanakan apa yang dikatakannya. Dia membawa Pertiwi ke sebuah kamar di sisi lain dari mushola.
       “Apa saudara Wiwi sudah datang ke sini?”, tanya Pertiwi sementara mereka masuk kamar.
       “Belum. Mungkin tanggapannya sama denganmu. Tetapi kau dapat melihat fotonya. Juga foto pacarnya, karena dia sudah punya pacar. Ibu kira usia saudaramu itu satu-dua tahun lebih tua darimu”.
       “Hmm, kalau begitu Wiwi harus memanggil kakak”.
       Kamar yang mereka masuki memiliki kelengkapan yang hampir sama dengan kamar Pertiwi. Tetapi di atas meja tulis ada tiga figura besar berukuran satu meteran berdiri sejajar, ditutup tirai kain hijau.
       “Dua yang disebelah kiri adalah foto saudaramu”, ujar Bu Abdurrakhman, “yang paling kanan foto pacarnya. Kau lihat saja sendiri supaya dapat mengenalnya”.
       Pertiwi mengangguk dan membuka figura paling kiri, lalu membuka tirainya. Sejenak gadis itu terpaku. Itu foto sebuah delman dengan kusirnya tengah berhenti di pasar, dan dia kenal betul kusir itu.
       “Eh, bukankah ini Wawan, Bu?”, tanya Pertiwi.
       “Jadi kau sudah kenal kepadanya?”. Bu Abdurrakhman balik bertanya sambil tersenyum.
       Pertiwi tidak menjawab, melainkan tergesa-gesa dia membukai dua figura lainnya. Maka tampaklah foto Darmawan dan dirinya seperti yang dikamarnya tetapi dalam ukuran besar. Sejenak gadis itu mematung dengan tangan gemetar. Lalu tiba-tiba dia membalikkan tubuh dan merangkul kaki Bu Abdurrakhman sambil berlutut, sementara dari mulutnya terdengar isakan.
       “Eh, apa-apan ini?”. Bu Abdurrakhman justru terkejut menyaksikan sikap itu. Dia berusaha menarik tangan Pertiwi agar berdiri. Tetapi Pertiwi tetap bersimpuh, sehingga Bu Abdurrakhman akhirnya membiarkan saja apa diperbuat gadis itu, sampai kemudian Pertiwi bangkit sendiri dengan mata basah. Dia kembali merangkul wanita itu dengan erat.
       “Ibu, alangkah bahagianya hati Wiwi sekarang”, bisiknya ditelinga Bu Abdurrakhman dalam isaknya. Ternyata kali ini gadis itu benar-benar menangis.
       Bu Abdurrakhman membiarkan gadis itu melepaskan perasaannya. Dia hanya mengusap-usap punggung Pertiwi, sampai kemudian gadis itu melepaskan sendiri pelukannya.
       “Kau mengherankan Ibu, Nak. Ketika kau mendapat keberuntungan, sikapmu biasa-biasa saja. Tetapi ketika mengetahui Wawan diangkat anak oleh Bapak, nampaknya kau begitu terharu”.
       “Bukan maksud Wiwi kurang menghargai kebaikan Ibu. Samasekali tidak. Wiwi benar-benar merasa beruntung mndapat limpahan kasih-sayang Ibu. Saat itu timbul keinginan meminta agar Ibu mengganti diri Wiwi dengan Wawan. Karena sesungguhnya dialah yang lebih memerlukan tali kasih orangtua dibandingkan Wiwi yang masih punya tali kasih itu. Namun ternyata Bapak dan Ibu telah mengatur tali kasih itu untuknya. Bagaimana Wiwi tidak terharu? Ingin rasanya sekarang juga Wiwi pulang ke kampung untuk menyampaikan kegembiraan ini kepada Wawan bahwa, ada orang yang menyayangi dirinya”.
       “Hmm, itu pulakah alasan anak Ibu yang begini cantik memilih pacar kusir delman?”.
       “Wujudnya kusir delman Bu, tetapi hati dan pengabdiannya tidak dinodai pamrih dan ambisi. Kesetiaan dan kejujuran adalah pedoman utama hidupnya. Wiwi dapat membayangkan, betapa tenteramnya hidup bersama orang seperti Wawan”.
       “Tetapi sifat-sifat itu tidak hanya dimiliki kusir delmanmu saja Wiwi. Tidak sedikit orang kaya dan berpangkat serta berderajat ningrat memiliki sifat itu. Kenapa harus memilih yang menurunkan derajatmu, sementara kesempatan untuk memperoleh pasangan yang sepadan dengan diri dan derajatmu bagi gadis secantikmu, bukan hal yang sukar”, kata Bu Abdurrakhman.“Sedangkan dengan memilih kusir delman kau telah melangkah pada jalur berbahaya. Terutama jika orangtuamu menilai darah keturunan di atas segalanya”.
       “Entahlah Ibu. Yang jelas, perhatian Wiwi terhadap dia mulai dari rasa iba dan ingin membantunya mengangkat derajat diinya dari kehidupan yang dinilai masyarakat umum sebagai golongan paling rendah, bahkan ada yang menganggap hina”.
       Kini Bu Abdurrakhman yang mendekap Pertiwi. “Anakku, kau benar-benar mirip Bapak”, bisiknya ditelinga si gadis, “nasib Ibulah yang mirip dengan Wawan, bahkan bisa jadi lebih parah lagi, dan Bapaklah yang mengangkat Ibu dari bencana, meski akibatnya dia dikucilkan oleh keluarganya”.
       “Ibu? Jadi kau...?”.
       “Ya, Ibu tahu maksudmu. Apa kau menyesal punya Ibu seperti aku?”, tanya Bu Abdurrakhman.
       Pertiwi merangkul wanita itu dengan erat, sementara mulutnya berbisik di telinga wanita itu: “Tidak Ibu, samasekali tidak. Sebaliknya, kini Wiwi menyayangi Ibu seperti menyayangi Wawan”.
       “Terimakasih anakku. Itu sudah cukup. Kau tidak perlu menjelaskan lagi, karena Ibu tahu, sayang macam apa yang ada dalam hatimu. Ibu benar-benar bahagia”, bisik Bu Abdurrakhman pula.
       Setelah memadu saling pengertian yang lebih mendalam begitu, kedua perempuan itu keluar dari kamar dengan sikap yang jauh berbeda, seperti dua orang yang bukan baru beberapa jam berkenalan. Mereka bergandengan mengelilingi seluruh rumah, dan mereka mulai bersekongkol.
       “Kalau Bapak datang, kau jangan menemuinya dulu. Apa dia bisa menebak dirimu atau tidak?”.
      Pertiwi tersenyum dan mengangguk tanda setuju. Begitulah, menjelang pukul sembilam malam Pertiwi naik ke kamarnya. Bu Abndurrakhman duduk sendirian di ruang tamu. Ketika bel pintu berbunyi, wanita itu bangkit menuju pintu. Pertiwi yang tengah berbaring-baring juga mendengar bel itu. Karena itu dia turun dari pembaringannya. Dia keluar kamar tetapi tidak langsung turun, melainkan berdiri saja di sisi tangga mendengarkan percakapan suami-isteri itu.
       Bu Abdurrakhman membuka pintu. Ketika suaminya melangkah masuk, Bu Abdurrakhman merangkulnya, mengecup pipinya, lalu menyandarkan kepalanya di dada suaminya. Suatu tingkah yang sudah jarang sekali dilakukan dalam usia tua mereka. Biasanya Bu Abdurrakhman langsung mengambil tas dari tangan Pak Abdurrakhman.
       “He apa-apaan ini? Ada apa Bu?”, tanya Pak Abdurrakhman. Dia memandang wajah isterinya. “Eh, mengapa menangis?”, sambungnya ketika melihat mata isterinya berkaca-kaca.
       Bu Abdurrakhman cepat-cepat melepaskan rangkulannya dan menyusut air matanya. Lalu mengambil tas dari tangan suaminya, dan menggandeng tangannya. Beberapa langkah Pak Abdurrakhman membiarkan kelakuan isterinya itu. Tetapi kemudian dia berhenti.
       “Tunggu”, ujarnya, “bukankah tadi sore Ibu menelpon Bapak dan menceritakan ada berita yang sangat penting?”.
       “Betul”, sahut isterinya.
       “Dari mana?”.
       “Dari kampung”.
       “Mana suratnya?”.
       Bu Abdurrakhman menggeleng. “Tidak melalui surat”, sahutnya, “dia datang sendiri”.
       “He, di mana mereka sekarang?”, tanya Pak Abdurrakhman dengan nada gembira dan wajah cerah.
       “Ada. Tetapi Ibu minta dia tidak menunjukkan dulu dirinya. Bapak harus bisa menebak, apa yang datang anakku atau anakmu?”.
       “Eh, jadi hanya sendiri?”.
       Bu Abdurrakhman mengangguk. Pak Abdurrakhman menatap isterinya beberapa lama. Pertiwi memperhatikan pasangan suami-isteri itu dengan tersenyum.
       “Mudah!”, ujar Pak Abdurrakhman tiba-tiba, “malah Bapak bisa menebak lebih dari sekedar nama”.
       “Katakan”, kata Bu Abdurrakhman.
       “Yang datang adalah anakmu, dan dia telah setuju jadi anakmu, benar tidak?”.
       “Bagaimana Bapak tahu?”.  
       “Bapak tidak lagi melihat kesuraman di wajah Ibu, dan Ibu tidak akan mencium pipi Bapak sambil menangis kalau dia belum menyatakan kesediaannya jadi anak Ibu”.
       Mendengar jawaban itu Pertiwi pun menuruni tangga menghampiri mereka.
       “Selamat malam Pak”, kata Pertiwi memberi salam.
       Pak Abdurrakhman tersenyum. “Selamat malam Nden”, sahutnya dengan menggunakan panggilan yang dipergunakan Darmawan.
       “Ah Bapak. Wiwi jadi malu”, kata Pertiwi dengan tersipu. Dia menyalami Pak Abdurrakhman.
       “Panggilan itu sangat pantas dipergunakan anak Bapak. Bapak juga sangat setuju. Dandananmu kali ini membuat Bapak agak pangling.
       “Bapak harus memuji Ibu. Karena baju ini Ibu yang menyediakannya”.
       “Bukan main”, ujar Pak Abdurrakhman, lalu kepada isterinya: “ternyata Ibu ahli mendandani anak”.
       “Itu tanda Ibu yang tahu kepentingan anaknya”, sahut Bu Abdurrakhman dan Pertiwi hampir serempak, sehingga ketiganya jadi tertawa.
       “Nah, silahkan sampaikan laporanmu kepada Bapak. Ibu akan membuat minuman dulu”.
       “Jangan Bu. Ibu duduk-duduk saja, biar Wiwi yang menyediakan. Bapak tentu air kopi dan Ibu air susu”, kata Pertiwi sambil berlalu ke dapur.
       “Hmm inilah enaknya punya anak”, gumam Pak Abdurrakhman, “dari mana dia tahu kebiasaan kita?”.
       “Ketika dibawa keliling rumah tadi dia menanyakan kesenangan makanan dan minuman kita dari pagi hingga malam”, sahut Bu Abdurrakhman.
       “Hmm, apa itu bukan sikap mengambil hati?”.
       “Apa kalau berbuat begitu Bapak punya maksud mengambil hati?”. Isterinya balik bertanya.
       “Lho, kenapa Ibu menyamakan dia dengan Bapak?”.
       “Sebab Ibu sudah menguji dia, dan ternyata wataknya persis Bapak”.
       “Sudah demikian jauhkah Ibu mengujinya?”, tanya Pak Abdurrakhman.
       “Soalnya dia sangat terburu-buru karena mengkhawatirkan pacarnya. Rencananya besok pagi akan pulang. Kini Ibu sudah yakin 100 persen, rasa sayangnya pada Ibu tidak beda dengan kepada pacarnya”.
       “Alhamdulillah. Itu berarti kasihnya kepada Ibu tidak beda dengan sayang Bapak kepada Ibu. Bapak turut bersyukur. Kalau mungkin, Bapak akan meminta dia menunda kepulangannya barang sehari”.
       “Terimakasih. Tetapi nampaknya...”. Bu Abdurrakhman tidak meneruskan kata-katanya karena Pertiwi sudah muncul dengan membawa nampan berisi dua cangkir dan sepiring roti bumbu bakar serta buah-buahan.
       “Duduklah. Bapak ingin segera mendengar laporannya”, kata Pak Abdurrakhman setelah Pertiwi meletakkan bawaannya. “Pertama, mengapa Wawan tidak turut ke sini?”.
       “Waktunya terlalu sempit Pak”, sahut Pertiwi, “berita ini baru diketahui kepastiannya tadi malam. Wawan bingung, kalau pergi ke sini takut terlambat dan taruhannya ratusan nyawa. Karena itu dia memilih berkeliling di sana untuk memberi peringatan, meski mungkin terjadi perang. Tugas itu tidak mungkin dilakukan Wiwi. Karena itu Wiwi menawarkan diri pergi ke sini”.
       “Jadi hari-H itu sudah dijatuhan?”, tanya Pak Abdurrakhman dengan terkejut, “kapan waktunya?”.
       “Secara langsung belum. Tetapi dari persiapan yang dilakukan mereka, menurut perhitungan Wawan, paling lambat tiga hari lagi dengan hari ini”.
       “Apa yang menjadi dasar perhitungan Wawan?”.
       “Penandaan rumah-rumah orang yang akan diculik dan dibunuh. Penandaan itu harus selesai paling lambat dalam tiga malam. Sekarang malam kedua. Hari-H akan dijatuhkan pada malam ketiga. Menurut perhitungan kami, pelaksanaannya akan dimulai sekitar tengah malam dan serempak di mana-mana. Sebab instruksi itu diberikan oleh orang yang datang dari pusat”.
       “Karena itu Nak Wiwi menawarkan diri datang ke sini meski harus bolos sekolah dan tanpa sepengetahuan orangtua. Bukan begitu?”.
       “Wiwi telah minta izin melalui surat”, sahut Pertiwi.
       “Apa sudah kau pikirkan kemarahan Ayahmu bila pulang nanti?”, tanya Pak Abdurrakhman.
       “Apa boleh buat Bapak. Apa artinya diri saya seorang untuk menyelamatkan sekian banyak nyawa”.
       “Anakku”. Pak Abdurrakhman mengelus rambut dan menepuk bahu Pertiwi dengan rasa haru yang dalam, dan Bu Abdurrakhman merangkulnya.
       “Yang saya khawatirkan justru keselamatan Wawan, Pak. Meski dia menyamar jadi kusir delman, tetapi dengan keluar-masuk sekian rumah orang yang ditandai, besar sekali kemungkinannya dipergoki pengawas mereka”, kata Pertiwi.
       “Ya, Bapak mengerti”, sahut Pak Abdurrakhman, “itulah resiko perjuangan. Tetapi Bapak bangga kepadanya. Kalau Bapak yang jadi dia, Bapak juga akan mengambil langkah itu jika harus memutuskan dua pilihan. Kita doakan saja memohonkan perlindungan kepada Tuhan bagi keselamatan dirinya”.
       Sejenak Pak Abdurrakhman memikirkan langkah yang harus ditempuhnya. Dia menuju ke pesawat telpon. Lama juga Pak Abdurrakhman berbicara pada telpon, dan tidak hanya pada satu nomor, tetapi beberapa kali ganti nomor. Akhirnya dia meletakkan gagang teleponnya dan kembali ke tempatnya.
       “Begini Wiwi”. Pak Abdurrakhman menjelaskan hasil pembicaraannya. “Bapak telah menghubungi Kodam Siliwangi. Malam ini juga mereka akan mengirim satuan-satuan tugas ke berbagai daerah di Jawa Barat, terutama ke daerahmu. Khusus untuk daerahmu, mereka menunggu daftar orang-orang yang telah kalian kumpulkan selama ini. Karena itu, sekarang juga Bapak harus pergi lagi. Nampaknya Bapak baru dapat pulang besok siang atau sore. Dengan telah ada data itu, daerahmu yang paling terjamin keselamatannya, karena orang-orangnya akan langsung dijaring pada saatnya. Sedang daerah-daerah lain masih harus memperhitungkan penjaringannya, dan Bapak diminta memberikan saran-saran strategi pelaksanaannya. Laporan rinci dari kalian berdua sangat diperlukan sebagai acuan dalam menelusuri jejak kegiatan mereka di berbagai daerah. Karena langkah yang ditempuh mereka sangat mungkin sama, dimulai dari penentuan tempat kegiatan dengan membunuh Juragan Sukarta dulu. Kalaupun ada perbedaan, tentu tidak terlalu jauh. Kita berharap di Jawa Barat tidak terjadi perang”.
       “Lalu, apa Wiwi sudah dapat pulang besok pagi?”, tanya si gadis.
       “Jangaan. Situasi di perjalanan mulai tidak aman. Bukan hanya dari pihak mereka, tetapi terutama dari satuan penjaring. Salah-salah justru kau yang masuk ke dalam jaring itu. Kalau sampai terjadi demikian, Bapak akan sulit melacakmu, karena jarak dari sini ke kampungmu sangat jauh”.
       “Jadi, kapan Wiwi dapat pulang?”, tanya Pertiwi dengan gelisah. Dia baru menyadari langkah yang ditempuhnya mengandung bahaya besar.
       “Tenanglah. Kau harus bersyukur karena di daerahmu tidak akan terjadi perang berkat kedatanganmu ke sini. Apa kau kira Bapak tidak khawatir akan keselamatan Wawan?”, ujar Pak Abdurrakhman. Lalu: “Karena itu Bapak sendiri yang akan mengantarmu pulang, sekalian untuk mengetahui keselamatan Wawan. Kita akan berangkat besok malam, sehingga akan tiba di sana pagi hari. Jadi masih satu hari sebelum hari-H. Bagaimana?”.
       “Tentu saja pekerjaan Wiwi hanya sepotong dan mementingkan diri kalau tidak memperhatikan keselamatan orang-orang di daerah lain. Wawan pun pasti akan menyesalkan Wiwi, dan Wiwi akan menyesali diri seumur hidup kalau memaksa Bapak mengantar Wiwi besok pagi”.
       “Bagus. Ini baru anak Bapak”, kata Pak Abdurrakhman sambil mengacungkan jempol.
       “Tidak bisa”, tukas Bu Abdurrakhman, “dia anakku”.
       Mereka jadi tertawa. Ternyata dalam situasi yang menegangkan itu Bu Abdurrakhman masih dapat mengubah suasana.
       “Nah Bapak berangkat dulu. Kita sama-sama berdoa agar perang tidak sampai terjadi”, ujar Pak Abdurrakhman sambil bangkit dan mengambil tasnya lagi.
       “Amiiin”, sahut Bu Abdurrakhman dan Pertiwi serempak. Mereka mengantar Pak Abdurrakhman sampai di pintu. Sejenak kemudian, Pak Abdurrakhman telah meninggalkan gedungnya dalam mobil Impalanya menembus larutnya malam.

--0

Tidak ada komentar:

Posting Komentar