Sabtu, 28 Mei 2011

Novel 4 Dimensi - Dimensi 1 - PRAQHARA NUSANTARA 03


Tiga
Menganyam Jaring
       BAIKLAH. Aku bersedia melatih tim puteri, tetapi dengan syarat”, sahut Darmawan kepada Marni dan kawan-kawannya.
       “Apa persyaratannya?”, tanya Marni.
       Kalian harus berjanji akan berlatih sungguh-sungguh dan disiplin pada peraturan yang ditentukan. Setiap pelanggaran terhadap peraturan itu akan mendapat hukuman. Kalau kalian tidak bersedia, aku juga tidak bersedia melatih kalian”.
       Percakapan itu terjadi di halaman sekolah ketika rombongan tim volley pria tengah bersiap-siap naik bus untuk berangkat ke Bandung mengikuti Porda Provinsi sebagai utusan dari Kabupaten.
       “Apa peraturannya?”, tanya Maryanti.
       “Diantaranya harus hadir tepat waktu, tidak boleh ngaret. Setiap yang datang terlambat akan dihukum. Setiap kesalahan dalam latihan akan mendapat hukuman”, sahut Darmawan.
       “Wah berat kalau begitu”, kata Herlina.
       “Terserah kalian. Persyaratanku tidak bisa ditawar-tawa”.
       “Masa sampai begitu kerasnya? Ini kan bukan organisasi bayaran”, timpal Farah.
       “Justru karena bukan organisasi bayaran, aku membuat disiplin itu. Kalau kalian membayarku, makin lama aku melatih kalian berarti makin banyak aku dapat duit, sehingga aku akan membiarkan kehendak kalian sendiri. Kalau mau maju, kalian akan bersungguh-sungguh. Kalau tidak bersungguh-sungguh, kalian akan merugi sendiri. Tetapi karena aku tidak dibayar, maka aku tidak mau membuang-buang waktuku yang berharga dengan percuma”.
       “Kok terbalik?”, kata Herlina.
       “Tentu saja terbalik, karena aku bukan orang profesional. Profesiku bukan pelatih volley tetapi mengurus sawah, sehingga setiap detik waktuku lebih diperlukan untuk mengurus sawah. Kalau dipakai melatih volley, maka sawahku akan terbengkalai. Semakin banyak waktu kupakai untuk melatih kalian, berarti sawahku akan semakin terbengkalai, dan itu kerugian bagiku. Karena itu kalianlah yang harus menghargai waktuku dengan memenuhi persyaratanku. Pelanggaran terhadap persyaratan itu berarti merugikan waktuku, dan harus dipacu dengan hukuman untuk menutupi target waktuku yang terbuang”.
       Mendengar penjelasan Darmawan itu, Marni dan kawan-kawannya pada mengerutkan kening. Mereka membayangkan beratnya latihan yang akan dijalani. Juga beratnya hukuman setiap kesalahan yang mereka lakukan, sehingga untuk beberapa lamanya mereka bingung mengambil keputusan.
       “Nas”, kata Marni, “apakah waktu mula-mula dilatih kalian juga harus memenuhi syarat itu?”.
       Nasrul menjawab: “Tentu saja Mar. Kalau tidak, mana mungkin Wawan mau melatih kami”.
       “Dan kalian sering mendapat marah?”.
       “Hampir setiap hari, dan tidak jarang mendapat hukuman berlipat”.
       “Maksudmu?”.
       “Aku yang sering mengalami Mar. Ketika sedang menjalani hukuman, aku melakukan kesalahan lagi, sehingga hukumanku ditambah lagi jadi berlipat”, sahut Nasrul. “Aku bukan menakut-nakuti kalian, tetapi memang begitu yang terjadi. Kukira kalian juga akan mengalaminya”.
       Apa yang dikatakan Nasrul dapat didengar oleh sebagian kawan-kawan Pertiwi, sehingga mereka termangu-mangu. Dalam keadaan demikian terdengar guru sejarah memberi komentar.
      “Kalau kalian punya kemauan ingin maju, kenapa harus cemas dan ragu-ragu? Adalah wajar, di dalam mencapai cita-cita ada konsekuensinya. Tanpa berani menghadapi resiko kalian tidak akan pernah bisa maju. Dengan adanya syarat itu kalian akan sungguh-sungguh berlatih dan berusaha menghindari hukuman. Artinya kalian akan disiplin berusaha mematuhi segala ketentuan yang ada. Tanpa ada sanksi demikian, kalian tidak akan bersungguh-sungguh. Dan setiap hukuman yang kalian terima, akan menjadi cambuk yang sangat berharga”.
       Marni dan kawan-kawannya saling pandang. Sementara itu Nasrul menyalami Darmawan, karena semua kawannya sudah naik ke dalam bus.
       “Selamat berjuang Nas. Semoga kalian berhasil. Paling tidak lolos ke perempat final, berarti kalian tim yang harus diperhitungkan lawan”, ujar Darmawan, dan dia pun menyalami Pak Guru sejarah.
       “Kami minta doa kalian semua”, kata Nasrul pula.
       Tak lama kemudian bus rombongan tim volley bergerak meninggalkan sekolah. Yang berangkat dan yang mengantar saling melambaikan tangan diiringi doa.
       “Bagaimana dengan kita?”, tanya Maryanti setelah bus itu menjauh.  
       “Apa yang dikatakan Pak Guru tadi kukira benar sekali. Tanpa berani menghadapi risiko, kita tidak akan maju-maju. Buktinya dalam pertandingan di Kabupaten tempo hari, lolos perempat final pun tidak”, sahut Marni.
       “Jadi?”, tanya Susi.
       “Aku terima syarat itu”, kata Marni.
       “Apa boleh buat, aku juga ingin maju”, ujar Susi.
       Akhirnya mereka semua menyatakan menerima syarat itu, meskipun beberapa orang diantaranya terpaksa menyetujui sebelum hatinya mantap.  
       “Baiklah, kalau kalian sudah setuju, kita akan berlatih seminggu tiga kali tiap hari Senin, Rabu, dan Sabtu, dimulai hari Senin lusa”, kata Darmawan membuat rencana. Lalu: “Latihan dimulai pukul empat tepat, tidak ada yang ngaret. Yang terlambat akan mendapat hukuman. Ada pertanyaan?”.
       “Bagaimana kalau menengok yang sakit atau yang meninggal?”, tanya Susi.
       “Telat karena ada musibah akan mendapat pertimbangan. Alasan lain tidak bisa diterima. Itu ketentuan pertama”.
       “Kok keras amat?”, komentar Herlina.
       “Tanpa disiplin yang keras, kalian tidak akan maju. Dengan datang terlambat, berarti ketinggalan dari yang lain. Dengan hukuman, kemampuan yang tertinggal itu akan tertutupi. Lebih lama telatnya, hukumannya lebih berat. Dengan cara itu kalian akan maju rampak. Nah untuk sementara penjelasan ini kuanggap cukup. Maaf, aku akan ke belakang dulu. Selamat sore”, kata Darmawan mengakhiri pembicaraannya, dan berlalu.
       “Huh lagaknya”, desis Herlina sambil mencibirkan bibirnya setelah Darmawan berlalu cukup jauh. “Aku pulang duluan”, sambungnya sambil berlalu meninggalkan kawan-kawannya. Yang lainnya pun mulai bergerak. Sebaliknya Pertiwi malah duduk di bangku di bawah pohon di halaman sekolah itu.
       “He, kanapa kau malah duduk di situ? Ayo kita pulang Wiwi”, ajak Marni.
       “Aku menunggu Wawan. Silahkan kalian duluan”, sahut Pertiwi.
       Kawan-kawan lainnya yang hampir sampai di pintu halaman pada berpaling. Susi yang bermulut usil langsung berkomentar.
       “Jangan ganggu dia Mar. Bukankah kau masih akan melampiaskan kepenasarananmu Wiwi?”, tanyanya.
       “Tidak lagi Sus. Kepenasarananku sudah impas”, sahut Pertiwi dengan mengulum senyum.
       “He? Apa dia sudah menerima cintamu?”, tanyanya lagi dengan terkejut dalam nada tak yakin.
       “Tidak salah Sus. Sekarang dia sudah jadi pacarku”.
       “Wiwi?!!”, seru kawan-kawannya hampir serempak. Kini mereka benar-benar kaget. 
       “Kenapa? Bukankah hal yang wajar kalau gadis sebayaku punya pacar?”, tanya Pertiwi kalem.
       “Tapi Wiwi, apa kau tidak menyadari siapa dirimu? Alangkah gampangnya kau menentukan pilihan. Padahal kalau kau mau sabar menunggu, mungkin besok atau lusa akan dijemput seorang pejabat, jenderal, atau pengusaha muda yang kaya. Kemungkinan itu bagimu sangat besar, karena ayahmu pejabat tertinggi di kecamatan ini”, kata Maryanti dalam nada menyesalkan.
       “Aku bukan orang yang suka bermimpi muluk-muluk Yanti.
       Percakapan mereka terhenti karena dari jauh tampak Darmawan telah kembali. Semua gadis itu pun berlalu berpencaran ke arah tujuan masing-masing. Tetapi Marni masih sempat memberi pesan.
       “Aku mendukung pendapat si Yanti, Wiwi. Sebaiknya kau mundur lagi mumpung baru mulai. Seharusnya kau tahu, permintaanku tempo hari sekedar gurauan”.
       Pertiwi tersenyum. “Tetapi harusnya kau juga tahu Mar, aku bukan orang yang suka bergurau”.
       “Aku menyesal Wiwi, sungguh”, kata Marni sambil berlalu.
       Ketika Darmawan sampai di tempat Pertiwi menunggu, Marni yang paling akhir berlalu telah menghilang diluar halaman sekolah, terhalang pagar hidup halaman. Pertiwi pun bangkit dari duduknya.
       “Ada apa dengan mereka Nden? Begitu melihat saya nampaknya mereka berserabutan seperti lebah yang diganggu sarangnya”, tanya Darmawan sementara mereka melangkah keluar halaman.
       “Bukan seperti lebah, tetapi seperti tikus-tikus dihampiri kucing. Mereka takut diterkam olehmu”.
       “Hmm kalau begitu saya jadi sangsi, apa mereka akan mampu bertahan oleh hukuman-hukuman yang akan diterapkan nanti?.
       “Harus mampu. Sejak tadi aku sudah memikirkan cara supaya mereka mau terus bertahan. Dan aku sudah menemukan cara itu”, sahut Pertiwi.
       “Apa yang akan Nden lakukan?”.
       “Nanti juga kau akan tahu. Yang jelas, aku sudah menjerat pikiran mereka pada suatu tanggapan bahwa hukuman yang mereka terima tidak terlalu berat”.
       Darmawan mengerutkan keningnya. “Saya tidak dapat menebak, jerat apa yang telah Nden jejalkan ke dalam pikiran mereka”, ujarnya.
       “Itu lebih baik. Karena kalau kau tahu, mungkin sekali caramu dalam melatih akan terpengaruh dan jadi tidak sesuai dengan sifatmu”, sahut Pertiwi, “sudahlah, soal latihan volley biar berjalan menurut kemauanmu. Kalau tidak keberatan, aku justru ingin menambah bebanmu, khusus melatihku”.
       “Maksud Nden, Nden ingin lebih cepat bisa dari mereka?”, tanya Darmawan.
       “Bukan soal volley, tetapi aku ingin belajar silat. Bukankah kau bisa silat?”.
       Darmawan berpaling cepat menatap Pertiwi dengan wajah berubah. “Siapa bilang saya bisa silat?”, tanyanya.
       “Kau sendiri?”.  
       “Saya?”.
       Pertiwi tersenyum dan sahutnya: “Secara tidak langsung. Tidak sulit menyimpulkannya. Kau pernah menangkap kuda gila untuk menyelamatkan diriku. Tanpa punya kemampuan, kau tidak akan berani melakukannya. Kau juga pernah mencoba kuda gila tanpa takut dilemparkan dari punggungnya, dan ketika terjadi, dengan mudah kau mampu menyelamatkan diri. Kemudian kau juga pernah bercerita bahwa ayah dan ibumu orang persilatan. Sementara yang paling sering kau perlihatkan adalah waktu volley. Gerakanmu terlalu lincah, dan pukulan smesmu terlalu keras. Apa masih mau menyangkal?”.
       Mendengar jawaban itu Darmawan jadi tersenyum pula. “Ternyata bukan saya, tetapi Nden sendiri yang pandai bermain silat, silat berpikir”, kata Darmawan. Namun begitu dia juga tidak menyangkal kesimpulan si gadis, “sebenarnya saya hanya mengenal dasar-dasarnya saja, karena kedua orangtua saya tidak sempat membimbing lebih jauh”, sambungnya.
       “Dasar-dasarnya itulah yang ingin kupelajari. Setidak-tidaknya aku akan dapat menolong diri bila terjadi lagi dibawa kabur kuda gila. Bukankah kini kau telah mengembangkan sendiri dasar-dasar itu semenjak orangtuamu tidak ada?”.
       Darmawan tidak menjawab pertanyaan terakhir si gadis, karena mereka telah sampai di simpang jalan, dan Pertiwi tidak mengikuti terus langkah-langkah anak muda itu. Dia berhenti di simpang jalan memperhatikan Darmawan sampai lenyap di balik tikungan.
       Tidak lama kemudian muncul delman dari arah lenyapnya Darmawan tadi. Delman itu langsung berhenti di dekat Pertiwi menunggu. Pertiwi naik ke atasnya dan duduk di samping kusir yang berbaju kampret putih, bercelana panjang batik, sarung pelekat yang bergantung pada bahu kanannya menyilang ke pinggang kiri, serta topi pandan bersisi lebar yang ditekan dalam-dalam pada kepalanya. Dengan demikian, tukang delman yang tak lain dari Darmawan itu benar-benar telah berubah penampilan. Tak seorang pun akan menyangka bahwa kusir delman itu orang yang sama yang belum lama berselang berjalan dengan gadis berdarah biru yang sangat cantik itu. Tempat duduk di belakang dimuati dua karung goni besar berisi rumput.
       ”Bagaimana mengenai permintaanku tadi Wan?”, tanya Pertiwi setelah delman bergerak lagi.
       “Nden”, sahut Darmawan, “sebenarnya saya tidak berkeberatan. Tetapi perlu Nden ketahui, latihan itu bukan pekerjaan musiman. Sekali mulai berarti Nden harus melakukannya setiap hari. Itu yang harus Nden perhitungkan. Saya tidak mau membuang waktu sia-sia. Dengan kesanggupan melatih volley tim puteri saja, waktu saya tersita terlalu banyak. Karena itu kalau keinginan Nden hanya bersifat musiman, sebaiknya tidak usah saja. Sebab sekali Nden mulai, Nden harus melakukan selamanya. Tanpa bersedia memenuhi janji itu, saya juga tidak bersedia memenuhi keinginan Nden”, kata Darmawan.
       “Hmm, kau kira keinginan itu baru muncul kemarin? Tidak Wan. Aku sudah lama ingin memiliki tata bela diri. Kalau saja aku tinggal di kota besar, tentu sudah sejak dulu belajar karate. Sayang di sini tidak ada cabang perguruannya. Karena itu jika kau bersedia melatihku, aku berjanji akan mematuhi semua ketentuannya, termasuk kewajiban seorang murid untuk membayarmu sebagai guru silat”.
       “Soal terakhir tidak perlu. Yang penting, jerih payah dan waktu saya tidak sia-sia. Artinya, Nden harus berjanji untuk berlatih dengan tekun”.
       “Baik, aku janji. Tetapi kewajiban materinya juga akan kupenuhi, dan kau tidak boleh menolaknya”.
        Darmawan tidak menyanggah lagi, sebab dia tahu akan percuma saja. Karena itu untuk beberapa lamanya percakapan mereka terhenti. Hanya suara ketoplak kaki-kaki kuda yang terdengar, sekali-kali diselingi bunyi keliningannya bila ada orang yang berjalan di depan. Namun kemudian Pertiwi bertanya.
       “Kapan aku mulai bisa latihan?”.
       “Besok pagi Nden. Nden harus bangun sekitar satu jam sebelum subuh. Saya biasa berlatih sebelum subuh di kebun belakang. Usahakan jangan sampai ada orang lain yang tahu. Dan nanti malam sebelum tidur, Nden harus mulai belajar mengatur pernafasan”.
       Pertiwi tidak menyahut, tetapi dia menganggukkan kepala. Maka Darmawan pun menjelaskan cara-cara mengatur nafas yang harus dilakukan si gadis. Pertiwi mendengarkan dengan cermat.
       Dalam pada itu delman yang mereka tumpangi telah sampai di pintu kantor kecamatan. Darmawan membelokkan delmannya ke jalan samping kantor, terus ke belakang, dan menghentikannya di depan pondok kecil yang berhadap-hadapan dengan dapur rumah besar Juragan Camat. Pondok tempat tinggal Darmawan itu bersisian dengan kandang kuda.
       Setelah Pertiwi turun dan masuk ke rumah besar lewat pintu dapur, Darmawan melepaskan kuda penarik delmannya dan menuntunnya masuk ke kandang. Selanjutnya dia melakukan tugas sehari-hari mengurus kuda-kuda peliharaan Juragan Camat, memanggul kedua karung rumput, lalu membagikannya ke setiap kandang untuk makanan kuda-kuda tersebut. Haripun berlalu sebagaimana terjadi setiap hari tanpa menghiraukan berbagai peristiwa yang berlangsung di dalamnya.
       Hari-hari selanjutnya merupkan hari yang lebih sibuk bagi Pertiwi. Dia harus bangun sebelum subuh untuk berlatih silat. Pagi sampai siang berlatih di sekolah. Sore pergi ke lapangan untuk latihan volley. Meski latihan resminya hanya 3 kali seminggu, tetapi kawan-kawan Pertiwi melakukan latihan tiap hari, karena takut membuat kesalahan.
        Di dalam latihan resmi, ternyata Pertiwi yang paling sering melakukan kesalahan, sehingga berkali-kali dia harus mendapat hukuman, bahkan hukuman ganda karena membuat kesalahan dua kali. Tetapi dengan tabah gadis itu menjalani setiap hukuman yang dikenakan kepadanya. Karena itu setiap habis latihan, dialah yang paling merasa kelelahan karena memeras tenaga paling banyak. Kawan-kawannya sering merasa kasihan terhadap gadis itu, karena ternyata Darmawan telah memperlakukan ‘pacarnya’ sama dengan gadis-gadis lain yang melakukan kesalahan. 
       “Kalau aku yang jadi pacarnya, sudah kuputuskan lagi hubungan itu”, kata Herlina suatu kali ketika Pertiwi sedang menjalani hukuman push-up 20 kali karena melakukan kesalahan ganda. “Buat apa jadi pacar kalau tidak diistimewakan samasekali?”, sambungnya.
       “Benar. Seharusnya si Wawan memberi kelonggaran-kelonggaran kepadanya. Toh kita semua sudah tahu kalau dia itu pacarnya, sehingga wajar saja kalau agak dibedakan dari yang lain”, timpal Farah.
       “Mungkin si Wawan takut disebut tidak adil. Kalau penilaian itu tumbuh di antara kita, maka kedisiplinan yang sedang dibangunnya akan berantakan. Sekarang kalian bisa bicara begitu. Sedangkan kalau dia benar-benar membedakan si Wiwi dari yang lain, mungkin kalian akan bicara lain”, kata Marni sementara matanya memperhatikan Pertiwi yang sedang melakukan push-up dengan susah payah karena kelelahan.
       “Kalau melihat kepatuhan si Wiwi, aku jadi bercuriga”, timpal Susi.
       “Curiga apa?”, tanya Maryanti cepat-cepat.
       “Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian. Apa artinya capai dahulu, dibandingkan dengan kenikmatan yang bakal diperoleh dalam pelukan sang pacar ketika berduaan. Makin berat hukuman yang diterima, makin besar kesenangan yang bakal diperolehnya nanti”, sahut Susi sambil mengedipkan sebelah matanya, sementara bibirnya tersenyum penuh arti.
       “Ah kau. Otakmu memang selalu ngeres”, desis Marni.
       Apapun tanggapan yang berlangsung di antara kawan-kawan Pertiwi, namun suatu kenyataan telah terjadi. Tanpa disadari, hukuman-hukuman berat yang lebih sering dijalani Pertiwi merupakan kunci keberhasilan pembinaan disiplin di lingkungan tim puteri. Hukuman-hukuman yang dikenakan kepada setiap pemain yang melakukan kesalahan, telah dilaksanakan dengan patuh tanpa protes. Hal itu telah mencambuk mereka untuk tidak melakukan kesalahan-kesalahan lagi, meski kesalahan-kesalahan masih selalu terjadi. Yang mengherankan, justru Pertiwilah yang selalu paling banyak melakukan kesalahan. Namun dengan demikian kemajuan tim puteri meningkat cepat. Dalam beberapa hari saja sudah tampak permainan mereka yang semakin baik.
       Tetapi sejalan dengan itu berita tentang hubungan khusus Pertiwi dan Darmawan menyebar semakin luas di sekolah mereka. Berita itu menjalar dari mulut ke mulut bahwa, gadis kembangnya kecamatan telah punya sangkutan hati, justru dengan orang yang kurang disenangi karena sikap angkuhnya. Rata-rata komentar menyayangkan pilihan gadis yang hampir dalam segala halnya paling menonjol itu.
       Mula-mula berita itu terbatas di luar pengetahuan kedua orang yang jadi pokok persoalannya. Tetapi akhirnya muncul juga ke permukaan. Tiap Pertiwi dan Darmawan berjalan bersama melewati kelompok-kelompok para pelajar, ada saja yang nyeletuk menyindirnya.
       “Duaan wae yeuh?”.
       “Indehoy ni ye”.
       “Pacaran memang asyik”.
       Pertiwi menanggapi sindiran-sindiran itu hanya dengan senyum. Bahkan sekali-sekali dia menyahut dengan gurauan pula: “Mau ikut?”, katanya.
       Tetapi bagi Darmawan justru sebaliknya. Bisik-bisik dan sindiran-sindiran itu telah membuat wajah dan telinganya jadi merah. Dia tidak mengerti kenapa Pertiwi justru mendukung sindiran tersebut. Akhirnya Darmawan tidak tahan mendiamkan terus desas-desus itu. Karena itu, setelah Pertiwi duduk di sampingnya di atas delman sehabis bubaran sekolah, Darmawan mulai membicarakannya.
       “Nden”, kata Darmawan, “nampaknya Nden tidak acuh samasekali pada desas-desus yang tidak benar itu. Malahan saya lihat Nden seperti turut mendukungnya”.
       “Desas-desus apa?”, tanya Petiwi pura-pura tidak mengerti.
       “Jangan berpura-pura juga. Saya yakin, Nden tahu apa yang saya maksudkan. Dengan membiarkan masalah itu terus berkembang, orang akan mengira sungguh-sungguh bahwa Nden adalah pacar saya”.
       “O itu”, kata Pertiwi, “biar saja apa maunya mereka. Disangkal juga percuma. Semakin kita menyangkal justru mereka akan semakin tidak percaya”.
       “Tapi Nden. Tanpa sanggahan samasekali, berarti kita membenarkan anggapan mereka”.
       “Aku tidak berkeberatan”.
       “Nden?!”. Darmawan terkejut mendengar jawaban gadis itu, sehingga tanpa disadar tangannya menarik kekang kuda, membuat kuda delmannya sedikit berjingkrak dan menghentikan larinya. Tetapi di saat lainnya Darmawan mengedutkan lagi kendali kudanya dan mulutnya berdecak-decak agar kuda itu berjalan lagi.
       “Kenapa? Apa kau keberatan?”, tanya Pertiwi setelah kuda itu berlari lagi.
       “Tentu saja Nden. Karena anggapan mereka itu tidak benar samasekali”.
       “Jadi kau benar-benar berkeberatan?”, tanya Pertiwi lagi dengan nada meninggi, “kau benar-benar berkeberatan berpacaran denganku? Kalau begitu, silahkan kau sanggah komentar mereka”.
       “Bukan saya, tetapi Nden yang harus menyanggahnya”.
       “Kenapa harus aku? Bukankah sudah kukatakan bahwa aku tidak berkeberatan?”.
       “Tetapi Nden. Bagaimana mungkin Nden menyetujui tanggapan yang tidak benar itu? Padahal Nden tahu benar, siapa diri saya dan siapa diri Nden”.
       “Siapa diriku?”, tanya si gadis.
       “Nden puteri Juragan Camat, gadis ningrat berdarah biru, gadis terpandai di sekolah, gadis tercantik yang pernah saya lihat, dan Nden adalah majikan saya”.
       “Terimakasih atas pujianmu bahwa aku gadis tercantik. Lalu siapa dirimu?”.
       “Tukang rumput, tukang cangkul sawah yang diangkat jadi kusir delman atas kebaikan Nden”, sahut Darmawan cepat-cepat.
       “Tetapi sejak lama aku mengenalmu sebagai kawan sekolahku. Kemudian ternyata kau juga anak Juragan Sukarta yang disyahkan secara hukum, anak ningrat asli. Bahkan sekarang kau guruku. Dengan demikian kedudukanmu jauh lebih tinggi dariku. Kau juga pemuda tertampan menurut penilaianku. Karena itu wajar kalau aku merasa tertarik padamu. Tentu saja aku tidak berkeberatan mendengarkan desas-desus tersebut. Sebaliknya justru aku benar-benar senang, karena dengan demikian harapan hatiku jadi terwujud. Dalam beberapa hari ini angan-anganku telah melambung tinggi. Aku berpengharapan, suatu saat nanti, bila sampai waktunya, aku ingin mendampingi hidupmu, menjadi isterimu”.
       “Nden!!!”. Kali ini Darmawan benar-benar terkejut, dan kekang kuda yang dipegangnya ditarik keras, sehingga kuda itu berjingkrak sambil meringkik. Untung Darmawan segera dapat mengatasinya. Namun untuk beberapa lamanya dia terpaku membiarkan delman berhenti. Sementara itu Pertiwi tidak mengacuhkan samasekali keterkejutan Darmawan. Sebaliknya dia justru menekannya kepada pilihan yang paling sulit diputuskan.
       ”Nah, sekarang aku mau tanya. Apa kau masih berkeberatan atas anggapan mereka?”.
       “Derajat saya yang Nden sebutkan semuanya semu. Saya hanya diangkat sebagai anak pungut oleh Juragan Sukarta tanpa diketahui orang lain. Sedangkan jabatan guru lebih tidak resmi lagi, karena Nden sendiri yang mengangkatnya, juga tidak diketahui orang lain”, sahut Darmawan. Tetapi Pertiwi tidak mengacuhkannya. Sebaliknya dia mengulangi desakannya. 
       “Aku tanya, apa kau keberatan?”.
       “Dalam soal ini bukan keberatan atau tidak keberatan Nden. Sebab masalahnya menyangkut...”.
       “Bilang saja, apa kau keberatan?”, potong Pertiwi sebelum Darmawan menyelesaikan kata-katanya.
       “Nden terlalu menganggap enteng masalah darah ketur...”.
       “Bilang kataku. Apa kau keberatan?”.
       “Tidak!”, sahut Darmawan akhirnya dengan nada tinggi karena didesak terus-menerus.
       “Tidak berkeberatan?”, tanya Pertiwi menegaskan.
       “Ya Nden”, sahutnya lagi. Tetapi kini suaranya sudah menurun jauh, bahkan hampir tak terdengar. Sementara tangannya mengedut kendali kuda, dan delman pun berjalan lagi. Dia tidak melihat Pertiwi tersenyum, karena perhatiannya tertuju ke jalan di depannya. “Nden terlalu mendesak saya, dan saya tidak dapat menipu diri sendiri, karena sesungguhnya sejak pertama kali melihat Nden, hati saya sudah sangat tertarik”, sambungnya menjelaskan isi hatinya.
       “Sejak pertama kali melihat? Jadi sejak masuk SMA ini dulu?”, tanya Pertiwi dengan hati berdebar.
       “Tidak salah Nden, dan hati saya jadi semakin mengagumi Nden ketika bersedia mengurus Ayah saya yang sebenarnya sudah tidak ada. Waktu itulah saya mengenal diri Nden seutuhnya, gadis cantik lahir-batin yang sukar dicari”.
       “Alhamdulillah. Mudah-mudahan aku tidak terus terlena oleh pujianmu”, kata Pertiwi. Lalu: “Tapi kenapa waktu itu kau bersikap sebaliknya?”.
       “Seharusnya Nden sendiri sudah tahu jawabannya. Saya menyadari siapa diri saya, dan siapa pula diri Nden. Dan kesasdaran itu masih tetap berlaku hingga sekarang. Meski saya tidak menolak anggapan kawan-kawan bahwa Nden adalah pacar saya, dan saya merasa sangat beruntung mendapat pacar yang sangat saya idam-idamkan, tetapi saya masih tetap berharap agar Nden mengurungkannya lagi”.
       “Jadi, itukah sebabnya kau menyuruh aku menyangkal desas-desus itu?”.
       “Ya Nden. Saya tahu, pujian Nden bahwa saya pemuda tertampan adalah sekedar penyejuk hati”.
       “Lalu bagaimana mungkin aku akan menyangkal desas-desus yang kutimbulkan sendiri?”.
       “Maksud Nden?”, tanya Darmawan dengan mata membelalak menatap Pertiwi..
       Pertiwi membalas tatapan dengan senyum dan menyahut: “Tentu kau masih ingat percakapan kita tempo hari mengenai caraku agar mereka dapat bertahan dari disiplin yang akan kau terapkan dalam latihan volley. Kukatakan kepada mereka bahwa kau telah menjadi pacarku. Karena aku yakin, kau akan menerapkan disiplin tanpa pilih bulu, sekalipun kepada pacarmu sendiri”.
       “Dan Nden sengaja melakukan kesalahan-kesalahan, sehingga Nden yang paling sering mendapat hukuman”, kata Darmawan menimpali.
       Kembali Pertiwi tersenyum. “Dengan hukuman-hukuman yang kuterima, secara tidak langsung kau telah memberi tambahan latihan ketahanan tubuh dalam pelajaran silat yang sedang kutuntut. Bukankah itu bagus?”.
       Darmawan jadi terlongong. Ternyata gadis di sampingnya ini pandai memanfaatkan situasi. Lebih jauh, dia bisa menangkap kesungguhan pada setiap langkah yang ditempuhnya melalui perhitungan yang cukup matang. Tapi dia belum yakin, karena dalam satu segi nampaknya gadis itu tidak berperhitungan samasekali, selain karena desakan emosinya saja. Karena itu dia merasa wajib menyadarkannya, meski hatinya sendiri sebenarnya menentangnya.
       “Nden”, katanya dalam nada berat, “saya semakin bangga punya pacar yang begini mengagumkan. Tetapi justru karena itu, saya akan jadi sangat sedih jika hidup Nden kelak menderita”.
       “Ramalanmu tanpa dasar yang kuat. Bagaimana mungkin kau meramalkan hidupku bakal menderita  jika jadi isterimu kelak. Padahal sekarang kita sedang berusaha, bersekolah untuk memperoleh tingkat hidup yang baik. Bukankah dengan surat wasiat almarhum ayah pungutmu itu, kau dapat mengharapkan masa depan lebih baik?”.
       “Soal surat wasiat tidak termasuk dalam perhitungan saya Nden. Nden sendiri tahu, masalah wasiat itu sangat rawan. Saya tidak tahu, apa saya akan berhasil memenuhi segala pesan almarhum atau tidak, melihat kenyataan sekarang ada surat wasiat lain yang justru sudah mulai dilaksanakan pembagiannya. Yang saya perhitungkan kenyataan sekarang. Kalau sampai bisa lulus SMA saja, saya sudah cukup tenteram, apalagi kalau dapat mencapai sarjana”.
       “Nah apalagi yang kau khawatirkan? Dengan ijazahmu, meski hanya SMA, kau bisa mendapat penghasilan memadai. Aku juga bisa bekerja untuk menambah penghasilan kita. Percayalah Wan, aku bukan orang yang kemaruk harta. Aku bisa menjalani hidup sederhana”.
       “Saya percaya Nden. Karena itu saya tidak mengkhawatirkannya. Yang saya khawatirkan adalah perbedaan derajat kita, darah keturunan. Nden gadis berdarah biru. Apa Nden tidak memperhitungkan perbedaan darah itu?”.
       “Aku lebih berpegang kepada ajaran Qur’an yang tidak membedakan darah atau etnis”.
       “Itu pandangan Nden sendiri. Orangtua Nden belum tentu demikian. Saya pernah mendengar cerita, betapa seorang tua tega mengusir anaknya karena bercintaan dengan orang kebanyakan, padahal orang kebanyakan itu hidupnya berkecukupan”.
       “Mudah-mudahan orangtuaku tidak. Tetapi kalaupun sampai demikian, apa boleh buat. Aku tidak akan menyesal, karena aku lebih percaya pada ajaran Qur’an”.
       “Jadi Nden akan menentang orangtua hanya karena saya?”.
       “Jangan disamakan antara menentang orangrua dengan menentang pandangan orangtua yang salah. Aku hanya akan menentang pandangannya yang salah menurut ajaran Qur’an. Kalau orangtua patuh kepada ajaran Qur’an, tentu dia tidak akan melarang aku memilih pasangan hidupku sendiri yang tidak berlandas pada darah keturunan, tetapi pada moral perilaku”.
       “Sulit untuk meyakinkan perbedaan itu. Sebab dalam kenyataannya, Nden akan danggap menentang orangtua”, kata Darmawan.
       “Apaboleh buat, asal tidak menentang ajaran Qur’an”.
       “Tetapi Qur’an pun melarang kita menentang orangtua”.
       “Hmm aku mengerti maksudmu. Aku berterimakasih atas peringatanmu. Tetapi sayang aku tidak akan pernah merubah keputusan karena satu alasan. Sekarang aku ingin tanya, apa orangtuaku bisa memaksakan kehendaknya jika aku sudah mati?”.
       Darmawan terkejut lagi. “Apa kalau orangtua Nden memaksakan kehendaknya, Nden akan bunuh diri?”, tanyanya dengan nada khawatir.
       “Bunuh diri menurut Qur’an perbuatan dosa. Bagaimana mungkin aku berani melakukannya? Aku hanya bermaksud mengatakan, tanpa pertolonganmu tempo hari, tentu saat ini aku sudah tidak ada lagi di dunia. Maka sangat wajar kalau hidupku selanjutnya kuabdikan kepada penyelamat diriku. Apalagi setelah kuketahui, penyelamat diriku itu ternyata menginginkan aku jadi pendamping hidupnya”.
       “Yang menyelamatkan Nden bukan saya tetapi Tuhan. Saya hanya titahnya yang melaksanakan kewajiban. Saya hanya lantaran”.
       “Aku tahu. Karena itu aku telah bersyukur kepada Tuhan. Sementara sebagai tanda terimakasih kepada titahnya, aku sudah memutuskan untuk mendampingi hidupnya”.
       “Tetapi Nden...”.
       “Sudahlah. Aku sudah memberikan alasan paling kuat. Alasan itu telah timbul semenjak di pinggir jurang tempo hari. Tak seorang pun lagi yang bisa merubah niatku, kecuali Tuhan menghendaki lain”.
       “Nden telah membuat saya seperti pungguk yang bisa terbang ke bulan”.
       “Jangan berendah diri terus. Qur’an mengajarkan tidak ada perbedaan di antara setiap manusia, kecuali ketaatannya kepada Tuhan”.
       Tidak ada yang bicara lagi. Tetapi dari pembicaraan itu tercermin kasih-sayang yang terlimpahkan dalam sikap saling ingin membahagiakan. Sebab dalam hati Pertiwi sendiri sebenarnya masih ada alasan lain yang tidak dikemukakannya karena khawatir pemuda itu akan jadi tersinggung. Justru alasan yang tidak dikemukakan itulah sebenarnya yang paling awal mendorong hatinya mengambil keputusan itu. Yaitu ketika melihat wujud Darmawan dalam pakaian compang-camping dan kumal tanpa alas kaki. Saat itu di hatinya tumbuh perasaan iba yang dalam. Ingin rasanya dia mengajak tinggal di rumahnya.
       Sebaliknya Darmawan. Pernyataan gadis itu demikian mendebarkan hatinya. Dia tidak mengira kalau keadaan dirinya yang begitu rudin, jauh lebih rudin dari orang kebanyakan, samasekali tidak masuk penilaian. Karena itu sosok Pertiwi yang berderajat tinggi semakin mengecilkan harkat dirinya sendiri. Sekalipun hatinya ingin sekali memiliki gadis itu, namun timbul kekhawatiran besar kalau-kalau dia tidak dapat menyenangkan hidupnya, bahkan menjerumuskan ke lembah penderitaan. Dia tidak tega menjerumuskan gadis yang dinilainya sangat baik itu ke dalam hidup menderita. Itu sebabnya berkali-kali dia memperingatkan Pertiwi agar mengurungkan lagi niatnya yang dianggapnya tidak berdasarkan pemikiran matang. Namun akhirnya dia menyimpulkan. Gadis itu telah melakukan pilihan yang jauh lebih dewasa dari usianya. Dalam keadaan demikian, dia hanya bisa berjanji dalam hatinya sendiri untuk berusaha membahagiakan gadis itu sejauh kemampuannya agar terhindar dari penderitaan.
       Dalam pada itu delman mereka telah tiba di sekolah Purwanti. Gadis bongsor yang cantik itu sudah menunggu di pintu halaman sekolah bersama beberapa kawannya. Ketika delman berhenti, Purwanti tidak langsung naik seperti biasanya, tetapi dia mendekati Pertiwi.
       “Kak Wiwi, tolong sampaikan kepada Ayah, aku tidak akan makan siang di rumah”, katanya.
       “Kau mau ke mana dulu?”, tanya Pertiwi.
       “Mau latihan kesenian. Mulai hari ini seminggu dua kali aku harus latihan, untuk persiapan acara kesenian dalam perpisahan dengan kelas tiga nanti”.
       “Benar Kak. Kami akan latihan drama dan tari”, timbrung salah seorang kawan Purwanti dari jauh untuk menguatkan.
       “Baiklah kalau begitu, nanti kusampaikan pada Ayah”, ujar Pertiwi.
       “Pukul berapa Emang harus menjemput Nden?”, tanya Darmawan yang oleh keluarga Juragan Camat dikenal sebagai Mang Darma.

--0--

       “Pukul empat saja. Karena menurut Pak Guru sejarah yang pulang lebih dulu, rombongan akan berangkat dari Bandung sekitar pukul 12 setelah upacara penutupan selesai”, sahut Pertiwi.
       “Baiklah. Kalau begitu aku akan ke rumahmu sekitar pukul tiga agar persiapan cepat selesai”, sahut Marni, “sementara kalian yang lainnya tunggu saja di sekolah”.
       “Oke kami sudah akan ada di sini sebelum pukul empat”, kata Susi mewakili kawan-kawannya.
       Percakapan itu terjadi di depan sekolah Pertiwi sehabis bubaran sekolah.
       “Kalau kau telat datang, jangan salahkan aku jika nanti kutinggalkan Mar”, kata Pertiwi yang telah duduk di atas delman memperingatkan Marni.
       “Nah kau dengar sendiri Mar. Si Wiwi sekarang sudah ketularan penyakit pacarnya. Mulai sekarang kita harus hati-hati kalau berjanji padanya”, komentar Herlina mendahului.
       “Ya Lina. Ternyata disiplin itu banyak manfaatnya. Bukti yang tidak bisa dibantah, baru seminggu saja latihan volley, kemampuan tim kita sudah meningkat jauh dibandingkan dengan latihan sekian lama tanpa disiplin”, sahut Pertiwi.
       “Asal jangan segalanya saja ketularan, agar tidak di cap sebagai gadis sombong”, balas Herlina.
       “Aku ingin jadi kapten tim Lina. Karena itu aku harus ketularan segalanya”, sahut Pertiwi sambil tersenyum.
       “Sialan”, desis Herlina. Lalu sambil menarik tangan Maryanti mulutnya masih menggerutu: “Mari Yanti, ternyata keangkuhan si Wawan sudah menular. Jangan-jangan kita semua juga akan ditularinya”.
       Pertiwi pun menyuruh kusir delmannya untuk berlalu. Tetapi dia masih sempat berpesan kepada Marni.
       “Kalau kau mau membantu, jangan telat datangnya Mar”, ujarnya, dan kepada Mang Darma: “Mari Mang”.
       “Baik Nden”, sahut Mang Darma sambil mengedut les kudanya. Kemudian kepada kawan-kawan Pertiwi dia berpamitan: “Mari Nden-Nden semua”.
       “Silahkan Mang”, sahut Marni, dan Pertiwi masih sempat mendengar pesan Marni, “Wiwi, sebaiknya pacarmu kau suruh belajar tatakrama kepada Mang Kusir, supaya akrab dengan kami”.
       “Tidak Mar. Kalau dia terlalu akrab dengan kalian, bisa-bisa aku cemburu”, sahut Pertiwi yang telah berada cukup jauh.
       “Apa benar Nden bisa cemburu?”, tanya Darmawan dengan suara perlahan.
       “Tentu. Setiap orang yang sedang bercinta, tentu akan merasa cemburu kalau kecintaannya terlalu dekat dengan perempuan lain”.
       “Tetapi Nden memilih saya bukan karena cinta”.
       “Siapa bilang?”, tanya Pertiwi, “kalau aku tidak mencintaimu, rasa terimakasih atas pertolonganmu tempo hari bisa aku lakukan dalam bentuk lain”, sambungnya.
       “Kalau begitu, saya tidak boleh akrab dengan mereka. Begitukah kemauan Nden?”.
       “Sebaliknya Wan. Aku justru akan senang sekali kalau kau bisa akrab dengan mereka. Tadi aku hanya bergurau, karena aku tahu si Marni juga hanya bergurau. Masa aku disuruh belajar tatakrama kepada Mang Darma, meski sebenarnya mereka memang ingin akrab denganmu”.
       “Tetapi dengan demikian Nden bisa cemburu. Bukankah Nden sendiri yang mengatakan tadi bahwa Nden mencintai saya, dan orang bercinta mudah cemburu?”.
       “Jangan khawatir. Aku tidak akan cemburu. Meski cintaku sangat besar, tapi aku mempercayaimu. Aku percaya, kau tidak akan mengkhianatiku. Karena itu aku tidak akan mengekangmu dengan cintaku. Aku hanya ingin meminta kau juga mempercayai diriku, bahwa aku tidak akan mengkhianati cintamu”, kata Pertiwi.
       “Saya percaya Nden, percaya penuh”, sahut Darmawan. Lalu sambungnya, “ tetapi tentang saran Nden agar saya lebih akrab dengan mereka, mungkin tidak akan pernah terpenuhi. Sebab saya kawatir, kedok saya akan terbuka”.
       “Hmm, jadi kau tetap akan bersikap angkuh?”.
       “Mungkin hanya itu yang akan saya kurangi, agar mereka tidak menyangka Nden ketularan. Sebaliknya, saya yang harus tampak ketularan oleh sifat Nden”.
       “Itu berarti, mereka akan menyangka kau kalah olehku”.
       “Saya akan senang sekali jika mereka menyangka begitu”, kata Darmawan.
       “Tidak. Aku tidak mau orang menilai dirimu kalah olehku. Aku tidak mau disebut perempuan yang ingin menguasai laki-laki. Aku bukan manusia egois. Aku ingin, semua orang menilaimu sebagai panutan berwibawa”.
       “Mengalahkan dengan cara mengubah sifat jelek jadi baik, tidak akan dinilai ingin menguasai. Karena dalam segi-segi lain, misalnya dalam latihan volley, Nden tetap harus patuh kepada peraturan saya. Dengan demikian, sementara kewibawaan saya di mata mereka tetap, mereka juga akan melihat Nden mampu memperbaiki cacat diri saya, Bukankah penilaian terhadap kita akan jadi lebih baik?”.
       Pertiwi tersenyum dan mengangguk. “Terimakasih Wan. Jawaban itulah yang kuinginkan darimu. Ternyata pacar pilihanku sesuai dengan dugaan dan harapanku. Aku benar-benar puas memperoleh pacar yang penuh pengertian dan bijaksana”, ujarnya.
       “Ah, kiranya Nden telah menjebak saya”, desah Darmawan dengan suara sedikit bergetar, sebab dia menyadari bahwa dirinya baru terlolos dari lubang jarum. Andaikata di dalam hatinya dinodai sifat jelek sedikit saja, tentu akan tercermin dalam jawabannya tadi.
       “Maafkan aku Wan. Aku hanya ingin mengenal dirimu lebih jauh”.
       “Sekarang Nden sudah tahu. Saya buakan orang yang bisa memanjakan pacar, meski pacar saya itu puteri pejabat tertinggi dan gadis tercantik di daerah ini, yang seharusnya memperoleh perlakuan itu”.
       “Itulah yang menarik hatiku. Selama ini sudah lima pemuda termasuk si Angga yang mendekatiku dan menginginkanku jadi pacarnya. Tapi semuanya bersikap seperti yang kau katakan, menyanjung, merayuku setinggi langit, bahkan belum apa-apa sudah memberi janji muluk-muluk. Mereka tidak tahu kalau aku paling tidak senang pada sikap pura-pura”.
       “Kata-kata Nden bertentangan dengan kenyataan. Bukankah selama ini saya telah berbuat pura-pura angkuh? Bukankah Nden telah mendorongkan diri sendiri sebelum Nden mengetahui keadaan saya yang sebenarnya?”.
       “Karena kepura-puraanmu kebalikan dari yang umum. Umumnya orang berpura-pura baik, sedang kau berpura-pura jelek agar dijauhi orang. Ketika kau menolak turut ke Provinsi dengan alasan ayahmu sakit, aku mulai melihat hal aneh. Keangkuhan yang asli berlandas pada ambisi besar. Demi mencapai ambisinya, tidak mungkin melepaskan setiap kesempatan yang akan membawa dirinya ke jenjang lebih tinggi, dan akan mengabaikan kasih-sayang yang dianggapnya cengeng. Sebaliknya, kau justru demikian besar menilai kasih-sayang tersebut. Bahkan ketika kudorongkan kasih-sayang itu lebih jauh dengan menyediakan diriku menggantikan dirimu mengurus ayahmu, kau tetap pada sikapmu. Waktu itulah aku yakin, sikap angkuhmu hanya pura-pura, karena kau hampir tidak punya ambisi samasekali. Aku mulai melihat, keangkuhanmu adalah untuk menutupi kenyataan dirimu yang penuh rahasia. Karena itu aku bermaksud menyelidiki kehidupanmu yang sebenarnya dengan berkunjung ke tempat tinggalmu”.
       Darmawan tidak dapat mendebat lagi. Sebab ternyata langkah-langkah yang ditempuh gadis itu dalam mencari pasangan dilandasi perhitungan yang matang hasil ketajaman penalarannya. Darmawan dan setiap orang yang mengenal Pertiwi sudah pada tahu, dia gadis pendiam dan serius. Tetapi anak muda itu baru menyadari kalau pendiamnya gadis itu, karena sebagian besar waktunya digunakan untuk mencerna setiap masalah yang ditemuinya.
       Dalam pada itu delman mereka telah sampai di kecamatan. Darmawan langsung mengendarainya sampai ke belakang. Dia tidak melepas kuda itu dari delmannya, karena delman itu masih akan dipakai untuk membawa konsumsi ke sekolah.
       Tenyata Marni datang sesuai janjinya. Dia langsung membantu Pertiwi mempersiapkan konsumsi di dapur. Kemudian mengangkutinya bersama Pertiwi ke atas delman. Darmawan tidak membantu kedua gadis itu karena harus mengurus kuda-kuda, di samping untuk menghindarkan diri dikenali oleh Marni. Baru setelah semuanya selesai, Pertiwi memanggilnya.
       Tidak ada persoalan penting yang dipercakapkan di perjalanan ke sekolah. Tetapi ketika rombongan tim volley masuk halaman sekolah dengan bus dari Kabupaten, kegembiraan pun meledak. Nasrul dan kawan-kawannya sangat terkejut melihat sambutan yang tidak disangkanya itu. Pertiwi dan kawan-kawan yang tergabung dalam tim puteri telah menyambut kedatangan mereka dengan meriah.
       “Selamat datang para pahlawanku”, kata Susi sambil menyalami rombongan tim putera yang turun dari mobil, diikuti oleh kawan-kawannya.
        ”Pahlawan apa? Pahlawan keok?”, sahut Sumarana yang merasa malu oleh sambutan tersebut.
       “Justru karena keok berarti mati dalam peperangan, maka kusebut pahlawan. Kalau masih hidup bukan pahlawan namanya tetapi patriot”, timpal Susi yang lincah berdebat.
       “Sialan kukira kau memuji”.
       “Jangan mengumpat”, timpal Pertiwi, “kami benar-benar bangga. Dengan berhasil ke semifinal, betapa pun kalian telah menunjukkan usaha maksimal. Kukira Bapak Bupati juga tidak akan kecewa”.
       “Dugaanmu tak salah Wiwi. Jangan iri kalau kuberitahu. Selain dalam bulan ini akan dikirim peralatan volley lengkap, juga iuran sekolah kami termasuk Wawan, sampai tamat sekolah nanti jadi tanggungan Kabupaten”, kata Nasrul.
       “Asyiiik”, seru kawan-kawan Pertiwi hampir serempak.
       ”Syukurlah. Itu menandakan Bapak Bupati sangat menghargai usaha kalian”, ujar Pertiwi pula. Lalu: “Tetapi kenapa Wawan terbawa? Bukankah dia tidak ikut?”.
       “Kami semua merasa bersalah kepadanya. Bukankah ayahnya benar-benar akhirnya meninggal? Meski begitu dia masih mengikhlaskan diri melatih kami sungguh-sungguh, sehingga keberhasilan kami berkat usaha Wawan juga. Ketika kami menceritakan kepada Bapak Bupati tentang alasan tidak dapat turut sertanya Wawan, beliau pun menyatakan turut berduka cita”.
       “Atas nama Wawan, aku mengucapkan terimakasih Nas. Nanti aku akan menyampaikan kepadanya. Tentu dia akan sangat gembira mendengarnya”, kata Pertiwi.
       “Tidak usah repot-repot Wiwi. Biar aku sendiri yang akan menyampaikannya. Sekalian...”.
       “Biarkan saja Nas. Dia lebih berhak menyampaikan kabar itu kepada Wawan”, potong Susi sebelum Nasrul menyelesaikan perkataannya.
       “Lebih berhak apa? Kamilah yang lebih berhak, karena kami yang mengusahakannya”, timbrung Dodi.
       “Tanpa permintaan si Wiwi, mana mau Wawan yang sedang berkabung melatih kalian. Karena itu kalian harus memberi kesempatan kepadanya, agar dia memperoleh hadiah sun dari sang pacar”, sahut Susi sambil mengedipkan matanya kepada Pertiwi, dan bibirnya menyungging senyum kecil.
       “Ah kau, kalau bergurau lihat-lihat dulu orangnya Sus”, kata Nasrul.
       “Kali ini dia tidak bergurau Nas”, timbrung Herlina, “memang si Wawan itu pacarnya kok”.
       “Apa?!!!”. Pertanyaan terkejut itu serempak keluar dari mulut Nasrul dan kawan-kawannya. Mereka semua berpaling kepada Pertiwi menyiratkan pandangan tidak percaya. Pertiwi tidak menjawab, tetapi hanya tersenyum. Sikapnya itu secara tidak langsung merupakan jawaban pasti. Sebab bila tidak benar, mereka tahu, gadis itu akan langsung menyangkalnya.
       “Ah kalau begitu akulah penyebabnya”, desah Dodi tiba-tiba.
       “Ya Dod, dan aku yang mendorongnya”, timpal Marni.
       Tentu saja pernyataan kedua orang itu menimbulkan pertanyaan dalam hati kawan-kawannya.
       “Aku hampir yakin, permulaannya tentu waktu pulang dari Kabupaten. Bukan begitu Wiwi?”, tanya Nasrul menambahkan.
       “Tak salah Nas”, sahut Marni. “Karena itu dia mengambil kesempatan kedatangan kalian sekarang untuk meresmikan pacarannya dengan makan-makan”, katanya sambil tersenyum menggoda Pertiwi.
       “Bukan begitu kawan-kawan. Memang aku menyiapkan makanan ala kadarnya. Sebagai syukuran atas keberhasilan kalian mencapai semifinal, dan peresmian mulainya tim kami berlatih sungguh-sungguh. Meski aku mengharapkan juga doa kalian agar pacaranku dengan Wawan kelak bisa terwujud dalam perkawinan”, kata Pertiwi meluruskan jawaban Marni. Namun bibirnya menyungging senyum, sehingga tawa pun meledak. Rupanya dalam sifatnya yang serius, Pertiwi bisa juga memancing humor.
       Setelah mendapat jawaban pasti dari mulut Pertiwi sendiri, Nasrul langsung mengulurkan tangannya menyalami gadis itu, diikuti semua kawan-kawan tim putera.
       “Selamat indehoy Wiwi. Tentu kami akan mendoakan agar harapanmu dikabulkan Tuhan. Bukan begitu kawan-kawan?”.
       Semua kawannya bersorak mengiyakan. Bahkan banyak yang menambah dengan kata-kata godaan terhadap gadis itu, sementara Pertiwi menyambutnya dengan sunggingan senyum.
       “Sayang Wawannya tidak ada. Kalau sekarang ada, wah...”, ujar Sumarna tanpa menyelesaikan kata-katanya.
       “Apa kau berani menggoda dia Marna?”, tanya Maman dengan nada mengejek.
       “Kau sendiri bagaimana? Apa kau berani menggoda dia?”. Sumarna balik bertanya.  
       “Aku tidak mengatakan apa-apa. Tapi kau sudah mengatakan ‘wah’, wah apa coba?”.
       “Wah sepi. Soalnya tak ada di antara kita yang akan berani menyinggungnya. Nah apa katamu?”.
       Maman terdiam, dan semua kawannya jadi tertawa.
       “Makanya jangan cepat memojokkan kawan Man. Jadinya kau sendiri yang kena batunya”, ujar Marni. Lalu: “Sekarang kalian semua kuundang mencicipi makanan ala kadarnya. Sebelum makan nanti, kuminta ajengan kita Abdullah untuk berdoa dulu, terutama untuk harapan primadona kita”.
       “Setujuuuu!”, seru semua anggota tim volley putera-puteri serempak, dan semuanya menuju kelas.
       Acara makan-makan itu berlangsung meriah. Dengan adanya acara gagasan Pertiwi itu, ikatan persaudaraan di antara mereka jadi bertambah erat.
       Hari-hari mereka selanjutanya penuh dengan kesibukan. Latihan volley pun ditingkatkan. Karena mereka harus mempertahankan keberhasilan sebagai juara Kabupaten. Sementara tim puteri pun berusaha keras untuk dapat merebut juara dalam porda Kabupaten di masa datang.
       Di antara mereka Darmawanlah yang paling sibuk. Karena selain pekerjaannya sebagai pengurus kuda dan kusir delman keluarga Juragan Camat, juga harus memberikan latihan khusus kepada Pertiwi setiap menjelang subuh. Di hari-hari kosong latihan volley, dia juga menarik delman untuk tambahan penghasilan. Tak jarang dia pulang larut malam. Untunglah dia tidak harus menyabit rumput untuk makanan kuda-kuda majikannya. Tugas itu telah diserahkan Darmawan kepada penarik delman pagi, ketika dia sedang belajar di sekolah, sebagai pengganti sewaan delmannya.
       Dalam latihan volley, ternyata tim puteri mendapat kemajuan pesat. Darmawan telah mengatur latihan itu sedemikian rupa. Pada saat-saat tertentu, dia mempertandingkan tim puteri dengan tim putera cadangan. Namun mendekati akhir tahun ajaran sekolah, kemampuan tim puteri utama telah menjajari tim putera cadangan, sehingga mampu pula melawan tim putera utama dengan gigih tanpa ketinggalan angka terlalu jauh.
       Yang paling mengherankan adalah kemampuan Pertiwi. Keinginan gadis itu jadi kapten tim ternyata dapat diwujudkannya. Pukulannya yang keras dan terarah seringkali sulit ditahan lawan. Tidak jarang pula pemain tim putera utama yang berusaha menahan pukulan smes Pertiwi, jatuh terguling guling oleh kekuatan smes gadis tersebut.
       “Gila! Bagaimana mungkin si Wiwi punya pukulan begitu kuat?”, umpat Dodi sambil menepuk-nepuk debu tanah yang melekat ditubuhnya sehabis terguling-guling karena terdorong tenaga bola pukulan smes Pertiwi.
       Sebaliknya di pihak tim puteri, tiap kali salah seorang dari mereka memberi umpan kepada Pertiwi, beberapa kawannya berseru memberi semangat.
       “Sikaaaat!”.
       Tetapi sering pula gadis itu melakukan gerakan tipuan. Ketika semua lawannya bersiap menahan pukulan smesnya, tiba-tiba saja Pertiwi menyentuh bola itu dengan pukulan ringan dan jatuh mulus di tempat kosong. Akhirnya dia benar-benar menjadi kekuatan puncak tim puteri.
       Daramawan sendiri sudah tidak turut dalam tim. Kapten tim putera utama telah dipegang Nasrul. Darmawan khusus menjadi pelatih. Semua kawan-kawannya tidak berkeberatan lagi, karena alasan yang dikemukakan Darmawan cukuap kuat. Di samping rumahnya paling jauh, juga dia harus bekerja di sawah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya setelah orangtuanya tidak ada.
       Tentang kemampuan Pertiwi yang meningkat pesat, tak seorangpun yang merasa heran. Mereka semua beranggapan wajar. Peningkatan kemampuan Pertiwi disebabkan oleh kesalahan-kesalahan yang dibuatnya, sehingga sering menerima hukuman. Tetapi dengan demikian, dia telah berlatih berlipat kali lebih berat dari kawan-kawannya. Namun ada dua hal yang tidak pernah diketahui mereka, kecuali Darmawan. Pertiwi seringkali melakukan kesalahan dengan sengaja, sebagai cara agar semangat timnya tidak mudah luntur karena menerima hukuman-hukuman keras. Kedua, latihan silat yang dilakukannya tiap menjelang subuh dan latihan pernafasan tiap menjelang tidur, telah merambah ke arah penggunaan tenga cadangan bila diperlukan, melampaui tenaga kebanyakan orang.
      Manfaat lain yang diperoleh Pertiwi dengan latihan pernafasan itu, dia mampu memusatkan pikiran lebih baik pada setiap masalah yang diperhatikan dan dipelajarinya, termasuk pelajaran sekolah. Dengan demikian, sekalipun waktu belajarnya lebih sempit, namun nilai pelajarannya tidak pernah menurun.
       Ketika saatnya kenaikan kelas tiba, Pertiwi tetap jadi bintangnya sebagaimana tahun sebelumnya. Bahkan Darmawanpun yang waktu belajarnya lebih sempit, dapat mempertahankan prestasinya sebagai peringkat kedua terbaik. Bagi kawan-kawannya, prestasi Darmawan itu tidak mengejutkan samasekali. Tetapi bagi Pertiwi yang tahu kesibukan anak muda itu tiap harinya, ditambah kegiatan khususnya di malam hari dalam upaya penyelamatan surat wasiat bekas majikannya, justru sangat mengherankan. Hal itu pun dikemukakan Pertiwi kepada Darmawan dalam perjalanan pulang. 
       “Sebenarnya semenjak kau bekerja pada Ayahku, aku selalu mengkhawatirkan pelajaranmu Wan. Apalagi sejak aku tahu kau sering keluar rumah lepas isya. Tetapi setelah melihat hasil-hasil ulanganmu, justru aku jadi heran. Kau hampir tidak punya waktu belajar atau menghafal”, kata Pertiwi sementara matanya memperhatikan angka-angka pada buku rapor kenaikan kelas Darawan yang dipegangnya.
       “Karena itu Nden berlatih keras hampir berlebihan agar secepatnya dapat membantu tugas malam saya, kan?”.
       “Hmm”. Pertiwi hanya menggumam. Dia menyimpan kembali rapor Darmawan yang dipegangnya ke dalam laci peralatan delman di depan tempat duduknya.
       “Sesungguhnya Nden tidak perlu khawatir. Sejak bekerja di sini, saya sudah memindahkan waktu belajar habis sholat subuh. Di samping lain, saya selalu memanfaatkan waktu menarik delman sementara menunggu penumpang. Dengan demikian, justru waktu belajar saya sebenarnya lebih banyak dari waktu belajar Nden sendiri. Karena saya tahu, pada saat-saat saya menarik delman, Nden sendiri tentu sedang bekerja membantu pekerjaan Juragan Isteri di rumah”.
       “Syukurlah kalau begitu. Tetapi walau bagaimana pun aku tetap ingin membantu tugas khususmu. Karena itu jangan kau larang jika aku berlatih semakin keras”.
       “Jangan terlalu memaksakan diri. Itu tidak baik bagi kesehatan Nden sendiri”, sahut Darmawan. Lalu sambungnaya: “Saya justru sedang memikirkan untuk memperbanyak waktu belajar Nden dan kawan-kawan lain, mengingat tahun depan kita akan menghadapi ujian penghabisan”.
       “Maksudmu?”, tanya Pertiwi dalam nada tertarik.
       “Saya ingin menyarankan, Nden dan kawan-kawan membentuk kelompok belajar bersama, untuk memecahkan soal-soal pelajaran yang sulit atau yang belum dimengerti”.
       “Wah gagasan yang bagus sekali Wan”, kata Pertiwi dengan mata bersinar, “nanti aku akan menghubungi kawan-kawan. Paling tidaknya tim volley kita harus bisa lulus semua”.
       “Mudah-mudahan saja Nden. Meskipun saya sendiri tidak dapat ikut, tapi saya akan memperoleh keuntungan yang sama melalui Nden”.
       “Pasti kau akan mengemukakan alasan rumahmu terlalu jauh kan?”, kata Pertiwi dengan tersenyum. Darmawan pun tersenyum pula tanpa menyahut.
       “Baiklah. Kukira kawan-kawan pun akan mengerti alasanmu itu. Tetapi selama liburan panjang ini aku akan memusatkan pada latihan silatku, agar secepatnya dapat membantu tugas khususmu”, kata Pertiwi pula.  
       “Kenapa harus tergesa-gesa Nden? Menurut pengamatan saya, kemampuan Nden telah meningkat melebihi kewajaran kebanyakan orang yang berguru dalam waktu yang sama”.

--0--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar