Jumat, 27 Mei 2011

Novel 4 Dimensi - Dimensi 1 - PRAQHARA NUSANTARA 02

Dua
Membuka Waris
       KUKIRA TIDAK BERBAHAYA”, jawab Raden Angga, pemuda berusia 18 tahun sambil menginjakkan kakinya pada sanggurdi. Dan duduk di punggung kudanya. “Kau jangan khawatir, duri cangkring itu tidak berbahaya, Paling-paling juga hanya mengejutkan sesaat. Aku hanya ingin tahu, apa dalam keadaan terkejut kakakmu yang sok dewasa itu tidak akan memekik-mekik kayak anak kecil?”, sambungnya.
       “Tetapi aku takut kuda itu menjadi gila”, kata Purwanti, gadis remaja cantik yang sedang mekar, yang juga duduk di punggung kudanya di samping kuda Raden Angga. Sementara matanya memandang kuda ketiga yang tengah merumput tidak begitu jauh di pinggir jalan desa.
       Purwanti gadis bongsor. Dalam usianya yang baru 14 tahun, tubuhnya sudah hampir menyamai kakaknya Pertiwi.Mungkin hal itu karena pembawaannya yang manja, lincah, dan hidup dalam keluarga yang berkecukupan. Sementara Pertiwi, kakaknya, yang saat itu tengah berdiri di bawah pohon rindang menikmati pemandangan pesawahan yang padinya sedang menghijau rampak, adalah gadis pendiam dan serius. Dia samasekali tidak mengetahui bahwa kedua kawan seperjalanannya telah merencanakan permainan yang berbahaya. Silir angin pedesaan yang menggelombangkan daun-daun padi itu telah melenakannya, sehingga dia hampir lupa kepada dua kawan perjalanannya.
       “Sudahlah, jangan takut. Lebih baik kau panggil kakakmu untuk melanjutkan perjalanan. Aku mulai dongkol, karena dia seperti sedang berjalan-jalan sendiri. Apa dia menganggap kita ini pekatiknya?”, sahut Raden Angga dengan nada meninggi.
       “Sttt, jangan keras-keras, nanti Kak Wiwi mendengarnya”, desis Purwanti memperingatkan.
       “Biar saja, agar dia tahu bahwa aku sebenarnya paling tidak senang berjalan-jalan dengannya, gadis sok alim. Mungkin karena merasa dirinya paling cantik di daerah ini, dia jadi angkuh. Dia tidak menyadari bahwa sebenarnya kau lebih cantik dari dirinya”, kata Raden Angga tanpa menurunkan suaranya, karena jaraknya dengan gadis itu memang cukup jauh.
       Sebenarnya hati Purwanti mulai tidak enak mendengar kakaknya dikata-katai. Tetapi ketidakenakan itu langsung sirna ketika dirinya dikatakan lebih cantik dari kakaknya. Hati Purwanti jadi mekar. Tetapi dia juga tahu sifat kakaknya yang keras dan suka blak-blakan. Karena itu dia tetap memberi peringatan kepada pemuda itu.
       “Baiklah. Aku juga sebenarnya kurang senang pada sifatnya yang suka menasihati. Tapi aku minta Kak Angga jangan keras-keras bicaranya. Sebab kalau Kak Wiwi mendengar dan sampai tersinggung, aku yang berabe. Soalnya Kak Wiwi tidak mengajak Kak Angga, tetapi aku yang diajaknya. Aku yang mengajak Kak Angga menemaniku. Jadi dalam hal ini Kak Angga tidak bisa menyalahkan Kak Wiwi”.
       “Tapi seharusnya dia mengerti bahwa selain adiknya, ada orang lain bersamanya”, sahut Raden Angga. Namun kini suaranya agak menurun mendengar alasan Purwanti yang memang benar itu. Walaupun begitu hatinya belum puas oleh sikap Pertiwi, dan itu nampak pada lanjutan kata-katanya: “Kalau dia suka menasihatimu, seharusnya dia tahu menghargai orang lain. Rupanya keangkuhannya itulah yang menyebabkan sampai sekarang belum ada pemuda yang mau bergaul rapat dengannya”.
       “Tapi bukankah tempo hari Kak Angga selalu datang ke rumah untuk bertemu dengan Kak Wiwi?”.
       “Memang. Tetapi setelah tahu sifatnya, aku jadi tidak senang. Mana ada laki-laki yang mau mendekati gadis yang suka jual mahal, mau menang sendiri, dan ingin disembah-sembah. Betapa pun cantiknya dia, mungkin sampai nenek-nenek tidak akan ada yang mau mengawininya”.
       “Itu berarti Kak Wiwi sangat cantik kan?”, kata Purwanti memancing.
       “Menurutku, kau lebih cantik Dik Wanti, dan sifatmu sangat menyenangkan. Sebentar lagi kau akan jadi gadis yang sempurna. Dan aku akan sangat cemburu jika ada pemuda lain yang mendekatimu”.
       “Maksud Kak Angga?”, tanya Purwanti dengan hati berdebar-debar.
       “Raden Angga tersenyum sambil mengedipkan matanya. Lalu katanya: “Sudahlah, sebaiknya kau panggil kakakmu. Kalau kita terlalu lama berhenti, kita baru akan sampai di Pasirpanjang tengah hari nanti. Bukankah kakakmu mengajak kita ke Pasirpanjang?”.
       Sebenarnya Purwanti ingin mendengar langsung dari mulut pemuda itu apa yang diduganya. Tetapi rupanya Raden Angga belum hendak mengatakannya. Namun demikian, hati remaja itu sudah merasa bangga, karena ternyata pemuda itu menilai dirinya lebih cantik dari kakaknya yang kecantikannya sudah jadi buah bibir. Yang lebih mendebarkan hatinya lagi, secara tidak langsung pemuda itu telah mengisyaratkan cinta kepada dirinya, sehingga Purwanti merasa dirinya sudah bukan anak kecil lagi, setidak-tidaknya menurut penilaian pemuda itu. Dengan nada ringan karena hatinya berbunga, Purwanti segera memenuhi kinginan anak muda itu.
       “Kak Wiwi, ayolah! Jangan terlalu lama di sini, nanti kita kepanasan di jalan!”, teriaknya.
       Pertiwi tidak menyahut, tetapi dia membalikkan tubuhnya dan melangkah menuju kudanya. Tanpa menaruh curiga apa-apa, dia menaiki kudanya. Tetapi begitu menduduki pelana, tiba-tiba kudanya meringkik keras sambil mengangkatkan kedua kaki depannya tinggi-tinggi. Andaikata kedua tangan Pertiwi tidak segera mendekap leher kuda, pasti tubuhnya terpelanting jatuh. Tetapi kejadiannya tidak hanya sampai di situ. Disaat lainnya kuda itu melesat kabur sambil meringkik tak henti-hentinya.
       Oleh rasa kejut yang sangat, mulut gadis itu terbungkam, kecuali kedua lengannya yang mengeratkan pelukannya di leher kuda. Tetapi begitu kesadarannya datang kembali, dia berteriak-teriak meminta tolong karena ketakutan.
       Menyaksikan peristiwa itu Raden Angga dan Purwanti terpaku di punggung kuda masing-masing dengan mata membelalak. Mereka juga demikian terkejut, sehingga untuk beberapa lamanya mematung dengan otak kosong, sementara pandangannya tidak lepas dari kuda yang kabur itu, yang meninggalkan kepulan debu di belakangnya. Dalam tempo sebentar saja, kuda yang menjadi gila itu telah kabur jauh. Yang pertama tersadar dari pukaunya adalah Purwanti ketika telinganya mendengar jeritan Pertiwi.
       “Kita kejar! Cepat!”, teriaknya sambil mengedut kendali, dan kuda yang ditungganginya segera berlari mengejar  meskipun tidak sekencang lari kuda gila itu.
       Raden Angga pun mengedut les kudanya. Sejenak kemudian dia juga telah melarikan kudanya mengikuti kuda Purwanti yang sudah berlari cukup jauh.
       Sementara itu kuda gila yang membawa Pertiwi berlari semakin kencang. Ringkiknya yang panjang dibarengi teriakan minta tolong penunggangnya, mengejutkan orang-orang yang berada di sepanjang jalan itu. Seorang tukang mangga yang terlambat menyadari kedatangan kuda gila itu, hampir saja terlanggar. Untungah dia sempat menloncat ke pinggir. Tetapi pikulannya masih terserempet, sehingga isinya berhamburan, dan orangnya sendiri sempat terputar terbawa dorongan tenaga pikulannya. Akhirnya orang itu terjatuh juga dengan pikulan dagangannya terlempar beberapa meter.
       Sebentar kemudian kuda gila itu memasuki sebuah kampung yang terdiri dari belasan rumah berjajar di sebelah-menyebelah jalan. Seorang lelaki yang tengah berjalan sambil memikul cangkul di pundaknya, terkejut melihat kemunculan kuda gila yang berlari cepat itu.  Dengan tergesa-gesa dia meloncat ke sawah sambil melemparkan cangkulnya. Ketika kuda itu lewat di bekas berdirinya, dia telah terhenyak menimpa gerumbul rumpun padi dengan hati berdesir dan wajah pucat. Dari arah kampung terdengar teriakan ribut sahut-menyahut.
       “Kuda gila! Awas kuda gila!”.
       Para penghuni kampung berserabutan berloncatan masuk ke halaman rumah di dekat tempatnya berada. Seorang ibu meraih anaknya yang belum mengerti samasekali akan bahaya itu dan matanya yang kecil hanya memandang heran kepada oranga-orang yang berlari berserabutan. Lalu ibu itu dengan tergesa-gesa berlari masuk rumah dengan menggendong anaknya.
       Sesaat saja jalan kampung itu telah lengang ketika kuda itu lewat cepat sambil memperdengarkan ringkikannya yang keras dan panjang berbaur dengan suara jeritan minta tolong penunggangnya. Hanya beberapa detik saja kampung kecil itu telah dilewati. Kemudian kuda itu berderap sepanjang jalan desa yang membujur lengang membelah pesawahan luas. Mulut kuda itu mulai berbusa.
       Wajah Pertiwi sudah seputih kapas. Keringat telah membanjiri seluruh tubuhnya. Bahkan jari-jari tangan kanan Pertiwi yang mencengkeram pergelangan tangan kirinya melingkari leher kuda juga sudah mulai licin oleh keringat. Namun gadis itu sadar betul, kalau sampai cengheramannya terlepas, tentu tubuhnya akan langsung terlempar dari tempat duduknya. Karena itu saat-saat selanjutnya dia telah memusatkan pikirannya pada pelukannya.
       Harapan untuk mendapatkan pertolongan dari orang lain sudah semakin luntur ketika kuda itu telah berderap di jalan desa yang membujur membelah pesawahan luas dan lengang. Satu-satunya harapan yang masih tersangkut di hatinya adalah kelelahan kuda itu dan berhenti dengan sendirinya. Karena itu dia tidak berteriak-teriak lagi. Tetapi apakah dirinya akan mampu bertahan sampai kuda itu lelah? Pertanyaan itu muncul dalam benaknya. Dia sudah tidak punya kepercayaan lagi akan kemampuannya, karena sejak tadi sudah merasakan kelelahan yang semakin memuncak. Sementara lari kudanya rasa-rasanya tidak pernah berkurang kecepatannya, bahkan seperti bertambah kencang juga.
       Saat itu, di puncak kedataran anak bukit Pasirpanjang tampak seorang penyabit rumput tengah tekun bekerja menyabit rumput. Di dekatnya ada pikulan rumput yang sudah hampir penuh. Sebuah topi pandan butut menutup kepalanya dan ditekan dalam-dalam untuk menghalangi teriknya sinar matahari. Baju dan celananya yang berwarna hitam sudah bercampur dengan warna lumpur tanah kekuningan dan sudah compang-camping. Ujung celananya yang hanya sampai sebatas lutut, terpotong tidak rapi. Rupanya celana itu bekas celana panjang. Karena sudah robek di bagian lututnya, sekalian saja disempurnakan robekannya jadi buntung. Kedua kakinya tidak mengenakan alas. Secara keseluruhan, penampilan penyabit rumput itu jauh lebih buruk dari pengemis yang biasa berkeliaran di kota-kota.
       Di tengah ketekunannya menyabit rumput, tiba-tiba dia mengangkat wajahnya, karena telinganya mendengar ringkik kuda sayup-sayup. Segera dia berdiri tegak, memandang ke arah datangnya suara ringkikan itu. Nun di bawah sana, di tengah bulak panjang tampak kepulan debu yang ditimbulkan kaki-kaki kuda yang berlari kencang menuju ke arahnya. Sejenak dia mempertajam penglihatannya, dan di saat lainnya dia melihat sesosok tubuh di punggung kuda itu.
       Dengan tergesa-gesa dia mengumpulkan rumput yang telah disabitnya terakhir dan ditaruh dalam beberapa tumpukan., lalu semuanya dibawa dan dimasukkan pada pikulan rumputnya yang menjadi penuh. Arit penyabitnya pun diselipkan pada pikulan. Lalu topinya juga dibuka dan diletakkan pada pikulan. Kemudian kembali dia memperhatikan kuda gila yang sudah semakin dekat ke jalan pendakian di bawahnya. Nampaknya dia sedang menimbang-nimbang apa yang harus dilakukannya.
       Ketika kuda kabur itu semakin mendekati jalan pendakian, si penyabit rumput berlari turun menyongsongnya. Rupanya dia memperhitungkan jalan mendaki itu dalam melaksanakan maksudnya. Dia tiba di ujung jalan pendakian di lurusan dangau Juragan Sukarta, hampir bersamaan dengan kuda yang tengah kabur itu. Beberapa langkah dia membarengi lari kuda sambil menyusupkan tangannya di antara leher kuda dan tubuh penunggangnya. Di saat lainnya, dengan menghentak tenaga dia menggayutkan tubuhnya pada leher kuda itu.
       Sejenak lari kuda itu menegunoleh tambahan beban yang menggayuti lehernya. Tetapi tidak sampai menghentikannya, melainkan sekedar memperlambatnya. Ternyata perhitungan tukang rumput itu sangat menentukan. Ketika mulai mencapai pendakian, kecepatan lari kuda semakin menurun. Semakin ke atas semakin melambat oleh beban yang terasa semakin berat menggayutinya. Ketika sampai di kedataran puncak Pasirpanjang, si penyabit rumput menggelusurkan kedua kakinya di atas rumput dengan memperbesar tenaga tekanan pada leher kuda tersebut.
       Dalam pada itu, ketika si penyabit rumput menggayutkan badannya di leher kuda, Pertiwi sudah sampai pada puncak kelelahannya. Kedua lengannya yang memeluk leher kuda pun sudah semakin licin oleh keringat yang membanjir. Karena itu, ketika kudanya tersentak oleh hentakan tenaga si penyabit rumput, pelukan Pertiwi pada leher kudanya terlepas tanpa dikehendakinya. Mujur tangannya yang terlepas itu jatuh ke pundak si penyabit rumput. Segera dia mengalihkan pelukannya ke leher orang itu, dan tubuhnya menggemblok di punggung si penyabit rumput.
       Beban dua tubuh yang menggayuti leher kuda, menyebabkan binatang yang sudah mulai lelah itu berlari semakin lambat. Akhirnya hewan itu berdiri diam dengan kaki gemetar. Si penyabit rumput melepaskan pelukannya dari leher kuda, dan terduduk di tanah. Tubuh Pertiwi terguling di sampingnya dengan lemas. Beberapa lamanya hewan dan kedua orang itu tidak ada yang bergerak. Baru kemudian Pertiwi berusaha bangkit meskipun tubuhnya masih sangat lemah. Tetapi kebangkitannya itu hanya untuk rasa terkejut yang kedua kalinya. 
       “Ya Alloh”, desahnya dengan mata membelalak menghadap ke depan.
       Sesungguhnyalah, apa yang dilihat gadis itu adalah pemandangan yang mengerikan, yang membuat jantungnya seolah hendak copot. Sekitar satu setengah meter dihadapannya adalah bibir jurang dalam. Itu terlihat dari pucuk pepohonan besar di bawanya yang tumbuh tidak begitu jauh dari bibir jurang.
       “Bersyukurlah kepada Tuhan, karena Dia masih menyelamatkan kita. Kalau tidak, saat ini tiga nyawa telah terkapar di dasar ju...”, kata si penyabit rumput kepada orang yang ditolongnya. Tetapi kata-katanya terputus, dan kini mata si penyabit rumput itulah yang membelalak tak berkedip memandang Pertiwi.
       Pertiwi yang merasa kata-kata si penyabit rumput tiba-tiba terputus, jadi keheranan dan berpaling. Tetapi untuk ketiga kalinya hati gadis itu terkejut meski dalam bentuk lain, dan kedua orang itu untuk beberapa lamanya saling pandang dengan mata membelalak.
       “Kau?!”.
       Hanya itu yang keluar dari mulut Pertiwi. Tetapi seruan setengah pertanyaan singkat itu seolah vonish hakim yang berhasil mengorek kesalahan dirinya. Tiba-tiba saja si penyabit rumput menunduk, dan tanpa disadarinya, dalam keadaan menunduk itu sepasang matanya menyelusuri tubuhnya, mulai dari ujung kakinya yang kotor tak beralas, lalu pada celananya yang compang-camping sebatas lutut, hingga pada bajunya yang kumal tak jauh berbeda dengan celananya. Suatu kenyataan diri yang selama ini ditutupinya. Tetapi kini tiba-tiba saja telah terbuka, justru dihadapan gadis yang sebenarnya paling dia tidak inginkan mengetahuinya. Namun hal itu sudah terjadi.
       Satu helaan nafas berat yang mengandung keluhan mendesah dari maulutnaya. Tiba-tiba saja dia bangkit berdiri melangkah menghampiri kuda dan memegang kendalinya, serta menuntunnya menjauh dari bibir jurang. Seolah ingin menghindarkan diri dari kejatuhan yang paling dalam, dari tatapan mata gadis itu yang penuh cemooh. Sesungguhnyalah Pertiwi tidak pernah melepaskan pandangannya terhadap gerak-gerik si penyabit rumput itu, tetapi bukan tatapan cemooh, melainkan dengan perasaan bersalah.
       Nampaknya si penyabit rumput tidak ingin lama-lama dekat dengan Pertiwi. Setelah berada jauh dari bibir jurang, dia langsung menaiki kuda itu untuk mencobanya. Tetapi begitu dia duduk di pelana, kuda berjingkrak kembali dengan mengangkat kedua kaki depannya tinggi-tinggi, sehingga tubuh si penyabit rumput terlempar dari tempat duduknya.
       “Wawan!”, jerit Pertiwi sambil berlari menghampiri si penyabit rumput. Namun gadis itu tertegun dari larinya sebelum sampai ke tempat orang terlempar itu. Karena ternyata si penyabit rumput yang tidak lain dari Darmawan, kawan sekolahnya, tidak terbanting jatuh, tetapi berdiri tegak dengan kaki mengangkang. Sementara kuda yang melemparkannya sempat berlari beberapa langkah, baru berdiri tenang lagi.
       Meski mendengar namanya dipanggil, Darmawan tidak berpaling kepada Pertiwi. Dia melangkah kembali menghampiri kuda yang melemparkannya. Begitu sampai, dia menepuk-nepuk pelananya, sampai tiba-tiba kuda itu meringkik lagi dengan gelisah. Darmawan menyingkapkan pelana di bagian yang membuat hewan itu gelisah. Ternyata dia menemukan penyebabnya, sebuah duri cangkring yang menancap melukainya.
       Dengan hati-hati dia mencabut duri tersebut. Untungalah tidak ada patahannya yang tertinggal. Rupanya bagian yang sangat tajamnya telah dipotes atau patah sendiri pada waktu kuda itu ditunggangi pertama kali oleh Pertiwi. Darmawan meludahi luka bekas duri cangring itu dan meratakannya dengan diusap-usap oleh jarinya.Ternyata kuda itu tidak bertingkah lagi, nampanya hewan itu tahu kalau orang bermaksud baik.  
       Sebelum dicoba lagi, Darmawan memeriksa seluruh bagian di bawah pelana kuda itu dengan teliti, sementara Pertiwi pun telah berdiri di sampingnya. Gadis itu tidak berkata sepatah pun, tetapi hanya memperhatikan saja segala gerak-gerik Darmawan. Nampaknya si gadis tahu gejolak hati Darmawan, dan dia khawatir kata-katanya justru akan memperparah keadaan.
       Setelah melihat tidak ada lagi hal yang tidak pada tempatnya pada tubuh kuda itu, sekali lagi Darmawan menungganginya. Ternyata kuda itu tidak berjungkrak seperti sebelumnya. Beberapa lamanya Darmawan masih mematung di punggung kuda. Baru kemudian dia mengedut kendalinya perlahan-lahan, dan kuda itu pun melangkah tenang. Selanjutnya Darmawan menjalankan kuda itu lebih cepat dan semakin cepat mengelilingi kedataran puncak anak bukit tersebut. Ternyata tidak terjadi hal yang mencemaskan lagi. Akhirnya Darmawan menghentikan tunggangannya di dekat Pertiwi berdiri. Dia menyerahkan kendali kuda itu kepada si gadis, dan menyerahkan duri cangkring yang telah membuat kuda itu menjadi gila.
       “Duri inilah yang menyebabkan kuda menjadi gila Nden”, ujar Darmawan, “saya kira...”.
       “Wawan? Apa kau bilang?!”, tanya Pertiwi memotong, dan sepasang matanya menatap tajam kepada pemuda itu, karena Darmawan memanggil dirinya Nden, satu sebutan yang hanya dia dengar dari para pembantu rumah dan pekerja ayahnya.
       Tetapi Darmawan tidak mengacuhkan pertanyaan si gadis. Dia meneruskan kata-katanya yang terputus barusan: “...ada orang yang sengaja menyelipkan duri cangkring di bawah pelana. Seharusnya orang itu tahu permainannya sangat membahayakan orang lain dan menyakiti sesama makhluk meski hanya seekor kuda. Karena itu untuk selanjutnya Nden harus berhati-hati. Mungkin pendapat saya salah. Tetapi saya menduga orang itu punya dendam kepada Nden”.
       Pertiwi menghela nafas, lalu sahutnya: “Terimakasih atas peringatanmu. Aku kira dugaanmu sangat beralasan. Karena itu aku pasti memperhatikan”, katanya dengan sungguh-sungguh. Namun kemudian sambungnya: “Tetapi aku minta kau jangan memanggilku dengan sebutan Nden. Kau adalah kawan sekolahku, bagaimana pun keadaanmu”.
       “Tidak apa Nden, karena memang seharusnya saya menyebut demikian. Kalau selama ini saya berlaku lain, karena Nden dan kawan-kawan tidak mengetahui siapa saya sebenarnya”.
       “Jangan merendahkan diri begitu. Sudah kukatakan, kau kawan sekolahku. Sekalipun sekarang aku tahu keadaanmu, aku tetap menganggapmu sebagai kawan. Bahkan tawaranku kemarin tetap berlaku. Karena sekarang aku tahu pasti, kenyataan dirimu inilah yang membuatmu tidak bisa turut ke Provinsi dan terpaksa menolak tawaranku”.
      
Darmawan memandang Pertiwi dengan lekat, seolah ingin meyakinkan kesungguhan kata-kata si gadis. Namun kemudian kepalanya menunduk lagi, dan dia menghela nafas berat.
       “Sungguh mulia hati Nden. Saya seperti pungguk yang bisa terbang. Tetapi Bulan itu terlalu tinggi untuk dijangkau. Maka dengan sangat menyesal saya terpaksa menolaknya”, ujar Darmawan dengan nada berat dan parau.
       Tiba-tiba saja suatu perasaan iba yang dalam melanda dada Pertiwi. Ucapan anak muda dalam nada berat dan parau itu menyentuh dasar hatinya. Kata “terpaksa” yang diucapkannya bukan basa-basi apalagi sindiran, tetapi bermakna hakiki dari rasa rendah diri yang parah. Terlihat jelas dari tatapannya tadi sebelum menundukkan kepala. Tetapi Pertiwi pura-pura tidak tahu gejolak hati si anak muda.
       “Apa boleh buat”, katanya setelah menghela nafas, “dengan demikian kau benar-benar tidak dapat turut ke Provinsi kan?”.
       “Ya Nden”.
       “Baiklah. Tetapi tentunya kau tidak berkeberatan mengajakku ke rumahmu. Aku ingin berkenalan dengan orangtuamu”.
       Darmawan tidak segera menjawab. Dia menerawangkan matanya ke jalan desa yang membujur membelah pesawahan di bawahnya. Matanya terpaku sejenak pada kepulan debu di kejauhan yang bergerak maju ke arah anak bukit itu.
       “Sebaiknya jangan sekarang Nden. Saya tidak ingin ada orang lain lagi yang mengetahui keadaan saya. Nampaknya dua penunggang kuda itu tengah mencari Nden”.
      Pertiwi berpaling ke arah pandangan Darmawan. Memang dia melihat kepulan debu, tetapi jaraknya terlalu jauh, sehingga dia belum bisa menentukan apa pendatang itu terdiri dari dua atau satu orang. Karena itu dia jadi keheranan, bagaimana mungkin anak muda itu bisa menyebutkan dengan pasti bahwa yang datang dua penunggang kuda. Namun kemudian dia teringat kepada dua kawan seperjalanannya, sehingga kemudian dia pun seolah bisa melihatnya meski samar-samar, pendatang itu memang dua penunggang kuda yang melarikan tunggangannya dengan cepat. Sebentar saja tampak makin jelas.
       “Baiklah Wan. Kapan-kapan aku datang lagi. Tetapi aku ingin tahu, di mana rumahmu, agar nanti tidak susah lagi mencarinya.”, kata Pertiwi sambil menginjakkan kakinya pada sanggurdi.
       “Tidak susah Nden. Saya tinggal di dangau di bawah bukit ini. Kalau Nden turun nanti, pasti akan melewatinya”, sahut Darmawan. Dia menepuk-nepuk leher kuda itu, sementara mulutnya bicara perlahan di dekat telinga kuda: “Jangan nakal lagi ya. Kau harus membawa majikanmu sampai tiba di rumah dengan selamat. Awas, kalau sampai majikanmu cedera sekalipun hanya lecet kulitnya, aku tidak mau kenal lagi denganmu. Nah, hati-hatilah”.
       Pertiwi tersenyum mendengarnya. “Hmm, ternyata kau pandai juga merayu Wan. Aku jadi cemburu pada kuda”, katanya. Lalu: “Aku pergi dulu Wan. Sampai jumpa lagi besok di sekolah”.
       Darmawan tidak menyahut. Pertiwi mengedut kendali kudanya, dan binatang itupun mulai bergerak. Sejenak Darmawan memperhatikan kepergian si gadis, tetapi kemudian dia melangkah menghampiri pikulan rumputnya yang tidak jauh dari tempat berdirinya barusan. Tak lama kemudian dia telah memanggul pikulan rumputnya dan meninggalkan tempat itu, tetapi justru ke arah yang berlawanan dari yang ditempuh Pertiwi, menyusuri punggung Pasirpanjang ke arah kampung di pinggang bukit.
       Dalam pada itu Pertiwi yang menuruni anak bukit tersebut telah tiba di ujung jalan pendakian. Sejenak dia menghentikan kudanya memperhatikan rumah panggung bertepas luas yang oleh Darmawan disebut dangau tempat tinggalnya. Dari bentuk rumah dan halamannya yang luas ditembok, memang dapat disimpulkan rumah itu merupakan dangau induk tempat menimbun dan menjemur padi hasil panen. Karena itu Pertiwi hampir yakin, Darmawan dan ayahnya adalah buruh dari seorang tuan tanah. Mungkin penunggu sawah merangkap berbagai pekerjaan lain, diantaranya penyabit rumput.
       Pertiwi tidak terlalu lama menghentikan kudanya, karena dua penunggang kuda yang tak lain dari Purwanti dan Raden Angga telah datang mendekat. Raden Angga dan Purwanti menarik atali kekang kudanya ketika Pertiwi telah berada dekat di hadapan mereka. Tiba-tiba saja Pertiwi teringat kepada kata-kata Darmawan tentang orang yang hendak mencelakakan dirinya melalui duri cangkring karena dendam. Dia hampir yakin, dugaan pemuda itu benar. Soalnya dia pernah menolak cinta Raden Angga, sepupu jauhnya. Karena itu timbul kemarahan di hati si gadis, membuat wajahnya semburat merah. Meski dia berusaha mengendapkan kemarahannya, namun tidak seluruhnya dapat dikendalikan. Itu terlihat dari sikapnya yang langsung menegur Raden Angga setelah mereka berhadapan, dan suaranya pun terdengar agak gemetar.
       “Apa maksudmu menyusulku Angga? Apa ingin meyakinkan keberhasilan rencanamu? Kalau itu maksudmu, sesungguhnya kau hampir berhasil Angga. Kalau saja tidak ada yang menolongku, tentu sekarang kau akan menyaksikan tubuhku terkapar di jurang sana. Kau sudah gagal Angga. Selanjutnya aku akan selalu ingat bahwa kau menginginkan kematianku”, kata Pertiwi menghujani anak muda itu dengan blak-blakan sesuai dengan sifatnya yang terbuka.
       Tentu saja Raden Angga jadi terpaku dengan wajah semburat merah. Rupanya gadis itu sudah menduga kalau kegilaan kudanya sengaja dibuat orang, dan orang itu adalah dirinya. Tetapi dia tidak yakin kalau Pertiwi benar-benar mengetahui permainannya. Karena itu dia masih berani mungkir.
       “Apa maksudmu Wiwi? Aku benar-benar tidak mengerti, dan kau langsung menuduh aku. Justru aku dan adikmu menyusul karena mengkhawatirkan dirimu”, sahut Raden Angga.
       “Hmm, kau masih berani menyangkal ya?. Kau kira aku tidak punya bukti?”, desis Pertiwi dengan nada meninggi karena geram. Lalu dia berpaling kepada adiknya: “Apa kau juga akan mengatakan tidak tahu Wanti?”.
       Wajah Purwanti berubah. Sejenak dia bingung oleh dua pilihan. Tetapi nampaknya dia belum punya keberanian untuk membohongi kakaknya. Karena itu tanpa berani memandang Raden Angga, akhirnya dia menyahut dengan nada ragu-ragu.
       “Aku juga sudah menyatakan kekhawatiran kepada Kak Angga”, katanya tidak langsung, “tetapi kak Angga bilang tidak akan terjadi apa-apa. Paling-paling kuda itu hanya terkejut sesaat”.
       “Hmm, ternyata sampai saat ini kau masih tetap adikku”, gumam Pertiwi. Lalu: “Sebenarnya aku tidak memerlukan kesaksianmu. Kalau aku bertanya juga, aku hanya ingin mengetahui hatimu. Apa kau lebih berat kepada dia atau kepadaku, kakak kandungmu?”.
       Darah Purwanti berdesir, sementara Pertiwi tiba-tiba mengayunkan tangannya ke arah Raden Angga, dan sebuah benda kecil meluncur tepat mengenai pipi Raden Angga yang berdesis, karena benda kecil itu telah melukai pipinya meski hanya segores kecil.
       “Duri cangkring itu pasti kau selipkan di bawah pelana kudaku ketika aku sedang memperhatikan pemandangan sawah. Karena ketika berangkat dari rumah, kuda itu tidak apa-apa. Apa kau masih berani menyangkal Angga?”, tanya Pertiwi sementara matanya menatap geram pada si pemuda.
       Raden Angga menunduk, lalu sahutnya hampir tidak terdengar: “Aku minta maaf Wiwi. Aku benar-benar tidak mengira kalau kuda itu akan menjadi gila. Aku hanya ingin bergurau”.
       “Sekarang kau baru mengatakan begitu, karena tidak bisa menyangkal lagi. Padahal kau pasti tahu, kuda itu akan menjadi gila. Hatimu memang beracun”.
       “Demi Tuhan Wiwi. Aku sungguh hanya bermaksud main-main”, sanggah Raden Angga.
       “Sumpahmu dengan nama Tuhan hanya untuk menutupi hatimu yang culas Angga. Bukankah kau tidak pernah mengakui adanya Tuhan selain dirimu sendiri? Kau manusia atheis Angga. Aku tahu itu. Sekarang kuberitahukan kepadamu, itulah alasan utamaku menolak permintaanmu tempo hari”.
       Pertiwi mengedut kendali kudanya. Maka binatang itupun bergerak melanjutkan langkahnya yang terhenti selama majikannya mengobrol. Raden Angga dan Purwanti masih mematung di punggung kuda masing-masing. Hanya mata mereka yang mengikuti berlalunya gadis itu. Namun kemudian Purwanti pun mengedut les kudanya, membalikan tunggangannya mengikuti Pertiwi. Tapi baru beberapa langkah, dia menghentikannya lagi oleh teguran Raden Angga.
       “Mau ke mana Dik Wanti?”.
       “Pulang”, sahut Purwanti tanpa berpaling, “bukankah kakakku juga akan pulang?”.
       “Biarkan saja dia pulang sendiri. Bukankah dia tidak mengajak kita? Itu artinya, dia tidak mau ditemani lagi oleh kita”.
       “Tetapi kita berangkat bersama-sama”, sahut Purwanti agak bimbang.
       “Kau sudah besar Dik Wanti. Kau sudah bisa menentukan langkah sendiri. Apa kau takut pada kakakmu?”.
       Purwanti menggeleng. “Tidak”, jawabnya, “Kak Wiwi tidak pernah memarahiku”.
       “Kalau begitu kita teruskan saja perjalanan ini berdua. Kita akan menyelesaikan dulu perjalanan ini sampai ke tujuan. Kita akan menikmati pemandangan dari atas Pasirpanjang sejenak, baru nanti kita pulang”, kata Raden Angga.
       Sejenak Purwanti bimbang lagi. Tetapi akhirnya dia menggeleng. “Lain kali saja Kak Angga, kalau kita berangkat hanya berdua”.
       “Ternyata kau takut pada kakakmu”, kata Raden Angga dalam nada kurang senang, “kalau tahu bakal begini jadinya, tentu aku tidak akan bercapai lelah mengantarmu”.
       “Kak Angga salah. Aku bukan takut pada Kak Wiwi, tetapi pada Ayah dan Ibu. Karena kami berangkat bersama, mereka pasti akan marah kalau tidak pulang sama-sama pula”, sahut Purwanti memberi penjelasan, karena khawatir pemuda itu akan menjauhi dirinya. Lalu sambungnya, “aku harap Kak Angga dapat mengerti kesulitanku”.
       Nampaknya pemuda itu merasa tidak mungkin merubah keputusan Purwanti, karena yang jadi alasan si gadis justru orangtuanya. Dia juga merasa khawatir kalau gadis itu sampai lepas lagi dari pengaruhnya. Karena itu akhirnya dia juga membalikkan kudanya. Namun demikian dia masih pura-pura marah.
       “Sebenarnya kau dapat memberikan alasan kepada orangtuamu kenapa sampai tidak pulang bersama kakakmu. Kalau orangtuamu masih juga memarahimu, mereka sudah berlaku tidak adil. Seharusnya mereka menyalahkan kakakmu yang meninggalkanmu di perjalanan”.
       “Aku tidak berani. Ayah pasti lebih mempercayai omongan Kak Wiwi”.
       “Hmm, ternyata kau masih belum menyadari bahwa dirimu sudah cukup dewasa Wanti. Kalau orangtuamu berbuat begitu, kau bisa menentangnya. Kalau tidak, sampai kapanpun kau akan dianggap masih kanak-kanak. Dan aku tidak mau berkawan dengan gadis yang tidak mau bersikap dewasa”.
       Hati Purwanti berdesir mendengar kata-kata terakhir Raden Angga. Gadis yang bertubuh bongsor itu masih terlalu muda untuk mengenal jebakan halus orang, dan usia pancarobanya belum mampu mengungkap maksud dibalik ucapan beracun itu. Oleh kekhawatiran dijauhi pemuda itu, maka Purwanti memberikan janji harapan kepada Raden Angga.
       “Aku mengerti Kak Angga. Lain kali pasti aku akan berusaha memperlihatkan kepada orangtuaku bahwa aku sudah dewasa. Tetapi untuk kali ini aku masih akan mengalah. Hanya untuk kali ini”, kata Purwanti.
       “Baiklah Dik Wanti. Aku mengerti alasanmu. Sudah tentu kakakmu akan menyinggung soal perbuatanku tadi. Dari sini aku bisa menilai, sesungguhnya kau benar-benar telah menjadi gadis dewasa yang mengagumkan. Bukankah kau mengalah agar ayahmu tidak terlalu menyalahkan perbuatanku?’.
       “Ya Kak Angga. Kalau Ayah menjadi terlalu marah, mungkin Kak Angga tidak diperbolehkan lagi datang ke rumah”, sahut Purwanti.
       “Terimakasih Dik Wanti. Ternyata pacar Kak Angga adalah gadis yang setia”, kata Raden Angga mendorongkan harapan lebih jauh, sehingga Purwanti benar-benar telah terjerat oleh perangkap itu. Sementara Raden Angga masih menambahkan tekanan perangkapnya, agar gadis itu melakukan apa yang dikehendakinya: “Tetapi Dik Wanti harus benar-benar berusaha meyakinkan orangtuamu bahwa Dik Wanti benar-benar bukan anak kecil lagi”.

--0--

       “Aku akan berusaha sungguh-sungguh”, sahut Pertiwi kepada kawan-kawan wanitanya ketika mereka berkumpul di lapangan volley esok harinya, “aku benar-benar akan merayunya sebagaimana permintaanmu Mar”, sambungnya kepada Marni, “sayang hari ini dia tidak masuk sekolah”.
       “Nampaknya kau jadi penasaran Wiwi”, kata Marni mendengar janji gadis yang tidak pernah bohong itu.
       “Benar Mar. Dia telah menolakku meskipun tidak secara langsung. Itu membuat hatiku benar-benar penasaran. Jadi atau tidak jadi dia ikut memperkuat tim sekolah ke Provinsi, sekarang bukan soal pokok lagi. Yang penting dia harus jadi pacarku”.
       “Ah, itu persoalannya sudah bergeser”, timbrung Herlina.
       “Memang. Soalnya sekarang harga diriku telah tersinggung. Ternyata dia benar-benar manusia angkuh. Aku bermaksud menundukkan keangkuhannya. Lihat saja nanti”, sahut Pertiwi.
       “Aku jadi menyesal minta bantuan kepadamu”, kata Marni.
       “Jangan berkecil hati dulu Mar. Aku tetap akan berusaha agar dia bisa ikut ke Provinsi. Sebab justru hal itulah yang jadi alasan utamaku menundukkan keangkuhannya. Kalaupun sampai tidak berhasil, setelah dia jadi pacaraku, untuk selanjutnya kalian bisa mengharapkan lebih banyak. Aku akan minta dia bukan hanya memperkuat tim putera, tetapi juga meningkatkan kemampuan tim puteri. Itu janjiku”.
       “Benar juga”, kata Susi, “dan aku percaya pada janjimu Wiwi”.
       “Aku setuju dengan rencanamu Wiwi. Mudah-mudahan kau bisa menundukkan keangkuhannya”, Henni ikut bicara.
       “Asal jangan sebaliknya saja. Kalau sampai itu yang terjadi, berarti di sekolah ini akan ada sepasang manusia angkuh”, kata Herlina yang paling tidak senang pada keangkuhan Darmawan.
       “Tentu tidak”, sahut Marni yang paling akrab dengan Pertiwi, “soalnya Wiwi berangkat bukan dari rasa cinta, meskipun mungkin nantinya akan timbul rasa cinta itu”.
       “Kita bertaruh”.
       “Apa taruhanmu?”, tanya Maryanti, “aku akan layani taruhanmu. Aku sependapat dengan Marni”, sambungnaya.
       “Sudahlah. Tidak baik main taruhan. Kita lihat saja nanti. Aku sendiri belum tahu, apa aku akan berhasil”, ujar Pertiwi menengahi.
       Tetapi Herlina masih menggerutu. “Aku benar-benar tidak setuju pada rencanamu Wiwi. Mungkin dia sengaja berbuat begitu agar kau jadi penasaran dan masuk ke dalam perangkapnya. Kalau sampai demikian, aku benar-benar kasihan kepadamu. Padahal kau punya bakat jadi isteri pejabat tinggi”.
       “Terimakasih Lina. Satu peringatan buatku untuk berhati-hati, agar tidak terjerat kepenasarananku”.
       “Asal kau tahu saja”, kata Herlina.
       Percakapan mereka berhenti sampai di situ. Perhatian mereka tertuju pada tim putera yang tampak melakukan latihan dipimpin oleh Nasrul. Karena mereka telah mendengar dari Nasrul bahwa Darmawan sangat mungkin tidak akan turut memperkuat tim mereka ke Provinsi, maka mereka latihan dengan sungguh-sungguh untuk menutupi kekurangan yang berat itu. Satu-satunya jalan yang dapat ditempuh adalah memperkuat kekompakan. Mereka sadar, tidak memiliki smasher yang mematikan. Karena itu Nasrul yang jadi orang kedua dalam tim mereka, berusaha keras meningkatkan kemampuannya. Mereka memperpanjang waktu latihan dari biasanya. Namun akhirnya latihan pun selesai ketika matahari telah sangat rendah di ufuk barat.
       Begitu bubaran, Dodi langsung menghampiri Marni yang tengah bicara dengan Pertiwi.
       “Bagaimana Mar. Apa sudah diusahakan?”, tanyanya setelah berada di hadapan gadis itu.
       Yang menjawab justru Pertiwi. “Aku sudah mencoba menjajaginya Dod, tetapi dia tetap menolak”.
       “Jadi artinya, dia sudah pasti tidak akan ikut?”.
       “Aku khawatir itulah yang akan terjadi. Tetapi aku masih akan berusaha meski harapannya kecil sekali. Aku masih punya jalan terakhir. Tapi aku harap kalian jangan mendekat kalau aku sedang bicara dengannya. Sebenarnya hari ini aku telah siap melakukannya. Sayang dia tidak masuk”.
       “Baik Wiwi. Tentang usahamu itu aku akan memberitahukan kepada kawan-kawan, agar mereka juga tidak mengganggu. Aku percaya, kau tentu akan berusaha sebaik-baiknya”, kata Dodi.
       “Terimakasih atas kepercayaanmu. Doakan saja usahaku dapat berhasil”.
       “Tentu Wiwi. Nah, aku pulang duluan”, kata Dodi sambil berlalu.
       “Silahkan”, sahut Pertiwi dan Marni serempak.
       Tak lama kemudian lapangan volley itu pun jadi lengang. Pertiwi dan Marni adalah orang terakhir yang meninggalkan tempat itu.
       “Apa kau tidak akan dijemput tukang delmanmu Wiwi?”, tanya Marni sementara mereka berjalan.
       “Hari ini Mang Sarju tidak narik. Kata Ayah, hari Sabtu juga dia tidak datang. Mungkin kurang enak badan atau ada keperluan lain”.
       Mereka tidak bicara lagi sampai kemudian berpisah di simpang jalan. Mereka saling melambaikan tangan sebelum berpisah. Tetapi begitu berjalan sendiri, pikiran Pertiwi langsung dipenuhi oleh masalah Darmawan. “Apa dia merasa malu karena aku mempergoki keadaan yang sebenarnya?”.
       Dugaan itu semakin kuat ketika besoknya Darmawan tidak masuk sekolah lagi. Ternyata keadaan terus berlarut sampai seminggu, Darmawan tidak masuk sekolah dan tanpa berita apa-apa. Hati Pertiwi jadi sangat rusuh. Ketika hari Sabtu Darmawan tidak masuk juga, Pertiwi memutuskan besoknya dia akan mengunjungi rumah Darmawan di Pasirpanjang.
        Nasrul dan kawan-kawannya sudah tidak punya harapan samasekali. Begitu pula kawan-kawan gadis Pertiwi. Mereka samasekali tidak tahu perjumpaan Pertiwi dengan Darmawan di Pasirpanjang, karena Pertiwi tidak memberitahukannya.
       “Habislah harapan kita”, kata Marni ketika mereka bubaran sekolah siang itu, “mungkin ayahnya benar-benar sakit keras dan tidak bisa ditinggalkan samasekali”, sambungnya.
       Pertiwi yang berjalan di sampingnya menganggukkan kepala. “Mungkin dugaanmu benar Mar. Rasanya belum pernah dia tidak masuk sampai sekian lama, dan tanpa berita pula”, sahutnya, “kupikir, aku harus datang ke rumahnya untuk mengetahui kepastiannya”.
       “Sungguh Wiwi?”, tanya Marni.
       “Ya Mar. Tapi kau jangan bilang-bilang dulu sama kawan-kawan. Kau tunggu saja hasilnya Senin lusa”.
       “Baik Wiwi. Aku turut berdoa, mudah-mudahan kau berhasil”.
       “Ya, doakan saja”, sahut Pertiwi.
       Seperti biasa, mereka berpisah di simpang jalan. Pertiwi melanjutkan langkahnya dengan pikiran semakin tidak tenteram. Bahkan kini dia merasa turut bersalah.
       “Benar-benarkah dia merasa malu karena aku telah memergoki keadaannya? Apa dia menyangka aku akan menceritakan keadaan dirinya kepada kawan-kawan? Wawan...Wawan. Ternyata kau belum mengenal diriku samasekali. Kau anggap aku ini gadis macam apa?”.
       Pertiwi benar-benar tenggelam dalam pikirannya, sehingga dia baru tersadar ketika langkahnya telah memasuki halaman kantor kecamatan. Kantor telah sepi, karena pada hari Sabtu semua karyawan hanya bekerja setengah hari. Dia menghela nafas untuk menenteramkan hatinya. Sebab dia tidak ingin masalahnya diketahui oleh orangtuanya.
       Dengan menyusuri jalan di samping kantor, dia tiba di rumahnya. Dia langsung masuk ke kamarnya untuk menyimpan tas. Baru kemudian menuju ruang makan. Ternyata ibunya dan Purwanti sudah ada di sana. Tetapi ayahnya, Raden Danudirja tidak ada di antara mereka.
       Sudah menjadi kebiasaan keluarga Juragan Camat, mereka selalu berkumpul pada waktu makan kalau tidak pergi ke sekolah. Kecuali jika telah memberi pesan lebih dulu karena ada urusan. Pertiwi mengambil tempat duduk di samping adiknya. Dia agak heran karena ayahnya belum hadir, padahal biasanya justru Juragan Danu yang hadir paling dulu menunggu kedua puterinya pulang dari sekolah.
       “Ayah ke mana Bu? Kulihat kantor sudah sepi”, kata Pertiwi.
       “Tidak ke mana-mana. Belum lama ada tamu urusan dinas. Tetapi Ayahmu mengatakan tidak akan lama. Kita tunggu saja. Sebentar lagi juga tentu urusannya selesai”, sahut ibunya.
       Sesungguhnyalah, sebentar kemudian terdengar langkah-langkah kaki yang datang dari pintu depan. Juragan Danu muncul di ruang makan dengan kening berkerut. Rupanya tamu yang datang membawa masalah yang mempengaruhi pikirannya. Dengan lesu dia duduk di kursinya. Dalam keadaan demikian, tak seorang pun yang berani mengganggu, sehingga untuk beberapa lamanya keadaan hening. Akhirnya Juragan Danu menghela nafas.
       Juragan Danu menyeduk nasi, diikuti isterinya, dan kemudian kedua anaknya. Mereka makan tanpa bicara. Tetapi setelah selesai makan, sementara tangannya mengupas pisang, Juragan Danu bertanya kepada kedua anaknya.
       “Wiwi dan kau Wanti, bukankah minggu lalu kalian pergi ke Pasirpanjang?”.
       “Ya Ayah”, sahut Pertiwi dan Purwanti hampir serempak.
       “Apa di sepanjang perjalanan kalian tidak berpapasan dengan seorang lelaki setua Ayah yang menunggang kuda?”.
       Pertiwi dan Purwanti mengerutkan keningnya. Mereka mengingat-ingat sejenak. Tetapi Pertiwi akhirnya menggeleng.
       “Waktu perginya Wiwi tidak tahu. Karena seperti telah Wiwi ceritakan, saat itu kudaku jadi liar. Tetapi di sepanjang perjalanan pulang, Wiwi rasa tidak ada penunggang kuda lain kecuali kami bertiga. Entah kalau Wanti dan Angga”, sahut Pertiwi.
       “Wanti juga tidak melihat, baik waktu perginya maupun waktu pulangnya, tidak pernah berpapasan dengan penunggang kuda lain. Ada apa rupanya Ayah?”.
       “Ada orang hilang, seorang kenalan Ayah. Namanya Sukarta, Juragan Sukarta. Dia petani terkaya di Pasirpanjang. Menurut laporan, hari Sabtu minggu lalu dia meninggalkan rumahnya dengan naik kuda, tetapi tidak pernah kembali lagi. Yang mengherankan, dia menghilang sehari setelah menghibahkan seluruh miliknya untuk perjuangan kaum buruh-tani di daerah ini. Penghibahan miliknya disaksikan fihak Kelurahan. Ini Ayah ketahui dari arsip yang dikirim kelurahan ke kecamatan tiga hari yang lalu. Ayah tahu betul, Sukarta bukan orang sefaham dengan partai yang memperjuangkan samarata-samarasa itu. Tetapi bukti dalam segel itu sukar dibantah”.
       “Mungkin dia sudah berubah pendirian Ayah”, kata Purwanti.
       “Tidak. Ayah yakin akan hal itu”, sahut Juragan Danu dengan tegas. Lalu: “Ah, sudahlah. Kau masih terlalu kecil untuk mengetahui soal politik. Kalau memang kalian tidak berpapasan dengannya, mungkin waktu itu dia mengambil jalan lain”.
       Purwanti hampir saja mendebat anggapan Ayahnya bahwa dirinya masih kecil. Sebab dia teringat kepada pesan Raden Angga. Tetapi karena memang dia belum mengerti soal politik, maka maksudnya diurungkan lagi.
       “Tentu yang dimaksud Kak Angga bukan soal politik, tetapi soal pacaran”, pikir Purwanti.
       Juragan Danu bangkit dari duduknya, diikuti oleh isterinya masuk kamar untuk beristirahat. Begitu pula Pertiwi dan Purwanti. Berbeda dari Purwanti yang begitu selesai pembicaraannya tadi, dia sudah langsung melupakannya, tetapi tanggapan Pertiwi lain.
       Gadis itu memang sudah mengerti politik. Cerita Ayahnya sangat menarik perhatian, terutama karena Juragan Karta tinggal di Pasirpanjang, dan Darmawan tinggal di dangau tuan tanah Pasirpanjang.
       “Apa Juragan Karta itu majikan Wawan? Kalau benar, sangat mungkin Wawan tidak masuk sekolah karena majikannya yang hilang, bukan karena aku telah memergoki kenyataan hidupnya. Tetapi kalau benar, mengapa aku tidak melihat hal istimewa pada sikapnya? Apa waktu itu dia belum tahu atau memang belum terjadi? Atau mungkin juga Juragan Sukarta itu bukan majikan Wawan. Tetapi kalau begitu, dangau besar itu milik siapa? Bukankah Ayah mengatakan bahwa Juragan Sukarta adalah petani terkaya di Pasirpanjang?”.
       Pikiran itu terus berkecamuk di benak Pertiwi. Gais itu telah menganyam berbagai kemungkinan hubungan antara kawan sekolahnya yang punya kehidupan unik dengan hilangnya Juragan Sukarta, sampai akhirnya diperoleh satu kesimpulan.
       “Wawan adalah sumber pokoknya. Aku harus bertemu dia”, gumamnya, dan dia memejamkan matanya di pembaringan setelah memperoleh kesimpulan itu.  
       Seperti yang terjadi setiap hari, pagi itu pun keluarga Juragan Danu berkumpul di ruang makan untuk sarapan. Pertiwi menghabiskan makanannya lebih cepat, sehingga paling dulu selesai.
       “Makanmu begitu tergesa-gesa Wiwi. Apa kau mau bepergian lagi?”, tanya Ayahnya.
       ”Ya Ayah. Wiwi sudah berjanji akan ke rumah kawan. Mungkin tidak akan sempat makan siang bersama, karena tempat tinggalnya jauh di luar kota”.
       “Jadi mau pakai kuda lagi?”.
       Pertiwi mengangguk. “Ya, Ayah”, sahutnya.
       “Kalau begitu hati-hati, jangan sampai terjadi lagi seperti minggu lalu”, kata ibunya turut bicara.
       “Tentu Ibu. Minggu lalu juga tidak akan terjadi kalau bukan disengaja orang”.
       “Sebaiknya ajak adikmu untuk teman di jalan”.
       “Maaf Ibu. Kali ini Wiwi bukan hendak jalan-jalan”, sahut Pertiwi.
       “Diajak juga aku tidak akan mau”, kata Purwanti dengan tegas. Lalu: “Wanti sudah besar untuk membuat rencana sendiri Ibu, dan hari ini Wanti juga sudah punya rencana”.
       “Wanti! Apa kau bilang?”, tanya Juragan Danu dengan nada tinggi.
       “Kenapa Ayah? Apa Ayah juga menganggap Wanti masih anak kecil?”.
       “Tidak. Kau memang sudah cukup besar. Bahkan tubuhmu jauh lebih besar dari usiamu. Tetapi kau tidak perlu berkata begitu kepada Ibumu”, sahut Juragan Danu dengan nada kurang senang.
       “Supaya Ibu tahu saja, dan juga supaya semua yang ada di rumah ini tahu bahwa Wanti bukan anak kecil lagi. Wanti tidak ingin terus-terusan diatur”.
       “Siapa yang mengaturmu? Coba kau ingat-ingat, apa yang dikatakan Ibumu tadi? Bukankah Ibumu hanya menganjurkan kepada Kakakmu agar membawamu untuk teman di jalan? Kalau kau tidak mau, kau bisa menolaknya tanpa harus menyakiti hati Ibumu. Kau seharusnya meniru kakakmu. Bukankah dia juga tadi menolak saran Ibumu? Tetapi dia menolak dengan cara yang sopan dan alasan yang kuat”.
       “Ayah dan Ibu memang selalu memenangkan Kak Wiwi, dan aku tetap akan selalu dianggap anak kecil”. Purwanti masih melawan.
       “Sebab selama ini dia memperlihatkan sikap yang dewasa, bukan sekedar ingin disebut dewasa. Bantahanmu barusan menunjukkan bahwa kau memang belum dewasa”.
       “Tidak! Aku sudah besar. Aku sudah dewasa. Aku tidak mau diatur lagi oleh siapa pun di rumah ini”, pekiknya. Dan dia bangkit sambil menghentak kaki. Lalu pergi meninggalkan ruang makan dengan bersungut-sungut.
       Sejenak Juragan Danu, isterinya, dan Pertiwi terpaku. Mereka tidak mengira gadis itu akan bersikap begitu keras. Padahal selama ini tidak melihat tanda-tandanya. Pertiwi yang tidak ingin mempengaruhi sikap orangtuanya, segera berpamitan.
       “Ayah, Ibu, Wiwi pergi dulu”, katanya.
       “Hati-hati di jalan”. Ibunya menasihati.
       “Baik Ibu”.
       “”Tunggu Wiwi”, kata Ayahnya, lalu: “Kalau sempat, tolong kau pergi ke rumah Mang Sarju. Sudah sepuluh hari dia tidak bekerja. Barangkali dia sakit. Juga Mang Gomar. Berikan sekedar uang obat. Kalau benar-benar sakit, tentu mereka perlu membeli obat”.
       Juragan Danu masuk ke kamarnya. Tak lama kemudian telah keluar lagi dan menyerahkan uang kepada Pertiwi. Pertiwi langsung ke kandang kuda. Karena sejak sebelum makan tadi sudah mengenakan pakaian khusus untuk berkuda. Tak lama kemudian dia telah berada di punggung kudanya, keluar dari halaman kantor kecamatan. Adalah kebetulan, rumah Mang Sarju dan Mang Gomar searah dengan tujuan yang akan ditempouhnya, sehingga dia tidak perlu membuang waktu lagi untuk mencapai rumah mereka.
       Ketika Pertiwi tiba di depan rumah Mang Sarju, dia tertegun sejenak. Di halaman rumah itu terdapat tumpukan bata dan kayu. Rumah lama yang kecil hampir tertutup oleh dinding batu yang baru dibuat di sebelah luarnya. Rupanya Mang Sarju sedang kuriak membuat rumah baru yang lebih besar dari tembok. Sedangkan yang lama rumah panggung. Dua orang tukang kayu sedang membuat kusen pintu dan jendela. Tukang tembok dan ladennya sedang memasang bata dinding. Seorang wanita yang sebaya dengan dirinya tengah berdiri bertolak pinggang mengawasi mereka yang sedang bekerja. Melihat ada penunggang kuda yang datang dan turun dari kudanya di pintu halaman, wanita itu menghampiri.
       “Nona mencari siapa?”, tanyanya setelah berhadapan dengan Pertiwi.
       “Saya ingin menengok Mang Sarju. Apa dia ada di rumah?”.
       “Kebetulan sedang pergi. Kalau ada apa-apa katakan saja kepadaku. Aku isterinya. Tetapi Nona ini siapa?”.
       Pertiwi tidak segera menjawab, karena heran mendengar bahwa perempuan itu isteri Mang Sarju. Padahal setahu dia, Mang Sarju belum kawin. Tetapi Pertiwi cepat menyadari dirinya.
       “Saya dari kecamatan. Saya disuruh Ayah untuk melihat keadaan Mang Sarju karena sudah sepuluh hari dia tidak masuk kerja”, sahut Pertiwi.
       “O, jadi Nona ini anak gadis Pak Camat?”, kata si perempuan dan sikapnya langsung berubah. Dengan menengadahkan dagunya dia meneruskan kata-katanya: “Katakan pada ayahmu Nona, suamiku tidak akan bekerja lagi pada ayahmu. Gaji yang diberikan ayahmu terlalu kecil. Tanpa kerja pun uang suamiku tidak akan habis dalam setahun. Belum lagi sawah kami yang cukup. Sekarang pun suamiku sedang melihat-lihat sawahnya”.
       Melihat sikap perempuan itu dan mendengar jawabannya, Pertiwi jadi termangu. Namun dia tidak ingin lebih lama lagi berada di situ. Karena sudah jelas, Mang Sarju tidak akan bekerja lagi.
       “Baiklah kalu begitu. Pesan Bibi akan saya sampaikan kepada Ayah”, sahut Pertiwi sambil naik ke punggung kudanya.
       “Ya katakan, suamiku keluar dari pekerjaannya”, kata perempuan itu sambil bertolak pinggang, “dan kau Nona, jangan panggil Bibi kepadaku. Aku bukan Bibimu, juga bukan pembantu rumahmu”.
       “Baik Bibi”, sahut Pertiwi sambil menjalankan kudanya.
       “He?! Kau masih memanggil Bibi juga?”. Perempuan itu berteriak dengan nada tersinggung.
       Pertiwi tidak meladeni lagi. Dia mempercepat lari kudanya. Sebentar saja dia telah meninggalkan perempuan yang bertolak pinggang itu cukup jauh.
       “Bukan main”, desis Pertiwi, “rupanya Mang Sarju sudah jadi OKB dan telah kawin pula”.
       Pertiwi meneruskan perjalanannya menuju rumah Mang Gomar yang tidak terlalu jauh dari rumah Mang Sarju, masih sekampung. Maka tak lama kemudian dia telah tiba di depan rumah yang ditujunya. Keadaan rumah Mang Gomar tidak ada perubahan. Tetap masih seperti yang diketahuinya terakhir. Dia melihat seorang perempuan yang masih cukup muda sedang memangku anak kecil di golodog rumah, dan Pertiwi mengenalnya sebagai isteri Mang Gomar.
       Pertiwi baru saja menghentikan kudanya dan hendak turun. Tetapi tidak jadi ketika dia mendengar perempuan itu menyambut kehadirannya dengan kata-kata senada seperti diucapkan isteri Mang Sarju.
       “Tolong sampaikan pada ayahmu Nona. Suamiku tidak akan bekerja pada ayahmu lagi. Suamiku sudah punya usaha lain yang lebih baik”, ujarnya sambil bangkit berdiri.
       “Baik Bibi. Saya akan sampaikan”, sahut Pertiwi.
       “Sekarang Nona tidak perlu menyebut Bibi lagi kepadaku. Sebab suamiku bukan pegawai ayahmu lagi”, kata si perempuan sambil masuk ke dalam rumahnya, dan menutup pintu.
       Kali ini Pertiwi tidak terkejut lagi mendapat sambutan seperti itu. Dia langsung mengedut kendali kudanya meneruskan maksud perjalanannya. Dari balik tirai jendela, isteri Mang Gomar memperhatikan kepergiannya.
       Begitu keluar dari perkampungan dan setelah berada di bentangan sawah yang luas, Pertiwi menderapkan kudanya agar tidak terlalu siang sampai di tempat yang ditujunya. Sekitar setengah jam kemudian dia telah mendekati Pasirpanjang. Karena itu dia mulai memperlambat lari kudanya. Bahkan tiba-tiba dia menarik tali kekang kuda itu ketika matanya menangkap kilatan cahaya di kaki anak bukit tempat beradanya dangau yang ditinggali Darmawan.
       Ternyata kilatan cahaya itu dipantulkan kaca mobil sedan yang diparkir di pinggir halaman dangau. Pertiwi bisa melihatnya dengan jelas, karena jalan itu memang lurus, meski masih cukup jauh.
       “Siapakah yang punya mobil itu? Apa Juragan Sukarta sudah kembali?”, tanyanya pada dirinya.
       Dengan hadirnya mobil itu, Pertiwi jadi ragu-ragu. Tetapi kemudian dia menjalankan lagi kudanya. “Hmm, sebaiknya aku melhat situasi dulu”, gumamnya. Dengan keputusan itu dia menjalankan kudanya dalam langkah-langkah biasa, seperti orang tengah berjalan-jalan menikmati pemandangan alam. Tetapi memang Pertiwi sungguh-sungguh melakukannya, karena gadis itu menyenangi hijaunya dedaunan padi yang berombak-ombak tertiup angin.
       Ketika telah cukup dekat dengan dangau itu, Pertiwi melihat beberapa orang di halaman dangau. Seorang diantaranya perempuan, empat lainnya laki-laki. Dua diantaranya berbaju hitam-hitam berbadan besar. Pertiwi menajamkan pandangannya, dan hatinya agak terkejut sewaktu samar-samar mengenali tiga di antara lelaki itu serta melihat sikap mereka.
       Seorang di antara lelaki yang dikenalnya duduk bersila sambil menundukkan kepala. Dia adalah Darmawan. Dua yang lainnya, Mang Sarju yang mengenakan baju seragam dinas pegawai negeri dan Mang Gomar yang mengenakan pakaian jawara sebagaimana yang selalu dipakainya setiap hari kalau bekerja di kebun Ayahnya dengan tugas sebagai mandor. Yang perempuan mengenakan pakaian mode terakhir dan memakai kacamata hitam. Laki-laki yang terakhir berkepala gundul mengenakan pakaian seperti Mang Gomar. Pertiwi melihat si wanita tengah menunjuk-nunjuk ke arah Darmawan, sementara tangan kirinya bertolak pingggang. Dari sikap itu Pertiwi menyimpulkan, Darmawan sedang dimarahi oleh perempuan tersebut.
       Ketika jarak ke dangau semakin dekat, Pertiwi melihat Darmawan bangkit berdiri dari duduknya. Penalarannya yang tajam dapat menyimpulkan, orang-orang di depan dangau telah melihat kehadirannya. Mereka sedang berusaha menghapus kesan yang menarik perhatian.
       Sesungguhnyalah, ketika Pertiwi sampai di pinggir halaman dangau, Darmawan tampak berusaha bersikap wajar, tentunya di bawah ancaman orang yang berdiri membelakangi jalan. Rupanya Mang Sarju dan Mang Gomar sengaja mengatur diri berdiri membelakangi jalan, sehingga yang menghadap ke jalan adalah si wanita yang ternyata berwajah cantik dan masih muda, sedikit lebih tua dari Pertiwi, usianya sekitar 20-an. Darmawan yang menghadap ke jalan memandang Pertiwi, sementara gadis itu mendengar si wanita cantik bicara agak keras.
       “Aku harap kau mau menerima saranku”, ujarnya.
       Pertiwi hanya menengok sejenak, dan dia berpaling lagi ke arah yang ditempuh kudanya ke jalan pendakian, seolah tidak punya perhatian khusus kepada mereka. Tetapi dari pandangannya sekilas tadi, dia melihat dua buah ransel di hadapan Darmawan.
       “Saran Agan saya terima”. Terdengar Darmawan menyahut sayup-sayup ketika kuda gadis itu mulai menginjak jalan mendaki.
       Pertiwi menghentikan kudanya di lapangan rumput pada kedataran anak bukit, dan membiarkan kudanya merumput. Dia sendiri berdiri di di bawah pohon di bibir tebing memperhatikan pemandangan sekelilingnya membelakangi jalan. Dari tempat itu dia tidak dapat melihat dangau, karena terhalang oleh bibir tebing.
       Tiba-tiba telinga Pertiwi mendengar bunyi mesin mobil dinyalakan. Lalu bunyi mobil itu terdengar semakin keras, dan muncul di kedataran anak bukit, menyusuri jalan di sepanjang punggungnya menuju ke perkampungan di pinggang bukit. Pertiwi dapat melihat supirnya adalah si wanita muda. Mang Sarju duduk di sampingnya, yang memalingkan wajahnya ke arah berlawanan dengan tempat Pertiwi berdiri. Di tempat duduk belakang Mang Gomar dan orang berkepala gundul. Pertiwi memperhatikan mobil itu sampai menghilang di balik pepohonan pinggir jalan, baru dia memperhatikan pemandangan lagi.
       Deru mesin mobil terdengar semakin jauh, sekali-sekali tampak di tempat terbuka, lalu lenyap lagi di balik belukar. Terakhir muncul di pinggang bukit dengan suara derum sayup-sayup, dan lenyap di balik belukar yang jadi mulut kampung. Pertiwi mengalihkan pandangannya ke jalan yang membelah pesawahan di bawahnya. Tampak Darmawan sudah berjalan cukup jauh sambil memanggul ransel. Dia mengenakan pakaian tukang rumput seperti yang dilihat Pertiwi minggu lalu dan topi pandan butut menaungi kepalanya dari terpaan sinar matahari.
       Pertiwi menghampiri kudanya dan menungganginya kembali, lalu menjalankan tunggangannya turun dari bukit itu ke arah pulang. Dari kejauhan terlihat Darmawan duduk di bawah pohon kayu, maka Pertiwi pun menghampirinya. Setelah sampai, Pertiwi hendak turun, tetapi Darmawan mencegahnya.
       “Sebaiknya Nden jangan turun dari kuda. Kalau Nden punya keperluan kepada saya, katakan saja. Tetapi sebelumnya saya mengucapkan terimakasih kepada Nden atas pengertian tadi”, katanya.
       “Apa kau diusir dari rumahmu Wan?”, tanya Pertiwi sambil tetap duduk di punggung kudanya mengikuti saran Darmawan.
       “Kenapa Nden menyimpulkan begitu?”. Darmawan balik bertanya.
       “Aku sudah melihatnya sejak dari jauh. Dari sikapmu yang duduk bersila dengan menundukkan kepala, dan dari sikap mereka yang berdiri mengelilingimu”.
       “Dugaan Nden tidak salah”.
       “Mana Ayahmu? Aku datang untuk berkunjung kepadanya”.
       “Jangan berdusta. Tentu Nden ingin menemui saya karena tidak masuk sekolah”, sahut Darmawan.
       “Tapi memang aku ingin berkenalan dengan Ayahmu”.
       Darmawan menunduk. “Maaf Nden. Sebenarnya saya hanya sendiri di dangau itu. Saya sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Itulah alasan sebenarnya mengapa saya tidak bisa ikut ke Provinsi. Saya tidak mungkin meninggalkan pekerjaan sehari-hari, apalagi sampai berhari-hari”.
       Pertiwi menatap kepala yang menunduk itu dengan iba. Kini dia mengerti sepenuhnya alasan anak muda itu. Dia jadi teringat kembali pada pertandingan di Kabupaten. Anak muda itu tiap hari selesai bertanding harus pulang. Dia dapat membayangkan, di gelapnya malam yang dingin harus menyabit rumput dan pekerjaan-pekerjaan lain yang ditugaskan majikannya, karena subuh-subuh dia harus pergi lagi. Lalu kapan waktunya istirahat selama seminggu itu? Sesuatu menyenak di kerongkongan Pertiwi.
       Dalam pada itu Darmawan bangkit dari duduknya. Sambil memanggul ranselnya dia berkata: “Saya kira semuanya sudah jelas, sehingga tidak ada yang perlu ditanyakan lagi. Saya mohon maaf, karena tidak dapat menemani Nden lebih lama”.
       “Tunggu”.
       Darmawan terhenti pada langkahnya yang pertama.
       “Sekarang kau mau pergi ke mana?”, tanya Pertiwi.
       “Saya belum tahu Nden. Untuk sementara saya hanya akan mengikuti ke mana kaki melangkah”.
       “Baiklah. Tetapi aku harap kau mau memberikan beberapa keterangan tentang hilangnya Juragan Sukarta kepadaku sebelum kau pergi. Bukankah dia itu majikanmu?”.
       Darmawan berpaling. Rupanya dia sangat tertarik mendengar gadis itu tahu hilangnya Juragan Sukarta tersebut.
       “Benar Nden, dia majikan saya. Tetapi dari mana Nden tahu tentang hilangnya beliau?”.
       “Itu tidak penting. Yang jelas ada sesuatu yang mencurigakan dari kejadian itu, karena aku punya informasi lain yang tidak pada tempatnya”, sahut Pertiwi untuk memancing perhatian Darmawan.
       Sesungguhnyalah Darmawan tampak sangat tertarik. “Nden”, katanya, “bolehkah saya mengetahui informasi yang Nden ketahui itu?”.
       “Tentu, asal kau juga bersedia memberikan keterangan yang kau ketahui. Bagaimana?”.
       Darmawan mengangguk. Lalu katanya: “Baiklah Nden. Tetapi sebaiknya kita tidak bicara di sini. Saya takut kalau-kalau mereka yang mengusir saya tadi balik lagi ke sini”.
       “Jadi di mana sebaiknya kita bicara?”.
       Darmawan tampak berpikir sejenak. “Di tempat latihan volley saja. Saya kira di sana tidak akan ada yang mengganggu”, katanya memutuskan.
       “Kalau begitu kau naik saja di belakangku. Kita sama-sama berangkat ke sana”, ajak Pertiwi.
       “Tidak usah Nden. Saya akan jalan memintas sawah ini supaya tidak menarik perhatian orang”.
       “Baiklah, kalau kau sampai pasti aku sudah menunggu di sana. Nah, sampai bertemu nanti”.
       Pertiwi mengedut kendali kudanya, sehingga kuda itu berderap sepanjang bulak menuju pulang ke rumahnya. Sedang Darmawan meloncat ke pematang menyusurinya di antara batang-batang padi. Ternyata sampai tiba di rumahnya, mobil yang dikemudikan wanita muda itu tidak menyusulnya.
       Ketika Pertiwi masuk ke rumah setelah menyimpan kudanya, Juragan danu, isterinya, dan Purwanti tengah makan siang. Pertiwi langsung mengambil tempat duduk di kursi yang biasa dipakai olehnya setiap makan bersama-sama. Tetapi gadis itu tidak membuka piringnya.
       “Kau tidak makan Wiwi?”, tanya Ibunya melihat sikap anaknya itu.
       “Maaf Ibu, Ayah. Kali ini Wiwi harus segera pergi ke lapangan volley. Wiwi akan membawa bekal roti saja. Boleh kan Bu?”.
       “Boleh saja. Tetapi kenapa kau harus pulang dulu segala?”, tanya Ibunya lagi.
       “Menyimpan kuda dulu. Sekalian melaporkan tentang Mang Sarju dan Mang Gomar”.
       “Bagaimana tentang mereka?”, tanya Ayahnya.
       “Mereka menyatakan berhenti bekerja Ayah, dan Mang Sarju sekarang sudah punya isteri. Rupanya dia tidak masuk kerja karena menikah”.
       “He kawin? Kenapa tidak mengundang kita? Kenapa pula terus berhenti bekerja?”, tanya Juragan Danu keheranan.
       “Wiwi juga kurang tahu Ayah. Tetapi kalau soal berhenti bekerja, katanya mereka sudah punya usaha lain”.
       “Tapi kenapa tidak langsung memberitahukan kepadaku?”, tanya Juragan Danu tersinggung.
       “Entahlah Ayah”.
       “Hmm, dengan demikian kita harus segera mencari penggantinya. Kalau tidak, kalian selamanya harus jalan kaki ke sekolah”.
       Tiba-tiba Pertiwi teringat sesuatu. Maka katanya: “Ayah, di jalan tadi Wiwi bertemu orang yang sedang mencari pekerjaan. Wiwi lihat dia itu mengerti tentang kuda. Kalau Ayah tidak berkebaratan, Wiwi akan cari dia. Tentu belum pergi jauh. Siapa tahu dia mau bekerja menggantikan Mang Sarju”.
       “Ah, kalau begitu kebetulan sekali. Panggil saja dia kemari. Biar nanti Ayah yang memintanya. Kalau memang bisa mengurus kuda, itu lebih bagus. Biar sekalian dia jadi pengurus kuda-kuda kita”.
       “Baik Ayah. Tetapi Wiwi tidak bisa memastikan apa dia mau jadi kusir atau tidak?”.
       “Kau tidak usah mengatakan dulu kepadanya. Biar Ayah sendiri nanti yang memberitahukannya”.
       “Kalau begitu baik Ayah”, sahut Pertiwi sambil bangkit dari duduknya. Lalu dia pergi ke kamarnya.
       Tak lama kemudian dia keluar lagi mengenakan celana panjang dan kemeja berlengan panjang.
       “Rotinya minta saja kepada Bi Isah di dapur Wiwi”, kata ibunya ketika melihat Pertiwi keluar dari kamarnya.
       “Terimakasih Ibu. Wiwi pergi dulu Ayah”.
       Juragan Danu mengangguk. Purwanti tidak bicara apa-apa. Dia hanya memperhatikan saja apa yang dilakukan kakaknya. Nampaknya Ayahnya tidak berhasil menasihati gadis itu.
       Setibanya di dapur, Pertiwi membuka lemari makanan, mengambil beberapa gepok roti berikut botol bumbunya dan dimasukkan ke dalam kantong belanja yang terbuat dari kain. Juga memasukan botol air putih. Bi Isah sedang menyiapkan makanan untuk para pekerja Juragan Danu. Melihat Pertiwi sibuk sendiri, Bi Isah agak keheranan.
       “Nampaknya Nden mau pergi lagi. Bukankah baru saja pulang?”, tanyanya.
       “Ya Bi. Aku mau pergi ke lapangan volley, ditunggu kawan sekarang juga”.
       “Jadi Nden tidak makan dulu?”.
       “Tidak Bi, aku bawa roti saja”, sahut Pertiwi, “Mari Bi, aku pergi dulu”.
       “Mangga Nden, silahkan”.
       Pertiwi berlalu melalui jalan belakang. Dia tidak mau terlambat datang di lapangan volley. Maka dia berjalan cepat langsung ke tempat yang dituju. Tetapi ketika tiba di sana, dia jadi sangat heran. Sebab ternyata Darmawan telah tiba lebih dulu. Anak muda itu sedang duduk di bawah pohon besar yang rindang tempat berteduh mereka bila berlatih volley.
       “Kau sudah sampai duluan?”, tanya Pertiwi.
       “Belum lama Nden”.
       “Tapi bagaimana mungkin? Dengan berjalan biasa, jarak dari Pasirpanjang ke sini setidak-tidaknya akan memakan waktu tiga jam”.
      “Saya jalan memintas Nden. Nden tentu pulang ke rumah dulu, selain tentu Nden tidak melarikan kuda terlalu cepat”, sahut Darmawan.
       “Tidak. Aku justru membalapkan kudaku, karena harus pulang dulu. Di rumah juga tidak lama, hanya berganti pakaian”.
       “Sudahlah Nden. Perjalanan saya tidak penting. Lebih baik kita bicara tentang majikan saya”.
       Meskipun wajahnya masih menampilkan keheranan, Pertiwi tidak memperpanjang soal itu. Dia duduk di samping Darmawan yang berpakaian seperti pengemis tanpa canggung-canggung, langsung membuka kantong bekalnya.
       “Aku tidak sempat makan di rumah. Karena itu aku membekalnya ke sini. Kita makan sama-sama”, katanya sambil mulai mengiris-iris roti bawannya.
       Darmawan cukup arif. Sebenarnya gadis itu bisa makan dulu tanpa perlu tergesa-gesa. Rupanya gadis itu sengaja membawa makanan untuknya. Tetapi dengan cara bijaksana, Pertiwi justru berbuat wajar seperti untuk dirinya sendiri yang tergesa-gesa, agar orang yang diajaknya tidak tersinggung. Sesungguhnyalah, kalau Pertiwi langsung mengatakan makanan itu sengaja dia bawa untuk kawannya, pasti Darmawan menolaknya, sekalipun saat itu memang dia sudah merasa lapar.
       Pertiwi membumbui seluruh rotinya dengan tiga macam, bumbu kacang, selai, dan coklat susu.
       “Informasi apa yang Nden ketahui tentang majikan saya itu Nden?”, tanya Darmawan sementara Pertiwi bekerja membumbui roti.
       “Aku minta kau dulu yang bercerita sementara aku menyelesaikan pekerjaan ini”, sahut Pertiwi.
       Darmawan mengangguk. “Baiklah Nden”, katanya, dan dia mulai dengan ceritanya: “Nden, Juragan Sukarta sudah tidak ada sejak seminggu yang lalu. Beliau sudah meninggal”.
       “He?!”. Pertiwi terkejut sehingga tangannya yang sedang bekerja terhenti.
       “Beliau dianiaya orang”, sambung Darmawan menjelaskan lebih lanjut, “saya menemukan mayat beliau di balik rumpun semak di belakang dangau, pagi-pagi sebelum Nden datang minggu lalu. Pagi itu saya curiga, karena pada palupuh tepas dangau ada percikan darah. Saya mencari sekeliling dangau. Saya menemukannya karena mencium bau sengit. Kemudian mayat itu saya kuburkan diam-diam di hutan agak jauh di belakang dangau”.
       “Inna lillahi wa inna ilaihi roojiuun”, gumam Pertiwi,: “karena itu kau diusir dari rumahmu”.
       Darmawan menggeleng. “Tidak. Bukan karena mayat itu. Saya telah menyeret tubuh Agan Karta sampai hutan untuk mengaburkan dugaan seolah diseret binatang buas. Ternyata para pembunuh itu menduga demikian. Karena memang di dalam hutan itu masih ada harimau meskipun sudah langka”.
       “Kau sudah tahu pembunuhnya?”.
       “Ya Nden. Pembunuhnya adalah mereka yang mengusir saya tadi. Mulanya mereka mencurigai saya telah mengetahui perbuatan mereka, meski tidak mereka katakan. Tetapi setelah dua jawara itu pergi cukup lama, mereka berempat berbisik-bisik merundingkan hasil pemeriksaanmya, dan kecurigaan terhadap saya hilang di wajah mereka”.
       “Kalau begitu kau bisa menyeret mereka ke pengadilan”, kata Pertiwi.
       “Saya tidak punya bukti dan saksi Nden. Mereka bisa membalikkan tuduhan kepada saya”.
       Pertiwi mengerutkan keningnaya, tetapi kemudian dia mengangguk-anggukkan kepala. “Memang berat dan sulit”, katanya.
       “Karena itulah, ketika Nden mengatakan mengetahui informasi lain yang menimbulkan kecurigaan di hati Nden, saya tertarik. Siapa tahu dari informasi itu saya bisa menemukan jalan untuk membongkar kejahatan mereka”.
       Pertiwi sudah selesai dengan pekerjaannya, dan mengabil setangkup roti. “Kau ambil sendiri. Aku tidak tahu bumbu mana yang kau sukai”, katanya dan mulai memakan roti yang diambilnya. Lalu: “Sekarang aku yang bercerita”.
       Darmawan pun mengambil setangkup tanpa memilih, lalu memakannya. Sementara Pertiwi mulai dengan informasinya.
      “Aku mendengar hilangnya Juragan Sukarta kemarin dari Ayah. Ayah juga merasa curiga, karena Juragan Sukarta menghilang setelah beliau membuat segel penyerahan seluruh harta miliknya kepada partai yang memperjuangkan buruh-tani yang disebut samarata-samarasa. Salinan segel itu dilaporkan ke kecamatan tiga hari sebelum ada tamu yang melaporkan hilangnya Juragan Sukarta”, kata Pertiwi.
       “Sayalah tamu yang melaporkan hilangnya Gan Karta itu Nden”.
       “He, jadi kemarin kau datang ke kantor Ayah? Kenapa tidak sekalian menemui aku?”, tanya Pertiwi dengan nada menyesalkan.
       “Maaf Nden. Saya tidak ingin Ayah Nden mengetahui saya kawan sekolah Nden. Salah satu alasannya, Nden sudah tahu. Sedangkan alasan lainnya, saya tidak ingin Nden terlibat dalam masalah yang saya sendiri belum dapat membayangkan perkembangannya. Tetapi setelah mendengar penjelasan Nden barusan, ternyata persoalannya lebih rumit, sebab berkaitan dengan politik. Saya tahu betul, Gan Karta sangat tidak sefaham dengan perjuangan golongan itu, karena buruh tani hanya dijadikan kedok. Lalu siapa yang mengirim salinan segel itu kepada Pak Camat?”.
       “Menurut Ayah dari kelurahan. Bahkan pembuatan segel itu juga salah satu saksinya adalah Lurah. Lalu kau sendiri, siapa yang menyuruhmu melaporkan hilangnya Juragan Sukarta?”.
       “Pantas saya mendapat pesan jangan melaporkan ke kelurahan, tetapi harus kepada Pak Camat”.
       “Siapa yang memesanmu begitu?”, tanya Pertiwi.
       “Gan Karta sendiri”, sahut Darmawan.
       “He?! Bagaimana mungkin? Bukankah justru dia telah meninggal?”. Pertiwi bertanya heran.
       “Ya Nden. Tetapi pesan itu saya terima 10 hari sebelum beliau meninggal. Saya menerima pesan itu justru bersama segel pewarisan harta milik beliau yang berlainan isinya dari segel yang ditembuskan kelurahan kepada Pak Camat”.
       “Maksudmu?”, tanya Pertiwi dengan terkejut, “artinya segel pewarisan itu ada dua?”.
       “Ya Nden. Saya mendapat titipan segel itu dari beliau, asli dan langsung dari tangan beliau sendiri, dibuat oleh beliau di depan notaris”, sahut Darmawan. Sementara bicara tangannya membuka ransel yang dibawanya, ransel butut dan kumal.
       Darmawan mengeluarkan semua isinya yang terdiri dari sebuah kopiah hitam, sebuah kampret, sebuah sarung, dan seperangkat baju salin yang cukup baik dan bersih meskipun sudah tua, berikut sebuah Al-Qur’an. Di dasar ransel terdapat lapis kain hitam belel yang dijahit ke sekeliling sisi dasar ransel. Darmawan membuka kain lapis itu dengan menyobeknya. Dari bawah lapisan itu terdapat lipatan kertas dan diambilnya, lalu diserahkan kepada Pertiwi.
       “Sebenarnya Gan Karta orang yang patut dikasihani Nden. Beliau tidak punya sanak kadang. Karena itulah seluruh harta miliknya dihibahkan kepada beberapa masjid dan rumah yatim piatu, kecuali sepuluh petak seputar dangau”, kata Darmawan sementara Pertiwi mulai membaca surat waris tersebut.
       “Ah”. Tiba-tiba Pertiwi berdesah, namun matanya masih terus menyusuri surat akte itu baris demi baris sampai selesai. Sambil menyerahkan kembali akte itu Pertiwi berkata: “Jadi, kau anak pungut Juragan Sukarta?”.
       “Ya Nden”.
       “Tapi kenapa kau tinggal di dangau itu dan kerjamu tidak sesuai dengan kedudukanmu sebagai anak pungut?” Sebaliknya keadaanmu tidak lebih sebagai, maaf, kacung penunggu sawah”.
       “Karena tidak seorang pun yang tahu”.
       “Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi?”.
       “Ceritanya panjang Nden”, sahut Darmawan.
       “Hmm”. Pertiwi menggumam, “apa aku boleh mengetahuinya?”.
       “Mengapa Nden menanyakan yang tidak penting? Mengapa bukan yang lain? Misalnya, mengapa Juragan Sukarta tidak memberikan warisan apa-apa kepada isterinya?”.
       “Karena isteri Juragan Sukarta aku sudah dapat menebaknya. Bukankah wanita yang mengusirmu tadi itu isteri Juragan Sukjarta? Nah dari sikapnya yang bekerja sama dengan ketiga lelaki itu, aku yakin, Juragan Sukarta sudah tahu siapa sebenarnya isterinya itu. Isteri dalam lahirnya, tetapi musuh dalam batinnya. Ini dapat disimpulkan pula dari pesan dia dalam surat wasiatnya kepadamu. Surat itu dia buat hanya beberapa hari sebelum surat hibah yang disaksikan kepala kelurahan. Artinya Juragan Sukarta sudah mencium maksud jahat mereka. Dari pesannya agar melaporkan langsung kepada Ayahku bila terjadi sesuatu pada dirinya, jelas dia sudah memperhitungkan kemungkinan paling pahit pada dirinya. Meski mungkin dia tidak menyangka akan secepat itu”, sahut Pertiwi menjelaskan kajiannya.
       “Bukan main”, desis Darmawan, “sungguh mengagumkan. Ternyata selain pintar, Nden juga gadis yang cerdas”.
       “Alhamdulillah”, sahut Pertiwi mendengar pujian itu. Tetapi dia tidak ingin terlena oleh pujian tersebut. Maka dia membelokkan kepada hal yang ingin diketahuinya. “karena itu aku lebih tertarik kepada cerita dirimu”.
       “Baiklah Nden”. Akhirnya Darmawan mengalah, dan dia mulai berkisah: “Ceritanya bermula enam tahun yang lalu. Hari itu Juragan Karta pulang dari Bank di Kabupaten kemalaman di jalan. Kebetulan satu kendaraan dengan Ayah dan saya. Di kursi depan tempat duduk saya dan Ayah, ada tiga orang berpakaian jawara yang seringkali berbisik-bisik. Ketika turun di terminal, Ayah tidak langsung pulang ke rumah. Beliau mengatakan, ada orang yang terancam bahaya dan bermaksud menolongnya. Ternyata yang terancam bahaya itu Juragan Karta. Di suatu tempat sunyi ketiga orang jahat itu mencegatnya. Ayah saya menolongnya. Sejak itulah Ayah dan Juragan Karta bersahabat”.
       Darmawan menghentikan ceritanya. Dia meneguk minuman yang dibawa Pertiwi, baru meneruskan.
       “Kira-kira setengah tahun kemudian, suatu malam rumah kami diserang lima orang penjahat. Ayah bertarung melawan keroyokan. Sebenarnya Ayah berhasil mengalahkan tiga pengeroyok yang tak lain dari yang pernah mencegat Juragan Karta. Tetapi dua orang yang menyertai mereka punya kemampuan sangat tinggi, sehingga akhirnya Ayah meninggal. Menyaksikan itu, Ibu dan saya yang bersembunyi berusaha kabur. Tetapi kedua orang itu mengejar kami. Akhirnya Ibu menyuruh saya kabur sendiri. Beliau berusaha menghambat mereka dengan kemampuan yang jauh di bawah Ayah, sehingga beliau pun mengalami nasib yang sama”.
       Untuk kedua kalinya Darmawan menghentikan ceritanya. Tetapi kali ini bukan untuk minum. Dia menundukkan kepala karena terkenang pada kedua orangtuanya yang telah tidak ada. Pertiwi merasa dialah yang telah membuat anak muda itu teringat lagi pada peristiwa yang sangat menyedihkannya itu.
       “Aku minta maaf Wan. Aku telah mengungkit ingatanmu yang menyedihkan itu”, kata Pertiwi.
       Darmawan menghela nafas, baru menyahut: “Tidak apa Nden. Masa lalu yang tidak menyenangkan ada baiknya diingat kembali. Dengan demikian saya akan selalu menyadari siapa diri saya”.
       Sejenak tidak ada yang bicara. Tetapi akhirnya Darmawan melanjutkan lagi ceritanya.
       “Saya tidak berani pulang ke rumah. Saya meneruskan kabur tanpa tujuan. Di tengah perjalanan tanpa disadari saya melewati tempat Juragan Karta dicegat, sehingga saya teringat kepadanya. Saya tahu tempat tinggalnya, karena pernah dibawa Ayah berkunjung ke rumahnya. Dalam keadaan lemah karena kelaparan saya pergi ke Pasirpanjang. Di depan dangau itulah saya bertemu dengannya. Saya ceritakan kenapa sampai ke situ. Sejak itulah saya meninggali dangau itu. .Juragan Karta tidak pernah mengatakan bahwa saya diangkat jadi anak pungut. Beliau menempatkan saya di dangau justru untuk menghindari kemungkinan terulangnya peristiwa yang terjadi pada oragtua saya. Dengan ditempatkan di dangau sebagai penunggu sawah, tukang cangkul, dan penyabit rumput, bila terjadi apa-apa dengan Gan Karta, saya tidak akan terbawa jadi sasaran dendam. Tetapi Gan Karta memberi keleluasan kepada saya. Saya disekolahkan sejak masuk SMP, tanpa ada orang yang mengetahuinya. Beliau mengatakan bahwa saya akan dibiayai sampai sekolah tertinggi untuk bekal hidup. Juragan Karta tidak punya anak seorang pun. Empat tahun yang lalu isteri Gan Karta meninggal mendadak di rumah sakit sehabis belanja di kota. Jururawat yang mengantar jenazahnya mengatakan, kematiannya akibat racun dalam makanan sehabis makan di restoran. Jururawat itu kebetulan adik almarhumah. Beberapa bulan kemudian Juragan Karta menikahi jururawat itu. Dialah wanita muda yang Nden lihat tadi....”.
       “Mungkinkah justru dia yang meracuni kakaknya sendiri?”, tanya Pertiwi memotong cerita.
       “Entahlah Nden. Almarhumah belanja ke kota sendiri. Ketika pulang diangkut dengan ambulan dalam keadaan sudah meninggal”.
       “Hmm, sungguh mencurigakan”, gumam Pertiwi.
       Darmawan tidak menanggapi gumaman gadis itu. Dia meneruskan ceritanya: “Saya tidak tahu kalau Juragan Karta memungut saya sebagai anaknya. Saya baru tahu ketika beliau memberikan surat wasiat itu. Saat itu beliau mengatakan bahwa saya tidak akan diberi warisan harta, karena masih terlalu muda. Beliau mengkhawatirkan saya akan jadi manusia tak berguna akibat harta itu. Sebagaimana Nden baca sendiri, beliau hanya mewariskan sepuluh petak sawah seputar dangau untuk biaya hidup selanjutnya. Sedangkan biaya sekolah saya dibebankan kepada Yayasan Yatim-Piatu yang mendapat hibah harta paling banyak dari Juragan Karta....”.
       “Wan”, potong Pertiwi, “ternyata Juragan Sukarta sangat menyayangimu. Dia tidak mewariskan harta yang sifatnya tidak kekal, tetapi bermaksud mewariskan ilmu yang sifatnya kekal”.
       “Ya Nden. Saya pun menyadari itu. Beliau juga mengatakan bahwa yang sepuluh petak itu hanya untuk berjaga-jaga bila sesuatu yang buruk terjadi tiba-tiba pada beliau. Beliau malah berpesan, sawah itu bukan untuk dijual tetapi untuk digarap. Kalau tidak dapat menggarap sendiri lebih baik dihibahkan. Saya tahu maksudnya. Beliau menyuruh saya agar berprihatin dan tidak malas. Saya sungguh berhutang budi kepada beliau. Karena itu saya akan berusaha memenuhi semua wasiatnya. Amanatnya akan saya laksanakan, meski sekarang ada wasiat lain di tangan yang punya wewenang resmi. Sebab saya yakin, wasiat yang kedua itu bukan atas kehendak beliau”.
       “Aku setuju sekali pada rencanamu Wan. Tetapi kukira saat ini harta itu sudah mulai dibagi-bagikan dan menjadi milik pribadi orang-orang tertentu”, kata Pertiwi.
       “Mudah-mudahan dugaan Nden belum terjadi”.
       “Aku khawatir sudah terjadi”.
       Darmawan memandang Pertiwi dengan mengerenyitkan alisnya.
       “Aku sudah kenal dengan dua di antara empat orang yang mengusirmu tadi. Karena kedua orang itu bekas pekerja Ayahku”, kata Pertiwi menjelaskan. Lalu: “Yang memakai seragam pegawai negeri namanya Mang Sarju, dan jawara yang berambut gondrong adalah Mang Gomar”.
       “Lalu dari mana Nden menyimpulkan bahwa mereka telah memperoleh pembagian harta itu?”.
       “Sebelum pergi ke Pasirpanjang tadi, aku lewat ke rumah mereka, karena sudah sepuluh hari tidak masuk kerja. Ayah menyuruhku menengoknya. Menurut keterangan isteri mereka, Mang Sarju dan Mang Gomar tidak akan bekerja pada Ayahku lagi, karena mereka telah punya usaha lain. Mereka telah punya sawah garapan. Bahkan saat ini Mang Sarju sedang kuriak membuat rumah besar”.
       “Ah kalau begitu dugaan Nden tidak salah”, desah Darmawan. Dia tertunduk sambil menghela nafas berat, “sungguh cepat mereka bertindak”, sambungnya.
       “Walaupun begitu kau harus tetap berusaha. Setidak-tidaknya, harta yang berbentuk tanah masih mungkin untuk diselamatkan”, ujar Pertiwi memberi semangat.    
       “Ya Nden. Saya mengerti”.
       “Aku bersedia membantumu Wan. Kalau perlu bantuanku, kapan saja, aku akan melakukannya”.
       “Terimakasih Nden. Tentu suatu saat saya akan memerlukan bantuan itu. Untuk sementara ini saya akan mencari cara untuk memotong mereka menggunakan lebih banyak harta bergeraknya dulu”, sahut Darmawan.
       “Baiklah soal itu terserah kepadamu. Sekarang aku hanya ingin mengetahui, di mana selanjutnya kau akan tinggal?”.
       “Saya belum tahu Nden. Yang paling utama bagi saya adalah soal pekerjaan, karena saya perlu makan. Soal tidur masih bisa diatasi. Banyak mesjid yang bisa saya gunakan”.
       “Hmm”, Pertiwi menggumam, lalu katanya, “bagaimana kalau bekerja di rumahku, mau?”.
       Darmawan menggeleng. “Terimakasih atas kebaikan Nden. Tetapi sebaiknya Nden tidak bersusah-payah. Saya akan mencari pekerjaan di pasar saja”.
       “Aku tidak bersusah payah samasekali Wan. Ayahku sendiri yang memerlukan pekerja itu, untuk menggantikan tugas Mang Sarju. Tugas utama Mang Sarju antar-jemput aku dan adikku ke sekolah dengan delman. Di luar itu, dia pergunakan untuk menambah penghasilan, yang justru jauh lebih besar dari gaji bulanan pemberian Ayah. Kau juga dapat melakukan hal yang sama kalau mau”.
       “Jadi bukan kehendak Nden semata karena belas kasihan kepada saya?”, tanya Darmawan dengan suara hampir tak terdengar.
       Sesungguhnya hati Pertiwi berdesir mendengar pertanyaan anak muda itu. Kini dia tahu pasti, dibalik keadaannya yang rudin, Darmawan punya harga diri lelaki yang tinggi. Untunglah dia sudah memikirkan kemungkinan tersebut. Maka dia dapat menjawab dengan mantap.   
       “Kau bisa buktikan sendiri di depan Ayahku nanti”, sahutnya. “Ayah benar-benar menyuruhku mencarikan orang yang dapat menggantikan tugas Mang Sarju. Bahkan Ayah meminta, kalau mungkin sekaligus yang mampu mengurus kuda. Itu berarti, yang dikehendaki Ayah adalah yang bisa tinggal di rumah, bukan yang punya rumah sendiri dan pulang sehabis kerja. Untuk pengurus kuda itu ada pondok kecil di belakang rumah. Apa kau bisa mengurus kuda?”.
       “Kalau begitu baiklah Nden. Saya mampu mengurus kuda, karena kuda-kuda di rumah Agan Karta juga saya yang mengurusnya”.
       “Syukurlah. Dengan demikian aku tidak perlu mencari-cari orang lain lagi”, kata Pertiwi sambil membereskan barang-barang yang dibawanya ke dalam kantongnya.
       Tak lama kemudian mereka telah berada di perjalanan pulang ke kecamatan. Mula-mula Darmawan berjalan mengikuti di belakang Pertiwi. Tetapi kemudian gadis itu menjajarinya karena ada yang ingin dikatakannya.
       “Kau harus masuk sekolah lagi Wan. Kalau keluar berarti kau menyia-nyiakan harapan almarhum majikanmu”, kata Pertiwi.
       “Ya Nden”.
       “Tadi aku tidak melihat pakaian seragam sekolahmu. Di mana kau titipkan pakaian dan tas sekolah itu?”.
      “Pada seseorang yang baik hati Nden. Dan saya akan tetap membiarkannya di sana”.
       “Hmm, aku tahu. Tentu kau akan tetap jadi bunglon sebagaimana yang kau lakukan selama ini”.  
       “Ya Nden. Saya tidak ingin Juragan Camat dan yang lainnya mengetahui saya kawan sekolah Nden”.
       “Aku tahu, dan aku mengerti alasanmu. Tapi aku harap kau tidak melepaskan samasekali tanggung jawabmu atas tim volley kita yang akan berangkat ke Provinsi akhir pekan ini”, kata Pertiwi.

--0

Tidak ada komentar:

Posting Komentar