PERTIWI
Oleh : S Anwar Effendie
PROLOG
PESAWAHAN itu membentangi daerah luas. Nun diujungnya dibentengi perbukitan membiru kelabu. Pohon padinya yang rata-rata belum berbuah, mengalun berombak-ombak tertiup angin pegunungan, seolah ombak-ombak hijau di lautan.
Sebuah jalan sirtu desa yang lengang, membujur lurus membelah pesawahan yang luas itu. Di kedua pinggirnya didereti pepohonan kayu rindang, tempat berteduh para pejalan dari teriknya sinar matahari, seperti yang dilakukan tiga lelaki berada di pertengahan jalan menuju arah deretan perbukitan.
Teriknya mentari hampir tengah hari, membuat tubuh ketiga lelaki itu dibasahi keringat. Ketiganya duduk pada akar pohon yang menonjol keluar dari tanah. Yang seorang bertubuh kurus, berusia 30-an, mengenakan seragam pegawai negeri dari bahan kaki drill kuning-coklat. Di pangkuannya tampak map merah, dan pada dadanya tergantung sebuah kekeran.
Dua kawan seperjalanannya berpakaian hitam-hitam yang biasa dikenakan jawara. Tubuh keduanya tampak tegap-tegap, dan di pergelangan tangan kanan masing-masing dilingkari gelang akar bahar. Yang seorang berkepala gundul pelontos, membuat wajahnya yang keras tampak semakin garang. Di tangan mereka memegang topi cetok yang dipakai mengipasi tubuhnya. Alas kakinya terompah kulit.
“Aku heran, kenapa Nyi Icih menentukan waktunya tengah hari yang begini panas? Kenapa tidak pagi-pagi atau sore saja sekalian? Apa dia bukan sengaja hendak menyiksa kita dulu?”, tanya si kepala gundul.
“Kalau kau mau menggunakan otakmu sedikit saja, tentu tidak akan mengeluarkan pertanyaan itu”, sahut kawannya yang berambut gondrong.
“Iya, tapi kenapa?”.
“Dalam udara yang panas begini orang paling malas bepergian, sehingga jalan akan lengang. Itu berarti memperkecil gangguan terhadap tugas kita”.
“Memang kau terlalu malas berpikir Bung Baran. Sudah berkali-kali aku mengatakan bahwa perjuangan kita bukan hanya memerlukan tinju, tetapi yang lebih penting adalah otak. Kau masih harus banyak belajar. Aku senang karena Bung Gomar sudah ada peningkatan. Apa yang dikatakannya memang benar meskipun belum lengkap”, timbrung orang berpakaian seragam.
Si gundul mengangguk-anggukan kepala tanpa tahu pasti, apa dia menyetujui pendapat kawannya yang bernama Gomar itu atau kata-kata yang diucapkan orang berpakaian seragam. Sementara itu orang yang berpakaian seragam mengangkat kekeran dan mengarahkan pandangannya ke ujung jalan yang ditujunya, sebuah anak bukit berjarak sekitar satu kilometer dari tempat mereka berteduh.
Melalui kekeran itu dia dapat melihat jelas sebuah rumah bilik bambu berhalaman luas, tepat di awal jalan mendaki ke anak bukit. Itu sebuah rumah panggung cukup besar. Hampir tiga perempat bagiannya berupa tepas seperti pendapa. Halamannya sendiri yang luas itu berlantai tembok tempat menimbun padi di musim panen.
Dari sana pandangannya dialihkan ke jalan pendakian, terus ke puncak anak bukit yang berupa lapangan semak rumput datar diselingi beberapa pohon kayu besar yang rindang. Tiba-tiba pandangannya terhenti pada sesosok tubuh penunggang kuda yang muncul dari balik belukar. Sejenak dia memusatkan perhatiannya pada wajah penunggang kuda itu yang berpakaian khusus untuk menunggang kuda, dan mengenakan topi yang biasa dipakai tuan-tuan besar di zaman penjajahan.
“Dia sudah muncul”, desisnya seolah kepada dirinya sendiri, namun kedua teman seperjalanannya dapat mendengarnya.
“Kalau begitu kita harus segera menemuinya”, kata si kepala gundul.
“Tidak perlu tergesa-gesa. Jarak ini paling lama juga bisa dicapai dalam waktu 10 menit. Dia belum lagi duduk beristirahat”, sahutnya tanpa melepaskan pandangannya dari penunggang kuda itu yang nampaknya sedabosan. Dia adalah lelaki bertubuh sedang, berwajah bersih, dan masih tampak segar meskipun usianya sudah lebih dari setengah abad.
Anak bukit itu seperti tanjung di pantai lautan, menjorok ke depan dari pinggang deretan bukit, membelah tanah pesawahan, seolah jembatan panjang yang menghubungkan perkampungan kecil di pinggang bukit dengan jalan desa. Kedua sisi anak bukit itu bertebing curam, yang dasarnya tidak kurang dari 15 meter dari bibir tebing. Ini terlihat dari pepohonan hutan kecil yang tumbuh di dasar kedua sisi anak bukit itu, yang pucuk-pucuknya tidak sampai mencapai bibir tebing. Penduduk setempat memberi nama anak bukit itu Pasirpanjang. Nama yang cukup beralasan. Punggung bukit Pasirpanjang itu satu-satunya jalan yang menghubungkan kampung di pinggang bukit dengan kampung-kampung lainnya di desa itu yang letaknya di seberang bentangan pesawahan tersebut.
Penunggang kuda itu adalah satu di antara beberapa tuan tanah yang memiliki sawah paling luas di daerah itu. Tempat tinggalnya di kampung di pinggang bukit, dan rumah bambu besar yang berada di pinggir jalan pendakian itu adalah dangaunya. Namanya Sukarta, dan orang memanggilnya Juragan Sukarta atau Juragan Karta.
Setelah agak lama menikmati pemandangan hijau yang menyegarkan mata itu, Juragan Sukarta meneruskan perjalanannya menuruni jalan pendakian, menuju ke rumah bambu. Dia samasekali tidak menyadari ada orang yang memperhatikan gerak-geriknya. Karena, disamping jaraknya terlalu jauh, juga ketiga orang itu tidak sedang bergerak di tengah jalan.
Juragan Sukarta turun dari kudanya di pinggir halaman dangaunya. Dia menuntun kudanya, lalu menambatkan pada pohon jambu yang tumbuh di pinggir halaman dangaunya. Setelah itu dia melangkah ke tepas dangau. Di tengah tepas telah tersedia sebuah penampan besar berisi cerek, sebuah mangkok besar air kopi, dua buah gelas, sepiring ubi rebus, dan sepiring buah mangga yang sudah masak-masak.
Sekilas matanya memandang ke pintu dangau yang terkunci dengan gembok. Kemudian dia naik ke palupuh sambil membuka topinya dan menaruh di sampingnya. Dia duduk menghadapi penampan, mengangkat mangkuk kopi, membuka tutupnya, dan menghirup isinya dalam tegukan panjang. Setelah menaruh kembali mangkuk itu di tatakannya, tangannya merogoh saku, mengeluarkan rokok kretek Bentul dan geretannya. Dicabutnya sebatang dan mengetuk-ngetukan ujung rokok itu pada geretan, lalu diselipkan di bibirnya. Sejenak kemudian matanya telah mengikuti kepulan asap rokok isapannya yang pertama.
Sementara rokok terselip di bibirnya, dia mengambil pisau dan sebuah mangga dari piringnya, lalu mengupasnya. Perhatiannya benar-benar terpusat pada pekerjaannya, sehingga dia tidak melihat tiga lelaki yang berada di jalan dengan langkah-langkah tergesa-gesa menghampiri dangau itu.
Setibanya di pinggir halaman ketiga lelaki itu berhenti sejenak. Mata mereka memperhatikan sekeliling dengan seksama. Jalan yang membujur itu benar-benar lengang. Demikian pula di sawah. Nampaknya teriknya sinar matahari hampir tengah hari itu membuat orang-orang segan untuk bekerja dan menempuh perjalanan.
“Selamat siang Juragan!”, sapa lelaki berpakaian seragam yang telah berdiri di bibir tepas. Sementara dua kawannya berdiri di belakangnya dengan mengangkang kaki.
Juragan Sukarta berpaling dengan terkejut. Dia sedang memakan mangga sambil menunduk, sementara pikirannya sedang tertumpah pada satu masalah yang mengganggu ketenangannya dalam beberapa hari belakangan ini. Wajahnya berubah ketika melihat ketiga orang itu. Karena sesungguhnya merekalah yang ada dalam pikirannya, dan kini tiba-tiba telah berada di hadapannya.
“Wah nampaknya ubi rebus itu enak sekali Juragan”, kata si kepala gundul.
“Benar. Perjalanan yang jauh ini membuat perutku keroncongan lagi. Bukankah Juragan tidak berkeberatan kalau kami ikut mencicipinya?”, sambung jawara berambut gondrong. Dan tanpa menunggu sahutan Juragan Sukarta, kedua orang itu berloncatan naik ke tepas, langsung menjangkau ubi rebus. Kemudian mereka duduk di kiri kanan pemilik dangau. Tanpa mengupas kulitnya dulu, mereka langsung memakan ubi rebus tersebut.
Wajah Juragan Sukarta semburat merah menyaksikan kelakuan kedua tukang pukul itu. Tetapi mulutnya tetap terkunci.
“Jangan marah Juragan. Mereka memang sedang kelaparan”, kata lelaki berpakaian seragam, dan dia pun naik pula ke tepas, lalu duduk dihadapan Juragan Sukarta.
“Apa lagi mau kalian? Bukankah tempo hari sudah kukatakan, aku tidak akan menyumbangkan hartaku sepeser pun kepada perjuangan kalian?”, tanya Juragan Sukarta tanpa mengomentari omongan tamunya.
“Bagus. Pertanyaan itulah yang kutunggu-tunggu”, sahut lelaki berseragam pegawai negeri, “kita memang tidak perlu berbasa-basi lagi. Aku akan langsung pada tujuan kedatanganku”, sambungnya sambil membuka map merah yang dibawanya dan menyodorkan ke depan Juragan Sukarta. Lalu: “Kau tinggal membubuhkan tanda tangan pada surat-surat dalam map itu. Segalanya sudah diatur oleh Lurah”.
“Tentu surat-surat itu merupakan pemaksaan mimpi gilamu, hidup samarata-samarasa kan? Dan aku harus menyumbangkan sebagian hartaku untuk kalian bagi-bagikan kepada petani-penggarap. Begitu kan?”, ujar Juragan Sukarta dengan nada tinggi.
Orang berseragam pegawai negeri itu tersenyum kecil. “Hampir benar”, katanya, “tepatnya, surat-surat itu merupakan pernyataan bahwa Juragan telah menyerahkan harta Juragan dengan sukarela. Karena itu Juragan harus membacanya dulu agar yakin, dan sampai sejauh mana partisipasi Juragan kepada perjuangan samarata-samarasa itu”, sahutnya masih dalam nada tenang tanpa tersinggung oleh kemarahan yang tersirat dalam kata-kata Juragan Sukarta.
“Tidak perlu. Sampai kapan pun aku tidak akan mau mendukung gagasan gilamu. Aku tidak akan menyumbangkan apa-apa, sekalipun hanya sepetak sawah. Semua hartaku adalah hasil kerja jerih-payah memeras keringat. Sementara kalian tanpa kerja apa-apa mau mendapat bagian sesuai dengan yang kalian tentukan sendiri. Kalau sekarang kau memaksa aku menandatanganinya, apa bedanya dengan garong....aduh!”.
Tubuh Juragan Sukarta terjajar di atas palupuh oleh kekuatan pukulan si kepala gundul pada wajahnya. Sebelum sempat berbuat apa-apa, Gomar telah menarik kerah bajunya sambil memilin tangan kiri Juragan Sukarta ke belakang. Terdengar bunyi berdetak dari tulang yang lepas dari sendinya. Juragan Sukarta mengaduh lebih keras dengan mulut menyeringai. Dari matanya menitik air bening oleh rasa nyeri yang sangat. Wajah bagian kanannya biru sembam bekas tinju si kepala gundul tadi.
“Kau menghina kami. Kami bukan garong, tahu? Tanahmu akan dipakai untuk dana perjuangan, ngerti?”, bentak si kepala gundul yang bernama Baran dengan mata mendelik.
Juragan Sukarta mengatupkan mulutnya. Kemarahan telah menyesaki dadanya. Tetapi dia terpaksa menahan diri, karena menyadari akibatnya jika menuruti perasaannya. Itu sudah dirasakannya. Ternyata kedua jawara itu makhluk kejam yang sadis.
“Juragan, sebaiknya kau turuti kata-kataku supaya tidak menjadi lebih parah. Nah baca dulu, agar kau tahu kedudukanmu saat ini”, kata lelaki berpakaian seragam dalam nada berat. Tetapi ketika Juragan Sukarta nampaknya tidak hendak memenuhi perintahnya, dia pun membentak: “Baca kataku! Cepat! Batas kesabaranku sudah hampir habis, tahu?”.
Meskipun enggan, akhirnya Juragan Sukarta mengambil surat pernyataan yang paling atas. Matanya jadi membeliak, karena tandatangannya telah tertera. Persis seperti tandatangan yang biasa dibuatnya sendiri. Di sebelahnya ada tandatangan dua orang saksi, salah seorang diantaranya adalah Lurah daerah itu. Dengan jari-jari gemetar dia mulai membaca, tetapi mulutnya terkatup. Kemudian wajahnya semburat merah membara, lalu menggelap. Giginya gemeretak.
“Setan! Jadi kalian telah bekerja sama dengan si Lurah merampok hartaku...aduh!”. Juragan Sukarta membentak tanpa bisa menahan diri lagi. Akibatnya sekali lagi tinju Baran menimpa wajahnya. Tetapi tubuhnya tidak terguling lagi, karena dipegangi oleh Gomar. Namun akibatnya lebih parah. Kini mata kanannya yang biru pengab, bahkan dari hidungnya keluar cairan merah.
“Sadari Juragan. Hari ini kau sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Kau telah menyerahkan seluruh milikmu, termasuk rumahmu sendiri dengan sukarela, demi perjuangan rakyat tertindas, demi perjuangan kaum buruh dan petani kecil. Semua surat dalam map ini telah kau tandatangani, disaksikan oleh Lurah”.
Wajah Juragan Sukarta berubah memutih. Dia sadar, saat itu dirinya telah menjadi orang yang serudin-rudinnya. Tidak punya apa-apa lagi selain pakaian yang melekat di badannya. Dia tidak dapat mengingkarinya, karena tandatangan itu persis sama dengan tandatangan dirinya. Dia percaya akan kata-kata terakhir orang berseragam pegawai negeri itu bahwa semua surat itu telah dibubuhi tandatangannya, meski yang melakukannya orang lain. Yang membuatnya penasaran ialah, siapa orangnya yang telah memalsu tandatangannya itu. Nampaknya lelaki berpakaian seragam itu dapat menduga tepat yang ada dalam pikirannya. Sebab sejenak kemudian hal itu keluar dari mulutnaya.
“Agar kau tidak penasaran, baiklah kuberitahu siapa yang telah menirukan tandatanganmu itu. Aku sendiri Juragan. Tandatanganmu terlalu mudah untuk ditiru”, katanya dengan nada ringan, lalu: “Dan kalau kau mau membaca semua surat dalam map itu, kau pasti lebih keheranan lagi, karena kami mengetahui semua hartamu dengan tepat. Itu berkat bantuan Nyi Icih, isterimu yang masih terlalu muda, montok, dan cantik itu. Perlu kau ketahui, Nyi Icih telah lama menjadi salah satu srikandi kami tanpa sepengetahuanmu”.
Penjelasan terakhir nampaknya tidak mengejutkan Juragan Sukarta samasekali. Dia hanya menundukkan kepalanya sambil menghela nafas berat. Karena itu lelaki berpakaian seragam tersebut meneruskan lagi kata-katanya.
“Rupanya keteranganku yang terakhir tidak mengejutkanmu samasekali Juragan. Itu berarti bahwa kau sudah punya dugaan. Bahkan aku yakin, kau baru menyadari kalau keberadaanmu di sini saat ini adalah jebakan isterimu juga. Sayang kau terlambat menyadarinya”.
“Sebenarnya apa maksudmu menemuiku? Bukankah surat-surat itu sudah kau tandatangani sendiri?”, tanya Juragan Sukarta.
“Hmm ternyata kau tidak mau diajak bertele-tele. Kau ingin langsung ke puncak persoalan”, gumam lelaki berseragam itu, “kalau begitu baiklah”, sambungnya pula, “sudah kukatakan tadi, surat-surat itu hanya perlu kau baca, agar Juragan mengetahui bahwa sejak hari ini kau tidak punya apa-apa samasekali termasuk isterimu sendiri. Isterimu telah jadi milik kami, milik perjuangan kami. Dengan demikian, saat ini kau adalah orang yang serudin-rudinnya. Kenyataan ini tentu akan membuatmu sangat menderita lahir-batin”.
Sejenak orang itu menghentikan kata-katanya agar Juragan Sukarta dapat mencernanya.
“Buah-buahan dan ubi rebus dihadapanmu sekarang juga sudah bukan milikmu lagi”, sambungnya pula. “Itu berarti, sejak saat ini kau akan menderita kelaparan. Nanti malam kau akan berselimut embun, sehingga menderita kedinginan. Aku dapat membayangkan bagaimana tersiksanya kau oleh semua penderitaan itu. Karena itu terpaksa aku melakukan neuthanasia. Kau tahu arti neuthanasia? Aku ingin meringankan beban penderitaanmu. Itulah tujuan utamaku menemuimu sekarang”.
Sekali lagi orang berseragam pegawai negeri itu menghentikan kata-katanya. Kemudian dia berpaling kepada kedua kawannya, lalu katanya: “Tugasku sudah selesai. Sekarang antarkan dia ke tempat tidurnya yang terakhir. Nah, selamat jalan Juragan”.
Juragan Sukarta mengerti betul maksud orang itu, meski dia tidak mengerti istilah yang disebutkannya. Karena itu dia meronta-ronta sekuat tenaga dalam cengkeraman kedua jawara itu.Tetapi usahanya sia-sia saja. Pegangan kedua orang jawara itu seolah jepitan baja. Dengan mudahnya tubuh Juragan Sukarta mereka angkat, seolah menjinjing anak kecil, dibawa ke belakang dangau.
Orang berpakaian seragam itu memperhatikan Juragan Sukarta dan dua algojonya menghilang di balik dinding dangau.Kemudian dengan tenang dia mengambil mangga dan pisau pengeratnya. Sejenak kemudian dia mulai memakan mangga itu kerat demi kerat tanpa mengupas kultnya. Sementara matanya menatap ke jalan lengang yang membujur dengan tatapan penuh rencana tersembunyi.
--0--
Satu
Mendung Di Hari Cerah
SORAK-SORAI para pelajar SLTA diseputar lapangan pertandingan volley itu terdengar demikian lepas dan bening, seolah tidak menghiraukan samasekali awan mendung yang mulai berarak menggayuti angkasa negeri ini.
Sesungguhnyalah langit sore itu tampak demikian cerah. Tak setiitik awanpun nampak di langit yang membiru kelabu. Sebab awan mendung itu bukan berarak di langit yang sebenarnya, melainkan di langit-langit jantung manusia. Dan sebagai para remaja yang masih awam akan politik, mereka benar-benar belum menyadari betapa gejala badai mulai melanda negerinya. Badai dahsyat yang akan memporakporandakan nilai-nilai hidup yang luhur.
Pertandingan volley itu berlangsung di alun-alun Kabupaten, dan telah berlangsung sejak beberapa hari sebelumnya. Sore ini adalah pertandingan final regu putera, dan merupakan yang terakhir dari seluruh rangkaian pertandingan.
Di antara penonton yang melingkari arena pertandingan, terdapat sekelompok gadis remaja yang jadi suporter salah satu regu petanding. Sorakan dan teriakan mereka benar-benar menguasai seluruh arena pertandingan. Setiap kali kapten tim yang dijagokannya meloncat tinggi mengambil umpan dan melakukan pukulan smes, serempak mereka berteriak ‘sikaaat!’. Dan setiap kali pukulan smes itu berhasil menyusup ke pertahanan lawan, meledaklah sorakan mereka sambil melonjak-lonjak menandakan kegembiraan hati yang tidak dikekang.
Sesungguhnyalah tim yang dijagokan kelompok gadis itu merupakan tim terkuat. Sejak awal pertandingan, permainan mereka sangat memukau, baik dalam kekompakan maupun dalam serangan-serangannya. Dan pukulan-pukulan smes kapten timnya benar-benar sulit ditahan lawan. Di samping pukulannya yang keras dan tajam, juga tangan itu seolah mempunyai mata yang dapat melihat celah-celah di daerah pertahanan lawan. Dalam keadaan pertahanannya terlalu rapat, pukulan smes itu langsung mengarah pemain. Pukulannya yang tajam dan keras beberapa kali membuat lawan yang berusaha menahannya terseret oleh dorongan tenaga bolanya, sehingga membuatnya terpelanting jatuh.
Kalau para pemain yang dijagokannya demikian memukau, maka kelompok gadis yang jadi suporternya juga tidak kalah menarik perhatian. Terutama gadis tinggi lampai berambut panjang dengan tubuh padat berisi, serta wajahnya yang begitu cantik.
Berbeda dari kawan-kawannya yang melonjak-lonjak. Tingkah gadis itu justru sebaliknya. Dia tidak pernah turut berteriak-teriak atau melonjak-lonjak. Yang dilakukannya sekedar tersenyum dan bertepuk tangan. Setiap orang yang memperhatikan tingkah kelompok itu, akhirnya pasti perhatiannya akan terpusat pada gadis pendiam itu.
Orang yang belum begitu mengenalnya pasti akan merasa keheranan. Bagaimana mungkin gadis pendiam itu dapat berada di tengah-tengah kelompok tersebut. Tanggapan itu dapat didengar dari percakapan dua pemuda yang menonton di sisi yang berseberangan.
“Heran aku”, kata salah seorang di antara dua pemuda itu, “bagaimana mungkin gadis pendiam itu betah berada dalam kelompok yang pembawaan sifatnya seperti bumi dan langit”.
“Yang mana?”, tanya kawannya sambil memalingkan perhatian dari arena pertandingan.
“Itu tuh, gadis yang wajahnya aduhai itu”, bisik yang pertama dengan memajukan dagunya ke depan.
“Kau tertarik?”, tanya yang kedua.
“Kalau aku mengatakan tidak tertarik, tentu aku pemuda abnormal”.
Kawannya tersenyum. “Namanya Wiwi, panjangnya Pertiwi. Kau ketinggalan kereta Dani. Orang lain sudah sejak hari pertama pertandingan menaruh perhatian kepadanya. Kau justru baru pada hari terakhir”.
“Tetapi aku benar-benar baru sempat memperhatikan sekarang. Kau sendiri tahu, sampai hari kemarin aku tidak punya kesempatan menonton, karena terus-menerus bertanding. Kalau saja pada semifinal kemarin tim kita tidak kalah, mungkin aku tidak akan pernah tahu ada gadis secantik itu. Jadi, namanya Wiwi katamu tadi?”.
“Ya. Dia itu gadis serius. Tapi hatinya terbuka, sehingga mampu menempatkan diri dalam kelompok yang bagaimana saja. Kalau kau ingin kenal, datang saja kepadanya, pasti dia akan menerima dengan senang hati. Tapi jangan mencoba menyanjung atau memujinya untuk tujuan tersembunyi. Kalau kau cinta, lebih baik katakan terus terang. Dan kau jangan tersinggung kalau dia juga menolak cintamu. Meski masih muda, gadis itu sudah punya pendirian utuh. Pandangannya tentang hidup dan kehidupan, jauh lebih dewasa dari usianya”, kata yang kedua menjelaskan panjang lebar.
“Ah, sudah begitu banyaknya yang kau ketahui tentang gadis itu?”.
“Sudah beberapa kali aku ngobrol dengannya. Kemarin lebih dari setengah jam berbincang-bincang. Aku telah menjajagi hatinya. Rupanya dia tahu maksudku. Dengan terus terang dia membukakan hatinya. Dia menyatakan belum ada niatan berpacaran. Dia masih ingin meneruskan sekolah dan tidak mau pelajarannya terganggu dulu”.
“Itu artinya pernyataan cintamu telah ditolak”, kata yang pertama.
Tiba-tiba terdengar sorakan riuh, sehingga percakapan mereka terputus sejenak. Kedua orang itu memperhatikan gadis yang sedang dipercakapkannya.
“Kau salah. Dia tidak pernah menolak cintaku”, orang kedua menyahuti setelah keadaan reda.
“Lho, bukankah dia mengatakan belum punya niat berpacaran?”.
“Memang, tetapi aku belum sampai menyatakan cinta. Dia membukakan hatinya tanpa diminta. Karena itu aku justru jadi kagum kepadanya. Dia tidak ingin menyinggung perasaan orang. Itu sebabnya, sebelum orang terlanjur menyatakan cintanya, dia telah menutup dirinya lebih dulu. Itu adalah sikap bijaksana”.
“Atau mungkin dia sudah punya pacar?”.
“Tidak. Dia sendiri juga yang mengatakannya. Justru mulanya aku menyangka dia membuka kesempatan bagiku, tetapi ternyata bukan”, sahut yang kedua.
“Hmm, kalau begitu rupanya dia tidak senang bergaul denganmu, dan dia mengusirmu secara halus”, komentar yang pertama.
“Kau salah lagi. Setelah selesai membuka hatinya, kami masih mengobrol panjang. Dia mengajakku berbincang tentang hidup dan kehidupan. Kata-katanya banyak mengandung falsafah yang dalam, sampai aku jadi lebih banyak mendengarkan”.
“Itu supaya kamu bosan”.
“Sebalikanya Dani. Aku justru jadi tertarik. Aku sampai terlongong-longong mendengar komentarnya tentang situasi sekarang. Aku yakin, dia punya bakat besar untuk jadi politikus. Pada akhir pembicaraan, dia mengundangku untuk sekali-kali datang ke rumahnya”.
“ Hmm, aneh”, gumam pemuda yang pertama, lalu: “Kau sendiri kuanggap orang yang sok dewasa karena suka bicara politik. Kalau sampai tertarik pada obrolannya, tentu karena merasa cocok, dan aku percaya. Tetapi kalau kau mengatakan sampai terbengong-bengong, aku kira kau mengakui kelebihannya darimu”.
“Benar. Itu sebabnya aku katakan dia gadis serius. Perhatiannya berbeda dari umumnya anak-anak muda sebaya kita”.
Kembali percakapan mereka terganggu oleh deraian sorak kelompok gadis itu.
“Apa kau ada niat untuk berkunjung ke rumahnya?”, tanya yang pertama setelah sorakan mereda.
“Mungkin kalau kebetulan datang ke daerahnya, tetapi tidak secara khusus. Soalnya berat”.
“Kenapa berat? Bukankah kau menyenangi diskusi politik?”.
“Dari ciri-cirinya, dia bukan gadis santai. Dalam pelajaran di sekolahnya, setiap tahun dia jadi bintangnya. Dalam kecantikan, dia adalah kembangnya kecamatan. Selain itu, dia berdarah biru, seorang ningrat, dan ayahnya adalah kepala kecamatan. Itu berarti, kehidupan sehari-harinya sangat disiplin, tidak suka membuang-buang waktu yang tak berguna”.
“Apa kau bukan sedang mencegahku agar mundur teratur sebelum memperkenalkan diri kepadanya?”, tanya yang pertama.
“Jangan berprasangka jelek. Bukankah tadi aku sendiri yang menganjurkan agar datang langsung kepadanya kalau ingin berkenalan? Kalau aku mengatakan berat, itu untukku sendiri. Aku tidak ingin mengganggu waktunya yang sangat berharga. Kalau saja nalarku dalam paolitik setingkat dengannya, tentu aku akan sering mengajaknya berdiskusi. Sebagai laki-laki aku juga punya gengsi. Sudahlah, pertandingan ini nampaknya hampir selesai, dan tim sekolah gadis itu tentu akan jadi juara”, ujar pemuda kedua mengakhiri percakapannya.
Sebenarnyalah pertandingan itu sudah mendekati akhir. Sorakan suporter semakin riuh. Angka demi angka terus diraih oleh tim sekolah Pertiwi. Dan ketika kapten tim sekolahnya meloncat tinggi untuk melakukan smes mengumpulkan angka terakhir, kawan-kawan Pertiwi berteriak serempak.
“Giiiim!”.
Dan ketika bola itu benar-benar berhasil menerobos pertahanan lawan tanpa dapat dikembalikan, sorakan pun meledak pada puncaknya dalam teriakan-teriakan hampir histeris. Gadis-gadis itu berjingkrak-jingkrak sambil melemparkan topi-topi yang dipakainya, kecuali Pertiwi yang hanya bertepuk-tepuk tangan sambil tersenyum cerah.
Begitu para pemain keluar lapangan, para gadis suporter pun mengerumuninya, menyalami mereka dengan hangat. Tetapi di antara para pemain itu ada yang langsung menyisihkan diri dari kerumunan para gadis suporternya, justru kapten timnya yang bernama Darmawan. Dia hanya memperhatikan saja solah-tingkah mereka sambil menghirup minuman dari gelas plastik, dan tangan kirinya bertolak pinggang. Dari sikapnya tampak sekali, kapten tim itu orang angkuh.
Nampaknya para gadis suporternya juga sudah mengenal sifat kapten tim volley mereka. Karena itu mereka juga tidak begitu mengacuhkannya. Namun demikian, rupanya ada juga gadis yang teringat pada kapten timnya.
“Apa kita tidak akan memberi selamat kepada si Wawan?”, tanya Susi yang paling lincah.
“Tidak perlu. Bukankah dia sendiri yang memisahkan diri? Itu artinya dia merasa terlalu besar untuk bergaul dengan kita”, sahut Herlina dengan mendengus.
“Memang dia angkuh. Tetapi walau bagaimanapun harus kita akui. Tanpa dia, tim kita mungkin tidak akan mencapai juara”, timbrung Betty.
“Huh, kalau kita datang munduk-munduk kepadanya, tentu akan menambah keangkuhannya. Dia akan menyangka dirinya sangat penting”, kata Herlina mempertahankan diri. Lalu berpaling kepada Pertiwi mencari dukungan: “Bukan begitu Wiwi?”.
Pertiwi tersenyum dan menyahut: “Mungkin juga pendapatmu benar...”.
“Nah, benar kan?”, kata Herlina lagi menukas sebelum Pertiwi menyelesaikan kata-katanya.
“Tetapi kalau kita juga tidak mau mengalah, kemungkinan dia tidak akan mau melatih kita. Bukankah kau sendiri tadi mengatakan sepulangnya dari sini, kita akan minta dia agar mau melatih tim puteri?”, sambung Pertiwi.
“Jadi, apa kita harus mengalah?”, tanya Herlina.
“Ya kalau kita benar-benar ingin seperti tim putera. Tetapi sekarang sudah terlambat”.
“Kenapa?”.
“Kita sudah didahului orang. Coba lihat, bukankah beberapa tim sekolah lain sedang menghampiri dia untuk mengucapkan selamat kepadanya?”, sahut Pertiwi sambil menunjuk.
“Hmm, dengan demikian dia akan jadi semakin besar kepala”, gumam Herlina lagi.
“Sebaiknya kau cegah sebelum mereka sampai Lina. Dengan begitu kepalanya akan mengerut lagi hihihi”, ujar Susi dalam tawanya.
“Dicegah nenekmu”, dengus Herlina, “memang mereka robot-robot yang bisa kuatur semauku?”.
Semua kawannya jadi tertawa. Dan percakapan tentang kapten tim mereka yang angkuh itupun berhenti dengan sendirinya.
Setelah menyalami Darmawan, kedua rombongan tim volley lawan meneruskan langkahanya menghampiri tempat Pertiwi dan kawan-kawannya berkumpul. Sejenak kemudian semua mereka bersalam-salaman. Di antara rombongan yang mengucapkan selamat itu terdapat anak muda yang tadi mempercakapkan Pertiwi. Ternyata pemuda itu mempergunakan kesempatan tersebut sebagai jalan untuk berkenalan dengan Pertiwi.
“Dani”, katanya memperkenalkan namanya ketika menyalami Pertiwi, “saya benar-benar kagum kepada tim sekolah Anda”, sambungnya.
“Terimakasih. Tim Anda pun sangat mengagumkan. Bukankah Anda kapten tim yang bertanding dalam semifinal kemarin?”.
“Kok tahu?”, katanya, sementara hatinya merasa senang karena ternyata gadis itu telah memperhatikan dirinya.
“Soalnya menurut pengamatanku, tim Anda tidak lebih lemah dari tim runner-up yang tadi bertanding. Kalau saja tidak satu pool dengan tim kami, mungkin tim Anda yang akan berhadapan dengan tim kami di final tadi”, sahut Pertiwi.
Dani mengangguk-anggukkan kepala. Dia mulai mengakui pendapat kawannya. Gadis ini memang serius dalam menanggapi keadaan, tidak sekedar menonton sebagaimana kebanyakan yang lainnya.
“Tetapi untuk melawan tim sekolah Anda, kami masih harus berlatih keras”, ujarnya. Lalu: “Bagaimana kalau sewaktu-waktu tim kami berkunjung ke sekolah Anda?”.
“O, tentu kami akan senang sekali. Tetapi kalau berkunjung nanti, jangan lupa bawa sekalian tim puterinya, sehingga kami juga dapat turut berlatih”.
“Oke. Kalau begitu saya akan berunding dengan kawan-kawan”, kata Dani dengan gembira.
“Kami tunggu beritanya”, kata Pertiwi. “tetapi jangan terlalu mendadak, agar kami bisa mempersiapkan diri dulu, setidak-tidaknya untuk memperingan biaya penginapan kalian”.
Pembicaraan mereka terpaksa dihentikan, karena tiba-tiaba terdengar pengumuman dari panitia pertandingan melalui pengeras suara.
“Perhatian! Perhatian! Kepada tim putera dan puteri pemenang satu, dua, tiga agar segera mengambil tempat di panggungan pembagian piala. Dan kepada seluruh tim peserta juga agar hadir di lapangan sesuai dengan patok-patok tanda yang telah disiapkan. Karena sebentar lagi upacara penutupan akan dimulai”.
Begitu selesai pengumuman terjadilah kesibukan di lapangan upacara. Semua tim peserta dan rombongannya masing-masing bergerak ke lapangan upacara sambil membawa tas-tas perlengkapan mereka. Sementara di pinggir lapangan, masyarakat setempat berderet untuk menyaksikan upacara tersebut.
“Baiklah. Saya permisi dulu karena harus bergabung dengan kawan-kawan”, kata Dani pamitan kepada Pertiwi, dan mereka bersalaman.
“Sampai jumpa lain kali”, kata Pertiwi.
Tak lama kemudian seluruh tim peserta pertandingan telah berbaris di tengah lapangan. Di depan deretan tampak enam tim putera dan puteri yang menjadi juara 1, 2, dan 3, mengambil tempat pada panggungan kecil bertingkat. Tim putera dan puteri juara pertama berdampingan di tengah panggung tertinggi, dengan semua anggota timnya berbaris di belakang. Sementara tim putera dan puteri juara 2 dan 3 mengapitnya di sisi kanan-kiri pada panggung lebih rendah.
Penyerahan piala dan medali untuk tim juara 1 putera-puteri dilakukan oleh Bapak Bupati sendiri. Ketika Darmawan mengangkat piala yang diterimanya, suara riuh para penonton pun terdengar. Demikian pula ketika tim juara 1 puteri mengangkatkan pialanya. Kemudian satu persatu kedua anggota timnya mendapat giliran dikalungi medali emas.
Beres penyerahan piala dan medali untuk juara satu, dilanjutkan dengan juara dua dan tiga yang dilakukan oleh ketua Koni Kabupaten, diselingi tepukan-tepukan penonton. Akhirnya Bapak Bupati berdiri di depan podium untuk mengucapkan kata perpisahan.
“.....Anak-anakku sekalian. Bapak benar-benar gembira dan bangga, karena hari ini kita telah memperoleh tim pilihan, yang untuk pertama kalinya akan mewakili daerah kita dalam Pekan Olahraga Antar Daerah Tingkat II di Ibukota Provinsi dua pekan mendatang. Dari pertandingan terakhir tadi, Bapak melihat sendiri kemampuan para finalis. Bapak yakin, meskipun baru yang pertama kalinya daerah kita ikut dalam pertandingan di tingkat provinsi, tim kita bukan sekedar anak bawang, melainkan akan menjadi salah satu tim yang harus diperhitungkan lawan”.
Terdengar sorakan gemuruh menyambut pidato Kepala Daerah mereka, sehingga Bapak Bupati harus menghentikan dulu pembicaraannya sampai sorakan mereda.
“Pesanku kepada tim yang akan berangkat nanti. Berjuanglah dengan sekemampuan daya kalian. Jangan silau oleh keadaan lahiriah tim-tim daerah lain yang telah banyak pengalaman dan punya perlengkapan lebih baik, di samping para pelatihnya yang profesional. Bapak sudah beberapa kali melihat mereka bertanding, dan Bapak melihat tadi, penampilan kalian pun tidak jauh berbeda dengan mereka. Karena itulah Bapak yakin, kalian akan dapat mengimbangi mereka. Yang kurang dari kalian adalah mental dan pengalaman dibandingkan dengan mereka. Dua kekurangan itu memang pada akhirnya merupakan segi yang menentukan. Oleh adanya dua kekurangan itulah, Bapak tidak mentargetkan daerah kita akan memperoleh medali. Dengan demikian, kalian tidak dibebani perasaan bersalah kalau sampai tidak memperoleh apa-apa, kecuali pengalaman. Tetapi jika ternyata perjuangan kalian berhasil sampai memperoleh medali, maka kepercayaan diri kalian akan semakin kuat. Itu sangat penting artinya bagi tim-tim lain di daerah kita yang mungkin di waktu yang akan datang, akan mendapat kesempatan pula untuk mempertahankan nama daerah kita. Karena itu berjuanglah semaksimal mungkin, jangan menjadi tim hayam lisung”.
Sekali lagi sorakan meledak gemuruh memberi semangat kepada tim yang akan berangkat mewakili daerah mereka.
“Kepada tim-tim lainnya yang belum memperoleh kesempatan mendapat kepercayaan untuk mewakili daerah kita, Bapak berpesan, berlatihlah lebih keras. Bapak berjanji akan membantu perlengkapan latihan kepada semua tim yang ikut bertanding di sini. Bapak juga berjanji akan memberikan pelatih profesional bagi tim yang sudah memperlihatkan kesungguhan dalam berlatih”.
Kembali sorakan bergemuruh, terutama dari para peserta, karena mereka akan mendapat bantuan fasilitas dari kepala daerahnya.
“Nah anak-anakku sekalian. Pesan Bapak kali ini dicukupkan sampai sekian dulu. Pesan-pesan lainnya kepada tim yang akan mewakili daerah kita ke Provinsi, akan Bapak sampaikan pada saatnya pemberangkatan nanti. Selamat jalan, dan selamat berlatih lebih tekun lagi untuk bertemu kembali di arena porda yang sama kelak”.
Begitu upacara selesai, semua ketua tim peserta menyempatkan diri menyalami ketua tim yang akan menjadi wakil mereka ke Provinsi.
“Selamat berjuang kawan-kawan. Kami doakan, agar kalian dapat menaikkan nama daerah kita”, kata salah seorang di antara mereka yang menyalami Darmawan.
“Terimakasih. Insya Alloh kami akan berusaha sekemampuan daya kami”, sahut Darmawan.
“Sebuah beban yang sangat berat”, ujar Susana kapten tim puteri yang mempertahankan nama daerah mereka, “tetapi kami akan berusaha sekuat-kuatnya”.
Di jalan seputar alun-alun tampak belasan bus telah siap untuk mengantar semua rombongan tim pemain ke daerah masing-masing. Karena itu setelah saling berjabatan tangan, mereka semua bergerak ke kendaraan masing-masing. Demikian pula rombongan tim sekolah Pertiwi. Hari sudah jam lima sore. Tetapi perjalanan pulang ke daerah mereka hanya sekitar satu jam, sehingga tidak akan kemalaman.
Kemenangan yang diperoleh telah membuat hati mereka melambung, sehingga sejak bus mulai berangkat, mereka bernyanyi-nyanyi gembira. Kebetulan di antara mereka ada yang membawa gitar, sehingga suasana riang menyertai sepanjang perjalanan pulang itu.
Tetapi di tengah riuhnya kegembiraan tersebut, ternyata ada yang tidak sejalan. Itu terdengar dari percakapan antara kapten tim dengan kawannya yang duduk di sampingnya.
“Nas. Aku minta maaf kapadamu dan kawan-kawan”, kata Darmawan membuka percakapan.
“Lho kok tiba-tiba minta maaf. Ada apa rupanya?”, tanya Nasrul keheranan.
“Nampaknya aku tidak akan bisa ikut memperkuat tim kita ke Provinsi nanti”.
“He? Apa katamu?”. Nasrul terkejut dan tanpa disadarinya suaranya meninggi, sehingga terdengar oleh dua kawan mereka yang duduk di kursi belakangnya.
“Aku tidak mungkin bisa ikut ke Provinsi”, ujar Darmawan mengulangi.
“Ah, jangan bergurau Wan”.
“Tidak Nas. Aku tidak bergurau. Aku benar-benar tidak dapat ikut”.
Nasrul memandang kawannya beberapa lamanya, seolah tidak yakin pada apa yang didengar telinganya meski sudah dikatakan tiga kali.
“Bukankah sejak hari pertama pertandingan aku telah mengatakan ayahku sedang sakit? Bukankah kau juga tahu, setiap hari sehabis bertanding, aku selalu pulang ke kampung meski harus bolak-balik ke Kabupaten? Ayahku sakit keras Nas. Aku tidak mungkin meninggalkan beliau lebih dari sehari, padahal di Provinsi kita harus tinggal seminggu. Aku tidak mungkin bolak-balik tiap hari karena jaraknya terlalu jauh”, kata Darmawan menjelaskan persoalannya.
“Tetapi itu tidak mungkin Wan. Kau telah diserahi tanggung jawab oleh Pak Bupati. Selain itu kau adalah penanggung jawab tim kita. Tanpa kau, tim kita akan berantakan seperti anak ayam kehilangan induk”.
“Kau salah. Keberhasilan tim kita tidak terletak pada aku seorang, tetapi pada kekompakan semua anggota tim. Siapapun yang memegang pimpinan di antara kita, asal kita tetap menjaga kekompakan, hasilnya akan tetap sama”.
“Benar, kekompakan adalah faktor utama. Tetapi kau adalah puncak kemampuan kami. Selama ini kawan-kawan, bahkan aku sendiri menyangka, sikapmu yang agak menjauhi kami adalah karena kau angkuh. Tetapi setelah kau mengatakan tidak akan ikut, aku baru menyadari. Ternyata dengan ada jarak itu kami menyeganimu, sehingga kau berhasil membina kami. Kalau kau terlalu akrab, mungkin kami akan menganggap sepele segala peraturan yang kau terapkan. Sedangkan aku sudah terlanjur terlalu akrab dengan kawan-kawan, sehingga mereka tidak akan menyeganiku”, sahut Nasrul.
“Kau salah lagi. Kalau aku lebih akrab dengan kalian, tentu hasilnya akan lebih baik. Tetapi aku memang manusia angkuh. Karena itu sebenarnya kaulah yang lebih tepat memimpin tim ini. Aku yakin, kau akan lebih berhasil meningkatkan kemampuan kawan-kawan secara keseluruhan.
“Tidak. Aku merasa belum mampu. Aku tidak akan bisa bertindak tegas sepertimu”. Nasrul menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Perasaan itulah yang harus kau buang Nas. Kau harus berjiwa optimis, jangan pesimis, dan kau pasti berhasil. Sudahlah. Walau bagaimana pun aku lebih memberatkan orangtuaku daripada tim ini. Karena itu, sejak besok kau harus bersiap menggantikanku memimpin kawan-kawan. Sebagai pengganti dirimu, ambil saja salah seorang dari pemain cadangan”, kata Darmawan memutuskan percakapan.
Nasrul jadi terdiam. Dia sendiri mungkin akan mengambil sikap yang sama kalau orangtuanya sakit keras. Apalagi Darmawan sendiri pernah memberitahukan bahwa ibunya sudah tidak ada, sehingga ayahnya adalah satu-satunya orangtuanya.
Ketika pembicaraan kedua orang itu terputus, dua kawannya yang turut mendengarkan percakapan itu di belakang, saling berpandangan sejenak. Tiba-tiba Sumarna berbisik kepada kawan di sampingnya.
“Kita harus minta bantuan kawan-kawan gadis. Kukira hanya itu satu-satunya jalan yang masih bisa kita tempuh. Coba kau hubungi Marni, Dod”, katanya.
Dodi mengangguk. Dengan diam-diam dia bangkit dari duduknya.Lalu berjalan ke sebelah depan di mana tim puteri mereka berkumpul. Begitu tiba di samping kursi tempat duduk Marni, dia berjongkok sambil menggamit lengan baju gadis itu.
“Mar”, bisiknya.
Marni berpaling. “He, kau Dod. Ada apa?”, tanya si gadis.
“Dengar Mar. Si Wawan memutuskan tidak akan ikut memperkuat tim kita ke Provinsi”.
“Ha? Kenapa?”.
“Katanya, ayahnya sakit keras, dan tidak bisa ditinggalkan jauh-jauh”, sahut Dodi.
“Itu tidak mungkin. Bukankah dia penanggung jawab tim? Lagi pula dia adalah kemampuan puncak tim. Tanpa dia, kalian tidak akan punya smasher yang dapat diandalkan”.
“Si Nasrul juga mengemukakan hal itu. Bahkan dia telah menekannya dengan tanggung jawab kepada Pak Bupati. Tetapi Wawan tetap pada keputusannya”.
Marni mengerutkan keningnya. “Hmm, lalu apa maksudmu memberitahukan kepadaku?”, tanyanya.
“Kami minta bantuan kalian agar dia mau merubah keputusannya. Biasanya wanita lebih berhasil”.
“Jadi aku harus merayunya?”.
“Kalau perlu”, sahut Dodi sambil tersenyum. Lalu, “tetapi yang melakukannya sebaiknya yang paten sekali. Maksudku, itu tuh yang duduk di sampingmu”.
Dodi tidak menunggu jawabannya. Dia segera kembali ke tempat duduknya. Tetapi bisik-bisik kedua orang itu rupanya membuat kawan-kawan Marni menjadi penasaran. Susi adalah yang paling tidak bisa menahan keingintahuannya.
“”Asprak ni ye”, celetuk Susi, “ajak gue dong”.
“Jangan Mar, nanti indehoymu terganggu”. Henni menimpali.
“Ajak saja Mar, biar dia ngebet sendiri. Biar tahu rasa”, tukas Maryanti.
“Nah Sus. Sebaiknya kau cepat batalkan keinginanmu. Aku tidak dapat membayangkan, apa yang akan kau lakukan kalau sudah tidak tahan lagi”, kata Yayu turut menimbrung.
“Tidak. Aku tetap akan ikut”, sahut Susi dengan kalem. Lalu sambungnya: “Kalau tidak tahan mudah saja. Toh di sana banyak pepohonan. Aku tinggal memilih menurut seleraku, mau yang gemuk atau yang kurus. Kan beres”.
Kontan para gadis itu tertawa riuh. Bahkan supir bus juga turut tertawa mendengar gurauan mereka. Hanya Pertiwi yang duduk di samping Marni yang tidak terdengar tawanya, tetapi dia juga tersenyum, bahkan berkomentar: “Ada-ada saja si Susi”, katanya.
Tetapi setelah tawa mereda, Pertiwi bertanya kepada Marni.
“Ada apa sebenarnya dengan si Dodi tadi Mar? Kulihat kalian begitu serius”.
Marni tidak langsung menjawab. Malahan dia balik bertanya. “Wiwi”, bisiknya, “maukah kau berkorban demi sekolah kita?”.
“Berkorban? Berkorban apa?”, tanya Pertiwi.
“Tentu berkorban diri”, sahut Marni sambil tersenyum.
“Aku tak mengerti”. Pertiwi mengerutkan keningnya.
“Berkorban itu kemungkinan paling pahitnya. Dodi dan kawan-kawan pria meminta bantuanmu. Kukira juga hanya kau yang paling bisa diandalkan untuk merubah keputusannya”.
“Ah kau masih berteka-teki juga. Merubah keputusan siapa dan keputusan apa?”, tanya Pertiwi.
“Mereka minta agar kau mau merayu Wawan”, kata Susi.
Tampak keheranan di wajah gadis itu. “Kenapa dengan dia?”, tanyanya.
“Dia memutuskan tidak akan ikut memperkuat tim kita ke Provinsi”.
“He?!”.
“Itulah yang dibisikkan Dodi tadi. Nasrul sudah berusaha, tetapi tidak berhasil mengubah pendirian Wawan”, ujar Marni.
“Alasannya tidak ikut apa?”, tanya Pertiwi.
“Katanya ayahnya sakit keras. Dia tidak bisa meninggalkan terlalu lama”.
“Hmm, kalau begitu aku juga tidak akan bisa mengubah pendiriannya. Kalau aku dalam kedudukan dia, aku sendiri akan berbuat sama kalau orangtuaku sakit”, kata Pertiwi.
“Tetapi dengan kecantikanmu, mungkin kau bisa merubah pendiriannya. Karena itu aku minta kau merayunya. Kau bisa minta demi dirimu. Itu berarti kau harus bersedia jadi pacarnya. Itulah yang kumaksud dengan berkorban diri tadi. Kau tidak akan terlalu rugi, bukankah Wawan itu orangnya ganteng? Kalau saja tidak angkuh, tentu sudah banyak gadis yang mendekatinya. Tetapi kalau kau yang menjadi pacarnya, aku yakin, kau bisa meredam keangkuhannya itu”.
“Hmm, kalau bukan kau yang mengatakannya, aku akan tersinggung Mar. Karena kau begitu menggampangkan soal pacar. Tetapi tak apalah. Hanya yang kusayangkan, ternyata kau dan kawan-kawan bukan kawan yang baik bagi Wawan. Kalian hanya ingin mengambil keuntungan yang sebesar-besarnya dari Wawan, dan tidak mau tahu kesusahannya. Kini malah kalian memintaku melakukan perbuatan yang salah. Kalau sampai dia merubah keputusannya karena kurayu, lalu ayahnya meninggal ketika Wawan sedang bertanding di Provinsi, pasti aku akan menyesali diriku sepanjang hidup, karena akulah yang telah membujuknya. Apa kau tidak berpikir sampai ke sana?”, tanya Pertiwi.
Marni terkejut. Dia baru menyadari kemungkinan akibat itu setelah Pertiwi menjelaskannya. Karena itu dia jadi terdiam. Sementara Pertiwi melanjutkan kata-katanya.
“Kalau hanya soal berkorban seperti yang kau katakan tadi, bagiku soal kecil. Sebab kalau dia yang kalian sebut manusia angkuh itu memang telah jadi jodohku, aku tidak akan bisa menolaknya. Karena itu demi nama sekolah kita, aku tidak berkeberatan menjadi pacarnya, walaupun sebenarnya aku belum berniat untuk punya pacar. Tetapi hal itu akan kulakukan sejauh tidak menyangkut alasan yang dikemukakan Wawan. Artinya, aku harus mengunjungi rumahnya untuk meyakinkan, apa alasan Wawan itu bukan bohong? Kalau ayahnya benar-benar sakit keras, aku justru akan membela dia agar jangan turut ke Provinsi. Kau mengerti maksudku Mar?”.
Marni mengangguk lemah.
“Baiklah aku berjanji. Nanti aku akan minta dia mengantarku pulang untuk merayunya. Mudah-mudahan saja alasan dia tidak benar, sehingga dia mau merobah keputusannya. Dan aku menyediakan diri untuk menjadi pacarnya. Aku juga mengakui, dia pemuda tampan yang angkuh”.
“Jadi, kau benar-benar mau berkorban Wiwi?”, tanya Marni ingin meyakinkan.
Pertiwi balik bertanya: “Apa aku pernah berkata bohong?”.
“Tidak. Kau tentu akan melakukan sebagaimana yang kau katakan. Untuk itu, aku dan kawan-kawan mengucapkan terimakasih kepadamu”.
Mereka tidak bicara lagi. Sementara itu bus yang mereka tumpangi sudah memasuki kota kecamatan tempat tinggal mereka. Beberapa menit kemudian bus itu telah berhenti di depan sekolah. Para gadis pun pada turun diikuti para pria yang ditentukan untuk mengantarnya, yang kebetulan rumahnya berdekatan atau yang sejurusan.
Darmawan dan Nasrul tidak mengantar seorang pun, karena tidak ada yang sejurusan dengan mereka. Apalagi Darmawan yang rumahnya paling jauh. Tetapi ketika dua anak muda itu sedang berjalan sambil mengobrol, mereka mendengar langkah-langkah kaki yang mengejarnya. Mereka berpaling. Dalam keremangan senja mereka masih mengenali, yang mengejar mereka adalah Pertiwi.
“Kenapa kau tidak bersama Endang, Wiwi?”, tanya Nasrul.
“Aku ada sedikit keperluan kepada Wawan. Apa kau tidak berkeberatan mengantarku pulang Wan?”, tanya Pertiwi.
Darmawan mengangguk. “Marilah”, sahutnya.
“Aku minta maaf karena telah merepotkanmu”, kata Pertiwi.
“Tidak apa”.
“Kalau begitu kita bertemu lagi senin lusa Wan”, kata Nasrul, dan kepada Pertiwi: “Aku duluan Wiwi”, ujarnya sambil memisahkan diri mengambil jalan lain.
“Silahkan”.
Beberapa lamanya Darmawan dan Pertiwi berjalan tanpa bicara. Darmawan sendiri tidak menanyakan keperluan gadis itu. Dia menunggu saja sampai si gadis mengatakan sendiri urusannya. Akhirnya Pertiwi bicara juga.
“Wan”, katanya, “kudengar kau tidak akan turut memperkuat tim kita ke Provinsi. Apa benar?”.
Darmawan nampak sedikit terkejut mendengar pertanyaan itu. Karena dia baru membicarakan dengan Nasrul. Bagaimana mungkin gadis yang duduknya jauh di depan bisa mengetahui. Tetapi nampaknya keangkuhannya telah mencegah dia menyatakan keheranannya, dan dia hanya mengiyakan.
“Ya Wiwi”.
“Apa ayahmu benar-benar sakit keras?”.
Darmawan tidak langsung menjawab. Kepada yang lain dia berani berbohong. Tetapi kepada gadis itu yang dikenalnya tidak suka dusta, dia merasa ragu, sehingga untuk beberapa lamanya dia tidak menjawab. Bagi Pertiwi, kediaman itu menumbuhkan harapan untuk dapat merubah keputusannya.
“Wan”, katanya pula, “kalau bukan karena ayahmu sakit, mengapa kau buang kesempatan yang sangat baik itu? Aku yakin, dengan bakatmu yang menonjol, kau akan cepat mendapat perhatian orang-orang Provinsi. Jalanmu akan licin menjadi pemain nasional. Dengan demikian, di samping masa depanmu cerah, kau juga akan jadi kebanggan daerah kita. Apa kau tidak tertarik?”.
Darmawan menghela nafas. “Tertarik sih tertarik. Tetapi aku benar-benar tidak dapat meninggalkan ayahku yang sudah tua”, sahutnya.
“Tetapi kalau ayahmu dalam keadaan sehat, dan kalau ditinggalkan hanya seminggu saja, kukira tidak akan banyak pengaruhnya”.
“Kata-katamu yang terakhir bertolak belakang dengan yang pertama. Kalau aku sampai ditarik ke Provinsi, apalagi kalau sampai ke tingkat nasional, aku tidak akan bisa menunggui lagi ayahku seterusnya”.
“Kau belum bicara dengan ayahmu. Tidak mustahil ayahmu justru bergembira jika kau berhasil”.
“Aku kira juga begitu. Sebab tidak ada orangtua yang akan menghalangi anaknya maju. Tetapi justru aku sendiri yang tidak ingin meninggalkannya”.
Pertiwi masih belum kehabisan akal. Masih ada beberapa peluang yang dapat ditempuhnya, setelah dia mengetahui ayah anak muda itu sehat-sehat saja.
“Lalu bagaimana dengan janjimu di depan Bapak Bupati tadi? Bukankah kau telah diserahi tanggung jawab, mengemban tugas mengharumkan nama daerah kita? Kau tidak perlu memikirkan kemungkinan peluang lebih jauh. Kalau nanti Provinsi hendak menarik dirimu, kau bisa menolaknya, karena itu hakmu. Tetapi kedudukanmu sekarang lain. Kau sendiri yang telah berusaha memperoleh kepercayaan Bapak Bupati”.
“Bukan aku, tetapi tim sekolahku. Aku secara pribadi tidak akan berarti apa-apa tanpa semua anggota tim. Karena itu secara pribadi, setiap saat aku dapat digantikan orang lain”, sahut Darmawan cepat-cepat.
Suatu keheranan terbersit di hati si gadis. Jawaban-jawaban yang diberikan Darmawan, dan apalagi yang terakhir, sungguh bertolak belakang dengan sifat yang dikenalnya dan dikenal semua kawan-kawannya, sifat seorang yang angkuh. Sebaliknya, jawaban-jawaban itu menunjukkan sifat seorang anak muda yang baik, yang sangat menyayangi orangtua, dan terakhir sebagai anak muda yang rendah hati.
Kesimpulan yang terbersit di hatinya itu membuat si gadis berpendapat lain. “Apa penampilannya yang angkuh itu bukan merupakan kompensasi dari perasaan rendah diri?”, pikirnya. Tetapi yang diucapkan mulutnya samasekali tidak menyiratkan kata hatinya.
“Jadi benar-benar kau tidak akan ikut karena ingin menjaga ayahmu, begitu?”, tanya Pertiwi.
“Ya Wiwi”.
“Bagaimana kalau aku menyediakan diri mewakilimu mengurus ayahmu selama kau pergi ke Provinsi? Hanya ke Provinsi. Soal selanjutnya terserah pendirianmu sendiri nanti. Tetapi kalau kau mujur sampai ditarik oleh Provinsi, lalu kau berminat, aku bersedia meneruskan mewakilimu mengurus ayahmu”.
Pernyataan kesediaan Pertiwi mengurus ayahnya itu benar-benar mengejutkan Darmawan, sampai langkahnya tertegun. Matanya menatap wajah si gadis yang samar-samar oleh kegelapan senja, seolah ingin mengorek apa yang yang ada dalam benaknya. Tetapi akhirnya dia menggelengkan kepala.
“Itu tidak mungkin Wiwi. Kau punya orangtua sendiri. Selain itu rumahmu di sini di kota. Sedangkan rumahku di gunung di Pasirpanjang. Padahal yang paling penting adalah menungguinya di malam hari, dan kau seorang gadis”.
“Kenapa dengan status gadisku? Kalau kau mau merubah keputusanmu, soal mengurus ayahmu serahkan kepadaku. Aku bisa mengaturnya. Di belakang rumahku ada pondok kosong bekas pegawai ayahku mengurus kuda dulu. Aku bisa menempatkan ayahmu di sana, kau tidak perlu khawatir. Nah, bagaimana?”, tanya Pertiwi dengan penuh harapan.
“Apa sebenarnya maksud ucapanmu itu Wiwi? Aku tidak percaya kau akan berbuat sampai sejauh itu kalau sekedar demi menjaga nama sekolah kita”.
“Kita bukan anak ingusan lagi. Kukira kau sudah cukup dewasa untuk dapat menyimpulkannya”, sahut Pertiwi tidak langsung.
“Tidak. Itu tidak mungkin”, desis Darmawan hampir kepada dirinya sendiri.
“Kenapa tidak mungkin?”, tanya Pertiwi dalam nada gelisah. Soalnya ada rasa malu oleh pernyataan hatinya yang ditolak, karena justru dia perempuan. Tetapi di saat berikutnya terbersit kemungkinan lain, dan itu langsung dikatakannya: “Atau apa kau sudah punya pacar? Kalau begitu aku minta maaf. Aku benar-benar tidak bermaksud mengganggu hubungan kalian”.
Darmawan menggeleng lagi. “Bukan itu. Aku sungguh seperti anak burung yang tiba-tiba tumbuh sayap mendengar kesediaanmu menjadi pacarku. Sudah sejak lama aku mengagumimu. Sampai pernah timbul dalam angan-anganku, alangkah bahagianya andaikata Tuhan memberiku isteri secantikmu kelak. Ketika tadi kau menjelaskan hal itu, aku sungguh seperti kejatuhan bintang. Apalagi belum apa-apa kau sudah bersedia mengurus ayahku. Masih adakah di dunia ini calon isteri yang lebih baik darimu? Tidak Wiwi. Aku yakin, tidak ada. Sayang, impian yang hampir jadi kenyataan ini, dengan sangat menyesal dan terpaksa, aku harus menolaknya. Bukan karena aku sudah punya pacar, sebab aku belum punya pacar kok”.
“Lalu karena apa?”. Tetapi pertanyaan dihatinya itu tidak keluar dari mulut Pertiwi, sementara kepala gadis itu tertunduk. Gadis itu benar-benar tidak mampu menebak apa yang jadi alasan begitu kuatnya yang menyebabkan anak muda itu menolak turut ke Provinsi. “Apa karena aku sebagai perempuan dianggap tidak pada tempatnya berani menyatakan cinta lebih dulu? Apa hal itu dinilainya merupakan kesalahan yang sangat besar?”, pikirnya.
Tetapi hati gadis itu menyangkal sendiri. Dari ungkapan kata-kata Darmawan barusan, dia merasa yakin, pandangan anak muda itu tidak akan demikian cupat. Satu hal yang dapat dia temukan, anak muda itu ternyata berwawasan sangat luas. Dengan penjelasannya barusan, dia dapat menangkap kebijaksanaan hatinya, seolah pemuda itu dapat menangkap perasaan malu hatinya karena pernyataan cintanya ditolak. Dalam keadaan demikian, kembali Darmawan seperti dapat membaca apa yang tengah berkecamuk dalam pikiran gadis itu.
“Mungkin kau ingin mengetahui alasanku yang sebenarnya Wiwi. Tetapi untuk yang satu ini aku minta maaf, karena tidak dapat memenuhi keinginanmu. Pokoknya aku tidak akan merubah keputusanku. Aku tidak akan turut ke Provinsi. Itu saja. Aku mengucapkan terimakasih atas maksudmu yang mulia itu. Aku junjung tinggi itikad baikmu, dan aku akan menyimpannya baik-baik di dalam hati bahwa, ternyata dibalik kecantikan lahiri yang mempesona ini aku memperoleh sahabat sejati yang hatinya lebih cantik lagi”.
Darmawan meneruskan langkahnya. Sejenak Pertiwi menatap punggungnya yang samar oleh kegelapan senja. Hati gadis itu demikian tersentuh oleh kata-kata pujian si pemuda. Saat itu dia baru benar-benar meyakini bahwa, anggapan semua kawannya terhadap Darmawan sebagai orang angkuh sangat bertolak belakang. Tetapi dengan demikian justru hati gadis itulah yang kini merasa sangat penasaran, ingin mengetahui sedalam-dalamnya tentang kehidupan pemuda itu.
“Satu-satunya jalan, aku harus mengunjungi rumahnya. Kebetulan besok hari minggu”, kata Pertiwi dalam hatinya. Maka dia pun melangkah lagi mengikuti Darmawan.
Jarak ke rumah Pertiwi memang tidak terlalu jauh. Karena itu tidak terlalu lama lagi berjalan, mereka telah sampai di depan kantor kecamatan yang di bagian belakangnya bersatu dengan rumah Pertiwi. Di depan kantor kecamatan sendiri terdapat pendopo yang cukup luas, menghadap ke lapangan alun-alun kecamatan. Di seberang alun-alun adalah Masjid Agung kecamatan yang saat itu tengah mengumandangkan adzan magrib.
“Aku tidak akan mengundangmu menginap di rumahku Wan. Karena kau pasti akan menolaknya”, ujar Pertiwi sebelum mereka berpisah.
“Terimakasih atas pengertianmu”, sahut Darmawan.
“Tetapi rumahmu sangat jauh. Mungkin kau baru akan sampai sekitar pukul sembilan atau sepuluh nanti”.
“Tidak jadi soal. Yang penting malam ini aku harus ada di rumah. Mari Wiwi”, sahut Darmawan pula sambil berlalu.
“Apa jalan ke sana malam-malam begini tidak berbahaya Wan?”, tanya Pertiwi.
--0--
Tidak ada komentar:
Posting Komentar