Al-Baqoroh 33-37
Tafsir
2b. Komponen Pengetahuan dari Dimensi Pengetahuan
Bismillaahir Rohmaanir Rohiim = Dengan nama
Alloh yang Pengasih-Penyayang
Ayat 33. Berdasarkan kesepakatan bersama,
bangsa malaikat mengutus Jibril yang memiliki kekuatan paling besar dan
kecerdasan paling tinggi (Annajm 5-6), turun ke alam kasar untuk menantang Adam
melakukan pertandingan ilmu. Sebab untuk bisa muncul di alam kasar, perlu
tenaga mengerem amat besar dalam memperlambat kecepatan gerakannya, dan harus
memeras otak tinggi dalam menyeimbangkan perlambatan gerakan dengan pusingan
lambat dimensi-dimensi ruang yang dimasukinya. Kemunculan Jibril
(makhluk asing) yang menemuinya di alam kasar, membuka daya pikir otak Adam
kepada wawasan penelitian alam. Dengan memusatkan diri pada akalnya, akhirnya
dia berhasil menembus alam halus dunia unsur dan menembus alam lembut dunia
zarah dasar. Ketika Adam muncul di alam lembut Syurga, semua bangsa malaikat
amat terkejut. Mereka mengerumuni Adam dengan penuh keheranan dan kekaguman.
Sebab dilihat dari jasadnya yang lemah, hampir mustahil makhluk jasad kasar
yang gerakannya amat lamban bisa mendatangi tempat mereka.
Sesuai dengan pengamatannya, bangsa
malaikat menanyakan pengetahuan Adam tentang alam ciptaan. Hukum-hukum ruang
mengilhamkan jawaban kepada akal Adam: ‘Hai Adam, beritahukan kepada mereka
semua nama benda dalam alam yang telah kamu pelajari selama ini. Juga jelaskan
alasan kamu untuk bisa menembus dimensi-dimensi ruang itu’. Maka Adam pun
menjelaskan nama-nama benda langit yang ditelitinya seperti
satelit-planet-bintang. Lalu dia menjelaskan bagimana caranya agar bisa
menembus tiga dimensi ruang yang disekat hukum-hukum peralihannya itu. Setelah
diberitahukan Adam kepada mereka semua pengetahuan berikut alasan-alasannya,
hukum pun mengilhamkan kelebihan Adam kepada bangsa malaikat: ‘Bukankah sudah
kukatakan kepada kalian, sesungguhnya aku mengetahui rahasia langit dan bumi,
dan mengetahui apa yang kalian lahirkan dan apa yang kalian sembunyikan?’.
Ayat 34. Mendengar penjelasan Adam tentang
cara dirinya menembus dimensi-dimensi ruang halus dan lembut yang amat sulit
dilakukan itu, bangsa malaikat jadi mengetahui bahwa Hukum Akal memiliki
perangkat yang hadir di setiap peralihan dimensi ruang. Karena itu ketika kami
(perangkat Hukum Akal) berkata kepada bangsa malaikat: ‘Patuhlah (sujud)
kalian semua kepada kepemimpinan Adam’. Maka mereka pun mengakui kepemimpinan
(kekholifahan) Adam dan menyatakan patuh,
kecuali Iblis yang jadi pemimpin bangsa setan. Dia enggan mengakui
kepemimpinan Adam meski Adam mampu memasuki ruang tempat tinggalnya di puncak
alam lembut Syurga. Alasannya, manusia bukan hanya lelaki tetapi punya pasangan
yaitu perempuan. Kalau Adam mampu memasuki tempat tinggalnya, Hawa pasangannya
belum tentu mampu. Dia sombong, karena memiliki ketahanan tubuh paling kuat,
sehingga menghuni dimensi ruang yang suhunya paling panas. Karena itu Tuhan
(Hukum) menyatakan Iblis termasuk ke dalam golongan orang-orang kafir.
Ayat 35. Setelah Adam kembali ke alam
kasar Syurga, kami hukum-hukum ruang mengilhamkan izin: ‘Hai Adam, diami alam
kasar syurga ini olehmu dan kamu boleh mengawini Hawa sebagai isteri pasangan
hidupmu. Pelajari segala pengetahuan alam yang banyak dan baik dalam syurga
ini sebagai makanan akalmu (makan makanan-makanannya) di mana saja kalian
berada dan kalian sukai. Hanya satu peringatan dari kami. Sekali-kali kalian
jangan mendekati pohon teratai (sidrotil muntaha) yang jadi pusat alam
ini. Sebab pohon teratai itu bisa menimbulkan bencana kepada kalian, dan akan
menyebabkan kalian termasuk orang-orang zalim (pelanggar hukum).
Ayat 36. Penolakan Iblis tidak mau
mengakui kepemimpinan manusia karena manusia ada dua jenis, jadi beban pikiran
Adam. Maka sekembalinya di alam kasar, Adam meminta Hawa agar mempelajari cara
menembus dimensi-dimensi ruang seperti yang telah dilakukannya. Ternyata Hawa
juga berhasil melakukan penembusan dimensi-dimensi ruang itu. Ketika mereka
mendatangi tempat Iblis untuk menunjukkan kemampuan mereka, Iblis merengut
tidak memberi komentar apa-apa (Almuddatstsir 22).
Adam dan Hawa turun
kembali ke alam malaikat. Di sana mereka mengamati kehidupan manusia Bumi
dengan seksama melalui kemanunggalan telanjang sebagai layar televisi. Karena
menurut aturan Hukum, setelah diangkat jadi pemimpin oleh bangsa malaikat atas
nama Hukum, tugas mereka adalah memimpin manusia Bumi untuk memperbaiki
moralnya yang biadab (Baqoroh 30). Pada waktu itulah datang seorang setan yang
memberitahu bahwa, Iblis yang jadi pemimpinnya akan mengakui kepemimpinan
Adam-Hawa jika mereka mampu memasuki dimensi ruang di atas ruang tempat tinggal
Iblis yang suhunya jauh lebih dahsyat (keduanya digelincirkan oleh setan).
Mendengar pemberitahuan
itu Adam sangat gembira. Dia mengajak Hawa memusatkan diri lagi pada akalnya
untuk menembus ufuk Syurga. Dengan disaksikan oleh bangsa setan dan malaikat,
mereka memusatkan diri. Usahanya berhasil, tetapi malang tak dapat ditolak.
Sebab ufuk Syurga itu lubang putih (white hole) yang bersifat menyeret
dengan kasar setiap yang memasukinya, sampai menumbuk Sidrotil Muntaha
(Pohon Teratai), dirubah dari keadaan negatif ke ujud positif (dikeluarkan dari
keadaan semula), dan keluar di lubang hitam (black hole) pada ufuk alam
Fana.
Ternyata lubang putih itu
tidak hanya menyeret tubuh Adam-Hawa, tetapi juga menyeret kasar semua
penghuni alam lembut Syurga (bangsa malaikat dan setan). Maka Kami
(Hukum Akal dan perangkatnya) mengilhamkan putusan: ‘Turun kalian semua ke alam
wujud tampak! Di alam itu sebagian kalian akan jadi musuh bagi yang lain karena
menganut hukum rasa jasad. Bagi kalian semua ada tempat kediaman sementara di Bumi
(alam Fana), dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan’.
Ayat 37. Seretan lubang putih itu
menyadarkan Adam akan kesalahan dirinya. Karena ambisinya ingin menaklukan Iblis, dia
telah menyeret isterinya Hawa ke kehidupan Fana. Sebagai tanda
tobatnya, kemudian Adam menerima beberapa kalimat (amanat-amanat tugas
kepemimpinan) dari Tuhannya (Hukum Akal) untuk memperbaiki kesalahan
diri, yaitu mematuhi dan menegakkan Hukum Akal, memperbaiki moral masyarakat
Neanderthal yang brutal-biadab,
menyelamatkan-mencerdaskan-memajukan-memakmurkan hidup masyarakat dengan
harta-tenaga-ilmu-waktu yang dimilikinya tanpa pamrih-ambisi, dan menumpas
segala kejahatan bisikan setan.
Dengan demikian diketahui
jelas, turunnya mereka ke alam Fana untuk mengemban tugas pemimpin bukan diperintah
Alloh, tetapi karena kesalahan langkah sendiri. Karena itu, beberapa
kalimat dari Tuhannya berarti janji diri akan memenuhi amanat-amanat Alloh pada
alam, dan tidak mendekati Pohon Teratai yang
telah diperingatkan Hukum (Tuhan), sebAb kalau Adam tidAk berambisi menaklukan iblis; tentu Adam-Hawa tidak akan pernah turun ke alam Fana. Karena untuk
bisa turun ke alam Fana dari alam Syurga hanya ada satu jalan, yaitu melalui
lubang putih di ufuk Syurga.
Maka Adam pun bertobat
atas kesalahannya telah melanggar peringatan Tuhan itu, dan Alloh yang
pengasih-penyayang tentu saja menerima tobatnya. Sebab sesungguhnya Alloh itu
penerima tobat, dan penyayang kepada makhluknya yang menyadari kesalahan
dirinya.
Tanggapan Hilman Cikajang Garut dan Mahmud Cimenyan Kab. Bandung
Hilman: “Pertama. Tentang kebenaran praktek ritual penyembahan agama-agama.
Mengapa Rosul Muhammad memasukkan penyembahan agama ke dalam definisi kekafiran (pembangkangan)? Bisakah Anda
memberi alasan penguatnya?.
Kedua. Pada ayat 34 saya melihat perubahan istilah Tuhan dari Aku
menjadi Kami, dan Anda menyebut Kami adalah perangkat Hukum Akal. Apa
alasannya?”..
Mahmud: “Para ulama menfsirkan kata pohon
pada ayat 35 adalah pohon berbuah khuldi yang dikaitkan dengan pelanggaran
seksual. Tetapi saya lebih setuju pada tafsir Anda bahwa kata pohon itu tidak
lain dari pohon teratai (sidrotil
muntaha) yang jadi pusat alam. Pada ayat 36 Anda menceritakan tempat tinggal
Iblis di Syurga dengan mengacu kepada Almuddatsir ayat 22. Ketika ayat itu saya
buka, tafsir ulama dari ayat 11 menceritakan sikap pemimpin Qurays di Mekah
yang bernama Al Walid bin Mughirah terhadap beberapa ayat Qur’an yang
dikemukakan Nabi Muhammad. Bagaimana penjelasan Anda?.
Jawaban untuk Hilman
Sandie: “Pertama. Semua agama meyakini ritual menyembah mayat
(jasad-benda-patung-ka’bah) adalah perintah Alloh untuk mengampuni-menghapus
dosa. Contoh paling dekat dalam agama Islam. Agamawan Islam menyatakan ritual
sholat harian menghapus dosa sehari, sholat jum’atan menghapus dosa seminggu,
puasa sebulan menyucikan dosa setahun, haji-umroh menghapus seluruh dosa dan
menjamin masuk syurga. Keyakinan itu membuka peluang besar kepada penganutnya
untuk berbuat dusta-salah-buruk-jahat-diskriminatif, karena semua dosanya
diyakini akan dihapus ritual penyembahan. Dosa membunuh dihapus ritual
menyembah, sehingga aturan hukum qisos jadi tidak berlaku. Korupsi satu miliar
dapat dihapus pergi haji-umroh dengan ongkos puluhan juta, sehingga moral
perilaku jadi tidak berguna samasekali. Dengan demikian, syurga bukan tempat
kaum moralis, tetapi akan dijubeli para
penjahat-koruptor-pembunuh-pemerkosa-penindas.
Padahal tidak seorang pun
rosul yang menyatakan ritual penyembahan itu perintah Alloh. Bahkan Rosul
Ibrohim menghancurkan semua benda-patung sembahan. Sebab Alloh tanpa wujud, sehingga tidak
ada yang bisa disembah pada dirinya. Karena tanpa wujud
(antirasa-antijasad), Alloh tidak bisa berkata-kata dengan
manusia (Asysyuuro 51), kecuali dengan perantaraan wahyu (ilham
akal) atau dibalik tabir (gejala-tampak alam peragaan), sehingga mustahil akan mengucapkan perintah
kepada manusia untuk menyembahnya.
Alloh itu Akal tanpa wujud
yang antirasa-antijasad, sedangkan yang disembah agama adalah benda yang
dibangun dari rasa-jasad (isteri = alam dan seluruh isinya) buangan
Alloh, bukan Alloh meski diberi nama Alloh. Hukum yang dianut semua agama juga
bukan Hukum Akal (Tuhan Alloh), tetapi hukum rasa-jasad anutan setan
yang kafir kepada Hukum Akal. Kenyataannya mereka menolak akal = kafir kepada Alloh.
Kedua. Pergantian istilah bagi Tuhan (Hukum) dari aku jadi
kami terjadi setelah Adam berhasil menembus dimensi-dimensi ruang halus dan
lembut di alam Syurga. Setiap dimensi ruang disekat oleh hukum (cermin
peralihan) seperti dikemukakan oleh data ilmu (Almuzzamil 3-4), yaitu seperdua
malam (tengah malam = pertengahan alam ilmu atau alam tersembunyi yang
gelap) adalah cerminCP (hukum pembalikan ruang). Kurangi sedikit dari
seperdua malam adalah cermin-C (hukum peralihan alam kasar ke alam halus
= hukum penolak jasad kasar) yaitu di sepertiga malam seperti dijelaskan pada
Almuzzamil 20. Lebihi dari seperdua malam adalah 2/3 ruang atau cermin-T
(hukum pembalikan waktu) sebagai batas alam lembut (batas alam malaikat).
Artinya, sebelum cermin-cermin
(hukum-hukum ruang) itu pertama kali ditemukan oleh penelitian akal Adam
(rosul) melalui penembusan dimensi-dimensi ruang, tidak ada makhluk yang tahu
bahwa ruang disekat oleh hukum-hukum peralihan dimensi yang jadi perangkat
Hukum Akal. Itu sebabnya, istilah Kami untuk Hukum disebut setelah Adam
menceritakan penembusan dimensi-dimensi yang disekat hukum-hukum ruang. Karena
itu cerita hadits yang menggambarkan Rosul Muhammad menunggang Burok
(kuda semberani berkepala wanita) ketika melakukan perjalanan ke Sidrotil
Muntaha, adalah dongeng bohong khayalan ahli kitab (pembuat hadits)
pembenci Rosul Muhammad. Sebab kata ‘bark’ pada surat Isroo 1 artinya ‘kilat atau cahaya’.
Dongeng isro-mi-roj
menyiratkan penghinaan paling jahat terhadap Nabi Muhammad. Hadits itu
menceritakan undangan Alloh kepada Nabi Muhammad untuk melakukan perjalanan ke
Sidrotil Muntaha, dan malaikat menyediakan Burok untuk tunggangannya. Padahal
semua rosul melakukan isroo atas kehendak dan usaha sendiri untuk mencari Alloh
melalui pemusatan diri pada akalnya, dengan menembus dimensi ruang lembut dalam
kecepatan cahaya. Artinya, cerita perjalanan dengan Burok menyiratkan fitnah
jahat, yang menggambarkan perjalanan bulan madu Nabi Muhammad dengan
menunggangi wanita bernafsu kuda. Sebab menurut cerita hadits, Nabi Muhammad
itu punya nafsu syahwat maniak, dibuktikan dalam riwayat hadits dengan kawin
hampir tiap tahun setelah jadi rosul (baca: Muhammad The Final Messenger karangan
Dr. Majid Ali Khan yang dinyatakan para tokoh ulama Arab sebagai buku sejarah
rosul terbaik).
Jawaban untuk Mahmud
Sandie: “Kembali Anda melihat, tafsir ulama
itu diambil dari hadits. Padahal para penerjemah Qur’an di Depag RI itu
rata-rata bergelar profesor doktor. Tetapi karena otaknya telah dijatah ajaran
ulama hadits, maka daya pikirnya merosot jadi setingkat keledai.
Soalnya, dari Alalaq
hingga Alfatihah adalah rumusan Sunnah Muhammad (pola qisos disiplin
ilmu) untuk menyusun Qur’an. Alalaq yang dimulai dengan iqro adalah anjuran
untuk mempelajari alam mencari ilmu dan hukum-hukum penciptaan yang benar,
sehingga jadi rumusan akal. Alqolam adalah pena (benda teknologi) atau
alam peragaan yang penuh kejanggalan (gejala-tampak), sehingga
kebenarannya berada di balik tabir. Almuzzamil adalah alam unsur dunia ilmu
(waktu malam), ditunjukkan dengan menjelaskan hukum-hukum ruang (cermin
C-CP-T) yang harus ditembus calon nabi-rosul. Almuddatstsir adalah simpulan rosul
(pemimpin akal utusan Akal) yang baru muncul atau belum dikenal masyarakat
(berselimut). Alfatihah (hukum
moral) adalah rumusan hukumnya, sehingga muncul di awal Qur’an yang berisi
kandungan Alalaq hingga Almuddatsir.
Almuddatsir 1-10
menceritakan tugas rosul yang telah berhasil menembus dimensi-dimensi ruang
hingga ke alam malaikat (apabila ditiup sangkakala oleh isrofil), karena
cermin-T (hukum pembalikan waktu) itu dijaga oleh dinding listriklemah (elektroweak =
Ijroil dan isrofil). Bila pada permukaannya, Almuddatsir 2 menyuruh bangun dan
memberi peringatan, maka dibalik tabirnya menyuruh tembus alam halus dan awas hati-hati
pada peralihan ruangnya yang disekat cermin-C (masy’aril harom = bukit
peringatan) yang dijaga Munkar-Nakir.
Ayat 3 menyuruh besarkan Tuhanmu
(Hukummu = Hukum Akal, dan kecilkan jasadmu dengan membunuh rasa
syahwat-angkara-pamrih-ambisi). Ayat 4 menyuruh bersihkan pakaian
(jasad) berarti kosongkan rasa karena akan dihantam cermin-CP (hukum
pembalikan ruang) yang dijaga Mikail. Ayat 5 menyuruh tinggalkan perbuatan dosa
berarti buang rasa syahwat-angkara-pamrih-ambisi jasad pembuat dosa, karena
akan menembus cermin-T (hukum
pembalikan waktu = hukum pencuci hati) yang dijaga oleh Ijroil-Isrofil.
Ayat 11 menceritakan Iblis
(raja setan) yang diciptakan sebatangkara. Ayat 13 (anak-anak yang selalu
bersamanya = bangsa setan pengikutnya). Ayat 14 memberitahukan, dengan
kemampuan bergerak dalam kecepatan cahaya, Iblis punya kebebasan menembus
alamfana. Dia ingin diberi tambahan kemampuan untuk bisa menembus-muncul di
alam halus dan alam kasar untuk menguasai alam jin dan alam manusia, tetapi
tidak bisa (ayat 15-16), karena dia menolak-membangkang hukum-hukum ruang,
sehingga gerakannya dalam kecepatan cahaya menjadi jenuh.
Ditafsirkan
oleh S. Anwar Effendie CS67
Tidak ada komentar:
Posting Komentar